Posts Tagged ‘sadurengas’

Goa Tengkorak Yang Tidak Menyeramkan

19 Maret 2008

Menyusuri sungai Kandilo di wilayah kabupaten Pasir, Kaltim, dengan naik ketinting kecil membuat dag-dig-dug juga mulanya. Sedikit saja badan bergoyang patah-patah karena mengatur posisi pantat sambil kedua tangan bertumpu di kedua sisi perahu, maka perahupun ikut oleng. Pendeknya, duduk mesti tenang dan diemmmm….. aja. Tapi lama-kelamaan jadi terbiasa juga menikmati olang-oleng-nya ketinting. Asal tidak tumplek… terbalik saja….. Bukan takut dengan air sungai, melainkan karena ada penghuni lain di sana, yaitu buaya sungai.

Sekali waktu, seorang teman melihat dan memberitahu ada buaya kecil menatap tajam di pinggir sungai. Ketika ditanyakan kepada tukang ketinting (lebih biasa disebut motoris), sang pengemudi perahu diam seribu basa dan cuek saja, pura-pura tidak mendengar. Tanya kenapa? Nampaknya bagi masyarakat sekitar adalah tabu membicarakan perihal buaya di depan beliaunya (beliau buaya, maksudnya). Seperti kata pepatah, biarlah buaya menatap tajam, ketinting tetap berlalu. Agar tidak saling mengganggu dan (insya Allah) selamat…… Pantang untuk saling bertegur sapa dengan buaya.

Selain buaya, jenis binatang yang sering saya jumpai di sepanjang tepian sungai ini adalah berang-berang, kera kampung (saya tidak tahu namanya), bekantan (kera berhidung mancung) dan tentu saja bangsa burung-burungan, tidak termasuk cucakrowo sing dowo buntute… .

Namun yang paling spektakuler adalah ketika melewati sepenggal perbukitan kapur. Dinding batu kapur yang terbelah sungai, di atasnya ditumbuhi pepohonan rimbun, sehingga terasa teduh dan berhawa segar. Pemandangan ke arah timur, di sana terbentang bukit kapur yang menjulang tinggi. Sorotan matahari sore memberi rona bayangan pada dinding bukit kapur yang menjulang tinggi itu jadi tampak kemerah-merahan. Menakjubkan! Sayang adoh lor adoh kidul…., sehingga sulit untuk dijangkau wisatawan.

*** 

Hari sudah menjelang maghrib ketika kami hampir tiba kembali ke desa Kesungai. Pandangan mata tertuju pada dinding batu terjal yang ternyata di atas sana ada sebuah goa. Namanya goa Tengkorak. Menilik namanya, maka kesan mistis, angker dan menyeramkan,  yang pertama terbayang. Apalagi hari sudah rembang petang. Tapi menimbang bahwa kapan lagi bisa nyambangi goa isi tengkorak di tempat terpencil itu, maka terlalu sayang untuk dilewatkan. Ketinting pun menepi ke sisi barat, menurunkan kami. Tukang ketintingnya dipersilakan langsung pulang, sementara kami akan melihat-lihat goa Tengkorak, dan pulangnya jalan kaki saja.

Untuk naik menuju mulut goa tidak terlalu susah, hanya perlu memanjat lebih seratus anak tangga. Ya, susah juga sih sebenarnya….. Ngos-ngosan….. Mulut goanya berada di sekitar pertengahan dinding tegak lurus gunung kapur setinggi lebih 50 meter, yang dari kejauhan tampak berwarna putih. Di sana sudah terpasang menara kayu komplit dengan anak tangga zig-zag. Fasilitas itu memang disediakan oleh pemerintah guna memberi kemudahan bagi wisatawan yang ingin nyambangi tengkorak-tengkorak di dalam goa.

Yang disebut goa ini sebenarnya hanya cerukan kecil. Tinggi mulut goanya sekitar 1,5 meteran, sehingga untuk masuk ke dalamnya badan mesti rada dibungkukkan. Lebar guanya 2 meteran dan kedalaman ceruk goa ini tidak sampai 10 meter. Tidak jauh dari mulut gua terlihat onggokan tengkorak-tengkorak dan tulang belulang bekas manusia yang tertata rapi berjajar tiga baris.

Kata orang, jumlah tengkoraknya ada 37 buah. Karena penasaran saya hitung juga, ketemunya 35 buah. Dihitung ulang tetap saja 35 buah. Ya sudah, pokoknya percaya saja jumlahnya 37 buah.

Kata orang juga, tengkorak-tengkorak ini harum baunya. Karena penasaran saya coba mengambus-ambuskan hidung sambil membuka lubang hidung lebar-lebar (meskipun saya tahu ukuran lubang hidung saya ya tetap saja segitu), tidak juga tercium aroma harumnya. Ya sudah, pokoknya percaya saja baunya harum. Ketimbang kuwalat.

Masih kata orang, jangan coba-coba mengambil tengkorak atau tulang-tulang yang ada di situ. Yang sudah-sudah, orangnya bakal ketimpa musibah. Ya sudah, tidak usah mengambil tengkorak. Hanya wisatawan kurang kerjaan saja rasanya yang mau nyangking tengkorak di bawa pulang…..

Konon tengkorak dan tulang belulang itu dahulu milik raganya para nenek dan moyangnya masyarakat Pasir, pada jaman kerajaan Sadurengas pada abad 16 Masehi. Masyarakat jaman itu adalah penganut kepercayaan Hindu Kaharingan, sebelum datangnya ekspedisi Islam dari Kesultanan Demak.

Di jaman itu orang yang meninggal dunia mayatnya tidak dikubur, melainkan dipak dengan setangkup kayu yang disebut lungut, atau di-blusuk-kan ke dalam lubang kayu yang sengaja dibuat untuk itu. Proses pengepakan ini berlangsung sekitar setahun hingga jasadnya habis dan tinggal tersisa tengkorak dan kerangkanya. Tidak ada keterangan yang menjelaskan tentang bagaimana menangani baunya. Barulah kemudian tengkorak dan tulang-belulangnya dipindahkan ke ceruk-ceruk atau goa-goa di dinding batu melalui upacara adat. Sebagian di antaranya, ya yang sekarang masih bisa ditemukan di goa Tengkorak itu.    

Untuk mencapai lokasi goa Tengkorak tidaklah sulit. Sebelum memasuki Batu Kajang, desa dimana berada perusahaan tambang batubara PT. Kideco Jaya Agung dari arah Balikpapan lalu masuk ke kanan. Ada petunjuk arah cukup jelas terpasang di pinggir jalan. Masuk menuju desa Kesungai sekitar 4 km, lalu jalan kaki sejauh kurang-lebih satu kilometer menyeberangi dua jembatan gantung beralas kayu yang melintas di atas sungai Kesungai dan sungai Kandilo. Pemandangan dari bawah goa juga cukup bagus, karena memang letaknya di ketinggian.

Meski bernama goa Tengkorak dan di dalamnya banyak tengkoraknya, tapi sungguh ini bukan tempat yang menyeramkan. Kalaupun ada yang menyeramkan, itu karena para tengkoraknya pada meringis (yang tidak meringis berarti tengkoraknya ompong……..).

Selain goa Tengkorak, sebenarnya ada satu goa lagi yang konon lebih besar, lebih misterius tapi indah. Namanya goa Lojang. Letaknya tidak terlalu jauh dari goa Tengkorak, dan tidak perlu menyeberang jembatan gantung. Juga berada di tengah tebing tegak bukit kapur yang lebih tinggi. Dapat ditebak bahwa goa ini indah karena di dalamnya banyak stalaktit dan stalagmit, dan misterius karena tidak seorang pun tahu dimana ujungnya. Mungkin lebih tepat disebut ujung goanya belum ditemukan. Lha wong namanya goa di bukit kapur……..

Namun sayang karena hari semakin gelap, saya tidak sempat menyinggahi goa Lojang. Pasti semakin gelap pula di dalam goanya. Namun sayang yang kedua adalah karena kedua goa itu nampaknya belum menjadi perhatian pemerintah setempat untuk dijual kepada wisatawan. Padahal potensi nilai jual kawasan bukit kapur itu tergolong tinggi. Paling-paling masyarakat Batu Kajang dan sekitarnya yang keluar-masuk daerah itu, termasuk para pegawai tambang batubara di dekat situ.

Yogyakarta, 1 Maret 2007
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama

Alkisah, pada awal abad ke 16, tepatnya pada tahun 1516 Masehi berdirilah kerajaan Sadurengas yang kemudian dinamakan Kesultanan Pasir. Kerajaan ini pertama kali dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Putri Di Dalam Petung (kalau di Inggris barangkali akan dipanggil Lady Di). Wilayah kekuasaan kerajaan Sadurengas ini meliputi wilayah kabupaten Pasir yang ada sekarang, ditambah dengan kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian propinsi Kalimantan Selatan.

Pada tahun 1523, sang Putri Di menikah dengan seorang pimpinan ekspedisi agama Islam dari Kesultanan Demak bernama Abu Mansyur Indra Jaya. Pasangan ini memperoleh empat orang anak, yang kemudian berturut-turut akan menurunkan pewarisnya memimpin Kesultaan Pasir. Begitu turun-temurun hingga selama tiga abad Kesultanan Pasir dipimpin oleh anak-cucu-buyut-canggah-canggahnya-canggah-dst dari pasangan Putri Di dan Abu Mansyur. Hingga sampai pada periode tahun 1900 – 1906 dimana Pangeran Mangku Jaya Kesuma yang menjabat sebagai sultan terakhir Kesultanan Pasir.

Entah bagaimana proses transisinya, menurut catatan sejarah, setelah masa pemerintahan kesultanan terakhir itu kemudian berubah menjadi masa perjuangan rakyat Pasir melawan kolonial Belanda. Hingga tahun 1959 wilayah Pasir berstatus sebagai sebuah kawedanan dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Dan tahun 1959 itulah yang dianggap sebagai tahun berdirinya kabupaten Pasir.

Rupanya masyarakat Pasir tidak menginginkan menjadi bagian dari wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Baru pada tahun 1961 kabupaten Pasir bergabung dengan propinsi Kalimantan Timur, setelah melalui perjuangan panjang para tokoh masyarakat Pasir sejak tahun 1950. Melalui resolusi demi resolusi, tuntutan demi tuntutan, desakan demi desakan dan segala macamnya kepada pemerintah pusat, hingga akhirnya dapat kembali bergabung dengan Kalimantan Timur, dari sebelumnya menjadi bagian dari wilayah kabupaten Kota Baru, Kalimanan Selatan.

***

Menilik catatan sejarah kabupaten Pasir, memang rada-rada unik. Karena itulah maka saya tertarik membacanya. Rupanya masih ada darah Demak di dalam darah anak keturunan kesultanan Pasir. Pantas kalau kedua kabupaten itu mestinya menjalin kerjasama sebagai kota kembar (sister city). 

Kalau biasanya propinsi yang berebut kabupaten, maka Pasir telah berjuang sendiri memekarkan dirinya dari kawedanan menjadi kabupaten dan pindah propinsi, dan akhirnya berhasil. Maka masyarakat Pasir layak bangga dengan eksistensi ke-Pasir-annya.

Kini masih ada obsesi lain sedang diperjungkan oleh para tokoh masyarakat Pasir, yang langsung dipelopori oleh bupatinya sendiri. Obsesi untuk mengubah, mengganti dan mengembalikan penulisan dan pelafalan kata “pasir” menjadi “paser” sesuai nama penduduk asli (etnis) daerah ini. Salah kaprah penulisan dan pelafalan “paser” menjadi “pasir”, menurut anekdot bermula karena kesulitan etnis tertentu dalam menyebut fonem “e”, dan lebih akrab dengan fonem “i”.

Apalah artinya sebuah nama, begitu kira-kira kita akan memandangnya. Namun tidak demikian dengan para tokoh di kabupaten Pasir. Perubahan nama Kabupaten Pasir menjadi Kabupaten Paser dan ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser, tetap perlu diperjuangkan, karena akan mendorong semangat membangun Kabupaten Pasir untuk lebih maju dari sekarang, begitu cita-citanya.

Setiap perubahan tentu ada yang pro dan ada yang kontra. Ada yang ingin tetap menjadi Pasir dan ada yang ingin berubah menjadi Paser. Agaknya sikap bupati Pasir yang sekarang, H.M. Ridwan Suwidi, cukup bijaksana dan layak dicontoh oleh siapapun yang suka pada perubahan. “Lahirkan kesepakatan yang damai, jika terjadi cekcok akibat tak searah pandang cukup sampai hari ini, karena apalah arti sebuah nama, tetapi dengan nama akan melahirkan cahaya mutiara-mutiara menuju masa depan yang lebih maju”, begitu katanya.

Mencermati perkembangan terakhir dunia perpolitikan kabupaten Pasir, ada yang menarik dengan sikap demokratisasi yang sedang berkembang. Tidak serta-merta wakil rakyat bersidang lalu voting dan ketuk palu. Kuisioner pun disebarkan ke segenap penjuru. Hasil sementara menunjukkan lebih banyak warga masyarakat yang setuju perubahan nama dari kabupaten Pasir menjadi Paser, namun lebih banyak yang tidak setuju perubahan nama ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser.

Tidak cukup dengan kuisioner. Jajak pendapat SMS pun dibuka bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya, bak acara polling-polling-an di televisi. Hasil sementaranya menunjukkan bahwa 75% pengirim SMS setuju perubahan nama kabupaten Pasir menjadi kabupaten Paser, sementara hanya 25% pengirim SMS yang setuju perubahan nama ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser.

Singkat cerita, tidak perlu ada chaos, tidak perlu gontok-gontokan, tidak perlu timpuk-timpukan atau ngotot-ngototan untuk membuat sebuah perubahan. Apapun hasilnya, Pasir dan Tanah (juga batubara dan air sungai Kandilo) tetap akan ada disana. Hidup Pasir…..! Hidup Paser…..!

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar