Posts Tagged ‘salt river’

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(4).   Wisata Tambang Di Kota Hantu

Minggu pagi, 6 Agustus 2000, sekitar jam 10:00 saya meninggalkan kota Tempe menuju ke arah timur lalu berbelok ke utara. Hari itu saya merencanakan untuk menyusuri rute Apache Trail dari arah barat melalui daerah pegunungan Superstition.

Negara bagian Arizona adalah satu dari beberapa negara bagian di Amerika yang buminya kaya akan bahan mineral sebagai sumber bahan tambang. Menurut sejarahnya di Arizona ini banyak terdapat bekas-bekas lokasi tambang (terutama emas, perak dan tembaga) yang sebagian diantaranya masih beroperasi hingga kini, baik berskala besar (korporasi) maupun kecil (tambang rakyat). Satu diantara lokasi-lokasi pertambangan itu adalah daerah di sekitar pegunungan Superstition. Di sisi sebelah barat laut dari pegunungan ini ada satu dataran tinggi yang disebut Goldfield (ladang emas).

Sejak pertama kali emas diketemukan di daerah ini sekitar tahun 1891, segera kabar itu menyebar dan para pencari emas pun berdatangan mengadu untung. Dalam waktu yang singkat Goldfield serta merta menjadi sebuah kota yang populasinya mencapai sekitar 5.000-an. Sebuah lonjakan angka yang cukup fantastis untuk ukuran “desa”-nya Amerika. Itu terjadi hanya dalam periode lima tahunan yang kaya dengan emas, dimana saat itu ada sekitar 50 tambang beroperasi. Itulah masa kejayaan Goldfield di periode tahun 1890-an.

Jaman “keemasan” Amerika berlangsung tidak lama, booming emas segera berakhir di penghujung abad ke-19. Demikian halnya yang terjadi di Goldfield, urat bijih (vein) tidak lagi menghasilkan banyak emas, kadar bijihnya (grade) menurun, dan kota Goldfield pun lalu mati perlahan-lahan. Setelah berbagai upaya dilakukan orang untuk membuka kembali usaha pertambangan, akhirnya menampakkan tanda-tanda kehidupann di tahun 1910, namun kemudian pudar lagi tahun 1926.

Kini masa kejayaan ladang emas itu pun tinggal kenangan masa lalu, meninggalkan bekas kota tambang yang dijuluki kota hantu (the ghost town) karena ditinggal penghuninya. Kenangan ini ternyata menjadi kebanggaan masyarakatnya kini. 

***

Mengawali perjalanan untuk menyusuri rute Apache Trail, saya tiba di salah satu lokasi yang tampak dari jauh seperti kota koboi. Tertarik untuk mengetahui tentang bekas sebuah kota ini, maka saya berbelok menuju ke tempat parkir melewati di bawah sebuah struktur besi tua yang ternyata bekas sebuah rangka utama (headframe) sumuran tambang.

Saya lanjutkan berjalan kaki, dalam cuaca yang sangat panas dan tanpa ada pohon pelindung di sekitarnya, saya menuju ke arah bangunan-bangunan yang tampak tua khas bangunan kota kuno di Amerika. Pemandangan ini mengingatkan saya akan kenampakan kota kuno seperti yang sering menjadi setting film-film koboi.

Memandang ke depan ke seberang jalan dari tempat ini tampak pegunungan Superstition yang berprofil “aneh” seperti tumpukan bongkahan-bongkahan batuan monolitikum raksasa, menjulang lebih 900 meter di atas lantai dataran gurun di sekitarnya. Kenampakan seperti ini mendominasi di sepanjang sisi sebelah timur dari areal lembah Salt River. Pegunungan Superstition sendiri sebenarnya hanya bagian dari keseluruhan daerah Superstition yang luasnya hampir 65.000 ha dengan puncak gunung tertingginya lebih 1.800 m dengan beberapa lembah berada di antaranya.

Saya melanjutkan berjalan berkeliling, lalu tiba di lokasi yang menawarkan wisata tambang (mine tour). Saya lihat ada sekitar 15 orang sudah siap mengikuti wisata. Saya tolah-toleh, di situ hanya ada dua orang petugas yang saya taksir usia keduanya di atas 50-an. Seorang menjual karcis dan seorang lagi sebagai pemandu wisata. Saya datangi si penjual karcis lalu saya tanyakan berapa lama kira-kira wisata tambang ini akan memakan waktu. Dijawabnya sekitar setengah jam.

