Posts Tagged ‘resto’

VIP Lounge

21 Juni 2010

Jika sedang menunggu boarding di bandara dan ingin makan-minum sepuasnya, carilah VIP Lounge, terutama bagi pemilik kartu kredit tertentu. Jika tidak punya kartu kredit, tetap masuklah ke sana karena jatuhnya lebih murah. Biaya Rp 50.000,-/orang (terkadang ada diskon), makan-minum sepuasnya, sekalian buang hajatnya. Dibanding kalau di resto di luarnya mungkin jadi lebih mahal. Nggak nyamannya…, diuber sales kartu kredit…

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Resto ‘Bukit Indah’ Jogja

11 Juni 2010

Menyaksikan kota Jogja dari ketinggian, apalagi saat malam, indah sekali… Maka pergilah ke Resto ‘Bukit Indah’ di kawasan bukit Patuk, sekitar 3 km naik dari Piyungan arah Wonosari. Menunya cukup komplit, lumayan enak dan suasananya ittuuu

Baru usai direnovasi. Seorang pegawainya promosi: “Mumpung masih harga perkenalan pak, cocok untuk meeting“. Lha meeting karo soppo..? Atau sekedar saling bercengkerama (kata dasarnya bukan ‘cengkeram’ lho…)

Yogyakarta, 3 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Wedang Jahe

16 April 2010

Masih beberapa jam lagi menuju tengah malam di sebuah resto di Jogja. Obrolan sudah ngalor-ngidul, tapi pesananku wedang jahe kok tak kunjung tiba. Mungkin bukan prioritas, tidak separti kalau pesan minuman beralkohol. Kepada mbak pelayan akhirnya saya bilang: “Wah, keburu subuh mbak…”. Tidak lama kemdian wedang jahe dalam poci tanah pun tersaji.

Yogyakarta, 11 April 2010
Yusuf Iskandar

Pemandu

2 April 2010

Menjamu seorang rekan yang segera akan bertolak ke India, meninggalkan satu kemapanan menuju kemapanan berikutnya. Di sebuah resto di Jogja, seorang gadis menyambut dan menawari karaoke (lha wong mau makan kok ditawari nyanyi…).

Katanya : “Ada tempat khusus untuk karaoke, pak. Juga disediakan pemandu sejam Rp 40 ribu, minimal 2 jam”.
Kujawab : “Waduh, sayang mbak”.
Gadis itu heran. “Kenapa pak?”, tanyanya.
“Saya dulu bekas pandu…”, jawabku

Yogyakarta, 1 April 2010
Yusuf Iskandar

Sate Khas Senayan Express

3 Juli 2009

Makan siang di ‘Sate Khas Senayan Express’ yang rasa satenya tidak khas sama sekali alias biasa-biasa saja. Seporsi terdiri 6 tusuk @ 4 iris daging kecil harganya 27 ribu + nasi putih 10 ribu (untung dibayarin…). Yen tak pikir-pikir…, resto ini hanya cocok untuk tujuan entertainment. Jika tujuannya sekedar agar tidak lapar, maka lebih hemat dan efisien nyate di kaki lima…

(Sebenarnya yang sedang dibeli dan dinikmati oleh konsumen adalah suasana dan gengsinya. Lebih dari itu rasa satenya standar. Maka pilihan ada di kantong konsumen…)

Jakarta, 3 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Pecel Lele “Sabar Menanti”

16 April 2008

Maaf, bukannya mau ngiming-imingi, tapi makan itu memang enak dan perlu. Kali ini info pilihan makan untuk kondisi ingin cepat, enak dan murah. Suatu ketika Anda sedang dalam perjalanan menuju Yogya dari arah timur, perut keroncongan, bingung dan malas untuk blusukan mencari-cari restoran yang enak. Maka rumah makan “Sabar Menanti” bisa menjadi jujugan yang tidak akan mengecewakan. Lokasinya di pinggir jalan raya dan mudah dicapai.

Kalau dari arah timur mau masuk Yogya, lokasinya kira-kira 500 meter sebelum pertigaan bandara Adisutjipto, sebelah kiri atau selatan jalan sebelum tikungan. Kalau dari arah Yogya, ya kebalikannya to……, kira-kira 500 meter setelah pertigaan bandara Adisutjipto, setelah tikungan, di sisi kanan jalan. Ada puluhan bahkan ratusan rumah makan di sepanjang jalan Yogya – Solo, dan Sabar Menanti layak dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan.

Di antara kelebihannya adalah pelayananan yang cepat, karena self-service. Tidak sesuai dengan namanya, di rumah makan ini Anda tidak perlu menanti berlama-lama untuk makan. Pasalnya, diterapkan sistem prasmanan….. Jadi ingat seperti jaman kost di Bandung belasan tahun yang lalu : masuk, ambil piring, ambil nasi-lauk-sayur, dihitung kasir, bayar, makan, pulang. Kalau perlu tanpa ngomong sepatah kata pun.

Kelebihan yang kedua, tersedia segala macam masakan. Ibaratnya, kepingin menu apa saja ada. Tinggal ambil sedikit atau sebanyak yang dimaui, lalu ditunjukkan kepada petugas kasir, maka kasir akan menghitung harganya. Untuk menu-menu tertentu perlu pesan dulu, biasanya tidak harus menunggu lama. Ketersediaan menunya lebih komplit dibanding rumah makan padang.

Kelebihan ketiga, lha ini yang penting……, ada menu istimewa yang jangan dilewatkan, yaitu pecel lele plus lalapan sambal terasi dan oseng-oseng cabai hijau. Sueeedap sekale. Jangan lupa pesan juga es dawet ndeso. Mak nyesss….. Seprana-seprene makan di restoran, jarang-jarang saya sampai keringatan, hingga terasa gatal di kulit kepala.

Soal harga? Kategori wajar, bahkan cenderung murah untuk “performance” yang seperti pernah saya alami.

Tahun 1985, rumah makan ini sebenarnya hanya berupa gubuk reot di sisi utara jalan. Jadi ampiran para buruh, pegawai dan sopir-sopir. Eh, lha kok sekarang sudah berdiri magrong-magrong tepat di seberang jalan dari gubuknya yang lama, yang kini masih terlihat sosoknya. Ketika siang itu saya mampir untuk makan siang menjelang sore, di sana masih terlihat banyak kendaraan berplat nomor luar Yogya. Rupanya rombongan keluarga yang baru melakukan perjalanan liburan. Itulah, menilik lokasinya memang cocok menjadi salah satu pilihan untuk tempat singgah makan yang cepat, enak dan murah. Suasana makannya bukan seperti makan lesehan bersuasana pedesaan, melainkan suasana restoran.

Entah pemicu kesuksesan macam apa yang dialami oleh pemilik resto “Sabar Menanti” ini. Namun kalau menilik perjalanan rentang waktu yang dilaluinya, pasti karena keuletan dan kesabaran saja yang jadi kuncinya.

Jadi, kalau lagi jalan-jalan menuju Yogya dan ingin segera cari makan yang cepat, enak dan murah? Monggo……., “Sabar Menanti” bisa jadi pilihan. (Jangan lupa ya? Pecel lele dan oseng-oseng lombok hijaunya hueenak tenan…..).

Wis, ah….

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 23 Juli 2004.

Beda Bikin Marem, Di Marem Pondok Seafood

7 April 2008

(1)

Mencari makan malam di saat kemalaman di malam Minggu. Akhirnya kami sekeluarga menuju ke pondok makan menu ikan laut di bilangan jalan Wonosari, Yogyakarta. ‘Marem’ Pondok Seafood, judul rumah makannya, yang ternyata malam itu tutup lebih malam dari malam-malam biasanya. Jam buka normalnya mulai jam 10 pagi sampai jam 9 malam.

Malam Minggu kemarin itu adalah kunjungan kami yang ketiga kali. Tentu ada alasan kenapa sampai berkunjung kesana berkali-kali. Ya, apalagi kalau bukan karena masakannya cocok, enak dan harganya wajar. Yang ngangeni (bikin kangen)dari rumah makan ini adalah menu ca kangkung dan udang galah hotplate, sedangkan menu lainnya juga sama enaknya.

Lokasinya agak tersembunyi tapi mudah dicapai. Dari Yogya menuju ke arah jalan Wonosari, ketemu traffic light pertama lalu belok kanan. Marem’ Pondok Seafood kira-kira berada 200 meter dari perempatan di sisi sebelah kiri. Rumah makan yang mengusung motto “Coba yang beda, beda bikin marem” (kedengaran seadanya dan rada kurang menjual) ini sebenarnya menempati areal yang tidak terlalu besar, tapi tertata apik dan rapi.

