Posts Tagged ‘rock springs’

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(12).   Sepanjang Jalan 16 Denver

Sabtu, 29 April 2000, sekitar jam 10:00 pagi kami meninggalkan Breckenridge menuju Denver, dan saya rencanakan sore itu akan mencapai kota Rock Springs di sisi barat daya negara bagian Wyoming. Jarak yang akan saya tempuh hari itu 456 mil (sekitar 730 km), saya berharap sebelum malam sudah tiba di Rock Springs.

Tiba di Denver, sebuah kota metropolitan yang berpenduduk kurang dari 500.000 jiwa, saya menyempatkan untuk singgah sebentar di sebuah jalan yang terkenal dengan nama 16th Street Mall. Ini adalah sebuah jalan di pusat kota Denver yang kini dirancang hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki (pedestrian) dan tertutup bagi lalu lintas umum. Di sepanjang Jalan 16 ini memang bisa dijumpai pertokoan dan mal yang menawarkan bermacam-macam barang dan kebutuhan, termasuk restoran, butik dan galeri seni.

Guna memanjakan para pengunjung pejalan kaki yang datang ke Jalan 16 ini, Pemda Denver menyediakan sarana shuttle bus bagi mereka yang ingin wira-wiri (mondar-mandir) dari ujung jalan satu ke ujung jalan lainnya, setiap saat dengan tanpa dipungut bayaran. Saya tidak tahu dari jam berapa hingga jam berapa bis ini beroperasi, yang jelas pernah suatu ketika jam 11 malam saya melihat bis tersebut masih jalan, dan masih ada saja penumpang yang wira-wiri.

Di bagian tengah jalan ini tersedia tempat duduk bagi mereka yang ingin sekedar istirahat atau bersantai. Saya melihat ada banyak muda-mudi dan juga kakek-nenek yang sedang duduk-duduk di sana. Agaknya memang menjadi tempat yang pas untuk mereka atau siapa saja menghabiskan waktu, atau barangkali kecapekan setelah keluar-masuk pertokoan sepanjang 1,5 km itu.

Beberapa restoran atau café membuka fasilitas tempat duduknya di luar bangunan utamanya, atau di emperan. Layaknya pedagang kaki lima, tetapi tetap terkesan tertib, santun dan enak dipandang serta tidak mengganggu pejalan kaki lainnya.

Yang membuat siapapun merasa tenang dan aman berada di tempat ini adalah karena selalu ada Pak Polisi yang berpatroli di sepanjang jalan, baik dengan mobil maupun sepeda seperti di film “Pacific Blue” (cuma saya lihat kok enggak ada polisi cantiknya?).-

***

Ini adalah kali ketiga bagi saya menyusuri sepanjang Jalan 16 Denver. Sebelumnya pada bulan Mei dan Agustus 1999 yang lalu saya sempat ke jalan ini. Saat itu malam hari, dan udara sedang sangat-sangat dingin.

Mengajak keluarga menyusuri jalan ini memang rasanya tidak ada tujuan lain, selain sekedar ingin jalan-jalan dan melihat-lihat atau membeli cenderamata. Dan itulah yang saya lakukan siang itu, sebelum melanjutkan perjalanan sejam kemudian.

Kembali saya teringat Jalan Malioboro Yogya, saya berkhayal seandainya Pemda Yogyakarta sempat melihat Jalan 16 ini, rasanya akan ada yang bisa ditiru, paling tidak dipelajari tentang konsep management tata kotanya. Eh, siapa tahu ada yang bisa diterapkan untuk menata Jalan Malioboro agar lebih bernilai ekonomis dalam sektor pariwisata, dan mewujudkan bagi siapa-saja yang datang ke sana merasa “berhati nyaman” (sebagaimana semboyan kotanya) berada di Jalan Malioboro.

Tidak seperti sekarang, malah terkadang merasa kemrungsung (berasa tidak karuan dan tidak nyaman). Tentunya tidak perlu meniru sama persis, wong kendala sosial-budaya, struktur ekonomi dan infrastrukturnya jelas berbeda.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(13).   Numpang Lewat Di Nebraska

Sabtu, 29 April 2000, jam 12:00 siang saya baru meninggalkan 16th Street Mall Denver untuk selanjutnya melaju ke timur melalui jalan bebas hambatan Interstate-76. Ini memang perubahan rute secara mendadak. Semula saya akan langsung ke utara melalui Interstate-25 menuju kota Cheyenne, ibukota negara bagian Wyoming. Namun mempertimbangkan masih punya cukup waktu menuju Rock Springs dimana sebagian rute akan melalui jalan bebas hambatan, saya memutuskan untuk memutar ke arah timur terlebih dahulu. Memutar jalan guna memenuhi ambisi untuk menambah jumlah negara bagian yang akan saya lewati.

Tiba di kota kecil Fort Morgan saya keluar dari Interstate-76 lalu menuju ke arah utara melalui jalan kecil beraspal. Ini adalah jalan terpendek yang saya perkirakan akan menembus kota Kimball di pojok barat daya negara bagian Nebraska. Di kota Kimball ini saya akan ketemu dengan jalan Interstate-80 yang selanjutnya akan saya lalui lurus ke barat menuju Rock Springs. Di Interstate-80 saya akan bisa memacu kendaraan untuk tidak kemalaman tiba di Rock Springs.

***

Keputusan mendadak saya untuk merubah rute dengan memutar melewati Nebraska ini memang keputusan sepihak, dengan tanpa merundingkannya terlebih dahulu dengan istri dan anak-anak. Akibatnya begitu istri saya melihat peta dan tahu rutenya berubah, langsung protes dan saya dinesoni (dimarahi). Sebenarnya dia hanya khawatir kalau nanti kemalaman saat memasuki kota Rock Springs dimana kami merencanakan untuk bermalam. Merasa salah, “yo wis aku meneng wae…” (ya sudah saya diam saja). Meskipun sebenarnya saya punya pertimbangan dan perhitungan tersendiri (yang nantinya terbukti membuat istri saya lega).

Pertama, jarak dari Kimball ke Rock Spring yang sekitar 320 mil (sekitar 512 km), saya berspekulasi melalui jalan Interstate akan bisa saya tempuh dalam waktu 4 jam dengan kecepatan rata-rata 80 mil/jam (sekitar 130 km/jam). Kalau saya tiba di Kimball jam 3:00 sore, artinya sekitar jam 7:00 malam akan tiba di Rock Springs, hari masih cukup terang dan saat itu matahari belum tenggelam.

Kedua, ya alasan keinginan ambisius itu tadi. Meskipun hanya sebentar, kami akan sempat “pernah” merasakan berada di wilayah negara bagian Nebraska, meskipun hanya di bagian pojoknya saja. Apa yang menarik dengan Nebraska, kok sampai dibela-belain mengulur waktu perjalanan? Justru karena tidak banyak yang menarik dari wilayah ini makanya saya menyempatkan untuk numpang lewat.

Setahu saya negara bagian Nebraska ini tidak terlalu terkenal, tidak sebagaimana California, Florida, Texas, Washington atau New York, setidak-tidaknya bagi sebagian orang luar Amerika. Jarang sekali orang yang sengaja datang ke Nebraska, karena memang kurang populer di sektor pariwisata, pendidikan, industri dan pemerintahan.

Dengan kami “pernah” melewati daerah itu, kami akan bisa cerita kepada orang bahwa kami pernah berada di Nebraska, meskipun hanya untuk numpang lewat saja (sebenarnya lebih tepat kalau saya sebut, maaf, numpang kencing saja). Lha wong nyatanya demikian. Belum jam 3:00 sore sudah tiba di kota Kimball. Agar perjalanan berikutnya bisa melaju, saya sengaja berhenti di pompa bensin untuk kencing, ya terpaksa sekalian beli bensin biar tidak sungkan dengan tukang bensinnya. Memang sudah umumnya tempat orang jual bensin di Amerika, berlokasi di pojok-pojok perempatan jalan, membuka toko dan mempunyai toilet.    

Eh, kok ndilalah….. (kebetulan) di toko tukang bensin itu ada dijual cendera mata dari Nebraska, ada gelas dan piring hias yang ada tulisannya “Nebraska”. Mendadak sontak istri saya bersemangat melihat, memilih dan lalu membelinya, Memang cendera mata semacam itulah yang sangat dicari dan disukainya. Cukup berhenti 15 menit, lalu kami melanjutkan perjalanan lurus ke arah barat.

Ketika dalam perjalanan meninggalkan kota Kimball, saya nyeletuk bercanda kepada istri saya : “Ya….meskipun hanya numpang kencing, tapi kita pernah ke Nebraska, buktinya kita punya piring hias dari Nebraska….”.  Istri saya tertawa. Diapun lega ketika saya beritahu hitung-hitungan saya bahwa sekitar jam 7:00 malam kita akan sampai di Rock Springs.

Hitung-hitungan spekulasi saya ternyata agak meleset. Begitu memasuki wilayah negara bagian Wyoming, hujan deras turun hingga berlangsung selama hampir setengah dari perjalanan saya. Akibatnya saya harus mengurangi kecepatan laju kendaraan. Saya sempat was-was juga kalau sampai kemalaman tiba di Rock Springs. Bukan soal kemalamannya, melainkan khawatir kalau protes istri saya siangnya tadi menjadi terbukti.

Akhirnya baru sekitar jam 19:30 kami memasuki kota Rock Springs, terlambat sedikit dari yang saya perkirakan sebelumnya, dan hari memang masih terang. Mencari hotel murahpun tidak susah. Rock Springs adalah kota kecil berpenduduk hanya sekitar 25.000 jiwa berlokasi pada ketinggian sekitar 1.911 m di atas permukaan laut. Di bulan April, suhu udara masih cukup dingin, sehingga malam itu berada di luar tanpa mengenakan jaket rasanya tidak tahan berlama-lama. Sebagaimana kota-kota kecil lainnya di wilayah Sweetwater County, ini adalah kota tambang.

***

Sore itu juga kami mencari makan malam lebih dahulu sebelum istirahat di kamar hotel. Tidak jauh dari hotel, tepat di jalan keluar dari Interstate-80 kami ketemu rumah makan Cina. Memang ini yang dicari, karena pasti akan ketemu nasi. Rupanya itu restoran langganannya para sopir. Pantesan yang parkir di luar jarang mobil kecil, melainkan truck-truck trailer yang membawa kontainer-kontainer raksasa.

Anak-anak saya sempat terbengong melihat yang makan di restoran itu umumnya laki-laki berbadan gempal, bertato di kedua lengannya, berambut awut-awutan dan di antaranya brewokan. Ya, sekedar gumun (heran) saja dengan pemandangan yang tidak biasanya.

Yang mengherankan saya justru pelayanan di restoran itu. Untuk ukuran restoran dengan kapasitas tempat duduk sekitar 40 orang, hanya dilayani oleh seorang perempuan saja. Dia yang mencatat pesanan, dia yang mengantarkan pesanan, dia yang menjadi kasir, dia juga yang membereskan meja saat orang sudah selesai makan. Tidak terkesan grusa-grusu (cepat tapi ceroboh), dan semua itu berlangsung dengan rapi dan lancar. Pelayanannya juga cukup memuaskan. Lho, kok bisa?

Inilah, satu lagi ilmu management sederhana yang saya dapatkan. Terlepas dari soal isu mempersempit lapangan kerja, tapi ada sistem kerja yang sangat praktis, berdayaguna (effisien) dan berhasilguna (effektif). Dan sistem kerja itu terbukti berfungsi, meskipun barangkali si pelayan restoran tadi tidak pernah pusing-pusing memikirkan soal management restorannya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(14).   Marga Satwa Saurus Itu Memang Pernah Ada

Minggu, 30 April 2000. Ini adalah hari terakhir perjalanan kami. Nanti malam kami harus sudah tiba di bandara Salt Lake City untuk selanjutnya terbang kembali ke New Orleans. Jarak langsung dari Rock Springs menuju Salt Lake City sebenarnya hanya 133 mil (sekitar 213 km), atau hanya sekitar 3 jam perjalanan. Karena itu kami ingin memanfaatkan waktu dengan paling tidak mengunjungi satu obyek lagi, meskipun untuk itu rutenya harus memutar.

Secara hitung-hitungan, masih memungkinkan untuk menuju ke Dinosaur National Monument yang berada 113 mil (180 km) di sebelah selatan Rock Springs, sekitar 7 mil dari kota kecil Jensen dan masuk ke wilayah negara bagian Utah yang berbatasan dengan wilayah Colorado.

Sepanjang perjalanan sejauh 65 mil (sekitar 104 km) ke arah selatan dari Rock Spring, pemandangannya cukup menarik. Dataran sangat luas yang berbukit-bukit serta tanaman semak-semak berada di sepanjang jalan dan bahkan sejauh cakrawala. Tidak ada rumah, tidak ada pohon, tidak ada orang lewat. Sesekali hanya rusa berdiri di antara semak-semak. Sehingga meskipun itu hanya jalan kecil dua arah, tapi saya bisa melaju dengan kecepatan konstan, diiringi musik country yang memancar dari gelombang FM radio yang ada di mobil.

Anak saya berkomentar : “Kok sepi sekali, ya…”. Ya memang sangat sepi.  Saya ingat-ingat, berjalan sejauh itu saya hanya sempat berpapasan dengan kurang dari 15 kendaraan. Baru mulai agak ramai setelah saya melewati kota kecil Dutch John, lalu sempat berhenti di bendungan Flaming George untuk sekedar melepas lelah dan menghirup udara pegunungan yang segar.

***

Menjelang tengah hari kami tiba di kota Jensen, lalu sedikit melanjutkan perjalanan belok ke utara menuju Dinosaur National Monument.  Di situ ada bekas quarry (tambang terbuka untuk mineral industri) batupasir yang kemudian dilindungi karena diketemukannya tulang-tulang satwa purba, yaitu tulang-tulang yang sudah terfosil dari mahluk hidup pra-sejarah seperti dinosaurus.

Di sinilah salah satu tempat terbesar di dunia dimana tulang-tulang dinosaurus terkonsentrasi di satu area yang umumnya berupa bukit batupasir. Lebih dari 1.600 tulang yang sudah terfosil diketemukan di tempat ini dan hingga kini dibiarkan berada di tempat aslinya seperti saat ditemukan pertama kali tahun 1909. Waktu itu, seorang paleontologis dari Carnegie Museum di Pittsburgh, Pensylvania pertama kali menemukan delapan tulang ekor vertebrata dari apatosaurus, yang kemudian disusul dengan penemuan-penemuan berikutnya. Banyak dari tulang-tulang tersebut yang kini dipindahkan untuk dipamerkan di beberapa musium yang ada di seluruh Amerika.

Di tempat ini sengaja dibangun sarana guna melindungi tulang-tulang purba yang tersingkap di dinding batupasir, dan dipamerkan agar para pengunjung bisa melihat dengan jelas bahkan menyentuhnya. Disajikan pula gambaran sejarah dari quarry tempat diketemukannya tulang-tulang tersebut, sejarah bagaimana tulang-tulang tersebut bisa sampai di daerah itu, dsb.-

Diceritakan bahwa tulang-tulang dinosaurus itu dulunya tertimbun selama kurang lebih 150 juta tahun yang lalu di sebuah sungai purba. Proses sedimentasi batuan di atasnya telah melindungi tulang-tulang tersebut dari kerusakan. Tentu akibat proses pengangkatan kalau kemudian diketemukan di dataran tinggi Jensen.

Melihat tulang-tulang dinosaurus yang sebenarnya dan melihat diorama serta replika dari tulang-tulang purba hingga terbentuk menjadi kerangka dengan ukuran sebenarnya, anak saya berkomentar : “Jadi dinosaurus itu dulu ada, to…..”. Pertanyaan berikutnya adalah : “Kapan itu? Kok tulangnya ada di sini?”.

Cara paling gampang menjawab pertanyaan itu adalah dengan membelikan buku panduan yang memang dibuat khusus untuk anak-anak. Di buku yang dilengkapi dengan gambar-gambar sketsa itu dijelaskan dengan bahasa yang sederhana tentang berbagai hal berkaitan dengan tulang-tulang dinosaurus. Di ruangan pameran juga disajikan diorama yang memperlihatkan dengan jelas dan mudah dipahami, proses bagaimana tulang-tulang dinosaurus sejak jaman dulu kala hingga kini berada di lokasi itu.

Bahkan bagi saya sendiri, apa yang diperagakan di situ lebih menjelaskan dengan sangat masuk akal tentang keberadaan mahluk raksasa yang bernama dinosaurus. Bahwa satwa pra-sejarah bermarga saurus itu dulu memang pernah ada, termasuk di antaranya : allosaurus, ceratosaurus dan dryosaurus (yang berkaki depan pendek seperti kanguru), barosaurus dan apatosaurus (yang berleher dan berekor panjang), stegosaurus (yang di sepanjang punggungnya seperti bersayap runcing), dsb.

***

Dari monumen dinosaurus ini kami lalu melanjutkan perjalanan melaju ke arah barat untuk mencapai kota Salt Lake City sore harinya. Tepat jam 6:00 sore akhirnya kami tiba di bandara internasional Salt Lake City, sebab kalau lewat jam 6:00 saya harus membayar kelebihan jam sewa mobil. Tanpa harus melalui prosedur yang rumit, mobil saya serahkan kepada petugas yang ada di situ, dicek-cek sebentar, lalu saya tinggal pergi. Total 3.005 mil (4.808 km) telah kami jalani selama 9 hari, melewati 8 negara bagian.

Dua jam setengah kami berada di bandara Salt Lake City menunggu pesawat yang akan menerbangkan kami kembali ke New Orleans. Jam 1:30 dini hari (artinya sudah masuk hari Senin, 1 Mei 2000) kami sudah tiba di New Orleans. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan tapi sangat mengasyikkan baru saja selesai kami jalani. Insya Allah, di kesempatan yang lain kami masih ingin melakukannya lagi. Entah ke belahan bumi yang mana.-

New Orleans, 4 Juni 2000.
Yusuf Iskandar