Posts Tagged ‘soekarno-hatta’

Akibat Nonton Bola

21 Juni 2010

Jam 10 lebih, jalan tol dari arah bandara Soeta menuju Jakarta padat-merayap-tersendat, padahal biasanya jam-jam segitu sudah mulai lancar. “Orang Jakarta ramai-ramai keluar rumahnya agak siang karena semalam nonton bola, pak…”, kata sopir taksi datar bernada menghibur diri. Woooo……

(Soeta : Soekarno – Hatta)

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Soto Betawi Slipi

2 Desember 2009

Nyoto Betawi di Slipi, lalu ngejar burung Garuda ke Semarang.

(Usai meeting di Jakarta, segera meluncur ke bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Semarang dan selanjutnya mampir ke kampung halaman di Kendal, meski hanya untuk semalam saja. Mengingat belum sempat makan siang, seorang teman mengajak mampir ke warung soto Betawi di bilangan Slipi. Ternyata memang enak tenan…)

Jakarta, 30 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Sehari Di Jakarta

7 Juni 2009

Alhamdulillah, sudah tiba kembali ke Jogja, setelah seharian tadi cek-cek Jakarta sebentar. Terminal 3 bandara Soekarno-Hatta nampak bersih dan bagus meski arsitekturnya terkesan “biasa-biasa saja” (maklum, wong namanya juga masih baru…..). Mudah2an tahan lama…., bersih dan bagusnya….

(Pagi itu bandara Adisutjipto padat banget, terutama dengan penumpang Mandala. Enggak tahu lagi ada apa. Meski begitu, senangnya petugas counter Mandala bekerja lincah….., sehingga check-in bisa cepat, dan pesawat pun tepat waktu mabur ke Jakarta. Jarang-jarang mengalami situasi seperti ini. Trims, Mandala… Malamnya, Garuda juga tepat waktu terbang ke Jogja. Rasanya senang sekali kalau semua perjalanan udara bisa selalu tepat waktu…).

Yogyakarta, 6 Juni 2009
Yusuf Iskandar

NB :
Suasana di depan Terminal 3 bandara Soekarno-Hatta

IMG_2466_rIMG_2465_r1

Jujur Tapi Khilaf, Atau Malu?

2 Agustus 2008

Panggilan boarding untuk penumpang pesawat dengan nomor penerbangan Garuda Wiro Sableng (GA 212) jurusan Jakarta-Jogja dikumandangkan di Terminal F bandara Soekarno-Hatta. Penumpang segera bergegas menuju pintu keberangkatan. Kali ini penumpang tidak langsung diarahkan memasuki lorong belalai gajah menuju kabin pesawat, melainkan turun untuk naik bis pengantaran dulu. Wah, sopir pesawatnya tadi parkir kejauhan, pikir saya.

Satu per satu penumpang menaiki tangga pesawat melalui pintu depan. Nampaknya saya harus agak bersabar, sebab saya kebagian nomor tempat duduk 19 yang berarti jauh berada di belakang. Ketika sudah berada di dalam pesawat, saya lihat ada sekelompok penumpang berdiri bergerombol di ujung belakang. Agak riuh. Ada demo? Pasti bukan, karena terlihat pada cengengesan.

Setelah tiba di belakang barulah saya tahu, rupanya pesawat Garuda yang narik trayek ke Jogja sore itu baris tempat duduknya hanya sampai nomor 18. Sementara penumpang yang berdiri bergerombol adalah pemegang karcis bernomor tempat duduk 19 sampai 21, termasuk saya. Hanya karena penumpang percaya bahwa Garuda akan mampu mengatasinya, artinya tidak bakalan tidak dapat tempat duduk, maka penumpang tetap bersabar sambil ketawa-ketiwi.

Akhirnya seorang petugas datang sambil membawa daftar penumpang yang sudah diperbaiki rupanya. Lalu satu-persatu penumpang yang masih berdiri dibelakang itu dibacakan namanya dan diberitahu nomor tempat duduk yang benar. Legalah, semua penumpang. Setidak-tidaknya tidak harus berdiri bergelantungan atau duduk di bangku yang disisipkan di lorong pesawat.

Entah kenapa pesawat Boeing 737-300 yang jumlah baris tempat duduknya sampai nomor 21 yang biasa narik trayek Jakarta-Jogja, kali itu diganti dengan Boeing 737-500 yang lebih kecil. Tapi rupanya penggantian pesawat ini mendadak sehingga tidak nyambung ke petugas check-in, walhasil pengaturan tempat duduk sewatu check-in belum disesuaikan.

Penghargaan pantas diberikan untuk petugas Garuda yang cukup lincah dan dengan sigap mengatasi kesemrawutan di ujung belakang kabin pesawat, sehingga urat kesabaran penumpang belum sempat menegang, melainkan masih bersuasana goyonan plesetan ala Jogja (“sambil menunggu disediakan bangku yang akan dipasang di lorong seperti naik bisa antar kota saat mudik lebaran”).

Akhirnya pesawat pun siap tinggal landas dengan tanpa kehilangan banyak waktu penundaan. Saya pikir, masalah dan hambatan senantiasa ada dalam pengelolaan sistem angkutan udara. Cuma yang membedakan antara maskapai yang satu dan lainnya adalah keterampilan petugasnya untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, lincah dan ramah. Ora klelat-klelet…… (tidak ogah-ogahan atau asal-asalan). Sayangnya keterampilan seperti ini tidak ada sekolahnya, melainkan bisa dilatih sebagai bagian dari tanggungjawab profesional, apapun profesinya.

Awalnya saya melihat dan merasakan peristiwa ini sebagai kejadian yang biasa-biasa saja. Tidak menarik untuk saya ingat-ingat. Sampai kemudian ada halo-halo dari ujung depan sana yang menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan keberangkatan. Dan ini yang berbeda : “karena alasan kurangnya profesional petugas……….”. Pada bagian titik-titik dari halo-halo awak kabin ini tidak terlalu jelas saya dengar. Tapi kedengarannya mirip-mirip ucapan garuda.., gadura.., garadu.. atau gadaru….., gitu…

Tapi okelah. Dalam banyak hal kita sering menganggap bahwa “Siapa” tidaklah terlalu penting, karena biasanya cenderung untuk subyektif. Jauh lebih penting mengetahui “Kenapa” atau “Bagaimana”, sebab dari sana biasanya akan lebih obyektif dan ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan itu sudah terjawab, yaitu “kurangnya profesional petugas…..”, seperti pengakuan jujur awak pesawat.

Ini sesuatu yang baru bagi saya. Selama ini, ilmu permintaan maaf ini sudah saya hafal di luar kepala. Kalau bukan “karena alasan teknis”, ya “karena alasan operasional”. Tapi rupanya perbendaharaan alasan di kepala saya harus ditambah. Masih ada alasan yang lain, yaitu “karena alasan kurangnya profesional”. Sebuah pengakuan yang kedengaran begitu jujur dan menyentuh (bukan hati, melainkan rasa tangungjawab).

Pengakuan jujur yang rasanya pantas diapresiasi. Hanya sedikit saja sayangnya, yaitu kedengaran agak malu-malu burung…… Pasalnya seingat saya, baru kali itulah saya mendengar pengumuman yang diperdengarkan di dalam pesawat dengan tanpa disertai terjemahan bahasa Inggrisnya……

Moga-moga prasangka saya salah. Bukan karena malu menerjemahkan di hadapan penumpang asing, melainkan hanya karena khilaf saja. Tapi khilaf bisa jadi adalah bagian dari profesionalisme kalau keseringan, alias bolak-balik khilaf….

Yogyakarta, 2 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Garuda Mengembalikan Kelebihan Uangku

4 Mei 2008

Kebetulan urusan di Jakarta selesai lebih cepat dari rencana, maka saya langsung menuju bandara Soekarno-Hatta untuk kembali ke Jogja. Harapan saya, e-tiket yang sudah dipesan via tilpun untuk penerbangan GA216 tujuan Yogyakarta jam 19:25 WIB, siapa tahu dapat saya majukan jadwalnya ikut penerbangan yang lebih awal.

Tiba di counter Garuda terminal F, saya langsung lapor dengan menyebutkan kode booking. Setelah itu saya tanyakan apakah bisa ikut penerbangan lebih awal. Oleh petugas dijawab bisa, tapi tinggal yang penerbangan GA214 jam 18:30. Sedangkan penerbangan yang lebih awal yaitu GA212 jam 16:30 sudah penuh. Saya setuju untuk diubah ke GA214. Lumayan, lebih awal satu jam. Meski untuk itu dikenakan biaya rebooking sebesar Rp 50.000,-

Sampai di counter check-in di dalam, saya tergoda untuk iseng menanyakan apakah bisa maju ikut penerbangan GA212 jam 16:30. Pasti akan sangat menghemat waktu, dibandingkan kalau mesti menunggu di bandara sampai jam penerbangan terakhir. Oleh petugasnya dijawab sudah penuh, tapi bisa dicoba sebagai cadangan. Saya pun mengiyakan tanda setuju. Maka tiket yang sudah terdaftar untuk penumpang GA214 lalu didaftar sebagai penumpang cadangan GA212.

Tiba waktunya, nama saya dipanggil tanda status cadangan saya lolos untuk ikut terbang bersama GA212. Tapi…. (ada tapinya), tiket saya harus di-upgrade berubah dari kelas dari B ke M. Embuh, apa artinya….., yang saya tahu adalah saya dipersilakan pergi ke kasir dan membayar biaya tambahan. Setelah tanya kasir, ternyata biaya tambahannya Rp 285.000,- Sejenak saya berpikir, diambil atau tidak? Apakah ini biaya tambahan yang layak dibayar untuk memperoleh tempat di GA212?

Pilihannya : tidak diambil berarti tidak perlu menambah biaya dan tetap terbang jam 18:30, atau diambil dengan menambah biaya tetapi bisa tiba di rumah lebih awal sebelum waktu maghrib. Akhirnya saya putuskan untuk diambil dan saya bayar biaya tambahan. Setelah lunas, lalu check-in, kemudian menuju ruang tunggu. Tiba di ruang tunggu untuk lewat saja karena langsung dipersilakan masuk pesawat yang akan segera mengangkasa menuju Yogyakarta.   

Pintu pesawat sudah siap ditutup ketika tiba-tiba ada seorang petugas Garuda perempuan berwajah cukup ayu (lha wong perempuan…..) tergopoh-gopoh mencari-cari saya. Waduh……! Salah opo aku……. Jangan-jangan ada kekeliruan sehingga saya harus balik kanan batal naik pesawat itu, atau biaya tambahannya kurang? Pasalnya, di depan penumpang lainnya yang sudah “sit biyuti” (bahasa Thukul, maksudnya duduk manis) di dalam pesawat menunggu berangkat, mbak petugas Garuda itu menanyakan kertas bersampul biru, bukti pembayaran biaya tambahan tadi.

Setelah saya tunjukkan kertas bersampul warna biru tua berlambang Garuda yang diminta, mbak petugas Garuda mengatakan bahwa kertas birunya diminta lagi karena tadi ada kekeliruan…. Sampai di sini…mak deg atiku…… Lalu disambung, bahwa tadi ada kelebihan pembayaran, maka tiket birunya diganti dan kelebihan pembayaran dikembalikan. Sampai di sini… baru mak plong atiku……

Rupanya jumlah biaya tambahan untuk naik kelas sebagai penumpang pesawat GA212, yang seharusnya saya bayar adalah Rp 171.000,- dan bukan Rp 285.000,- (saya benar-benar tidak tahu bagaimana rumus hitungannya). Pokoknya ya saya iyakan saja.

Saya sempat bertanya : “Kok bisa ketahuan kalau kelebihan, mbak?”.

Mbak petugas Garuda hanya menjawab cepat : “Iya, pak”, sambil tersenyum, sambil memberikan bukti pembayaran pengganti dan kelebihan uangnya (saya maklum, pertanyaan saya pasti susah dijawab cepat, karena saya tidak memberi pilihan jawaban seperti soal test pilihan ganda).

Mbak petugas Garuda segera meninggalkan saya menuju keluar pesawat. Saya pun duduk kembali. Pintu pesawat lalu ditutup dan pesawat segera mundur lalu bersiap terbang. Beberapa saat kemudian, baru iseng-iseng saya hitung uang kelebihannya, dan jumlahnya ternyata Rp 114.000,- pas.

Saya berpikir dalam hati (mestinya kalau berpikir ya dalam otak, tapi kok kedengaran aneh kalau saya katakan “saya berpikir dalam otak”). Sudahlah, pokoknya saya cuma mbatin. Pertama (mbatin saja kok ya ada urut-urutannya…..), kok sempat-sempatnya petugas Garuda memeriksa kembali bahwa saya telah membayar lebih. Kedua, kok sempat-sempatnya menyusul saya ke dalam pesawat yang siap berangkat (padahal jaraknya lumayan jauh dari counter kasir), dengan membawa uang kelebihan yang pas jumlahnya. Ketiga, seandainya kelebihan itu tidak dikembalikan pun sebenarnya saya tidak tahu dan tidak perduli.

Maka untuk kejadian yang simpatik ini, saya menaruh apresiasi setinggi-tingginya kepada Garuda. Untuk hal yang baik ini saya berharap mudah-mudahan bukan karena oknum, melainkan memang perbaikan kinerja. Kalau karena oknum, maka ganti petugas, ya embuh…… kejadiannya. Tapi kalau karena perbaikan kinerja……., jayalah burung besi pembawa benderaku Indonesiaku…..

Saya mengapresiasi, bukan karena Garuda telah mengembalikan kelebihan uangku (Rp 114.000,- mungkin dapat dibelikan 228 potong tempe kedelai goreng tepung, irisan tipis, ukuran 6 cm x 8 cm, cukup dibagikan tetangga se-RT sama anak-anak dan kucingnya), tapi lebih karena perwujudan professionalisme kerja. Terima kasih Garuda!

Yogyakarta, 22 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Biarkan Alarm Berbunyi, Penumpang Tetap Berlalu

4 Mei 2008

Barangkali kini Nano alias Surya Erli Suparjan sedang sedih karena gagal terbang gratis ke Banjarmasin naik pesawat Lion. Atau muram karena berurusan dengan pihak berwajib (maksudnya pihak yang selalu merasa wajib membela diri dan wajib menyalahkan orang lan), gara-gara penyusupannya ke pesawat Lion dilaporkan oleh sang pramugari. “Oo…. kamu ketahuan……”, senandung mbak pramugari.

Tapi saya membayangkan, mas Nano kini justru sedang tersenyum karena berhasil mengelabuhi petugas bandara dengan memakai baju “Security” hingga masuk ke dalam pesawat, bak drama penyusupan di film-film asing (kalau film Indonesia biasanya dramanya agak konyol). Mas Nano pun bersenandung : “Oo…. kamu kecolongan……”.

Mestinya otoritas bandara memberi penghargaan kepada mas Nano karena sukses membuktikan kelemahan sistem keamanan bandara internasional yang dibangga-banggakan negara tetangganya Republik Mimpi.

Kecolongan? Kata ini memberi konotasi bahwa terjadinya baru sekali dan kebetulan ketahuan.

***  

Sabtu sore di bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu. Tiba di pintu keberangkatan, seorang Satpam memeriksa tiket pesawat lalu mempersilakan saya masuk. Segera disongsong oleh mesin pemeriksa barang dan penumpang. Gawangan scanner pun berbunyi “tit…tit…tit…” disertai lampu merah kecil nyala berkedip. Biasanya akan langsung disambut oleh petugas Satpam yang menyuruh mengangkat tangan dan menggeledah tubuh penumpang. Tapi kali itu kok sepi. Setelah tolah-toleh, tak seorang Satpam pun muncul untuk menggeledah. Ya, sudah. Saya ambil barang yang sudah melewati pemeriksaan sinar-X, lalu check-in.

Kemudian memasuki ruang tunggu. Untuk kedua kalinya peristiwa sken-menyeken harus dilalui. Melewati gawangan pemindai, alarm pun berbunyi dan lampu merah menyala. Kejadian seperti di depan tadi juga berulang. Juga sepi petugas. Juga sudah tolah-toleh. Juga tak seorang pun Satpam menghampiri. Ya, sudah. Ambil ransel dan laptop, lalu duduk di ruang tunggu sambil menyeruput kopi Bengkulu.

Kemana gerangan para petugas security yang bertanggungjawab terhadap keamanan bandara? Petugas yang ada di bagian depan yang memeriksa karcis pesawat terlihat cuek. Petugas di bagian pemeriksaan barang juga terlihat serius memelototi layar monitor. Tapi petugas yang menggeledah penumpang tidak ada.

***

Tiba di bandara Soekarno-Hatta langsung transit dengan pesawat yang menuju ke Yogyakarta. Memasuki galeri ruang tunggu, kembali harus melewati pemeriksaan barang dan penumpang. Pasti di bandara Soekarno-Hatta lebih ketat, wong ini bandara kelas dunia, pikir saya.

Ransel dan laptop berhasil melewati terowongan pemindai. Giliran pemiliknya melewati gawangan pemindai, alarm berbunyi dan lampu merah menyala. Tapi saya kok dibiarkan saja sama security yang ada di situ. Tidak satu pun dari dua orang security yang berdiri gagah di sana bergairah menyambut saya untuk menggeledah atau memeriksa darimana sumber bunyinya (mungkin benar, penampilan saya kurang menggairahkan karena lusuh pulang dari lapangan), Ya, sudah. Wong saya dicuekin saja, sayapun ambil barang lalu melenggang menuju ruang tunggu.

Lalu dimana fungsi pengamanan bandara? Setidak-tidaknya pada dua pengalaman pada hari yang sama di dua bandara yang masih ada hubungan suami-istri (Fatmawati Soekarno di Bengkulu dan Soekarno-Hatta di Jakarta). Jelas ini bukan kecolongan, melainkan kesengajaan.

“Ah, menyesal aku tidak membawa bom rakitan dari Bengkulu ke Jogja”, begitu kira-kira kata oknum teroris seandainya waktu itu ikut terbang bersama saya…..

Yogyakarta, 7 Desember 2007
Yusuf Iskandar