Saya bisa membayangkan kira-kira apa yang bakal dapat dilihat dalam waktu setengah jam. Tidak ada yang menarik, pikir saya. Rasa-rasanya tambang bawah tanah peninggalan Belanda di Lebong Tandai, Bengkulu sana, tempat saya pernah bekerja dulu, akan lebih menarik ketimbang tempat ini. Tetapi bukan alasan itu yang membuat saya kemudian berubah pikiran. Ada yang lebih ingin saya ketahui : Apa sih yang sedang mereka “jual” dan bagaimana cara mereka “menjualnya”, sehingga orang-orang itu yang diantaranya bersama keluarga dan anak-anaknya, mau membayar US$5 per orang untuk mengikuti wisata tambang selama setengah jam?

Karcis kemudian saya beli, bukan kertas sebagai tanda masuknya melainkan sebuah tongkat kayu. Barangkali hanya ingin “tampil beda”. Saya lalu bergabung dengan para wisatawan domestik itu (kali ini saya menjadi wisatawan asing). Sebelum masuk ke dalam kerangkeng (cage) yang akan membawa kami menuruni sumuran tambang (shaft), sang pemandu wisata menjelaskan dengan sangat rinci tentang hal ihwal tambang.

Demikian pula saat kami berada di lorong bawah tanah (tunnel) dan di dalam lombong (stope), berbagai hal teknis termasuk cara-cara pemboran dan peledakan dalam pembuatan lorong, peralatan yang digunakan, sistem penyanggaan, ventilasi, dsb. juga dijelaskannya dengan fasih. Saya hanya menduga-duga saja, sang pemandu wisata ini mungkin dulunya bekas miner (buruh tambang).

Akhirnya setelah naik melewati beberapa tingkat anak tangga, kami tiba kembali di permukaan melalui mulut tambang yang berbeda dengan ketika masuknya tadi. Saya perkirakan tadi itu kami hanya berada sekitar 10-15 meter di bawah permukaan tanah. Tapi itulah gambaran sederhana tentang sebuah tambang bawah tanah berskala kecil yang berhasil dipaparkan melalui wisata tambang selama sekitar setengah jam. Pengunjung tampak puas, anak-anakpun gembira memperoleh pengalaman baru.

Meninggalkan tempat ini saya berjalan melewati beberapa peralatan kuno yang dipajang di sana, diantaranya ada mesin pemboran (rock drill), kereta tambang (mine car) dan relnya, mesin pemboran inti (diamond drill), dsb, hingga saya tiba di sebuah bangunan toko yang di dalamnya ada museum mini yang menggambarkan sejarah tambang-tambang di daerah pegunungan Superstition.

Sekeluar saya dari museum sebenarnya saya berniat untuk segera melanjutkan perjalanan. Namun saat saya berhenti sejenak di teras museum ini, saya merasa ragu-ragu untuk melangkah keluar. Sesaat mondar-mandir di teras bangunan ini sambil pura-pura memperhatikan struktur bangunan kuno biar tidak tampak seperti orang bingung. Saya merasa masih ada yang mengganjal di pikiran : Lha, tambangnya di mana?

Kemudian saya putuskan untuk masuk kembali ke museum dan menjumpai seorang wanita setengah tua, satu-satunya petugas yang ada di situ. Pertanyaan singkat saya ajukan : “Apakah tempat ini dulunya sebuah kota tambang?”. Dan jawab wanita itu : “Bukan, semua yang ada di sini adalah replika dari sebuah kota tambang jaman dulu”. “Termasuk wisata tambang?”, tanya saya lagi. “Ya”, jawabnya.

Dalam hati saya berkata : “Lha rak tenan” (benar, ‘kan), pantesan tadi masuk ke tambang bawah tanah kok tidak perlu memakai topi pengaman (hard hat). Pinter-pinternya orang cari duit. Sebuah kepintaran yang layak ditiru.

Si ibu petugas itu lalu melanjutkan penjelasannya bahwa dulu di daerah ini memang ada puluhan usaha pertambangan, dan tempat ini adalah hasil rekonstruksi dari sebuah kota tambang Old Mammoth. Kota tambang yang telah ditinggalkan sehingga menjadi kota hantu. Satu diantara nama tambang yang hingga kini sangat melegenda dan penuh misteri adalah Lost Dutchman Mine. Penjelasan si ibu ini memang telah membuat ganjalan pikiran saya sedikit terobati, meskipun inti pertanyaan saya sebenarnya belum terjawab.

