Posts Tagged ‘sepeda motor’

Sepeda Motor Tanpa Lampu

26 Desember 2010

Malam Minggu mendadak dapat tugas dinas mengantar “boss” ke tokonya, naik sepeda motor… Kalau sudah bersepeda motor malam-malam begini bawaannya kepingin marah saja. Bukan, bukan kepada “boss”…

Kubilang padanya: “Semakin banyak saja orang punya uang tapi rada gueblek…”.
“Kenapa?”, tanyanya.
Lha sudah tahu sepeda motor tidak ada lampunya kok ya dibeli…”, jawabku.

Yogyakarta, 27 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Sepeda Motor Tanpa Lampu

5 April 2010

Sedang mengemudi mobil dengan santai, di Jogja malam hari. Sewaktu membelok, lihat kiri-kanan sepertinya sepi. Tapi betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba ada sepeda motor tanpa lampu enak saja nyelonong memotong jalan.

Istriku komentar: “Wong jalan malam kok nggak mau nyalain lampu”. Tapi jengkelku tak terbendung: “Ya begitu itu kalau orang punya uang, nggak seberapa pandai, tapi rada edan… Sudah tahu sepeda motor nggak ada lampunya kok dibeli….”

Yogyakarta, 4 April 2010
Yusuf Iskandar

Jaran

7 Maret 2010

Melihat ada sepeda motor membelok dan nyaris ditabrak taksi, istriku menggerundel: “Gimana sih itu?”.
“Apanya?”, tanyaku memastikan.
“Sepeda motor itu lho”, jawab istriku.
Maka aku pun berusaha menenteramkan kegundahan istriku: “Oo, lha wong kae jaran… (Lha wong itu kuda…)”.
Istriku tambah penasaran: “Kok jaran?”.
“Lha iya, wong nggak bisa menoleh ke kiri ke kanan…”, kataku

Yogyakarta, 6 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Sedia Sepeda Motor Sebelum Tsunami Menggelontor

15 November 2009

Hari Minggu, 23 Desember 2007, adalah hari “keramat” yang sangat mendebarkan bagi sebagian besar masyarakat Bengkulu dan sekitarnya. Pasalnya, sejak sebulan terakhir telah beredar rumor bahwa pada hari itu akan terjadi gempa besar berkekuatan 8,5 SR yang “rencananya” akan diikuti dengan terjangan gelombang tsunami. Apa tidak nggegirisi (mengerikan)……

Spontan yang ada di pikiran masyarakat Bengkulu adalah trauma terhadap gempa besar yang belum lama memporak-porandakan Bengkulu Utara pada September lalu dan bencana tsunami di Aceh tiga tahun yang lalu.

Ini gara-gara adanya sebuah fax yang dikirim oleh Prof. Jucelino Nobrega da Luz, seorang (konon) pengamat gempa dari Brazil. Jelas, siapapun yang paham tentang pergempaan akan menolak prediksi semacam ini. Namun tak ayal, isu ini telah membuat sebagian masyarakat Bengkulu cemas bin resah.

***

Tentang gempanya, yang ternyata hari Minggu kemarin Bengkulu baik-baik saja, biarlah menjadi porsi para ahli untuk mengkajinya. Namun saya melihat ada “kejadian” lain yang menarik.

Sejak beberapa minggu menjelang tanggal 23 Desember 2007, saya jumpai di koran lokal “Rakyat Bengkulu” sebuah iklan produk sepeda motor yang menawarkan kemudahan untuk kredit kepemilikan sepeda motor Honda. Bunyi iklannya kira-kira bermaksud mengingatkan masyarakat bahwa bila bencana tsunami terjadi, maka diperlukan sarana transportasi yang gesit untuk mencari tempat berlindung (mengungsi, maksudnya). Dan, sepeda motor adalah salah satu diantara moda transportasi yang fleksibel itu.

Ternyata bukan hanya iklan yang kemudian saya jumpai, melainkan juga dalam format berita. Tidak salah juga kalau disebut iklan terselubung, meskipun kalau menilik isi beritanya jelas bukan lagi terselubung, alias sudah terang-terangan. Bahkan bernada sangat provokatif. Penggalan iklannya berbunyi begini :

….. Jalur evakuasi ini terletak diberberapa titik di daerah Bengkulu, apabila benar terjadi gempa 23 Desember, jalur ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang akan berlomba menyelamatkan nyawa dan harta masing-masing. Sepeda motor merupakan alat transportasi yang paling praktis, aman dan cepat dalam usaha menyelamatkan nyawa dan harta…..

….. Honda menawarkan kepada masyarakat Bengkulu segala kemudahan dalam memiliki sepeda motor yang praktis, aman dan cepat. Cukup dengan hanya Rp 500 ribu, subsidi Rp 700 ribu ditambah dengan cash back Rp 300 ribu, masyarakat Bengkulu sudah dapat memiliki sebuah motor FIT X…..

Aha! Ini sebuah berita yang tampaknya cukup simpatik memberitahu masyarakat tentang perlunya alat transportasi yang praktis di saat bencana dan kepanikan melanda. Namun ini juga sebuah bujukan kepada masyarakat agar segera membeli sepeda motor cap Honda.

Hanya saja yang membuat saya risih adalah judul beritanya berbunyi : “Honda Investasi Terbaik”. Lha ya, ketemu pirang perkoro (ketemu berapa perkara – ungkapan bahasa Jawa) wong membelanjakan uang untuk kabur dari kejaran tsunami kok disebut investasi.

***

Saya mengapresiasi idenya. Jeli menangkap peluang bisnis. Ini sah-sah saja. Sebuah strategi pemasaran yang jitu. Memanfaatkan momen tertentu untuk diubah menjadi sebuah peluang bisnis. Hanya, kebetulan saja momennya kok ya menakutkan….

Tak beda halnya kalau ada orang mempromosikan produk sepatu booth guna mengantispasi datangnya banjir. Atau orang menawarkan produk payung atau ponco sebelum musim hujan tiba. Soal banjirnya benar-benar datang atau tidak, hujannya jadi turun atau tidak, ya tidak menjadi soal.

Tapi mestinya pengusaha tidak perlu “mengelabuhi” konsumen dengan mengatakan bahwa membeli sepatu booth dan payung adalah sebuah investasi. Yang sebenarnya adalah konsumsi pada tingkat kebutuhan, kalau masih tingkat keinginan maka kecenderungannya konsumtif. Lain hanya kalau sepatu booth atau payung itu kemudian disewakan kepada orang lain, di dekat halte bus atau di ujung jalan yang kebanjiran.

Sayangnya saya tidak memiliki akses untuk mengetahui seberapa besar impak dari iklan sepeda motor itu terhadap tingkat penjualannya kemudian.

Saya hanya ingin menggarisbawahi sisi positif dari kejelian si pemasang iklan atau pengirim berita dalam menangkap peluang bisnis di tengah situasi yang sedang berkembang. Bagaimanapun juga ada pelajaran bisnis tentang trik pemasaran yang dapat dipetik dari kejadian itu. Seperti menerapkan peribahasa : sedia sepeda motor sebelum tsunami menggelontor.

Yogyakarta, 24 Desember 2007
Yusuf Iskandar

Pantas Iri Dengan Kota Samarinda

19 Maret 2008

Orang akan mengatakan bahwa kota Balikpapan adalah pintu gerbang propinsi Kalimantan Timur, meskipun kota Samarinda adalah ibukotanya. Balikpapan memang telah beranjak menjadi kota besar, padat, ramai, dan berkembang pesat. Kelebihannya kota ini tergolong kota yang enak dikunjungi, rapi dan suasana kotanya relatif tertib.

Namun coba agak menjauh ke utara sejauh 115 kilometeran menuju kota Samarinda. Sungguh sayang, ibukota propinsi yang tahun depan akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional ini memang juga tergolong padat dan ramai, tapi suasana lalu lintas kotanya sungguh bertolak belakang. Cenderung semrawut.

Bagi mereka yang baru pertama kali mengemudikan kendaraan di kota ini rasanya mesti ekstra hati-hati. Dibandingkan dengan kota-kota besar ibukota propinsi lainnya di Indonesia, suasana berlalulintas di kota Samarinda terasa sekali sangat berbeda. Terutama dengan sopan-santun pengemudi kendaraan sepeda motor. Betapa begitu membahayakannya.

Kita akan dikejutkan dengan sliwar-sliwer-nya sepeda motor yang memaksa menyalip mak srunthul dari kiri dan dari kanan dengan kecepatan tinggi, mak jegagik memotong di depan, mak kluwer dari samping, dan pokoknya…… ampun deh…..! Sangat jarang saya jumpai pak polisi menjaga di persimpangan jalan, meki tentunya ketidakberadaan pak polisi bukanlah menjadi sebab.

Pendeknya, lalu lintas sepeda motor di Jakarta dan di Jogja yang konon sudah dianggap semrawut, maka itu masih kalah dibandingkan dengan di Samarinda. Ternyata pengalaman yang saya ceritakan ini memang dibenarkan oleh banyak teman, baik yang sering berkunjung ke Samarinda maupun yang sudah bertahun-tahun menetap di sana.

Puluhan kali saya jumpai di persimpangan jalan berlampu-lalulintas. Yang hampir selalu terjadi adalah, ekornya lajur jalan yang baru berubah menjadi merah akan tempuk dan bundhet dengan kepalanya lajur yang baru berubah menjadi hijau. Maka jangan hueran kalau meskipun lampu sudah berubah menjadi merah, tapi pengguna jalan dengan tenang saja masih nyelonong memaksa masuk ke persimpangan. Uh…!

***

Kendati demikian, agaknya kita pantas iri dengan kota Samarinda. Bagaimana tidak? Bulan lalu kota ini meraih penghargaan dari pemerintah berupa anugerah tropi Wahana Tata Nugraha, sebagai lambang ketertiban lalu lintas. Tidak tanggung-tanggung, anugerah ini adalah untuk yang kesembilan kalinya.

Luar biasa. Bagi saya ini adalah hal luar biasa. Luar biasa sulit dipahami. Bisa jadi pandangan saya sangat subyektif. Tapi melihat pengalaman selama ini, rasanya kok hil yang mustahal kalau bisa sembilan tahun berturut-turut meraih anugerah lambang ketertiban lalu lintas kota……

Rupanya warga kota Samarinda sendiri kelihatannya “risih” dengan penghargaan itu. Setiap kali tropi diraih, setiap kali pula diarak keliling kota, dan setiap kali pula warganya “cuek”, lebih memilih sibuk di warung kopi memperbincangkan kontroversi penghargaan yang diraih kota itu. Ini kata pak Walikotanya sendiri, yang saya baca di koran lokal.

Dan, pak Walikota pun bertekad untuk mempertahankan prestasi ini agar tahun depan berhasil menyabet penghargaan Wahana Tata Nugraha untuk digenapkan menjadi kesepuluh kali.

Dalam hati saya (mungkin juga sebagian warga kota Samarinda) bertanya-tanya, apanya yang sebenarnya hendak dipertahankan…… tropinya atau semrawutnya?

Yogyakarta, 27 Mei 2007
Yusuf Iskandar