Posts Tagged ‘segah’

Foto-foto Berau

8 April 2008

RM Rizky Muara Wahau

Di depan Rumah Makan “Rizky” Muara Wahau. Dari kiri ke kanan : Daru, Levi, Ashri, Yusuf dan Pak Sopir (yang motret Darsun)

Taman Hutan Sei Tangap

Taman Hutan Wisata “Sei Tangap” – Milik Inhutani dan sekarang kondisinya sudah tidak terurus.

Trigana ATR 42

Pesawat ATR 42 Trigana Air Jurusan Tanjung Redeb – Balikpapan

Bandara1 Kalimarau

Bandara Kalimarau Tanjung Redeb – Saat pagi hari dan masih sepi

Makan Malam

Makan Malam di “New Family Cafe” Tanjung Redeb

Bakau

Pohon Bakau di Tepi Sungai Segah

Akar

Akar Bakau

Pelabuhan Batubara

Salah Satu Pelabuhan Batubara di Sungai Segah

Teluk Bayur1

Kampung Nelayan di Pelabuhan Teluk Bayur

Perahu3

Pelabuhan Nelayan Teluk Bayur

Jalan2

Jalan Aspal Menjelang Tiba di Teluk Bayur

Jalan Tanah

Jalan Tanah di Kecamatan Keley Antara Km 575-630 Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

Antri

Terjebak Lumpur di Km 535 Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

Menara Masjid di Tanjung Redeb

Menara Masjid Agung “Baitul Hikmah” – Kini banyak menyimpan sarang burung walet

Lorong Masjid

Salah Satu Lorong Masjid Agung “Baitul Hikmah”

Beringin

Beringin Tua di Kecamatan Teluk Bayur

Teluk Bayur

Salah Satu Sudut Perkampungan Nelayan di Pelabuhan Teluk Bayur

Iklan

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(3).   Tidak Ada Becak Di Tanjung Redeb

masjidWilayah kabupaten Berau yang luasnya sekitar 34 ribu kilometer persegi dan kini barangkali hanya dihuni oleh sekitar 150 ribu jiwa penduduknya, relatif merupakan kawasan yang masih sangat longgar. Sebagian besar penduduknya terkonsentrasi di wilayah ibukota Tanjung Redeb. Kecepatan pertumbuhan kotanya banyak dipengaruhi oleh karena banyaknya kaum pendatang. Mayoritas masyarakat etnis Bugis dan Jawa berada di kawasan ini, sedangkan sisanya adalah campuran antara penduduk asli suku Banua, etnis Cina dan pendatang lainnya.

Semula saya mengira penduduk asli Berau adalah suku Dayak, tapi rupanya dugaan saya keliru. Penduduk asli Berau adalah suku Banua yang merupakan turunan dari suku bangsa Melayu. Memang di bagian pedalaman wilayah Berau juga dijumpai komunitas suku Dayak, seperti hanya pedalaman Kalimantan di wilayah lainnya.

Pusat kota Tanjung Redep ditandai dengan adanya kawasan perkantoran bupati Berau yang cukup mentereng. Ada taman kota Cendana yang asri di depan kompleks kantor bupati. Juga ada masjid agung Baitul Hikmah yang tergolong megah dengan dominasi warna hijau dan dengan lima buah menaranya. Kemegahan masjid ini mengingatkan saya pada kemiripannya dengan masjid di kota Tanah Grogot ibukota kabupaten Pasir, dan dalam ukuran lebih besar adalah masjid Islamic Center di kota Samarinda.

Salah satu menara masjidnya yang konon tingginya mencapai 70 meter, sebelumnya sering dimanfaatkan masyarakat untuk wisata angkasa (maksudnya melihat pemandangan dari ketinggian). Mbayar, tentu saja…. Tapi gara-gara sekarang menara itu dihuni secara liar oleh ribuan burung walet untuk menyimpan sarangnya, dan konon ada ratusan sarang walet nyangkut di dinding menara yang siap dipanen setiap bulan, maka wisata ketinggian pun bubar. Untung saja pihak pengelola masjid tidak berniat membangun menara lagi agar dapat menampung lebih banyak burung walet……
Kalau kini melihat geliat ekonomi di Tanjung Redeb semakin pesat, itu antara lain berkat naluri bisnis para pendatang yang mengimbangi pertumbuhan sektor industri yang didominasi oleh industri perkayuan dan pertambangan batubara.

Seperti diketahui bahwa wilayah di provinsi Kalimantan Timur ini juga kaya akan sumberdaya alam batubara, selain minyak. Dan kabupaten Berau adalah salah satu kabupaten yang juga menyimpan kekayaan alam batubara. Sebuah perusahaan batubara, PT Berau Coal, kini masih aktif beroperasi di wilayah itu. Untuk alasan yang masih terkait dengan batubara pula saya jauh-jauh menjelajah ke wilayah Berau.

Menjadi harapan semua pihak tentunya agar kekayaan alam yang luar biasa itu mampu dikelola dengan arif dan bijaksana oleh pihak penguasa setempat demi kesejahteraan masyarakat Berau, bukan hanya pejabatnya. Sudah cukup banyak pelajaran serupa yang terjadi di tempat lain. Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik oleh pemerintah Berau.  

***

Salah satu sentra keramaian di Tanjung Redeb adalah kawasan yang disebut dengan Tepian. Ini mirip-mirip Tepian di Samarinda, hanya beda luas dan panjang arealnya. Sesuai namanya, kawasan ini memang berada di tepi sungai Segah, atau terkadang disebut sungai Berau yang lebarnya lebih 100 m dan tinggi muka airnya kurang dari satu meter dari daratannya. Makanya di sepanjang tepian ini sekarang sudah dibangun tanggul tembok guna mengatasi air pasang. Sungai Segah atau sungai Berau ini merupakan pertemuan dari dua buah sungai besar yang mengalir di wilayah kabupaten Berau, yaitu sungai Kelay dan Segah.

Kawasan Tepian ini panjang arealnya hanya beberapa ratus meter saja. Tapi setiap sore hingga malam ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati aneka jajanan makanan dan minuman sambil bersantai menikmati pemandangan malam sungai Segah yang sebenarnya remang-remang tapi tampak kerlap-kerlip lampu di kejauhan. Terlebih saat malam Minggu tiba, kawasan ini seperti pasar malam. Ini memang tempat mangkalnya anak-anak muda Berau. Jalan A. Yani yang membentang di sepanjang tepian sungai pun jadi padat.

Di sebelah selatannya adalah kawasan pasar, orang menyebutnya pasar Bugis karena memang banyak pedagangnya yang berasal dari Bugis. Sedangkan pada penggal jalan di sebelah utaranya adalah tempat berkumpulnya puluhan warung tenda yang menyediakan segala macam menu makanan. Warung-warung tenda ini juga buka hanya pada waktu sore hingga malam hari. Menilik tulisan warna-warni yang ada pada setiap kain penutup warung tenda itu mudah ditebak bahwa mereka pasti pedagang pendatang dari luar Berau.

Pada sekitar awal dekade tahun 70-an, diantara para pendatang dari Sulawesi masuk ke Berau dengan becaknya (maksudnya merantau untuk menjadi tukang becak, kalau datangnya ya naik kapal…..). Pendatang dari Jawa pun tidak mau kalah menyemarakkan dunia perbecakan di Tanjung Redeb. Namun belakangan pemerintah Tanjung Redep mulai merasa risih melihat bahwa populasi becak semakin tidak terkendali.

Dan, ketika masyarakat pembecak berinteraksi dengan para penyepedamotor, ditambah kurang sopannya berlalulintas di tengah kota, maka lalulintas kota pun terlihat semakin semrawut. Becak terpaksa dikalahkan. Pemerintah akhirnya memutuskan menghapus becak dari bumi Tanjung Redep. Maka sejak dua-tiga tahun yang lalu, kota Tanjung Redeb yang dijuluki sebagai kota “Sanggam” yang katanya berarti cantik, pun menjadi kota tanpa becak.

Namanya juga becak, jarang ada yang parasnya cantik (apalagi tukang becaknya…..), sehingga bak penampakan dari dunia lain, becak dianggap mengganggu upaya Tanjung Redeb untuk menjelma tampil cantik, atau “sanggam” seperti julukannya. Kalau ada kota di dataran rendah yang tidak ada becaknya, maka Tanjung Redeb adalah salah satunya.

Yogyakarta, 13 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(4).   Ketika Gadis Jawa Tertipu Di Teluk Bayur

perahu3Niatnya mau mencari jalan terobosan dari jalan raya menuju ke tepian sungai Segah. Tapi rupanya sulit. Semak dan rawa menghadang. Terpaksa kudu mencari jalan lain, dan satu-satunya jalan adalah mengambil jalan memutar menyusuri sungai Segah. Berarti harus menyewa ketinting atau perahu motor di pelabuhan Teluk Bayur.

Siang itu panas cukup terik di tengah cuaca yang masih tidak menentu, karena tiba-tiba angkasa bisa berubah menjadi mendung dan turun hujan. Agar perjalanan berikutnya lebih bersemangat, kami istirahat makan siang dulu. Tempat yang kami pilih adalah Taman Hutan Wisata “Sei Tangap”. Di dekat gerbang taman ini kami duduk lesehan di tanah sambil menikmati bekal makan siang yang sudah disiapkan sejak pagi. Hawa sejuk di bawah kerimbunan pepohonan membuat suasana santai dan menyenangkan.

Hutan Wisata “Sei Tangap” adalah kawasan hutan milik Inhutani I yang dulu pernah menjadi kebanggaan masyarakat Berau sebagai taman rakyat. Di sana ada aneka jenis tanaman yang dirawat dan dikelola dengan baik. Konon ada juga koleksi hewan liar yang ada di hutan Berau. Ya, itu dulu pada masa jayanya industri perhutanan. Sebab sekarang taman itu tampak sekali tidak terurus, kotor dan tidak ada menarik-menariknya babar blass…. Kecuali tinggal pintu gerbang masuknya yang masih utuh. Itu pula yang paling pantas difoto.

Kini, hewan-hewan koleksi taman ini tidak jelas kemana perginya, entah dipelihara orang, dijual, mati atau malah kabur menyelamatkan dirinya masing-masing, ya dirinya hewan-hewan itu. Kalau pepohonannya jelas masih ada di sana, lha siapa yang mau ngangkut…., tapi tidak terurus dan tampak rimbun dengan semak belukar. Sayang sekali sebenarnya.

***

Setelah perut terisi, perjalanan dilanjutkan menuju pelabuhan Teluk Bayur. Langsung saja kami menghampiri deretan ketinting yang tertambat di dermaga kayu (maksudnya dermaga yang terbuat dari konstruksi kayu, bukan dermaga untuk mengangkut kayu). Setelah tawar-menawar, lalu disepakati biayanya Rp 150.000,- untuk jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Harga itu sudah termasuk sewa perahu, jasa sopirnya dan BBM. Termasuk murah, karena di tempat lain ada yang sampai 2-3 kali lipat biaya sewanya. Tapi ya itulah satu-satunya cara untuk menuju tepian sungai yang menjadi tujuan semula.

Sebuah ketinting berukuran sedang segera meninggalkan pelabuhan Teluk Bayur ke arah hulu sungai. Perahu berjalan santai, terkadang di sisi kiri sungai, terkadang menyeberang di sisi kanan sungai. Padahal lebar sungainya sekitar 75 meteran dengan tanaman bakau mendominasi di sepanjang pinggiran sungai, selain semak belukar. Tidak banyak terlihat pemukiman penduduk kecuali yang ada di seputar pelabuhan Teluk Bayur.

Belum jauh melaju ke hulu, terlihat kawasan pelabuhan batubara dan tongkang-tongkang yang sedang memuat batubara yang diangkut dari tambang. Perjalanan saya menyusuri sungai Segah ini memang masih terkait dengan pelabuhan pemuatan batubara. Ketika tiba di lokasi yang sudah direncanakan yang semula hendak ditembus lewat darat, perahu kami berhenti sebentar sambil sekilas mengamati keadaan sekeliling, memetakan lokasinya dan mendokumentasikannya. Inilah lokasi yang dipandang ideal untuk dibangun infrastruktur pelabuhan pemuatan batubara sebagai bagian dari tahapan proses penambangan batubara. Jaraknya sekitar 45 menit berketinting dari pelabuhan Teluk Bayur ke arah hulu.

Teluk Bayur adalah kota kecamatan yang jaraknya sekitar 6 km dari kota Tanjung Redeb ke arah hulunya. Sama-sama terletak di tepian sungai Segah. Rumah-rumah kayu mendominasi kawasan pemukiman di pelabuhan nelayan Teluk Bayur.

Wilayah kecamatan Teluk Bayur dapat dibilang sebagai kota tua di Tanjung Redeb atau Berau. Di daerah inilah dahulu bangsa Belanda banyak bermukim. Maka tidak heran kalau di wilayah ini masih banyak dijumpai bangunan-bangunan tua sisa peninggalan Belanda. Pasti menjadi rumah para meneer yang berkuasa atas operasi penambangan batubara. Hingga kini aktifitas yang terkait perbatubaraan di kecamatan Teluk Bayur pun masih berlanjut. Bahkan semakin marak dengan munculnya para investor, tak terkecuali para spekulan lahan.

Kalau tentang batubaranya sendiri sebenarnya tidak membuat saya heran. Siapapun yang menggeluti dunia pertambangan pastinya tahu bahwa di daerah itu memang banyak memiliki potensi sumberdaya alam, termasuk batubara. Justru yang membuat saya heran adalah kenapa wilayah kecamatan itu dinamai Teluk Bayur? Tadinya saya menduga barangkali di kawasan itu banyak perantau yang berasal dari ranah Minang atau Sumatera. Rupanya tidak. Justru banyak pendatang dari Sulawesi dan Jawa.

Rasa penasaran saya akhirnya “agak” terjawab setelah mendengar cerita dari pak sopir yang mobilnya saya sewa. Saya katakan “agak”, karena sebenarnya cerita itu masih dapat diperdebatkan dan berbau “plesetan”.

***

Alkisah, pada jaman penjajahan Belanda dulu (jaman Belanda adalah sebuah jaman yang sering dijadikan kambing hitam atas cerita yang tidak jelas ujung-pangkalnya). Ada seorang londo Belanda datang ke Jawa. Rupanya sang Londo kepincut dengan seorang gadis Jawa. Sang perawan Jawa pun tak bertepuk sebelah tangan. Lebih-lebih ketika diiming-iming bahwa kalau menikah nanti bakal diboyong ke Teluk Bayur.

Wow… Dalam bayangan sang perawan Jawa ini, Teluk Bayur adalah sebuah tempat di pinggir pantai barat Sumatera nan indah, elok bin menawan. Pendeknya, tempat yang sangat mengasyikkan. Impian pun membawa gadis Jawa itu bak terbang melayang membayangkan sebuah firdaus yang bernama Teluk Bayur.

Namun apa lacur. Entah kenapa, sang Walondo muda dan tampan itu tidak jadi ke Teluk Bayur di pantai barat Sumatera. Barangkali ada rotasi kerja atau mutasi pindah tugas dinasnya, sehingga sebagai anggota kumpeni pun dia tidak bisa menolak surat tugas dari sesama kumpeni yang pangkatnya lebih tinggi.

Sang Londo ternyata harus menyeberang ke Kalimantan. Sama-sama menyeberang dari Jawa, tapi tidak jadi ke Teluk Bayur, Sumatera Barat, melainkan ke kawasan sungai Segah di Berau, Kalimantan Timur. Demi agar tidak mengecewakan gadis pujaannya, maka sang Londo pun berkata kepada gadisnya bahwa mereka tiba di pelabuhan Teluk Bayur. Sang gadis pun meyakini telah berada di Teluk Bayur hingga akhir hayatnya. Maka sampai sekarang kawasan tempat dimana gadis Jawa itu tertipu, disebut sebagai Teluk Bayur.

Benarkah demikian? Wallahu-a’lam, hanya Pangeran Yang Maha Kuasa yang tahu. Bukan soal kebenaran ceritanya yang menarik perhatian saya. Melainkan, kenapa dari dulu yang namanya penjajah itu kok ya senengnya menipu?. Dan hampir semua bangsa yang terjajah di dunia ini, dulunya adalah korban penipuan. Bangsa Indonesia dijajah tiga setengah abad oleh Belanda dan Jepang adalah juga dalam kerangka ditipu, tertipu dan tidak jauh-jauh dari intrik pu-tippu….

Penjajahan hanyalah sebuah sarana, akar persoalannya adalah ekonomi atau bisnis. Suksesnya bisnis VOC adalah karena suksesnya Belanda menerapkan trik tipu-menipu yang sangat sistematis di jaman itu. Siapa lebih cerdas menipu maka dia akan dengan mudah mengelabuhi korbannya dan meraih keuntungan bisnis yang nyaris tak terbatas boanyaknya. Dan sialnya, kok ya bangsa Indonesia yang menjadi korbannya itu. Salahnya sendiri, kaya kok bodoh…… Eh, maaf, bukan bodoh, hanya belum pintar menyadari kekayaannnya dan belum mempunyai kemampuan mengelolanya. 

Tentu saja ini trik sukses sebuah bisnis raksasa yang mestinya tabu untuk ditiru, hanya perlu diambil pelajaran dan hikmahnya. Kecuali kalau tidak ketahuan. Dan yang tidak ketahuan itu rupanya sampai sekarang pun banyak jumlahnya. Hanya saja caranya lebih santun, halus, terhormat dan invisible.

Tapi, yang lebih menghueranken (pakai akhiran ken) lagi, sampai sekarang pun kita tetap menjadi bangsa yang sering tertipu, kena tipu, bahkan naga-naga-nya justru senang kalau ditipu, diakalin, dibodohin, dikelabuhin……. Apalagi kalau dampaknya bisa memberi keuntungan untuk diri sendiri atau lazim disebut oknum (oknum tapi kok banyak?). Tobaaat…. tobat…… (Saya bertobat mudah-mudahan pikiran saya salah).

Yogyakarta, 18 Januari 2008
Yusuf Iskandar