Posts Tagged ‘qur’an’

Terry Jones

16 September 2010

Jangan-jangan Terry Jones ini bukan pastor melainkan santri muslim yang sesat. Diam-diam niatnya untuk membakar Qur’an itu sebenarnya karena dia sedang menjalani “laku” ilmu kadigdayan… Setelah Qur’an dibakar, abunya akan dimasukkan ke dalam gentong berisi air putih, lalu ditenggak ramai-ramai seperti pemabuk minuman oplosan, agar tubuhnya jadi kebal…

(Just intermezzo…)

Yogyakarta, 12 September 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Dari Mana Datangnya Rejeki

21 Juni 2010

Petang itu saya agak terlambat tiba di masjid, agak lama setelah gaung adzan maghrib menghilang dari angkasa. Sambil menunggu iqomat tanda dimulainya sholat maghrib, saya jalan melenggang di pinggiran dalam dinding masjid sambil mata melihat-lihat apa saja yang bisa dilihat. Tiba-tiba pandangan saya tertuju pada sebuah Qur’an kecil lusuh yang sampul luarnya sudah hilang dan menyisakan sebundel lembaran-lembaran bertulisan huruf Arab. Lembaran-lembaran itu pun sudah sobek-sobek bagian luarnya. Di sebelahnya ada setumpuk kitab Qur’an yang kondisinya terlihat jauh lebih baik.

Entah kenapa justru kitab lusuh itu lebih menarik perhatian saya. Segera kuraih, lalu kubuka asal saja di bagian tengah, entah pada halaman berapa. Spontan seperti ada yang mengarahkan pandangan mataku pada sebuah ayat yang setelah kubaca bunyi lafalnya sepertinya sangat familiar. Walau tulisan di buku kecil itu terlihat terlalu kecil, tapi bagian awal dari ayat itu masih dapat kubaca, yang berbunyi : “Allahu yabsuthur-rizqo limayyasyaak…..”. Saya juga masih bisa membaca tulisan di bagian atas halaman kitab kecil itu, yaitu surat Al-Ankabuut. Tapi mata plus-minus saya sudah tidak mampu membaca nomor ayatnya sebab ukuran hurufnya terlalu kecil. Karena saya merasa sangat mengenal ayat itu tapi lupa artinya, dengan meninggalkan rasa penasaran saya berkata dalam hati : “Akan kucari artinya nanti di rumah”.

Sepulang dari masjid, setelah bertadarus sebentar segera saya ambil buku tarjamah dan saya cari penggal ayat tadi. Tidak terlalu sulit mencarinya, walau tadi tidak terbaca nomor ayatnya, tapi saya tahu nama suratnya. Akhirnya kutemukan juga. Agak terhenyak saya setelah membaca terjemahan lengkapnya yang berbunyi : “Allah melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambanya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya…” (QS. 29:62).

Entah kenapa saya merasa agak galau. Barangkali karena timing saja. Sebagai “penganggur terselubung” akhir-akhir ini saya agak risau tentang hakekat sumber datangnya rejeki. Padahal terjemahan ayat itu sebenarnya biasa-biasa saja. Makna tersiratnya juga sudah sejak dulu saya pahami. Namun pada petang itu, bunyi sepenggal ayat yang secara kebetulan saya baca di Qur’an sobek di masjid itu, kedengaran bagai sebuah teguran atau peringatan. Sebuah kebetulan?

Ya, tentang rejeki. “Binatang klangenan” yang setiap menit, setiap jam, setiap hari senantiasa diburu dan didambakan orang. Saya atau mungkin orang lain, selama ini sering terlena. Setiapkali bicara ihwal rejeki konotasinya selalu uang dan materi. Referensi pertamanya selalu pemilik uang atau atasan, atau orang-orang kaya. Akibatnya peranan Tuhan seolah-olah “terkesampingkan” dari akal pikiran, dan justru pikiran tentang penguasa uanglah yang kemudian datang melintas lebih dahulu.

Mencarinya memang wajib. Mengupayakan dengan segala daya upaya juga harus. Tapi titik tolak tindakannya (baca : amaliyah) mestinya bukan “kepada siapa” melainkan “atas nama siapa”. Seringkali yang kemudian melintas di pikiran adalah “melobi” kepada penguasa uang, walaupun hal itu dilakukan juga sebagai upaya pelengkap, tapi mestinya bukan itu sebagai esensi penghambaan atas nama Sang Maha Pemberi Rejeki.

Saya tahu bahwa pemikiran terlena seperti itu tidak terlalu salah. Saya juga percaya bahwa sudah ada yang Maha Pengatur Rejeki. Namun yang terjadi seringkali salah kaprah. Alam bawah sadar saya seolah-olah memerintahkan bahwa untuk memperoleh rejeki itu harus fokus dan begitu tergantung kepada pemilik uang atau oknum-oknum lain selain Tuhan.

Lha, kalau sebenarnya Tuhan sendiri sudah mengatakan bahwa Dialah yang melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Kenapa mesti pusing dengan penguasa uang, orang kaya atau atasan? Kenapa tidak langsung saja berfokus kepada Tuhan? Perkara nanti rejeki itu akan dititipkan siapa atau dikirimkan lewat jasa kurir apa, biarlah Tuhan yang mengurusnya. Begitu, pikiran jernih saya kemudian.

Ya, ketika kita butuh rejeki lebih, mestinya ‘kan tinggal berbaik-baik, bermanis-manis dan merayu Tuhan, agar kita termasuk dalam kelompok yang dikehendaki-Nya untuk dilapangkan rejekinya? Tapi kenapa selama ini tidak banyak yang mau berbaik-baik, bermanis-manis dan merayu Tuhan? Jangan-jangan karena kita merasa malu dan tidak pantas melakukan itu. Atau, malah sebenarnya tahu bahwa dirinya tidak pantas tapi tetap “nekat” merajuk kepada Tuhan. Seperti seorang yang tahu kalau dirinya tidak pantas mencintai gadis yang “mirip” bidadari tapi keukeuh mengubernya? Dan, Jaka Tarub pun kemudian akan mencuri pakaian “mirip” bidadari yang sedang mandi agar dapat merengkuhnya. Maka, jalan pintas ditempuh, sehingga rejeki pun dapat diperoleh. Tinggal keberkahannya yang akan membedakan. “Ora dadi daging (tidak menjadi daging)”, kata orang di kampung saya.

Jika demikian halnya, maka yang perlu dilakukan sebenarnya sangat sederhana, hanya berusaha memantaskan diri untuk hadir dan “melobi” Tuhan. Sebab Dialah yang melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia juga yang berjanji memenuhi kebutuhan hambanya, bahkan Dia pula yang berjanji akan mengabulkan setiap permohonan hambanya.

So, kurang apa lagi? Kurang pantas, jawabnya. Jangan-jangan kita memang kurang pantas untuk hadir dan meminta kepada Tuhan agar diturunkan rejeki dari langit atau dikeluarkan rejeki dari muka bumi. Dan ketika rejeki itu kemudian benar-benar didatangkan, jangan-jangan kita juga sebenarnya kurang pantas diberi amanah mengelolanya.

Yogyakarta, 14 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tentang Facebook

26 Maret 2010

Tentang FB (1) — Khotbah Jum’at di masjid dekat rumahku menyinggung soal Facebook. Ini persis seperti orang tidak pernah main bola lalu bicara tentang teknik sepakbola, atau orang tidak pernah puasa bicara tentang kelaparan.

Lha biar Qur’an itu dibolak-balik sampai shobek-shobek…, ya nggak bakalan ketemu kalimat fa-sa-ba, yaf-sa-bu, fesbuk… Maka tinggal bagaimana cara pandang pengguna internet terhadap hewan klangenan bernama fesbook itu…

***

Tentang FB (2) — Kalau yang dilihat oleh pengguna internet di fesbuk itu adalah “wajah” Tuhan, maka kebaikanlah hasilnya. Kalau yang dilihat itu wajah setan, maka kemaksiatan hasilnya. Sedangkan kalau yang dilihat adalah wajah wanita cantik, maka ya di antara keduanyalah (antara kebaikan vs. kemaksiatan, maksudnya). Kesimpulan: kalau anak Sampeyan naik sepeda nyrempet pagar, ya jangan lalu bikin fatwa bahwa mbangun pagar itu haram…

Yogyakarta, 26 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Masih Ada Calo Yang Akan Lewat

21 Desember 2009

Setelah (tadi pagi subuh) nge-cek masjid (tikarnya masih ada), lalu nge-cek buku Qur’an (tulisan Arabnya juga masih terbaca), lalu cek email & FB, terus cek fisik (seperti mau jual mobil seken) naik sepeda keliling kecamatan. Sampai rumah, tetap saja ngopi wal-ngudut. “Wooo, piye iki?”, celetuk ibunya Noval…. Tinggal nanti siang cek tiket pesawat Jogja – Mataram (sepertnya ke puncak Rinjani akan menjadi pendakian terindah), berharap masih ada calo yang akan lewat…

Yogyakarta, 21 Desember 2009
Yusuf Iskandar