Posts Tagged ‘pramugari’

Bandara Sepi…

9 Oktober 2010

Menjelang mendarat di Balikpapan, mbak pramugari Lion Air JT 670 jurusan Jogja – Balikpapan, memberitahu: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara sepi…..”. (Lho, ada apa kok bandaranya sepi, pikirku penuh tanda tanya). Sejenak kemudian diulangi: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara Sepinggan Balikpapan”…. Wooo, mbak pramugarinya tersedak to… Tersedak saja kok milih yang sepi…

Samarinda, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Teman Seperjalanan Yang Baik Hati

31 Juli 2008

Akhirnya datang juga…., kesempatan memperoleh tiket burung Garuda dengan harga wajar untuk perjalanan Jayapura – Timika – Denpasar – Jakarta. Padahal sebelumnya hanya bisa naik maskapai murah-meriah karena harga tiket Garuda sudah melambung ke puncak tangga. Sudah terbayang bahwa perjalanan panjang kali ini bakal lebih bisa saya nikmati dibandingkan kalau saya naik burung-burung yang lain.

Malam sebelumnya masih di Jayapura, adalah malam yang panjang dan melelahkan, sementara esok paginya harus menuju bandara Sentani yang berjarak sekitar satu jam dari kota Jayapura. Saya sudah menyusun skenario bahwa selama perjalanan ke Jakarta, pilot Garudanya mau saya tinggal tidur saja. Sisa rasa kantuk semalam sebelumnya mau saya lampiaskan sepanjang perjalanan udara Jayapura – Jakarta.

Rupanya skenario perjalanan saya tidak berlangsung sesuai plot. Itu karena di samping atau sebelah kanan saya duduk dua orang penumpang yang asli orang Papua yang sedang menempuh perjalanan menuju Denpasar. Perjalanan mereka kali ini adalah perjalanan pertamanya dengan pesawat besar keluar dari tanah Papua. Selama ini hanya midar-mider naik pesawat di seputaran kota-kota kecil di Papua saja. Salah seorang tetangga saya, penumpang di sebelah kanan saya itu ternyata adalah teman seperjalanan yang sungguh baik hati.

Dalam perjalanan Jayapura – Timika, segera saya terlelap bahkan sejak sebelum pesawat tinggal landas dengan sempurna. Ketika ada pembagian makanan kecil dan minum oleh mbak pramugari, tetangga saya ini membangunkan saya sambil menyodorkan sekotak makanan yang diestafet dari mbak pramugari, tanpa sepatah kata pun.

Setelah itu saya tidak bisa tidur lagi karena cuaca yang sedang cerah memperlihatkan pemandangan indah pegunungan tengah daratan Papua di bawah sana. Sedangkan penumpang di sebelah kanan saya itu turut melongok mendekat ke jendela yang ada di sebelah kiri saya. Bukan cuma itu, melainkan sambil bercerita tentang kawasan di bawah sana yang dia sangat mengenalnya.

Dalam perjalanan Timika – Denpasar, saya tertidur lagi. Ketika tiba pembagian makan siang, penumpang di sebelah saya njawil (menyolek) tangan saya. Rupanya meja lipat di depan saya sudah dibukakan dan sekotak makan siang juga sudah tersaji. Kenyang makan, saya pun melanjutkan tidur.

Rupanya masih ada pembagian ransum makanan ringan. Sewaktu mbak pramugari berkeliling membagikannya lagi, penumpang di sebelah saya itu kembali membangunkan saya.

Barangkali tetangga di sebelah saya itu beranggapan bahwa tidak baik menolak pemberian suguhan makanan, sehingga saya perlu dibangunkan. Atau, dia sekedar berbuat baik agar saya tidak terlewat diberi suguhan. Tapi, njuk ora sido turu aku…… (saya jadi tidak bisa tidur….)

“Untungnya”, teman seperjalanan saya yang baik hati itu turun di Denpasar. Begitu baiknya sehingga mereka merasa perlu berpamitan kepada saya sebelum turun. Di Bali mereka hendak mengikuti pelatihan tentang radio, katanya. Saya membalas dengan menyampaikan ucapan selamat bertugas dan terima kasih. Ucapan terima kasih saya yang tulus atas kebaikannya, tapi tidak atas semangat pembangunannya (maksudnya, membangunkan orang yang sedang tidur ngleker di pesawat….).

Tidak disuguhi minuman, kehausan. Disuguhi kue thok tanpa minum, keseredan. Tapi terlalu banyak suguhan di dalam pesawat, ternyata juga bisa menjengkelkan……

Akhirnya, perjalanan lanjutan Denpasar – Jakarta dapat berlangsung dengan tenang, aman dan terkendali. Skenario untuk meninggal tidur pilot pun berjalan sesuai plotnya. Ya, karena tidak ada lagi aktifitas pembangunan oleh penumpang di sebelah saya.

Yogyakarta, 31 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Pengalaman Pertama

4 Mei 2008

Selalu ada yang menarik dengan yang namanya pengalaman pertama. Misalnya bekerja dan gaji pertama, mengemudi dengan SIM pertama, mendaki gunung pertama kali, termasuk malam pertama (di tempat baru, misalnya). Begitu juga pengalaman pertama saya naik pesawat Sriwijaya Air yang lagi narik trayek Surabaya – Semarang, beberapa hari yll.

Ketika maskapai murah-meriah-resah yang lain sudah ogah repot-repot ngurusi konsumsi penumpang pesawat, alias cukup air putih saja, Sriwijaya Air masih berbaik hati membagi konsumsi. Cuma konsumsinya tidak disajikan ketika di atas pesawat, melainkan dibagikan satu-satu ketika penumpang sedang boarding siap menuju ke pesawat.

Sebungkus kue plus akua gelas (apapaun merek air putihnya, sebut saja akua) sudah disiapkan di dalam kantong plastik berkualitas lumayan bagus (setidaknya bukan tas kresek hitam-tipis). Maka ketika tiba waktunya penumpang menaiki tangga pesawat, terlihat serombongan orang-orang yang masing-masing menenteng kantong ransum konsumsi cap Sriwijaya Air. Ada yang tampak santai menentengnya, tapi ada juga yang terlihat kerepotan karena bawaan tas kabinnya sudah cukup banyak.

Rupanya pesawat Boeing 737 seri 200 yang sore itu saya tumpangi, memiliki ukuran tempat bagasi kabin yang tidak terlalu besar. Terpaksa sebagian tas kabin penumpang ada yang harus diminta keikhlasannya untuk dibagasikan alias dipindah ke bagasi di luar kabin. Tentu saja ada yang ikhlas dan ada pula yang tidak.

Seorang bule yang fasih berbahaa Indonesia rupanya keberatan dan bertahan salah satu tasnya yang berukuran agak besar tidak mau dipindah untuk dibagasikan. Setelah adu argumentasi dengan seorang awak kabin yang jamaknya berparas ayu (ya ada juga yang tidak jamak…), si bule tampak kesal. Lalu tangan kirinya menyampakkan tentengan ransum kantong kue begitu saja sekenanya, sambil tangan kanan mendorongkan salah satu tas kabinnya untuk dibagasikan. Kok ya kebetulan ransum kue itu mengenai dua awak kabin lainnya yang sedang sibuk dengan daftar manifest. Kedua awak itu pun melongo terkejut dengan apa yang barusan menimpanya.

Melihat perilaku si bule yang kurang sopan itu, sempat juga hati ini ikut meradang. Dalam hati saya mendukung kebijakan mbak pramugari yang sepertinya adalah pimpinan awak kabin, mengingat keterbatasan tempat bagasi di dalam kabin. Perihal pindah-memindah barang bawaan kabin penumpang semacam ini sebenarnya sudah lumrah terjadi dan umumnya berlangsung tanpa masalah, nyaris bisa saling memahami.

Namun ketika saya sudah duduk di bangku pesawat, tiba-tiba saya dikejutkan dengan adu argumentasi antara mbak pramugari yang tadi dengan seorang penumpang di depan saya. Pokok soalnya hal yang sama yaitu masalah pembagasian. Saat itu juga saya cabut dan batalkan dukungan saya tadi kepada mbak pramugari, demi melihat cara mbak pramugari berdialog dengan penumpang di depan saya untuk menyelesaikan masalah bagasi-membagasi.

Cara bicara mbak pimpinan awak kabin itu sama sekali tidak mencerminkan seorang yang seharusnya menjaga citra merek dagang maskapai yang sedang diembannya. Bukannya berdialog dengan ramah dan menyejukkan, melainkan malah ngelok-ke (mencela) penumpang di depan saya sambil memamerkan paras ketus dan bersungut-sungut (ekspresi wajah yang sulit saya lukiskan). Kata-kata dan nada suaranya sama sekali tidak seindah dan semesra ketika dia mendesah : “have a nice flight….”.

Untungnya penumpang yang menjadi korban perilaku tidak simpatik dari mbak pimpinan awak kabin itu tergolong jenis mahluk yang sabar, sehingga tidak memilih untuk membalas dengan cara pethenthengan (marah), melainkan tenang dan santai saja. Padahal saya sendiri dalam hati justru gethem-gethem….., berempati turut merasa jengkel.

Saya yakin penumpang itu adalah seorang yang suka menjaga hati ala Aa’ Gym. Ee…, barangkali saja mbak pramugari yang mengenakan blazer merah hati cerah tadi barusan diputus sama pacarnya. Atau, waktu berangkat kerja tadi sepatunya menginjak tembelek lencung (tahi ayam kental berwarna kuning kecoklatan yang aromanya tidak satu pun parfum Perancis mampu menyamainya). Atau, sakit giginya kambuh lalu kesenggol pintu.

Apapun alasannya, apa yang saya saksikan itu sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang pramugari terhadap penumpangnya. Pengalaman pertama saya naik pesawat berlambang benang ruwet dan berwarna body putih-merah-biru-putih telah memberikan pelajaran berharga tentang artinya pelayanan kepada pelanggan, yang oleh oknum awak Sriwijaya Air berhasil didemonstrasikan dengan sangat mengecewakan.

Entah mata pelajaran tentang pelayanan seperti apa yang pernah diajarkan kepada mbak pimpinan awak kabin itu sehingga tidak bisa membedakan antara pelanggan adalah raja dan pelanggan adalah obyek penderita (meskipun ada juga raja yang menderita…..).

Semarang, 30 April 2008
Yusuf Iskandar

Ketika Harus Naik Pesawat ”Pokoke Mabur”

4 Mei 2008

Maunya terbang ke Jakarta dari Jogja naik burung Garuda, namun apa daya terkadang harga tiket yang tersisa melonjak tinggi sekali. Seperti tadi pagi, harga tiket burung besi Garuda hampir empat kali lipat harga tiket murah-meriah-resah-gelisah dari maskapai “Pokoke Mabur” yang cuma Rp 229.000,-. Selisih yang hampir 900 ribu rupiah tentu sangat cukup untuk mandi pakai 60 liter minyak goreng yang juga lagi melonjak harganya.

Namanya juga pokoke mabur (yang penting terbang), maka jangan heran kalau awaknya pun pokoke mramugari (pakai huruf depan ‘m’, yang artinya yang penting menjalankan tugas sebagai pramugari).

Baru saja pesawat atret mundur hendak siap-siap menuju landasan, peragaan busana emergency segera dimulai. Seorang pramugari bertugas di bagian tengah kabin dan seorang pramugara di ujung depan kabin. Seorang lagi hanya kedengaran suaranya sebab bertugas membacakan tatacara penggunaan piranti emergency dalam dua bahasa.

Paras cantik tidak menjamin identik dengan cara membaca yang cantik pula alias enak didengarkan. Ya, karena pokoke (yang penting) dibacakan, itu tadi. Soal cara membaca ini, kalau dipikir-pikir (meskipun tidak usah dipikir sebenarnya juga sudah ketahuan) hanya beda sedikit saja dengan cara membacanya keponakan saya yang belum tamat SD.

Asal dilarak… diseret saja membacanya agar cepat selesai. Tidak jelas mana koma mana titik. Tidak jelas urut-urutannya, seperti kepulauan Indonesia yang sambung-menyambung menjadi satu minus Sipadan dan Ligitan. Termasuk tidak ada jeda mana yang bahasa Indonesia mana yang coro Londo. Pendeknya, buru-buru seperti kebelet mau ke belakang…..

Akibatnya, antara bacaan naskah dan peragaannya nyaris seperti balapan, dulu-duluan selesai. Jangankan penumpangnya, pramugari yang memeragakan pun sebenarnya bingung mengikuti urut-urutan tatacara yang sedang dibacakan. Ketika penggunaan masker oksigen masih dibacakan dalam bahasa Inggrisnya, tapi sang peraga sudah mengangkat tinggi-tinggi kartu petunjuk keselamatan.

Maka ketika penggunaan kartu petunjuk keselamatan dalam bahasa Inggris belum selesai dibacakan, pramugara yang di depan sudah balik kanan menuju kabin depan dan pramugari yang di tengah langsung kabur duluan ke kabin belakang. Jadi benar, memang sedang kebelet ke belakang….. (bagian belakang pesawat maksudnya).

Entah karena telanjur terbiasa begitu atau memang saking tidak menariknya “acara” peragaan itu, maka penumpang pun seperti tidak ada yang memerdulikannya. Penumpang nampak asyik dengan jalan pikiran masing-masing. Ibarat sebuah acara pementasan, maka ini adalah pementasan yang gagal.

Belum lama pesawat take-off dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman belum dipadamkan, tiba-tiba penumpang yang duduk tepat di sebelah kiri saya berdiri hendak ke WC. Tentu saja langsung diberi kode oleh pramugari agar duduk kembali. Barulah saya tahu rupanya penumpang di sebelah saya itu sejak awal tadi tidak mengenakan sabuk pengaman dan tidak ketahuan.

***

Malamnya saya kembali ke Jogja naik pesawat “Pokoke Mabur” lainnya. Rasanya sudah belasan kali saya ikut penerbangan terakhir ke Jogja dengan pesawat ini dan belum pernah sekali pun mabur (terbang) tepat waktu. Saking seringnya, sehingga kalau “hanya” terlambat satu jam sudah tidak perlu dihalo-halo lagi. Semua pihak sepertinya sudah sama-sama maklum. Mestinya sekalian saja secara resmi jadwalnya dimundurkan satu jam. Wong sudah terbukti sering sekali begitu.

Tiba saatnya boarding, rupanya hanya pintu depan pesawat Boeing 737-900ER yang dipasangi tangga, sedangkan pintu belakang tidak digunakan. Karuan saja dua ratusan penumpang tumplek-blek bergerombol di depan tangga menunggu giliran naik satu-persatu. Jarang-jarang saya mengalami kejadian seperti ini.

Ada seorang penumpang yang rupanya cukup kritis menanyakan kepada seorang awak kabin, kenapa pintu belakang tidak dibuka. Lalu dijawab bahwa tidak ada tangganya. Penumpang itu rupanya belum puas dan masih ingin memastikan bahwa tidak dibukanya bukan karena macet.

Pertanyaan yang sangat logis. Sebab masih lebih baik pintu tidak dibuka karena tidak ada tangga (meskipun sebenarnya aneh bin ajaib), daripada tidak dibuka karena pintunya macet atau rusak.

***

Meski pesawat jenis Boeing 737-900ER itu tergolong pesawat baru, tapi ketika roda-rodanya menjejak bumi bandara Adisutjipto, tak urung mak jegluk…. Menghentak cukup keras sehingga mengagetkan sebagian besar penumpangnya.

Maka, kalau terpaksa menggunakan jasa maskapai “Pokoke Mabur”, perlu memperbanyak doa untuk mengendalikan rasa resah-gelisah di atas tiket murah-meriah, agar pokoke tekan nggone (yang penting sampai tujuan dengan selamat). Jangan sampai pesawatnya mabur ….. tinggi sekali dan tidak kembali lagi….. (diucapkan dengan logat Banyumasan).-

Yogyakarta, 5 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Oops…. Saya Ketumpahan Teh Panas

4 Mei 2008

Saat sedang mengantri untuk boarding di bandara Adisutjipto Yogya, tiba-tiba saya disapa oleh seorang teman lama. Karuan saja suasana jadi seru, ngobrol ngalor-ngidul sambil bergerak mengikuti antrian. Saking asyiknya, obrolan masih terus berlanjut sambil jalan memasuki pesawat hingga di dalam pesawat, ketika peragaan busana emergency oleh awak kabin, sampai pesawat take-off, hingga tiba saatnya pembagian makanan dan minuman.

Pembicaraan sepertinya tidak habis-habis, ditambah lagi teman lama saya ini tergolong manusia yang suka cerita-cerita. Rencana semula mau tidur di pesawat pertama yang menuju Jakarta jadi batal.

Sajian teh panas sesuai pesanan pun segera dibagikan oleh pramugari. Saat mbak pramugari menyodorkan segelas, eh… seplastik, eh… segelas plastik (gelas kok plastik, pokoknya ya itulah……), tiba-tiba mak grujug…….! Segelas teh panas tumpah di atas pangkuan, membasahi baju, celana dan yang ada di baliknya. Mak nyosss…., lha wong wedhang (air minum) panas je….. Mau bergerak bangkit ya susah. Terpaksa harus agak menahan rasa panasnya.

Mau marah sama siapa? Malah nanti jadi tontonan penumpang lain, mengalahkan lucunya acara “Just for Laugh” yang lagi ditayangkan di televisi kecil yang menggantung di tengah kabin pesawat.

Mbak pramugari pun berkali-kali meminta maaf. Juga teman saya yang duduk di sebelah kanan saya di dekat jendela. Karena saya duduk di tengah, maka acara serah-terima segelas teh panas itu terjadi tepat di depan saya. Ya sudah. Kedua pihak saya beri maaf. Inilah akibatnya kalau kelewat asyik ngobrol, sampai kurang konsentrasi sewaktu acara serah-serahan teh panas.

Mbak pramugari mungkin merasa sudah menyerahterimakan segelas teh panas kepada teman saya, sementara teman saya sambil terus ngobrol meski sudah mengulurkan tangannya tapi sebenarnya belum benar-benar menerima segelas teh panas itu. Maka segelas teh panas itu telah berada dalam ketidakseimbangan antara lepas dari tangan lentik mbak pramugari tapi belum diterima oleh tangan kasar teman saya yang buruh tambang. Tinggal saya yang jadi pelanduk tak berkutik di tengah-tengah. Ya ke-sok-an (ketumpahan) teh panas itu tadi jadinya….

Dua gepok tisu putih lalu disodorkan oleh mbak pramugari dalam dua kali pemberian, lalu masih ditambah dengan dua gulung handuk kecil putih untuk menyeka air. Tapi ya tetap saja telanjur basah. Apa ya mau buka baju dan celana untuk mengusap bagian tubuh yang basah. Tapi saya menghargai langkah tanggap darurat mbak pramugari, meski itu tidak menyelesaaikan masalah.

Untungnya…. (sudah jelas-jelas sial kok masih untung), yang tumpah adalah teh tawar panas, dan bukan kopi manis panas. Saya pun tidak sedang mengenakan kemeja putih.

Nampaknya mulai saat ini saya mesti lebih waspada, atau memasang status “Siaga” hingga “Awas” seperti menyongsong gejolak gunung Merapi, jika tiba acara serah-serahan minuman di dalam pesawat. Siapa tahu penumpang di sebelah saya sedang kurang konsentrasi, atau justru pramugari atau garanya yang tidak konsentrasi.

Sekalipun bisa marah dan berbunyi-bunyi, tapi kalau sudah telanjur basah apalagi plus meninggalkan noda di baju, padahal mau hadir di meeting atau melakukan presentasi. Njuk terus mau ngapain?

Yogyakarta, 1 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Sang Pramugari Dan Penumpang Yang Kecewa

28 Februari 2008

Barangkali ini kejadian yang biasa-biasa saja, ketika ada seorang penumpang pesawat yang kecewa oleh pelayanan awak pesawatnya. Paling-paling sang awak pesawat akan minta maaf, dan sesudah itu sebodo amat, mau diterima atau tidak. Tapi bagi saya menjadi peristiwa yang luar biasa, setidak-tidaknya jarang saya jumpai, ketika ada seorang penumpang Singapore Airlines di sebelah saya dalam perjalanan Jakarta – Singapura kecewa berat oleh pelayanan awak pesawatnya.

Waktu makan siang di kelas bisnis, seorang pramugari Singapore Airlines membagikan sajian makan siang seperti biasanya, juga kepada penumpang di sebelah saya itu. Saat makan siang selesai dan akan dibereskan, rupanya makanan penumpang di sebelah saya nyaris masih utuh, hanya tampak sedikit bekas dicolek-colek. Melihat hal itu, yang rasanya sudah biasa terjadi, saya beranggapan barangkali penumpang di sebelah saya itu masih kenyang atau paling-paling tidak suka dengan menunya.

Sang pramugari juga seperti biasa bertanya : “Apakah Anda tidak suka dengan menunya?”. Jawaban penumpang itu yang membuat saya baru ngeh (menyadari apa yang terjadi). Rupa-rupanya sejak tadi penumpang itu menahan kekecewaan. Terbukti dia langsung menjawab pertanyaan itu dengan keluhan panjang, yang kira-kira maksudnya bahwa tadi dia tidak ditanya lebih dahulu soal menu makannya, dan ternyata menu yang disajikan sangat tidak baik bagi dirinya.

Sang pramugari pun seperti baru menyadari “ada yang salah” ketika mendengar keluhan bernada marah dari penumpang di sebelah saya itu. Buru-buru sang pramugari itu minta maaf, bahkan hingga beberapa kali. Tampaknya kekecewaan penumpang itu sudah sangat mendalam. Dari tingkah dan raut mukanya (saya sempat melirik) sekilas terlihat bahwa penumpang itu masih menahan kekecewaannya.

Beberapa menit kemudian, pramugari tadi datang lagi dan kembali meminta maaf atas kejadian itu, sambil mengatakan : “saya harap hal ini tidak membuat Anda kecewa”. Betapa kagetnya saya ketika dengan tegas penumpang di sebelah saya itu menjawab “You did!”, sambil menambahkan bahwa dia sudah banyak melakukan perjalanan udara tapi kejadian ini membuatnya sangat kecewa.

Sang pramugari seperti kehabisan kata-kata, dan entah berapa banyak saya mendengar kata-kata penyesalan dan permintaan maaf disampaikan oleh sang pramugari. Tapi hingga dia berjalan menjauh, penumpang itu tampaknya masih belum bisa menerima kekecewaannya. Dalam hati saya berpikir, orang ini nanti pasti akan complaint setibanya di Singapura.

Pengalaman saya selama ini mengajarkan bahwa kejadian semacam itu adalah lumrah saja, dan selanjutnya akan berakhir dengan akhir yang tidak enak. Sang pramugari merasa sudah berkali-kali minta maaf, sedang sang penumpang tetap memendam kekecewaannya. Peristiwa akan dianggap selesai dengan sendirinya. Itu saja.

Tampaknya mulai hari itu saya harus mencatat bahwa pengalaman saya ternyata masih belum lengkap. Apa yang terjadi beberapa menit kemudian, menyadarkan saya bahwa ada hal baru yang seharusnya saya tambahkan dalam daftar pengalaman saya.

***

Kali ini datang pramugari yang lain, agaknya lebih senior. Dengan senyum manisnya di balik baju seragamnya yang khas seperti iklan-iklan Singapore Airlines di TV, sang pramugari senior ini mendekati penumpang di sebelah saya, dan mengawali pembicaraan dengan meminta maaf atas kejadian tadi. Sang pramugari ini lalu menjanjikan akan membantu mengatur menu yang sesuai, untuk perjalanan lanjutan yang akan dilakukan oleh penumpang di sebelah saya. Mulailah sang pramugari ini menanyakan kepada penumpang yang sedang kecewa berat itu kemana tujuan akhirnya, dengan pesawat apa, dan seterusnya.

Lalu sambil berlutut di sebelah tempat duduk penumpang itu (sebab kalau tidak, pramugari itu pasti akan kecapekan bicara sambil nungging), sang pramugari dengan lihai mulai menggiring pembicaraan ke hal-hal yang lebih bersifat pribadi. Diajukannya dengan sopan dan lembut pertanyaan-pertanyaan seperti : perjalanan ini dari mana, mau kemana, berapa lama, dalam rangka apa, pekerjaannya apa, tugasnya dimana, berasal dari mana, dsb.

Di luar dugaan saya, sang pramugari ternyata berhasil mem-pribadi-kan suasana, hingga penumpang di sebelah saya pun dengan enak menjawab semua pertanyaan itu. Suasana dialog lalu berubah menjadi layaknya pembicaraan dua orang yang sudah lama saling kenal. Sekitar sepuluh menit diperlukan oleh sang pramugari untuk merubah muka cemberut penumpang yang kecewa berat ini hingga lumer menjadi sumringah (cerah) air mukanya (saya sempat sesekali mencuri pandang sambil nguping pembicaraan, sebab tentu tidak etis kalau saya sengaja menolehkan kepala untuk memperhatikannya).

Bagi saya, ini kejadian yang luar biasa. Peristiwa kekecewaan mendalam yang tadi itu kini berakhir dengan happy ending. Terbukti ketika sang pramugari akan pamit meninggalkannya, merekapun saling mengucapkan terima kasih.

Sungguh ini membuat saya gumun (heran). Gumun bukan saja kepada kepiawaian sang pramugari menetralisir suasana, tapi lebih karena pertanyaan yang kemudian timbul di otak saya : “Kenapa saya nyaris tidak pernah menjumpai peristiwa seindah ini di dalam masyarakat bangsa saya yang selalu bangga dengan sebutan bangsa yang ramah?”. Padahal jutaan peristiwa layanan masyarakat semacam ini terjadi setiap detiknya.-

New Orleans, 1 Maret 2000.
Yusuf Iskandar