Posts Tagged ‘popular vote’

Pemilu Amerika 2004 : George Bush atau John Kerry?

12 November 2008
George W. Bush

George W. Bush

John Kerry

John Kerry

Empat tahun yang lalu, 7 Nopember 2000, saya menyempat-nyempatkan melototin TV sampai larut malam di New Orleans karena penasaran ingin segera mengetahui siapa yang bakal menjadi presiden Amerika : George Bush atau Al Gore.

Hari ini, 2 Nopember 2004 malam waktu Amerika, peristiwa yang sama terulang kembali. Pemilunya dan penasarannya yang sama, tapi melototnya tidak lagi. Siapa bakal presiden Amerika 2004-2008 : George Bush atau John Kerry.

Kalau sempat melihat saluran TV CNN tentu lagi seru-serunya. Karena masih tengah hari di kantor, sambil teklak-tekluk menyertai puasa, saya coba membuka website CNN. Kedudukan sementara Bush unggul lawan Kerry, 193 vs 112 electoral vote (untuk mudahnya saja, saya terjemahkan electoral vote dengan jatah suara, sementara popular vote dengan kartu suara). Ini masih sementara, hasil dari 32 negara bagian yang sudah menutup TPS-nya dan menyelesaikan perhitungan kartu suaranya.

Angkanya masih terus bergerak naik. Apalagi suara dari negara-negara bagian yang padat penduduknya seperti Florida dan California belum tuntas. Sebagian negara bagian lainnya masih melangsungan perhitungan kartu suara atau bahkan kawasan sebelah barat masih melangsungkan pencoblosan. Siapa yang lebih dahulu melewati jumlah angka keramat 270 suara, dialah yang akan keluar sebagai pemenang. Oleh karena itu tidak selalu harus menunggu sampai semua TPS menyelesaikan perhitungannya untuk mengetahui hasilnya.

Sekedar mengingat, pemilu Amerika tahun 2000 merupakan pemilu paling rumit sepanjang sejarah Amerika. Bagaimana media Amerika menjuduli dengan Too Close To Call, hasil pengumpulan suaranya terlalu ketat untuk dapat memutuskan siapa pemenangnya. Ini merujuk kepada hasil pencoblosan di negara bagian Florida yang selisih suara antara untuk Bush dan untuk Gore kurang dari setengah persen, padahal suara Florida akan menentukan siapa menang dan siapa kalah. Menurut peraturan yang berlaku di Florida, maka perlu dilakukan penghitungan ulang. Namun ternyata proses ini sangat berlarut-larut sehingga harus diselesaikan melalui proses peradilan yang melelahkan. Akibatnya, untuk menentukan siapa presiden baru Amerika diperlukan waktu hingga 36 hari sejak hari coblosan.

Akankah pemilu presiden Amerika tahun ini juga menghasilkan angka yang Too Close To Call? Kita lihat saja nanti sore, beberapa jam lagi. Menurut beberapa jajak pendapat, George Bush akan unggul atas John Kerry. Wah, ciloko tenan…. yen presiden-ne Gus Bush maneh………

Tembagapura, 3 Nopember 2004
Yusuf Iskandar

Iklan

Pemilu Amerika 2008 : Sebuah Penyelesaian Indah

6 November 2008

obama_us_election_r3Tidak sampai 24 jam sejak pemilu presiden Amerika dimulai pada tanggal 4 Nopember 2008, hasilnya sudah dapat diketahui. Dan, pemenangnya adalah Barack Obama. Hal ini ditandai dengan telah dilewatinya batas minimal suara Dewan Pemilih (electoral vote) yang harus dikumpulkan, yaitu 270 suara (dari total 538 suara).

Hingga saat ini, hasil sementara pengumpulan electoral vote adalah 349 untuk Barack Obama dan 163 untuk John McCain, masih menyisakan 11 dan 15 suara masing-masing dari negara bagian Missouri dan North Carolina yang belum selesai dihitung. Sedangkan hasil pengumpulan sementara kartu suara (popular vote), masing-masing adalah  64,058,827 (52%) untuk Barack Obama dan 56,500,053 (46%) untuk John McCain.

Kemenangan mutlak Obama ini menjadikan pemilu presiden Amerika tahun 2008 ini dapat dikatakan telah berlangsung dengan mulus, cepat dan tuntas, tanpa menyisakan ganjalan-ganjalan atau persengketaan yang tidak perlu. Sangat bertolak belakang dengan kejadian pemilu Amerika tahun 2000 yang telah tercatat sebagai pemilu terburuk dalam sejarah Amerika.

Bukan soal kemenangan partai Demokrat, bukan juga soal kecepatan diperolehnya hasil akhir pemilu, melainkan kekalahan partai Republik yang diterima dan disikapi dengan sangat sportif, elegan dan legowo oleh McCain dan kubunya, itulah yang pantas dicontoh dan diambil hikmahnya. Pengakuan kekalahan McCain dan kemudian berbalik menjadi dukungan atas kemenangan Obama, adalah sebuah penyelesaian akhir pemilihan presiden yang sangat indah untuk disaksikan dan dikenang. Bukan demi McCain dan para republikan atau demi Obama dan para demokrat, melainkan demi United States of Amerika, begitu bunyi kata kuncinya.

Barack Obama, sebuah simbol fenomenal dalam perpolitikan Amerika saat ini, seolah mempertontonkan indahnya ke-bhinneka-tunggal-eka-an Amerika. Dunia seolah turut bersuka cita menyambut kemunculannya. Dunia pun seolah turut larut memilikinya, termasuk Indonesia…… (hiks…hiks...).

Sambil harap-harap cemas menunggu sepak dan terjang presiden Obama….. “Nyuwun sewu, mas Obama. Sampeyan ojo lali kalau pernah empat tahun tinggal dan sekolah di Indonesia, lho. Bahkan menurut ngelmu pernah-pernahan-nya orang Jawa, Sampeyan itu juga orang Indonesia. Tapi, kalau soal ke-bhinneka-tunggal-eka-annya Indonesia dan kebiasaan sedulur-sedulur Sampeyan di Indonesia dalam membuat penyelesaian akhir, tolong jangan dicerita-ceritakan kepada warga Sampeyan yo…..Suwun“.

Yogyakarta, 6 Nopember 2008
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (10)

2 November 2008

New Orleans, 9 Nopember 2000 – 18:00 PM (10 Nopember 2000 – 07:00 WIB)

Kini semua mata tertuju ke negara bagian Florida, apa yang sedang dan akan terjadi di sana. Perhatian tidak lagi pada jumlah jatah suara (electoral vote) secara nasional, melainkan lebih detail lagi ke jumlah kartu suara (popular vote) khusus di wilayah Florida. Dengan menang di Florida, maka Bush atau Gore akan berhak mengantongi tambahan 25 jatah suara (electoral vote), yang akan membuat total jatah suaranya secara nasional melebihi batas angka kemenangan 270. Oleh karena itu, setiap lembar kartu suara menjadi berarti sangat sensitif. Ini karena siapa pun yang menang di Florida meski hanya unggul dengan satu suara, maka dia akan menjadi presiden Amerika yang baru.

Tidak heran kalau kedua kubu, Bush maupun Gore, seakan-akan tidak ingin terlena sedetikpun menyaksikan setiap perhitungan ulang di 67 kabupaten (county) yang ada. Saking krusialnya hasil perhitungan ulang ini, maka segala kemungkinan mulai dipelototin, setiap hal yang dapat menyebabkan kalah atau menang mulai saling dicari alasan pembenaran atau kesalahannya. Mulai dari cetakan kartu suara yang membingungkan pemilih, kartu suara yang hilang, kartu suara yang dianggap tidak sah, mulai timbul rasa saling curiga, dsb. Yen tak pikir-pikir……, kalau sudah begini kok jadi sama saja dengan kita di Indonesia, ya…….

