Posts Tagged ‘ramadhan 1430H’

Ramadhan Dan Kisah Sebuah Kitab Lusuh

2 September 2009

Sebuah kitab yang tampak lusuh seperti tiba-tiba muncul terselip di rak buku. Mulanya biasa saja, setiap kali menatapnya tak sekali pun tergerak ingin tahu lebih jauh, padahal buku asing itu sebelumnya tak pernah ada di sana. Dari kenampakannya saya yakin buku lusuh itu adalah kitab Al-Qur’an.

Sampai kemudian bulan Ramadhan tiba. Saya pikir, inilah waktu yang tepat untuk pegang-pegang kitab suci. Cara pikir yang lugu tenan…., yang tanpa disadari sering muncul dalam pikirannya orang-orang pemegang KTP Islam. Seolah-olah waktu di luar Ramadhan adalah bukan waktu yang tepat untuk berurusan dengan kitab suci. Mau pegang kitab suci saja kok menunggu musimnya, seperti musim ujian bagi mahasiswa, musim liburan, musim durian, dan musim-musim lainnya. Mirip-mirip kalau orang baru terpikir soal pajak setiap tiba bulan Maret, atau baru berencana memiliki sarung dan kopiyah baru ketika Lebaran menjelang.

Ketika kemudian kitab lusuh itu benar-benar saya ambil, betapa saya rada terperanjat, surprise…. Lho, ini kan kitab yang dulu saya miliki dan pernah saya cari-cari, kok tiba-tiba muncul di sini? Kemana saja selama ini? Kata istri saya yang menemukannya ketika sedang bersih-bersih rumah : “Ya embuh, wong ada di situ….”.

Kitab kecil dengan sampul hardcover warna biru tua sekali, berukuran 10 cm x 15 cm dan tebal 2 cm itu adalah oleh-oleh almarhum ayah saya ketika dulu pulang dari tanah suci. Dulu kitab itu selalu menghiasi di dalam tas punggung saya. Menghiasi tapi di dalam tas, itu karena memang yang menikmati hiasan itu bukan mata melainkan hati, jadi tidak harus nampak di mata. Sampai ketika saya pensiun dari pekerjaan saya di Papua dan kembali ke Jogja, kitab itu tiba-tiba menghilang dari peredaran. Hanya karena saya memiliki banyak penggantinya, maka saya merasa tidak perlu mempersoalkan raibnya kitab suci itu. Toh, apapun jenis dan modelnya selama masih bernama Qur’an isinya pasti sama. Dan, saya hanya perlu isinya.

Saya memang punya kebiasaan menyisipkan kitab suci di dalam tas, termasuk tas punggung. Ya pergi kerja, ke lapangan, traveling, sampai mendaki gunung pun kitab suci selalu ada di dalam tas punggung yang tak gendong kemana-mana…. Untuk apa? Kalau sempat akan saya baca-baca (tapi lebih sering tidak sempatnya….). Hanya karena saya percaya bahwa pasti ada gunanya, minimal menjaga aura, maka tetap saja kitab suci itu tak gendong kemana-mana… Pengalaman terakhir adalah saat menunggu ayah saya yang sedang sakaratul maut di sebuah rumah sakit di Semarang setahun yll, saya tinggal merogoh tas punggung untuk meraih Qur’an kecil yang pada bagian surat Yasin sudah saya lipat halamannya.

Seperti halnya kitab suci lusuh yang barusan saya temukan dan saya yakin itu adalah kitab suci saya yang raib sekian tahun yll, karena pada beberapa bagian tertentu masih terlihat halaman yang saya lipat agar kalau saya mau membaca surat-surat tertentu dari Al Qur’an, maka mudah mencarinya. Saya memang punya surat-surat favorit, seperti surat Yasin, Yusuf, Fush-shilat, As-Sajadah, dan beberapa lainnya. Entah kenapa saya menyukai surat-surat itu sehingga relatif lebih sering saya baca ketimbang surat-surat lainnya. Meski begitu, seprana-seprene… ya enggak hafal juga, karena itu kitabnya perlu tak gendong kemana-mana. Hanya agak celingukan ketika hendak mampir ke toilet, mau dibawa masuk kok enggak etis amat, mau ditinggal di luar khawatir orang lain nanti yang nggendong kemana-mana….

Baru sekarang saya tahu bahwa rupanya dulu kitab itu diambil dan sering dibawa anak lelaki saya ke sekolah, yang waktu itu masih kelas 5 SD. Maka kalau kemudian kitab itu jadi terlihat lusuh, sampul luarnya kusam, halaman putihnya berubah lethek (berwarna kehitaman agak kotor), ada halaman yang lepas lalu dipasang lagi semaunya…, ya maklum, namanya juga anak-anak. Bahkan juga kehujanan, buktinya lebih 600 halamannya pada lengket. Untungnya itu buku suci bikinan luar negeri, produksi percetakan Madinah di atas kertas berkualitas bagus, sehingga ketika halaman-halaman lengket yang jumlahnya lebih 600 itu saya buka satu persatu, bisa dengan mudah diurai. Saya bayangkan kalau kualitas kertasnya seadanya seperti banyak kitab bikinan dalam negeri, pasti pada sobek dan terkelupas tulisannya.

Meski kitab kecil itu kini tampak lusuh, tapi saya bangga memilikinya. Sebab, berarti selama ini kitab itu sering dibuka dan dibaca, entah oleh siapa. Setidaknya ada manfaatnya dibanding kalau kitab itu saya taruh di dalam sangkar lemari kaca bening berlampu sehingga selalu terlihat bagus dan bersih karena tidak pernah disentuh, bahkan di “musim beribadah” di bulan Ramadhan. Disentuh saja tidak, apalagi dibuka, dibaca dan dikaji isinya.

Kini, kitab lusuh itu kembali menghiasi isi tas ransel saya (menghiasi tapi tidak terlihat mata). Mudah-mudahan membantu upaya saya untuk berbisnis dengan Ramadhan, ketika saya sedang ke luar kota. Ukurannya yang agak kecil memudahkan untuk nyisip di dalam ransel yang tak gendong kemana-mana….

Yogyakarta, 2 September 2009 (12 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Para Kafilah Facebook

30 Agustus 2009

Hilal Ramadhan baru saja menyembul. Sholat tarawih malam pertama Ramadhan baru saja usai. Kami sekeluarga bersiap meninggalkan garis Start untuk menjelajah medan laga Ramadhan, semoga Sang Panitia Ramadhan mengijinkan kami menyentuh garis Finish di penghujung Ramadhan 1430H. Tiba-tiba anak saya (Noval, 15 th) sambil membawa buku Qur’an menghampiri dan mengajukan tantangan : “Pak, khatamkan Qur’an, yuk”. Spontan saya jawab penuh percaya diri : “OK, Insya Allah”.

Cuma di balik ajakan atau tantangan anak saya itu sepertinya tersembunyi sindiran, seolah-olah anak saya mengatakan kalau akhir-akhir ini bapaknya kurang rajin membuka-buka kitab suci itu (kata lain untuk ‘kurang rajin’ adalah ‘malas’). Membuka-buka saja jarang, apalagi membacanya. Padahal di rumah kitab suci itu pathing geletak, ada tergeletak dimana-mana. Okelah, mungkin itu sekedar sensitifitas perasaan saya saja sebagai orang tua.

Dalam hati saya berkata : “Siapa takut?”. Meski waktu kuliah dulu nilai matematika saya tidak pernah dapat A, tapi kalau cuma menghitung kemungkinan tercapainya tantangan anak saya itu rasanya cukup mudah. Pengalaman saya menunjukkan bahwa kecepatan baca Qur’an saya rata-rata 1 juz/jam. Kecepatan yang masih dalam batas aman, sebab kalau terlalu ngebut khawatir melanggar rambu-rambu tajwid (ilmu tentang cara melafalkan dan membaca Qur’an). Kaidah yang harus dipegang memang bukan ‘lebih cepat lebih baik’, melainkan ‘lanjutkan’ meski grothal-grathul

Jadi kalau dalam satu buku Qur’an itu terdiri dari 30 juz, maka kalau saya mau meluangkan waktu sejam per hari (lagi-lagi) Insya Allah saya akan bisa mengkhatamkannya. Atau, kalau mau di-breakdown menjadi dua kali baca Qur’an per hari, malam dan siang masing-masing setengah jam, juga bisa. Atau, setiap habis sholat fardhu, menyempatkan 12 menit baca Qur’an juga masih feasible dikerjakan. Sudah puluhan kali Ramadhan saya praktekkan dan terbukti bisa saya kerjakan.

Ya… ya…., lalu muncul pertanyaan : Meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca tulisan Arab yang enggak ngerti maksudnya? Tunggu dulu, untuk apa buang-buang waktu…?

Kaidah kedua nampaknya perlu dipahami. Lakukan dulu perintah-Nya, setelah itu silakan dikaji dan dipelajari logika maksud, tujuan dan pencapaiannya. Tapi jangan lalu dibalik, sebab nanti bisa terjadi karena tidak logis (menurut kemampuan akal manusia saat ini) maka lalu tidak usah dilakukan saja.

Namun diam-diam saya bersyukur masih bisa berlapang dada mendengarkan ajakan anak saya dan bahkan merasa panas dan terprovokasi. Sebab di jaman banyak orang tua mengeluh tentang anak sekarang yang katanya susah dinasehati, suka membantah dan suka ngeyel, tapi kalau ada anaknya yang mengajak kebaikan orang tua suka pura-pura tidak mendengar dan pura-pura sibuk. Lalu tiba-tiba minta dimaklumi kalau kemudian merasa capek karena kesibukannya itu dan terkadang malah berkilah sambil berkata anaknya sok tahu dan malah berbalik menasehati ini-itu.

Hari demi hari Ramadhan berlalu. Sebagai orang tua wajar kalau kemudian berlaku sok bijaksana (inilah salah satu keahlian yang perlu dimiliki orang tua), lalu mengajukan nasehat kepada anaknya : “Kayaknya lebih bagus kalau bisa khatam dua kali selama Ramadhan, wong dulu bapak juga bisa”. Nasehat yang beraroma tantangan ini rupanya direspon sama anak saya.

Tapi ya itu tadi, dasar anak sekarang. Menerima tapi dengan syarat. Kepada ibunya dia berbisik : “Bisa khatam dua kali asal nanti dibelikan honda….” (mungkin karena perlu membaca agak ngebut maka perlu tunggangan yang bernama honda). Akhirnya saya jawab : “Oke boss, Insya Allah beres” (anak saya ini waktu balita dulu suka dipanggil ‘boss’ dan sampai sekarang terkadang saya terbawa menyebutnya begitu…). Tentu saja persetujuan saya juga pakai syarat.

Pertama, lakukan tapi jangan karena hondanya (apapun sepeda motor yang diinginkannya, sebut saja honda…). Kedua, jangan hanya mengkhatamkan baca Qur’an tetapi setelah Ramadhan harus dilanjutkan dengan mempelajari untuk memahami maknanya dan mengamalkannya. Akhirnya deal dan anak saya pun nyengenges….

Belajar untuk memahami makna bacaan Qur’an dan lalu mengamalkannya adalah sama pentingnya dengan membaca tulisan Arabnya yang enggak dimengerti maksudnya itu. Itulah yang banyak terjadi, merasa sudah puas kalau sudah membaca thok. Tetapi karena membaca thok pun punya nilai ibadah, maka tidak apalah memulai membaca sebisa-bisanya. Sebab kalau tahu-tahu mempelajari maknanya dan mengamalkannya tapi tidak pernah tahu bacaan aslinya juga bisa tinggal menjadi kenangan dan khayalan.

Kaidah ketiga perlu saya tanamkan, yaitu : bacalah, pahami dan amalkan. Jangan karena merasa tidak bisa memahami dan mengamalkan lalu berkata mendingan tidak usah dibaca saja. Hingga akhirnya sepanjang badan mengandung hayat ya hanya sibuk berlindung dibalik kata-kata “percuma kalau tidak tahu artinya dan tidak diamalkan”. Begitu selamanya hingga skak-mat dan game over….. Wallahu a’lam….

***

Jadi, demi mendengar tantangan anak saya yang nadanya agak provokatif itu lalu membuat saya sesumbar dalam hati : “Ah kecil, Insya Allah…..”. Kata ‘Insya Allah’ harus selalu saya gunakan, karena saya takut rasa percaya diri saya yang berlebihan berubah menjadi kesombongan.

Itu teorinya, Bung…!. Prakteknya? Ngudubilah enggak mudah….. Tapi terkadang heran juga, meluangkan sedikit waktu untuk sebuah kebaikan rasanya sulit dan berat sekali. Sementara methentheng (melotot) di depan layar internet sambil ngublek-ublek Facebook serasa waktu sejam tidak cukup. Bahkan panggilan adzan pun sering lewat begitu saja. Bagai peribahasa mengatakan biarlah panggilan adzan berkumandang para kafilah Facebook tetap berlalu….

Kini saya mesti siap-siap untuk membelikan honda sebagai “pahala” tambahan bagi anak saya nanti usai Ramadhan. Insya Allah, bisalah….. Sesial-sialnya kalau nanti tabungan saya tidak cukup, tinggal cari dana talangan Rp 500 ribu untuk DP sudah bisa nyangking honda. Cicilannya nanti diurus belakangan, masak kalah sama pemudik lebaran. Kalau perlu dipikir sambil tidur, toh tidurnya orang berpuasa juga ibadah….. Ugh…!

Yogyakarta, 30 Agustus 2009 (9 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar