Posts Tagged ‘ponstan’

Lebih Baik Jangan Sakit Gigi

9 April 2008

Ada lagu ndang-ndut yang dinyanyikan mendayu-dayu, katanya lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Dulu saya pikir ini hanyalah bunga kata-kata yang tidak berarti apapun selain sekedar agar lagunya laku dijual. Dalam hati saya nggrundel, kayak yang kehabisan kata-kata puitis saja. Dulu ada teman sekost yang kalau sakit gigi matanya merah dan jadi sensitif mudah marah. Ada yang salah sedikit saja langsung methentheng (naik darah). Dalam hati saya pun meremehkan, sakit gigi saja kayak korban banjir sedang menunggu bantuan yang tak kunjung tiba lalu dicabuti bulu hidungnya.

Sampai beberapa malam yang lalu, tiba-tiba gigi saya terasa cekut-cekut. Tan soyo dalu tan soyo cuekot-cuekot (semakin malam semakin menjadi-jadi). Maksud hati hendak pergi tidur agak sore, apa daya jam 10 masih mendengar lonceng jam. Jam 11, 12, sampai jam 1, 2 lalu 3 pun bunyi tanda waktu masih terdengar nyaring di telinga. Selama itu pula tidur berganti-ganti posisi tidak pernah pas. Di atas tempat tidur terlentang, tengkurap, serong ke kiri dan ke kanan, duduk, berdiri, bahkan dipakai jalan-jalan pun gigi kanan terasa semakin cuekot-cuekot menusuk keatas ke bagian kepala sebelah kanan. Kemudian pindah tidur ke karpet di lantai ruang tengah, masih juga tidak menemukan posisi yang pas.

Akhirnya ketemu posisi yang paling mendekati enak adalah menungging sambil mengerang ah..uh..ah..uh, karena kepala sebelah kanan seperti mau meledak. Kedengarannya saja ah..uh..ah..uh.., tapi sungguh ini mengerang yang paling tidak enak. Enggak ketulungan sakitnya. Tanpa terasa air mata pun keluar, sangking suuuakitnya. Saya tidak sedang mendramatisir kalau saya katakan bunyi tanda waktu seperti lonceng kematian, apakah saya masih bisa bertahan melewati malam panjang dengan menanggung rasa sakit yang sangat luar biasa itu hingga esok hari. Tanda waktu jam 4 pun akhirnya tidak kedengaran lagi. Bukan karena rasa sakitnya mereda melainkan karena sangking ngantuknya hingga tertidur dalam posisi nungging.

Bak sebuah pentas seni, sebuah resital tari tanpa musik, berlangsung non-stop selama beberapa jam, di kegelapan malam saat anggota keluarga yang lain tertidur lelap. Tahu saya mengeluh sakit gigi, istri saya menyarankan untuk meminum tablet ponstan penghilang rasa sakit yang kebetulan masih ada tersisa. Nasehat itupun saya turuti. Tapi nampaknya tidak membawa hasil dan gigi yang cekut-cekut tak kunjung mereda. Istri saya juga menyarankan untuk berkumur-kumur dengan air hangat dicampur garam. Nasehat yang ini tidak saya penuhi. Bukan karena tidak percaya, melainkan karena saya sudah tidak sanggup lagi mengerjakan pekerjaan lain selain gulung koming, mlungker-mlungker, menahan rasa sakit. Malah jadi kepingin marah saja, bukannya membantu membuatkannya malah perintah-perintah di saat rasa sakit sedang memuncak.

Itulah pengalaman pertama saya mengalami sakit gigi. Seumur-umur belum pernah saya merasakan sakit gigi, apalagi seperti yang saya alami malam itu. Sekarang saya tidak percaya kalau ada lagu ndang-ndut melantunkan lagu lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Orang yang mengarang lagu itu pasti benar-benar ngarang dan belum pernah sakit gigi. Kalau orang sakit hati masih bisa melamun, masih bisa bermain dengan perasaan melankolisnya, masih bisa curhat, masih bisa mencari penasehat spiritual, sementok-mentoknya masih bisa bersujud kepada Sang Pencipta agar hati dan jiwa jadi adem dan tenang.

Tapi coba sakit gigi, rasain sendiri lu…..!. Semakin melamun semakin cekut-cekut. Boro-boro curhat atau cari penasehat spiritual, bisa-bisa malah berantem dengan yang dicurhati atau penasehatnya. Saya baru benar-benar paham, kenapa teman sekost saya dulu kalau sakit gigi menjadi sensitif, mudah tersinggung dan gampang marah. Tersenyum lewat di depannya pun bisa dikira ngeledek. Kurang tepat memilih kata dalam bertegur sapa pun bisa ditanggapi negatif. Bahkan ada kucing meang-meong pun bisa kena gampar.

Pendeknya, paling aman adalah menghindari berinteraksi dengan orang yang lagi sakit gigi. Sebaliknya kalau kita sedang sakit gigi lebih bijaksana kalau kita mengisolasi diri dari berinteraksi dengan orang lain. Dijamin bahwa kita tidak akan mampu mengendalikan diri ketika melihat, merasakan, mendengar atau mengalami sesuatu yang biasanya biasa-biasa saja, tiba-tiba menjadi sesuatu yang memancing emosi.  

***

Esok paginya rasa sakit memang mulai agak mereda. Saya coba menceritakan apa yang baru saya alami tadi malam kepada beberapa rekan lain, dengan harapan ada yang bisa memberi solusi yang mujarab. Sampai kemudian ada yang menyarankan agar sedia minyak cengkeh. Mudah diperoleh di toko obat atau apotik, harganya sangat murah tapi dijamin mengatasi rasa sakit ketika gigi sedang cekut-cekut   

Tanpa pikir panjang, sore harinya saya suruhan saudara untuk membeli minyak cengkeh di apotik terdekat. Diperolehlah minyak cengkeh cap Gajah (sebuah merek yang sama sekali tidak komersial, tapi yang penting khasiatnya) buatan PT USFI Surabaya, dalam botolan kecil warna hijau bentuknya jelek isi 10 ml, dan harganya cuma seribu perak. Menilik komposisinya 100% minyak cengkeh. Indikasinya mengobati sakit gigi (jadi memang sengaja minyak itu dijual untuk mengobati sakit gigi). Cara pakainya (saya kutip sesuai aslinya) : Kapas dibasahi dengan obat ini dan dimasukkan ke dalam lubang gigi yang sakit. Naluri bakul spontan bertanya-tanya, ini komoditas penting dan sebenarnya sangat dibutuhkan orang, tapi kenapa tidak pernah dipromosikan. Juga memberi ide bagi toko saya “Madurejo Swalayan” untuk menyediakan produk ini.

Ketika malam tiba, saya pun mulai was-was. Jangan-jangan akan terulang lagi pentas seni seperti tadi malam. Tapi kali ini saya merasa lebih siap menghadapi sliding tackle di depan gawang, berkat tersedianya minyak cengkeh cap Gajah. Benar juga, prolog pentas seni mulai terasa agak cekut-cekut tanda-tandanya. Bedanya kali ini saya menghadapinya dengan agak senyum-senyum sombong. Segera ambil sedikit kapas, dibasahi dengan minyak cengkeh lalu tempelkan di sekitar gigi dan gusi yang sakit di dalam mulut, sebab menentukan posisi mana gigi yang lubang juga rada sulit. 

Aneh bin ajaib. Rasa sakit mereda spontan tanpa ponstan. Hanya perlu agak dijaga agar jangan kebanyakan menuangkan minyaknya ke kapas. Sebab kelebihan minyaknya kalau sampai tertelan menimbulkan rasa tidak enak di tenggorokan. Meskipun kalau sampai hal itu terjadi pun sebenarnya masih dalam kategori tidak ada apa-apanya dibandingkan kalau rasa cekut-cekut datang menyerang. 

Kini, sisa minyak cengkeh yang masih ada dalam botol kecil jelek saya simpan dan saya jaga dengan baik. Jangan sampai terjadi, pas sakit gigi menyerang, minyak cengkeh terselip entah kemana, sementara di toko obat atau apotik sedang kehabisan persediaan. Benar-benar cilaka dua-belas namanya…..! Pokoknya pengalaman berpentas seni sendirian di tengah malam ini harus menjadi pengalaman pertama dan (mudah-mudahan ) terakhir. Seorang teman yang merekomendasikan saya membeli minyak cengkeh ini malah kemana-mana botol kecil jelek itu selalu dibawanya serta.

Ngayogyokarto Hadiningrat – 12 Maret 2006
Yusuf Iskandar