Posts Tagged ‘rantau’

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 24 Juli sampai 29 Juli 2006, saya melakukan perjalanan darat menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan dari Banjarmasin (Kalsel) menuju Samarinda (Kaltim). Ini adalah perjalanan traveling dalam rangka urusan pekerjaan sambil jalan-jalan. Berikut ini adalah catatan perjalanan saya.

(1).   Pergi Ke Rantau
(2).   Sarapan Ketupat Haruan 
(3).   Pergi Ke Atas 
(4).   Mencari Batubara Di Pasir 
(5).   Menyantap Trekulu Bakar 
(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif
(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama
(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”
(9).   Menyeberang Ke Balikpapan
(10). Di Tepinya Sungai Mahakam
(11). Nggado Ikan Puyu Goreng Garing
(12). Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy
(13). Tenggarong Di Waktu Sore
(14). Rebutan Bukit Soeharto
(15). Tragedi Pembantaian Massal Di Kota Minyak
(16). Kenapa Disebut Balikpapan?

Iklan

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(1).   Pergi Ke Rantau

Sebenarnya hari masih belum sore-sore amat ketika saya mendarat di bandara Syamsudin Noor Banjarmasin yang terletak di Kotamadya Banjarbaru, Senin, 24 Juli 2006 yang lalu. Hanya karena propinsi Kalimantan Selatan ini masuk dalam wilayah Waktu Indonesia Tengah, maka sepertinya hari sudah sore karena sudah jam limo keliwat limo, meski arloji saya masih menunjukkan jam enambelas lebih lima menit, waktu Yogyakarta. Inilah kali pertama saya menjejakkan kaki di bumi Kalimantan. Jejakan pertama begitu menggoda, selebihnya tidak akan saya sia-siakan dengan banyak jejakan seminggu ke depan.

Sambil menunggu mobil jemputan, kami (saya dan beberapa teman) ngopi dulu di sudut pintu keluar bandara. Sekira setengah jam kemudian barulah kami meninggalkan bandara dan langsung meluncur ke arah utara. Berarti juga menjauh dari kota Banjarmasin yang berada kira-kira 25 km ke arah barat dari Banjarbaru. Kami terus melaju ke arah utara melewati kota Martapura. Kota Banjarbaru dan Martapura yang berjarak sekitar tiga kilometer sepertinya sudah menjadi satu kawasan kota besar. Martapura yang ketika di sekolah dulu dikenal sebagai kota penghasil intan, seakan tidak lagi mengesankan sebagai sebuah kota tambang melainkan sebuah kota yang sedang beranjak tumbuh dan padat penduduknya. Selain di buku-buku ilmu bumi dulu dikenal sebagai kota intan, di Kalimantan kini Martapura juga dikenal sebagai kota santri.

Hari sudah mulai benar-benar senja saat meninggalkan kota Martapura dan terus melaju ke arah utara mengikuti jalan Trans Kalimantan. Hari semakin gelap, tapi lalulintas di jalan yang beraspal mulus masih terlihat padat. Semakin malam semakin padat dengan puluhan bahkan mungkin ratusan truk pengangkut batubara. Kami berpapasan dengan truk-truk yang sedang mengangkut batubara dari banyak lokasi tambang di wilayah Kalimantan Selatan yang sedang menuju ke pelabuhan sungai, Trisakti, di Banjarmasin. Konvoi truk-truk pengangkut batubara itu memang hanya diijinkan melewati jalur lalulintas umum hanya pada malam hari. Para sopir truk pun seakan berkejaran agar bisa mengangkut batubara sebanyak-banyaknya untuk ditumpahkan ke dalam tongkang yang sudah menanti di pelabuhan, sebelum ayam jantan berkokok di pagi hari. Tidak mau kalah dengan Bandung Bondowoso yang mengejar menyelesaikan seribu candi.

***

Malam itu kami pergi ke Rantau. Rantau adalah ibukota kabupaten Tapin, satu dari sebelas kabupaten yang ada di wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Dari Martapura menuju Rantau ditempuh selama kurang-lebih dua jam perjalanan melintasi jalan darat sejauh kira-kira 70 km. Sudah lewat jam tujuh malam ketika akhirnya kami tiba di Rantau, melewati beberapa wilayah kecamatan, antara lain Binuang.

Kota kecamatan Binuang terkenal dengan produk makanan khasnya yaitu selai pisang rimpi. Nama kota kecil ini cukup dikenal oleh mereka yang sering berkunjung ke Kalsel, meski tidak semuanya tahu kalau ada produk makanan khas hasil olahan dari buah pisang. Pisang merupakan salah satu produk pertanian yang memang banyak dihasilkan di Binuang dan umumnya sebagian wilayah Kalsel. Dan produk selai pisang Binuang pun dikenal dengan sebutan rimpi Binuang. Meski saya tidak sempat berhenti membeli oleh-oleh di Binuang (wong baru saja menginjakkan kaki, kok sudah beli oleh-oleh…..) karena hari sudah gelap, tapi akan saya catat siapa tahu pada kesempatan lain saya sempat mampir untuk mencicipinya.

Rantau hanyalah kota kecil yang tidak terlampau padat penduduknya, dan di sanalah malam itu kami bermalam. Kota ini sengaja dipilih karena kebetulan ada seorang teman yang tinggal di sana, sekalian bersilaturahmi dengan keluarganya. Juga karena kota ini berada di tengah rute perjalanan, agar perjalanan darat menuju utara esok hari menuju perbatasan Kalimantan Timur menjadi tidak terlalu jauh. Sebenarnya lokasi yang kami tuju lebih dekat dicapai dari Balikpapan, hanya karena ingin melihat dunia lebih banyak, maka dipilih mencapainya dari Banjarbaru. Rugi sehari waktu tempuh, tapi untung ratusan kilometer jarak dijejak.

Seorang teman mengidentifikasi jalur jalan sepanjang Martapura – Rantau (dan ke utara lagi) sebagai rute jalan “seribu masjid”. Tentu ini guyonan plesetan. Pasalnya di sepanjang jalur jalan itu banyak betebaran bangunan masjid atau musola, baik yang sudah jadi maupun yang sedang dibangun, bahkan yang sedang dipikirkan untuk dibangun. Nyaris ada sebuah masjid atau musola berdiri di hampir setiap kampung di pinggir penggal jalan lintas Trans Kalimantan ini. Maklum, di sana memang banyak orang berpunya dari hasil batubara. Kalaupun tidak ada dana, maka tinggal memasang tong atau drum di tengah jalan dan siapkan sebuah jaring ikan untuk menampung lemparan uang dari para pengguna jalan. Mirip-mirip yang terjadi di jalur pantura (terlebih kalau bulan puasa), juga di Bantul ketika bantuan terlambat menjangkau para korban gempa.

Meskipun saya sendiri telanjur su’udzdzon (berprasangka buruk), saya toh tetap berusaha untuk khusnudzdzon (berprasangka baik), semoga semangat masyarakat setempat untuk memakmurkan dan menghidup-hidupi ribuan masjid itu sama atau lebih besar dari semangat untuk membangunnya. Sebelum nanti malah digunakan untuk arena uji nyali atau uka-uka…..     

Setiba di Rantau malam itu, kota ini tampak ramai. Rupanya di Rantau sedang ada hajatan besar untuk ukuran kota kecil seperti Rantau. Sore hari sebelum kami tiba, di Rantau ada pembukaan Porprov. Ini istilah yang kedengaran agak aneh di telinga saya. Maksudnya adalah Pekan Olah Raga Provinsi Kalimantan Selatan yang diselenggarakan di kabupaten Tapin. Di tempat lain biasanya disebut Porda. Maka Rantau pun hari-hari itu menjadi semarak dan ramai dengan aneka kegiatan olah raga, mencari atlit terbaik untuk menuju Pekan Olah Raga Nasional ke-17 yang akan diselenggarakan di provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2008.

Yogyakarta, 3 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(2).  Sarapan Ketupat Haruan 

Selasa pagi keesokan harinya, sebelum meninggalkan Rantau untuk meneruskan perjalanan ke utara menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan, tentu perlu mengisi bahan bakar. Ya untuk mobil, ya untuk perut penumpangnya. Mampirlah kami ke sebuah warung tempat biasa mangkal para pegawai dan pekerja untuk sarapan. Menunya ketupat dengan lauk kari ikan haruan. Pokoknya, pilih menu yang tidak ada di tempat lain. Minumnya teh panas. Berbeda dengan daerah Sumatera, di kawasan Kalimantan yang saya temui baru pertama kali ini rupanya kebiasaan minum kopi tidak mentradisi. Kalau mau ngopi ya bikin sendiri. Makanya jarang kita dengar ada kopi Kalimantan.

Tersajilah sepiring potongan ketupat, lalu secawan kuah sejenis kari dengan sepotong kepala ikan haruan di atasnya. Lho, kok tidak ada sendoknya? Saya pun tolah-toleh mencari sendok. Tapi teman yang duduk di sebelah saya yang asli Rantau memberitahu, bahwa tradisi masyarakat Rantau makan ketupat haruan tidak pakai sendok. Maka saya pun lalu turun tangan, maksudnya makan pakai tangan. Lha piye iki, ketupat digrujug kuah kari lalu dimakan pakai tangan. Lhadalah….., sepotong ketupatnya remuk, terpaksa butiran nasinya dijumputi pakai jari. Tapi yang paling hoasyik dan hoenak adalah ketika tiba waktunya nithili endas iwak (makan kepala ikan sedikit demi sedikit sampai tuntas-tas-tas-tas…..).

Sebenarnya nama yang benar untuk makanan khas Kalimantan Selatan atau tepatnya masyarakat Banjar ini adalah ketupat kandangan, merujuk pada nama kota Kandangan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan. Namun karena bentuk ketupat yang kami sarap di Rantau pagi itu agak berbeda dengan ketupat dari Kandangan, meski kuah campurannya sama, yaitu kuah ikan haruan, maka saya sebut saja ketupat haruan. Jadi kalau kebetulan lain kali berkesempatan mampir di Kalsel, carilah ketupat kandangan, bukan ketupat haruan.

Ikan haruan, mulanya saya tidak tahu juga ini ikan jenis apa? Rupanya ikan haruan ini adalah nama lain untuk ikan gabus, yang kalau di kampung saya disebut ikan kutuk, bentuknya mirip-mirip lele. Prejengannya (profil mukanya) menakutkan seperti kepala ular. Tapi rasanya , bo….. Gurih dan huenak tenan. Tingkat kelezatannya berbeda dengan ikan sejenis yang ada di Jawa atau tempat lain (kata orang yang pernah mencicipi ikan haruan di tempat lain). Untuk mengimbangi kelezatannya, terpaksa kepala ikannya nambah satu porsi lagi.

***

Ikan haruan atau gabus (Ophiocephalus striatus atau Channa striatus) adalah jenis ikan yang banyak hidup di rawa-rawa, bahkan di genangan-genangan air yang masam di Kalimantan Selatan. Dapat dikatakan ikan haruan adalah makanan rakyat Banjar yang umumnya disantap bersama ketupat kandangan. Inilah makanan yang menduduki nilai penting dalam hidangan makanan khas Kalsel. Bahkan untuk ikan haruan berapa pun harganya di pasaran akan dibeli warga demi melengkapi hidangan makanan khas, terutama untuk hidangan ketupat kandangan.

Kini kabarnya ikan haruan ini semakin langka diperoleh di habitatnya di Kalsel. Terutama sejak maraknya dilakukan perburuan anak-anak ikan haruan untuk umpan ikan hias louhan. Sehingga membuat ikan haruan dewasa semakin sulit diperoleh. Padahal selain kelezatannya yang tak tertandingi, katanya, ikan ini juga sebenarnya mempunyai keunggulan lain yaitu sangat bermanfaat untuk penyembuh luka.

Ikan, jenis karnivora yang nenek moyangnya berdomisili di Asia ini pernah mau dimusnahkan dan dicekal masuk ke Amerika. Jenis ikan yang termasuk rakus dan kanibal ini bagi Amerika menjadi mahluk yang menakutkan. Sebaliknya di Indonesia, khususnya di Kalsel malah menduduki posisi ekonomi yang cukup penting.

Pernah tercatat di Banjarmasin, bahwa kelangkaan komoditas ikan haruan dan beberapa jenis ikan lokal di sana bisa menjadi penyebab terdongkraknya angka inflasi. Agak aneh kedengarannya jika dibandingkan dengan pemicu inflasi di kota-kota lain yang biasanya didorong oleh sektor jasa, properti, atau permintaan barang-barang konsumsi lainnya. Sumbangan perubahan harga ikan haruan bisa menduduki urutan teratas dari 10 komoditas di Kalsel yang menjadi pendorong inflasi. Masyarakat Kalsel memang “maniak” dengan ikan lokal, terutama haruan. Maka wajarlah kalau berapa pun harga ikan haruan akan tetap dibeli oleh masyarakat.

Sementara di Malaysia, ikan ini dipercaya sangat mujarab menjadi penyembuh luka dan amat ampuh untuk pemulihan kesehatan luka bagi ibu sehabis bersalin. Sejak tahun 1931, menurut literatur Malaysia telah menganjurkan pengobatan luka dengan haruan. Perguruan  tinggi di Malaysia hingga kini pun terus meneliti khasiat haruan. Ini karena diindikasikan  di dalam tubuh ikan haruan terkandung semua asam amino esensial dan asam lemak unik yang mampu mempercepat penyembuhan luka.

Sedangkan di Indonesia, penelitian ikan haruan sebagai obat penyembuh luka masih sangat minim. Publikasi penelitian ikan haruan untuk obat di Indonesia baru terpantau dalam penelitian Prof Dr Ir Eddy Suprayitno MS awal Januari 2003 lalu. Penelitian yang mengungkap pemanfaatan ekstrak ikan gabus sebagai pengganti serum albumin yang biasanya digunakan untuk menyembuhkan luka operasi, telah mengantarkan Eddy Suprayitno meraih gelar profesor pertama di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang.

Dari informasi yang sempat saya gali, mengungkapkan kalau penelitian di Indonesia masih terus mengembangkan pembuatan ekstrak untuk obat oles atau serbuk untuk obat luar. Sementara di Malaysia, pembuatan krim dan tablet tersebut sudah dilakukan sejak dulu kala.

***

Barangkali nasehat yang pas akan berbunyi : jangan hanya menikmati kehoenakannya, tapi raih pula manfaat sampingannya. Alangkah bagusnya kalau ada pihak-pihak yang mau secara lebih intensif menggali potensi yang luar biasa dari ikan haruan ini untuk manfaat yang lebih besar. Kurang apa lagi kekayaan yang dimiliki negeri tercinta ini, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan. Di bawahnya ada batu bara, di atasnya ada kayu, di sela-selanya ada rawa-rawa yang dihuni ikan haruan.

Sementara belum “sempat” diteliti, ya dimasak dululah untuk sarapan bersama ketupat. Hmm…..

Yogyakarta, 4 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(3).  Pergi Ke Atas 

Hari Selasa, 25 Juli 2006 itu telah kami awali dengan sarapan ketupat yang luar biasa nikmatnya dan mengenyangkan. Tinggal siap-siap terkantuk-kantuk di perjalanan. Tapi “penyakit” ini harus dilawan, sebab saya pasti akan kehilangan jejak-jejak Trans Kalimantan kalau perjalanan kemudian saya tinggal tidur.

Setelah belanja perbekalan di pasar Rantau yang sangat padat dan ramai, kami mulai bergerak ke atas. Awalnya sebutan “ke atas” ini sempat membingungkan  saya. Bayangan saya kalau orang mengatakan pergi ke atas adalah karena jalannya naik. Tapi rupanya ini istilah untuk menyebut menuju ke arah utara. Sejak dari Banjarbaru, orang selalu mengatakan ke atas untuk menyebut pergi ke arah utara. Barangkali orang Kalimantan terbiasa membaca peta, sehingga bagian utara selalu berada di bagian atas lembar peta.

Kota Rantau “Bastari” kami tinggalkan. Seperti tidak mau kalah dengan kota-kota lainnya, embel-embel “Bastari” adalah simbol kebanggaan masyarakatnya, kependekan dari Bersih, Apik, Sehat, Tertib, Aman, Rukun, Iman. Pendeknya, semua embel-embel sifat kebaikan diborong komplit seperti jamu bersalin. Tujuannya tentu sangat mulia, agar semua warga Rantau yang “Bastari” pasti warga yang baik. Sebaliknya, warga yang tidak baik pasti tidak “Bastari”.  

Namun itu saja rupanya belum komplit. Kota Rantau memiliki motto atau semboyan yang bunyinya  “Ruhui Rahayu”. Tentu ini berasal dari bahasa Banjar, yang arti pendeknya : semoga Tuhan memberkati. Sedang arti panjangnya adalah semoga langgeng dan Tuhan senantiasa memberkati dengan kesejahteraan/keharmonisan.

Matahari sudah lebih sepenggalah tingginya (ini ukuran satuan yang sebenarnya sulit dicari konversinya, gampangnya saja hari sudah mulai poanas…..) saat kami tinggalkan kota Rantau dengan segudang sifat kebaikan dan doanya. Maka meninggalkan kota Rantau cukup dengan berbekal satu kata saja : “Amin…..”.

***

Melewati jalan aspal yang relatif mulus, lurus dan datar. Tidak terlalu padat lalulintasnya, sehingga Panther hijau yang kami tumpangi dapat melaju cukup kencang, dan cukup irit solar. Ketika kami berhenti untuk mengisi bahan bakar di sebuah stasiun pompa bensin, terlihat antrian panjang para pengguna kendaraan yang hendak membeli premium. Rupanya sebagian wilayah Kalimantan Selatan sedang dilanda kelangkaan BBM, terutama premium.

Sejak meninggalkan Banjarbaru kemarin, tampak antrian panjang calon pembeli BBM mengular di setiap SPBU yang saya lewati. Itupun mesti terkena penjatahan dan belum tentu kebagian, kata sopir Panther yang saya tumpangi. Namun anehnya, penjual bengsin eceran  tampak berderet-deret seperti kios rokok di pinggiran jalan. Harga per liternya? Rp 7.500,- sampai Rp 15.000,-, begitu kata sopir Panther lagi. Untungnya sang Panther minum solar, sehingga tidak perlu ngantri ketika harus mengisi bahan bakar.

Kandangan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan kami lewati. Kota Kandangan terkenal dengan makanan khasnya yaitu dodol asli kandangan (kata “asli” sepertinya menjadi jaminan tersendiri), termasuk ketupat kandangan. Lalu memasuki wilayah kabupaten Hulu Sungai Tengah yang beribukota di Barabai. kemudian melewati kota Balongan, ibukota kabupaten Hulu Sungai Utara.

Setelah melewati tiga Hulu Sungai ini kemudian sampai ke persimpangan jalan yang kalau ke kiri (barat) akan menuju kota Amuntai yang menurut papan penunjuk arah jaraknya 27 km. Kami mengambil rute lurus ke utara yang lebih pendek untuk mencapai perbatasan Kalimantan Timur, dibanding kalau mesti memutar melewati kota Amuntai lalu Tanjung.

Terus saja pergi ke atas yang tidak naik, langsung menuju wilayah kabupaten Tabalong hingga sampai ke perbatasan propinsi Kalimantan Timur. Pemandangan sepanjang jalan mulai bervariasi melewati rute kawasan hutan, semakin sepi dan sedikit naik-turun di perbukitan. Pemandangan menjadi tidak membosankan, berbeda dengan ketika masih berada di rute datar-datar saja di wilayah selatan sebelumnya.

Di wilayah kabupaten Tabalong pula kami melintasi jembatan layang jalur pengangkutan tambang batubara PT Adaro, sebuah perusahaan tambang batubara yang termasuk papan atas di Indonesia. Lalu melintasi ujung landasan terbang Warukin yang sepertinya sebuah lapangan terbang perintis. Hanya sayangnya, penggal jalan di sisa perjalanan wilayah propinsi Kalimantan Selatan ini pas kalau disebut rute jalan “seribu lubang”.

Meski kondisi jalannya beraspal halus tapi tidak rata, alias mbrenjul-mbrenjul bergelombang. Kalau tidak hati-hati bisa terjebak lubang yang menghiasi di sana-sini, maksudnya di sana ada lubang, di sini ada lubang, di mana-mana ada lubang. Nyaris tidak ada jalan lurus kurang dari seratus meter yang bebas lubang. Belum lagi jembatan rusak di beberapa seksi jalan yang seringkali tanpa rambu pengaman. Tahu-tahu, mak jegagik, di depan ada jembatan yang baru setengah lebarnya yang dapat dilewati, setengah sisanya langsung sungai menganga tanpa batas pengaman.

Meski jalan relatif sepi, kecuali di beberapa wilayah kota saja, namun kami sering berpapasan dengan truk-truk pengangkut pisang, kelapa sawit dan kayu olahan (entah kayu legal atau tidak legal) untuk bahan pembuat plywood.

Sampailah kemudian kami memasuki wilayah propinsi Kalimantan Timur. Ditandai dengan sebuah tugu yang penampilannya sudah jelek, kusam dan tidak terurus. Hanya karena saya konsentrasi penuh menatap sambil menikmati setiap jejak perjalanan (hanya orang kurang kerjaan yang mau melakukan hal seperti ini), maka sekilas dari Panther yang melaju agak kencang masih sempat terbaca tulisan “Bumi Daya Taka”, memasuki propinsi Kalimantan Timur.

Yogyakarta, 4 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(5).   Menyantap Trekulu Bakar 

Saya sangat terkesan dengan kota Tanah Grogot. Suasana kotanya tampak bersih dan tidak tampak semrawut. Lalu lintas dalam kota sepertinya masih cukup tertib dan mudah diatur. Tidak saya jumpai adanya lampu lalu lintas di dalam kota. Barangkali karena kota ini tidak terlalu padat. Ibukota kabupaten Pasir ini hanya dihuni kurang dari 40 ribu jiwa penduduknya.

Bisa dimaklumi kalau Tanah Grogot ini bukan kota yang sibuk, sebab letaknya memang kurang strategis. Bukan kota singgahan di jalur Trans Kalimantan, bukan pula kota perdagangan. Maka kalau ada orang pergi ke kota Tanah Grogot, itu karena memang tujuannya ke sana. Bukan karena mau singgah ketika sedang menempuh perjalanan panjang. 

Selasa sore itu, setelah menempuh perjalanan panjang lebih 320 km dari kota Rantau selama hampir delapan jam, akhirnya tiba juga di Tanah Grogot. Memasuki jalan utama yang cukup lebar dan terbagi dua, kami jalan perlahan saja. Sambil mencari alamat hotel yang sebelumnya sudah kami pesan, sambil kami menikmati suasana sore Tanah Grogot. Dan memang sengaja kami keliling-keliling kota Tanah Grogot yang kami duga pasti tidak terlalu luas

Orang-orang setempat menyebut jalan utama yang terbagi dua ini dengan sebutan “jalan dua”. Mula-mula saya sempat salah tafsir saat istirahat makan siang di Kuaro, iseng-iseng menanyakan ancar-ancar alamat hotel yang kami tuju. Kebetulan saja ternyata si pemilik warung makan di Kuaro itu adalah adik dari pemilik hotel yang hendak kami inapi. Ketika disebutnya kami akan tiba di “jalan dua”, saya pikir akan ketemu dengan dua jalan yang menyimpang, atau persimpangan jalan yang kedua. Belakangan baru ngeh, ternyata yang dimaksudkan adalah jalan yang terbagi dua arah dengan pembatas jalan di tengahnya.

***

Lalu dari kejauhan tampak sebuah bangunan masjid yang sangat megah untuk ukuran kota kecil seperti Tanah Grogot. Kelihatannya bangunan masjidnya masih baru, dan masih tampak tanda-tanda kalau sedang dalam tahap pembangunan. Kemegahannya nampak mencolok dengan komposisi warna yang didominasi tekstur hijau tua dan hijau muda, serta profil keramik hingga bagian mustoko (kubah) masjidnya. Luar biasa. Sekali lagi, kekaguman (mungkin lebih tepat, keheranan) saya adalah karena bangunan megah itu ada di sebuah kota kecil yang tidak padat penduduknya.

Keterpesonan ini membuat saya terpancing untuk kemudian menyinggahi masjid yang berjudul “Nurul Falah” ini, sekalian mampir untuk sholat. Dalam hati saya merasa bersalah sebenarnya. Kenapa bukan mampir sholat dulu lalu terpesona dengan masjidnya, melainkan terpesona dengan masjidnya dulu baru mampir untuk sholat. Kalau kemudian ada yang menerjemahkan : kalau masjidnya jelek berarti tidak jadi sholat….., maka itu pasti bukan terjemahan saya…..

Tiba di gerbang depan masjid, lho…. kok semua pagarnya tertutup rapat, tidak ada jalan masuk ke masjid. Ketika sedang tolah-toleh mencari celah jalan untuk masuk, lalu datang seorang petugas Satpam yang dengan ramah memberitahu bahwa masjidnya belum jadi dan belum dapat digunakan. Pak Satpam lalu mempersilakan kami agar menuju ke sisi utara masjid kalau hendak sholat. Di sana ada masjid kecil yang rupanya pinggiran masjid lama yang difungsikan sementara masjid agungnya belum siap digunakan. Katanya, masjid agung “Nurul Falah” itu baru akan diresmikan penggunaannya sekitar akhir tahun ini. Masyarakat muslim Tanah Grogot layak bersyukur akan memiliki sebuah masjid yang sangat megah. Teriring doa semoga kemegahan masjidnya seiring dengan kemegahan kehidupan keberagamaannya.

***

Lega rasanya ketika kewajiban sholat sudah ditunaikan. Perjalanan jalan-jalan sore di kota Tanah Grogot dilanjutkan sambil menuju ke hotel. Menemukan hotelnya menjadi lebih mudah, berkat petunjuk pak Satpam masjid yang dengan senang hati mengarahkan perjalanan kami sore itu.

Tiba waktunya mencari makan malam. Hal pertama yang terlintas di pikiran adalah mencari sesuatu yang khas dan aneh untuk santap malam. Ternyata tidak mudah. Beberapa orang yang kami tanya selalu menjawab dengan balik bertanya : “Apa ya…..?”. Lha, apa…..? Orang yang lain menjawab dengan menu masakan yang umumnya sama dengan yang ada di Jawa atau tempat-tempat lain. Akhirnya, pokoknya jalan menyusuri kota mengikuti kemana kaki Panther hendak menggelinding.

Tiba di dekat mal “Kandilo Plaza”, mata kami tertuju pada warung makan “Sari Laut”. Kesitulah akhirnya kami berlabuh untuk santap malam. Menilik warungnya cukup ramai, itulah salah satu tanda bahwa warung makan itu pasti disukai banyak orang. Rupanya si empunya warung adalah orang Surabaya yang merantau ke Kalimantan, dan sejak tahun 1996 memilih Tanah Grogot sebagai tumpuan usaha warung makan yang menyediakan aneka menu ikan laut. Salah seorang saudaranya juga membuka usaha yang sama di Tanah Grogot.

Pilihan lain untuk makan malam adalah di warung-warung tenda yang betebaran di tepian sungai Kandilo. Kalau menginginkan suasana beda makan malam di pinggiran sungai, maka warung-warung tenda itu bisa menjadi pilihan.

Meski di warung “Sari Laut” yang penampilannya sangat sederhana itu ada menyajikan pilihan aneka ikan laut, saya tertarik untuk mencoba ikan trekulu bakar. Alasan saya memilih ikan trekulu adalah lebih karena nama ikan ini belum pernah saya kenal. Hingga sekarang pun saya tidak tahu ini ikan apa dan sejenis apa. Bentuknya mirip-mirip ikan bawal laut. Banyak duri-duri kecilnya. Tapi sungguh saya tidak salah pilih. Ikan ini rasanya gurih dan lezat. Karena rumusan soal makan ini hanya ada dua : enak dan hoenak sekali, maka ikan trekulu bakar saya golongkan ke dalam hoenak sekali.

Saya buktikan sendiri, ketika malam berikutnya kami mencari makan malam, maka ikan trekulu bakar kembali menjadi menu unggulan saya. Kalau ada sedikit beda dengan cara penyajian ikan bakar di Tanah Grogot adalah bahwa ubo rampe lalapan nampaknya kurang diminati lidah orang Kalimantan. Sehingga karena saya termasuk penggemar lalapan, maka saya perlu minta tambahan sambal dan lalapan.

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif 

Hari Rabu, 26 Juli 2006 pagi kami sudah bersiap-siap di lobi hotel. Hari itu adalah hari yang kami rencanakan untuk mencari batubara di Pasir. Beberapa lokasi sudah kami tandai di peta untuk didatangi. Kami lalu meluncur kembali ke Kuaro yang jaraknya 28 km dari Tanah Grogot. Diteruskan menuju arah kembali ke Rantau sejauh kira-kira 7 km. Dari titik itu kami menyimpang ke arah selatan memasuki kawasan semak yang sudah terbuka oleh bekas adanya aktifitas penambangan setahun sebelumnya. Cukup lama kami berpanas-panas ngublek-ublek singkapan batubara yang ada di sana.

Dalam perjalanan kembali ke Kuaro, kami berhenti di dekat sebuah sungai kecil. Sungai Muru namanya, desanya pun bernama desa Muru. Tujuan kami adalah mensurvei singkapan yang muncul di salah satu dinding sungai kecil itu. Sengaja kami memilih tempat berhenti di dekat sebuah kios dimana di seberang-menyeberang jalannya ada sekelompok warga yang tinggal di sana. Kebetulan si pemilik kios juga menyediakan es batu, maka menenggak minuman dingin di tengah suasana kepanasan dan dahaga, serasa mak nyes rasanya….. 

Perhatian saya tertuju pada sebuah rumah di seberang kios yang nampak ada kesibukan sedang menumpuk-numpuk barang rongsokan. Dari rumah itu pula terdengar suara kaset musik ndang-ndut yang disetel keras-keras. Lho, kok orangnya ngomong bahasa Jawa….. Tahulah saya, di situ tinggal Pak Supar dan keluarganya beserta teman-teman kerjanya. Pak Supar ini rupanya asli orang Sleman yang sejak tahun 1992 sudah merantau ke Kalimantan Timur. Bukan sebagai transmigran, namun lebih karena mengadu nasib bekerja mengikuti kontraktor demi kontraktor. Hingga akhirnya terdampar di desa Muru sejak sembilan tahun yang lalu karena beristrikan orang sana.

Berkebun adalah sambilannya. Itupun sekedar memanfaatkan lahan kosong di seputaran tempat tinggalnya. Pekerjaan utamanya adalah pemulung, tepatnya bosnya pemulung. Pak Supar setiap hari asyik menumpuk-numpuk dan memilah-milah barang-brang plastik, kardus, botol, dsb. Kalau tumpukan hasil pulungan sudah banyak, segera diangkut ke Banjarmasin dan disana sudah ada pembelinya. Di tempat yang adoh lor adoh kidul itu rupanya Pak Supar bisa menyambung hidup dengan layak, bahkan lebih layak dibanding warga lain di desanya.

Pak Supar tentu tidak tiba-tiba menekuni profesinya itu. Melainkan karena pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa di manapun selalu ada peluang yang bisa digarap demi tingkat kelayakan hidup yang lebih baik. Itulah kira-kira jawabannya (seandainya Pak Supar bisa mengatakannya) kalau ditanya kenapa tidak menjadi petani atau pekebun kelapa sawit atau pekerjaan “tradisonal” lainnya seperti yang dikerjakan oleh umumnya warga desa di sekiarnya.

***

Dalam perjalanan kembali ke Tanah Grogot dari Kuaro, kami menyimpang ke arah selatan. Di sana ada beberapa titik singkapan batubara yang memang sudah kami rencanakan untuk di-ublek-ublek. Tepatnya menuju desa Bekoso, termasuk wilayah kecamatan Pasir Belengkong. Lokasi desa ini kira-kira 18 km di selatan Tanah Grogot. Setelah terlebih dahulu kami sowan ke rumah Pak Kepala Desa, kemudian diantar oleh seseorang yang akan membantu menunjukkan lokasi singkapan.

Berbeda dengan sebelumnya, di desa Bekoso ini lokasi singkapan batubaranya tersembunyi di balik semak belukar, sehingga perlu bantuan orang lokal untuk membuka dan melakukan perintisan jalan. Demikian halnya ketika berpindah lokasi, kami ditemani oleh seorang pekebun kelapa sawit bernama Pak Syarif. Pak Syarif ini yang mengantarkan kami menemukan singkapan yang lokasinya agak masuk ke dalam hutan. Beberapa singkapan lainnya tentu akan sulit kami temukan sendiri kalau bukan karena bantuan Pak Syarif yang penduduk asli desa Bekoso. Sebab untuk mencapainya mesti berjalan kaki tiga kilometeran menyusuri punggungan bukit melewati kebun kelapa sawit dan menuruni lembah sungai kecil yang tertutup rapat semak belukar.

Pak Syarif adalah seorang guru sekolah dasar. Setiap hari bersepeda motor pergi dan pulang mengajar murid-muridnya. Namun Pak Syarif lebih suka disebut sebagai pekebun ketimbang sebagai guru. Itulah pilihan hidupnya. Di tengah kesibukannya mengajar setiap hari, Pak Syarif juga disibukkan dengan tugasnya sebagai ketua kelompok tani kelapa sawit. Sulit untuk menerka-nerka mana di antara kedua tugas kerjanya yang menjadi pekerjaan pokoknya dan mana yang pekerjaan sambilannya. Namun yang pasti, Pak Syarif selalu tekun mengajar setiap hari, dan pada saat yang sama juga membimbing dan mengajar anggota kelompoknya dalam berkebun kelapa sawit.

Dengan sangat fasih pak guru Syarif ini bercerita tentang seluk dan beluknya bertani sawit, tentang hitung-hitungan ekonomi hasilnya, dan tentang bagaimana masyarakat desanya sangat tertolong dengan menjadi petani plasma kebun sawit. Program petani plasma ini baru setahun terakhir digalakkan oleh sebuah perusahaan perkebunan sawit, PTP Nusantara XIII. Hasil dari berkebun sawit yang dijalaninya bersama warga sekitarnya sangat membantu kehidupan masyarakat pekebun, begitu tuturnya. Keahliannya sebagai guru dan keahliannya menguasai ilmu persawitan, tentu menjadi aset tersendiri bagi para tetangganya yang tergabung dalam kelompok tani sawit di bawah pimpinan pak guru Syarif.

Apapun pekerjaannya, kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh kiranya juga akan memberi hasil yang baik pula. Barangkali begitu jawabannya (seandainya Pak Syarif bisa mengatakannya) kalau ditanya apakah berkebun sawit bisa diandalkan untuk menghidupi keluarganya. Kalau kemudian pak guru Syarif juga suka dimintai bantuan oleh para pencari batubara, maka itu hanyalah kegiatan selingan.

*** 

Hari sudah gelap saat kami kembali ke Tanah Grogot. Hari itu memang habis-habisan. Kami kelewat bersemangat untuk mendatangi semua lokasi singkapan batubara yang memang sudah kami rencanakan sebelumnya. Hingga lupa waktu. Kendala pencapaian lokasi yang kami bayangkan sebelumnya, menjadi lebih mudah diatasi berkat bantuan pak guru Syarif dan seorang lainnya. Dengan demikian, tuntas sudah agenda survei kami hanya dalam waktu sehari dur….., yang melelahkan itu.   

Namun kondisi jalan pulang ke Tanah Grogot melewati kawasan perkebunan sawit PTP Nusantara XIII ternyata sama melelahkannya. Kondisi jalannya sungguh minta ampun buruknya. Nyaris tidak ada sisa jalan agak bagus yang dapat dipilih. Dan Panther pun bak tertatih-tatih dan meloncat-loncat di antara lubang-lubang jalan yang lebih tepat disebut sungai kering. Begitu kok ya tega-teganya truk-truk pengangkut buah sawit bermuatan munjung, menempuhnya setiap hari. Uh…..!  

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar