Posts Tagged ‘sopir’

Guru Nyopir Putriku

9 Maret 2010

Guru nyopir putriku dibayar lebih sama istriku kok malah menolak, tidak mau. Kelebihannya dikembalikan. Lho, piye to iki?.Nggak apa2, ini memang untuk bapak”, kata istriku. Dijawabnya: “Mboten, niki mawon sampun cekap (enggak, ini saja sudah cukup)”.

Ee… alah, Gusti.., Gusti.., maafkan mahlukMu ini… Sopir itu merasa sudah cukup dengan jumlah uang yang tidak seberapa, tapi aku sering merasa tidak cukup dengan jumlah uang yang jauh di atas seberapa itu…

Yogyakarta, 7 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Hari Gajian

5 Maret 2010

Maka sampailah pada saat-saat yang membahagiakan, yaitu hari gajian para pegawai toko. Saya ikut bahagia karena menurut daftarnya saya ikut menerima gaji sebagai ‘sopirintendant’ (dari kata dasar ‘sopir’). Hanya saja ‘boss’ saya suka kura-kura dalam perahu, gajiku dikonversi dalam bentuk lain. Yo wis, nurut saja, wong sama ‘boss’, daripada nanti gajiku dibatalkan malah sentresss wal-kelimpungan aku…

Seorang rekan memberi komentar di Facebook :

Lufi Rachmad – Bandung:
Setuju Mas, saat membagikan gaji kepada karyawan memang sangat membahagiakan… merasa digunakan sebagai kepanjangan tangan Allah berbagi rejeki dengan yang lain. Gimana kemajuan Maduredjo versi 2?

Catatan saya:
Puji Tuhan wal-hamdulillah, Madurejo v.2 (Bintaran Mart) masih merangkak maju….

Yogyakarta, 4 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Keluarga Pengamen

31 Januari 2010

Pagi ini ketemu keluarga pengamen, Bp/Ibu Pujo. Dua anak lelakinya yang dulu ikut ngamen, kini sudah lulus STM, sudah kerja, tidak ngamen lagi. Satu anak perempuannya masih SD, ikut ngamen kalau siang. Satu kata: “pantang menyerah”. Tidak perduli apa kata orang tentang ‘jalan pintas’ yang ditempuh untuk mencari biaya sekolah anak-anaknya. Jangan-jangan, saya dan Anda turut ‘membiayai’ anak-anak Pak/Bu Pujo itu. Jadi, masih ingin beramal tanpa pujian?. Biar sopir-sopir yang menjawab.

Yogyakarta, 30 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Membangunkan Sopir Ngantuk

15 Agustus 2008

Niat ingsun mau menuju bandara Soeta (Soekarno – Hatta) naik taksi lalu meninggal tidur sopirnya. Maka begitu nyingklak taksi, segera mengomando sopirnya : “Ke bandara, pak”, dan lalu duduk santai. Pak sopir yang kelihatan sudah cukup tua, saya taksir umurnya 60an tahun, dengan lincahnya segera masuk ke jalan tol. Siang hari jalan menuju bandara masih relatif sepi, tidak kemruyuk seperti ketika hari beranjak sore. Taksi pun melaju lancar.

Belum lama melaju di jalan tol yang masih belum gegap-gempita, saya perhatikan gerak laju taksinya kok rada mereng-mereng. Injakan gasnya memunculkan bunyi mesin yang tidak konstan. Kendaraan lebih sering berada di atas marka pembagi lajur jalan (bukannya di antara garis putih putus-putus).

Tidak biasanya sopir taksi memilih berada di lajur paling kiri dengan kecepatan sedang-sedang saja (padahal jalanan lagi sepi dan longgar). Gerak-gerik sopirnya terlihat gelisah, kaki kirinya (kaki yang kanan tidak kelihatan) sering digoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Tangan kirinya (tangan yang kanan juga tidak kelihatan) sebentar-sebentar menggaruk kening yang sepertinya tidak gatal dan mengusap belakang kepala yang sepertinya dari tadi tidak ada apa-apanya. Sesekali berdehem, sengaja batuk dan melenguh seperti sapi.

Tidak terlalu sulit untuk menyimpulkan bahwa pak sopir taksi sedang ngantuk berat. “Wah, bahaya, nih”, pikir saya. Terpaksa saya jadi ikut waspada memperhatikan jalanan di depan. Niat untuk tidur di taksi saya batalkan, sebab saya merasa sedang berada dalam situasi unsafe condition. Sekali saja pak sopir mak thekluk….., tersilap sedetik saja karena ngantuknya, maka bahaya mengancam keselamatan taksi dan penumpangnya. Gimana nih? Mau minta berhenti lalu ganti taksi di tengah jalan tol kok ya gimana gitu loh…..

Maka saya putuskan untuk mengajak ngobrol sopirnya. Itulah yang kemudian saya lakukan.

“Pak…”, panggil saya memecah keheningan (sebenarnya ya tidak hening, wong deru kendaraannya cukup bising). “Bapak kelihatannya capek sekali…”, kata saya.

“Iya pak, saya agak kurang tidur”, jawab pak sopir. “Kurang tidur kok agak. Ya tetap saja tidurnya kurang”, kata saya tapi dalam hati.

“Ngantuk ya pak?”, tanya saya lagi berbasa-basi memastikan, karena tujuan saya hanya untuk mengajak bicara (lha wong sudah jelas ngantuk kok ditanya juga….)

Di luar dugaan saya, pak sopirnya malah berkata jujur : “Iya pak, saya sendiri heran. Mungkin cobaan saya, ya…..”, sampai di sini saya masih belum ngerti apa maksud perkataan pak sopir. Lalu, lanjutnya : “Kalau sedang tidak narik penumpang, saya enak saja nyusup-nyusup jalan. Tapi kalau sedang membawa penumpang rasanya sering sekali ngantuk”.

“Waduh, gawat nih”, kata saya dalam hati. Lha, saat itu saya sedang jadi penumpang yang ditarik pak sopir je….. Ini kejujuran yang jelas tidak pada tempatnya. Ini adalah perilaku jujur yang tidak dianjurkan dan tidak terpuji (yang mau memuji ya siapa……). Jujur yang malah bikin takut.

Tiba-tiba saya ingat kalau di dalam saku tas ransel saya ada tersimpan permen “Davos”. Permen “Davos” adalah permen jadul (jaman dulu) yang bungkusnya berwarna biru tua dengan rasa peppermint yang tajam. Rasa pedasnya sangat nyegrak, sehingga sering membuat pengulumnya rada megap-megap. Tapi jangan heran kalau permen pedas ini masih banyak penggemarnya.

Segera saya rogoh saku ransel, saya ambil permennya, saya sobek bungkusnya, lalu saya tawarkan kepada pak sopir. Agak malu-malu tapi mau juga pak sopir menerimanya. Akhirnya saya dan pak sopir kompak mengulum permen “Davos” bersama-sama.

Entah karena kepedasan ngemut permen, entah karena kemudian saya ajak ngobrol, yang jelas kemudian pak sopir sudah tampak lebih sumringah, tidak lagi ngantuk seperti tadi. Tampaknya pak sopir sudah lupa dengan ngantuknya. (Aha… Ini dia. Tips baru untuk menghilangkan ngantuk, yaitu berusahalah untuk melupakan ngantuknya. Cuma cilakaknya, cara termudah untuk melupakan ngantuk, ya tidur….. Huh…!).

Permen pedas cap “Davos” berhasil menjadi pemecah kesuntukan yang dialami pak sopir taksi. Menit-menit berikutnya suasana berubah menjadi obrolan di dalam taksi. Obrolan yang makin asyik aja…. Apalagi kalau topiknya adalah kisah “kepahlawanan”. Maksud saya adalah kisah nostalgia pada jaman “perjuangan” episode kehidupan seseorang.