Menu unggulannya adalah udang galah marem hotplate. Bisa ditebak, ini udang galah goreng yang dimasak mirp-mirip bumbu asam manis dan disajikan di atas wadah yang masih panas berasap. Rasa udangnya, irisan paprika dan bawang bombay-nya begitu mengena di lidah, demikian halnya dengan kuah kental yang menyelimutinya. Taste yang berbeda dari yang biasanya saya temui di rumah makan lain. Lain rumah makan, pasti lain pula rasanya. Tapi yang ini beda. Ya, beda bikin marem, itu tadi.

Tiga kali kami berkunjung, tiga kali pula udang galah kami nikmati hingga ludes sekuah-kuahnya. Untung saja plate-nya hot, kalau tidak….. nasinya saya tuang ke plate, agar bisa dikoreti kuahnya……

Selain udang ada juga pilihan kepiting yang didatangkan dari Tarakan, Kaltim. Ada kepiting jantan, kepiting telor dan kepiting gembur. Juga cumi dan kerang. Meski judulnya seafood, tapi juga tersedia ikan gurame, nila dan bawal.

Sayurnya ada aneka pilihan sup, ca kangkung, tauge ikan asin atau oseng jamur putih. Nah, ca kangkungnya ini yang ngangeni. Padahal dimana-mana yang namanya ca atau tumis atau oseng kangkung ya pasti kayak gitu juga, tapi yang ini hoenak tenan….. Selain racikan masakannya yang mak nyuss, kangkungnya sendiri rupanya agak beda. Ya, beda bikin marem, itu tadi.

Setiap kali saya tanya darimana kangkungnya, setiapkali pula tidak pernah dijawab jelas oleh pelayannya, selain hanya mengatakan ada pemasoknya. Agaknya memang dirahasiakan. Batang kangkungnya kemrenyes seperti kangkung plecing dari Lombok, daunnya lebar-lebar, disajikan agak belum masak sekali sehingga warna hijaunya masih seindah warna aslinya. Dan, inilah rahasia menikmati ca kangkung, yaitu makanlah selagi masih fanas (pakai ‘f’, karena kepanasan sehingga bibir susah mengucap ‘p’). Kalau ditunggu dingin, maka Anda akan kehilangan sensasi kemrenyes dari kangkungnya.

Ada juga lalapan plus pilihan sambalnya, mau sambal bawang mentah, sambal terasi mentah atau samal tomat goreng. Minumnya? Terakhir saya mencoba ‘Algojo’ yang ternyata adalah alpokat gulo jowo (es alpokat pakai gula jawa atau gula merah).

Pak Gunawan, sang pemilik ‘Marem’ Pondok Seafood, memang pintar memilih juru masak. Dua orang juru masaknya yang katanya orang Jogja dan Tegal, pantas diacungi dua jempol (kalau hanya satu jempol nanti kokinya berebut….., berebut diacungi, bukan berebut jempol… ). Sentuhan tangan sang kokilah yang telah menghasilkan ramuan bumbu dan olahan masakannya menjadi sajian yang tidak membuat bosan para pencari makan (pengunjung, maksudnya) untuk singgah berulang kali.

(2)

Lebih dari sekedar masakannya yang enak. Hal lain yang menarik perhatian saya daripada rumah makan ‘Marem’ Pondok Seafood adalah pelayanannya. Rumah makan ini diawaki oleh 12 orang, sebagai ujung tombaknya adalah pelayan perempuan, yaitu bagian yang mendatangi tamu pertama kali dan mencatat menu pesanan pelanggan.

Pelayanan yang ramah, bersahabat dan mempribadi, tercermin dari cara para pelayan memperlakukan tamu-tamunya. Setidak-tidaknya, tiga kali saya berkunjung, tiga kali dilayani oleh pelayan berbeda, tiga kali pula saya menangkap kesan pelayanan yang sama seperti yang saya ekspresikan itu.

Anak perempuan saya (Mia, namanya) sempat heran, mbak pelayan ini sesekali menyebut nama anak saya itu. Padahal, teman sekolah bukan, tetangga bukan, berkenalan juga belum pernah, bahkan baru sekali itu ketemunya. Kesan mempribadi dengan menyebut nama seseorang seketika terbentuk. Peristiwa itu akan demikian membekas di hati pelanggan, seolah-olah mbak pelayan ini bukan orang lain. Rupanya mbak pelayan ini memperhatikan percakapan kami, sehingga dia tahu nama anak saya.

Demikian pula sesekali mbak pelayan membuka percakapan dengan tanpa menimbulkan kesan mengada-ada. Barangkali karena melihat saya banyak bertanya mengorek informasi, maka mbak pelayan pun dengan ramah bisa memancing pertanyaan apa ada yang ingin diketahui lagi, misalnya. Yang sebenarnya dapat saya terjemahkan sebagai apa ada yang mau dipesan lagi.

Bagi saya, pengalaman di ‘Marem’ Pondok Seafood adalah sebuah pelajaran. Dan pelajaran itu saya tanamkan kepada kedua anak saya sambil bercakap-cakap dalam perjalanan pulang setelah puas makan. Bukan pelajaran tentang masakannya, kalau soal itu tinggal ikut kursus saja. Melainkan pelajaran tentang pelayanan, yang bisa diaplikasikan pada berbagai aktifitas kehidupan. Bisnis hanyalah satu diantaranya.

Dua hal saya coba bicarakan. Pertama, memperhatikan pelayanan sejenis di resto-resto di luar negeri (sekedar contoh, sebut saja di Amerika dan Australia). Pada umumnya kalau kita makan, maka sang pelayan akan tidak bosan-bosannya mencoba memancing percakapan selintas, yang sepertinya basa-basi, tapi memberi kesan mempribadi. Intinya, kepentingan para pencari makan sangat diperhatikan dan dilayani sebaik-baiknya. Jangan biarkan ada cela sedikitpun dalam masalah pelayanan.

Kebalikannya pada umumnya di Indonesia (saya suka menjadikan kasus ini sebagai ilustrasi). Kalau bisa urusan hajat perut ini diselenggarakan (tidak perlu dengan cara saksama) melainkan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, jika perlu. Tamu datang, dicatat ordernya, dikirim pesanannya (kalau agak lama pun cuek bebek…), dihabiskan makanannya (bahkan kalau tidak dihabiskan pun ora urus yang penting mbayar), lalu pulang.

Kedua, filosofi pelayanan semacam ini sudah, sedang dan akan terus dicoba diterapkan di toko ritel yang saya kelola, yaitu “Madurejo Swalayan” di pinggiran timur Yogya. Sejak awal berdirinya dua tahun yang lalu, kepada para pelayan toko selalu saya tekankan dan saya motivasi tentang perlunya menciptakan suasana paseduluran (persaudaraan) yang mempribadi kepada pelanggan. Lingkungan ndeso dimana toko saya berada memang memungkinkan untuk hal itu. Pengalaman menunjukkan bahwa ternyata yang demikian ini tidak mudah.

Hasil apa yang selanjutnya diharapan? Bolehlah kita berharap di kesempatan lain pelanggan kita akan kembali lagi karena merasa dia sedang berada di toko kepunyaan teman atau saudaranya, bukan orang lain.

Sebenarnya malam itu saya ingin ngobrol-ngobrol dan mengenal lebih jauh dengan Pak Gunawan, sang pemilik ‘Marem’ Pondok Seafood. Tapi sayang saya tidak ketemu beliau. Mudah-mudahan di kunjungan berikutnya (kami memang sudah kadung menyukai masakannya), saya berhasil menemui beliau.

Ada tiga kemungkinan yang saya ingin pelajari lebih dalam, soal pelayanan di rumah makan ini. Pertama, para pelayan mungkin sebelum turun ke lapangan sudah diajari dan dibekali dengan ngelmu masalah pelayanan. Kedua, jika ternyata kemungkinan pertama salah, maka berarti telah dilakukan sistem seleksi penerimaan pegawai yang baik. Ketiga, jika kedua hal itu ternyata bukan juga, maka ya bejo-ne (untungnya) Pak Gunawan, punya pegawai yang terampil. Dan yang terakhir ini tidak bisa ditiru.

*) Marem = puas (bhs. Jawa) 

Madurejo, Sleman – 26 Desember 2007
Yusuf Iskandar