Posts Tagged ‘sinyal’

Menyusuri Setengah Trans Sulawesi Dari Makassar Ke Palu (3)

28 Desember 2010

(14). Semalam Di Karossa

Semalam di Karossa… Sebuah kota kecil di pertengahan jalan poros Trans-Sulawesi antara Mamuju (Sulbar) – Palu (Sulteng). Hujan menyambut hingga setengah malam, kompak dengan jadwal nyala listriknya.

Bermalam di penginapan “Makmur”. Ini penginapan benar-benar murah-meriah-sederhana-seadanya, langganan para pejalan jauh dan sopirnya beristirahat atau transit semalam. Sebuah kamar 2 single-bed dan kipas angin seharga Rp 50ribu/malam.

(Karossa, 28 Oktober 2010)

——-

(15). Sarapan Sederhana Di Depan Pasar Karossa

Nasi goreng… Sarapan sederhana di depan pasar Karossa, Mamuju, Sulbar, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke desa Sanjango sekitar satu jam perjalanan ke arah timur laut dari Karossa.

(Karossa, 28 Oktober 2010)

——-

(16). Sebuah Pesan Doa

Seorang sahabat mengirim pesan doa : “Semoga kesulitan bersamamu”.

Alhamdulillah… A very challenging message… Adrenalin saya meningkat sebab saya akan belajar, hanya jika menghadapi kesulitan maka saya akan tahu bagaimana membuatnya menjadi mudah. Sebab saya yakin bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan (innama’al ‘usyri yushro). Di balik setiap threat pasti ada opportunity. Dan, perjalanan pun kulanjutkan…

(Karossa, 28 Oktober 2010)

——-

(17). Tidak Ada Sinyal Di Sanjango

Maka sampailah ke Sanjango, desa terakhir sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki beberapa kilometer lagi menuju perbukitan lokasi survey batu besi. Perbekalan pun sudah disiapkan untuk tinggal di camp (istilah halus untuk bedeng) di hutan. Hanya saja, sudah siap-siap memanjat pohon untuk mendapatkan sinyal, karena di sini tidak ada yang jual…

(Sanjango – Karossa, 28 Oktober 2010)

——-

(18.) “Capek Deh…”

Nissan Navara double gardan itu meliuk-liuk melalui jalan batu perbukitan, dari Karossa menuju desa Sanjango, seolah mengikuti irama lagu disco ndang-ndut yang diputar pak sopir berulang-ulang.

Lagu “Cinta Satu Malam” dinyanyikan Melinda, disambung lagu “Capek Deh”…

Cape deh, ngurusin kamu
Cape deh, terserah kamu

Membuat kepala nyut-nyutan. Bukan karena lagunya, tapi lengkingan volumenya berkekuatan penuh seperti tim Densus 88 menguber teroris.

(Sanjango – Karossa, 28 Oktober 2010)

——-

Para Pendaki Kecil Yang Ruarrr Biasa

10 Juni 2009

IMG_2624_rJanjinya anak-anak akan selalu meng-update bapaknya via SMS… Lha ini sampai malam kok tidak ada kabarnya, padahal mestinya sudah turun gunung dan pasti ada sinyal. Jangan-jangan harus nge-camp di gunung semalam lagi? Ujuk-ujuk masuk SMS : “Lg dlm p’jlanan plg”. Kontan saya tilpun mereka. Suara kecil di seberang sana : “Sudahlah…., bapak tenang aja….”. Dalam hati saya, antara bilang ‘kurang ajar’ & ‘alhamdulillah’ jadi satu… Rupanya kita para ortu ini suka under estimate terhadap anak-anaknya..

(Malam ini menjelang pukul 20:00 WIB, anak-anak itu sampai di rumah dari pendakiannya ke gunung Merbabu sejak berangkat dari Jogja kemarin, sambil cengengesan…. Selamat… selamat…., para pendaki kecil…. Kalian memang ruarrr biasa…)

Yogyakarta, 10 Juni 2009
Yusuf Iskandar