Posts Tagged ‘sepur’

Yang Terpaksa Dan Yang Ingin

4 Mei 2008

Jam sudah menunjukkan lebih jam sepuluh malam di Yogya, ketika HP milik seorang teman tiba-tiba berdering memanggil-manggil. Di seberang sana terdengar suara seseorang meminta agar besok bertemu di Jakarta. Karena sisa waktu yang sangat sempit dan mendadak, maka satu-satunya cara untuk mencapai Jakarta dengan cepat adalah pagi-pagi besoknya pergi ke bandara lalu terbang.

Hanya masalahnya, teman yang mau ke Jakarta ini adalah seseorang yang agak-agak mengidap aviophobia (takut terbang). Tentu saja ini adalah situasi yang sangat tidak disukainya, karena berarti dia tidak punya alternatif untuk nyepur.

Semalaman sengaja dia tidak segera berangkat tidur, melainkan justru berusaha mengurangi jam tidurnya. Bagaimana agar sisa waktu tidur malamnya tinggal sesedikit mungkin, sebelum besok paginya naik pesawat ke Jakarta. Hal ini memang disengaja dan bukan karena didera rasa gelisah.

Hasilnya ternyata cukup mujarab untuk menyiasati atau menaklukkan rasa takut terbang. Begitu pantat menempel tempat duduk di dalam pesawat ketika masih di bandara Adisutjipto, tidak lama kemudian teman saya tertidur pulas. Hal yang sama terulang kembali sebelum pesawat mendarat di Cengkareng.

Maka, ketika teman saya ini terpaksa harus naik pesawat terbang juga, dia pun rela kehilangan detik-detik take-off dan landing……

***

Barangkali kita masih ingat ketika dulu pernah punya keinginan : bagaimana ya rasanya naik pesawat terbang?. Akhirnya kesampaian juga. Itupun karena naik pesawat kemudian menjadi bagian dari tuntutan pekerjaan. Terutama bagi mereka yang menjadi orang lapangan (maksudnya, bukan pekerja kantoran), sehingga harus mibar-miber kesana-kemari naik pesawat terbang.

Namun lain halnya kalau yang kepingin merasakan naik pesawat terbang itu adalah para kepala sekolah di sebuah kecamatan di lereng gunung Merbabu, tetangganya gunung Merapi yang mau njeblug itu. Boro-boro tuntutan pekerjaan, menuntut pun belum tentu kesampaian.

Maka beramai-ramailah para kepala sekolah beserta keluargnya urunan untuk melakukan darmawisata ke Jakarta dan Bandung tiga hari dua malam. Jangan dilupakan bahwa selain menjadi kepala sekolah, mereka umumnya adalah juga petani di desanya. Itinerary pun disusun, pokoknya berangkat naik pesawat terbang, pulangnya naik kereta api. Entah selama di Jakarta mau berdarma dan berwisata kemana tidak penting, asal ada acara naik pesawat dan naik kereta api. Pasalnya, dari 47 orang anggota rombongan itu hanya tiga orang.diantaranya yang pernah merasakan naik pesawat terbang dan hanya sepuluh orang diantaranya yang pernah merasakan naik kereta api.

Maka pada Jum’at pagi umun-umun kemarin berkumpullah serombongan kepala sekolah dan keluarganya turun gunung lalu berduyun-duyun menuju bandara Adisutjipto. Belum jam enam pagi mereka sudah bergerombol di depan terminal keberangkatan. Tidak ketinggalan masing-masing sudah membawa sekotak kardus berisi kue resoles, arem-arem dan klethikan untuk bekal sarapan pagi.

Lalu tiba saatnya sang pimpinan rombongan memberi komando kepada 47 orang berseragam kaos putih untuk memasuki terminal keberangkatan. Tidak lama lagi mereka bakal menikmati bagaimana rasanya naik pesawat terbang….. ngueng…ngueng…ngueeeeeng….., lalu lusa naik kereta api….. tut…tut…tuuuut……

Sayang, saya tidak berada dalam satu pesawat dengan rombongan itu. Terbayang betapa sang pimpinan rombongan harus pandai mengontrol urat sabarnya melayani anggota rombongannya. Pasti seru bin heboh di dalam kabin sana, atau sebaliknya malah sama sekali sunyi-senyap, tegang….. “Have a nice flight pak dan bu guru…..!”.