Bahkan, kelompoknya Al Gore sedang mempersiapkan permintaan agar dilakukan penghitung ulang secara manual terhadap empat kabupaten. Hal ini muncul karena adanya protes dari para pemilih Gore terhadap adanya cetakan kartu suara yang membingungkan sehingga dikhawatirkan suara yang seharusnya lari ke Gore oleh komputer “dibelokkan” ke Pat Buchanan, seorang kandidat dari partai gurem, Partai Reformasi. Agaknya komputer pun sudah mulai dicurigai dan tidak dipercaya. Ada-ada saja, tapi nyata dan kelihatannya kok ya masuk akal.-

Sesuai janji panitia pemilu Florida yang akan menyelesaikan penghitungan ulang kartu suara pada akhir jam kerja Kamis sore ini, ternyata hingga saya mau pulang kantor belum juga selesai. Menurut catatan CNN saat ini panitia sudah berhasil menyelesaikan penghitungan ulang di 64 kabupaten dan masih 3 kabupaten lagi.

Hasil sementaranya menunjukan selisih yang semakin tipis. Jumlah suara untuk George Bush terkumpul 2.909.720 suara dan untuk Al Gore 2.909.358 suara. George Bush unggul sementara dengan selisih “hanya” 362 suara. Apakah Al Gore akan berhasil mempersempit margin dan mengungguli George Bush, atau Bush akan tetap bertahan di posisinya dan terpilih menjadi presiden?

Tunggu dulu. Kalaupun Bush akan tetap unggul di 67 kabupaten, Al Gore tentu tidak akan terima begitu saja. Masih ada kartu suara yang belum dihitung, yaitu yang disebut dengan absentee ballots atau suara yang diberikan secara tidak langsung melalui pos. Suara jenis ini kebanyakan dari para petugas militer yang sedang bertugas di luar negeri. Pada pemilu tahun 1996 yang lalu jumlahnya sekitar 2.300 suara.

Dalam pemilu-pemilu sebelumnya suara jenis ini dapat diabaikan karena jumlahnya relatif tidak akan berpengaruh terhadap penentuan siapa yang menang atau kalah di setiap negara bagian. Tetapi kali ini menjadi sensitif, melihat kenyataan akan selisih yang sangat tipis antara jumlah suara yang dikumpulkan Bush dan Gore yang sedang dihitung ulang. Besar kemungkinan absentee ballots dapat menyebabkan Bush atau Gore berada di posisi yang sebaliknya.

Kalau jenis suara ini akan ditunggu kedatangannya, maka masa penantian bagi rakyat Amerika untuk mempunyai presiden yang baru masih akan panjang. Paling tidak, perlu tenggang waktu seminggu lagi. Bush dan Gore pun menjadi semakin berolah raga jantung ………….

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (18)

2 November 2008

New Orleans, 20 Nopember 2000 – 21:00 CST (21 Nopember 2000 – 10:00 WIB)

Kemelut di depan gawang Gedung Putih masih juga belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Berbagai proses peradilan pemilu baik di tingkat kabupaten maupun negara bagian Florida masih terus berlanjut. Saking banyaknya peristiwa peradilan, membuat saya sendiri bingung untuk memahami proses pemilu yang semakin rumit dan berlarut-larut ini. Untuk itu berikut ini akan saya coba ketengahkan gambaran besarnya saja.

Sidang Mahkamah Agung negara bagian Florida tadi sore mendengarkan argumen dari kedua belah pihak tentang sah tidaknya hasil penghitungan ulang di tiga kabupaten untuk ditambahkan ke dalam hasil penghitungan akhir sementara yang sudah disetujui oleh panitia pemilu Florida. Hingga saat ini masih belum ada keputusan peradilan, bahkan belum ada kejelasan kapan akan diputuskan. Jadi, ya masih menunggu.

Padahal Gore banyak berharap agar hasil penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara itu dapat disahkan untuk ditambahkan ke dalam hasil akhir sementara. Pasalnya ketiga kabupaten, yaitu Broward, Miami-Dade dan Palm Beach adalah termasuk wilayah basis pendukung Partai Demokrat. Beberapa TPS yang telah selesai menghitung memang mengindikasikan akan adanya penambahan suara bagi Gore, meskipun angka tersebut belum dilansir keluar.

Sementara proses peradilan masih berlanjut, sementara itu pula acara penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara yang jumlahnya ratusan ribu di tiga kabupaten juga masih terus dilanjutkan. Entah kapan selesainya, padahal di minggu ini akan ada dua hari libur nasional Thanksgiving Day, yaitu Kamis dan Jum’at.

Sementara itu lagi, tuntutan dari para pemilih di wilayah kabupaten Palm Beach untuk meminta pemilu ulang ternyata ditolak. Kini para pemilih tersebut sedang mengajukan banding atas keputusan penolakan dari peradilan State Circuit Court. Jadi, ya masih menunggu lagi kapan akan diputuskan.

Di lain pihak, adanya sekitar 40% suara (lebih 1.500 suara) dari absentee ballot yang kebanyakan berasal dari para anggota militer dan keluarganya yang sedang bertugas di luar negeri yang telah dinyatakan ditolak karena tidak sah, kini sedang diperjuangkan untuk ditinjau kembali. Para militer itu merasa haknya untuk memilih tidak dihargai, padahal kesalahan itu bukan semata-mata karena keteledorannya.

Bush sangat berharap atas suara luar negeri ini yang diyakini banyak berasal dari para pendukungnya. Sebagaimana telah terbukti dari suara luar negeri yang sudah sah dihitung, Bush mengumpulkan jumlah dua kali lebih banyak dibanding yang dikumpulkan Gore. Apakah suara dari luar negeri ini akan disetujui untuk dipertimbangkan kembali kesahannya. Hingga kini belum ada kepastian. Jadi, ya masih menunggu lagi apakah akan ada perubahan pengumpulan suara.

Ketiga persoalan di atas, dari sekian banyak persoalan yang masih dalam proses peradilan, kiranya cukup memberi gambaran bagi saya (dan kita), bahwa kesimpulan paling gampang adalah proses pemilu masih belum selesai dan tidak tahu kapan akan selesai. Dengan kata lain, presiden baru Amerika belum akan diketahui dalam waktu dekat ini dan penantian Amerika untuk memiliki presiden baru masih akan panjang.

Hingga hari ketigabelas setelah pemilu dilangsungkan tanggal 7 Nopember yll, kedudukan sementara pengumpulan jatah suara (electoral vote) masih tetap 255 untuk Gore dan Bush 246 untuk Bush. Kunci kemenangan akan ditentukan oleh siapa yang menang di Florida yang berhak memperoleh tambahan 25 jatah suara guna mencapai angka kemenangan 270.

Sedangkan kedudukan sementara pengumpulan kartu suara (popular vote) di Florida saat ini Bush masih unggul atas Gore dengan 930 suara. Bush sedang berusaha keras agar dapat memperbesar angka kemenangannya, sedangkan Gore sedang berusaha keras untuk memperkecil selisih kekalahannya untuk selanjutnya mengungguli Bush sekalipun hanya dengan sedikit suara saja. Untuk itulah berbagai trik dan cara ditempuh oleh kedua belah pihak melalui mekanisme hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

Jadi, ya masih menunggu lagi. Entah sampai kapan proses pemilu yang semakin rumit dan berlarut-larut ini akan berakhir.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (34)

2 November 2008

New Orleans, 13 Desember 2000 – 22:00 CST (14 Desember 2000 – 11:00 WIB)

Terjawablah sudah kini siapa yang menjadi pemenang pemilu di Florida, setelah Al Gore di depan publik Amerika menyampaikan pidato kekalahannya pada jam 9:00 malam waktu Amerika Timur yang baru lalu (Kamis pagi jam 9:00 WIB). Pidato Al Gore itu disampaikannya di gedung Eisenhower Executive Office, yang terletak di sebelah Gedung Putih, Washington DC, dengan dihadiri oleh istrinya serta pasangannya Joe Lieberman yang juga bersama istrinya.

Mengawali pidatonya, Gore mengatakan bahwa ia baru saja menilpun George Bush guna menyampaikan menerima kekalahannya dan mengucapkan selamat atas terpilihnya George W. Bush sebagai Presiden Amerika ke-43. Di bagian lain pidatonya yang cukup puitis, Gore menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Mahkamah Agung Amerika kemarin malam, namun dia sangat menghargai keputusan itu dan menerimanya.

Gore mengajak segenap warga Amerika agar bersatu dan bersama-sama berdiri di belakang presiden baru Amerika. Sungguh sebuah ajakan yang sangat simpatik kalau melihat betapa selama 36 hari terakhir sejak hari pemilu tanggal 7 Nopember yll. kedua belah pihak saling bersaing dengan tajam guna memenangi pengumpulan suara di Florida.

Saat keluar dari gedung Eisenhower dimana Gore menyampaikan pidato kekalahannya, di luar gedung di bawah gerimis, puluhan pendukung Gore masih dengan setia mengelu-elukannya dan memberikan tepuk tangan penghormatan atas Al Gore sambil meneriakkan kata-kata ritmis : “Gore in four, Gore in four”. Tentu yang dimaksud adalah agar Gore berjuang lagi untuk menuju ke Gedung Putih pada tahun 2004 nanti dan mereka akan mendukungnya.

Sejam kemudian, Gubernur Texas George W. Bush juga menyampaikan pidatonya di ruang sidang DPR Texas, yang berada di gedung US Capitol di kota Austin. Sebelum Bush menyampaikan pidato penerimaan kemenangannya, terlebih dahulu dia diperkenalkan kepada segenap hadirin oleh juru bicara DPR yang adalah seorang senior Partai Demokrat, lawan dari partainya Bush, Partai Republik.

Di bagian awal pidatonya, Bush juga mengatakan bahwa ia telah menerima tilpun dari Wakil Presiden Al Gore. Bush sangat berterima kasih atas ucapan selamat dari Gore, karena Bush menyadari bahwa hal itu sungguh bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan oleh Gore pada saat seperti ini.

Bush menegaskan komitmennya untuk memajukan Amerika bersama-sama. Bukan untuk kepentingan Partai Republik atau Demokrat, melainkan untuk kepentingan segenap warga Amerika termasuk mereka yang tidak memilihnya.

***

Perjuangan panjang dan melelahkan, malahan membosankan bagi sementara kalangan awam, telah dilakukan pihak Gore sejak 36 hari yll. dengan isu utama dilakukannya penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara yang dinilai bermasalah. Dengan sendirinya pihak Bush juga mesti melawannya dengan perjuangan yang tidak kalah gigihnya. Maka yang terjadi lebih sebulan ini adalah saling adu argumentasi di berbagai forum pengadilan mulai dari tingkat paling rendah di kabupaten-kabupaten bermasalah hingga tingkat paling tinggi di kota Washington DC.

Kini semua telah selesai. Pagi tadi Gore telah melakukan konferensi jarak jauh dengan segenap tim hukumnya di Florida. Gore menyampaikan terima kasih dan salam perpisahan kepada sekitar 30 pengacara dan staff kampanyenya di Tallahassee yang telah bekerja keras sejak hari pemilu yll.

Setelah keluar keputusan Mahkamah Agung Amerika tadi malam, maka kubu Gore sudah merasa tidak ada lagi jalur upaya hukum yang dapat dilakukan guna memperjuangkan kemenangannya di Florida. Maka 25 jatah suara (electoral vote) Florida jatuh ke tangan George Bush. Dengan demikian, secara nasional Bush berhasil mengumpulkan 271 jatah suara, sedangkan Gore mengumpulkan 267 jatah suara. Menciptakan margin kemenangan yang sangat tipis yang belum pernah terjadi dalam sejarah pemilihan presiden Amerika sebelumnya. Meskipun dari jumlah pengumpulan kartu suara (popular vote) secara nasional Gore lebih unggul dibandingkan Bush.

Usai sudah proses panjang pemilihan presiden Amerika. Tinggal kini dilanjutkan dengan tahap formal selanjutnya hingga pelantikan presiden tanggal 20 Januari 2001 saat secara resmi George Bush melengser Bill Clinton menduduki Gedung Putih.

Selamat untuk George W. Bush menjadi presiden terpilih Amerika ke-43. Saya yakin kali ini saluran-saluran televisi pasti tidak akan salah lagi mengekspose presiden baru Amerika sebagaimana yang terjadi pada tanggal 7 Nopember tengah malam bulan lalu. Presiden Indonesia Gus Durrahman juga pasti sudah siap dengan kawat ucapan selamatnya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (35 – Selesai)

2 November 2008

New Orleans, 14 Desember 2000 – 22:30 CST (15 Desember 2000 – 11:30 WIB)

Setelah 35 kali saya menuliskan pertanyaan sebagai judul catatan ini, kini sudah terjawab yaitu bahwa akhirnya Gubernur Texas, George W. Bush, terpilih sebagai Presiden Amerika ke-43, setelah mengalahkan Wakil Presiden Al Gore melalui pertarungan sengit selama 36 hari.

Kedudukan akhir pengumpulan kartu suara secara nasional (popular vote) adalah : Gore mengumpulkan 50.158.094 suara (48%) dan Bush mengumpulkan 49.820.518 suara (48%), dengan sisanya diraih partai gurem penggembira pemilu lainnya. Meskipun Gore menang di popular vote, tetapi Gore hanya berhasil mengumpulkan 267 jatah suara (electoral vote) dari 21 negara bagian termasuk ibukota Washington DC, sedangkan Bush mengumpulkan 271 jatah suara dari 30 negara bagian. Karena pemilihan presiden didasarkan pada jumlah jatah suara yang berhasil dikumpulkan dari negara-negara bagian, maka Bush yang akhirnya berhak menjadi pemenangnya.

Banyak pelajaran akan dipetik oleh berbagai elit politik Amerika dari proses panjang pemilihan presiden yang akan menjadi catatan tersendiri bagi sejarah pemilu di Amerika. Berbagai kalangan kini mulai mengamat-amati perangkat peraturan dan perundang-undangan pemilu di wilayah negara bagian masing-masing, guna mengantisipasi jika seandainya kasus yang serupa akan kembali terjadi di masa-masa mendatang.

Sebagai catatan akhir, saya ingin menggaris-bawahi hal-hal sbb. :

Pertama :

Melihat proses pemilu yang tidak mulus kali ini, sebagian orang di belahan dunia lain mengkhawatirkan akan terjadinya krisis politik di Amerika. Bahkan sebagian lain mencemooh bahwa demokrasi Amerika yang dibangga-banggakan itu ternyata tidak berjalan. Saya justru berpendapat sebaliknya, inilah saatnya demokrasi Amerika sedang diuji. Bagaimana Amerika akan keluar dari kemelut berkepanjangan itu. Akhirnya memang terbukti bahwa Amerika dapat keluar dari kemelut pemilihan presiden dengan cara yang demokratis. Tanpa terjadi chaos, tanpa terjadi kekerasan, tanpa terjadi krisis politik.

Lha, kok justru di Amerika saya melihat pangejawantahan (manifestasi) dari semboyan para leluhur Jawa : kalah tanpa wirang, menang tanpa ngasorake (mudah-mudahan saya tidak salah mengkutip pemeo ini), yang artinya kalah tanpa kehilangan kehormatan dan menang tanpa merendahkan lawannya.

Setelah berbagai cara legal ditempuh oleh Al Gore, dan akhirnya tidak juga berhasil dan tidak ada cara “halal” lagi yang dapat ditempuh, maka dengan kesatria Al Gore mengakui kekalahannya dan siap bersama-sama pendukungnya berdiri di belakang George Bush, demi Amerika. Betatapun keputusan pengadilan sangat membuat Gore kecewa, namun toh Gore tetap menghormati keputusan itu dan menerimanya. Bush pun memuji Al Gore dan siap melayani semua warga Amerika baik yang memilih maupun tidak memilih Bush, menuju cita-cita bersama.

Saya sendiri sempat merasa miris, membayangkan seandainya peristiwa serupa terjadi di Indonesia misalnya, bencana apa lagi yang akan terjadi. Merinding rasanya membayangkan di Indonesia akan terjadi chaos, kekerasan di mana-mana, dan bukan tidak mungkin terjadi pertumpahan darah yang sia-sia.

Kedua :

Meskipun Gore unggul dalam pengumpulan suara secara nasional (popular vote), namun karena kemenangan ditentukan oleh pengumpulan jatah suara (electoral vote) dari setiap negara bagian, maka akhirnya Bush yang dinyatakan menang. Kenyataan ini sebenarnya mirip dengan sistem perwakilan dalam lembaga politik kita, dimana jumlah anggota DPR/MPR ditentukan secara proporsional oleh banyaknya partai yang menang di tiap-tiap propinsi.

Sebagai ilustrasi, tentunya kita masih ingat dengan hasil pemilu di Indonesia tahun lalu, dimana secara nasional PKB mengumpulkan jumlah suara lebih banyak dibandingkan Golkar (identik dengan popular vote). Akan tetapi kenyataannya jumlah anggota perwakilan Golkar di DPR/MPR lebih banyak daripada perwakilan PKB (identik dengan electoral vote). Maka seandainya di Indonesia ini hanya ada dua partai saja dan masing-masing mengajukan kandidat presidennya, sudah barang tentu kandidat Golkar yang akan menang karena mempunyai perwakilan pemilih yang lebih banyak.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada yang aneh dengan sistem pemilu dalam institusi politik kita. Kalaupun ada yang aneh jika dibandingkan dengan sistem pemilu di Amerika adalah bahwa di Amerika sejak tahap awal rakyat sudah melihat “kucing” yang mau dibeli, sedangkan bagi kita “kucing” itu masih dalam karung. Jika akhirnya “kucing”-nya diganti-ganti atau justru “kucing liar” (entah keluar dari karung atau sarungnya siapa), maka tidak ada yang boleh protes.

Keanehan yang kedua adalah adanya anggota perwakilan di DPR/MPR yang diangkat. Apapun alasannya, pasti tidak akan terhindarkan bahwa mereka yang diangkat akan berasal dari pihak yang sedang berkuasa. Maka tidak heran ketika mantan Presiden Soeharto keukeuh (berkeras) ketika menyampaikan sambutan tanpa teks di depan Rapim ABRI tahun 1980 di Pakanbaru, bahwa adanya sepertiga anggota DPR/MPR yang diangkat adalah demi mengamankan UUD 1945.

Belakangan saya baru sempat berprasangka buruk, jangan-jangan bukan UUD 1945-nya yang diamankan melainkan pelaksananya. Mudah-mudahan prasangka buruk saya keliru, dan kalaupun benar, ya sudah terlambat 20 tahun. Barangkali karena waktu itu saya adalah satu dari 180 juta orang yang menderita “sakit gigi”.   

***

Akhirnya saya berharap, semoga tim pemantau pemilu dari Indonesia yang (menurut Kepala Konsul Jendral RI di Houston) juga berangkat ke Amerika, dapat kembali ke tanah air dengan membawa hal-hal positif yang sekiranya dapat dipelajari dan diterapkan. Terutama bagi perbaikan sistem demokrasi Pancasila yang suuuangat kita bangga-banggakan. Sama bangganya dengan masyarakat Amerika atas sistem demokrasi mereka yang memang terbukti berjalan.

Saya percaya bahwa lain ladang memang lain belalangnya. Justru karena itu jangan hendaknya belalangnya jadi sak karepe dhewe (semaunya sendiri). George Bush saja mengajak segenap rakyat Amerika untuk berdoa kepada Tuhan, demi kejayaan Amerika. Marilah kita juga berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, demi kejayaan Indonesia.

Yusuf Iskandar