Posts Tagged ‘sepinggan’

Bandara Sepi…

9 Oktober 2010

Menjelang mendarat di Balikpapan, mbak pramugari Lion Air JT 670 jurusan Jogja – Balikpapan, memberitahu: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara sepi…..”. (Lho, ada apa kok bandaranya sepi, pikirku penuh tanda tanya). Sejenak kemudian diulangi: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara Sepinggan Balikpapan”…. Wooo, mbak pramugarinya tersedak to… Tersedak saja kok milih yang sepi…

Samarinda, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Nggak Sabaaar…!

9 Oktober 2010

Meninggalkan bandara Sepinggan Balikpapan, langsung meluncur ke Samarinda sejauh 115 km. Ada komitmen penting yang harus dipenuhi hari ini. Eh maksudnya, komitmen untuk memenuhi undangan karena sudah ditunggu sama kepiting asap…. Nggak sabaaaaar…!

Balikpapan, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Pilih Trekulu Atau Bandeng Bakar Di Warung Padaidi

5 Juni 2008

PadaidiKali ini saya ingin mencari warung makan murah-meriah di Balikpapan, budgeted food barangkali istilah Londo-nya. Rumah makan yang harganya cocok bagi mereka yang beranggaran pas-pasan, tanpa mengorbankan kepuasan dan kenikmatannya. Di Balikpapan memang banyak pilihan makan ikan-ikanan, mulai yang kelas menengah ke atas hingga atas sekali, sampai yang kelas menengah ke bawah hingga bawah sekali.

Lalu meluncurlah ke warung makan Padaidi. Kalau boleh ini saya kelompokkan ke dalam kelas menengah ke bawah, dari sisi harganya. Lokasinya tidak jauh dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Begitu keluar dari bandara langsung belok kanan, masih di Jalan Marsma Iswahyudi, mengikuti jalan alternatif yang menuju ke Samboja atau Muara Jawa. Tidak jauh dari bandara setelah melewati jembatan, warung Padaidi ada di sisi kanan jalan. Dari luar memang kurang telihat jelas keberadaan warung yang lebarnya hanya empat meteran ini. Kurang tampak tampilan warungnya karena tertutup oleh spanduk lebar berwarna hijau toscha pudar.  

Apa yang menarik dengan menu makan di warung ini? Pada spanduknya tertulis “sedia ikan bakar dan ayam bakar”. Namun cobalah untuk memesan menu ikan bakarnya dan pilihlah antara ikan trekulu bakar atau bandeng bakar. Inilah menu unggulannya.

Ikan bakar yang disediakan biasanya sudah dipotong-potong. Satu porsi bandeng atau trekulu bakar hanya berupa sepotong ikan yang berukuran sedang. Kira-kira setiap ekornya dipotong menjadi empat, satu bagian kepala, dua bagian badan dan satu bagian ekor. Dagingnya yang tebal dan padat, cukup untuk dihabiskan bersama sepiring nasi putih, secawan sambal dan lalapannya yang terdiri dari kol, mentimun dan kacang panjang. Nasinya disediakan dalam wadah tersendiri, sehingga bisa bebas kalau mau nambah.

Agak istimewanya, setiap porsi disertai dengan kuah sop kaldu ikan yang hanya berisi sedikit potongan kecil wortel, kentang dan daun bawang. Itupun hanya sepertiga mangkuk isinya. Sekedar membantu membangkitkan selera makan, memperlancar masuknya makanan menuju tembolok dan (sudah barang tentu) sedap benar rasa kaldu ikannya. Sambalnya yang tidak terlalu pedas juga enak dan membuat ingin terus mencocolnya.

Potongan-potongan ikan itu dibakar menggunakan bara api. Tingkat kematangannya bisa merata dan tidak sampai menimbulkan bagian-bagian kulit ikan yang kelewat gosong. Akibatnya tingkat keempukan daging ikannya juga merata. Pas untuk dicuwil pakai tangan, pas untuk dicocolkan sambalnya yang berwarna jingga dan sedap itu, dan pas untuk dikunyah 33 kali, kalau sabar…..

Meski hanya sebuah warung kecil, tapi bila tiba jam makan siang seringkali calon pemakan harus rela antri untuk dilayani. Sesuai kelasnya, kebanyakan pelanggannya adalah pegawai atau karyawan perusahaan yang banyak tersebar di sepanjang jalur alternatif Balikpapan – Samboja. Banyak juga yang pesan untuk dibungkus dibawa pulang, atau untuk makan siang di kantor.

“Padaidi”, nama warung ini, dalam bahasa Bugis berarti “bersama kita”. Siapa saja boleh meneruskan kata itu dengan apa saja, termasuk “bersama kita bisa” atau “bersama kita makan ikan” (saya lebih suka yang kedua…). Tapi Padaidi juga adalah nama sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Bisa jadi pemiliknya berasal dari sana.

Jam buka warung ini biasanya pagi, tapi jam tutupnya ternyata tidak tentu. Begitu persediaan ikan habis, ya tutup. Dan biasanya kalau cuaca lagi cerah, menjelang sore sudah habis. Seperti pengalaman saya ketika hendak mampir untuk kedua kalinya di waktu sore, ternyata sudah tutup. Entah kenapa pemilik warung yang orang asli Bugis, sudah enam tahun ini tidak berniat untuk menambah stok sehingga bisa buka sampai malam. Barangkali memang sesederhana itulah “strategi” bisnisnya.

Yogyakarta, 5 Juni 2008
Yusuf Iskandar

Ketika Pasutri Bugis Dan Manado Membuka Rumah Makan

7 April 2008

Pak H. Tahir yang asal Bugis bergandengan dengan ibu Jetty yang asal Manado, lalu pasangan suami-istri itu menyapa masyarakat Balikpapan dengan “Hai”. Maka, jadilah rumah makan “Bumahai”.

Sesederhana itu. Mulanya rumah makan ikan bakar yang terletak di jalan Marsma R. Iswahyudi itu mau diberi nama “Sepinggan”, karena lokasinya memang berada di jalan utama menuju bandara Sepinggan, Balikpapan. Kurang dari sepuluh menitan dari bandara. Tapi mengingat kata sepinggan bisa berarti sepiring, Pak dan Bu Tahir ini ciut juga nyalinya. Jangan-jangan nanti pelanggannya hanya memesan sepiring dua saja lalu pergi. Akhirnya ditemukanlah judul “Bumahai” itu.

Apalah artinya sebuah nama. Tapi pilihan nama memang perlu karena dia adalah brand image, dan selalu ada harapan atau filosofi di baliknya. Perkara maknanya pas atau plesetan, itu soal lain.

***

Restoran yang menyediakan menu masakan Bugis dan Manado dengan bahan dasar ikan ini memang layak untuk disambangi. Sejak berdiri 12 tahun yang lalu ketika masih berada di pinggir jalan, hingga kini pindah agak masuk di belakang pertokoan dan menempati area yang lebih longgar, rumah makan ini banyak dan sering dikunjungi para pengudap dan penikmat makan. Racikan bumbu dan olahan setiap menunya tergolong huenak dan pas di lidah siapa saja. Bukan saja penggemar menu Bugis atau Manado.

Sebut saja aneka ikan baronang, terkulu, bawal, kakap, patin, kerapu, udang, cumi dan kawan-kawannya dari laut yang diolah menjadi menu gorengan atau bakaran. Salah satu menunya adalah woku belanga, yaitu ikan dimasak kuah ditambah dengan asam dan sedikit kunyit. Coba dan rasakan sruputan pertama kuahnya. Wuih….cesss…., kuah agak bening kekuningan mengalir di tenggorokan dengan taste yang khas.

Juga ikan bakar atau goreng dengan bumbu kuning, rica atau goreng biasa, rasa gurihnya terasa tidak berlebihan dan proporsional. Oseng kangkungnya divariasi dengan bunga pepaya (biasanya dari jenis pohon pepaya laki-laki, dan entah kenapa pohon pepaya perempuan kok tidak keluar bunganya sebanyak pepaya laki-laki), dengan ramuan bumbu khas Manado yang pas benar pedasnya. Sehingga bagi lidah Jogja yang terbiasa dengan rasa manis pun tidak terasa terganggu.

Daun ubi dicampur dengan daun pepaya rebus, dipadu dengan sambal tomat dan irisan bawang merah, memaksa saya menambah pesanan sepiring lagi. Perkedel jagungnya juga beda dari yang biasa saya jumpai di Jawa. Perkedel dengan prithilan jagungnya dibiarkan utuh, tidak diparut atau di-ulek (dihaluskan), dicampur dengan adonan tepung sehingga menyelaputi tipis saja. Tapi tetap terasa renyah, empuk dan butir jagungnya tidak menggangu kerja gigi untuk mengunyahnya.

Rasanya pantas kalau rumah makan “Bumahai” ini pada tahun 2001 pernah dianugerahi ASEAN Social and Economic Cooperation Golden Award, khusus bidang Food and Service. Hingga kini rumah makan “Bumahai” tetap ramai dikunjungi pelanggan, terutama pada jam-jam makan siang. Buka seharian hingga malam, kecuali kalau hari Minggu, sore hari sudah tutup.

Demi menjaga kualitas sajiannya, Bu Jetty turun tangan sendiri untuk masalah quality control terhadap bumbu dan cita rasa. Agaknya unit usaha rumah makan ini tetap menjadi andalan bagi keluarga Pak Tahir, kendati tetap menekuni bidang-bidang bisnis lainnya.

Harga yang mesti dibayar untuk kepuasan urusan selera lidah dan perut ini termasuk wajar untuk ukuran biaya hidup di Balikpapan yang rata-rata lebih tinggi dibanding kota-kota besar di Indonesia lainnya. Pelayanannya pun cukup memuaskan. Kalau ada kesempatan dibayari, rasanya saya tidak akan menolak untuk diajak mampir ke “Bumahai” lagi. Namanya juga dibayarin…, enggak ada ruginya….

Cengkareng, 9 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(16).   Kenapa Disebut Balikpapan?

Sebentar lagi pesawat Mandala akan membawa kami kembali ke Jogja. Siang itu, Sabtu, 29 Juli 2006, bandara Sepinggan nampak padat dan ramai. Agaknya bandara internasional Sepinggan ini termasuk bandara yang cukup sibuk. Sejak tahun 1995 bandara ini juga mulai ditunjuk sebagai bandara embarkasi jamaah haji yang berasal dari sebagian Kalimantan dan sebagian Sulawesi.

Sayang sekali, kali ini saya hanya numpang lewat saja di Balikpapan, sehingga banyak hal menarik yang terpaksa terlewatkan untuk dikunjungi. Saya berharap mudah-mudahan masih akan memperoleh kesempatan untuk kembali mengunjungi Balikpapan. Meski begitu, dari selintas kunjungan saya kali ini, saya sempat menangkap dan menggali sedikit hal yang rasanya sayang untuk saya simpan sendiri.

*** 

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Balikpapan adalah pintu gerbang Kalimantan Timur. Kota yang topografinya berbukit-bukit dan dihuni oleh lebih 550.000 jiwa penduduknya itu sepintas tampak teratur, rapi dan bersih. Memang pantas menjadi contoh bagi pengelolaan tata kota yang relatif lebih terencana dibanding kota-kota industri lainnya di Indonesia. Tidak dipungkiri hal ini sangat dipengaruhi oleh warisan Belanda yang sejak dahulu kala membangun kota ini sebagai rangkaian penyediaan infrastruktur bagi aktifitas industri perminyakan.

Membicarakan kota Balikpapan nyaris akan selalu terkait dengan aktifitas bisnis industri perminyakan, pertambangan dan perkayuan, yang tentu kemudian terkait dengan industri perdagangan dan transportasi. Komponen itulah yang kemudian menjadi roda penggerak ekonomi kota Balikpapan. Hingga Balikpapan pun menjelma menjadi kota yang pertumbuhan ekonominya tergolong luar biasa cepat dibanding kota-kota lainnya di Indonesia.

Aktifitas industri yang berkembang pesat di hampir semua sektor di Balikpapan, praktis mengalahkan popularitas kota Samarinda yang ibukota propinsi. Maka, kota inipun siap untuk mengemban misi yang tidak baen-baen : “Menggelorakan semangat Balikpapan, Kubangun, Kujaga, dan Kubela”.

***

Akhirnya, ada pertanyaan rada menggelitik kenapa kota ini disebut Balikpapan? Kok bukan Balikdrum atau Baliktong, misalnya….. Kalau sudah bicara soal asal bin muasal di balik sebuah nama, maka akan berurusan dengan kata “konon”.

Konon yang pertama : Sewaktu sultan Kutai hendak membangun kembali istananya yang musnah terbakar gara-gara kalah tarung dengan Belanda, beliau memesan seribu keping papan. Namun hanya ada sepuluh keping papan yang balik ke Jenebora di teluk Balikpapan. Oleh orang Kutai papan yang balik itu disebut “Balikpapan Tu”, hingga kawasan sepanjang teluk itu lalu disebut dengan Balikpapan.

Konon yang kedua : Disebutkan bahwa suku asli Balikpapan, yaitu suku Pasir Balik, adalah keturunan dari kakek dan nenek moyangnya yang bernama Kayun Kuleng dan Papan Ayun. Sehingga daerah sepanjang teluk Balikpapan oleh keturunannya disebut Kuleng-Papan yang juga berarti Balikpapan (dalam bahasa Pasir, kuleng artinya balik).

Konon yang ketiga : Di jaman dahulu kala adalah seorang raja yang tidak ingin putrinya jatuh ketangan musuh. Sang putri yang masih balita lalu diikat di atas beberapa keping papan dalam keadaan terbaring dan dilepas ke laut. Karena terbawa arus dan diterpa gelombang, papan tersebut terbalik. Ketika papan tersebut terdampar ditepi pantai ditemukan oleh seorang nelayan dan begitu dibalik ternyata dijumpai seorang putri yang masih dalam keadaan terikat. Konon putri itu bernama Putri Petung yang berasal dari Kerajaan Pasir. Sehingga daerah ditemukannya putri tersebut dinamakan Balikpapan (jangan lagi ditanya bagaimana sang putri bisa tetap hidup di balik papan dan dibolak-balik gelombang…..).

Konon yang keempat : Di jaman pendaratan VOC sekian abad yang lalu, melihat kumpeni Belanda yang bersepatu prok-prok-prok dan mempunyai bedil panjang, masyarakat setempat pada ketakutan lalu ndelik (bersembunyi) sambil ngintip-ngintip di balik dinding rumahnya yang terbuat dari papan. Maka londo Belanda itu pada heran kok kampungnya sepi sekali, rupanya ketahuan bahwa inlander yang ketakutan pada bersembunyi di balik papan dinding rumahnya. Tersiarlah sebutan Balikpapan.

Kelihatannya konon yang keempat itu lebih masuk akal, kenapa kota ini disebut Balikpapan.

Tapi tunggu, hua…ha…ha…ha….. Nyuwun sewu, sori tenan……, konon yang keempat itu adalah cerita karangan saya sendiri….. (biar tidak nanggung).

Selamat bekerja dan matur nuwun — (Wis, ah!)

Yogyakarta, 24 Agustus 2006
Yusuf Iskandar