Posts Tagged ‘sirahan’

Ke Sirahan Kami Kembali

9 Maret 2011

Kami kembali ke Sirahan setelah kunjungan awal beberapa waktu sebelumnya. Pada tanggal 25 Pebruari dan 5 Maret 2011 saya dan beberapa rekan mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang, dalam rangka mendistribusikan bantuan kepada dua buah sekolah TK dan sebuah SD. Bantuan ini merupakan titipan amanah dari para sahabat yang peduli dengan beban kesulitan yang dihadapi anak-anak di desa Sirahan.

Seperti biasa, selalu ada nuansa berbeda dalam setiap perjalanan saya yang ingin saya “dongengkan”. Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Semoga menjadi inspirasi…

***

Berbagi Dengan Anak-anak TK

(1)

Akhirnya kesampaian juga untuk membantu dua sekolah TK yang gedungnya satu hancur satunya lagi lenyap tak berbekas diangkut lahar dingin di desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang.

Alat tulis, mainan edukatif dsb. Jum’at yll (25/02/11) diserahkan ke TK Pertiwi dan TK Ibnu Hajjar. Kami disambut suka cita oleh para ibu guru TK (entah kenapa kok tidak pernah dengar ada pak guru TK, mungkin khawatir murid-muridnya diajari mbetulin genteng).

(2)

TK Pertiwi (25 murid) saat ini menumpang di salah satu rumah warga yang ditinggal mengungsi karena ancaman banjir lahar dingin kali Putih belum usai. Sekolahnya model lesehan seperti makan gudeg Malioboro.

Menurut Bu Atun sang kepala sekolah, pemilik rumah sudah memberitahu akan pulang menempati rumahnya. Jadi mereka harus pindah. “Tapi ya belum tahu mau pindah kemana?”, tutur bu Atun nglangut (menerawang jauh)…

(3)

Dari TK Pertiwi kami menuju TK Ibnu Hajjar (119 murid) yang kini terbagi di tiga lokasi sekolah darurat. Salah satunya menempati sebuah bangunan kosong milik warga di dusun Gudang Gedolon (warga suka menyebutnya nDolon saja), desa Sirahan. Model sekolahnya sama, lesehan.

Sama seperti TK Pertiwi, TK ini pun kini juga sedang menghimpun bantuan dari mana saja berupa apa saja, asal anak-anak tetap bisa tertangani pendidikannya.

(4)

Sempat menyaksikan sebuah kelas yang anak-anaknya belajar sambil duduk lesehan. Senang rasanya melihat anak-anak itu. Ceria sekali, seperti tidak peduli dengan serba daruratnya sarana belajar yang ada.

Tapi jangan salah. Kata bu guru Suryati: “Ketika cuaca berubah mendung gelap, anak-anak itu gelisah minta segera pulang…”. Rupanya trauma banjir lahar dingin yang telah menggondol sekolah mereka begitu membekas dalam pikiran anak-anak itu.

***

Kue nDeso Bolu Kelapa

(5)

Ada sembilan ibu guru TK Ibnu Hajjar (tidak ada pak guru) siang itu berseragam baju kaus warna biru-putih dan berkerudung menyambut kedatangan kami yang membawa bantuan untuk sekolah TK mereka.

Kami disuguh dengan penganan bolu kelapa. Tapi kok masih panas dan aromanya membuat tdk sabar ingin sgr mencicipi. Rupanya di belakang bangunan yg sementara digunakan untuk TK itu juga digunakan untuk usaha membuat penganan.

(6)

Bolu kelapa adalah penganan berbahan terigu seperti kue bolu kukus. Bedanya bolu kelapa ini terigunya dicampur dengn parutan kelapa yang sebelumnya sudah di-oven sehingga aroma kelapanya tajam merangsang, seperti kelapa yang dibakar untuk umpan tikus.

Itu baru aromanya. Rasanya? Hmmm, empat bolu bablass… “Usaha ini baru setahun”, kata ibu Bambang sang pengusaha yang juga tinggal di bangunan yang ditempati TK itu. Kini omsetnya terus meningkat.

(7)

Bolu kelapa… Kue bolu berbahan terigu bercampur parutan kelapa yang di-oven. Kue ndeso sederhana, dibuat dengan cara sederhana (siapapun mudah membuatnya, kalau mau), dijual dengan harga sederhana.

