Posts Tagged ‘security’

Biarkan Alarm Berbunyi, Penumpang Tetap Berlalu

4 Mei 2008

Barangkali kini Nano alias Surya Erli Suparjan sedang sedih karena gagal terbang gratis ke Banjarmasin naik pesawat Lion. Atau muram karena berurusan dengan pihak berwajib (maksudnya pihak yang selalu merasa wajib membela diri dan wajib menyalahkan orang lan), gara-gara penyusupannya ke pesawat Lion dilaporkan oleh sang pramugari. “Oo…. kamu ketahuan……”, senandung mbak pramugari.

Tapi saya membayangkan, mas Nano kini justru sedang tersenyum karena berhasil mengelabuhi petugas bandara dengan memakai baju “Security” hingga masuk ke dalam pesawat, bak drama penyusupan di film-film asing (kalau film Indonesia biasanya dramanya agak konyol). Mas Nano pun bersenandung : “Oo…. kamu kecolongan……”.

Mestinya otoritas bandara memberi penghargaan kepada mas Nano karena sukses membuktikan kelemahan sistem keamanan bandara internasional yang dibangga-banggakan negara tetangganya Republik Mimpi.

Kecolongan? Kata ini memberi konotasi bahwa terjadinya baru sekali dan kebetulan ketahuan.

***  

Sabtu sore di bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu. Tiba di pintu keberangkatan, seorang Satpam memeriksa tiket pesawat lalu mempersilakan saya masuk. Segera disongsong oleh mesin pemeriksa barang dan penumpang. Gawangan scanner pun berbunyi “tit…tit…tit…” disertai lampu merah kecil nyala berkedip. Biasanya akan langsung disambut oleh petugas Satpam yang menyuruh mengangkat tangan dan menggeledah tubuh penumpang. Tapi kali itu kok sepi. Setelah tolah-toleh, tak seorang Satpam pun muncul untuk menggeledah. Ya, sudah. Saya ambil barang yang sudah melewati pemeriksaan sinar-X, lalu check-in.

Kemudian memasuki ruang tunggu. Untuk kedua kalinya peristiwa sken-menyeken harus dilalui. Melewati gawangan pemindai, alarm pun berbunyi dan lampu merah menyala. Kejadian seperti di depan tadi juga berulang. Juga sepi petugas. Juga sudah tolah-toleh. Juga tak seorang pun Satpam menghampiri. Ya, sudah. Ambil ransel dan laptop, lalu duduk di ruang tunggu sambil menyeruput kopi Bengkulu.

Kemana gerangan para petugas security yang bertanggungjawab terhadap keamanan bandara? Petugas yang ada di bagian depan yang memeriksa karcis pesawat terlihat cuek. Petugas di bagian pemeriksaan barang juga terlihat serius memelototi layar monitor. Tapi petugas yang menggeledah penumpang tidak ada.

***

Tiba di bandara Soekarno-Hatta langsung transit dengan pesawat yang menuju ke Yogyakarta. Memasuki galeri ruang tunggu, kembali harus melewati pemeriksaan barang dan penumpang. Pasti di bandara Soekarno-Hatta lebih ketat, wong ini bandara kelas dunia, pikir saya.

Ransel dan laptop berhasil melewati terowongan pemindai. Giliran pemiliknya melewati gawangan pemindai, alarm berbunyi dan lampu merah menyala. Tapi saya kok dibiarkan saja sama security yang ada di situ. Tidak satu pun dari dua orang security yang berdiri gagah di sana bergairah menyambut saya untuk menggeledah atau memeriksa darimana sumber bunyinya (mungkin benar, penampilan saya kurang menggairahkan karena lusuh pulang dari lapangan), Ya, sudah. Wong saya dicuekin saja, sayapun ambil barang lalu melenggang menuju ruang tunggu.

Lalu dimana fungsi pengamanan bandara? Setidak-tidaknya pada dua pengalaman pada hari yang sama di dua bandara yang masih ada hubungan suami-istri (Fatmawati Soekarno di Bengkulu dan Soekarno-Hatta di Jakarta). Jelas ini bukan kecolongan, melainkan kesengajaan.

“Ah, menyesal aku tidak membawa bom rakitan dari Bengkulu ke Jogja”, begitu kira-kira kata oknum teroris seandainya waktu itu ikut terbang bersama saya…..

Yogyakarta, 7 Desember 2007
Yusuf Iskandar