Posts Tagged ‘sate khas senayan’

Cumi Telor Bakar

28 Januari 2010

Cumi Telor Bakar

Cumi telor bakar dimakan dengan sambal kecap. Huuu…

(Makan malam di Warung ‘Sate Khas Senayan’ Jl. Kebon Sirih, Jakarta).

Jakarta, 25 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Sate Khas Senayan Yang Tidak Terasa Khasnya

5 Juli 2009

Seorang relasi mengajak makan siang di bilangan mal Citywalk, Jl. Mas Manysur, Jakarta. Terpilihlah resto Sate Khas Senayan Express, satu dari sekian banyak cabangnya yang ada di Jakarta. Koleksi menunya cukup komplit dan katanya semua menu masakannya serba enak. Lha wong namanya ditraktir, ya saya manut saja. Meski begitu, naluri untuk melakukan icip-icip atas apa yang saya makan tetap berjalan.

Merasa terprovokasi oleh judul restonya, yaitu ‘sate khas’, saya menjadi antusias ingin mencobanya. Wajar kalau kemudian saya berharap akan menemui sate dengan rasa khas atau paling tidak ada sesuatu yang khas di sana. Siang itu resto ini cukup penuh dipadati pemakan (orang yang makan). Memperhatikan padatnya pengunjung, saya menjadi semakin bersemangat ingin segera mencobanya. Kami pun rela menunggu beberapa menit sampai ada tempat yang kosong ditinggal pemakan sebelumnya.

Meski banyak menu ditawarkan, saya fokus pada menu utama sesuai judulnya, yaitu memesan sate kambing. Saya baca harganya 37 (angka ini harus dibaca dalam ribuan), sedang kalau sate saja 27, artinya ada selisih harga 10 untuk seporsi nasi atau lontong. Sedang minumnya sengaja saya pilih yang namanya rada aneh, yaitu wedang angsle seharga 18. Minuman ini mirip-mirip wedang ronde, disajikan hangat berbahan minuman jahe dengan tambahan ramuan macam-macam ada kolang-kaling, kacang hijau, cendhol, dll.

Tidak perlu menunggu lama, sate pun tersaji di meja. Kata relasi saya yang biasa makan di situ, kebiasaannya kalau menyajikan pesanan sate atau tongseng seringkali nasi atau lontongnya terlambat disajikan, tidak sekaligus disertakan bersama sate atau tongsengnya. Dengan kata lain, jangan diam saja meski pesanan satenya sudah disajikan, melainkan perlu mengingatkan pelayannya agar nasi atau lontongnya segera disusulkan. Pengalaman relasi saya, pernah nasinya kelamaan disajikan, hingga satenya habis dithithili (dimakan sedikit-sedkit) satu-satu karena nasinya lama tidak datang-datang. Ketika sang nasi akhirnya muncul, tentu saja disuruh mengembalikan (takut dikira sedang mutih…, laku prihatin hanya makan nasi putih thok…).

Seporsi sate kambing terdiri dari enam tusuk dan setiap tusuknya terdiri dari empat iris kecil daging kambing. Bumbu satenya berupa kecap ditambah dengan sedikit sambal dan irisan bawang merah. Kemudian satu demi satu potongan daging satenya saya coba mengunyah pelan-pelan, sambil berharap akan menemukan dan merasakan kekhasannya. Sayangnya pada siang itu (entah pada siang-siang lainnya…), proses pembakarannya agak kurang matang. Ada beberapa potong daging yang agak alot dikunyah hingga terpaksa saya lepeh (dibuang dari mulut) karena gigi saya tidak mampu mengunyahnya.

Usai makan, sambil ngobrol, sambil menghabiskan dan menikmati wedang angsle, sambil saya mikir-mikir (jarang ada orang yang bisa melakukan, kekenyangan habis makan kok mikir….). Kalau rasa satenya ternyata standar alias biasa-biasa saja, lalu apanya yang khas? Selain minuman penutup wedang angsle yang rasanya memang rada khas, akhirnya saya temukan juga kekhasan resto ini. Bahwa pengunjung rela membayar mahal karena membeli suasananya, maksudnya suasana khas makan di mal yang ramai, gemebyar dan penuh pandangan warna-warni, termasuk kaum hawa yang berseliweran mengenakan pakaian berbahan kurang.

Maka kalau tujuannya hendak makan sekedar mencari pengganjal perut yang lagi kosong, makan sate di kaki lima akan lebih puas dan efisien dari segi biaya. Tetapi kalau tujuannya hendak menemukan suasana entertainment dan gengsi, tempat ini dapat menjadi alternatif. Anda yang punya kantong, Anda yang punya isinya, dan Anda pula yang punya hak menyontreng pilihan menunya.

Yogyakarta, 5 Juli 2009
Yusuf Iskandar