***

Itulah, satu contoh kecil saja dari hasil sebuah kerja professional. Saya sangat yakin bahwa mereka yang ngurusi tempat wisata ini bukan berasal dari kalangan orang-orang yang bergelar kesarjanaan. Terlepas dari apakah penilaian saya ini benar atau salah, yang pasti adalah bahwa mereka punya pengetahuan dan kebanggaan akan daerahnya, punya ketrampilan, punya naluri untuk bekerja keras, dan punya komitmen yang tinggi untuk “menyelamatkan” kisah masa lalu desa mereka melalui media bisnis yang menguntungkan. Halal, lagi. Memang, sebuah kepintaran yang layak ditiru.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(6).   Menyusuri Rute Apache Trail

Lewat tengah hari, masih di hari Minggu, 6 Agustus 2000, setelah kepanasan berjalan berputar-putar di kota hantu, saya melanjutkan perjalanan ke timur menyusuri rute Apache (baca : Epaci) Trail. Hingga sekitar 20 kilometer, jalan yang saya lalui berupa jalan aspal mulus sehingga bisa melaju dengan kecepatan sekitar 70-80 km/jam sampai saya mencapai lokasi danau Canyon.

Rute Apache Trail ini membentang dari barat melingkar ke utara lalu ke timur, menghubungkan kota Phoenix dan Globe sepanjang 78 mil (sekitar 125 km). Jalur jalan ini dibangun tahun 1905 sebagai sarana transportasi untuk pembangunan bendungan Roosevelt. Disebut Apache Trail karena rute jalan ini dibangun sejajar dengan rute kuno suku Apache yang melalui lembah-lembah Salt River yang umumnya berupa daerah gurun.

Ini adalah rute yang sudah populer bagi wisatawan karena memberikan pemandangan alam dan melewati kawasan-kawasan yang cukup menarik dan bervariasi di sepanjang rutenya. Antara lain melewati daerah-daerah gurun, pegunungan, jurang, tepian danau, peninggalan bangunan tempat tinggal di lereng pegunungan, bekas kota tambang, dan lembah-lembah yang tererosi. Yang namanya gurun di daerah ini tentu tidak sama dengan kenampakan gurun pasir yang kita kenal selama ini, meskipun sama-sama berupa bentang alam terbuka yang nampak kering dan gersang serta miskin pepohonan di seluas mata memandang. 

Ada empat danau besar di sekitar rute ini, yaitu danau Saguaro, Canyon, Apache dan Theodore Roosevelt. Keempat danau tersebut sebenarnya adalah danau buatan sebagai akibat dari dibangunnya bendungan untuk irigasi maupun pembangkit tenaga listrik. Keempat bendungan tersebut masing-masing bernama Stewart Mountain, Mormon Flat, Horse Mesa dan Theodore Rosevelt.

Adanya danau-danau tersebut setidak-tidaknya memberikan suasana lingkungan yang berbeda di tengah-tengah perbukitan tandus. Tempat itu menjadi banyak dikunjungi orang karena telah menjadi obyek wisata air. Secara umum danau-danau tersebut berbentuk memanjang mengikuti aliran Salt River.

***

Danau Saguaro dengan bendungan Stewart Mountain berada agak menyimpang ke utara, sehingga saya tidak sempat mendekatinya. Panjang danau ini sendiri sekitar 16 km berkelok-kelok dengan luas permukaan airnya sekitar 518 ha. Pembangunan bendungannya selesai pada tahun 1930 dengan tinggi sekitar 63 m dan lebar sekitar 384 m.

Baru ketika mencapai danau Canyon dengan bendungannya yang bernama Mormon Flat saya sempatkan untuk berhenti sejenak menikmati pemandangan alam danau dari tempat ketinggian. Rute jalannya memang berada di tempat lebih tinggi dari permukaan danau. Panjang danau ini juga sekitar 16 km dengan luas permukaan airnya hanya sekitar 380 ha. Bendungan ini selesai dibangun pada tahun 1925 dengan tinggi sekitar 68 m dan lebar 116 m. Di sepanjang penggal jalan ini tampak formasi-formasi batuan vulkanik yang berkenampakan menarik. Umumnya batuan-batuan ini terdiri dari abu vulkanis dan basalt yang terbentuk pada jaman Tersier sekitar 29 juta tahun yang lalu.

Beberapa kilometer setelah danau Canyon jalanan tidak lagi beraspal, melainkan jalan tanah bebatuan yang tentu saja sangat berdebu di musim panas seperti sekarang ini. Melewati penggal jalan tanah sepanjang sekitar 35 km hingga mencapai danau Roosevelt ini memang perlu lebih berhati-hati. Di beberapa bagian jalan ini sangat sempit dengan profil jalan yang menanjak serta menurun menyusuri tepat di lereng-lereng bukit terjal yang terkadang dinding batuannya tegak 90 dejadat, hingga kalau berpapasan dengan kendaraan lain salah satu mesti berhenti.

Masih di penggal jalan yang sama kira-kira di pertengahan rute sebelum tiba di danau Roosevelt, dari kejauhan tampak danau Apache yang berada di elevasi lebih rendah. Danau yang bentuknya memanjang sekitar 27 km ini mempunyai luas permukaan air sekitar 1.050 ha. Pertama kali air mulai mengisi lembah Salt River sebelum membentuk danau Apache terjadi pada tahun 1927 setelah selesainya pembangunan bendungan Horse Mesa yang tingginya sekitar 90 meter dan lebarnya sekitar 200 meter. 

Untuk mencapai pantai danau ini harus menuruni jalan yang cukup curam. Di pantai danau yang dikenal dengan sebutan Apache Lake Marina tersedia fasilitas restoran, penginapan dan penyewaan perahu motor bagi yang ingin memancing ke tengah danau atau hanya sekedar rekreasi. Di sekitar danau ini bisa dijumpai hutan tanaman pinus ponderosa.

Setelah melanjutkan perjalanan dengan hanya bisa melaju 30-40 km/jam melalui jalan tanah kering dan berdebu, kemudian saya tiba di bagian atas danau Roosevelt. Menyusuri pinggiran danau ini saya menyaksikan pemandangan danau yang cukup menarik dengan latar depan adalah bendungan Roosevelt dan jembatan jalan State Road (SR) 188 yang melintasi di pinggir danau. Ini adalah danau terbesar di antara keempat danau di sepanjang rute Apache Trail. Paling mudah dijangkau karena sudah tersedia jalan yang bagus dari arah utara maupun timur, serta mempunyai fasilitas wisata yang lengkap. Karena itu tempat ini setiap tahunnya didatangi oleh tidak kurang dari satu juta orang wisatawan.

Pertama kali danau ini terbentuk oleh pembangunan bendungan Roosevelt yang pekerjaan konstruksinya dimulai pada tanggal 6 September 1906 dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Theodore Roosevelt pada tanggal 10 Maret 1911. Pada tahun 1996 yll, bendungan ini dimodifikasi dan ditinggikan menjadi sekitar 109 m. Akibatnya bendungan ini menjadi tampak berstruktur lebih modern dan permukaan danau menjadi lebih luas bahkan terluas di wilayah Arizona.

Danau ini membentang arah tenggara – barat laut dengan panjang sekitar 40 km dan lebar 3,2 km. Luas permukaannnya tercatat pada saat air tinggi mencapai sekitar 7,690 ha (sekitar 77 km2). Area ini menjadi salah satu pilihan untuk tempat rekreasi karena memang tersedia sarana yang cocok untuk berkemah, melintas alam (hiking), berperahu, bersepeda gunung, dan tentu saja memancing dan olah raga air lainnya. Lomba mancing kelas dunia setiap tahun digelar di danau ini. Banyak wisatawan juga memilih danau ini untuk berski air, berlayar, berselancar angin, atau sekedar berenang.

Seorang teman kerja menyarankan untuk mencoba berenang di danau ini, katanya di musim panas seperti ini berenang atau berendam di danau Roosevelt akan terasa seperti berendam di bak kamar mandi yang hangat airnya. Tentu saja tidak saya penuhi sarannya itu, kecuali kalau saya tinggalnya di sekitar situ sehingga punya waktu yang longgar.

Bagi saya cukup kalau saya sempat datang, melihat dan pulang (vini-vidi-bali). Karena yang paling utama bagi saya adalah : sempat melihat sisi lain dari yang tampak terlihat, yang biasanya justru tidak dilihat oleh umumnya orang lain. Seringkali saya menemukan sesuatu yang menarik di sana, tersirat informasi dan pelajaran yang sangat berharga.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(7).   Peninggalan Budaya Indian Salado

Hari sudah sore saat saya meninggalkan danau Roosevelt, dan perjalanan saya lanjutkan ke arah selatan menuju kota Globe untuk selanjutnya kembali ke Tempe. Belum jauh saya berjalan, sudah sampai di lokasi Taman Monumen Nasional Tonto, saat itu sekitar jam 4:15 sore. Ruang pusat pengunjung (visitor center) masih buka karena jam kerjanya hingga jam 5:00 sore. Ternyata di tempat ini ada peninggalan budaya suku Indian Salado, yaitu sisa bangunan rumah kuno di sebuah rongga atau semacam gua kecil di lereng pegunungan, di wilayah Hutan Taman Nasional Tonto.

Sebagai pemegang National Park Pass, saya bebas biaya US$5 untuk memasuki tempat ini dan saya bisa memperoleh segala informasi yang saya perlukan. Untuk mencapai ke lokasi peninggalan kuno di lereng gunung ini harus ditempuh dengan berjalan kaki mendaki sejauh kira-kira 1 km. Tidak terlalu tinggi memang, tapi cukup membuat napas ngos-ngosan.  Sebelum berjalan menuju monumen saya dipesan agar paling lambat jam 6:00 harus sudah tiba kembali ke ruang pengunjung. Saya perkirakan paling-paling satu jam saya sudah kembali.

Setiba saya di lokasi peninggalan kuno ini ternyata di sana masih ada pengunjung lain, dan masih ada petugas yang dengan setia menjawab setiap pertanyaan para pengunjung serta menerangkannya dengan sangat lancar tentang seluk-beluknya bangunan kuno ini dan bagaimana upaya pemeliharaannya. Yang terakhir ini yang sebenarnya justru lebih menarik perhatian saya, dan bukan bangunan peninggalan kunonya.

Kalau soal peninggalan budaya kuno, rasa-rasanya di Indonesia ini hampir setiap Kabupaten memilikinya. Mulai dari yang terbesar candi Borobudur sampai peninggalan keraton hingga ke arca-arca kecil yang berumur ratusan tahun dari jaman Hindu, lengkap dengan ceritera legenda dan sejarahnya. Saking banyaknya, hingga “cenderung” tidak menarik lagi untuk dilihat, apalagi diampiri (dikunjungi).

Akibatnya, lebih dua puluh tahun saya ber-KTP Yogyakarta dan sempat lima tahunan tinggal di radius 250 meter dari Taman Sari, tapi tidak pernah tahu ada apa di sana, apa lagi paham ceritanya. Atau, teman saya yang asli Bali, tapi ya cengengesan saja kalau ditanya tentang apa dan bagaimana Tanah Lot. Itu kan urusannya para turis ……..

***

Petugas Taman Nasional yang berseragam khas baju warna khakhi, dengan telaten menjelaskan setiap jengkal dari bangunan kuno yang memang tidak besar itu. Karena hanya seperti menempel di rongga yang ada di lereng pegunungan. Di beberapa tempat tertulis : Dilarang bersandar, memanjat, menduduki atau menyentuh bangunan, karena khawatir keutuhan bangunan kuno itu akan terganggu. Benar-benar diperlakukan seperti bala pecah (barang mudah pecah). Petugas ini tidak segan-segan menegur pengunjung kalau dilihatnya ada pengunjung yang, entah karena tidak tahu atau ingin coba-coba, melanggar aturan yang ada.

Dari studi arkeologi diketahui bahwa suku Salado dan sebagaimana suku-suku Indian lainnya adalah hidup dengan cara bertani, yaitu di lembah Salt River yang kini terendam danau Roosevelt. Dari kelebihan hasil produksi pertanian mereka saat itu, kemudian mereka saling barter dengan hasil pertanian dari suku lain. Pada masa itu mereka sudah menjalin hubungan bisnis antar suku.

Mereka adalah suku nomaden. Sekitar tiga abad mereka tinggal di tempat itu lalu secara berkelompok pula pindah ke tempat lain. Meninggalkan bekas bangunan rumah yang selanjutnya tererosi, termakan oleh angin dan teriknya cahaya matahari, hingga akhirnya kini tinggal reruntuhannya saja yang masih bisa dikenali.

Sayangnya tidak diketemukan catatan tentang keberadaan mereka kemudian, juga tidak ada peninggalan yang menunjukkan tentang kehidupan bermasyarakat mereka saat itu. Hal yang paling berharga saat ini untuk menyingkap kehidupan suku Salado adalah melalui lukisan-lukisan di dinding, jejak asap api dari bekas tempat mereka memasak, benda-benda tembikar atau gerabah, dan sisa reruntuhan rumah mereka.

Sejak Monumen Nasional Tonto diresmikan oleh Presiden Theodore Roosevelt tahun 1907 di bawah Undang-Undang Purbakala tahun 1906, tidak satu pun benda-benda di situ boleh diganggu, apalagi diambil sisa-sisa reruntuhannya termasuk benda-benda peninggalan lainnya. Kalau ingat ini, eh …..lha kok Candi Prambanan di sana malah dipreteli kepalanya……..

Secara fisik, peninggalan rumah kuno budaya Salado ini struktur bangunan maupun arsitekturnya kelihatan biasa-biasa saja. Batu-batu belah disusun dengan menggunakan lempung karbonat sebagai semen perekat. Cara perekatannya pun tidak terlalu rapi dengan arsitektur sangat sederhana, terkesan asal ada dinding penyekat antar ruang-ruang, lalu di bagian atasnya dipasang usuk-usuk kayu. Meskipun harus diakui bahwa itu adalah hasil pekerjaan yang tidak mudah kalau mengingat pembangunannya dilakukan di rongga-rongga di lereng bukit di tempat yang tinggi.

Dari sisi ini saya masih lebih bangga kalau melihat bangunan candi di Jawa yang menurut alkisah disusun dengan menggunakan putih telur sebagai perekatnya (entah telurnya siapa saja, pasti banyak jumlahnya), dengan arsitektur yang lebih bernilai artistik dan umumnya berkomposisi simetris. Sehingga terkesan, siapapun yang membangun candi-candi itu pasti mempunyai budaya yang telah maju pada jamannya. Sementara budaya Salado yang ditemukan peninggalannya ini hidup pada sekitar abad ke-13 hingga 15, jauh lebih muda dibanding budaya Hindu yang membangun candi-candi di Jawa.

Namun dari sisi yang lain, saya menjadi sangat tidak bangga kalau ingat rasa memiliki bangsa saya terhadap peninggalan-peninggalan kuno kok masih memprihatinkan. Padahal kita mempunyai peninggalan kuno yang jauh lebih indah, bernilai karya seni tinggi dan banyak jumlahnya, dibandingkan dengan yang saya jumpai di Taman Monumen Nasional Tonto.

Tetapi kenapa mereka bisa demikian perduli dan sungguh-sungguh menjaga, merawat dan memberikan apresiasi terhadap monumen nasional yang sangat bernilai historis dan perlu dilestarikan. Sementara kita, boro-boro berkesadaran untuk menjaga dan merawatnya, lha wong kalau enggak ketahuan malah dicolongin dan dijual. 

Terlepas dari soal apakah ini ada kaitannya dengan faktor ekonomi atau kemiskinan atau kesejahteraan sehingga tidak urus dengan hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan hajat hidup, yang jelas ada satu tingkat kepedulian yang hilang dari kehidupan kita, dan rasanya itu perlu ditemukan kembali.

Kalau demikian, lalu menjadi tanggung jawab siapa untuk “membangunkan” bangsa kita, yang “seperti katak dalam tempurung” ini? Merasa dirinya yang paling baik, hanya gara-gara tidak pernah (mau) tahu bahwa di luar sana ada yang lebih baik. Anehnya tapi nyatanya, kalau ada yang memberitahukan tentang hal yang lebih baik itu malah tersinggung dan terkadang  malah ngonek-onekke (memaki-maki).

Terus terang, sebenarnya saya sendiri sebagai bagian dari katak itu merasa miris (ngeri dan berat hati) untuk mengatakan hal ini, tapi lha kok nyatanya memang demikian. Masih lebih enak kalau ngomongnya sama Gus Dur, paling-paling dijawab : “begitu saja kok repot ……”.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar