Posts Tagged ‘purwokerto’

Jadi Pulang Kapan?

8 Juli 2010

Kemarin sore ibunya tanya, anak lanang kirim SMS nggak? Jadi pulang kapan?. Diam-diam lalu kukirim SMS pendek: “So?“.
Sejam kemudian dibalas: “Sekarang di stasiun Senen..”.
Take care…”, balasku.

Sengaja tidak kuberitahukan ibunya, tidak juga kudoakan agar dapat tiket…, karena saya ingin tahu apa yang terjadi dengan usaha dan doanya sendiri sebagai “pencapaiannya” selama tiga hari tertunda. Tiba-tiba tadi pagi kirim SMS: “Dah sampe Purwokerto..”. Great..walhamdulillah.

Yogyakarta, 1 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Soto “Sungeb” Purwokerto

7 April 2008

Sokaraja adalah sebuah kecamatan yang bertetangga dengan kota Purwokerto, Jawa Tengah. Kalau dari arah barat daya atau perempatan kecamatan Buntu, kabupaten Banyumas, Sokaraja berada kira-kira 5 km sebelum masuk Purwokerto. Tapi untuk menikmati soto ayam kampung khas Sokaraja yang terkenal hoenak itu, ternyata tidak harus selalu di Sokaraja. Di dalam kota Purwokerto ada sebuah tempat dimana kita dapat menikmati soto Sokaraja.

Soto Sokaraja, oleh masyarakat setempat terkadang disebut juga dengan sroto (pakai sisipan “r”) Sokaraja. Mungkin karena memiliki taste yang saking sredap dan hroenaknya…… Tentu berbeda dengan soto-soto khas daerah lain. Soto Sokaraja disajikan tidak dengan nasi melainkan irisan ketupat atau lontong kecil. Di bagian atasnya dikepyuri (ditaburi) rajangan atau irisan loncang (daun bawang) mentah agak banyak. Mengandung sedikit santan cair, tidak sekental santan soto atau coto Makassar. Ditumpuki lagi dengan remukan kerupuk mi (kerupuk kampung yang bentuknya seperti gumpalan mi). Asesori sambalnya berupa sambal kacang seperti sambal pecel. Maka saat disajikan nampak seperti munjung, membentuk gunungan dalam mangkuk kecil (sebab kalau besar namanya baskom…..),

Jangan tanya rasanya, hmmm…… rasa gurihnya nendang banget. Menjadikan sruputan duduh (kuah) pertama begitu menggoda. Ya, disruput dulu kuahnya karena masih hanas (pakai “h” di depannya…..). Dijamin butir-butir keringat akan muncul sampai membuat gatal di kulit kepala, apalagi kalau suka dengan asesori sambalnya agak banyak. Semangkuk kecil serasa kurang, tapi kalau sebaskom pasti kebanyakan. Jika posisi usus dua belas jari sedang agak longgar, lebih baik pesan sekaligus dua mangkuk, agar waktu jeda antara mangkuk pertama dan kedua tidak terlalu lama. Kalau pesan mangkuk keduanya belakangan, keburu mesin perut dingin dan kehilangan gairah.

Kalau ingin lebih puas lagi, mintalah tambahan suwiran daging ayam goreng. Rajangan atau irisan endhas pitik (kepala ayam) goreng, jerohan atau rempelo, cakar ayam, bisa menjadi asesori tambahan yang membangkitkan selera. Langsung saja dicampurkan ke dalam sotonya. Mak krenyes-krenyes…….

***

Kalau kebetulan mampir di kecamatan Sokaraja, maka banyak pilihan warung soto di sepanjang jalan raya yang melintas kota Sokaraja menuju atau dari Purwokerto. Tapi kalau sudah berada di kota Purwokerto, carilah jalan Bank. Kiranya hampir setiap orang Purwokerto tahu dimana lokasinya. Disebut jalan Bank karena di ujung jalan itu ada museum Bank. Padahal nama sebenarnya adalah Jalan RA. Wirjaatmaja. Tapi justru nama ini kurang dikenal.

Di jalan Bank ini ada beberapa warung soto Sokaraja, dan yang terkenal adalah soto “Sungeb 1”, konon ini yang asli. Tapi ya embuh…, wong sekarang ini siapa saja boleh menggunakan label Asli, bahkan yang imitasi sekalipun. Ada beberapa soto “Sungeb” di jalan Bank yang kesemuanya merupakan generasi penerus dari Pak Sungeb yang sudah almarhum sejak tahun 1997. Kalaupun kesasar memasuki warung soto yang bukan “Sungeb 1”, tidak perlu disesali, sebab krenyes-krenyes dan hoenaknya tetap sama.

Warung soto “Sungeb 1” ini berada di ujung gang kecil. Warungnya juga kecil, seukuran kira-kira 3 x 12 meter persegi, memanjang ke belakang. Tampilan warungnya sederhana dan tidak berkesan resto. Tapi kalau datang pada jam-jam makan siang misalnya, mesti sabar mengantri. Biasanya buka dari jam delapan pagi hingga jam delapan malam. Tapi kalau ternyata sotonya habis lebih cepat, jangan kecewa kalau jam 19:00 atau 20:00 sudah tutup.

***

Purwokerto lalulintas kotanya cukup padat dengan jumlah penduduknya lebih 300 ribu jiwa. Terletak di kaki gunung Slamet (gunung tertinggi di Jawa), maka udaranya pun cukup segar dan berhawa agak dingin. Banyak jalan-jalan searah kalau siang sampai jam lima sore, setelah itu boleh untuk dua arah. Maka bagi yang pertama kali menginjakkan roda mobilnya ke kota ini terkadang rada membingungkan.

Senyampang sudah berada di Purwokerto, jangan lupakan tempe mendoan dan gethuk goreng Sokaraja. Kawasan di seputaran Purwokerto dan wilayah kabupaten Banyumas dan sekitarnya memang kaya dengan jenis makanan khas. Jika perlu membawa oleh-oleh dari kota ini, tinggal menyesuaikan isi kantong dengan jenis makanan yang akan dibeli.

Gethuk goreng Sokaraja bisa jadi pilihan untuk oleh-oleh. Selain karena relatif tahan lama, juga kandungan singkong dan gula merahnya terasa kenyal-kenyal dan gurih. Seperti didendangkan oleh lagunya Waljinah, gethuk goreng…gethuk goreng Sokaraja…… sing enak rasane….. 

Pilihan lainnya yang jangan dilewatkan adalah tempe mendoan, tempe tipis-tipis dibungkus tepung yang digoreng setengah matang. Dicocol atau disirami dengan kecap atau saus tomat, dan banyak juga yang lebih suka melahapnya dengan nyeplus cabe rawit. Jangan lupa, enak selagi panas. Letak titik kelezatan dan kenikmatannya justru karena megap-megapnya itu….., ketika melahapnya dalam kondisi masih hanas (pakai huruf depan “h”) dan hedas (juga pakai huruf depan “h”), sehingga kedua bibir susah ditangkupkan.

Menungso (manusia) ini memang aneh, membayar untuk megap-megap kepanasan dan kepedasan……

Yogyakarta, 1 Desember 2006
Yusuf Iskandar