Cengkareng, 13 Mei 2006.
Yusuf Iskandar

Iklan

Aviophobia

4 Mei 2008

Terpaksa kemarin malam saya kembali ke Yogyakarta dari Jakarta dengan menggunakan jasa kereta api. Rasanya sudah belasan tahun, saya lupa persisnya, tapi pasti lebih sepuluh tahunan saya tidak pernah menggunakan jasa persepuran ini. Terakhir saya naik sepur antara Jogja-Jakarta sewaktu saya hanya mengenal dua jenis sepur, kalau tidak Senja Utama, ya Fajar Utama. Setelah itu, setelah dikenal sepur jenis Argo-argoan, saya belum pernah menaikinya hingga hari Jum’at yang lalu.

Bagi pelaku pengguna sepur njum’at-ngahad (Jum’at-Minggu) yang biasa menempuh perjalanan ulang-alik mingguan Jogja-Jakarta atau Jogja-Surabaya v.v. (vulang-vergi), barangkali pengalaman naik kereta api malam adalah hal yang sangat biasa. Tapi bagi saya malam itu seperti orang ndeso yang baru pertama kali naik kereta api, kelas eksekutif lagi. 

Naik kereta api malam itu sebenarnya di luar rencana saya. Sewaktu berangkat kami bertiga, seorang  teman memilih berangkat naik kereta api, seorang lainnya bersama saya naik pesawat. Seorang teman kembali ke Jogja sehari lebih awal, maka tinggal saya dan seorang teman lain kembali ke Jogja menyusul belakangan. Inilah masalahnya, ternyata teman saya ini takut naik pesawat, sehingga kembali ke Jogja lagi dengan menggunakan jasa kereta api. Rasanya kurang lucu, kalau pergi dengan seorang teman seperjalanan kok kembalinya yang satu naik kereta yang lain naik pesawat. Selain itu, kami bisa kehilangan kesempatan untuk mendiskusikan banyak hal setelah melalui padatnya acara di Jakarta, lebih tepat sebenarnya saya sebut padatnya lalulintas kota Jakarta (tobat tenan urip ning Jakarta, biso tuwek ning ndalan …..).

Ndeso Tenan…

Jadilah naik kereta Argolawu jurusan Jakarta-Solo, turun di Jogja. Sepertinya asing memasuki statsimun Gambir setelah sekian belas tahun tidak pernah saya masuki. Hal yang membanggakan, sekarang terkesan lebih tertib dan rapi, dibanding sekian tahun yang lalu (entah kalau dibanding bulan lalu). Demikian halnya statsimun Tugu juga sudah banyak berubah dan lebih enak dilihat.

Tapi ada sedikit “ganjalan” di  Gambir, saya jadi kesulitan untuk melampiaskan keinginan untuk udut. Dimana-mana dipasang tanda dilarang merokok, lengkap dengan tulisan Perda DKI. Bahkan di peron tempat tunggu kereta pun tempat udut-nya mesti mojok jauh. Tapi sejujurnya, ini “ganjalan” yang membuat saya senang dan bangga. Ternyata bisa juga masyarakat diajak patuh untuk menjaga lingkungan udara yang sudah kurang bersih ini. Meski masih terlihat ada orang yang curi-curi menebar asap.

Teman saya membisiki, kalau mau udut nanti saja di dalam kereta. Lho? Ternyata yang dimaksud adalah ketika kereta sudah berjalan, kita bisa keluar gerbong lalu ngudut di bordes, di sambungan gerbong, atau di luar pintu gerbong. Good idea! Setidak-tidaknya tidak mengganggu orang lain. “Tips” itupun saya turuti. Puas menghisap dan menebar asap beracun di bordes, saya hendak kembali ke tempat duduk. Eh, lha kok pintu kereta tidak mau dibuka. Digeser sedikit, kembali nutup lagi. Digeser lagi, kembali nutup lagi. Feeling mulai bekerja, pasti ada yang salah. Iseng-iseng saya tunyuk saja tombol nyenil kecil warna hijau. Berhasil, berhasil,  ……, pintu gerbong pun membuka dengan sendirinya.

Setelah di dalam gerbong, saya berniat baik menutup lagi pintunya agar penumpang lain yang duduk di dekat pintu tidak kanginan. Digeser kok berat, tidak mau nutup. Digeser lagi, tetap berat tidak juga mau nutup. Akhirnya saya cuekin aja, terbuka ya biarin, pikir saya. Baru beberapa langkah menuju tempat duduk, eee… malah pintunya nutup sendiri….. Tobil anak kadal……! Wah, jan ndeso tenan aku iki….. (Semoga saja tidak ada penumpang lain yang sempat memperhatikan tingkah saya).

Sebelum memutuskan untuk naik kereta ke Jogya, teman saya mewanti-wanti. Katanya di dalam gerbong kereta eksekutif biasanya suhu udaranya sangat dingin, makanya biasanya orang-orang sudah persiapan membawa jaket atau baju hangat. Karena sejak semula saya memang tidak merencanakan naik kereta, maka ya tidak persiapan membawa jaket. Teman saya memberi saran, sebaiknya nanti pakai bajunya rangkap-rangkap agar tidak kedinginan, meskipun di kereta akan dipinjami selimut.

Nasihat yang baik saya pikir, saya pun akhirnya mengenakan baju rangkap tiga. Dua kaos plus kemeja, yang sudah kategori baju kotor, pun dikenakan lagi dan difungsikan sebagai baju hangat. Rupanya air condition di gerbong kereta api memang hanya mengenal dua tombol, kalau tidak dingin ya mati. Jadi, pilihannya ya kedinginan atau kepanasan. Ya sudah, wong memang kompromi antara “air” dan “condition”-nya sudah begitu. Yang jelas baju rangkap tiga yang saya kenakan cukup membantu untuk tidak kedinginan di dalam gerbong selama perjalanan. Terbukti dua-tiga jam setelah kereta meninggalkan Gambir, saya sudah terlelap, tahu-tahu menjelang jam 5 pagi sudah ada yang berteriak : “Jogja….. Jogja……”  

Takut Terbang

Tentang teman yang takut naik pesawat, sehingga memilih naik sepur Jogja-Jakarta v.v. (vulang-vergi). Dulunya katanya tidak begitu. Midar-mider naik pesawat biasa saja, sampai suatu ketika sedang tugas ke lapangan naik chopper, rupanya chopper-nya muntir-muntir mau jatuh tidak jadi. Sejak itulah teman saya ini trauma naik pesawat. Orang yang takut naik pesawat seperti ini biasa disebut orang itu menderita flight phobia. Ada juga yang menyebutnya aviophobia, aviatophobia atau aerophobia. Maksud kesemua istilah itu sama, yaitu takut terbang atau takut naik pesawat.

Trauma semacam ini, takut terbang, diam-diam banyak juga sebenarnya orang yang mengalaminya. Penyebabnya bisa macam-macam, salah satunya ya seperti pengalaman teman saya itu tadi. Menurut catatan di Amerika, satu dari delapan orang memilih bepergian menggunakan sarana angkutan darat dan menghindari bepergian dengan angkutan udara. Untuk beberapa alasan, ternyata di antara penyebab dasarnya adalah takut naik pesawat atau menderita trauma flight phobia atau aviophobia itu. Untungnya, bepergian menggunakan angkutan darat atau melakukan perjalanan (traveling) lewat darat di Amerika adalah sesuatu yang sangat  mudah dan menyenangkan. Mau pakai jalintim-teng-bar-ut-sel (jalan lintas timur-tengah-barat-utara-selatan), tidak perlu khawatir ngantri semalaman untuk melewati jalan yang menyungai. Lha kalau kita mau ngotot menghindari naik pesawat, apalagi ke luar Jawa, sebaiknya dipertimbangkan masak-masak.

Lebih dari sekedar masalah kesehatan atau keselamatan, ketakutan semacam ini merupakan perilaku “aneh” yang menyebabkan seseorang bisa dengan tiba-tiba saja terserang panik yang luar biasa saat naik pesawat terbang. Jangan kaget kalau saat Anda naik pesawat tiba-tiba Anda dipeluk erat-erat oleh penumpang di sebelah Anda yang kebetulan mengidap trauma aviophobia. Mendingan kalau dia seorang wanita yang sejak semula membuat Anda klisikan, lha kalau seorang nenek ngemut susur? Itulah sebabnya mereka yang menderita trauma flight phobia atau aviophobia daripada tiba-tiba merasa panik yang tak biasa, mendingan menghindari naik pesawat.

Ketika teman saya yang naga-naganya menderita flight phobia itu hendak merencanakan perjalanan pergi ke suatu pulau yang berarti harus menyeberang lautan, sementara dia merasa deg-deg pyur tidak karuan sejak tiga hari tiga malam sebelum berangkat kalau mesti naik pesawat, maka harus ada jalan keluarnya. Seorang teman lain memberi “nasehat” alternatif : naik kendaraan darat kemudian disambung naik kapal, atau……. nyeberang lautan naik genthong saja…….    

Yogyakarta – 18 Maret 2006
Yusuf Iskandar