Tapi ribuan bolu kelapa berhamburan ke pasar-pasar dan warung-warung di sekitar Muntilan yang dapat dibeli dengan harga @Rp 500,- dengan merek DR (Doa Restu). Harga di pabriknya @Rp 400,- per biji.

***

Jum’atan Di Dusun nDolon

(8)

Menjelang tiba waktu dzuhur. TK Ibnu Hajjar, guru dan muridnya harus ditinggalkan sejenak untuk sholat Jum’at. Seorang bu guru menunjukkan jalan menuju masjid terdekat karena letaknya agak tersembunyi.

“Nurul Burhan”, nama masjidnya. Terlihat pak haji Furqon, takmir dan imam masjid, sedang duduk leyeh-leyeh seorang diri di selasar masjid. Waktu dzuhur sudah masuk, tapi masjid kecil itu kok sepi. “Jangan-jangan jum’atan di sini libur”, pikirku.

(9)

Kusalami pak haji Furqon. “Biasanya baru pada datang setelah bedug ditabuh”, kata pak haji tersenyum. Benar juga. Sesaat kemudian datang beberapa orang muda. Bedug ditabuh. 1-2 jama’ah mulai datang. Lalu adzan berkumandang.

Nuansa Islam tradisional kental terasa. Jum’atan dengan dua adzan, sang bilal banyak melagukan salawat, pak haji sebagai khatib sekaligus imam mencengkeram tongkat “komando” sebesar alu (alat tumbuk padi).

(10)

Khotbah Jum’at yang seluruhnya disampaikan dalam bahasa Jawa halus telah diselesaikan pak haji Furqon selaku khatib. Sholat Jum’at segera dimulai, pak haji Furqon pun siap di mimbar imam.

Tiba-tiba beliau membalikkan badan dan berkata: “Gus, Gus Yusuf, monggo…”, sambil tangannya mempersilakan. Aku menoleh ke kiri-kanan ingin tahu siapa yang diajak bicara. Astaghfirullah, rupanya ucapan itu ditujukan kepadaku.

(11)

Pak haji Furqon mempersilakanku menjadi imam. Aku memang agak kaget, tidak menyangka tiba-tiba dipersilakan seperti itu. “Monggo pak…”, jawabku balas mempersilakan sambil mengarahkan jempolku.

Bukan aku tidak mau atau tidak bisa, kalau aku menolak. Bukan juga karena aku hanya mengenakan celana blue-jeans belel dan T-shirt. Melainkan karena beliaulah sebenarnya orang yang paling pantas untuk mengemban tugas menjadi imam pada Jum’at siang itu.

(12)

Alasanku terbukti benar. Di usianya yang sudah lebih 70 tahun, pak haji Furqon ternyata masih mampu melantunkan surat Al-Fatihan dan Al-A’laa dengan makhroj dan tajwid yang jelas dan bersih.

Aku dibuatnya terkagum. Tidak banyak orang tua seusia beliau mampu melakukannya. Namun lebih dari semua itu, adalah kerendahan hatinya sehingga merasa perlu mempersilakan jamaah “barunya” di masjid yang memang jarang kedatangan “tamu” itu.

(13)

Usai jum’atan, kupamiti pak haji Furqon yang wajahnya tampak selalu tersenyum ramah dan kusalami dengan hangat. Subhanallah.., sungguh sepenggal pengalaman yang seharusnya dapat kupetik hikmahnya.

Pak haji Furqon mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah kami berikan. Aku tertegun sejenak. Apa “urusan” haji Furqon berterima kasih untuk bantuan kepada sekolah TK yang hanya numpang di situ… Sebuah kearifan yang sulit dijelaskan.

***

“Lahardi”

(14)

Sebelum kembali ke Jogja, kami sempatkan menengok seorg guru TK Pertiwi yang malam sebelumnya melahirkan anak pertamanya di RSIA Muntilan. Sekedar ingin memberi surprise kepada bu guru yang ketika hamil tua sempat menyaksikan detik-detik menegangkan bagaimana TK-nya dilabrak banjir lahar lalu lenyap.

Seorang teman usul agar bayi laki-laki bu guyu (sengaja pakai ‘y‘) Watik ini diberi nama “Lahardi” (agar selalu ingat dengan lahar dingin).

***

Entok Goreng “Pondok Rahayu” Muntilan

(15)

Agenda terakhir Jum’at siang itu adalah makan siang (ini juga bagian penting). Bagaimanapun juga harus makan, maka dipilihlah “Pondok Rahayu” di pojok Jl. KH A. Dahlan, Muntilan, Magelang.

Menu unggulannya bebek dan ayam kampong, tapi juga ada entok dan kalkun. Bakar atau goreng dengan sambal goreng atau sambal kosek. Dan, pilihanku adalah…entok goreng, yang dagingnya empuk, tekstur seratnya nyaman dikunyah, dan hmmm…

(16)

Tahun 1992 bu Rahayu memulai membuka usaha jualan menu ayam kampung dan bebek. Warungnya kecil dan bertahan di tempatnya yang sekarang dengan judul “Pondok Rahayu”.

Taste-nya tidak diragukan lagi. Terbukti bertahan hingga dua dekade, malah semakin kondang dan diburu pelanggannya. Bahkan sekarang bu Rahayu memiliki armada untuk melayani pesan-antar. Sampai sekarang belum buka cabang, walau niat itu ada.

(17)

Daging entok dan bebek dimasak sedemikian ahlinya sehingga tidak terasa amis (anyir), melainkan pas benar taste-nya. Tadinya mau nyoba kalkun, tapi rupanya harus pesan lebih dahulu mengingat besarnya (seperti kalkun yang disusupi kepalanya Mr. Bean yang dagingnya cukup untuk 25 porsi normal, kecuali yang makannya tidak normal…).

Rahasianya? “Nggih namung sabar…” (ya cuma sabar saja), katanya. Maksudnya, sabar memproses sesuai kebutuhan.

***

Anak-anak, Seragam Dan Semangatnya

(18)

Pak Katam, Kepsek SDN Sirahan 1 itu sudah menunggu kedatanganku di teras “sekolah”, bersama para ibu guru dan muridnya. Saya datang mengantar bantuan berupa pakaian seragam pramuka untuk 84 muridnya (sumbangan dari seorang rekan di Jogja yang tidak mau disebut namanya).

Seragam (tepatnya baju sekolah) itu mereka butuhkan, apalagi bagi mereka yang rumah seisinya telah diangkut banjir lahar.

(19)

SDN Sirahan 1, di kecamatan Salam, Magelang, bagian depannya tertutup pasir lahar Merapi, ruang kantornya morat-marit diacak-acak banjir lahar luapan dari kali Putih. Warga yang kebanyakan wali murid, belum mengijinkan sekolah beroperasi mengingat ancaman bahaya banjir lahar masih belum sirna.

Sementara “sekolah” yang ditempati sekarang sebenarnya adalah beberapa rumah warga dusun Purwosari, desa Sirahan, yang ditinggal mengungsi pemiliknya.

(20)

Kabarnya pemilik rumah yang sekarang difungsikan untuk sekolah itu kini bersiap pulang karena jenuh tinggal di pengungsian. Karuan saja para gurunya harus berpikir keras. Ketika kutanya: “Terus belajarnya nanti gimana pak?”. “Ya gimana nanti saja…”, jawab pak Katam pasrah sambil tersenyum (susah lho, pasrah tapi tersenyum…).

Nanti gimana atau gimana nanti? Tergantung pilihannya, kekhawatiran atau ketenangan perasaan..

(21)

Namanya juga anak-anak… Tiap hari hanya bermain di pengungsian membuat ortu dan gurunya bingung. Terpaksa diusahakan angkutan antar-jemput siswa ke/dari “sekolah” barunya.

Setiap minggu sekolah harus menyediakan biaya Rp 240 ribu untuk sewa kendaraan. Entah sampai kapan. Bukan jumlah yang sedikit dalam situasi darurat. Tapi anak-anak gembira berdesakan naik mobil bak terbuka setiap hari. Dan, semangat anak-anak itu masih ada, juga gurunya…

Yogyakarta, 27-28 Pebruari dan 5 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Tentang Banjir Lahar Dan Anak Sekolah Desa Sirahan

10 Februari 2011

Berikut ini catatan dari mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, pada tanggal 4 Pebruari 2011 dalam rangka mencari informasi lebih lengkap tentang kemungkinan untuk memberi bantuan bagi sekolah TK dan SD yang hancur terkena hempasan banjir lahar dingin Merapi. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi semoga menjadi inspirasi…

***

(1)

Hari masih siang sebenarnya ketika saya dan teman-teman tiba di desa Sirahan, kecamatan Salam, Jum’at kemarin. Tapi mendung tampak menggelayut merata hingga ke utara ke arah Merapi. Siluet gunung Merapi sesekali membayang.

Saat kami tiba di Sirahan, beberapa orang yang rencananya mau ketemuan ada yang sudah meninggalkan desa. Mendung tebal dan merata adalah tanda-tanda awal untuk siaga penuh bagi masyarakat di sepanjang aliran kali Putih.

(2)

Beruntung kami masih sempat menjumpai dua orang guru TK. Bu Watik (guru TK Pertiwi) yang bangunan sekolahnya lenyap tanpa bekas dan bu Ida (Kepala TK Ibnu Hajjar) yang setengah bangunan sekolahnya hilang dan kini porak poranda. Keduanya terkena terjangan banjir lahar dingin dua minggu yll. Kedua orang guru TK itu pun sudah siap-siap hendak meninggalkan lokasi.

(3)

Bu Watik kini sibuk mengalihkan kegiatan belajar ke-25 anak didiknya ke sebuah rumah warga, tidak jauh dari lokasi TK Pertiwi semula, tapi posisinya lebih aman. Belajarnya sambil duduk lesehan di atas tikar seperti makan gudeg lesehan Malioboro. Alat peraganya seadanya sebab tak satu lembar buku dan sebatang kapur tulis pun selamat dari hempasan lahar dingin.

(4)

Bu Ida harus kami jemput ke tenda posko di tepi sungai agar bisa ngobrol di tempat yang lebih aman yaitu di selasar masjid Sirahan. Kegiatan belajar ke-119 anak didiknya di TK Ibnu Hajjar kini tersebar di tiga lokasi berjauhan ditangani sembilan orang bu gurunya. Ada yang dekat barak pengungsian, ada yang di desa utaranya dan ada yang di selatan desa yang antar keduanya aksesnya terputus. Ketiga lokasi belajar itu tentu saja dalam kondisi darurat.

(5)

Praktis dari kedua sekolah TK itu tak satu pun perlengkapan belajar yang masih dapat digunakan. Walau satu ruang kelas TK Ibnu Hajjar masih nampak utuh, tapi rupanya isi di dalamnya sudah diambil alih digantikan oleh timbunan pasir. Meja-kursinya entah terpindahkan kemana.

Maka bantuan berupa apapun akan sangat berarti bagi anak-anak, begitu kira-kira kata kedua guru itu. Sarana bermain, diharapkannya. Agar anak-anak tidak hanya berlarian tiap hari.

(6)

Datangnya banjir lahar dingin memang begitu cepat. Lebih-lebih tidak disangka bakal sedahsyat itu sehingga tidak melakukan tindakan penyelamatan apapun.

Menurut bu Ida yang pada malam kejadian itu sedang ada di masjid di dekat TK-nya: “Datangnya kurang dari 30 menit sejak dikabarkan dari lereng Merapi akan datang banjir lahar”. Sedangkan TK Ibnu Hajjar sebenarnya tidak berada dekat aliran sungai Putih, bahkan masih terpisah dengan jalan aspal Gulon-Ngluwar…

(7)

Pada malam terjadinya banjir lahar (16/01/11) sebenarnya bu Ida hendak tidur di sekolah TK-nya karena alasan mengungsi dari rumahnya yang ada di dekat kali Putih. Namun “sayang”, kunci sekolahnya tertinggal di rumahnya. Akhirnya pindah ke masjid dekat sekolah bersama beberapa orang lainnya.

Saat banjir itu benar-benar datang, dalam keremangan malam disaksikannya sendiri bagaimana banjir itu menerjang bangunan sekolahnya hingga roboh dan lenyap.

(8)

Bagi bu Ida dan beberapa orang warga desa Sirahan lainnya yang sempat menyaksikan dahsyatnya hempasan banjir lahar, kejadian malam itu sungguh sebuah mimpi buruk yang tak kan pernah terlupakan dalam hidupnya.

Belum lagi kalau ingat betapa semua orang menjadi panik ketika kemudian banjir itu juga mengepung dan nyambangi mereka hingga masuk ke dalam masjid. Sangat dipahami kalau kemudian ada salah seorang anak murid TK yang trauma setelah melihat kejadian itu.

(9)

Bincang-bincang dengan kedua guru TK menjelang sore di selasar masjid itu hendak dilanjutkan sambil jalan-jalan berkeliling melihat lokasi bencana. Namun tiba-tiba tersebar berita bahwa banjir besar sedang bergerak turun dari lereng Merapi.

Serta-merta semua orang waspada dan sebagian bergegas menjauh dari lokasi atau kembali ke pengungsian. Tak terkecuali kedua ibu guru itu pun segera pamit meninggalkan kami. Ya, kami memang harus memahami situasinya…

(10)

Kami jadi kebingungan sendiri. Antara mau langsung meninggalkan lokasi tapi ingat masih ada rencana ke SD Sirahan I yang hendak dituju dan seorang gurunya sudah dihubungi, sementara aksesnya terputus dan harus jalan memutar agak jauh. Antara ingin menyaksikan datangnya banjir lahar tapi sadar kalau sedang berada di zona bahaya di desa Sirahan.

Akhirnya kami putuskan untuk pulang saja meninggalkan lokasi bencana desa Sirahan.

(11)

Sore setelah meninggalkan desa Sirahan, saya memperoleh berita dari pak Kadus Salakan bahwa banjir lahar memang benar-benar datang dan lumayan besar. Beruntungnya jalur aliran lahar yang sudah ada masih mampu menampung aliran banjir sore itu.

Hanya saja kata pak Kadus: “Areal sawah yang tertimbun pasir semakin luas”. Makin terpuruklah petani yang sawahnya mulai menguning…

(12)

Besarnya banjir lahar sore itu bisa diketahui dari makin terputusnya akses menuju desa Sirahan dari arah utara karena tebalnya endapan pasir. Untuk mencapai SDN Sirahan I menjadi lebih sulit.

Esoknya saya peroleh kabar dari Kepala Sekolahnya, bahwa pasir lahar kmbali sudah memasuki ke ruang-ruang kelas. Maka jelas kini ruang kelas tidak dapat lagi digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Mau dibersihkan seperti sebelumnya, jangan-jangan banjir besar datang lagi…

(13)

Besarnya banjir lahar sore itu kembali memutus jalan raya Jogja-Magelang untuk yang kesekian kalinya. Itu karena luberan aliran lahar dingin di kali Putih kembali meninggalkan timbunan material vulkanik dari gunung Merapi berupa pasir dan batu yang memenuhi jalan. Perlu waktu lama untuk membersihkannya. Kembali lalulintas jalan raya terganggu.

(14)

Pulang dari kawasan bencana lahar dingin desa Sirahan, mampir dulu ke kali Krasak yang juga sedang ramai ditonton orang karena banjir lahar. Kami turun ke bawah jembatan.

Sebenarnya bukan untuk melihat banjir lahar, melainkan makan sore nasi brongkos “Warung Ijo” Bu Padmo. Haha, ini bagian menariknya yang harus dicatat.., nasi brongkos mak nyusss…

Banjir kali Krasak sore ini, lebih dari aliran lahar dingin yang selama ini lewat kali Krasak.

(15)

Pak Katam, Kepsek SDN Sirahan I yang ruang-ruang kelas sekolahnya dikudeta untuk ketiga kalinya oleh banjir lahar dingin Merapi (ruang kelasnya kini terisi pasir) memohon bantuan sepatu dan seragam pramuka untuk 82 orang muridnya. Semua muridnya kini menyebar di pengungsian, ada kelas darurat, juga numpang ke sekolah lain. Akses menuju sekolah ini harus memutar agak jauh karena jalan utama terputus…

(Puji Tuhan walhamdulillah. Seorang sahabat spontan menyatakan niatnya untuk membantu pakaian seragam pramuka. Sebanyak 82 stel seragam pramuka siap diambil. Sungguh membuat saya terharu. Semoga kebaikan itu, insya Allah akan tercatat di buku besar di langit ke tujuh dan memperoleh balasan yang jauh lebih baik. Matur nuwun kami haturkan)

Yogyakarta, 4-7 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Desa Sirahan Pun Porak-Poranda Oleh Lahar Dingin

7 Februari 2011

Catatan dari mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, kabupaten Magelang (Jateng) pada Jum’at, 28 Januari 2011. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng…

***

(1)

Jum’at (28/01/2011) siang yll saya harus menuju desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang. Ini desa kedua setelah Jumoyo yang terkena bencana lahar dingin. Lokasinya di baratdaya Jumoyo. Dari arah Jogja saya harus melewati jembatan kali Putih.

Hal yang di luar perkiraan saya adalah jalur di Jumoyo ini muacet minta ampyuuun… Jalan yang tergerus aliran lahar telah menyebabkan badan jalan menyempit. Perlu waktu lebih 1 jam untuk menempuh penggal jalan sekitar 1 km. Huuuh..!

(2)

Bagi yang akan menempuh rute Jogja-Magelang melintas jembatan kali Putih di desa Jumoyo, Salam, sebaiknya mengalokasikan tambahan waktu 1-2 jam. Ada jalan alternatif tapi lebih jauh dan sempit.

Sementara ketika bersamaan dengan turunnya banjir lahar dingin (seringkali sore hari), rute ini ditutup. Lama-tidaknya tergantung besar-kecilnya banjir. Dan urusan buka-bukaan dan tutup-tutupan jalan ini sudah terjadi berulang kali. Maka, ya harus bar-sabbaaar

(3)

Setelah melewati kali Putih, saya bertemu seorang relawan yang akan menemani ke desa Sirahan. Waktunya sangat mepet untuk sholat Jum’at, maka segera ke masjid terdekat dengan lokasi bencana. Masjid yang ada di Sirahan sendiri “libur” karena semua warganya mengungsi.

Ada rasa batin berbeda saat Jum’atan di masjid An-Nur, dusun Tular, desa Seloboro. Itu karena khotbah Jum’at disampaikan dalam bahasa Jawa seutuhnya. Hmmm, sudah lama tidak saya alami…

(4)

Dari desa Seloboro berboncengan sepeda motor dengan seorang relawan segera menuju desa Sirahan yang lokasinya hanya sekitar 2-3 km dari jalan raya Jogja-Magelang.

Setiba di Sirahan, barulah saya tahu bahwa kondisinya lebih buruk dibanding Jumoyo. Jalan desa beraspal Gulon-Ngluar itu telah berubah menjadi sungai. Sepenggal jalan sepanjang lebih 200 m, sebagian tertimbun pasir cukup tebal, sebagian tergerus hingga kedalaman 5 m dari tinggi jalan aslinya.

(5)

Ketika terjadi banjir lahar, sungai Putih yang sebenarnya kecil tidak mampu menanggung beban aliran lahar dingin yang bercampur pasir dan batu-batu besar dalam volume luar biasa.

Maka aliran banjir pun mencari jalannya sendiri dan jalan aspal Gulon-Ngluar dipilihnya. Jalan itu pun tidak cukup, maka meluberlah ke perkampungan desa Sirahan menyapu apa saja dan menghempaskan rumah-rumah penduduk di lima dusun di sepanjang jalan itu… (kelak akan menjadi jalan kenangan)

‎(6)

Hampir 200 rumah di lima dusun (Salakan, Glagah, Jetis, Sirahan dan Gemampang) terkena dampak langsung dari banjir lahar dingin. Sebagian rumah tertimbun dan tenggelam oleh pasir, sebagian roboh, sebagian lainnya hilang terbawa banjir. Praktis semua rumah yang ada di pinggir jalan Gulon-Ngluar yang kini jadi sungai, kondisinya memprihatinkan bahkan lenyap tanpa bekas. Korban jiwa dapat ditekan, karena datangnya banjir lahar sudah diketahui sebelumnya.

(7)

Informasi datangnya banjir lahar dingin dalam skala sangat besar sudah dimonitor para relawan, satu diantaranya pak Sunaryo, Kepala Dusun Salakan. Segera para warga diminta mengungsi (sayang, ada seorang yang “ngeyel” dan akhirnya tewas terseret banjir).

Pergerakan banjir dimonitor dengan pesawat HT sejak di titik tertinggi lereng barat Merapi. Para relawan di sepanjang lintasan kali Putih saling memberi info situasi di lokasi masing-masing.

‎(8)

Sebagai Kepala Dusun, pak Naryo tergopoh-gopoh mengungsikan warganya dibantu para pemuda. Hal yang tidak terduga adalah kecepatan alirannya.

Pak Naryo mencatat, hanya dalam waktu 22 menit tsunami lahar dingin lengkap dengan pasir dan batunya menyapu desa Sirahan dengan dahsyatnya, sejak prtama kali dilaporkan di titik pantauan tertinggi di hulu kali Putih yang berjarak sekitar 22 km. Itu berarti kecepatannya sekitar 1 km/menit atau 17 m/detik. Waoow..!

(9)

Pak Naryo yang menjadi panglima tertinggi dalam situasi kritis di dusunnya, hanya bisa dheleg-dheleg (bengong dan tegang) menyaksikan datangnya banjir lahar yang begitu cepat, begitu dahsyat…

Sambil berdiri di posisi aman, malam itu pak Naryo menyaksikan detik-detik mendebarkan saat rumahnya diterjang banjir.., roboh.., lenyap.., begitu cepat.., dan baru esoknya melihat bekas rumah dan sekitarnya sudah berubah menjadi padang pasir…Top of Form

(10)

Murid-murid SDN Sirahan I baru beberapa hari selesai membersihkan sekolahnya dari endapan pasir banjir lahar dingin yang cukup besar Minggu sebelumnya. Tahu-tahu banjir kedua yang lebih besar datang seminggu berselang.

Maka tunai sudah urusan persekolahan. Ruang kelas kini berisi pasir, perlengkapan berantakan, belajar-mengajar terhenti, murid-murid mengungsi, pekerjaan lebih berat menanti. Beruntung bangunan sekolah tidak rusak berarti.

‎‎‎‎‎SDN Sirahan I, desa Sirahan, kec. Salam, Magelang, nyaris tenggelam oleh endapan pasir banjir lahar dingin. Sementara ini sekolah masih diliburkan karena ditinggal mengungsi semua muridnya.

(11)

Murid-murid SDN Sirahan I yang adalah warga desa Sirahan kini mengungsi ke barak pengungsian yang jauhnya lebih 3 km dari sekolah. Sebanyak 83 murid kesulitan menuju sekolahnya. Anak-anak itu merasa tidak nyaman untuk numpang belajar di sekolah lain. Anak-anak itu lebih cinta sekolah dan gurunya sendiri.

“Anak-anak kini tidak mau sekolah”, kata bu guru Purwaningsih ‘nglangut’. Anak-anak itu ingin ada kendaraan antar-jemput dari barak ke sekolah pp.

‎(12)

Transportasi menjadi kendala, terutama bagi anak-anak yang ortunya tidak memiliki motor. Jumlah mereka setengah dari jumlah murid. Seperti usul bu guru Purwaningsih: “Anak-anak perlu bantuan transportasi pak”.

Dapat dipahami. Memang tidak mudah membantu dalam bentuk jasa seperti ini. Lebih mudah membantu bentuk barang, sekali dibagi langsung selesai. Sedang bantuan jasa, lebih-lebih berkelanjutan entah sampai kapan, jelas lebih repot mengelolanya terutama bagi donatur personal.

(13)

Ketika terjadi banjir lahar yang pertama, sebenarnya sudah banyak bantuan mengalir untuk sekolah SDN Sirahan I dan murid-muridnya. Namun ketika terjadi banjir lahar kedua yang lebih parah, bantuan berupa buku, tas sekolah dan perlengkapan itu tertunda karena sekolah diliburkan. Murid-murid itu kini lebih butuh perlengkapan sekolah, terutama sepatu dan baju seragam yang banyak tak lagi dimiliki oleh murid yang rumahnya terkena dampak langsung banjir lahar…

(14)

Bangunan sekolah TK Ibnu Hajjar dusun Glagah, desa Sirahan, itu kini isinya porak-poranda dan taman bermainnya hilang, tinggal menyisakan setengah bangunannya. Anak-anak taman nak-kannak itu kini tak lagi punya wahana bermain. Apa boleh buat, alam menghendaki demikian…

Sama seperti hamparan sawah yang sedang mulai menguning itu sebagian kini berubah menjadi dataran pasir. Apa boleh buat, alam pun menghendaki demikian…

(15)

Saya pikir, melihat kondisi TK Ibnu Hajjar di dusun Glagah yang setengah bangunannya dihajar lahar itu sudah membuatku mengelus dada. Lha, begitu tiba di dusun Gemampang saya harus nambahi mengelus jidat.

TK Pertiwi yang ada di sudut pertigaan jalan itu malah bangunannya buablas tak berbekas kecuali secuil dindingnya, tak tahu kemana perginya… Posisinya digantikan oleh segelundung batu besar, yang juga tak tahu darimana datangnya…

(16)

Ya namanya juga anak-anak… Melihat sekolah TK-nya hilang, ya sudah, nggak mau sekolah. Untung ada yang berinisiatif membujuk pindah menempati rumah warga yang masih dapat digunakan sementara pemiliknya mengungsi.

Pak Danang (Kadus Gemampang) mengusulkan bantuan untuk anak-anak (baik yang di TK maupun yang tidak mau sekolah dan tetap di barak), seperti mainan dan buku cerita anak. Saya hanya mengangguk sambil pegang pelipis, mikir maksudnya…

(17)

Segenap warga lima dusun dari desa Sirahan, kecamatan Salam, kini tinggal di pengungsian yang letaknya cukup jauh. Sebagian besar mereka bekerja sebagai buruh (tani/bangunan/tambang pasir).

Siang itu saya lihat sebagian dari mereka yang memang benar-benar dibuat tak berkutik oleh bencana, tanpa pekerjaan, duduk-duduk, ngobrol, melamun, di barak pengungsian. Sampai kapan? Menilik potensi ancaman banjir lahar, jelas mereka akan ada di sana untuk waktu lama…

(18)

Anak-anak itu.., anak-anak yang tidak sekolah, bersuka-ria, bercanda, bermain, tertawa riang, di halaman barak pengungsian. Sekarang baru bicara hitungan hari hingga minggu. Sedang naga-naganya mereka akan di sana dengan hitungan bulan… Bagaimana dengan pekerjaan dan penghidupan tiap-tiap keluarga selanjutnya? Bagaimana dengan anak-anak itu dan sekolahnya?

Saya tidak ingin menjawab pertanyaan itu, saya hanya ingin bagaimana bisa menjadi bagian kecil saja dari kehidupan mereka…

Anak-anak bermain bola di halaman barak pengungsian, sementara para orang tua duduk-duduk menyaksikan dari jauh. Menunggu waktu…, mengisi waktu…, pekerjaan yang tak kan pernah selesai mereka jalani…

(19)

Para korban bencana itu perlu bantuan. Itu pasti. Tapi bantuan apa yang paling dibutuhkan? Riil dan jujur, yang paling dibutuhkan adalah uang..! Kita suka merasa jengah kalau mendengar kata uang.

Uang memang lebih fleksibel, mudah dilipat, juga ditilap. Tapi itulah kenyataan, mereka perlu pengganti penghasilan setelah tidak dapat bekerja. Walau logistik, pakaian dan kebutuhan lain tercukupi, mereka tetap perlu biaya transport, bensin, pulsa, dsb…

‎(20)

Walau uang yang paling mereka butuhkan, tidak serta-merta berarti tidak menerima bantuan non-uang. Apapun rupa bantuannya dan berapapun banyaknya, bantuan akan selalu disambut dengan suka cita. Bahkan sesama dusun dapat saling jujur dan adil dalam mendistribusi bantuan sesuai pesan pemberinya.

Tapi saya (juga banyak donatur, biasanya) lebih memilih untuk mengirimkannya langsung ke posko-posko mandiri yang ada di dusun-dusun ketimbang melalui posko utama.

(21)

Mengakhiri kunjungan saya ke desa Sirahan, sore itu saya berdiri di atas tanggul kali Putih. Nampak jelas permukaan sungai kini berada lebih tinggi dibanding desa Sirahan. Tanggul itu terus ditinggikan dengan mengeruk dasar sungainya dengan alat berat.

Namun setiap kali terjadi banjir lahar dingin, sungai akan penuh kembali. Sedang di atas lereng Merapi sana masih menunggu jutaan m3 material vulkanik siap digelontorkan… Masya Allah..!

(22)

“Kampungku Bencanaku 090111″… Ekspresi warga dusun Gemampang, desa Sirahan, terhadap bencana banjir lahar dingin berskala besar yang pertama, yang telah menghancurkan desanya dan mengantar sebongkah batu besar ke sudut pertigaan jalan desa. (Di batu besar itulah tulisan ekspresi kesedihan itu diabadikan).

Yogyakarta, 29 Januari – 1 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar