Posts Tagged ‘rumah makan’

Ada Pilihan Sop Gurami Di Serang

15 Mei 2008

Hari sudah agak malam ketika saya tiba di kota Serang, Banten. Baru saja keluar di pintu tol Serang Timur dari arah Jakata dan perjalanan masih akan berlanjut ke kota Pandeglang. Sudah tiba waktunya makan malam. Karena itu perlu segera mencari tempat makan yang mudah ditemukan lokasinya, tidak perlu keluar jauh dari jalur utama dan tentu saja yang menunya enak, tidak harus enak sekali.

Pak sopir yang mengantar saya merekomendasikan untuk mampir ke rumah makan “S” Rizky. Menilik namanya memang berkesan kurang “menjual”. Hanya karena pak sopir menambahi, katanya : “sopnya enak, pak…”, maka saya lalu menyetujuinya.

Lokasinya mudah dicapai di dalam kota, tepatnya di Jl. Jendral Sudirman, dekat perempatan Ciceuri. Malam itu rumah makan sudah agak sepi, nampaknya memang sudah menjelang waktunya tutup. Syukurnya kami masih dilayani dengan baik.

Sesuai dengan alasan pertama mampir adalah karena katanya sopnya enak, maka menu sop-sopan segera dipesan. Ada tiga macam sop yang dtawarkan malam itu, yaitu sop buntut, sop buntut goreng dan sop gurami. Mendengar namanya saja saya sudah bingung memilih. (Lha iya, memilih satu dari tiga yang sama enaknya saja susah, apalagi memilih satu dari lebih lima puluh yang tidak sama enaknya atau sama tidak enaknya….).

Karena dimungkinkan untuk memilih dua, maka kami pesan sop buntut dan sop gurami masing-masing satu porsi. Kebetulan gurami yang ukuran kecil habis, apa boleh buat yang berukuran besar pun tidak mengapa, sepanjang tingkat keenakannya tidak berpengaruh.

Tidak terlalu lama menunggu, segera saja seporsi sop buntut Rizky, begitu judulnya, tersaji di meja. Tanpa menunggu sop gurami datang, langsung saja beraksi dengan sruputan pertama kuahnya, diikuti gigitan pertama daging buntutnya, baru dicampur dengan nasi. Dagingnya empuk benar, dipadu dengan irisan wortel, kentang, daun bawang dan kepyuran emping melinjo. Terbukti memang benar kata pak sopir tadi. Sopnya enak. Ini sudah cukup memenuhi syarat untuk memuaskan perut keroncongan.

Kemudian sop guraminya disajikan sampai munjung isi mangkuknya. Lha, wong guraminya yang ukuran besar, padahal sudah dipotong-potong. Serat-serat daging guraminya terasa sekali sejak gigitan pertama dan rasa ikannya juga masih terasa segar. Pertanda bahwa ikan guraminya masih segar. Padahal yang saya khawatirkan tadinya adalah kalau ikan guraminya sudah kurang segar, maka akan pupuslah kesedapan sop yang saya bayangkan. Paduan dalam kuahnya adalah daun bawang irisan agak besar-besar, disertai kilasan rasa jahe. Pas benar taste-ya.

***

Rumah makan “S” Rizky ini rupanya kepunyaan pak Bupati Pandeglang. Selain yang saya kunjungi di Serang malam itu, masih ada dua rumah makan lainnya yang masih satu kepemilikan yang masing-masing berada di kota Pandeglang dan Labuan. 

Saya memang tidak bisa berlama-lama terhanyut dalam kenikmatan sop buntut dan sop gurami, mengingat perjalanan malam masih harus dilanjutkan 2-3 jam lagi. Itupun perut sudah terasa kenyang, wong dihadapkan dengan seporsi sop buntut plus seporsi sop gurami besar. Tentu saja tidak saya habiskan sendiri, melainkan gotong royong dengan pak sopir. Tapi ya tetap saja meyebabkan jadi agak malas untuk berdiri kembali ke kendaraan karena kekenyangan.

Setidak-tidaknya menu sop rumah makan “S” Rizky ini layak untuk menjadi pilihan bilamana sedang mampir ke kota Serang dan kepingin singgah sebentar untuk makan. Selain menu sop-sopan, di sini juga tersedia menu lainnya, termasuk aneka minuman dan jus yang dinamai menggunakan nama-nama gaul sebagai penarik. Meski tidak tergolong hoenak sekali, tapi tidak mengecewakan, terutama sop guraminya itu…..

Yogyakarta, 15 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Pecel Lele “Sabar Menanti”

16 April 2008

Maaf, bukannya mau ngiming-imingi, tapi makan itu memang enak dan perlu. Kali ini info pilihan makan untuk kondisi ingin cepat, enak dan murah. Suatu ketika Anda sedang dalam perjalanan menuju Yogya dari arah timur, perut keroncongan, bingung dan malas untuk blusukan mencari-cari restoran yang enak. Maka rumah makan “Sabar Menanti” bisa menjadi jujugan yang tidak akan mengecewakan. Lokasinya di pinggir jalan raya dan mudah dicapai.

Kalau dari arah timur mau masuk Yogya, lokasinya kira-kira 500 meter sebelum pertigaan bandara Adisutjipto, sebelah kiri atau selatan jalan sebelum tikungan. Kalau dari arah Yogya, ya kebalikannya to……, kira-kira 500 meter setelah pertigaan bandara Adisutjipto, setelah tikungan, di sisi kanan jalan. Ada puluhan bahkan ratusan rumah makan di sepanjang jalan Yogya – Solo, dan Sabar Menanti layak dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan.

Di antara kelebihannya adalah pelayananan yang cepat, karena self-service. Tidak sesuai dengan namanya, di rumah makan ini Anda tidak perlu menanti berlama-lama untuk makan. Pasalnya, diterapkan sistem prasmanan….. Jadi ingat seperti jaman kost di Bandung belasan tahun yang lalu : masuk, ambil piring, ambil nasi-lauk-sayur, dihitung kasir, bayar, makan, pulang. Kalau perlu tanpa ngomong sepatah kata pun.

Kelebihan yang kedua, tersedia segala macam masakan. Ibaratnya, kepingin menu apa saja ada. Tinggal ambil sedikit atau sebanyak yang dimaui, lalu ditunjukkan kepada petugas kasir, maka kasir akan menghitung harganya. Untuk menu-menu tertentu perlu pesan dulu, biasanya tidak harus menunggu lama. Ketersediaan menunya lebih komplit dibanding rumah makan padang.

Kelebihan ketiga, lha ini yang penting……, ada menu istimewa yang jangan dilewatkan, yaitu pecel lele plus lalapan sambal terasi dan oseng-oseng cabai hijau. Sueeedap sekale. Jangan lupa pesan juga es dawet ndeso. Mak nyesss….. Seprana-seprene makan di restoran, jarang-jarang saya sampai keringatan, hingga terasa gatal di kulit kepala.

Soal harga? Kategori wajar, bahkan cenderung murah untuk “performance” yang seperti pernah saya alami.

Tahun 1985, rumah makan ini sebenarnya hanya berupa gubuk reot di sisi utara jalan. Jadi ampiran para buruh, pegawai dan sopir-sopir. Eh, lha kok sekarang sudah berdiri magrong-magrong tepat di seberang jalan dari gubuknya yang lama, yang kini masih terlihat sosoknya. Ketika siang itu saya mampir untuk makan siang menjelang sore, di sana masih terlihat banyak kendaraan berplat nomor luar Yogya. Rupanya rombongan keluarga yang baru melakukan perjalanan liburan. Itulah, menilik lokasinya memang cocok menjadi salah satu pilihan untuk tempat singgah makan yang cepat, enak dan murah. Suasana makannya bukan seperti makan lesehan bersuasana pedesaan, melainkan suasana restoran.

Entah pemicu kesuksesan macam apa yang dialami oleh pemilik resto “Sabar Menanti” ini. Namun kalau menilik perjalanan rentang waktu yang dilaluinya, pasti karena keuletan dan kesabaran saja yang jadi kuncinya.

Jadi, kalau lagi jalan-jalan menuju Yogya dan ingin segera cari makan yang cepat, enak dan murah? Monggo……., “Sabar Menanti” bisa jadi pilihan. (Jangan lupa ya? Pecel lele dan oseng-oseng lombok hijaunya hueenak tenan…..).

Wis, ah….

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 23 Juli 2004.

Menu Ikan “Boyong Kalegan”

16 April 2008

Makan lagi, makan lagi dan makan lagi. Bagi orang Yogya dan sekitarnya, barangkali nama “Boyong Kalegan” sudah cukup dikenal. Ini terkait dengan nama rumah makan yang menyediakan menu ikan air tawar, seperti gurami, nila atau bawal, dibakar atau digoreng.

Bagi yang belum kenal, rumah makan “Boyong Kalegan” adalah generasi penerus (maksudnya, mengikuti dan meneruskan) kesuksesan rumah makan “Moro Lejar” yang sudah lebih dahulu populer. Sejak “Moro Lejar” ngetop, bermunculanlah rumah-rumah makan sejenis ini di seputaran Yogya. Sejenis dalam hal menu yang disajikan, sejenis dalam hal pilihan lokasinya, dan sejenis dalam hal penataan ruangnya. Karena itu, “Boyong Kalegan” sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat makan lainnya yang juga menawarkan menu ikan air tawar.

Soal penyajian biasa-biasa saja. Soal rasa, lidah saya menilainya “cukup enak” saja, masih di bawah kategori “uenak tenan”. Meskipun begitu toh apa yang saya pesan, lalu disajikan, ternyata habis juga saya lahap bersama istri dan anak-anak. Ya dasarnya memang suka makan, dan siang itu sedang terlambat makan siang.

Namun, “Boyong Kalegan” mempunyai keunggulan yang jarang dijumpai di rumah makan sejenis lainnya di Yogya. Pertama, lokasinya strategis dan pencapaiannya mudah. Dari Yogya, ikuti saja jalan Kaliurang dan terus naik sampai menjelang masuk daerah Pakem. Lalu belok kiri atau ke barat di pertigaan jalan alternatif menuju Turi dan jalan raya menuju Magelang. Ikuti terus jalan alternatif yang naik-turun dan belak-belok ini hingga sampai pada jembatan sungai Boyong, dimana di sisi kiri dan kanan sebelum jembatan ada terlihat pondok-pondok rumah makan. Nah, “Boyong Kalegan” ada di sisi yang kanan.

Demikian juga jika masuk dari arah jalan raya Yogya – Magelang, maka belok ke kanan atau timur ketika ketemu dengan pertigaan Tempel yang menuju ke jalan alternatif menuju Kaliurang dan Prambanan. Ada rambu jalan yang cukup mudah diikuti. Letaknya pun berada agak di bawah badan jalan alternatif, sehingga pondok-pondok makannya nampak jelas terlihat dari jalan.

Keunggulan kedua, memiliki pemandaan alam yang cukup bagus dan angin yang semilir karena lokasinya berada agak di lembah, di sisi sungai, selain topografinya memang lebih tinggi dari kota Yogya.

Keunggulan ketiga, di tengah kawasan pondok makan ini dibuat kolam ikan yang di sana disediakan gethek (rakit bambu). Kolamnya memang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk anak-anak berakit-rakit (tanpa berenang-renang). Dengan naik rakit itu, anak-anak bisa ikut memberi makan para ikan yang ada di kolam. Orang tuanya kalau mau ikutan naik rakit juga boleh.

Untuk ukuran Yogya, tempat ini cukup enak dikunjungi. Meskipun sebenarnya biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan pondok-pondok makan sejenis yang banyak bertebaran di daerah Jawa Barat. Intinya adalah, jika kita berkunjung ke “Boyong Kalegan” lalu harus membayar agak mahal, maka harus dipahami bahwa sebenarnya kita memang sedang membeli nilai tambah dari keunggulan-keunggulan yang ditawarkan. Selebihnya, tidak lebih dari sekedar membeli makan sambil relaks beristirahat.

Sejenak beristirahat ketika sedang berada di sisi utara kota Yogya, sambil makan siang dan berekreasi bersama keluarga………… Monggo, “Boyong Kalegan” bisa menjadi salah satu pilihan.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 25 Juli 2004

Ketika Pasutri Bugis Dan Manado Membuka Rumah Makan

7 April 2008

Pak H. Tahir yang asal Bugis bergandengan dengan ibu Jetty yang asal Manado, lalu pasangan suami-istri itu menyapa masyarakat Balikpapan dengan “Hai”. Maka, jadilah rumah makan “Bumahai”.

Sesederhana itu. Mulanya rumah makan ikan bakar yang terletak di jalan Marsma R. Iswahyudi itu mau diberi nama “Sepinggan”, karena lokasinya memang berada di jalan utama menuju bandara Sepinggan, Balikpapan. Kurang dari sepuluh menitan dari bandara. Tapi mengingat kata sepinggan bisa berarti sepiring, Pak dan Bu Tahir ini ciut juga nyalinya. Jangan-jangan nanti pelanggannya hanya memesan sepiring dua saja lalu pergi. Akhirnya ditemukanlah judul “Bumahai” itu.

