Posts Tagged ‘salado’

Musim Panas Di Arizona

5 Februari 2008

Pengantar :      

Tanggal 2 sampai 17 Agustus 2000 yang lalu saya melakukan perjalanan dinas ke kota Phoenix, ibukota negara bagian Arizona. Di sela-sela hari kerja di saat akhir pekan, saya menyempatkan untuk jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat menarik. Berikut ini catatan perjalanan saya.-

(1).    Api Di Mana-mana
(2).    Kaktus Raksasa Di Gurun Sonoran
(3).    Dunia Kecil Biosphere 2
(4).    Wisata Tambang Di Kota Hantu
(5).    Legenda Tentang Lost Dutchman Mine
(6).    Menyusuri Rute Apache Trail
(7).    Peninggalan Budaya Indian Salado
(8).    Bukit-bukit Merah Di Sedona
(9).    Jerome, Kota Tambang Di Lereng Gunung
(10).  Taman Nasional Gila

Yusuf Iskandar

Iklan

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(7).   Peninggalan Budaya Indian Salado

Hari sudah sore saat saya meninggalkan danau Roosevelt, dan perjalanan saya lanjutkan ke arah selatan menuju kota Globe untuk selanjutnya kembali ke Tempe. Belum jauh saya berjalan, sudah sampai di lokasi Taman Monumen Nasional Tonto, saat itu sekitar jam 4:15 sore. Ruang pusat pengunjung (visitor center) masih buka karena jam kerjanya hingga jam 5:00 sore. Ternyata di tempat ini ada peninggalan budaya suku Indian Salado, yaitu sisa bangunan rumah kuno di sebuah rongga atau semacam gua kecil di lereng pegunungan, di wilayah Hutan Taman Nasional Tonto.

Sebagai pemegang National Park Pass, saya bebas biaya US$5 untuk memasuki tempat ini dan saya bisa memperoleh segala informasi yang saya perlukan. Untuk mencapai ke lokasi peninggalan kuno di lereng gunung ini harus ditempuh dengan berjalan kaki mendaki sejauh kira-kira 1 km. Tidak terlalu tinggi memang, tapi cukup membuat napas ngos-ngosan.  Sebelum berjalan menuju monumen saya dipesan agar paling lambat jam 6:00 harus sudah tiba kembali ke ruang pengunjung. Saya perkirakan paling-paling satu jam saya sudah kembali.

Setiba saya di lokasi peninggalan kuno ini ternyata di sana masih ada pengunjung lain, dan masih ada petugas yang dengan setia menjawab setiap pertanyaan para pengunjung serta menerangkannya dengan sangat lancar tentang seluk-beluknya bangunan kuno ini dan bagaimana upaya pemeliharaannya. Yang terakhir ini yang sebenarnya justru lebih menarik perhatian saya, dan bukan bangunan peninggalan kunonya.

Kalau soal peninggalan budaya kuno, rasa-rasanya di Indonesia ini hampir setiap Kabupaten memilikinya. Mulai dari yang terbesar candi Borobudur sampai peninggalan keraton hingga ke arca-arca kecil yang berumur ratusan tahun dari jaman Hindu, lengkap dengan ceritera legenda dan sejarahnya. Saking banyaknya, hingga “cenderung” tidak menarik lagi untuk dilihat, apalagi diampiri (dikunjungi).

Akibatnya, lebih dua puluh tahun saya ber-KTP Yogyakarta dan sempat lima tahunan tinggal di radius 250 meter dari Taman Sari, tapi tidak pernah tahu ada apa di sana, apa lagi paham ceritanya. Atau, teman saya yang asli Bali, tapi ya cengengesan saja kalau ditanya tentang apa dan bagaimana Tanah Lot. Itu kan urusannya para turis ……..

***

Petugas Taman Nasional yang berseragam khas baju warna khakhi, dengan telaten menjelaskan setiap jengkal dari bangunan kuno yang memang tidak besar itu. Karena hanya seperti menempel di rongga yang ada di lereng pegunungan. Di beberapa tempat tertulis : Dilarang bersandar, memanjat, menduduki atau menyentuh bangunan, karena khawatir keutuhan bangunan kuno itu akan terganggu. Benar-benar diperlakukan seperti bala pecah (barang mudah pecah). Petugas ini tidak segan-segan menegur pengunjung kalau dilihatnya ada pengunjung yang, entah karena tidak tahu atau ingin coba-coba, melanggar aturan yang ada.

Dari studi arkeologi diketahui bahwa suku Salado dan sebagaimana suku-suku Indian lainnya adalah hidup dengan cara bertani, yaitu di lembah Salt River yang kini terendam danau Roosevelt. Dari kelebihan hasil produksi pertanian mereka saat itu, kemudian mereka saling barter dengan hasil pertanian dari suku lain. Pada masa itu mereka sudah menjalin hubungan bisnis antar suku.

Mereka adalah suku nomaden. Sekitar tiga abad mereka tinggal di tempat itu lalu secara berkelompok pula pindah ke tempat lain. Meninggalkan bekas bangunan rumah yang selanjutnya tererosi, termakan oleh angin dan teriknya cahaya matahari, hingga akhirnya kini tinggal reruntuhannya saja yang masih bisa dikenali.

Sayangnya tidak diketemukan catatan tentang keberadaan mereka kemudian, juga tidak ada peninggalan yang menunjukkan tentang kehidupan bermasyarakat mereka saat itu. Hal yang paling berharga saat ini untuk menyingkap kehidupan suku Salado adalah melalui lukisan-lukisan di dinding, jejak asap api dari bekas tempat mereka memasak, benda-benda tembikar atau gerabah, dan sisa reruntuhan rumah mereka.

Sejak Monumen Nasional Tonto diresmikan oleh Presiden Theodore Roosevelt tahun 1907 di bawah Undang-Undang Purbakala tahun 1906, tidak satu pun benda-benda di situ boleh diganggu, apalagi diambil sisa-sisa reruntuhannya termasuk benda-benda peninggalan lainnya. Kalau ingat ini, eh …..lha kok Candi Prambanan di sana malah dipreteli kepalanya……..

Secara fisik, peninggalan rumah kuno budaya Salado ini struktur bangunan maupun arsitekturnya kelihatan biasa-biasa saja. Batu-batu belah disusun dengan menggunakan lempung karbonat sebagai semen perekat. Cara perekatannya pun tidak terlalu rapi dengan arsitektur sangat sederhana, terkesan asal ada dinding penyekat antar ruang-ruang, lalu di bagian atasnya dipasang usuk-usuk kayu. Meskipun harus diakui bahwa itu adalah hasil pekerjaan yang tidak mudah kalau mengingat pembangunannya dilakukan di rongga-rongga di lereng bukit di tempat yang tinggi.

Dari sisi ini saya masih lebih bangga kalau melihat bangunan candi di Jawa yang menurut alkisah disusun dengan menggunakan putih telur sebagai perekatnya (entah telurnya siapa saja, pasti banyak jumlahnya), dengan arsitektur yang lebih bernilai artistik dan umumnya berkomposisi simetris. Sehingga terkesan, siapapun yang membangun candi-candi itu pasti mempunyai budaya yang telah maju pada jamannya. Sementara budaya Salado yang ditemukan peninggalannya ini hidup pada sekitar abad ke-13 hingga 15, jauh lebih muda dibanding budaya Hindu yang membangun candi-candi di Jawa.

Namun dari sisi yang lain, saya menjadi sangat tidak bangga kalau ingat rasa memiliki bangsa saya terhadap peninggalan-peninggalan kuno kok masih memprihatinkan. Padahal kita mempunyai peninggalan kuno yang jauh lebih indah, bernilai karya seni tinggi dan banyak jumlahnya, dibandingkan dengan yang saya jumpai di Taman Monumen Nasional Tonto.

Tetapi kenapa mereka bisa demikian perduli dan sungguh-sungguh menjaga, merawat dan memberikan apresiasi terhadap monumen nasional yang sangat bernilai historis dan perlu dilestarikan. Sementara kita, boro-boro berkesadaran untuk menjaga dan merawatnya, lha wong kalau enggak ketahuan malah dicolongin dan dijual. 

Terlepas dari soal apakah ini ada kaitannya dengan faktor ekonomi atau kemiskinan atau kesejahteraan sehingga tidak urus dengan hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan hajat hidup, yang jelas ada satu tingkat kepedulian yang hilang dari kehidupan kita, dan rasanya itu perlu ditemukan kembali.

Kalau demikian, lalu menjadi tanggung jawab siapa untuk “membangunkan” bangsa kita, yang “seperti katak dalam tempurung” ini? Merasa dirinya yang paling baik, hanya gara-gara tidak pernah (mau) tahu bahwa di luar sana ada yang lebih baik. Anehnya tapi nyatanya, kalau ada yang memberitahukan tentang hal yang lebih baik itu malah tersinggung dan terkadang  malah ngonek-onekke (memaki-maki).

Terus terang, sebenarnya saya sendiri sebagai bagian dari katak itu merasa miris (ngeri dan berat hati) untuk mengatakan hal ini, tapi lha kok nyatanya memang demikian. Masih lebih enak kalau ngomongnya sama Gus Dur, paling-paling dijawab : “begitu saja kok repot ……”.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(10).   Taman Nasional Gila

Hari Minggu, 13 Agustus 2000, sekitar jam 10:00 pagi saya melaju ke arah timur melalui jalan bebas hambatan Interstate 60. Hari itu saya merencanakan perjalanan agak jauh, menuju sisi timur dataran Arizona yang berbatasan dengan negara bagian New Mexico. Setiba di ujung jalan bebas hambatan, saya sempatkan untuk mengisi BBM dan membeli beberapa botol air mineral untuk bekal perjalanan. Sekitar 30 menit kemudian, di mil ke 54 (sekitar 86 km), saya tiba di kota Superior. Kota ini dulunya adalah sebuah kota tambang perak dan kini berkembang cukup ramai dan kelihatannya tidak “sempat” menjadi kota hantu.

Melaju ke timur lagi sejauh sekitar 27 km, saya tiba di kota kecil Miami (ini bukan kota Miami yang terkenal di pantai timur Florida). Sekitar 10 km kemudian saya tiba di kota Globe. Jalur antara kota Superior dan Globe merupakan jalur yang enak dilalui, selain jalannya yang mulus dengan lalu lintas tidak terlalu padat, tapi juga berpemandangan indah. Itu karena rute ini membelah Devil’s Canyon yang dinding-dindingnya menampakkan dengan jelas strata batuannya dan mempunyai punggungan bukit yang berbentuk runcing-runcing serta di beberapa tempat berbentuk seperti menara, dengan warna khas kemerah-merahan.

Kehidupan sebagai kota tambang mewarnai kedua kota Miami maupun Globe. Komunitas tambang di Globe terjadi pertama kali sekitar tahun 1860-an, saat booming produksi perak, lalu berikutnya kota ini juga berjaya dengan hasil tembaga. Hingga kini masih ada operasi tambang tembaga di kawasan Miami – Globe.

Salah satu perusahaan raksasa pertambangan Amerika, Phelps Dodge Corporation, kini masih mengoperasikan tambang dan pabrik peleburannya di kawasan Globe – Miami. Saat melewati kota Miami ini tampak di sebelah utara jalan berdiri pabrik peleburan (smelter) dan pemurnian (refinery) tembaga serta produk-produk sampingannya seperti emas, perak, selenium dan tembaga sulfida.

Meskipun Phelps Dodge dalam upayanya untuk meningkatkan effisiensi perusahaannya telah mengurangi kegiatan tambang tembaganya di Miami, namun tahun 1999 Phelps Dodge Mining Company mengakuisisi Cyprus Amax Minerals Company untuk menguasai 100% kepemilikan pabrik pemurnian tembaga di Miami. Korporasi ini menghasilkan sekitar 36% dari produksi tembaga di Amerika.

  

***

Selepas dari kota Globe, saya melanjutkan perjalanan lebih ke timur melalui jalan Highway 70 menuju kota Stafford hingga sampai di pertigaan dengan Highway 191. Ketika tiba di pertigaan inilah saya baru tersadar dan teringat bahwa sebenarnya saya baru saja melakukan “napak tilas” perjalanan saya tahun 1996 ketika berkunjung ke tambang tembaga Morenci. Karena empat tahun yang lalu saya hanya sebagai penumpang, maka tidak terlalu memperhatikan rutenya. Tapi kini saya ingat, bahwa saya pernah berada di tempat ini.

Pada bulan Maret 1996, dari pertigaan ini saya bersama tiga orang rekan kerja membelok ke Highway 191 menuju ke arah utara. Sekitar 55 km kemudian akan mencapai kota Morenci. Morenci adalah juga kota tambang karena di sini ada sebuah tambang tua tembaga yang dioperasikan oleh Phelps Dodge Mining Company. Tambang ini sudah beroperasi sejak tahun 1937 hingga sekarang.

Ketika korporasi yang mula-mula didirikan bersama oleh Anson Greene Phleps dan William Earl Dodge ini memutuskan untuk membuka tambang terbuka di Morenci, sebenarnya Amerika sedang dilanda depresi ekonomi yang luar biasa, yang dikenal dengan Great Depression. Tidak lama kemudian pecah Perang Dunia II, dan lalu tiba-tiba tembaga menjadi komoditi yang sangat dibutuhkan. Maka produksi tembaga pun menjadi strategis bagi pertahanan bangsa. Ya, karena untuk mensuplai bahan persenjataan perang.

Kini, tambang Morenci rata-rata setiap hari menghasilkan 800.000 ton batuan dan 135.000 ton di antaranya berupa bijih yang dikirim ke pabrik pengolahan (mill). Selain dari operasi tambang terbukanya, Morenci juga memiliki dua unit SX/EW (solution extraction/electrowinning), serta sebuah konsentrator. Karena itu tambang ini menyumbang sekitar 25% dari seluruh produksi tembaga yang dihasilkan oleh Phelps Dodge.

Barangkali dilandasi oleh kebanggaan atas sejarah panjang masa kejayaan tambang ini, maka kini tambang Morenci memberikan layanan masyarakat berupa wisata tambang (mine tour) ke sebuah tambang yang masih beroperasi, dengan tanpa dipungut biaya apapun. Sebuah kontribusi yang bisa tak ternilai harganya bagi masyarakat awam yang tidak pernah tahu tentang bagaimana sebuah tambang beroperasi. Kelak, pengetahuan dan pengalaman semacam ini pasti akan mampu memberikan pemahaman dan wawasan baru yang tak terduga bagi mereka yang memang tidak bergelut di dunia tambang. 

***

Kali ini saya tidak berbelok ke Morenci, melainkan terus melaju ke timur menuju perbatasan negara bagian New Mexico, melalui jalur panjang yang tampak gersang, sepi serta membosankan. Menjelang kota Lordsburg, saya berbelok ke utara menuju kota tambang lainnya, Silver City. Kota ini juga pernah merasakan kejayaannya ketika booming perak di akhir abad 19.

Dari kota ini saya terus menuju utara melalui State Road (SR) 15. Rute sepanjang 67 km yang sempit, mendaki dan berkelok-kelok serta berada di lereng gunung yang menyusuri hutan pinus, saya tempuh dengan sesekali mencuri kecepatan. Khawatir akan kesorean, saya menunda untuk berhenti menikmati pemandangan alam dari punggungan bukit yang saya lalui. Akhirnya dalam 1,5 jam saya tiba di lokasi Taman Monumen Nasional Gila (baca : Hila).

Tiba di ruang pusat pengunjung (visitor center) sebenarnya masih jam 4:30 sore dan cuaca juga masih cerah, tapi entah kenapa kok sudah tutup. Saya lalu langsung menuju ke lokasi taman Gila ini. Untungnya di sana belum tutup dan saya masih bisa menjumpai dua orang wanita petugas Taman Nasional. Dengan menunjukkan kartu National Parks Pass saya, maka dengan tanpa perlu membayar US$3 saya bisa langsung memasuki lokasi taman. Ini adalah Taman Monumen Nasional yang mirip-mirip dengan Taman Monumen Nasional Tonto tempat ditemukannya sisa-sisa bangunan peninggalan kuno suku Indian Salado.

Yang menarik perhatian saya mengunjungi Taman Gila ini adalah karena lokasnya berada di perbukitan yang profilnya membentuk seperti bongkahan batuan raksasa yang dinding-dinding batuannya nyaris tegak. Di dinding-dinding tegak itu ada beberapa gua bekas tempat tinggal suku Indian Mogollon pada abad ke 13. Untuk mencapai lokasi itu, harus berjalan mendaki dan memutar sejauh kira-kira 1 km.

Setiba saya di lokasi reruntuhan bangunan kuno, saya sudah disambut oleh seorang petugas wanita yang setia setiap saat menunjukkan, menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Bahkan akhirnya sayapun ditemani turun dari bukit menuju ke pintu keluar taman. Ya, karena rupanya saya adalah pengunjung terakhir sore itu.

Ada 7 gua di dinding perbukitan yang menghadap ke lembah yang curam dan pada 5 gua di antaranya dijumpai sisa peninggalan bangunan kuno. Dinding-dinding rumahnya dibangun dengan konstruksi batu-batu yang diambil dari daerah itu juga, dengan menggunakan lempung karbonat sebagai semennya. Batang-batang kayu yang dijumpai juga masih asli. Diindikasikan ada sekitar 10 hingga 15 keluarga suku Indian Mogollon pernah menempati bangunan-bangunan yang ada di situ dan ruangan-ruangan yang ada digunakan hanya untuk satu generasi. Mereka adalah masyarakat nomaden dan hidup sebagai petani dan pemburu.

Sebelum memasuki kawasan taman ini, seorang petugas menjelaskan tentang rute yang harus saya lalui serta me-wanti-wanti (berpesan) agar saya tidak mengganggu flora dan fauna yang saya jumpai. Termasuk kalau ketemu ular dilarang membunuhnya dan demikian halnya binatang-binatang sejenis burung dan tupai yang dilindungi. Dalam hati saya bertanya : Apa sih artinya seekor ular atau tupai di tempat itu, dibandingkan dengan ratusan ular atau bajing yang saya percaya masih banyak berkeliaran di sekitarnya.

Rupanya memang ada “pesan standard” yang harus disampaikan kepada setiap pengunjung Taman Nasional Gila. Bukan pesannya yang saya perhatikan, melainkan di baliknya ada tercermin rasa kepedulian yang lebih terhadap lingkungan di situ. Lha wong kalau saya pikir-pikir, apa sih kerugian si ibu petugas itu kalau umpamanya dia tidak usah repot-repot menasehati saya dan lalu saya membunuh ular misalnya. Rasanya juga tidak ada ruginya. Gajinya pun tidak akan dikurangi kalau misalnya dia hanya berdiri menjual karcis melayani pengunjung.

Tapi ternyata, si ibu itu tetap memilih untuk repot. Tapi begitulah, barangkali tradisi berpikir saya (atau orang lain yang juga tidak suka repot) masih belum nyandak (menjangkau) tradisi mereka dalam memberi apresiasi terhadap ekosistem dimana manusia hanyalah satu bagian kecil saja di dalamnya.

Saat senja saya baru meninggalkan Taman Nasional Gila ini, dan tiba ke kota Tempe saat tengah malam. Perjalanan panjang di musim panas baru saja saya akhiri. –

New Orleans, 4 September 2000
Yusuf Iskandar