Posts Tagged ‘sewa kendaraan’

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(2).   Jemputan Yang Tak Kunjung Datang

Di lobby kedatangan bandara Adelaide kami duduk-duduk menunggu jemputan, setelah selesai berurusan dengan petugas imigrasi dan karantina di pagi tanggal16 Desember 2003. Sesekali melongok keluar bandara barangkali ada orang yang berdiri membawa tulisan nama saya. Menurut pegawai biro travel di Denpasar tempat saya mengatur rencana perjalanan, akan ada orang yang menjemput di bandara Adelaide. Selanjutnya saya harus menyelesaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan sewa-menyewa kendaraan dengan si penjemput itu.

Hampir setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda adanya orang yang akan menjemput. Saya coba mencari-cari counter Budget, perusahaan yang akan saya sewa mobilnya. Ternyata masih tutup. Sementara di lobby kedatangan tidak juga muncul si penjemput yang dijanjikan.

Saya kemudian ingat, pegawai biro travel di Denpasar pernah menuliskan nomor tilpun yang harus saya hubungi jika ada masalah di Adelaide. Lalu saya cari tilpun umum. Untuk menilpun perlu koin Australia. Cara termudah untuk memperoleh koin di bandara adalah dengan menukarkan uang dollar Amerika dengan uang Australia, disertai permintaan khusus bahwa saya perlu uang koin untuk menilpun.

Saya kembali menuju ke kotak tilpun umum. Sejenak mempelajari aturan mainnya, lalu pencet-pencet tombol tilpun. Usaha pertama gagal, usaha kedua masih tulalit juga. Rupanya saya dibingungkan dengan penggunaan kode area. Usaha ketiga kali berhasil nyambung, tapi terdengar nada sibuk di seberang sana. Saya jadi kurang yakin, jangan-jangan ada yang salah. Saya coba tanya kepada petugas Satpam bandara yang kebetulan sedang lewat, tentang urut-urutan nomor yang harus dipencet sambil saya tunjukkan nomor yang akan saya hubungi. Ternyata yang tadi saya lakukan sudah benar. Hanya belum berhasil nyambung saja.

Usaha keempat barulah berhasil. Setelah berhalo-halo dan basa-basi sebentar, saya perhatikan suara wanita di seberang sana sepertinya tidak berdialek bahasa Inggris-Australi, melainkan Inggris-Indonesia. Maka, langsung saja saya lanjutkan dengan ngomong Indonesia, dan ternyata nyambung. Kebetulan, pikir saya. Jadi lebih enak suasana sebangsa dan setanah airnya. Lalu saya jelaskan duduknya persoalan. Si ibu di seberang sana, yang saya duga adalah dari partnernya perusahaan travel yang di Denpasar, meminta saya menutup tilpun dulu karena dia akan melakukan pengecekan. Saya diminta menilpun lagi beberapa menit kemudian. OK, permintaan saya turuti. Wong saya memang dalam posisi butuh bantuannya.

Sempat juga agak ragu, jangan-jangan dia hanya berkilah, yang kalau kemudian saya tilpun lagi pesawatnya sibuk terus. Ya maklum kalau ada prasangka seperti ini, soalnya sudah trauma dengan banyak pengalaman di dalam negeri yang mengajarkan hal yang demikian. Untungnya kekhawatiran saya tidak benar. Saat saya tilpun ulang, jawabannya sungguh melegakan. Saya diminta menunggu di luar bandara karena seseorang akan menjemput saya.

Lega rasanya, ketika si penjemput yang ramah muncul tidak lama kemudian. Lalu diibawanya kami memutar bandara dan diantarkan ke counter Budget di terminal kedatangan dalam negeri yang berada di seberang agak ke ujung dari terminal internasional, guna menyelesaikan urusan administrasi lebih dahulu. Wow, lha mestinya kan saya tidak perlu repot-repot tilpun dan menunggu cukup lama, seandainya sebelumnya saya diberitahu. Saya bisa langsung cari tumpangan untuk menuju ke terminal yang satunya. 

Urusan administrasi yang mesti diselesaikan antara lain meliputi pembayaran tambahan biaya sewa kendaraan, pendataan paspor dan SIM Internasional, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan perjanjian sewa-menyewa. Setelah urusan beres, lalu kunci kontak diberikan plus sedikit penjelasan rute yang harus saya lalui untuk menuju hotel. Barang bawaan rupanya sudah dipindahkan oleh si penjemput yang ramah tadi.

Meskipun biaya sewa kendaraan sebenarnya sudah saya bayar di Denpasar, tetapi perlu ada biaya tambahan yang harus saya urus sendiri. Ini karena saya mengambil kendaraannya di bandara Adelaide dan akan mengembalikannya di bandara Darwin. Jarak antara kedua kota itu lebih dari 3.500 km. Wajar kalau untuk itu dikenai biaya tambahan.

Sebelum men-start kendaraan, saya pergunakan beberapa menit pertama untuk mempelajari sejenak situasi kendaraan, termasuk tombol lampu depan, lampu belok, pengatur kaca spion, pengatur wiper, pengatur tempat duduk, pembuka bagasi, lokasi tanki BBM, serta indikator-indikator lainnya yang ada di dashboard mobil sedan Mitsubishi putih bergigi otomatis. Paling penting tentunya mempelajari peta dan rute untuk mencapai hotel. Maklum, dalam beberapa hari ke depan saya akan bertugas rangkap, ya sebagai driver, ya sebagai navigator. Bandara kemudian kami tinggalkan, memasuki kota Adelaide menuju ke hotel yang sudah kami pesan. Lokasi bandara sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 6 km di sisi barat kota Adelaide.

Pagi itu, kota Adelaide sudah mulai sibuk. Sebelum mencapai hotel, saya sempat salah mengambil lajur jalan. Semestinya saya berada di lajur paling kiri dari tiga lajur jalan yang ada, agar mudah untuk membelok ke arah kiri. Karena saya terlanjur berada di lajur tengah, maka kalau saya paksakan juga untuk belok ke kiri pasti akan dimaki oleh pengemudi lain. Daripada baru di hari pertama sudah memperoleh pengalaman buruk dimaki orang, lebih baik saya teruskan saja dulu untuk kemudian memutar lagi mengambil lajur yang benar sehingga mudah untuk berbelok masuk ke hotel. Untungnya, saya cukup berpengalaman untuk urusan salah jalan, sehingga tidak terlalu bingung kecuali memerlukan waktu tambahan untuk mempelajari ulang rute jalan yang benar, dan tentunya juga kehilangan waktu untuk menemukannya.

Saya memperoleh pelajaran berharga pada hari pertama di Adelaide. Pertama, perlunya memahami lebih dahulu situasi bandara yang belum dikenal, jika hendak menempuh perjalanan dengan menyewa kendaraan. Urusannya tidak terlalu repot jika perjalanan akan ditempuh dengan taksi atau ikut rombongan wisata. Kedua, mengantongi nomor-nomor tilpun penting yang terkait dengan rencana perjalanan. Ketiga, memiliki koin uang recehan akan sangat bermanfaat, karena terkadang kotak tilpun umum hanya menerima uang koin saja. Keempat, jika bepergian dengan mengemudi kendaraan sendiri, perlu memastikan terlebih dahulu lokasi tempat tujuan berada di sebelah mananya persimpangan jalan apa.

Yusuf Iskandar

Iklan