Posts Tagged ‘sawangan’

Catatan Harian Untuk Merapi (10)

28 Desember 2010

(87). Mereka Yang Jauh Dari Bantuan

Dusun Bandung, desa Paten, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang, sekitar 12 km dari Muntilan, ada di radius (tidak aman) 7 km dari puncak Merapi. Warga laki-laki berjaga-jaga, sedang warga perempuan/lansia/balita masih di pengungsian. Mereka para petani, jelas tidak ada yang dapat dikerjakan apalagi dihasilkan. Jauh dari sentuhan bantuan luar. Logistik adalah kebutuhan mendesak. Walau mereka takut “wedhus gembel”, tapi sore ini diamanahi tiga ekor wedhus gembel kurban…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(88). Mereka Yang Selalu Berstatus Awas Di Dusunnya

Dusun Bandung, Paten, Magelang, jelas berada di radius tidak aman terhadap Merapi (7 km). Tapi mereka harus menjaga hewan dan hartanya, begitu alasannya kenapa sebagian warga tidak mengungsi. Makan seadanya.

Sesuai status Merapi, mereka pun AWAS dan selalu terjaga terhadap gerak-gerik Merapi. Begitu bumi bergetar keras dan bergemuruh, mereka segera kabur menjauh menuruni gunung dengan sepeda motor yang selalu standby. Sambil getok tular (saling memberitahu) teman-temannya…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(89). Korban Merapi Non-Pengungsi

Menempuh jarak sekitar 12 km dari Muntilan, Magelang, ke arah sisi baratdaya lereng Merapi, menuju dusun Bandung, desa Paten. Melalui jalan sempit dan menanjak yang terlapis abu vulkanik. Di sana ada korban Merapi non-pengungsi dan memang tidak mau mengungsi. Mereka sadar ancaman awan panas, juga lahar dingin, bahkan hujan kerikil pun telah dirasakan, sedang abu tipis tak henti menyelimuti. Logistik adalah kebutuhan mendesak kini dan entah sampai kapan…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(90). Masih Ada Sapi Yang Akan Lewat

Membantu menyalurkan hewan kurban, sebagian dari amanah yang kami terima dari HMM (Himpunan Masyarakat Muslim) PT Freeport Indonesia. Hari ini tiga kambing ke dusun Bandung, Dukun; empat kambing ke dusun Pepe, Muntilan; satu sapi ke dusun Babadan, Sawangan; semua di wilayah kabupaten Magelang, sisi barat-baratdaya Merapi.

Insya Allah, masih ada sapi dan kambing yang akan lewat, besok… (Terima kasih untuk warga HMM Papua).

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(91). Seekor Lembu Ke Sawangan Magelang

Dusun Babadan, kecamatan Sawangan, Magelang terletak di kaki gunung Merbabu yang berhadapan dengan lereng barat Merapi, berada di radius sekitar 6 km dari puncak Merapi (juelass tidak aman). Tapi ratusan KK pengungsi ada di sana. Logistik sangat terbatas dan para lansia butuh selimut. Mereka sadar akan pilihannya itu. Tapi…., banyak hal sulit dicari penjelasannya. Ke dusun itulah seekor lembu (amanah dari rekan-rekan di HMM Papua) malam ini dikirimkan..

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(92). Menuntaskan Amanah Kurban Dari Papua

Tuntas sudah, enam sapi dan 10 kambing selesai disalurkan dalam dua hari ini sebagai amanah kurban dari warga Himpunan Masyarakat Muslim di Papua, untuk para korban bencana Merapi. Apresiasi untuk rekan-rekan yang telah bekerja keras untuk itu. Dan saya bersyukur berkesempatan menjadi bagian dari tim yang ketiban amanah. Semoga kelak menjadi “kendaraan” yang indah bagi para pengkurban, di langit tingkat tujuh yang dijamin bebas dari semburan awan panas maupun abu vulkanik…

(Yogyakarta, 18 Nopember 2010)

——-

(93). Penggalangan Dana Dari Mantan Teman Kerja

Beras, gula, sarden, kecap, hari ini dibelanja dan diangkut, siap untuk segera disalurkan ke beberapa lokasi pengungsian maupun korban Merapi non-pengungsi yang membutuhkan (dari hasil survey pendahuluan). Bantuan akan digabung dengan belanjaan lain. Semua dibeli dari hasil penggalangan dana yang bersumber dari para ex-teman kerja di Papua yang sekarang menyebar kemana-mana. Juga teman Facebook. (Terima kasih untuk pak Dwi Pudjiarso).

(Yogyakarta, 18 Nopember 2010)

——-

Iklan

Catatan Harian Untuk Merapi (12)

28 Desember 2010

(102). Tambang Pasir Di Tengah Kota

Berkah Merapi… Pasir yang terendap dari gelontoran lahar dingin di sepanjang kali Code yang membelah Yogyakarta, ternyata menjadi berkah tersediri bagi masyarakat yang tinggal di lembah Code. Lihatlah antrian truk yang memanjang menunggu giliran untuk diisi pasir. Dan itu terjadi di tengah kota Jogja.

Ya benar, tambang pasir di tengah kota, di sepanjang aliran kali Code. Mudah-mudahan mereka tidak lupa bahwa banjir lahar dingin masih berstatus AWAS..!

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(103). Berkah Lahar Dingin Merapi

Mau menambang pasir tanpa ijin tapi diijinkan? Malah difasilitasi pemerintah? Maka tambanglah pasir kali Code.

Berkah bagi masyarakat karena nilai ekonomisnya. Pemerintah pun berkepentingan untuk menormalisasi kedalaman sungai yang dangkal total karena endapan lahar dingin. Sebab jika tidak, maka fungsi sungai akan hilang, lalu siap-siap saja mbludak di musim penghujan. Semua pihak kini jadi berkepentingan atas penambangan pasir kali Code.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(104). Purnama Terakhir

Malam ini
purnama keduabelas
purnama terakhir di penghujung tahun 1431H
purnama yang tersaput abu vulkanik
sebentar mengantar sisa waktu
lalu tahun berganti…

Betapa anugerah tak terjumlah telah kita raih dan nikmati
keindahan pun telah terasakan
Tapi juga kesalahan kita lakukan
di antara kebaikan yang tak seimbang jumlahnya…

Masih mampukah kita jalani purnama selanjutnya
dengan cara yang benar
dengan segenap cinta dalam kesadaran penghambaan kepadaNya

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(105). Tak Tersentuh Karena Tersembunyi

Matahari tepat di cakrawala barat, masih menyisakan semburat merahnya. Aku tiba di dusun Babadan, desa Butuh, kecamatan Sawangan, Magelang. Lokasinya sekitar 10 km timurlaut dari Blabak, Jl. Raya Jogja-Magelang, menuju arah Ketep lalu belok ke utara ke kaki gunung Merbabu.

Kesanalah petang tadi aku membawa tiga karung beras titipan seorang teman di Bandung bagi korban Merapi non-pengungsi yang tak tersentuh bantuan karena tersembunyi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(106). Mereka Tak Berdaya

Dusun Babadan terletak di baratlaut Merapi pada radius sekitar 12 km, dikelilingi hutan sengon. Ketika letusan besar Merapi terjadi (5/11), warganya terisolir. Pohon-pohon patah menghalangi jalan. Di dalam rumah takut kalau rumahnya roboh oleh abu dan pasir vulkanik. Mereka pun berkumpul di tanah terbuka di bawah guyuran abu panas Merapi dengan perlindungan seadanya. Tangis histeris wanita dan anak-anak nyaris hilang ditelan gemuruh Merapi yang menggetarkan bumi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(107). Posko Mandiri Untuk Korban Merapi Non-Pengungsi

Masyarakat dusun Babadan dan dusun-dusun tetangganya tidak mengungsi. Makanya mereka tidak punya gelar pengungsi. Di sinilah dilema. Karena bukan pengungsi maka lalu “tidak perlu” dibantu. Padahal sama-sama korban Merapi.