Bagi pak sopir taksi, kisah itu adalah tentang pekerjaannya sepuluh tahun yang lalu sebelum menjadi sopir taksi. Masa keemasan pak sopir ketika masih menjadi koordinator Satpam di kawasan pertokoan Mangga Dua. Dengan semangat empat-lima, pekerjaan hebatnya yang dulu itu diceritakannya dengan runtut sampai ke detil-detilnya, hingga akhirnya beliau terpaksa lengser keprabon saat terjadi kerusuhan Mei 1998. Dengan getir dituturkannya bahwa beliau akhirnya di-PHK karena saat terjadi kerusuhan rupanya banyak anak buahnya yang terbukti turut menjadi aktivis. Maksudnya, turut aktif menjarah toko-toko yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya.  

***

Ada dua pelajaran tidak terlalu penting tapi nyata. Pertama, tentang membangunkan sopir ngantuk. Kedua, tentang “menjinakkan” orang tua agar suka diajak bicara (tidak semua orang tua suka diajak cerita-cerita, lho…..)..

Untuk yang pertama, siapkanlah permen pedas. Semakin pedas semakin baik, asal bukan permen rasa sambal…. Untuk yang kedua, menggiring pembicaraan ke arah kisah “kepahlawanan”, “perjuangan”, “semangat empat-lima”, atau pokoknya yang sejenis itulah…..

Maka bagi kawan-kawan muda yang sedang mencari calon mertua, ada baiknya melakukan orientasi medan dan studi referensi tentang kisah “kepahlawanan” dari kandidat mertua. Hanya satu hal sebaiknya jangan dilakukan, yaitu ketika tahu sang kandidat mertua sudah ngantuk, janganlah lalu disuruh ngemut permen pedas…..

Yogyakarta, 15 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(6).     Kelok Twin Falls Yang Memabukkan

Hari masih agak pagi ketika kami meninggalkan kota Pikeville selepas jam 9:00. Hari ini hari ketiga, Senin tanggal 3 Juli 2000, kami merencanakan untuk mencapai kota Wheaton di negara bagian Maryland yang terletak di sebelah utara ibukota Washington DC. Jarak yang mesti kami tempuh hari ini cukup jauh, sekitar 511 mil (atau sekitar 818 km), akibat dari ketertinggalan jarak tempuh sejak dua hari sebelumnya.

Di saat pagi hari ini kami baru melihat lebih jelas bahwa kota kecil berpenduduk sekitar 6.300 jiwa ini terletak di celah-celah perbukitan. Untuk pengembangan kotanya, masih terlihat di sana-sini bekas pekerjaan pemindahan tanah dengan memotong lereng-lereng bukit. Dari kota ini kami melaju ke arah timur laut, dan kota Williamson di perbatasan antara negara bagian Kentucky dan West Virginia adalah kota berikutnya yang kami tuju.

Kota Williamson yang berpopulasi sekitar 4.200 jiwa ini dikenal karena adanya lembah Tug yang mempunyai banyak ladang batubara. Di kota ini saya membelok ke arah timur ke jalan Highway 52, dan memasuki wilayah negara bagian West Virginia yang ibukotanya ada di Charleston. Negara bagian ini mempunyai nama julukan sebagai “Mountain State” dan ini adalah negara bagian kesepuluh yang saya lintasi.

Rute jalan ini banyak melalui kota-kota kecil yang nampak sepi, diantaranya Vaney, Mountain View dan Gilbert yang berpopulasi hanya sekitar 2.000 – 3.000 jiwa. Namun yang mengherankan ternyata di sana ada toko agen kendaraan (dealer mobil) dan terlihat mobil-mobil baru Ford berjejer di depan toko. Entah siapa pembelinya. Pertanyaan ini timbul karena sepintas saya melihat kota ini tidak terlalu padat dan tidak juga tampak sibuk dengan aktifitas bisnis.       

Dari peta terlihat bahwa perjalanan kami pagi itu masih akan terus melalui rute-rute sepi yang cukup panjang, jalan sempit dan berkelok-kelok, melewati beberapa kota kecil serta menerobos beberapa jalan State Road guna memperpendek jarak. Oleh karena itu selain menyiapkan peta agar mudah dilihat setiap saat, saya juga mesti memperhatikan rambu petunjuk jalan agar tidak kebablasan saat harus membelok di persimpangan jalan.

Mengikuti jalan-jalan di Amerika sebenarnya tidak terlalu sulit. Pada umumnya setiap jenis jalan mempunyai nomor, bahkan terkadang jalan kerikil atau tanah tak beraspal sekalipun. Pada setiap jarak tertentu akan terpasang rambu nomor jalan serta arahnya, selain rambu batas kecepatan.

Sebagai contoh, misalnya pada jalan yang membentang arah timur – barat, maka kalau saya menuju ke timur pada setiap jarak tertentu saya akan melihat rambu nomor jalan dengan tulisan “East”, demikian sebaliknya. Di setiap persimpangan jalan juga akan terpasang rambu yang menunjukkan nomor dan arahnya masing-masing.

Dengan demikian sepanjang saya bisa membaca peta dan tahu arah, rasanya tidak akan kesasar kalau saya jeli melihat rambu-rambu. Itu sebabnya dalam perjalanan ini saya sengaja membawa peta sekomplit mungkin dan melengkapi kendaraan dengan kompas. Jika sewaktu-waktu perubahan rute perlu dilakukan, maka akan memudahkan saya untuk mencari jalan alternatif serta memperkirakan jarak tempuhnya karena di peta yang saya bawa juga tertulis jarak antara setiap persimpangan dan antara kota.

***

Setiap pagi sebelum saya memulai perjalanan, semua peta dan buku panduan wisata untuk daerah-daerah yang akan saya lalui selalu saya siapkan di sebelah kanan dan kiri tempat duduk. Bahkan karena ibunya anak-anak kurang berpengalaman dalam urusan perpetaan (maklum, karena tidak pernah ikut kuliah Perpetaan) maka saya terpaksa berdwi-fungsi : ya sopir, ya navigator. Karena itu seringkali jika menjelang tiba di daerah-daerah yang agak rumit rute jalannya, peta-peta itu sudah saya lipat sedemikian rupa lalu saya letakkan di atas pangkuan sehingga bisa sambil nyopir sambil sesekali melirik peta.

Saya sangat sadar bahwa ini memang tindakan yang tidak aman dan tidak seharusnya saya lakukan karena terlalu riskan, terutama jika berada di kawasan yang lalu lintasnya padat dan cepat. Kalau sudah demikian biasanya saya tidak mau diajak ngomong karena khawatir konsentrasi terganggu. Anak-anak pun biasanya memahami hal ini. Resiko semacam ini terkadang saya ambil demi tidak mau kehilangan waktu untuk berhenti membuka-buka peta, selain karena memang tidak diperbolehkan berhenti di sembarang tempat.

Untuk menghindari hal ini apalagi jika di saat hari sudah gelap, seringkali rute jalan yang akan saya lalui lebih dahulu sudah saya hafalkan di luar kepala, termasuk nama jalan, arah, jumlah persimpangan dan tanda-tanda fisik seperti yang biasanya ada dalam peta situasi. Layaknya siswa SMP yang sedang belajar peta buta. Dalam hal ini kompas yang terpasang di mobil sangat membantu saya dalam bernavigasi. Kebiasaan ini terutama saya lakukan ketika masuk ke jalan-jalan di dalam kota.

Demikian pula karakteristik sistem berlalu lintas selalu menjadi observasi saya setiap kali masuk ke sebuah kota. Pada umumnya setiap kota mempunyai sistem lalu lintas yang sama, tetapi seringkali setiap kota mempunyai karakteristik untuk tanda-tanda tertentu yang mudah diingat, selain rambu lalu lintas yang memang standard. Seperti misalnya warna dan bentuk tulisan, penggunaan kata-kata tertentu, lokasi pemasangannya, dsb. Ternyata ini memang menguntungkan dan sangat membantu untuk beradaptasi dalam berlalu-lintas di kota itu.

***

Setiba di pertigaan di kota Gilbert, dari Highway 52 saya berbelok ke utara ke State Road (SR) 80, selanjutnya belok ke timur ke SR 10, dan belok lagi ke arah timur laut ke SR 16, hingga masuk ke Interstate 77 di sisi barat kota Beckley. Rute panjang sejak kota Williamson hingga Beckley sejauh 115 mil (sekitar 184 km) adalah jalur melalui lereng dan celah perbukitan. Rute jalannya cukup enak dan teduh karena melewati daerah pedesaan Amerika yang rimbun dengan pepohonan.

Melewati kota-kota kecil yang sepi, yang terkadang nyaris tampak seperti kota tak berpenghuni. Badan jalannya sendiri sebenarnya tidak terlalu lebar, berkelok-kelok tajam, terutama saat menyisir lereng selatan di perbukitan kawasan hutan lindung Twin Falls.

Enaknya, meskipun sudah ada rambu batas kecepatan maksimum, pada setiap tikungan tajam selalu ada rambu bantu batas kecepatan yang dianjurkan. Maka kalaupun mau mencuri kecepatan, dari jauh sudah bisa memperkiraan kira-kira mau “mencuri berapa km/jam” agar laju kendaraan masih aman dan terkendali saat memasuki tikungan. Mengemudi menjadi lebih enak karena umumnya setiap pengemudi patuh terhadap rambu lalulintas.

Betapapun kendaraan beriringan panjang dan yang paling depan berjalan lambat misalnya, kalau di bagian tengah aspal jalan masih bertanda garis penuh warna kuning, maka tidak satupun ada yang berusaha menyalip. Tetapi begitu garis kuning pemisah lajur berubah menjadi garis putus-putus, maka mulailah kendaraan yang lebih cepat berusaha menyalip.

Saya jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika sopir bis-bis jurusan Malang – Surabaya mutung (ngambek), mogok narik penumpang gara-gara Pak Polisi menerapkan aturan soal garis kuning pemisah lajur ini. Akhirnya, Pak Polisi yang kemudian mengalah, dan garis kuning tetap ada di sana, tidak dihapus. Lha ya siapa yang mau menghapus cat kuning di tengah jalan antara Malang dan Surabaya. Jadi? Aturan berlalu-lintas dibuat dan tidak untuk dipatuhi?. Saya percaya ini hanya kasus, dan tentunya tidak dapat untuk menggeneralisir.       

***

Melaju dengan kecepatan antara 45-55 mil/jam (sekitar 72-88 km/jam), melewati tikungan-tikungan tajam memang cukup mengasyikkan. Badan pun ikut meliuk-liuk berlawanan arah dengan gerakan kendaraan. Awalnya menyenangkan, tapi lama-lama anak-anak mulai protes karena duduknya jadi tidak nyaman. Semakin lama anak-anak mulai tidak terdengar suaranya, dan saya merasa semakin menikmati liukan-liukan menyusuri rute berkelok-kelok. Sekitar dua setengah jam saya habiskan melalui rute ini, hingga mendekati kota Beckley.

Menjelang masuk kota Beckley, anak laki-laki saya yang berumur 7 tahun mengeluh perutnya mual dan sakit. Wah, barulah saya sadar. Pantesan sejak tadi tidak ada suaranya, pasti karena menahan rasa tidak enak di perutnya. Rupanya mabuk kendaraan akibat jalan yang meliuk-liuk tadi. Tanpa pikir panjang, begitu terlihat ada warung McDonald, langsung saja belok dan parkir. Saat itu juga anak saya membuka pintu mobil, dan ……semua isi perutnya dimuntahkan. Bekal minyak kayu putih pun segera difungsikan. Asli lho…., sisa dari membeli di pasar Sentul Yogya dua tahun yang lalu.

Kami lalu beristirahat agak lama di daerah ini, sekalian makan siang dan mengendurkan otot-otot kaki yang tegang sejak dua setengah jam tadi bermain gas dan rem, tanpa kopling dan persneling. Seperti umumnya mobil di Amerika yang menggunakan sistem pemindah gigi otomatis. Barangkali disesuaikan dengan kebutuhan orang Amerika yang ingin serba praktis dan tidak suka repot. Kalau memang memudahkan, kenapa tidak?- (Bersambung)

Yusuf Iskandar