Posts Tagged ‘red light district’

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(8).   Tiba Di Stasiun Amsterdam Centraal

Waktu sudah menunjukkan lewat jam 21:00 dibawah cuaca yang masih sangat cerah ketika akhirnya kami tiba di stasiun Amsterdam Centraal. Di negeri Belanda soal komunikasi masih lebih enak. Setidaknya setiap orang yang saya temui ternyata paham bahasa Inggris, termasuk sopir taksi, porter stasiun, juga pegawai toko dan restoran. Demikian ketika naik taksi dari stasiun menuju hotel, pak sopirnya cukup mengenal tentang Indonesia. Malah dia cerita tentang Gus Dur yang dulu sebelum jadi presiden sering singgah ke Amsterdam.

Pak Sopir pun membawa kami agak berkeliling melewati beberapa tempat terkenal sambil menyisipkan sedikit penjelasan kepada kami, layaknya pemandu wisata saja. Termasuk ketika kami lewat di depan istana Royal Palace sebagai simbol kebesaran kerajaan Belanda dimana ratu Beatrix biasanya menyelenggarakan acara-acara kenegaraan.

Untuk maksud berbelanja, maka pusat perbelanjaan Magna Plaza agaknya dapat menjadi salah satu pilihan, setidak-tidaknya bentuk dan konstruksi bangunan tua pusat perbelanjaan ini memang menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya di kota Paris, di Amsterdam juga masih banyak dijumpai bangunan-bangunan berkonstruksi tinggi dan berarsitektur kuno yang masih berfungsi serta terawat dengan baik.    

Ketika tiba di kawasan Red Light District, pak sopir membenarkan ini memang tempat yang sangat terkenal sebagai kawasan entertainment. Tapi buru-buru pak sopir taksi menambahkan : “….. tapi tidak untuk keluarga”. Ya, saya tahu itu. Entah kenapa satu kawasan di pusat kota Amsterdam ini begitu terkenal. Keberadaannya sama terkenalnya dengan obyek-obyek wisata lainnya di Amsterdam.

Saya memang tidak berniat mengeksplorasi lebih jauh kawasan ini. Namun dapat saya ilustrasikan bahwa kawasan lampu merah ini kira-kira sama dengan Bourbon Street di New Orleans atau The Strip di Las Vegas atau Pat Pong di Bangkok yang semuanya memang sengaja dijual sebagai komoditi pariwisata. Di Jakarta malah tidak ada yang dapat disebut karena entertainment jenis ini termasuk komoditi yang resminya tidak halal untuk dijual. Atau jangan-jangan susah disebut karena saking banyak dan menyebarnya lokasi semacam itu yang keberadaannya sembunyi-sembunyi?    

Sekitar pukul 22:00 kami tiba di hotel. Matahari sedang beranjak tenggelam dan masih menyisakan cahaya merahnya. Beruntung cuaca Amsterdam senja itu cukup cerah.  Setiba di hotel dan setelah sedikit berbenah, kami langsung keluar dari hotel dan lalu mencari restoran untuk makan malam. Menurut sopir taksi yang membawa kami dari stasiun Amsterdam Centraal, di Amsterdam dan sekitarnya ini ternyata ada sangat banyak restoran Indonesia.

Dari daftar restoran di Amsterdam yang dimiliki oleh pak sopir taksi, ada puluhan restoran masakan Indonesia. Pak sopir taksi pun lalu merekomendasi sebuah restoran Indonesia lengkap dengan alamatnya yang menurutnya cukup terkenal. Namanya restoran “Raden Mas”. Ke restoran itulah malam itu kami menikmati santap malam atau mungkin lebih tepat disebut santap larut malam. Restoran di Amsterdam saat musim panas ini buka hingga jam 23:00. Menu sate dan nasi putih lalu menjadi pilihan kami, mengingat sejak beberapa hari terakhir ini tidak ketemu nasi.

***

Memperhatikan lalu lintas di Amsterdam nampaknya tidak terlalu sibuk dan padat, tidak sebagaimana di Paris. Hanya saja yang barangkali agak merepotkan bagi mereka yang memilih mengemudikan kendaraan sendiri dalam menjelajahi kota Amsterdam atau Belanda pada umumnya adalah perlunya waspada terhadap banyaknya jalur tram atau kereta api listrik yang menjadi satu dengan jalur kendaraan.

Kereta api memang menjadi sarana transportasi umum yang sangat populer di Belanda, bahkan juga untuk sarana berwisata. Seperti halnya di Paris, informasi tentang jalur-jalur kereta api serta tata cara penggunaannya terutama bagi pendatang baru di Amsterdam juga sangat mudah diperoleh. Jika mempunyai waktu yang agak longgar, berwisata dengan kereta api akan sangat menghemat biaya, tetapi pasti pergerakannya tidak secepat mobil.

Di Amsterdam banyak dijumpai adanya kanal-kanal atau sungai-sungai buatan yang berada paralel mengeliling setengah lingkaran kota Amsterdam yang memang terletak di ujung teluk. Sarana transportasi sungai atau kanal pun dapat menjadi pilihan untuk berwisata mengelilingi kota Amsterdam.    

Hanya ada satu hal yang membuat saya agak kesulitan untuk cepat mengenali wilayah Amsterdam sekalipun sudah berpedoman pada peta, yaitu susahnya mengingat nama-nama tempat atau jalan yang tentunya tertulis dalam ejaan bahasa Belanda. Kata-kata bahasa Belanda ternyata lebih sulit saya ingat dibanding kata-kata bahasa Perancis. Meskipun di beberapa tempat sesekali saya temukan nama-nama yang sama dengan bahasa Indonesia, seperti misalnya kata kantor, halte, stanplat (standplaats), dsb. yang memang telah menjadi kata serapan dalam kosakata bahasa Indonesia.- 

Yusuf Iskandar

Iklan