Posts Tagged ‘slide rock’

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(8).       Bukit-bukit Merah Di Sedona

Hari Sabtu, 12 Agustus 2000, sekitar jam 10:30 pagi saya meninggalkan kota Tempe menuju ke arah utara melalui jalan bebas hambatan Interstate 17 yang menuju kota Flagstaff, sejauh kira-kira 225 km. Akan tetapi bukan Flagstaff tujuan saya, karena bulan April yang lalu saya sudah ke kota kecil yang berada di sebelah selatan Grand Canyon ini. Beberapa kilometer sebelum masuk kota Flagstaff saya berbelok ke barat lalu belok ke selatan lagi mengikuti jalan Highway 89A menuju kota Sedona.

Highway 89A ini dapat dikatakan letaknya sejajar dengan Interstate 17, dan saya sengaja menyurusi jalan ini balik ke selatan dari arah utara, karena dari sana saya akan melewati beberapa obyek wisata alam pegunungan yang menarik. Daerah ini memang mempunyai bentang alam yang sama sekali berbeda dibandingkan umumnya daerah Arizona yang berupa dataran gurun.

Daerah pegunungan di sini suasananya lebih hijau oleh banyaknya pepohonan, suhu udara juga lebih sejuk dibanding kota Phoenix dan kota-kota lainnya di selatan. Namun tetap saja gugusan bukit-bukit terjal dan tandus menyelip di antara perbukitan hijau. Justru gugusan bukit-bukit inilah yang ternyata memberi pemandangan indah yang khas karena warna batuannya yang kemerah-merahan dan bentuknya yang monumental sehingga sering menjadi simbul bagi kebanggaan masyarakat kota Sedona dan sekitarnya.

***

Rute Highway 89A dari Flagstaff menuju Sedona sepanjang 40 km ini dikenal sebagai salah satu jalur wisata paling indah di Amerika. Bukit-bukit yang merupakan formasi batuan gamping dan lempung merah menghiasi sepanjang perjalanan rute ini. Bukit-bukit merah berada di sebelah barat jalur jalan dua lajur dua arah yang berkelok-kelok mendaki dan menuruni lereng pegunungan. Di antara jalan dan bukit-bukit itu membentang lembah dan sungainya.

Para wisatawan yang datang menggunakan kendaraan menyusuri rute ini memang perlu ekstra hati-hati. Ya, karena dengan sendirinya perhatian akan terbagi antara menikmati pemandangan indah di sepanjang rute dan waspada terhadap kendaraan lain karena jalan yang berkelok dengan jurang di sebelahnya.

Tiba di Oak Creek Canyon, saya menyempatkan untuk berhenti sebentar. Sekedar menghirup hawa segar pegunungan dan menikmati pemandangan yang tidak biasanya saya jumpai di Arizona. Lembah Oak Creek membentang sepanjang 25 km dengan lebarnya ada yang mencapai 1.5 km, dengan dinding tebingnya berwarna putih, kuning dengan dominasi warna kemerah-merahan, dan di sela-selanya menyebar pepohonan pinus, cypress dan juniper.

Melanjutkan ke arah selatan, saya tiba di Slide Rock State Park. Masih di bilangan lembah Oak Creek, di dasar sungainya dijumpai bidang luncuran air sepanjang kira-kira 20 meter yang terbentuk oleh proses alam. Di musim panas seperti ini, tempat ini menjadi pilihan orang-orang tua, muda maupun anak-anak untuk bermandi dan berendam di sungai. Mereka memanfaatkan tempat ini untuk meluncur di air sungai di dasar lembah Oak Creek. Yang menarik dari obyek mandi sungai ini adalah air sungainya setiap hari dimonitor kualitasnya. Tempat ini pernah ditutup untuk umum gara-gara diketahui terkontaminasi oleh bakteri yang tidak diketahui dari mana asalnya. Untuk itu disediakan nomor tilpun khusus (hotline) yang bisa dihubungi setiap saat untuk mengetahui kondisi airnya.

Lebih ke selatan lagi sebelum mencapai kota Sedona, kali ini saya menjumpai pemandangan bukit merah yang beraneka bentuknya, di kejauhan sebelah-menyebelah jalan. Namun cuaca siang itu tiba-tiba hujan deras, padahal saya sedang berada di pinggir sungai di dekat jembatan, karena dari sini tampak lebih jelas pemandangan bukit-bukit merah yang menggunung di kejauhan sebelah timur dan barat jalan.

Ada anjungan atau lebih tepat semacam tempat terbuka yang dilengkapi pagar pengaman di sebelah kiri dan kanan jalan di pinggiran sungai. Tempat ini memang disediakan untuk para wisatawan agar dapat lebih leluasa melihat pemandangan. Rupanya antara kedua anjungan tersebut bersambungan melalui bawah jembatan. Sangat kebetulan tentunya, di bawah jembatan itulah saya bisa berteduh sementara menunggu hujan reda. Setelah agak lama menunggu ternyata hujan tidak juga mereda, akhirnya saya putuskan untuk berlari hujan-hujanan menuju ke tempat parkir, lalu melanjutkan perjalanan. Lumayan basah.

Di antara bentuk-bentuk bukit merah di daerah ini ada yang dikenal dengan nama Courthouse Rock, Bell Rock dan Cathedral Rock. Dua yang terakhir ini yang paling terkenal dan sering ditampilkan menghiasi kartu pos, kalender atau foto-foto promosi pariwisata.

Akhirnya saya sampai di kota Sedona, sebuah kota kecil tapi ramai oleh wisatawan. Satu hal yang paling membuat frustrasi sejak dari Oak Creek Canyon hingga masuk ke Sedona adalah mencari tempat parkir. Terbatasnya area terbuka di antara lajur jalan, lembah dan bukit-bukit, membuat lokasi parkir kendaraan sangat terbatas, termasuk di Sedona. Saat hari libur seperti hari ini, memperoleh tempat parkir menjadi tidak mudah. Sementara parkir di sembarang tempat di pinggir jalan tentu saja tidak diperbolehkan.

Seperti yang saya alami ketika hendak berhenti di Slide Rock, setelah memutar balik dan memutar lagi, baru akhirnya saya dapatkan lokasi agak lebar di pinggir jalan sehingga masih ada jarak aman antara kendaraan dengan badan jalan. Begitulah aturannya untuk bisa parkir di pinggir jalan, itupun di luar kota yang kondisinya memang tidak memungkinkan untuk parkir secara “normal”.

Kota Sedona sendiri berada pada ketinggian 1.340 m di atas permukaan laut dan dihuni oleh sekitar 7.700 jiwa. Menurut sejarahnya, nama Sedona diambil dari nama seorang wanita, istri dari Theodore Schnebly salah seorang dari sedikit keluarga yang pada tahun 1901 nekad memulai kehidupan di daerah yang waktu itu masih dianggap sangat terpencil adoh lor adoh kidul (jauh dari utara maupun selatan).

Mula-mula daerah itu mau diberi nama “Schnebly Station”, tapi rupanya oleh kantor pos terdekat masa itu dianggap terlalu panjang dan merepotkan penulisannya. Maka dicarikanlah nama yang lebih pendek, lalu diambillah nama “Sedona”. Pak Theodore ini belakangan diangkat menjadi kepala kantor post pertama di daerah itu.

Kini, Sedona menjadi kota yang cukup terkenal dan menjadi salah satu kota tujuan wisata setelah Grand Canyon. Setidak-tidaknya 4 juta wisatawan dari seluruh dunia datang ke tempat ini setiap tahunnya (saya jadi ingat, kita pernah mau mendatangkan 5 juta wisatawan asing ke Indonesia dalam setahun saja susahnya setengah mati).

Pemandangan alamnya yang khas dengan tonjolan bukit-bukit berwarna kemerah-merahan di sepanjang rute menuju Sedona dari arah utara telah mengundang para sutradara film layar lebar maupun televisi untuk merekam filmnya di sekitar daerah ini. Ternyata hal ini memang bisa menjadi promosi yang efektif bagi kota Sedona, sehingga makin dikenal oleh para wisatawan.

***

Dari kota Sedona, saya melanjutkan menuju ke selatan ke arah kota Jerome dan Prescott. Belum jauh meninggalkan pusat kota Sedona, saya berbelok ke timur. Ada jalan lingkar yang menuju ke Red Rock State Park. Taman Red Rock seluas 115 ha ini berupa dataran agak tinggi yang di tengahnya berdiri tegak bukit warna kemerahan sama seperti Oak Creek. Untuk masuk ke tempat ini saya mesti membayar US$5, karena ternyata taman ini tidak termasuk dalam kategori National Park, melainkan State Park yang dikelola secara lokal oleh Pemda setempat. Kali ini kartu pass saya tidak berlaku.

Tempat ini menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pelestarian lingkungan, sehingga daerah ini tertutup untuk kegiatan berkemah karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan flora maupun fauna yang ada. Kegiatan alam hanya di siang hari, dan para wisatawan pun diharuskan tetap melewati jalan setapak yang disediakan. Umumnya para wisatawan hanya akan berada di pinggir luar dari taman ini, dimana akan dijumpai aliran sungai yang jernih berbatu-batu dengan latar belakang menjulang tinggi bukit berwarna kemerahan.

Sebegitu ketatnya aturan ditegakkan jika memang dianggap perlu, demi kepentingan pelestarian ekosistem yang ada. Dan ternyata orang-orang (wisatawan maupun penduduk yang tinggal di daerah sekitarnya) sangat patuh dan menghargai aturan yang demikian ini. Satu lagi perasaan gumun (heran) muncul di pikiran saya. Ya, barangkali karena pembandingnya adalah “semangat tidak patuh dan tidak menghargai” yang selama ini sering saya jumpai di kampung saya yang jauh di katulistiwa sana.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Iklan