Posts Tagged ‘pondok buyung’

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(12).  Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney

Hari ini, Sabtu, 11 Agustus 2001, saya meninggalkan kota Parkes dengan menggunakan pesawat Hazelton jurusan Sydney. Sebelum ke bandara saya menyempatkan untuk jalan-jalan sebentar di Jalan Clarinda, Parkes. Keluar-masuk toko melihat dan mencari kalau-kalau ada yang menarik untuk dibeli.

Di toko buku “Bookcase” saya menemukan sebuah buku kecil yang berisi kumpulan humor untuk anak-anak. Judulnya “What A Laugh”, harganya A$12.95 (sekitar Rp 60.000,-). Saya pikir ini pasti cocok buat oleh-oleh anak perempuan saya yang berumur 9,5 tahun. Keluar dari toko buku saya segera meluncur ke bandara yang berjarak sekitar 5 km di luar kota Parkes.

Bandara kecil ini rupanya tidak menerapkan prosedur pengamanan yang rumit. Tidak ada security check dan juga tidak ada pemeriksaan sinar-X. Cukup dengan menukar karcis pesawat dengan boarding pass, lalu tinggal menunggu panggilan untuk naik pesawat. Sederhana, seperti naik bis atau kereta api saja. Di ruang tunggu bandara disediakan minuman kopi, teh atau air putih. Tinggal membuatnya sendiri kalau menginginkannya.

Sekitar jam 10:45, bersama 10 orang penumpang lainnya, pesawat kecil tipe Metro 23 berkapasitas 19 orang segera terbang. Pesawat ini sempat mampir berhenti 15 menit di kota Bathurst untuk narik penumpang tambahan. Akhirnya sekitar jam 12:15 siang tengah hari saya sudah berada di terminal domestik bandar udara Sydney. Untuk menuju ke terminal internasional ternyata mesti naik shuttle bus dengan biaya A$3.00. Tidak sebagaimana waktu datang dua minggu yll, di terminal internasional terdapat counter untuk penerbangan domestik sehingga mereka menyediakan angkutan gratis antar terminal.

***

Di Sydney saya harus menunggu cukup lama pesawat lanjutan untuk menyeberang ke Denpasar. Saya punya waktu hampir enam jam. Lalu mau ngapain?

Semula saya merencanakan untuk jalan-jalan ke pusat kota Sydney. Buku panduan wisata Sydney sudah saya buka-buka. Mau ke jembatan Harbour Bridge, gedung Opera House atau pelabuhan Darling Harbour, saya sudah pernah ke sana tahun lalu. Waktu itu saya ditemani oleh Mas Yusram Rantesalu, seorang alumni Jurusan Tambang yang sedang mengambil S2 di University of New South Wales (kini saya kehilangan jejaknya, beliau ada di mana). Tentang perjalanan saya ke Sydney ini malah saya belum sempat menuliskan catatan perjalanannya keburu catatan kecil saya ketlingsut (terselip).

Mau jalan-jalan ke pantai Bondi yang terkenal itu, atau ke Kings Cross tempat ngumpulnya kaum gay dan lesbian serta jenis-jenis entertainment yang sewarna dengan itu, pasti cuacanya sedang panas sekali. Dan lagi, kalau siang tengah hari begini terus apanya yang bisa dinikmati, selain keramaian berseliwerannya orang dan keluar-masuk toko saja.

Sempat saya putuskan untuk jalan-jalan ke Royal Botanic Garden yang terletak di seberang gedung Opera House, dengan harapan akan menikmati udara segar di sebuah taman di saat siang yang cukup panas. Padahal Sydney sedang musim dingin, suhu udara sekitar 22 derajat Celcius, tapi panasnya cukup menyengat di kulit.

Saya lalu menuju ke stasiun kereta api bawah tanah yang ada di bandara. Ternyata stasiunnya tutup. Tidak ada kereta yang akan lewat untuk hari itu. Entah rusak, libur, dalam perbaikan, atau entah kenapa saya tidak tahu. Lalu saya pindah ke terminal bis yang akan menuju ke kota. Eh, lha ditunggu-tunggu bis yang jurusan kota kok tidak datang-datang. Tiba-tiba saya ingat, bahwa saya belum makan siang. Lalu semakin ingat lagi bahwa di Sydney ada rumah makan Padang.

Ini dia! Saya lalu pindah menuju ke pangkalan taksi dan segera minta diantarkan ke bilangan Kensington menuju ke rumah makan “Pondok Buyung”. Serta-merta nasi putih, gulai otak, gulai nangka muda dan ikan asin segera terhidang, dan segera pula terlahap habis.

Di Sydney memang ada cukup banyak restoran Indonesia. Tapi bagi saya, yang satu ini lebih bersuasana Indoensia, mengingat untuk pesan makanan saya tinggal langsung menuju ke deretan menu yang berjajar di meja yang diatapi kaca (seperti rumah makan Padang di Indonesia), lalu tinggal tunjuk mau makan apa. “Paket standard” ala mahasiswa kost, nasi putih plus tiga macam lauk harganya A$6,50.

Rumah makan “Pondok Buyung” yang beralamat di 124 Anzac Parade, Kensington, ini saya kenal setahun yll. ketika saya sempat berkunjung ke Sydney. Pemiliknya seorang haji bernama H. Peter Syarief yang sudah belasan tahun merantau. Waktu itu sewaktu saya makan malah ditemani oleh Wak Haji Syarief yang kemudian “menuduh” saya sebagai wartawan karena sambil makan saya terus ngajak omong dan tanya ini-itu. Sayangnya siang tadi Wak haji sedang pulang istirahat di rumahnya.

Dengan makan siang di “Pondok Buyung” ini saya jadi merasa diuntungkan. Pasalnya saya sekalian bisa numpang sholat di sebuah ruangan yang berada di bagian belakang warungnya yang memang disediakan untuk itu. Hal yang sama juga saya lakukan ketika saya makan di situ tahun lalu.

***

Menjelang jam 4:00 sore saya sudah kembali berada di bandara Sydney. Bandara ini rupanya dilengkapi dengan fasilitas gratis untuk mengakses internet. Lumayan, saya lalu menyempatkan diri untuk membuka-buka email. Setelah itu saya baru check-in.

Sebentar lagi saya akan meninggalkan negeri kanguru, Australia. Ini adalah negara yang saya merasa “tidak perlu” untuk mengingat nama kalau ketemu Aussie (sebutan untuk orang Australia).

Lho? Ya, karena semua orang Australia mempunyai nama panggilan sama, yaitu “Mike”. Di manapun jangan kaget kalau Anda dipanggil “Mike”, meskipun nama Anda Bejo atau Muhammad atau Vincent atau Bonar. Atau sebaliknya, tanpa perlu tahu namanya, panggil saja dia dengan “Mike”, pasti tidak keliru. Tentu saja ini berlaku untuk suasana yang tidak formal.

Jam 06:00 sore pesawat akan tinggal landas dari bandara Sydney dan menyeberang ke Denpasar. Tiba di Denpasar menjelang tengah malam, nginap semalam, lalu selanjutnya Insya Allah hari Minggu pagi sudah tiba di Yogya berkumpul kembali dengan anak-anak dan ibunya di sana.

Akhirnya, terima kasih dan wassalam.

Sydney, 11 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Iklan