Apalah artinya sebuah nama. Tapi pilihan nama memang perlu karena dia adalah brand image, dan selalu ada harapan atau filosofi di baliknya. Perkara maknanya pas atau plesetan, itu soal lain.

***

Restoran yang menyediakan menu masakan Bugis dan Manado dengan bahan dasar ikan ini memang layak untuk disambangi. Sejak berdiri 12 tahun yang lalu ketika masih berada di pinggir jalan, hingga kini pindah agak masuk di belakang pertokoan dan menempati area yang lebih longgar, rumah makan ini banyak dan sering dikunjungi para pengudap dan penikmat makan. Racikan bumbu dan olahan setiap menunya tergolong huenak dan pas di lidah siapa saja. Bukan saja penggemar menu Bugis atau Manado.

Sebut saja aneka ikan baronang, terkulu, bawal, kakap, patin, kerapu, udang, cumi dan kawan-kawannya dari laut yang diolah menjadi menu gorengan atau bakaran. Salah satu menunya adalah woku belanga, yaitu ikan dimasak kuah ditambah dengan asam dan sedikit kunyit. Coba dan rasakan sruputan pertama kuahnya. Wuih….cesss…., kuah agak bening kekuningan mengalir di tenggorokan dengan taste yang khas.

Juga ikan bakar atau goreng dengan bumbu kuning, rica atau goreng biasa, rasa gurihnya terasa tidak berlebihan dan proporsional. Oseng kangkungnya divariasi dengan bunga pepaya (biasanya dari jenis pohon pepaya laki-laki, dan entah kenapa pohon pepaya perempuan kok tidak keluar bunganya sebanyak pepaya laki-laki), dengan ramuan bumbu khas Manado yang pas benar pedasnya. Sehingga bagi lidah Jogja yang terbiasa dengan rasa manis pun tidak terasa terganggu.

Daun ubi dicampur dengan daun pepaya rebus, dipadu dengan sambal tomat dan irisan bawang merah, memaksa saya menambah pesanan sepiring lagi. Perkedel jagungnya juga beda dari yang biasa saya jumpai di Jawa. Perkedel dengan prithilan jagungnya dibiarkan utuh, tidak diparut atau di-ulek (dihaluskan), dicampur dengan adonan tepung sehingga menyelaputi tipis saja. Tapi tetap terasa renyah, empuk dan butir jagungnya tidak menggangu kerja gigi untuk mengunyahnya.

Rasanya pantas kalau rumah makan “Bumahai” ini pada tahun 2001 pernah dianugerahi ASEAN Social and Economic Cooperation Golden Award, khusus bidang Food and Service. Hingga kini rumah makan “Bumahai” tetap ramai dikunjungi pelanggan, terutama pada jam-jam makan siang. Buka seharian hingga malam, kecuali kalau hari Minggu, sore hari sudah tutup.

Demi menjaga kualitas sajiannya, Bu Jetty turun tangan sendiri untuk masalah quality control terhadap bumbu dan cita rasa. Agaknya unit usaha rumah makan ini tetap menjadi andalan bagi keluarga Pak Tahir, kendati tetap menekuni bidang-bidang bisnis lainnya.

Harga yang mesti dibayar untuk kepuasan urusan selera lidah dan perut ini termasuk wajar untuk ukuran biaya hidup di Balikpapan yang rata-rata lebih tinggi dibanding kota-kota besar di Indonesia lainnya. Pelayanannya pun cukup memuaskan. Kalau ada kesempatan dibayari, rasanya saya tidak akan menolak untuk diajak mampir ke “Bumahai” lagi. Namanya juga dibayarin…, enggak ada ruginya….

Cengkareng, 9 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Beda Bikin Marem, Di Marem Pondok Seafood

7 April 2008

(1)

Mencari makan malam di saat kemalaman di malam Minggu. Akhirnya kami sekeluarga menuju ke pondok makan menu ikan laut di bilangan jalan Wonosari, Yogyakarta. ‘Marem’ Pondok Seafood, judul rumah makannya, yang ternyata malam itu tutup lebih malam dari malam-malam biasanya. Jam buka normalnya mulai jam 10 pagi sampai jam 9 malam.

Malam Minggu kemarin itu adalah kunjungan kami yang ketiga kali. Tentu ada alasan kenapa sampai berkunjung kesana berkali-kali. Ya, apalagi kalau bukan karena masakannya cocok, enak dan harganya wajar. Yang ngangeni (bikin kangen)dari rumah makan ini adalah menu ca kangkung dan udang galah hotplate, sedangkan menu lainnya juga sama enaknya.

Lokasinya agak tersembunyi tapi mudah dicapai. Dari Yogya menuju ke arah jalan Wonosari, ketemu traffic light pertama lalu belok kanan. Marem’ Pondok Seafood kira-kira berada 200 meter dari perempatan di sisi sebelah kiri. Rumah makan yang mengusung motto “Coba yang beda, beda bikin marem” (kedengaran seadanya dan rada kurang menjual) ini sebenarnya menempati areal yang tidak terlalu besar, tapi tertata apik dan rapi.

Menu unggulannya adalah udang galah marem hotplate. Bisa ditebak, ini udang galah goreng yang dimasak mirp-mirip bumbu asam manis dan disajikan di atas wadah yang masih panas berasap. Rasa udangnya, irisan paprika dan bawang bombay-nya begitu mengena di lidah, demikian halnya dengan kuah kental yang menyelimutinya. Taste yang berbeda dari yang biasanya saya temui di rumah makan lain. Lain rumah makan, pasti lain pula rasanya. Tapi yang ini beda. Ya, beda bikin marem, itu tadi.

Tiga kali kami berkunjung, tiga kali pula udang galah kami nikmati hingga ludes sekuah-kuahnya. Untung saja plate-nya hot, kalau tidak….. nasinya saya tuang ke plate, agar bisa dikoreti kuahnya……

Selain udang ada juga pilihan kepiting yang didatangkan dari Tarakan, Kaltim. Ada kepiting jantan, kepiting telor dan kepiting gembur. Juga cumi dan kerang. Meski judulnya seafood, tapi juga tersedia ikan gurame, nila dan bawal.

Sayurnya ada aneka pilihan sup, ca kangkung, tauge ikan asin atau oseng jamur putih. Nah, ca kangkungnya ini yang ngangeni. Padahal dimana-mana yang namanya ca atau tumis atau oseng kangkung ya pasti kayak gitu juga, tapi yang ini hoenak tenan….. Selain racikan masakannya yang mak nyuss, kangkungnya sendiri rupanya agak beda. Ya, beda bikin marem, itu tadi.

Setiap kali saya tanya darimana kangkungnya, setiapkali pula tidak pernah dijawab jelas oleh pelayannya, selain hanya mengatakan ada pemasoknya. Agaknya memang dirahasiakan. Batang kangkungnya kemrenyes seperti kangkung plecing dari Lombok, daunnya lebar-lebar, disajikan agak belum masak sekali sehingga warna hijaunya masih seindah warna aslinya. Dan, inilah rahasia menikmati ca kangkung, yaitu makanlah selagi masih fanas (pakai ‘f’, karena kepanasan sehingga bibir susah mengucap ‘p’). Kalau ditunggu dingin, maka Anda akan kehilangan sensasi kemrenyes dari kangkungnya.

Ada juga lalapan plus pilihan sambalnya, mau sambal bawang mentah, sambal terasi mentah atau samal tomat goreng. Minumnya? Terakhir saya mencoba ‘Algojo’ yang ternyata adalah alpokat gulo jowo (es alpokat pakai gula jawa atau gula merah).

Pak Gunawan, sang pemilik ‘Marem’ Pondok Seafood, memang pintar memilih juru masak. Dua orang juru masaknya yang katanya orang Jogja dan Tegal, pantas diacungi dua jempol (kalau hanya satu jempol nanti kokinya berebut….., berebut diacungi, bukan berebut jempol… ). Sentuhan tangan sang kokilah yang telah menghasilkan ramuan bumbu dan olahan masakannya menjadi sajian yang tidak membuat bosan para pencari makan (pengunjung, maksudnya) untuk singgah berulang kali.

(2)

Lebih dari sekedar masakannya yang enak. Hal lain yang menarik perhatian saya daripada rumah makan ‘Marem’ Pondok Seafood adalah pelayanannya. Rumah makan ini diawaki oleh 12 orang, sebagai ujung tombaknya adalah pelayan perempuan, yaitu bagian yang mendatangi tamu pertama kali dan mencatat menu pesanan pelanggan.

Pelayanan yang ramah, bersahabat dan mempribadi, tercermin dari cara para pelayan memperlakukan tamu-tamunya. Setidak-tidaknya, tiga kali saya berkunjung, tiga kali dilayani oleh pelayan berbeda, tiga kali pula saya menangkap kesan pelayanan yang sama seperti yang saya ekspresikan itu.

Anak perempuan saya (Mia, namanya) sempat heran, mbak pelayan ini sesekali menyebut nama anak saya itu. Padahal, teman sekolah bukan, tetangga bukan, berkenalan juga belum pernah, bahkan baru sekali itu ketemunya. Kesan mempribadi dengan menyebut nama seseorang seketika terbentuk. Peristiwa itu akan demikian membekas di hati pelanggan, seolah-olah mbak pelayan ini bukan orang lain. Rupanya mbak pelayan ini memperhatikan percakapan kami, sehingga dia tahu nama anak saya.

Demikian pula sesekali mbak pelayan membuka percakapan dengan tanpa menimbulkan kesan mengada-ada. Barangkali karena melihat saya banyak bertanya mengorek informasi, maka mbak pelayan pun dengan ramah bisa memancing pertanyaan apa ada yang ingin diketahui lagi, misalnya. Yang sebenarnya dapat saya terjemahkan sebagai apa ada yang mau dipesan lagi.

Bagi saya, pengalaman di ‘Marem’ Pondok Seafood adalah sebuah pelajaran. Dan pelajaran itu saya tanamkan kepada kedua anak saya sambil bercakap-cakap dalam perjalanan pulang setelah puas makan. Bukan pelajaran tentang masakannya, kalau soal itu tinggal ikut kursus saja. Melainkan pelajaran tentang pelayanan, yang bisa diaplikasikan pada berbagai aktifitas kehidupan. Bisnis hanyalah satu diantaranya.

Dua hal saya coba bicarakan. Pertama, memperhatikan pelayanan sejenis di resto-resto di luar negeri (sekedar contoh, sebut saja di Amerika dan Australia). Pada umumnya kalau kita makan, maka sang pelayan akan tidak bosan-bosannya mencoba memancing percakapan selintas, yang sepertinya basa-basi, tapi memberi kesan mempribadi. Intinya, kepentingan para pencari makan sangat diperhatikan dan dilayani sebaik-baiknya. Jangan biarkan ada cela sedikitpun dalam masalah pelayanan.

Kebalikannya pada umumnya di Indonesia (saya suka menjadikan kasus ini sebagai ilustrasi). Kalau bisa urusan hajat perut ini diselenggarakan (tidak perlu dengan cara saksama) melainkan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, jika perlu. Tamu datang, dicatat ordernya, dikirim pesanannya (kalau agak lama pun cuek bebek…), dihabiskan makanannya (bahkan kalau tidak dihabiskan pun ora urus yang penting mbayar), lalu pulang.

Kedua, filosofi pelayanan semacam ini sudah, sedang dan akan terus dicoba diterapkan di toko ritel yang saya kelola, yaitu “Madurejo Swalayan” di pinggiran timur Yogya. Sejak awal berdirinya dua tahun yang lalu, kepada para pelayan toko selalu saya tekankan dan saya motivasi tentang perlunya menciptakan suasana paseduluran (persaudaraan) yang mempribadi kepada pelanggan. Lingkungan ndeso dimana toko saya berada memang memungkinkan untuk hal itu. Pengalaman menunjukkan bahwa ternyata yang demikian ini tidak mudah.

Hasil apa yang selanjutnya diharapan? Bolehlah kita berharap di kesempatan lain pelanggan kita akan kembali lagi karena merasa dia sedang berada di toko kepunyaan teman atau saudaranya, bukan orang lain.

Sebenarnya malam itu saya ingin ngobrol-ngobrol dan mengenal lebih jauh dengan Pak Gunawan, sang pemilik ‘Marem’ Pondok Seafood. Tapi sayang saya tidak ketemu beliau. Mudah-mudahan di kunjungan berikutnya (kami memang sudah kadung menyukai masakannya), saya berhasil menemui beliau.

Ada tiga kemungkinan yang saya ingin pelajari lebih dalam, soal pelayanan di rumah makan ini. Pertama, para pelayan mungkin sebelum turun ke lapangan sudah diajari dan dibekali dengan ngelmu masalah pelayanan. Kedua, jika ternyata kemungkinan pertama salah, maka berarti telah dilakukan sistem seleksi penerimaan pegawai yang baik. Ketiga, jika kedua hal itu ternyata bukan juga, maka ya bejo-ne (untungnya) Pak Gunawan, punya pegawai yang terampil. Dan yang terakhir ini tidak bisa ditiru.

*) Marem = puas (bhs. Jawa) 

Madurejo, Sleman – 26 Desember 2007
Yusuf Iskandar