Posts Tagged ‘sh mintaredja’

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(3).   Menyusuri Lembah Api

Sabtu, 22 April 2000, jam 8:00 pagi, saya sudah meninggalkan hotel menyusuri jalan-jalan kota Salt Lake City untuk menuju jalan bebas hambatan Interstate-15. Salt Lake City yang berada di ketinggian sekitar 1.700 m di atas permukaan laut pagi itu masih tampak sepi, berudara cukup dingin dan di kejauhan di sisi timurnya membentang indah pegunungan yang masih tertutup salju. Masuk ke Interstate-15 langsung melaju ke arah selatan.

Hari itu saya merencanakan agar sorenya bisa mencapai kota Las Vegas (Nevada) yang berjarak 415 mil (sekitar 664 km) dari Salt Lake City. Menurut perhitungan, saya akan mencapainya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam. Hujan mengguyur di sepanjang perjalanan dua jam pertama. Sesudah itu cuaca berubah terang dan lalu panas bahkan terik matahari terasa sekali, tetapi angin tetap bertiup kencang dan dingin.

Sekitar 67 mil (107 km) menjelang Las Vegas, ternyata waktu masih menunjukkan jam 2 siang. Saya lalu memutuskan untuk membelok ke jalan highway dua lajur dua arah yang menuju ke obyek wisata Valley of Fire. Yang membuat saya tertarik untuk mengunjungi tempat ini adalah karena saya sudah melihat fotonya yang menarik dan namanya yang berkesan menyeramkan.

Meskipun untuk ini saya harus memutar sejauh 46 mil (sekitar 74 km), dan saya memperkirakan memerlukan tambahan waktu 3 jam termasuk untuk berhenti dan melihat-lihat pemandangan, juga berfoto tentunya. Dengan demikian saya berharap sekitar jam 6 sore bisa masuk kota Las Vegas. Hari pasti belum gelap, karena di bulan April matahari baru tenggelam di atas jam 19:00.

Mendengar kata Valley of Fire yang saya terjemahkan menjadi Lembah Api, sudah saya duga anak saya akan spontan bertanya : “Di sana ada apinya?”. “Tentu tidak ……”, jawab saya. “Itu hanya sebuah nama”.  Barangkali kalau SH Mintaredja sempat mengunjungi tempat ini, bisa jadi akan lahir cerita bersambung dengan judul “Pusaka dari Lembah Api” atau “Misteri di Lembah Api”, atau yang sejenis itulah.

Tiba di tempat ini, saya seperti berada di sebuah lembah yang di kiri-kanannya membentang tinggi dinding formasi batuan pasir berwarna merah yang telah mengalami pengikisan, sejak 150 juta tahun yang lalu. Diceritakan bahwa dinding batuan yang berwarna merah ini tampak seperti terbakar api saat terkena pancaran sinar matahari. Benarkah demikian? Saya hanya mencoba berpikir sederhana, sama seperti kalau saya menyebut Gunung Tangkuban Perahu, Kali Kuning atau Telaga Mas. Jawabannya? “Itu hanya sebuah nama”, dan selalu ada cerita di baliknya. Siapapun sah-sah saja membuat ceritera atau mempas-paskan kisah atau dongeng yang melatarinya.    

Menyusuri jalan-jalan yang membelah sepanjang Valley of Fire atau Lembah Api adalah mengunjungi sebuah tempat yang mempunyai bentang alam morfologis berbeda dari yang biasanya saya lihat di Amerika. Batuan pasir berwarna merah yang sudah terkompaksi dan menyembul tidak teratur di sepanjang cekungan seluas 10 x 6 km persegi memang memberikan daya tarik tersendiri untuk diamati. Sementara area di luar itu, sejauh mata memandang hanya tampak dataran terbuka yang hanya ditumbuhi semak-semak kecil.

Menirukan pertanyaan anak saya : “kok bisa seperti itu, ya?”. Bagi mereka yang pernah belajar geomorphology (sekalipun tidak lulus-lulus) tentu tidak akan sulit untuk memahami fenomena alam ini. Tapi bagi anak-anak, jawabannya adalah saya tunjukkan kepada mereka berbagai gambar berukuran besar serta diorama di ruang visitor center yang berceritera tentang peristiwa geologi daerah itu. Setelah itu saya belikan saja buku bergambar yang dilengkapi dengan alur ceritera yang sederhana. Menerangkannya jadi mudah. Buku itu memang dirancang untuk anak-anak agar mudah untuk memahami tentang gejala alam.

Satu lagi kekalahan kita dalam me-manage obyek wisata alam agar menarik untuk dikunjungi (dan dipelajari), bahkan oleh anak-anak sekalipun. Antara lain ya karena kita ini pada umumnya baru bisa hanya sekedar “menjual”, tidak dengan “memberi nilai tambah”. Jadi, pantaslah kalau “keuntungan” yang diraih ya hanya segitu-segitu saja. Itupun kalau tidak dikantongi lalu dibawa pulang sendiri.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar