Posts Tagged ‘phoenix’

Pemilu Amerika 2000 : Para Kandidat Presiden Amerika

7 November 2008

Tadi malam, setiba saya di rumah dari perjalanan ke Phoenix, Arizona, saya sempat melihat di TV, meski terlambat, siaran langsung hari terakhir dari Konvensi Nasional Partai Demokrat. Kandidat presiden Al Gore (yang saat ini adalah Wakilnya Bill Clinton) telah menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat presiden Amerika ke 43 yang akan memulai masa jabatannya awal tahun 2001 nanti. Sehari sebelumnya, Joe Lieberman juga melakukan hal yang sama untuk kandidat wakil presiden dari Partai Demokrat.

Konvensi nasional ini adalah puncak dari tahap pemilihan kandidat presiden dan wakil presiden dari masing-masing partai. Kali ini Partai Demokrat menggelar Konvensi Nasionalnya di gedung Staple Center, Los Angeles, California, di sisi barat dataran Amerika, selama tanggal 11 – 17 Agustus2000.

Seperti sudah diduga sebelumnya, pidato semacam ini sekaligus sebagai ajang kampanye dan penggalangan massa, banyak berisi kata-kata manis dan program-program indah. Dari komentar-komentar yang disampaikan via tilpun ke CNN oleh warga Amerika secara langsung seusai Konvensi malam itu juga, dapat disimak bagaimana warga Amerika mengekspresikannya. Ada yang memujinya sebagai “pidato terbaik yang pernah didengar”, ada yang spontan mengatakan “sebagai simpatisan Partai Republik saya akan beralih memilih Al Gore”, sebaliknya ada pula yang dengan sinis mengatakan : “janji, janji dan janji”. Ternyata pada dasarnya ya sami mawon (sama saja) dengan pidato kampanye di Indonesia.

Dua minggu sebelumnya (tanggal 2 Agustus 2000) ketika saya baru saja tiba di kota Phoneix, lalu menyetel TV di hotel, Dick Cheney sedang menyampaikan pidato penerimaannya untuk dicalonkan sebagai kandidat wakil presiden dari Partai Republik. Esok harinya, giliran George W. Bush (yang saat ini adalah Gubernur negara bagian Texas, dan anak dari George Bush mantan presiden Amerika ke 41), menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat presiden juga dari Partai Republik. Konvensi nasional Partai Republik sendiri sudah diselenggarakan di gedung First Union Center, Philadelphia, Pensylvania, di sisi timur dataran Amerika, pada tanggal 28 Juli hingga 3 Agustus 2000 yang lalu.

Kedua agenda politik Amerika itu memang telah disiarkan melalui media cetak maupun elektronik secara besar-besaran. Setiap harinya stasiun-stasiun TV seperti berlomba menyiarkannya secara langsung dari arena Konvensi, disertai dengan berbagai komentar, analisis, tanya-jawab, peristiwa-peristiwa terkait, dan sampai digunakannya media chatting di internet yang bisa diikuti oleh siapa saja.

Tanpa publikasi yang seheboh Konvensi Partai Republik dan Demokrat, ternyata Partai Reformasi juga menyelenggarakan Konvensi Nasionalnya di kota Long Beach, California, pada tanggal 10-13 Agustus 2000, dengan kandidat presidennya Pattrick J. Buchanan. Ini adalah bagian dari kegiatan partai penggembira yang selalu muncul menyisip sebagai partai independen, selain ada juga Partai Hijau, Partai Sosialis, Partai Konstitusi, Partai Hukum Alam, dan Partai Libertarian. Mereka adalah sekelompok partai gurem yang keberadaannya tidak diabaikan, sekalipun tidak pernah memperoleh jumlah suara yang meyakinkan.

***

Konvensi Nasional semacam ini memang menjadi semacam seremoni formalitas bagi partai-partai untuk mengumumkan kandidatnya masing-masing, baik bagi presiden maupun wakil presiden pasangannya. Selanjutnya, para kandidat ini akan bersafari ke segenap pelosok negeri untuk berkampanye menggalang suara bagi kemenangannya.

Sejauh ini dari hasil berbagai jajak pendapat, George Bush nampaknya masih lebih unggul dibandingkan Al Gore. George Bush diuntungkan dengan adanya dukungan dari sebagian besar gubernur negara bagian yang berasal dari partai yang sama, yaitu para Republikan. Namun masih banyak kemungkinan dapat terjadi, tergantung keberhasilan mereka berkampanye, menjual program, dan terutama menarik simpati dari pendukung tradisional partai lawan agar beralih mendukungnya, dan hal semacam ini sudah jamak terjadi.

Pacuan kandidat presiden dan wakil presiden akan terus berlangsung, hingga hasil akhirnya baru akan diketahui pada tanggal 7 Nopember nanti saat rakyat Amerika menuju ke TPS-TPS (sengaja tidak saya katakan berduyun-duyun, karena kabarnya urusan coblos-menyoblos ini di Amerika tidak segegap-gempita di Indonesia). Saat itu rakyat Amerika akan memencet tombol mesin pemungut suara, dan lalu menunggu hasil perhitungannya secara nasional. Kita lihat saja nanti, siapakah yang akan memimpin negara adikuasa mulai tahun 2001 nanti.

New Orleans, 18 Agustus 2000
Yusuf Iskandar

Iklan

Nenek-nenek Amerika

2 Maret 2008

Minggu yang lalu saya melakukan perjalanan ke kota Phoenix (ibukota negara bagian Arizona). Wilayah Arizona ini berada di sebelah selatan agak ke barat daratan Amerika dan di sebelah selatannya berbatasan dengan negara Mexico. Perjalanannya sendiri sebenarnya hal yang biasa-biasa saja, dalam arti saya berangkat dan pulang naik pesawat, siang hari kerja dan malam tidur di hotel. Namun justru dalam hal yang biasa itu saya menjumpai dan mengalami beberapa kejadian menarik yang berkaitan dengan perilaku dan pola hidup nenek-nenek Amerika.

Seperti biasanya ketika hendak berangkat menuju bandara saya menilpun taksi. Pagi itu, Rabu, 7 Juni 2000, ternyata taksi yang menjemput saya disopiri oleh seorang wanita, yang lebih tepat saya sebut seorang nenek. Meskipun saya lupa menanyakan umurnya, tapi dia mengaku mempunyai dua orang anak sebaya saya dan mempunyai dua orang cucu yang sebaya anak saya. Maka saya taksir usianya sekitar 60-an. Tapi jangan heran, pagi itu dia masih mampu melaju dengan cermat pada kecepatan lebih 50 mil/jam (lebih 80 km/jam), malah memberi bonus dengan dua kali menyerobot lampu kuning yang sudah menjelang merah, saat melalui perempatan jalan.

Tahun ini adalah tahun ke-13 dia menyopiri taksi miliknya sendiri. Dia bergabung dengan perusahaan jasa angkutan yang bertindak sebagai dispatcher (pengatur perjalanan) dengan membayar sejumlah biaya per bulannya. Dia mengaku menarik taksi hanya pada siang hari dari Senin hingga Jum’at saja. Selebihnya hari Sabtu dan Minggu adalah hari-hari milik cucu-cucunya dan milik hari tuanya sendiri (yang menurut pikiran saya malah sebenarnya jadi tidak punya hari tua). Apa yang membanggakannya? Dia merasa menjadi juragan bagi usahanya sendiri, berkehidupan mandiri tanpa bergantung pada orang lain.

Ketika transit di bandara internasional Houston (Texas), karena menunggu pesawat lanjutan yang masih cukup lama, saya duduk-duduk di kafe menghadap ke lorong di dalam bandara sambil makan pizza sebagai makan siang. Di depan saya lewat seorang ibu agak gemuk yang juga lebih tepat saya sebut nenek kalau melihat raut muka dan penampilannya. Sambil berjalan lambat dia mendorong trolly atau kereta dorong untuk barang bawaan menuju ke ruang tunggu.

Entah kenapa, barangkali menyusun barangnya kurang rapi, sebuah tasnya yang ternyata belum rapat ditutup tiba-tiba merosot ke belakang dan jatuh tepat di depan langkah kakinya. Hal yang tiba-tiba ini tentu saja membuat sang nenek lambat untuk bereaksi menghindar, dan diapun tersandung tasnya sendiri yang lalu berantakan. Gerak refleksnya membuat dia lalu berpegang erat pada kereta dorongnya, yang kemudian berakibat keretanya mendongak ke atas karena terbebani di bagian belakangnya. Akhirnya kereta dorong itu rubuh bersama-sama dengan badan gemuk sang nenek yang masih memeganginya. Minuman coke-nya pun tumpah bersama es batu yang menyebar di lantai berkarpet.

Tidak ada orang lain yang berada lebih dekat dari saya saat itu, maka spontan saya hampiri sang nenek, saya bantu merapikan barang bawaannya, sambil tidak lupa mengajukan pertanyaan “standard” : “Are you OK?”. Setelah yakin sang nenek memang OK punya, sayapun kembali ke tempat duduk saya di kafe. Sang nenek kemudian berjalan menepi membuang gelas kertas tempat coke-nya yang sudah kosong itu ke tempat sampah, sambil kedua tangannya memegangi pinggangnya. Kemudian dia mendorong keretanya pelan dan menjauh. Barangkali mau mencari tempat duduk yang agak longgar agar bisa beristirahat sambil mengelus-elus boyoknya (pinggangnya) yang sakit, pikir saya.

Sampai di sini saya menduga episode nenek jatuh sudah selesai. Ternyata dugaan saya keliru. Sesaat kemudian nenek itu kembali lagi dengan membawa benda warna jingga berbentuk corongan plastik, persis sama seperti yang biasa dipergunakan oleh pekerja yang sedang memperbaiki jalan raya atau yang dipakai Pak Polisi untuk mengalihkan lajur jalan. Corongan itu lalu diletakkannya di depan tempat tumpahan minumannya tadi. Saya hanya bisa berkesimpulan, rupanya sekalipun sang nenek sudah kepayahan akibat jatuh tadi, dia masih sempat berupaya agar orang lain tidak terganggu oleh bekas tumpahan es batu yang berserakan di lantai yang basah oleh coke-nya itu.

***

Agak lama saya menunggu pesawat lanjutan menuju Phoenix, yang nantinya ternyata memang batal terbang, saya pindah duduk di dekat dinding kaca yang menghadap ke landas pacu pesawat. Di depan sebelah kanan saya ada seorang nenek duduk bersama dengan cucu perempuannya yang agak cerewet khas anak-anak. Terjadi dialog antara mereka berdua yang membuat saya tersenyum dalam hati.

Sang cucu rupanya mengajak main tebak-tebakan dengan neneknya. Bandar udara Houston memang cukup ramai lalu lintas penerbangannya, sehingga setiap kali ada pesawat lewat dan tampak di depannya, sang cucu berkata : “Pesawat itu mau naik”. Sang nenek yang lagi asyik merenda benang yang agaknya memang sengaja dibawa dari rumah, lalu menengok ke depan dan menjawab : “Bukan, itu baru saja mendarat dan mau berhenti menurunkan penumpangnya”.

Ada lagi pesawat lewat, sang cucu berkata lagi :
“Nah, itu juga mau terbang”.
“Itu juga mau berhenti”, kata neneknya membenarkan omongan sang cucu.

Ada lagi pesawat lewat :
“Nah, itu mau berhenti”, kata sang cucu.
“Kalau yang itu mau terbang”, kata sang nenek sambil menolehkan kepalanya ke depan lagi.

Ada lagi pesawat lewat :
“Itu berangkat lagi”, kata sang cucu.
“Itu mau berhenti”, kata sang nenek.
“Itu ada lagi”, kata cucunya lagi. Rupanya lama-lama sang nenek yang lagi asyik merenda benang merasa kesal juga dengan laku cerewet sang cucu. Lalu dengan cuek sang nenekpun nyeletuk yang kira-kira begini : “Embuh, ah…..”.

Sesayang-sayangnya seorang nenek terhadap cucunya, suatu saat ternyata bisa juga dia kehilangan kesabarannya, saat dia sendiri sedang asyik dengan kesukaannya. Manusiawi sekali.

***

Dalam perjalanan saya kembali ke New Orleans sembilan hari kemudian, Jum’at, 16 Juni 2000, lagi-lagi pesawat dari Phoenix dibatalkan, sehingga rute penerbangan saya dialihkan dari semestinya transit di Houston (Texas) menjadi transit via Denver (Colorado).

Di bandara Denver, sambil menunggu pesawat sambungan menuju New Orleans, saat itu sekitar jam 7:00 malam, saya mampir ke sebuah kafe untuk mencari sekedar pengganti makan malam. Ketika antri di depan kasir, di depan saya ada seorang nenek. Kali ini benar-benar seorang nenek kalau melihat raut mukanya yang sudah keriput dan berjalannya yang thunuk-thunuk (sangat pelan dengan badan agak membungkuk), kira-kira kalau berjalan dengan langkah saya satu banding tiga. Pendengarannyapun sudah berkurang, terbukti kasir kafe dicuekin saja ketika mengajak bicara saat membayar.

Setelah memperoleh apa yang dipesannya, dengan santai diapun berdiri menambahkan gula dan creamer ke dalam kopinya (memang sudah biasanya hanya akan diberikan kopi tanpa gula kalau kita pesan kopi). Sang nenek lalu berdiri di pojok menikmati makanannya. Kebetulan saat itu kafe sedang penuh orang-orang muda yang sambil makan menyaksikan siaran langsung di layar TV lebar final kejuaraan basket NBA putaran kelima antara Pacers (Indiana) melawan Lakers (Los Angeles), yang akhirnya dimenangi oleh Pacers dengan skor 120-87 dan membuka peluangnya untuk menyelesaikan the best-seven.

Barangkali inilah cermin kemandirian (dan individualis?) manusia Amerika. Tanpa perduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda, setiap orang dianggap mesti mandiri dengan keberadaannya. Maka yang lalu terjadi adalah, seorang nenek setua itu masih sanggup bepergian seorang diri (meskipun naik pesawat) dan makan sambil berdiri di pojok kafe yang penuh orang, sementara puluhan orang muda tanpa perlu merasa sungkan atau tidak sopan bersorak di tempat duduknya di sebelah sang nenek ketika seorang pemain Lakers berhasil membuat nilai.

Malam harinya, di dalam pesawat menuju New Orleans, di samping kiri saya duduk seorang nenek dan di sampingnya lagi duduk seorang ibu yang kira-kira berusia sedikit di atas saya yang ternyata adalah anak dari nenek di sebelah saya. Sejak duduk di pesawat nenek tadi mulai membuka-buka majalah wanita (saya lupa memperhatikan nama majalahnya), hingga seperempat perjalanan sang nenek ini asyik saja membaca. Hingga saya tertidur dia masih membaca.

Saat saya terbangun dia juga masih saja membaca. Kelihatannya sang nenek di sebelah saya ini punya kebiasaan yang bagi saya tidak umumnya dilakukan oleh seorang nenek ketika sedang dalam perjalanan, yaitu membaca dan membaca. Saya jadi ingat, boro-boro membaca, nenek saya di kampung sana pasti memilih tidur kalau sedang dalam perjalanan, atau (katakanlah) sedang menghabiskan waktu.

Ketika tiba di New Orleans tengah malam, sang nenek sempat nyeletuk kepada saya “Tadi enak sekali tidurnya”. Saya paham itu pertanyaan basa-basi, lalu sayapun menjawab juga sebagai basa-basi :”Iya, terima kasih”. Entah kata-katanya itu pujian atau sindiran (karena malam itu memang saya merasa sangat capek hingga tertidur lelap), saya tetap perlu berterima kasih sebagai basa-basi gaya Amerika.

***

Ada tingkah laku, pola hidup dan kebiasaan yang bagi saya berbeda dari yang biasanya saya jumpai dengan nenek-nenek di kampung saya di Jawa sana. Barangkali saja semua peristiwa yang saya jumpai dan alami tadi adalah kebetulan belaka, atau tidak berlaku umum bagi setiap nenek di Amerika. Akan tetapi, paling tidak saya telah menemukan kesan bahwa ada kebiasaan (yang tentunya tumbuh akibat didikan sejak kecil) dalam diri nenek-nenek itu yang bernilai positif : mandiri dan percaya diri. Nilai-nilai itulah yang justru seringkali membuat kita terpuruk di belantara pergaulan masyarakat global.

Barangkali kesan saya keliru, tapi yang jelas saya merasa senang dan terhibur bisa belajar dari melihat perilaku dan pola hidup nenek-nenek Amerika.-

New Orleans, 20 Juni 2000.-
Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

5 Februari 2008

Pengantar :      

Tanggal 2 sampai 17 Agustus 2000 yang lalu saya melakukan perjalanan dinas ke kota Phoenix, ibukota negara bagian Arizona. Di sela-sela hari kerja di saat akhir pekan, saya menyempatkan untuk jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat menarik. Berikut ini catatan perjalanan saya.-

(1).    Api Di Mana-mana
(2).    Kaktus Raksasa Di Gurun Sonoran
(3).    Dunia Kecil Biosphere 2
(4).    Wisata Tambang Di Kota Hantu
(5).    Legenda Tentang Lost Dutchman Mine
(6).    Menyusuri Rute Apache Trail
(7).    Peninggalan Budaya Indian Salado
(8).    Bukit-bukit Merah Di Sedona
(9).    Jerome, Kota Tambang Di Lereng Gunung
(10).  Taman Nasional Gila

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(1).   Api Di Mana-mana

Selasa sore sekitar jam 15:30, 2 Agustus 2000, saya tiba di bandara internasional Sky Harbor di kota Phoenix, ibukota negara bagian (state) Arizona. Cuaca demikian panas saat itu, suhu udara bergerak di seputar angka 105-108 derajad Fahrenheit (sekitar 41-42 derajad Celcius). Bagi beberapa daerah di sekitar kota Phoenix, musim panas terutama bulan Agustus sering dikatakan sebagai bulan paling buruk, yang berkonotasi sebagai hari-hari dimana suhu udara sangat panas dan kering.

Bahkan jika kita berada di tempat teduh sekalipun, masih sangat terasa sentuhan hawa panas yang tertiup angin. Wilayah Arizona umumnya memang mempunyai bentang alam tipikal gurun yang aslinya tentu miskin dengan jenis tumbuhan besar. Kalaupun sekarang di sana-sini dijumpai tumbuhan pelindung, itu karena hasil rekayasa pertanian.

Sejam kemudian, dengan menaiki taksi saya tiba di sebuah hotel di kota Tempe (baca : Tempi), yaitu sebuah wilayah yang berada di sisi tenggara Phoenix. Lokasi kota Tempe terhadap Phoenix barangkali dapat saya identikkan dengan kota Depok atau Bekasi terhadap Jakarta. Secara geografis nyaris seperti tidak terpisahkan, namun secara administratif adalah dua kota berbeda. Kedua wilayah ini, berada pada ketinggian sekitar 300-an meter di atas permukaan laut, dengan tingkat kepadatan penduduk “hanya” sekitar satu juta untuk Phoenix dan 150 ribu penduduk untuk Tempe.

Pertama kali yang saya lakukan setiba di kamar hotel yang dilengkapi dengan alat pengatur udara adalah menghempaskan diri di tempat tidur dan lalu membuka saluran TV. Ternyata di beberapa saluran TV sore itu ada acara khusus, yaitu siaran langsung Konvensi Nasional Partai Republik di Philadelphia dimana Dick Cheney akan menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat wakil presiden.

Pada saat yang sama juga ada siaran langsung pemadaman kebakaran yang sedang terjadi di Phoenix. Maka, jadilah yang tampak di layar TV adalah tayangan pidato kampanye dan pemadaman kebakaran secara bergantian. Terkadang layar terbagi dua untuk penayangan kedua siaran langsung tersebut secara bersamaan..

Kebakaran besar memang sedang terjadi di sebuah gudang di tengah kota Phoenix sejak beberapa jam sebelumnya, yang bahkan hingga malam hari api belum berhasil dipadamkan. Menarik juga menyaksikan siaran langsung kebakaran dan upaya pemadamannya yang gambarnya diambil dari berbagai sudut. Hingga tengah malam saat TV saya matikan, siaran langsung “acara kebakaran” masih belum selesai.

Di musim panas seperti ini, seperti halnya di Indonesia, kebakaran adalah ancaman bencana yang sangat ditakuti. Dan itulah yang hari-hari ini sedang melanda sebagian wilayah belahan barat Amerika, yaitu kebakaran hutan atau api-api liar yang tiba-tiba muncul di mana-mana. Bahkan kilat yang menyambar pun bisa menyebabkan kebakaran. Berita kebakaran hutan hampir setiap hari menghiasi berita TV dan koran.

***

Sebegitu parahkah kebakaran liar yang sedang melanda Amerika?

Informasi terakhir yang juga dilansir CNN, saat ini kebakaran terjadi di lebih 90 lokasi seluas tidak kurang dari 4,500 km2 menyebar di 11 negara bagian. Secara nasional tahun ini kebakaran liar telah terjadi di lebih 68.700 lokasi dan telah menghanguskan areal yang pada umumnya berupa hutan seluas hampir 22,000 km2. Tentu yang disebut hutan di sini berbeda dengan hutan musim hujan di daerah beriklim tropis seperti di Indonesia. Menurut data yang ada, bencana kebakaran liar tahun ini merupakan yang terparah selama 13 tahun terakhir.

Secara angka, luas wilayah yang terbakar “hanya” sekitar 0,2 % saja dari seluruh wilayah Amerika. Namun menjadi kepentingan semua pihak, kalau mengingat akan berakibat musnahnya berbagai biota hutan serta tumbuhan. Perlu waktu ratusan tahun untuk kembali ke keadaan seperti asalnya. Itupun kalau tidak keburu terbakar lagi. Maka tidak heran kalau semua petugas pemadam kebakaran hutan dikerahkan silih berganti. Bahkan batalyon tentara dan marinir pun diperbantukan, termasuk bala bantuan dari Australia dan Selandia Baru.

Untungnya, tidak banyak negeri jiran yang tinggal di dekat lokasi kebakaran, sehingga Amerika tidak bisa “membagi” asapnya sebagaimana asap Sumatra atau Kalimantan yang mampir ke negeri tetangga di utaranya. Negara terdekat terhadap lokasi kebakaran ini adalah Canada, dan asap api sudah mulai mendekat ke perbatasan. Namun Canada tidak “teriak-teriak”, barangkali juga maklum karena ternyata Canada pun juga sedang disibukkan dengan munculnya api-api liar yang membakar hutan mereka.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(2).   Kaktus Raksasa Di Gurun Sonoran

Berkendaraan ke arah selatan sejauh 117 mil (sekitar 187 km) dari kota Phoenix, saya akan mencapai kota Tucson. Namun sebelum tiba di Tucson, saya berbelok ke arah barat menuju ke Taman Nasional Saguaro (baca : Sahuaro). Saguaro adalah nama sejenis tanaman kaktus raksasa yang hanya hidup di bagian selatan Arizona, tenggara California dan utara Mexico. Ini adalah jenis tanaman kaktus yang bisa mencapai tinggi 9 – 12 meter, dan sedikit di antaranya bisa lebih dari 15 meter. Batangnya (kita sering salah kaprah menyebutnya sebagai batang) bisa seukuran batang pohon pisang kepok. Kaktus ini mampu hidup hingga lebih 200 tahun.

Demi melindungi kerusakan monumen alam yang hanya ada di daerah itu, tahun 1933 kaktus-kaktus raksasa tersebut, beserta dengan jenis kaktus lainnya, tanaman-tanaman gurun, serta binatang-binatang yang hidup di lingkungan itu, dilindungi melalui pengelolaan Taman Nasional Saguaro. Wilayah gurun tempat tumbuhnya kaktus-kaktus raksasa ini disebut dengan gurun Sonoran. Ini adalah salah satu daerah paling panas dan kering di daratan Amerika utara. Karena itu hanya jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang tertentu saja yang sanggup bertahan hidup (survive) di lingkungan ini.

Di daratan Amerika utara dikenal ada empat macam gurun, yaitu Great Basin, Mojave, Chihuahuan dan Sonoran. Taman Nasional Saguaro sendiri yang mencakupi wilayah gurun Sonoran ini terbagi menjadi dua, yaitu Saguaro Timur dan Barat yang masing-masing terpisah sejauh 48 km dengan kota Tucson berada di antaranya.

***

Hari Sabtu, 5 Agustus 2000, sekitar tengah hari saya tiba di lokasi Taman Nasional Saguaro Barat. Memang udara siang hari di musim panas seperti bulan Agustus ini terasa panas sekali. Di sepanjang jalan sekitar tempat ini, pemandangan alamnya didominasi dengan bukit-bukit kering dan kaktus-kaktus raksasa.

Setelah berhenti sejenak di ruang pusat pengunjung (visitor center) guna memperoleh berbagai informasi serta peta lokasi, saya melanjutkan perjalanan untuk masuk lebih jauh ke Taman Nasional Saguaro, dengan  mengelilingi rute wisata yang disebut “Scenic Bajada Loop Drive” sepanjang kira-kira 15 km. Di ruang pusat pengunjung ini seharusnya saya membayar biaya masuk US$4. Namun karena saya memiliki kartu keanggotaan Taman Nasional Amerika, maka saya tidak perlu membayar. Sebagai pemegang kartu National Parks Pass, saya dan keluarga bebas keluar masuk di sejumlah 379 taman nasional yang ada di Amerika selama setahun.

Untuk memiliki kartu National Parks Pass ini saya membayar US$50 dan berlaku satu tahun. Bagi saya ini lebih menguntungkan mengingat kesukaan saya untuk mengunjungi taman-taman nasional, dibanding kalau saya mesti setiap kali membayar sejumlah uang setiap akan masuk ke Taman Nasional. Alasan “idealis” lainnya adalah dengan membayar sekaligus untuk setahun, maka saya telah memberi kontribusi lebih kepada organisasi pengelola taman-taman nasional Amerika yang disebut National Park Foundation (NPF).

NPF ini adalah sebuah organisasi, semacam LSM, yang mengelola sejumlah taman-taman nasional di seluruh Amerika. Organisasi ini merupakan partner bagi lembaga resmi pemerintah National Park Sevice, dan berorientasi non-profit. Sumber dana mereka yang utama berasal dari sumbangan para donatur dan biaya uang masuk di hampir setiap taman nasional (karena ada juga taman nasional yang bebas uang masuk).

Dari uang masuk yang mereka kumpulkan, 80%-nya digunakan langsung untuk mengelola program-program utama taman nasional. Melihat bahwa dari taman-taman nasional yang pernah saya kunjungi secara fisik tampak tertangani dengan sangat baik, pasti mereka telah menerapkan sistem management yang bagus pula.

Ada dua hal yang saya pandang menarik : Pertama, bahwa siapapun mereka, untuk terlibat dalam lembaga ini tentu diperlukan rasa memiliki dan rasa peduli yang sangat tinggi terhadap kekayaan alam negerinya. Kedua, kepuasan dan kenyamanan para pengunjung untuk berwisata dan sekaligus memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru melalui cara-cara yang sangat informatif dan edukatif tetap mereka utamakan, dan bahkan mereka sangat peduli kalau ada pengunjung anak-anak yang suka tanya ini-itu.

Terus terang, sebagai orang yang datang jauh-jauh dari negara yang sedang berkembang terkadang saya merasa iri, bagaimana mereka “mau-maunya” terlibat dalam urusan yang secara kasat mata tidak menjanjikan imbalan yang menggiurkan.

Perlu juga rasanya saya catat, bahwa banyak di antara para petugas itu adalah orang-orang tua (kira-kira orang yang sudah usia pensiun) yang mengisi waktu tuanya dengan menjadi sukarelawan di lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi swadaya masyarakat, ya antara lain semacam NPF ini. NPF juga menerima para remaja yang ingin magang atau menjadi sukarelawan, juga para professional dari berbagai bidang termasuk dokter, pengacara, insinyur, dsb.

Bahkan mereka juga menerima anak-anak yang ingin mengisi waktu liburan mereka dengan berkegiatan di taman-taman nasional yang tentunya jenis kegiatannya disesuaikan dengan usia mereka. Pendeknya siapa saja yang berminat bergabung akan sangat dihargai. Adanya kebanggaan bagi setiap orang untuk bisa terlibat dalam kegiatan LSM semacam inilah yang menurut logika berpikir saya lalu menimbulkan pertanyaan : “Kenapa kita belum bisa?”.

***

Setelah menenggak setengah botol air mineral yang saya bawa untuk sekedar menawarkan haus di saat terik panas tengah hari, saya masuk ke rute jalur wisata “Scenic Bajada Loop Drive”. Beberapa ratus meter pertama jalanan cukup bagus karena beraspal, setelah itu saya melewati jalan tanah yang tentu saja berdebu. Berkendaraan dengan kecepatan sekitar 25-30 km/jam saya menyusuri perbukitan yang tampak kering dan tandus yang di sana-sini terhampar berbagai tanaman gurun, terutama kaktus saguaro dan jenis-jenis kaktus lainnya yang lebih kecil.

Di lokasi gurun Sonoran ini dikenal ada lebih dari 50 jenis kaktus-kaktus kecil dan pendek (meskipun di antaranya juga berbatang besar). Kaktus-kaktus raksasa saguaro yang sudah berusia ratusan tahun biasanya sudah tumbuh bercabang dua, tiga, empat atau terkadang banyak, sehingga dari kejauhan tampak seperti batang senjata trisula yang ditegakkan ke atas. Di gurun ini juga hidup binatang-binatang yang mampu menyesuaikan diri dan bertahan di lingkungan gurun, di antaranya jenis-jenis tikus, ular, tupai, kura-kura, javelinas (sejenis celeng), dsb.

Di antara kaktus-kaktus itu ada yang berlubang-lubang menjadi tempat persembunyian burung-burung kecil seperti : woodpecker, warblers, western kingbirds, burung hantu, dsb. Sekali waktu tampak berbunga dan muncul buah di ujungnya. Buah-buah kaktus ini oleh penduduk asli Amerika dulu (suku Indian) dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan bahan dasar pembuat minuman.

Usai mengelilingi bukit kecil yang diberi nama puncak Apache, akhirnya saya menyelesaikan rute mengelilingi sebagian kecil saja dari areal hutan kaktus raksasa. Bagi mereka yang mempunyai hobi hiking, juga tersedia rute untuk berjalan kaki masuk lebih jauh lagi ke areal Taman Nasional Saguaro. Tentu ada peraturan khusus yang harus mereka taati demi menjaga kelestarian flora dan fauna yang khas hanya ada di taman nasional ini.

Apakah ada yang nekad di saat musim panas seperti ini? Ternyata ada juga mereka yang mengisi liburan musim panas dengan hiking ke gurun Sonoran ini. Pasti mereka sudah sangat siap fisik, mental dan bekal, kalau mengingat bahwa suhu udara saat siang hari sangat panas dan kering, dan tanpa ada pohon pelindung di seluas taman nasional, kecuali kalau sekedar berlindung di balik kaktus.

Sekitar dua jam saya berada di daerah ini, lalu keluar dari areal taman nasional dan melaju ke arah selatan menuju kota Tucson.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(6).   Menyusuri Rute Apache Trail

Lewat tengah hari, masih di hari Minggu, 6 Agustus 2000, setelah kepanasan berjalan berputar-putar di kota hantu, saya melanjutkan perjalanan ke timur menyusuri rute Apache (baca : Epaci) Trail. Hingga sekitar 20 kilometer, jalan yang saya lalui berupa jalan aspal mulus sehingga bisa melaju dengan kecepatan sekitar 70-80 km/jam sampai saya mencapai lokasi danau Canyon.

Rute Apache Trail ini membentang dari barat melingkar ke utara lalu ke timur, menghubungkan kota Phoenix dan Globe sepanjang 78 mil (sekitar 125 km). Jalur jalan ini dibangun tahun 1905 sebagai sarana transportasi untuk pembangunan bendungan Roosevelt. Disebut Apache Trail karena rute jalan ini dibangun sejajar dengan rute kuno suku Apache yang melalui lembah-lembah Salt River yang umumnya berupa daerah gurun.

Ini adalah rute yang sudah populer bagi wisatawan karena memberikan pemandangan alam dan melewati kawasan-kawasan yang cukup menarik dan bervariasi di sepanjang rutenya. Antara lain melewati daerah-daerah gurun, pegunungan, jurang, tepian danau, peninggalan bangunan tempat tinggal di lereng pegunungan, bekas kota tambang, dan lembah-lembah yang tererosi. Yang namanya gurun di daerah ini tentu tidak sama dengan kenampakan gurun pasir yang kita kenal selama ini, meskipun sama-sama berupa bentang alam terbuka yang nampak kering dan gersang serta miskin pepohonan di seluas mata memandang. 

Ada empat danau besar di sekitar rute ini, yaitu danau Saguaro, Canyon, Apache dan Theodore Roosevelt. Keempat danau tersebut sebenarnya adalah danau buatan sebagai akibat dari dibangunnya bendungan untuk irigasi maupun pembangkit tenaga listrik. Keempat bendungan tersebut masing-masing bernama Stewart Mountain, Mormon Flat, Horse Mesa dan Theodore Rosevelt.

Adanya danau-danau tersebut setidak-tidaknya memberikan suasana lingkungan yang berbeda di tengah-tengah perbukitan tandus. Tempat itu menjadi banyak dikunjungi orang karena telah menjadi obyek wisata air. Secara umum danau-danau tersebut berbentuk memanjang mengikuti aliran Salt River.

***

Danau Saguaro dengan bendungan Stewart Mountain berada agak menyimpang ke utara, sehingga saya tidak sempat mendekatinya. Panjang danau ini sendiri sekitar 16 km berkelok-kelok dengan luas permukaan airnya sekitar 518 ha. Pembangunan bendungannya selesai pada tahun 1930 dengan tinggi sekitar 63 m dan lebar sekitar 384 m.

Baru ketika mencapai danau Canyon dengan bendungannya yang bernama Mormon Flat saya sempatkan untuk berhenti sejenak menikmati pemandangan alam danau dari tempat ketinggian. Rute jalannya memang berada di tempat lebih tinggi dari permukaan danau. Panjang danau ini juga sekitar 16 km dengan luas permukaan airnya hanya sekitar 380 ha. Bendungan ini selesai dibangun pada tahun 1925 dengan tinggi sekitar 68 m dan lebar 116 m. Di sepanjang penggal jalan ini tampak formasi-formasi batuan vulkanik yang berkenampakan menarik. Umumnya batuan-batuan ini terdiri dari abu vulkanis dan basalt yang terbentuk pada jaman Tersier sekitar 29 juta tahun yang lalu.

Beberapa kilometer setelah danau Canyon jalanan tidak lagi beraspal, melainkan jalan tanah bebatuan yang tentu saja sangat berdebu di musim panas seperti sekarang ini. Melewati penggal jalan tanah sepanjang sekitar 35 km hingga mencapai danau Roosevelt ini memang perlu lebih berhati-hati. Di beberapa bagian jalan ini sangat sempit dengan profil jalan yang menanjak serta menurun menyusuri tepat di lereng-lereng bukit terjal yang terkadang dinding batuannya tegak 90 dejadat, hingga kalau berpapasan dengan kendaraan lain salah satu mesti berhenti.

Masih di penggal jalan yang sama kira-kira di pertengahan rute sebelum tiba di danau Roosevelt, dari kejauhan tampak danau Apache yang berada di elevasi lebih rendah. Danau yang bentuknya memanjang sekitar 27 km ini mempunyai luas permukaan air sekitar 1.050 ha. Pertama kali air mulai mengisi lembah Salt River sebelum membentuk danau Apache terjadi pada tahun 1927 setelah selesainya pembangunan bendungan Horse Mesa yang tingginya sekitar 90 meter dan lebarnya sekitar 200 meter. 

Untuk mencapai pantai danau ini harus menuruni jalan yang cukup curam. Di pantai danau yang dikenal dengan sebutan Apache Lake Marina tersedia fasilitas restoran, penginapan dan penyewaan perahu motor bagi yang ingin memancing ke tengah danau atau hanya sekedar rekreasi. Di sekitar danau ini bisa dijumpai hutan tanaman pinus ponderosa.

Setelah melanjutkan perjalanan dengan hanya bisa melaju 30-40 km/jam melalui jalan tanah kering dan berdebu, kemudian saya tiba di bagian atas danau Roosevelt. Menyusuri pinggiran danau ini saya menyaksikan pemandangan danau yang cukup menarik dengan latar depan adalah bendungan Roosevelt dan jembatan jalan State Road (SR) 188 yang melintasi di pinggir danau. Ini adalah danau terbesar di antara keempat danau di sepanjang rute Apache Trail. Paling mudah dijangkau karena sudah tersedia jalan yang bagus dari arah utara maupun timur, serta mempunyai fasilitas wisata yang lengkap. Karena itu tempat ini setiap tahunnya didatangi oleh tidak kurang dari satu juta orang wisatawan.

Pertama kali danau ini terbentuk oleh pembangunan bendungan Roosevelt yang pekerjaan konstruksinya dimulai pada tanggal 6 September 1906 dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Theodore Roosevelt pada tanggal 10 Maret 1911. Pada tahun 1996 yll, bendungan ini dimodifikasi dan ditinggikan menjadi sekitar 109 m. Akibatnya bendungan ini menjadi tampak berstruktur lebih modern dan permukaan danau menjadi lebih luas bahkan terluas di wilayah Arizona.

Danau ini membentang arah tenggara – barat laut dengan panjang sekitar 40 km dan lebar 3,2 km. Luas permukaannnya tercatat pada saat air tinggi mencapai sekitar 7,690 ha (sekitar 77 km2). Area ini menjadi salah satu pilihan untuk tempat rekreasi karena memang tersedia sarana yang cocok untuk berkemah, melintas alam (hiking), berperahu, bersepeda gunung, dan tentu saja memancing dan olah raga air lainnya. Lomba mancing kelas dunia setiap tahun digelar di danau ini. Banyak wisatawan juga memilih danau ini untuk berski air, berlayar, berselancar angin, atau sekedar berenang.

Seorang teman kerja menyarankan untuk mencoba berenang di danau ini, katanya di musim panas seperti ini berenang atau berendam di danau Roosevelt akan terasa seperti berendam di bak kamar mandi yang hangat airnya. Tentu saja tidak saya penuhi sarannya itu, kecuali kalau saya tinggalnya di sekitar situ sehingga punya waktu yang longgar.

Bagi saya cukup kalau saya sempat datang, melihat dan pulang (vini-vidi-bali). Karena yang paling utama bagi saya adalah : sempat melihat sisi lain dari yang tampak terlihat, yang biasanya justru tidak dilihat oleh umumnya orang lain. Seringkali saya menemukan sesuatu yang menarik di sana, tersirat informasi dan pelajaran yang sangat berharga.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(8).       Bukit-bukit Merah Di Sedona

Hari Sabtu, 12 Agustus 2000, sekitar jam 10:30 pagi saya meninggalkan kota Tempe menuju ke arah utara melalui jalan bebas hambatan Interstate 17 yang menuju kota Flagstaff, sejauh kira-kira 225 km. Akan tetapi bukan Flagstaff tujuan saya, karena bulan April yang lalu saya sudah ke kota kecil yang berada di sebelah selatan Grand Canyon ini. Beberapa kilometer sebelum masuk kota Flagstaff saya berbelok ke barat lalu belok ke selatan lagi mengikuti jalan Highway 89A menuju kota Sedona.

Highway 89A ini dapat dikatakan letaknya sejajar dengan Interstate 17, dan saya sengaja menyurusi jalan ini balik ke selatan dari arah utara, karena dari sana saya akan melewati beberapa obyek wisata alam pegunungan yang menarik. Daerah ini memang mempunyai bentang alam yang sama sekali berbeda dibandingkan umumnya daerah Arizona yang berupa dataran gurun.

Daerah pegunungan di sini suasananya lebih hijau oleh banyaknya pepohonan, suhu udara juga lebih sejuk dibanding kota Phoenix dan kota-kota lainnya di selatan. Namun tetap saja gugusan bukit-bukit terjal dan tandus menyelip di antara perbukitan hijau. Justru gugusan bukit-bukit inilah yang ternyata memberi pemandangan indah yang khas karena warna batuannya yang kemerah-merahan dan bentuknya yang monumental sehingga sering menjadi simbul bagi kebanggaan masyarakat kota Sedona dan sekitarnya.

***

Rute Highway 89A dari Flagstaff menuju Sedona sepanjang 40 km ini dikenal sebagai salah satu jalur wisata paling indah di Amerika. Bukit-bukit yang merupakan formasi batuan gamping dan lempung merah menghiasi sepanjang perjalanan rute ini. Bukit-bukit merah berada di sebelah barat jalur jalan dua lajur dua arah yang berkelok-kelok mendaki dan menuruni lereng pegunungan. Di antara jalan dan bukit-bukit itu membentang lembah dan sungainya.

Para wisatawan yang datang menggunakan kendaraan menyusuri rute ini memang perlu ekstra hati-hati. Ya, karena dengan sendirinya perhatian akan terbagi antara menikmati pemandangan indah di sepanjang rute dan waspada terhadap kendaraan lain karena jalan yang berkelok dengan jurang di sebelahnya.

Tiba di Oak Creek Canyon, saya menyempatkan untuk berhenti sebentar. Sekedar menghirup hawa segar pegunungan dan menikmati pemandangan yang tidak biasanya saya jumpai di Arizona. Lembah Oak Creek membentang sepanjang 25 km dengan lebarnya ada yang mencapai 1.5 km, dengan dinding tebingnya berwarna putih, kuning dengan dominasi warna kemerah-merahan, dan di sela-selanya menyebar pepohonan pinus, cypress dan juniper.

Melanjutkan ke arah selatan, saya tiba di Slide Rock State Park. Masih di bilangan lembah Oak Creek, di dasar sungainya dijumpai bidang luncuran air sepanjang kira-kira 20 meter yang terbentuk oleh proses alam. Di musim panas seperti ini, tempat ini menjadi pilihan orang-orang tua, muda maupun anak-anak untuk bermandi dan berendam di sungai. Mereka memanfaatkan tempat ini untuk meluncur di air sungai di dasar lembah Oak Creek. Yang menarik dari obyek mandi sungai ini adalah air sungainya setiap hari dimonitor kualitasnya. Tempat ini pernah ditutup untuk umum gara-gara diketahui terkontaminasi oleh bakteri yang tidak diketahui dari mana asalnya. Untuk itu disediakan nomor tilpun khusus (hotline) yang bisa dihubungi setiap saat untuk mengetahui kondisi airnya.

Lebih ke selatan lagi sebelum mencapai kota Sedona, kali ini saya menjumpai pemandangan bukit merah yang beraneka bentuknya, di kejauhan sebelah-menyebelah jalan. Namun cuaca siang itu tiba-tiba hujan deras, padahal saya sedang berada di pinggir sungai di dekat jembatan, karena dari sini tampak lebih jelas pemandangan bukit-bukit merah yang menggunung di kejauhan sebelah timur dan barat jalan.

Ada anjungan atau lebih tepat semacam tempat terbuka yang dilengkapi pagar pengaman di sebelah kiri dan kanan jalan di pinggiran sungai. Tempat ini memang disediakan untuk para wisatawan agar dapat lebih leluasa melihat pemandangan. Rupanya antara kedua anjungan tersebut bersambungan melalui bawah jembatan. Sangat kebetulan tentunya, di bawah jembatan itulah saya bisa berteduh sementara menunggu hujan reda. Setelah agak lama menunggu ternyata hujan tidak juga mereda, akhirnya saya putuskan untuk berlari hujan-hujanan menuju ke tempat parkir, lalu melanjutkan perjalanan. Lumayan basah.

Di antara bentuk-bentuk bukit merah di daerah ini ada yang dikenal dengan nama Courthouse Rock, Bell Rock dan Cathedral Rock. Dua yang terakhir ini yang paling terkenal dan sering ditampilkan menghiasi kartu pos, kalender atau foto-foto promosi pariwisata.

Akhirnya saya sampai di kota Sedona, sebuah kota kecil tapi ramai oleh wisatawan. Satu hal yang paling membuat frustrasi sejak dari Oak Creek Canyon hingga masuk ke Sedona adalah mencari tempat parkir. Terbatasnya area terbuka di antara lajur jalan, lembah dan bukit-bukit, membuat lokasi parkir kendaraan sangat terbatas, termasuk di Sedona. Saat hari libur seperti hari ini, memperoleh tempat parkir menjadi tidak mudah. Sementara parkir di sembarang tempat di pinggir jalan tentu saja tidak diperbolehkan.

Seperti yang saya alami ketika hendak berhenti di Slide Rock, setelah memutar balik dan memutar lagi, baru akhirnya saya dapatkan lokasi agak lebar di pinggir jalan sehingga masih ada jarak aman antara kendaraan dengan badan jalan. Begitulah aturannya untuk bisa parkir di pinggir jalan, itupun di luar kota yang kondisinya memang tidak memungkinkan untuk parkir secara “normal”.

Kota Sedona sendiri berada pada ketinggian 1.340 m di atas permukaan laut dan dihuni oleh sekitar 7.700 jiwa. Menurut sejarahnya, nama Sedona diambil dari nama seorang wanita, istri dari Theodore Schnebly salah seorang dari sedikit keluarga yang pada tahun 1901 nekad memulai kehidupan di daerah yang waktu itu masih dianggap sangat terpencil adoh lor adoh kidul (jauh dari utara maupun selatan).

Mula-mula daerah itu mau diberi nama “Schnebly Station”, tapi rupanya oleh kantor pos terdekat masa itu dianggap terlalu panjang dan merepotkan penulisannya. Maka dicarikanlah nama yang lebih pendek, lalu diambillah nama “Sedona”. Pak Theodore ini belakangan diangkat menjadi kepala kantor post pertama di daerah itu.

Kini, Sedona menjadi kota yang cukup terkenal dan menjadi salah satu kota tujuan wisata setelah Grand Canyon. Setidak-tidaknya 4 juta wisatawan dari seluruh dunia datang ke tempat ini setiap tahunnya (saya jadi ingat, kita pernah mau mendatangkan 5 juta wisatawan asing ke Indonesia dalam setahun saja susahnya setengah mati).

Pemandangan alamnya yang khas dengan tonjolan bukit-bukit berwarna kemerah-merahan di sepanjang rute menuju Sedona dari arah utara telah mengundang para sutradara film layar lebar maupun televisi untuk merekam filmnya di sekitar daerah ini. Ternyata hal ini memang bisa menjadi promosi yang efektif bagi kota Sedona, sehingga makin dikenal oleh para wisatawan.

***

Dari kota Sedona, saya melanjutkan menuju ke selatan ke arah kota Jerome dan Prescott. Belum jauh meninggalkan pusat kota Sedona, saya berbelok ke timur. Ada jalan lingkar yang menuju ke Red Rock State Park. Taman Red Rock seluas 115 ha ini berupa dataran agak tinggi yang di tengahnya berdiri tegak bukit warna kemerahan sama seperti Oak Creek. Untuk masuk ke tempat ini saya mesti membayar US$5, karena ternyata taman ini tidak termasuk dalam kategori National Park, melainkan State Park yang dikelola secara lokal oleh Pemda setempat. Kali ini kartu pass saya tidak berlaku.

Tempat ini menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pelestarian lingkungan, sehingga daerah ini tertutup untuk kegiatan berkemah karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan flora maupun fauna yang ada. Kegiatan alam hanya di siang hari, dan para wisatawan pun diharuskan tetap melewati jalan setapak yang disediakan. Umumnya para wisatawan hanya akan berada di pinggir luar dari taman ini, dimana akan dijumpai aliran sungai yang jernih berbatu-batu dengan latar belakang menjulang tinggi bukit berwarna kemerahan.

Sebegitu ketatnya aturan ditegakkan jika memang dianggap perlu, demi kepentingan pelestarian ekosistem yang ada. Dan ternyata orang-orang (wisatawan maupun penduduk yang tinggal di daerah sekitarnya) sangat patuh dan menghargai aturan yang demikian ini. Satu lagi perasaan gumun (heran) muncul di pikiran saya. Ya, barangkali karena pembandingnya adalah “semangat tidak patuh dan tidak menghargai” yang selama ini sering saya jumpai di kampung saya yang jauh di katulistiwa sana.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar