Posts Tagged ‘rio tinto’

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(2).    Tambang Northparkes

Saat ini matahari sedang beredar di bumi belahan utara, sehingga kalau Amerika utara dan Eropa sedang musim panas (summer) maka di Australia sedang musim dingin (winter). Namun kota Parkes bukanlah kawasan yang bersalju di saat musim dingin. Hanya saja cuaca cukup membuat saya kedinginan di bawah suhu udara sekitar 8-12 derajat Celcius.

Paling-paling kalau pagi hari kaca-kaca mobil tertutup lapisan es tipis, sehingga perlu memanaskan mesin agak lama sebelum mulai menjalankannya. Demikian halnya di lokasi tambang Northparkes suhu udara cukup dingin meskipun matahari bersinar cerah.

Tadi pagi, sekitar jam 07:30 saya berangkat menuju ke lokasi tambang. Kota Parkes masih terasa sangat lengang dan dingin karena matahari belum lama terbit. Jalan dua lajur dua arah yang menuju ke lokasi tambang pun sangat sepi. Jarak sekitar 30 km menuju tambang Northparkes dapat saya tempuh sekitar 20 menit, itu karena saya dapat melaju sedikit di atas batas kecepatan maksimum 100 km/jam.

Pemandangan di sepanjang rute yang saya lalui hanya berupa dataran terbuka yang sangat luas dengan di sana-sini terdapat pepohonan. Di kejauhan tambak bukit-bukit kecil seperti gundukan tanah yang sebagian besar merupakan ladang-ladang pertanian ribuan hektar luasnya. Yang perlu diwaspadai melaju di jalan ini adalah kalau ada rombongan ratusan ekor sapi-sapi yang sedang melintas jalan dalam perjalanannnya dari satu lokasi pertanian menuju ke lokasi pertanian lainnya. Entah siapa pemiliknya.  

***

Acara saya di hari kedua di tambang Northparkes ini adalah mengikuti “safety induction” sesuai dengan peraturan keselamatan kerja yang diterapkan oleh pihak perusahaan. Dengan kata lain, saya tidak diperbolehkan “ngeluyur” kemana-mana di lokasi tambang ini, apalagi di bawah tanah, sebelum saya menyelesaikan program keselamatan kerja ini meskipun saya hanya sebagai tamu.

Tambang Northparkes adalah perusahaan tambang tembaga yang sahamnya 80% dimiliki oleh Rio Tinto dan sisanya yang 20% dimiliki Sumotomo, Jepang. Selain menghasilkan tembaga, tambang ini juga menghasilkan emas dan perak. Saat ini produksi tambang Northparkes dipenuhi dari hasil tambang terbuka (open pit) dan tambang bawah tanah (underground) yang menerapkan metode “Block Caving”.

Tingkat produksi dari tambang ini sebenarnya tidak terlalu tinggi. Tahun ini mentargetkan akan menambang 5,3 juta ton bijih tembaga atau rata-rata sekitar 15.000 ton per hari. Namun tambang ini dikenal sebagai tambang yang mampu beroperasi secara effisien dengan biaya operasi yang rendah dan termasuk salah satu tambang yang unjuk kerja keselamatan kerjanya baik. Untuk mempelajari lebih jauh tentang hal itulah yang menjadi alasan dari tujuan kunjungan saya ke tambang Northparkes ini.   

Mulai besok saya baru akan terlibat lebih jauh dalam aktifitas tambang Northparkes terutama dari bidang operasi produksi tambang bawah tanah.

***

Tadi sekitar jam 19:00 malam saya menuju ke pusat kota guna mencari makan malam. Rupanya di kota kecil ini ada tiga restoran Cina. Dalam hati saya heran juga, kok bisa-bisanya imigran dari Cina ini membuka usahanya di kota yang sebenarnya tergolong kecil dan tidak padat penduduknya. Keheranan yang sama sering saya alami sewaktu “blusukan” di kota-kota kecil di Amerika. Kalau mau diambil benang merahnya, barangkali dalam darah masyarakat Cina pada umumnya memang mengalir naluri bisnis yang sukar ditandingi.

Suasana kota Parkes yang cukup dingin sudah tampak sangat sepi dan lengang, bahkan di pusat kotanya. Toko-toko umumnya buka hanya sampai jam 5 sore, itupun hanya Senin sampai Jum’at. Restoran pun tidak semuanya buka hingga malam. Untungnya ada pasar swalayan yang buka hingga jam 9 malam, sehingga masih memberi kesempatan saya untuk mencari sekedar “kletikan” (makanan kecil).

Clarinda Street adalah jalan utama di pusat kota Parkes. Selain itu ada sebuah jalan raya yang disebut Newell Highway. Hanya di penggalan kedua jalan itulah di kota yang tidak memiliki “traffic light” ini yang dilengkapi dengan lampu penerangan jalan seperti di kota-kota besar. Sebagian jalan-jalan lainnya hanya diterangi dengan lampu neon biasa sebagai penerangan jalan, sebagian sisanya gelap-gulita pada malam hari tanpa penerangan jalan. Oleh karena itu, jika malam tiba terasa sekali bahwa saya sedang berada di sebuah kota kecil yang sepi, di Australia.

Parkes, 31 Juli 2001
Yusuf Iskandar

Tambang Perak Bawah Tanah Greens Creek, Alaska

6 Februari 2008

Pengantar :

Pada tanggal 25-26 April 2001 yll. saya berkesempatan melakukan kunjungan tambang ke Greens Creek Mine, Alaska, USA. Tambang perak bawah tanah ini dioperasikan oleh Kennecott Minerals, salah satu anak perusahaan Rio Tinto yang bersama-sama Hecla Mining Company melakukan “joint venture” untuk kepemilikan tambang Greens Creek. Berikut ini catatan saya dan semoga bermanfaat.

——-

Pendahuluan

Tambang Greens Creek, adalah sebuah tambang bawah tanah yang berlokasi di pulau Admiralty, negara bagian Alaska, USA. Lokasi tambang ini berada di kawasan Taman Nasional Tongass dimana banyak dihuni satwa-satwa liar sejenis burung elang, beruang dan rusa. Oleh karena itu, adalah menjadi komitmen pihak tambang Greens Creek yang dalam menjalankan operasi penambangannya dengan tetap menjaga kelestarian Taman Nasional ini.

Hasil utama dari tambang Greens Creek adalah perak, emas, seng dan timbal. Metode penambangan yang diterapkan adalah Cut and Fill yang dimodifikasi menjadi Drift and Fill. Lombong (stope) dalam metode ini dimodifikasi menjadi berupa lorong-lorong atau lubang bukaan mendatar (drift) yang diekskavasi secara bertingkat dari bawah ke atas dengan siklus kerja : pemboran, peledakan, pemuatan, pengangkutan, pengisian dan pemadatan.

Tambang Greens Creek merupakan joint venture antara Rio Tinto (70,3%) dan Hecla Mining Company (29,7%). Sebagai pemegang saham utama, Rio Tinto mengoperasikan tambang ini melalui anak perusahaannya, Kennecott Minerals, yang juga mengoperasikan tambang tembaga di Salt Lake City (Utah).

Kondisi Geografis

Lokasi tambang ini dapat dicapai dari kota Juneau, ibukota Alaska, yang terletak di sisi tenggara dari wilayah negara bagian Alaska. Dari Juneau menyeberang ke pulau Admiralty dengan menggunakan kapal motor (boat) yang memang khusus disewa oleh pihak tambang Greens Creek untuk pengangkutan karyawan Juneau – pulau Admiralty p.p.

Dengan kata lain, tidak terdapat sarana transportasi komersial yang melayani rute ini secara reguler ke dan dari pulau Admiralty yang memang bukan kawasan hunian. Selain dengan kapal motor, pulau Admiralty juga dapat dicapai dengan menggunakan pesawat terbang kecil yang dikelola oleh perusahaan penerbangan lokal.

Kota Juneau sebagai ibukota Alaska yang berpopulasi sekitar 31.000 jiwa, dapat dikatakan merupakan kota yang terpencil dilihat dari tidak adanya sarana transportasi darat yang menjangkau kota ini, meskipun terletak menjadi satu dengan daratan Amerika Utara.

Bagian utara dan timur laut wilayah Juneau ini berupa pegunungan yang puncak-puncaknya nyaris selalu tertutup salju dan glacier. Sedangkan di sisi selatan dan barat laut berbatasan dengan teluk Alaska dimana banyak terdapat pulau-pulau kecil yang umumnya tidak berpenghuni. Oleh karena itu transportasi udara menjadi sarana utama ke dan dari kota ini, sementara transportasi laut umumnya digunakan untuk sarana pengangkutan barang karena akan memerlukan waktu berhari-hari. Meskipun ada juga feri untuk penyeberangan jarak dekat.

Kesampaian Daerah

Tambang Greens Creek, pulau Admiralty dan kota Juneau pada umumnya, termasuk daerah beriklim dingin. Terletak pada kira-kira 58o Lintang Utara dan 135o Bujur Barat. Suhu udara rata-rata dalam setahun, terendah 18oF (sekitar -8oC) terjadi pada bulan Januari dan tertinggi 64o (sekitar 18oC) terjadi pada bulan Juli. Curah hujan rata-rata per hari berkisar antara 2,8 – 7,7 inch (sekitar 71-196 mm).

Setelah sebelumnya berkorespondensi dengan General Manager tambang Greens Creek, Mr. Keith Marshall, maka untuk mengunjungi tambang ini saya sengaja terbang dari Seattle menuju Juneau dengan menggunakan penerbangan yang sama dengan beliau pada tanggal 24 April 2001 yll. Selanjutnya keesokan harinya berangkat menuju ke lokasi tambang Greens Creek.

Setiap hari kapal motor yang cukup mewah meninggalkan dermaga Juneau jam 05:00 pagi dengan mengangkut karyawan Greens Creek yang tinggal di Juneau. Perjalanan dengan kapal motor ditempuh selama 30 menit. Setiba di dermaga pulau Admiralty, selanjutnya disambung dengan kendaraan bis sejauh kira-kira 15 mil (sekitar 24 km) menuju ke lokasi tambang yang terletak di kawasan perbukitan berhutan pinus yang puncak-puncaknya nyaris selalu tertutupi oleh salju. Perjalanan darat menuju ke lokasi tambang ini ditempuh selama 45 menit, sehingga pada jam 06:30 pagi biasanya para karyawan sudah tiba di tempat kerja masing-masing.

Hal yang sama terjadi pada sore hari. Sekitar jam 17:00 karyawan meninggalkan lokasi tambang dan selanjutnya menggunakan sarana yang sama dan akan kembali tiba di Juneau sekitar jam 18:30 sore. Sarana angkutan yang sama berlaku bagi semua karyawan, dari miner hingga General Manager. Bagi karyawan yang tidak tinggal di Juneau, juga tersedia perumahan lajang, di camp site yang berada di lokasi yang berdekatan dengan pelabuhan pengapalan konsentrat di pulau Admiralty.

Kondisi kesampaian daerah menuju ke lokasi tambang yang demikian ini mengingatkan saya pada lokasi tambang emas PT Lusang Mining di Bengkulu yang sekarang sudah tidak berproduksi. Demikian juga lokasi tambang PT Freeport Indonesia di Irianjaya (Papua) untuk skala infrastruktur yang lebih besar.

Potensi Cadangan Dan Produksi

Endapan cadangan bijih tambang Greens Creek berbentuk sangat tidak beraturan dan menyebar pada kedalaman antara 90 m di bawah permukaan laut hingga ketinggian 500 m di atas permukaan laut pada areal seluas kira-kira 121 ha. Endapan cadangannya tersebar dan dapat dipisah-pisahkan dalam sembilan zona bijih.

Adanya bentuk endapan yang tidak beraturan dengan batuan utamanya argillite dan phyllite, membuat tambang ini menerapkan selective mining guna mengurangi pengotoran (dilution) batuan bijih (ore) terhadap batuan sekitarnya atau batuan sampah (waste).

Total cadangan terukur saat ini sekitar 10 juta ton. Tingkat produksi rata-rata untuk tahun 1999 (meskipun saya mencatat data terakhir, namun saya akan menyajikan data yang telah resmi dipublikasikan untuk tahun 1999) sekitar 1.600 tpd (ton per day) dengan kadar rata-rata 746,48 g/t-Ag, 6,22 g/t-Au, 14 %-Zn, dan 6 %-Pb. Perhitungan cut-off grade tidak dinyatakan dalam kandungan mineral (% atau g/t, misalnya), melainkan dikonversi dalam nilai dollar ($) yang disebut dengan Net Smelter Revenue (NSR).

Jika melihat tingkat produksinya, maka dapat dikatakan bahwa tambang Greens Creek merupakan tambang bawah tanah berskala kecil. Saat ini tambang Greens Creek sedang berusaha meningkatkan produksi per harinya menjadi sekitar 1,800 hingga 2,000 tpd. Dengan demikian dapat diperkirakan tambang ini akan habis ditambang dalam 15 tahun. Kegiatan pemboran eksplorasi saat ini masih terus berlanjut dan sangat diyakini bahwa cadangan yang ada saat ini masih akan bertambah.

Potensi cadangan bijih Greens Creek pertama kali ditemukan pada tahun 1975, tetapi kegiatan pemboran eksplorasinya baru dimulai pada tahun 1978. Tahap pekerjaan persiapan penambangan (development) awalnya mulai tahun 1987 hingga mencapai produksi penuh pada tahun 1989. Pada tahun 1973 tambang ini tutup sebagai akibat dari jatuhnya harga logam. Namun pada tahun 1996 tambang Greens Creek beroperasi kembali seiring dengan selesainya pekerjaan persiapan penambangan (development).

Penambangan Dengan Metode Drift and Fill

Tambang Greens Creek terletak pada ketinggian sekitar 300 m di atas permukaan laut. Di area ini terdapat fasilitas pabrik pengolahan bijih (mill) serta batch plant untuk pencampuran material isian (filling material), perkantoran, bengkel, gudang material, dsb. Portal utama untuk masuk ke tambang bawah tanahnya berada pada elevasi 280 m.

Untuk mencapai lokasi zona-zona endapan bijih yang terpisah-pisah, dari portal utama tambang yang disebut 920 Portal Entry (berada pada elevasi 920 ft) dibuat lorong atau lubang bukaan mendatar (tunnel). Dari lorong ini kemudian dibuat beberapa lorong naik dan turun (ramp) menuju ke lokasi-lokasi dimana zona bijih berada.

Beberapa lorong bantu (sublevel) selanjutnya dibuat tepat di samping endapan bijih. Ukuran penampang dari lorong-lorong ini umumnya seragam 15 ft tinggi x 15 ft lebar (4,5 m x 4,5 m). Jarak vertikal antara lorong-lorong bantu pada setiap zona bijih adalah 60 ft (18 m). Jumlah lorong bantu yang dibuat untuk setiap zona bijih disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan tinggi dari zona bijihnya.

Penambangan dilakukan dengan membuat lubang bukaan mendatar dari lorong bantu menuju ke badan bijih (orebody). Lubang bukaan mendatar sebelum mencapai badan bijih disebut dengan akses lombong (stope access) dan setelah tepat berada pada badan bijih selanjutnya disebut dengan lombong (stope). Karena yang disebut dengan lombong ini pada dasarnya adalah lubang bukaan mendatar (drift) yang setelah selesai ditambang akan diisi dengan material isian, maka sistem penambangan ini disebut juga dengan Drift and Fill.

Ukuran penampang lombong yang sebenarnya adalah lorong mendatar, yaitu 12 ft tinggi dan 15 ft lebar (3,6 m x 4,5 m). Dengan demikian, dari setiap blok lorong bantu yang tebalnya 60 ft (18 m) akan ditambang dalam lima tingkat yang bergerak dari bawah ke atas. Tingkat paling bawah akan dibuka dengan membuat akses lombong dengan kemiringan (grade) negatif, sedangkan tingkat paling atas akses lombong akan berkemiringan (grade) positif, terhadap elevasi lorong bantu.

Setiap kali selesai dilakukan pelombongan (stoping) maka akan diikuti dengan pengisian material isian (filling material) yang berupa campuran pasir buangan (pasir tailing) dengan semen. Setelah dipadatkan dan mengering, maka akses lombong di atasnya telah siap untuk ditambang dengan ukuran tinggi dan lebar lubang bukaan yang sama. Demikian seterusnya penambangan bergerak dari bawah ke atas.

Karena lebar lombongnya adalah selebar lorong mendatar, maka dari setiap akses lombong yang membujur dapat dibuat banyak lombong yang melintang yang disebut dengan panel-panel, hingga selebar badan bijih. Panel-panel yang melintang ini dibedakan menjadi panel primer (primary panel) dan panel sekunder (secondary panel) secara berselang-seling. Panel-panel primer dibuka dan ditambang lebih dahulu, yang akan dilanjutkan dengan panel-panel sekunder setelah pada panel primer selesai dilakukan pengisian dan pemadatan sehingga setelah kering akan berfungsi sebagai dinding atau pilar bagi panel sekunder.

Dengan demikian maka pada setiap tingkat dari lima tingkat yang direncanakan dari setiap blok penambangan dapat memiliki beberapa permuka kerja (working face) pada saat yang sama. Hal ini memberi keluwesan (flexibility) dalam melakukan operasi penambangan bagi para pekerja dalam setiap gilir kerja (shift).

Peralatan Dan Perlengkapan Penambangan

Secara umum, pekerjaan ekskavasi batuan yang dilakukan di tambang Greens Creek ini adalah pembuatan lorong atau lubang bukaan mendatar (main level, sublevel, drift, stope access, panel). Pola pemboran yang diterapkan untuk setiap lubang bukaan adalah sama, yaitu pola parallel cut dengan 45 lubang isian dan 4 lubang kosong berada di bagian tengah.

Bahan peledak yang digunakan adalah emulsion yang dirangkai dengan menggunakan detonator non-elektrik untuk pengaturan waktu tunda (delay) peledakan. Pengisian bahan peledaknya dengan powder factor 2,25 lbs/ton (0,84 kg/ton). Untuk pengisian bahan peledak ke dalam lubang-lubang tembak (charging) menggunakan truck Getman yang dimodifikasi sehingga mampu membawa emulsion sekaligus untuk pengisiannya, kotak detonator dan perlengkapan peledakan lainnya.

Di dalam tambang terdapat sebuah gudang bantu penyimpanan bahan peledak yang berupa sebuah lubang bukaan mendatar tanpa pagar dan pintu serta tanpa petugas penjaga. Di lokasi ini terdapat dua buah tangki penyimpanan emulsion, dua buah kontainer masing-masing untuk menyimpan detonator dan detonating cord, dan sumbu ledak (safety fuse).

Jenis alat muat yang digunakan adalah LHD (load-haul-dump), yaitu 2 buah Wagner 3,5 cuyd dan 2 buah Wagner 6,0 cuyd (Atlas Copco), serta 3 buah Toro 6,0 cuyd (Tamrock). Jenis alat angkut yang digunakan yaitu 6 buah truck 40 ton untuk pengangkutan batuan bijih (ore) dan sampah (waste) dan 9 buah truck 20 ton untuk pengangkutan batuan sampah dan material isian, masing-masing truck tersebut buatan Atlas Copco dan Tamrock.

Alat pemaku-batuan (rockbolting) yang digunakan adalah bolter (Tamrock) dengan split-set sebagai paku-batuannya, sedangkan alat pemborannya adalah single boom jumbo (Tamrock). Untuk pemadatan material isian digunakan LHD Wagner 3,5 cuyd yang dimodifikasi dengan mengganti bucket-nya dengan jammer.

Dengan menggunakan truck 40 ton, bijih hasil penambangan diangkut ke pabrik pengolahan (mill) yang berada di luar tambang. Hasil konsentrat dari pabrik pengolahan selanjutnya dikapalkan ke berbagai pabrik peleburan (smelter) di seluruh dunia dalam bentuk konsentrat kering.

Material Isian

Pasir buangan (pasir tailing) dari pabrik pengolahan merupakan bahan utama untuk pembuatan material isian. Sekitar 50% dari pasir tailing digunakan sebagai material isian setelah dicampur dengan semen dan air, dan 50% sisanya dibuang ke lokasi penimbunan tailing.

Untuk pembuatan material isian digunakan campuran 86% material solid dan 14% air. Material solidnya terdiri dari pasir tailing dan semen. Kandungan semen sebanyak 5% merupakan campuran yang saat ini dinilai paling baik dari segi kekuatan dan ekonomi. Dalam 3-5 hari setelah pengisian dan pemadatan, ternyata campuran yang berbentuk pasta ini setelah kering dapat menghasilkan kekuatan sekitar 300 psi. Proses pencampurannya dilakukan di sebuah batch plant yang terletak di luar tambang. Untuk pengangkutannya ke dalam tambang digunakan truck 20 ton.

Tenaga Kerja dan Sistem Kerja

Salah satu yang menarik dari tambang ini dibandingkan dengan tambang-tambang lain pada umumnya adalah digunakannya traktor pertanian (Kubota) sebagai sarana pengangkutan karyawan ke dan dari dalam tambang, dengan pertimbangan fleksibilitas untuk bermanuver serta kokoh. Traktor pertanian ini dimodifikasi dengan menambahkan semacam platform pada bagian belakangnya sehingga cukup untuk mengangkut 4-5 orang berdiri. Traktor ini pula yang digunakan oleh para miner untuk menuju ke lokasi kerja masing-masing di bawah tanah. Tak terkecuali, para karyawan staff dan tamu pun akan menggunakan traktor ini untuk masuk ke lokasi-lokasi di bawah tanah.

Jumlah seluruh karyawan tambang Greens Creek saat ini sekitar 270 orang dan kurang dari separohnya bekerja di bagian tambang. Para karyawan bekerja dalam dua gilir kerja (day shift dan night shift) yang pengaturannya mengikuti apa yang dikenal dengan sebutan republic schedule (menyerap dari sebutan sistem gilir kerja yang diterapkan oleh tambang-tambang di daerah Republic, wilayah negara bagian Washington).

Karyawan terbagi dalam tiga kelompok (crew) dengan minimum 40 jam kerja per minggu. Dengan sistem ini maka lama hari liburnya bervariasi antara 2-5 hari libur berturut-turut dengan hari Minggu selalu dijadikan sebagai hari libur. Meskipun demikian, kesempatan tetap terbuka bagi karyawan yang menginginkan kerja lembur (overtime). Oleh karena itu, tambang Greens Creek menggunakan 365 hari per tahun dalam perhitungan produksi tahunannya.

Penutup

Termasuk ramping dalam organisasi, namun ditunjang dengan adanya underground skilled miner yang dimiliki dengan tingkat upah relatif tinggi dibanding daerah-daerah lain di kawasan Amerika Utara, tambang Greens Creek telah membuktikan sebagai salah satu tambang metal bawah tanah yang mampu beroperasi secara menguntungkan dan effisien.

Pada tahun 1998, MSHA (Mine Safety and Health Administration) dan National Mining Association memberi penghargaan bergengsi (national sentinel of safety award) kepada tambang Greens Creek atas unjuk kerjanya yang dinilai sangat baik di bidang keselamatan kerja untuk kategori tambang metal bawah tanah.-

Untuk informasi lebih lanjut : http://www.greenscreek.com/

New Orleans, 4 Mei 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(3).   Waktu Sholat Yang Membingungkan

Tadi malam, ketika saya coba-coba on-line dari sebuah kamar di camp-site ternyata tidak berhasil, saya langsung tidur saja karena sudah suuuangat ngantuk. Lebih-lebih dihantui kekhawatiran kalau esok pagi terlambat bangun lagi. Sholat Isya’ terpaksa saya jama’ takdim (mendahulukan sebelum waktunya tiba) bersamaan waktunya saat sholat Maghrib. Saya mantapkan niat bahwa saya sedang dalam “status” sebagai musafir.

Pagi tadi jam 04:00 sudah bangun. Siap-siap, lalu sarapan pagi dan membungkus bekal untuk dibawa ke tambang. Udara pagi di seputaran camp-site yang terletak di pinggir pantai Pulau Admiralty terasa sangat dingin, lebih-lebih angin kencang yang bertiup dari arah laut. Untuk menikmati sebatang rokok seusai sarapan pagi terpaksa sambil jalan mondar-mandir ke sana-kemari, berhubung dilarang merokok di dalam ruangan.

Jam 05:00 pagi bis yang membawa karyawan berangkat menuju ke lokasi tambang. Agenda saya hari ini adalah ketemu dengan bagian Geologi untuk mengetahui lebih jauh tentang grade control dalam kaitannya dengan metode penambangan “Cut and Fill” dimana diterapkan prinsip selective mining guna mengurangi dilution atau pengotoran batuan bijih (ore) oleh batuan samping atau batuan sampah (waste).

Sekitar tiga jam hingga tengah hari saya kembali menyusuri lorong-lorong bawah tanah menyertai dua orang geologist (laki-laki dan perempuan) sambil memahami kasus-kasus di lapangan dalam kaitannya upaya mereka mengontrol aplikasi selective mining. Seperti halnya hari kemarin, saya naik traktor Kubota yang dimodifikasi sedemikian rupa. Bedanya kalau kemarin berdiri seperti kernet, hari ini saya duduk di sebelah supir.

***

Salah satu tujuan saya mengunjungi tambang bawah tanah Greens Creek adalah untuk memahami bagaimana tambang ini menerapkan metode penambangan “Cut and Fill”. Sebuah modifikasi metode penambangan yang direncanakan akan diterapkan bagi salah satu potensi endapan bawah tanah Freeport yang selama ini menerapkan metode “Block Caving” untuk beberapa potensi endapan bawah tanahnya.

Tambang Greens Creek merupakan joint venture antara Kennecott Minerals (70,3%) dan Hecla Mining Company (29,7%). Sedangkan di Kennecott sendiri ada terdapat saham Rio Tinto, seperti halnya Rio Tinto juga punya saham di Freeport. Oleh karena itulah maka atas saran Rio Tinto pula saya mengunjungi tambang Greens Creek berkaitan dengan prospek metode penambangan “Cut and Fill” yang kira-kira akan diterapkan di salah satu potensi bawah tanah tambang Freeport.

Dengan total karyawannya sekitar 270 orang dan kurang dari separohnya adalah bagian tambang, ternyata tambang ini termasuk tambang yang effisien meskipun biaya operasi per tonnya relatif tinggi. Tambang perak, seng serta emas dan timbal ini termasuk tambang skala kecil dan dapat dikatakan operasinya berjalan sederhana. Kurang sophisticated dibandingkan tambang-tambang besar lainnya. Namun operasi tambangnya sangat ditunjang dengan adanya para underground skilled miner yang dimilikinya.

Endapan bijih tambang Greens Creek pertama kali diketemukan tahun 1975. Berproduksi secara penuh baru pada tahun 1989 seusai tahap eksplorasi dan development. Tahun 1993 tambang ini tutup sebagai akibat dari jatuhnya harga logam, hingga akhirnya beroperasi kembali pada tahun 1996 hingga sekarang.

Lokasinya yang cukup terpencil memang menyulitkan untuk suplai kebutuhan materialnya. Sebagian karyawan ada yang tinggal di kompleks perumahan (camp-site) yang terletak di pinggir dermaga pengapalan konsentrat dan mereka ini umumnya karyawan lajang. Sebagian lainnya yang mempunyai keluarga dan tinggal di Juneau, biasanya berangkat pagi-pagi naik kapal motor yang disewa perusahaan lalu disambung bis dan demikian pula saat pulang kerja sore hari. Cara ini berlaku sama bagi setiap karyawan baik miner maupun General Manager. Karena itu ya mohon dimaklumi, kalau saya merasa sangat “tidak enak” ketika harus naik pesawat khusus pagi kemarin.

***

Sore tadi, saya pun meninggalkan lokasi tambang Greens Creek setelah berpamitan dengan Sang General Manager yang (di mata saya) sangat baik. Sekali lagi saya memohon maaf kepada beliau dan sangat berterima kasih atas kesempatan yang sangat berharga ini. Jawaban beliau kira-kira begini : “Sudahlah, itu tidak perlu diingat-ingat. Siapa saja bisa terlambat kalau mesti berangkat jam 4:00 pagi”. Kata-kata yang bernada ngayem-ayemi (membuat perasaan lega) ini tentu saja cukup meringankan beban perasaan saya ketika meninggalkan tambang Greens Creek.

Akhirnya saya pun kembali ke hotel yang sama seperti saat pertama kali tiba di Juneau. Malam ini mau istirahat dulu. Perjalanan kunjungan tambang selama dua hari ini saya rasakan sukses dan memuaskan. Banyak hal baru yang saya pelajari untuk dijadikan bahan kajian lebih lanjut. Meninggalkan lokasi tambang naik bis menuju dermaga kapal motor yang lokasinya berbeda dan cukup jauh dari lokasi camp site. Untuk mencapai dermaga kapal motor ini perlu menempuh perjalanan darat sekitar 25 km selama 45 menit dari lokasi tambang. Dari dermaga disambung dengan kapal motor (boat) yang cukup mewah menuju dermaga di Juneau selama kira-kira 30 menit.

Besok adalah hari Jum’at yang adalah hari bebas saya. Mestinya saya akan langsung kembali ke New Orleans menempuh perjalanan sekitar 10 jam termasuk transit di Seattle dan Houston. Jika ditambah dengan perbedaan waktu antara Alaska dan Louisiana, maka perjalanan seakan-akan menjadi 13 jam. Oleh karena itu, tetap saja saya baru akan mulai masuk kantor hari Seninnya. Saya pikir-pikir, ya mendingan saya manfaatkan waktu sehari lagi untuk menjelajahi kawasan Juneau sebelum pulang ke New Orleans. Toh, masuk kerjanya juga hari Senin.

***

Hari-hari ini matahari tepat di katulistiwa. Akibatnya jadwal sholat di wilayah beriklim dingin seperti Alaska ini menjadi “agak merepotkan”. Malam ini waktu Isya’ baru tiba tengah malam lewat sedikit (kira-kira jam 00:05). “Lha, njuk kapan tidurnya?”. Tapi anehnya, waktu Shubuh besok malah mundur 2 jam dibanding tadi pagi, yaitu menjadi jam 03:22 dini hari. Bingung juga saya, kok perubahan waktunya tidak teratur. Pokoknya ya ikuti sajalah.

Juneau, 26 April 2001 – 22:30 AKST (27 April 2001 – 13:30 WIB) 
Yusuf Iskandar