Tengoklah, semua bantuan berlabel “pengungsi”. Bahkan di posko-posko sampai berlimpah. Sedang mereka yang non-pengungsi? Jatah pemerintah sangat terbatas, minta ke posko prosedurnya belit-belit. Akhirnya mereka menggalang posko mandiri.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(108). Warga Soronalan Butuh Bantuan Segera

Baru saja dapat kontak dari posko mandiri di desa Soronalan, Sawangan, Magelang. Ada 50 KK di kaki gunung Merbabu yang butuh bantuan mendesak. Sejak letusan besar Merapi (5/11) belum pernah ada bantuan dan warganya makan seadanya (keladi, ketela, dkk). Beras yang saya kirim ke dusun tetangganya tadi malam akhirnya dialihkan ke sana. Cukup untuk 1 kg per KK.

Tuhan…, pliiis…turunkan berasMu yang masih ada di langit (fissama-i fa-anzilhu)…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(109). Berharap Hujan Beras

Mereka bukan pengungsi (makanya tidak ada bantuan), tapi penduduk setempat yang menderita akibat letusan Merapi. Mereka buruh tani, sedang semua ladang hancur. Sebagai penderes kelapa, pohon kelapa rusak. Sebagai pengrajin keranjang, tidak ada yang beli. Sebagai peternak, tidak ada pakan, sedang singkong harus berebut dengan pemiliknya. Pohon pisang rusak oleh abu. Sayur dan tanaman bumbu musnah. Untuk bertahan hidup? Berharap hujan abu berganti hujan beras…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (13)

28 Desember 2010

(110). Mereka Makan Keladi Dan Ketela

Ketika saya cerita bahwa masyarakat di dusun-dusun terpencil yang terkena dampak letusan Merapi bertahan hidup dengan makan seadanya, seperti keladi dan ketela, maka itu benar adanya. Bukan cerita yang saya dramatisir…

Hanya umbi-umbian di dalam tanah yang bertahan terhadap serangan abu vulkanik panas. Tanaman lain di permukaan rusak, termasuk kelapa, sayuran, rumput, apalagi pisang. Ironisnya, kalau minta bantuan ke posko besar akan ditolak karena mereka bukan pengungsi…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(111). Mereka Adalah Relawan Mandiri

Posko mandiri (itu istilah mereka), adalah posko yang dikelola oleh pribadi-pribadi yang dengan semangat relawan mengelola masyarakat korban Merapi yang ada di rumah-rumah penduduk, bukan di lokasi/barak yang sengaja disiapkan untuk pengungsi.

Dengan upayanya sendiri relawan mandiri ini mencari bantuan ke pelbagai pihak. Bahkan antar mereka sering saling berbagi bantuan jika di lokasinya ada kelebihan. Memang, mereka kebanyakan ada di dusun-dusun terpencil, pelosok dan tersembunyi.

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(112). Bantuan Dari Para Sahabat

Hari ini saya menerima transfer sejumlah dana dari para sahabat di Jakarta dan Surabaya. Rencananya akan langsung saya alokasikan ke posko mandiri di dusun Soronalan dan Babadan, kecamatan Sawangan yang memang butuh bahan makanan mendesak.

Tapi sayang, sore ini cuaca berawan gelap, hujan deras berkepanjangan, sedang lokasi yang mau dituju agak naik ke kaki gunung. Terpaksa ditunda. Insya Allah…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(113). Siapa Yang Lebih Nekat

Seorang relawan mandiri di lereng baratdaya Merapi sore tadi mengirm pesan singkat via SMS, katanya: “Jumlah jiwa ada 250. Ekonomi lumpuh”. Posko itu ada di dusun Semen, kecamatan Dukun, Magelang. Info dari dusun tetangganya mengabarkan kalau masyarakat dusun Semen mencari-cari bantuan logistik.

Kutanya lokasinya di radius berapa dari puncak Merapi?
Jawabnya: “Sekitar 4 km pak!”.

Haduh…, lha yang nekat itu yang dibantu atau yang membantu?

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(114). Hanya Sebuah Potret Kecil

Dusun Babadan, Soronalan, Bandung dan Semen, di wilayah kabupatn Magelang, hanyalah sebagian kecil potret ketakberdayaan masyarakat yang dibuat tak berkutik setelah diplekotho abu dan pasir vulkanik panas dari Merapi. Padahal masih ada buanyak dusun-dusun terpencil yang warganya tidak mengungsi tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyambung hidupnya.

Mereka nyaris tak tersentuh bantuan. Semoga ada orang lain yang bergerilya membantu mereka yang buanyak itu…

(Note: diplekotho adalah ekspresi dalam dialog orang Jogja yang berarti ditakberdayakan)

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (15)

28 Desember 2010

(123). Mencari Daun Pisang Untuk Sapi

Sore mendung di dusun Babadan, Magelang, seorang ibu berjalan letih menggendong daun pisang dengan selendang lusuhnya.

Kutanya: “Untuk apa bu?”.
Dijawab: “Ngge nedo sapi..(untuk makan sapi)”.

Ya, sapi2-sapi tetap harus makan, sedang rumput tak lagi hijau setelah didera abu vulkanik panas. Ketela dan hati batang pisang adalah alternatifnya. Tapi sungguh itu bukan pilihan…, bagi si ibu harus mencari daun pisang, tak juga bagi para sapi yang terpaksa memakannya.

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(124). Ikan Wader RM “Purnama” Muntilan

Sore pulang dari Sawangan, teringat belum makan siang. RM “Purnama” di Muntilan, menjadi tujuan. Ini jenis warung pojok yang dulu suka jadi ampiran sopir-sopir truk pasir, tapi kini menjadi jujukan penggemar kuliner. Ikan wader, terkenalnya. Dengan tagline: “Spesial mangut lele, ikan tawar”.

Wow…taste ndeso-nya khas skali. Yang harus dilakukan: Datang, pesan (pilih sendiri), dilayani, dihitung, duduk, makan, mbayar.. (Jangan lupa yang terakhir!).

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(125). Genset Untuk Mushola

Pulang dari Sawangan kemarin, ngirim 3 genset untuk 3 mushola berbeda (amanah dari Himpunan Masyarakat Muslim di Papua). Salah satunya diterimakan melalui seorang teman di dusun Pancoh, desa Girikerto, kecamatan Turi, Sleman, yang berada di radius 12 km selatan Merapi.

Masyarakat sudah pada pulang dari pengungsian. Banyak kebun salak pondoh di sana, tapi sebagian rusak, buahnya jadi abu-abu tersaput abu Merapi. Ternak sebagian mati karena tak terurus selama ditinggal mengungsi.

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(126). Tak Lagi Cantik Alami

Bagi sebagian masyarakat yang kebun salaknya tidak terlalu rusak (kalau yang rusak nggak ada lagi yang dapat diceritakan…), harga salaknya bisa jatuh, karena buahnya kotor oleh abu Merapi yang melekat di kulitnya.

“Mengapa demikian?”.

Jawabnya: “Buah salaknya tidak cantik lagi..”.

Jawaban bernada canda ini ada benarnya, karena buah salak harus dicuci dulu sebelum dijual. Itu berarti bersih dan cantiknya buah salak tidak lagi alami. Hmm…, yang cantik alami memang lebih mahal…

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(127). Awas Kolesterol

Teman yang tinggal di Girikerto itu selain punya kebun salak juga ternak burung puyuh. Selama ditinggal mengungsi setengah puyuhnya yang jumlahnya ribuan itu mati, tidak terurus pakannya. Sedang sisanya yang masih hidup pada stress tidak mau bertelur. Kasus ternak mati tidak terurus ini terjadi di banyak lokasi.

Meski begitu toh teman saya itu masih nyangoni kami dengan sekotak salak dan telur puyuh. Mengingat telur puyuh, maka statusku jadi seperti Merapi, AWAS kolesterol..!

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(128). Merapi Tenang Tapi Waspada Harus

Hari ini, sebulan sudah sejak letusan pertama Merapi (26/10). Malam ini, memasuki minggu keempat sejak letusan besar Jumat dini hari (5/11). Merapi tenang tiga hari ini dibanding hari-hari sebelumnya. Berharap Mbah Merapi pun sedang khusyuk bersujud kepada Sang Penciptanya menyambut malam hari raya Jum’at. Kemudian teruslah beristirahat panjang dalam kedamaian dan ketenangan…

Walau begitu, warga Jogja dan seputaran Merapi tetap harus WASPADA dan jangan lengah..!

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(129). Disambut Di Dusun Ngaglik, Sawangan

Warga dusun Ngaglik, desa Soronalan, kecamatan Sawangan, Magelang, yang hanya 25 KK, siang tadi nampak begitu antusias menyambut kedatanganku. Para bapak-ibunya menyalamiku. Aku jadi rada kikuk. Sebagian lalu ikut nimbrung saat aku ngobrol dengan Kepala Dusun, setelah menurunkan bantuan yang “tidak seberapa” itu.

Rupanya itulah pertama kali ada bantuan masuk ke dusunnya yang memang tidak mudah dicapai, sejak letusan besar Merapi 3 minggu yll.

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(130). Sekedar Penyambung Hidup

Saweran yang kuterima tiga hari yll akhirnya kusalurkan ke dusun Ngaglik, dari rencana semula ke dusun Soronalan. Ngaglik berada sekitar 1 km lebih jauh dan lebih atas dari Soronalan. Kondisi masyarakat di kedua pedusunan itu sama-sama lumpuh akibat letusan merapi.

Beras, mie instan, kecap dan sarden, yang kukirim tadi siang, hanya sekedar penyambung hidup… (Trims untuk pak Probo Jatmiko, bu Nuning dan seseorang yang tidak mau disebut namanya).

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(131). Tak Ada Lagi Kelapa Dideres

Mata pencaharian utama warga Ngaglik adalah penderes nira dari pohon kelapa untuk dibuat gula jawa dan pembuat keranjang bambu untuk wadah sayur. Kini pohon kelapa rusak oleh abu Merapi. Tak ada lagi yang dapat dideres. Perlu waktu berbulan-bulan menunggu agar pohon kelapa dapat dideres kembali.

Begitu pun, tanaman sayuran hancur juga oleh abu Merapi. Tak ada lagi yang membutuhkan keranjang. Sedang memulai bertani bukanlah pekerjaan mudah. Lalu harus ngapain…?

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(132). Sebuah Kearifan Yang Begitu Indah

Ketika abu Merapi berhamburan, semua tanaman hancur, ternak mati, masyarakat kehilangan pencaharian dan penghasilan, beras tak terbeli, bantuan tak kunjung tiba…

Ada warga yang masih punya simpanan padi, jagung, singkong. Maka saling berbagilah mereka, senasib-sepenanggungan, guyub rukun tanpa hitungan laba-rugi, mangan ora mangan kumpul… Sebuah kearifan yang tak pantas disebandingkan dengan hiruk-pikuk di Jakarta tentang aneka kepentingan…

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (16)

28 Desember 2010

(133). Kepala Dusun Itu Seorang Wanita

Ada yang istimewa dengan dusun Ngaglik. Saat bertemu pak Parman yang sedang cari bantuan ke dusun tetangga, beliau ditemani istrinya yang cantik berkerudung warna cerah. Relawan “ndeso” itu membawa istrinya untuk urusan yang lebih perlu kegesitan seorang pria.

Ketika kemarin pak Parman saya panggil pak Kadus (Kepala Dusun), pak Parman berkata: “Yang Kepala Dusun sebenarnya istri saya pak”. Aha.., dan bu Parman adalah satu-satunya Kadus wanita di kawasan itu.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(134). Disuguh Singkong Rebus

Saat ngobrol-ngobrol tentang makan, saya disuguh bu Parman dengan teh panas dan singkong rebus. “Ya ini yang kami makan pak”, kata pak Parman ramah. Barangkali mereka memang sudah “terlatih” dengan keterbatasan hidup seperti saat ini, tapi tidak dengan ‘rasa’ kita.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan singkong, yang berkarbohidrat tinggi. Hanya saja, mereka makan singkong karena tidak punya pilihan. Sedang kita di tempat lain, makan singkong karena punya banyak pilihan untuk dimakan…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(135). Jum’atan Di Soronalan

Untuk sholat Jum’at, kemarin saya harus turun ke dusun Soronalan sekitar 1 km di bawah Ngaglik. Sengaja saya minta dibonceng sepeda motor. Kebiasaan masyarakat saat jalan menurun, matikan mesin dan motor pun njumbul-njumbul melewati jalan berbatu.

Masjid “Al-Huda” itu terisi sekitar 30 jamaah. Seseorang membisiki saya: “Kami perlu genset untuk masjid pak”.

Bersyukur, petang harinya saya bisa kirim SMS: “Genset sudah di Muntilan, tolong diambil” (Trims untuk HMM Papua).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(136). Serah Terima Bantuan Di Gubug makan “Mang Engking”

Pulang dari Ngaglik kemarin sore, ditunggu teman-teman di Gubug Makan “Mang Engking”, Jl. Soragan/Jl. Godean Jogja (pionir restoran spesial menu udang galah. Halah, udangnya ittuuu…).

Ada acara serah terima bantuan dari keluarga besar PT Freeport Indonesia melalui program “Freeport Peduli” untuk korban Merapi yang dipercayakan penyalurannya kepada Paguyuban mantan karyawan yang ada di Jogja. Wah, bakal kluyuran maneh ki… (siap-siap kluyuran lageee...).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(137). Pilpen Conggambul

Tengah hari, hujan lebat merata seantero Jogja. Nyopiri “boss” ke toko sambil nyetel RRI Jogja. Acaranya, “Pilpen-conggambul-tupon-tugu”. Woppo kuwi…? “Pilihan pendengar, keroncong, langgam, stambul”; dengan kata kunci: “satu pohon satu lagu”.

Elok tenan..! Masyarakat lereng Merapi akan menyukainya. Biar gunungnya lebih sejuk, seperti pantun seorang pendengarnya: Tuku terong simpen ning lemari es, lagu keroncong pancen mak nyesss…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(138). Status Awas Ex Pengungsi

Radius kawasan bahaya Merapi diturunkan sehingga sebagian pengungsi pun pulang ke rumah masing-masing. Selama di posko-posko pengungsian, hidupnya terjamin. Setelah pulang? Bantuan yang menumpuk itu ya ditinggal di posko-posko (entah siapa yang ngurus dan mau dikemanakan). Tinggal pengungsi dheleg-dheleg di kampungnya. Siapa yang perduli?

Pertanian hancur, ekonomi mandek, tidak ada penghasilan. Dan, ada ribuan ex pengungsi yang statusnya AWAS…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(139). Week-End Ke Jogja Mengirim Bantuan

Minggu lalu seorang sahabat week-end ke Jogja pingin menyalurkan bantuan. Bahkan bantuan diantar di tengah malam ke sebuah lokasi di Sawangan, Magelang. Sayang saya tidak bisa menemaninya. Ternyata sekarang mengirim lagi bantuan untuk perlengkapan sekolah. Bahkan bertanya lokasi mana lagi yang mendesak dibantu.

Uuuh.., senang sekali mendengar semangatnya, lebih senang lagi saya sempat memfasilitasi. Semoga Tuhan melimpahkan berkah untuk semuanya.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(140). “Datanglah Ke Jogja”

Pekan-pekan ini, logistik adalah kebutuhan mendesak bagi sebagian besar korban Merapi, terutama mereka yang baru kembali dari pengungsian dan non-pengungsi tapi terkena dampak langsung. Hari ini saya identifikasi ada empat lokasi terpisah yang layak untuk dibantu dan akan menjadi sasaran saya berikutnya.

Ingin saya ajak kepada siapa saja: “Datanglah ke Jogja, lalu kunjungi korban Merapi…”.

Sebuah perjalanan indah dan inspiratif akan Anda kenang sepanjang hayat…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (17)

28 Desember 2010

(141). Ada Yang Menanyakan Sisa Logistik

Siang tadi saya dihubungi seorang relawan mandiri yang tanya apa saya masih memiliki sisa logistik karena ada sebuah dusun di desa Wonolelo, Sawangan, Magelang, sangat membutuhkan bantuan logistik.

Menurut infonya, belum ada bantuan masuk ke sana karena lokasinya memang ada di radius 4-5 km dari Merapi, yang bagi masyarakat umum (pemberi bantuan) ini lokasi yang dianggap “menakutkan”.

Apa boleh buat, saya hanya bisa menjawab: “Insya Allah saya usahakan…”.

(Yogyakarta, 28 Nopember 2010)

——-

(142). Entah Apa Yang Ditunggu

Siang tadi menyalurkan beras bantuan untuk korban Merapi yang sudah kembali dari pengungsian, di dusun Windusabrang, desa Wonolelo, kecamatan Sawangan, Magelang (23 km dari Blabak, Muntilan dan berada di radius 5 km dari Merapi).

Ketika semua lahan dan tanaman sayur rusak, tak lagi bisa diambil manfaatnya, sedang biaya tak ada, Merapi masih berstatus Awas, maka mereka (210 KK, 800-an jiwa) hanya bisa menunggu. Entah apa yang ditunggu…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(143). Khawatir Kalau Bantuan Dicegat

Hujan turun cukup lebat saat saya dalam perjalanan menuju dusun Windusabrang, Sawangan, Magelang, tengah hari tadi melalui obyek wisata Ketep terus mengikuti jalan yang menuju Boyolali. Seseorang dari dusun itu tadinya keukeuh mau menjemput di Ketep, tapi saya yakinkan setelah di Wonolelo saja.

Rupanya dia khawatir, kalau tidak dikawal seringkali bantuan dicegat di tengah jalan dan diminta oleh masyarakat setempat yang juga butuh logistik. Sebegitunya…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(144). Mereka Perlu Bibit Sayuran

Bantuan yang saya bawa tadi siang sebenarnya darurat, daripada tidak. Walau lokasinya di pinggir jalan, tapi tidak mudah bagi warga Windusabrang dan tetangga-tetangganya untuk mendatangkan bantuan. Ketika tidak lagi berstatus pengungsi, mereka harus survive. Meminta (apalagi cuma berharap) ke pemerintah pun tidak ada hasil.

Untuk segera mulai bertani bukan perkara mudah dan murah. Mereka perlu bibit sayuran yang bisa cepat untuk diusahakan, seperti sawi, kobis, bunga kol, loncang…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(145). Umbi-umbian Pun Rusak

Ketika kutanya sejak pulang dari pengungsian makannya bagaimana?

Jawabnya: “Ya seadanya, sering-sering singkong”.
“Darimana?”, tanyaku.
“Ada orang yang membantu ngirim singkong”, jawabnya lagi.
“Apa kebun singkongnya tidak menghasilkan?”.
“Banyak yang rusak…”.

Rupanya saking tebalnya abu vulkanik panas, kandungan sulfurnya meresap dan merusak umbi-umbian di bawahnya. Insya Allah, masih ada sembako yang akan datang… (Terima kasih kepada HMM Papua untuk berasnya)

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(146). Di Dusun Klakah Dimana Merapi Nampak Indah

Dari Windusabrang saya berkunjung ke dusun Klakah sekitar 3 km masuk ke tenggara ke kaki Merapi, masuk wilayah Selo, kabupaten Boyolali. Dusun ini berada di radius sekitar 3,5 km dari Merapi (Uugh..!), tepat di atas sungai Apu. Kondisi masyarakatnya yang baru kembali dari pengungsian, tidak jauh beda. Tapi konon masyarakat merasa bahwa penanganan bantuan oleh Pemkab Boyolali, lebih baik daripada Pemkab Magelang.

Dari sini, bentang gunung Merapi nampak kekar dan indah…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(147). Tontonan Langka Banjir Lahar Dingin

Sejak dari Muntilan sore tadi, saya lihat banyak orang berkerumun di hampir setiap jembatan yang melintas di jalan Jogja – Muntilan. Rupanya sungai-sungai itu sedang banjir yang tentu saja membawa material lahar dingin Merapi. Arusnya sangat deras dan gemuruh suaranya, rupanya menjadi tontonan langka. Bahkan banyak pengendara mobil yang juga berhenti turut menyaksikan.

Saat tiba di Bintaran dimana kali Code ada di lembahnya, saya lihat inilah banjir terbesar…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(148). Banjir Terbesar Di Kali Code

Kali Code banjir besar sejak sore hingga malam ini. Terbesar selama ini. Arusnya sangat deras. Gemuruh suaranya menakutkan. Tinggi air sudah di atas rata-rata wilayah sepanjang lembah Code.

Di kawasan Bintaran dimana saya berdiri saat ini, air tertahan oleh tanggul bantaran sungai dan karung-karung pasir yang sudah ditumpuk di atasnya. Di lokasi lain ada yang tanggulnya jebol. Masyarakat waspada siap-siap kabur jika kondisi memburuk. Sebagian sudah mengungsi.

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(149). Ada Penonton Terjatuh

Seorang penonton di kawasan Gondolayu terjatuh ke kali Code dan terbawa arus deras yang tak terduga. Sesekali arus agak turun, tiba-tiba membesar lagi, begitu berulang-ulang. Uuugh…, jangan lagi deh… Ayo menjauh, menjauh dari bantaran sungai…

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

(150). Foto Banjir Lahar Dingin

Foto banjir Kali Code td sore, dpt dilihat di link ini… @JogjaUpdate: #Jogja @marawie: Kali code sekarang http://twitpic.com/3bay3e

(Yogyakarta, 29 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (18)

28 Desember 2010

(151). Kehidupan Seolah Harus Mulai Dari Awal

Sepintas kehidupan mereka, mantan pengungsi dan non-pengungsi korban Merapi itu baik-baik saja. Rumah-rumah masih utuh (kecuali yang terkena awan panas), anak-anak ceria bermain dan mulai sekolah, orang-orang sibuk menyiapkan bibit tanaman (bagi yang masih punya). Tapi sebagian besar dari mereka sedang kesulitan memenuhi kebutuhan makannya.

Mereka memang terbiasa dalam kesulitan, tapi tidak untuk waktu lama tanpa kejelasan tentang hidup mereka sendiri. Kehidupan seolah harus mulai dari awal lagi…

(Yogyakarta, 30 Nopember 2010)

——-

(152). Masih Banyak Gerilyawan Blusukan

Seorang sahabat mentransfer dana bantuan. Sorenya saya belikan beras lalu saya salurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan logistik hari-hari ini. Lokasi yang sebelumnya sudah saya survey adalah dusun Windusabrang, Babadan dan Cowor, kecamatan Sawangan, Magelang.

Sore tadi relawan mereka terpaksa saya minta mengambilnya ke Jogja berhubung saya tidak sempat bergerilya sendiri karena besok ada misi lain. Insya Allah masih banyak gerilyawan yang akan blusukan ke dusun-dusun…

(Yogyakarta, 30 Nopember 2010)

——-

(153). “Salam Persahabatan” Merapi

Dari jembatan layang Janti, dari dalam taksi menuju bandara, Merapi nampak anggun ditemani Merbabu di belakangnya, seakan menyampaikan “Salam Persahabatan”…

(Yogyakarta, 1 Desember 2010)

——-

(154). Kutinggalkan Mereka Sejenak

Dalam dhuhaku pagi ini di bandara Adisutjipto, kutambahkan permohonanku agar Mbah Merapi baik-baik saja, dan agar mengganti hujan abu dengan hujan beras bagi mereka yang sedang tak berdaya di lereng-lerengnya.

Kutinggalkan sebagian dari mereka sejenak… Perjalanan Jogja – Balikpapan – Tarakan – Tanjungselor, insya Allah segera kujalani…

(Yogyakarta, 1 Desember 2010)

——-

(155). Awas Banjir Lahar Dingin

Awas banjir lahar dingin…!!! Beberapa info yang dilansir melalui Twitter #JogjaUpdate, mengabarkan banjir lahar dingin siang ini melanda di hampir semua sungai yang berhulu di Merapi dalam volume lebih besar dari biasanya.

Waspada…! Bagi semua warga di bantaran sungai-sungai yang sering menjadi aliran lahar dingin. Beberapa jembatan ditutup, dibatasi, bahkan ada yang jebol… Jalur utama Jogja – Magelang terganggu…

(Antara Tarakan – Tanjung Selor, 1 Desember 2010)

——-