Posts Tagged ‘perjalanan’

Kompas

25 Oktober 2010

Sebuah kompas, baru ada artinya justru ketika dia dibawa pergi oleh seorang pejalan atau pengembara. “Kompas harus selalu bepergian, dalam perjalanan yang kau tak tahu dimana akhirnya” (kata Helge kepada Svenja dalam film “Tsunami”).

Maka beruntunglah orang-orang yang memiliki kompas yang membimbing keselamatan perjalanannya, walau tetap tidak tahu kemana akhirnya.

Yogyakarta, 19 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Di Lintas Batas Setengah Abad Perjalanan

23 September 2010

Purnama tepat di atas kepala
tersaput awan tipis
namun tetap tak akan menghalangi sempurnanya
jutaan berkas cahaya memancar
cerah menerangi bumi

Sejenak kutundukkan hati dan pikiran
bersyukur atas setengah abad perjalanan
sungguh melelahkan
penuh suka dan duka
penuh duri menghalang
tapi juga kumudahan

Syukurku tak terkira
tapi juga khawatir tak terbendung
berharap penggal perjalanan berikutnya sanggup kujalani
menjadi lebih baik
menjadi lebih bermanfaat
menjadi tidak sia-sia

Setumpuk lembaran halaman telah penuh kugoresi
dengan tinta biru, hitam, merah
Tumpukan halaman kosong pun menanti
goresan demi goresan berikutnya
berharap tinta emas yang kuguna
apapun warnanya

Sesaat lagi kan kutinggalkan
setengah abad perjalanan ini
yang tak kan pernah kuulangi
tak juga pernah kuhampiri kembali

Mata harus lebih tajam menatap
hati harus lebih peka merasa
pikiran harus lebih arif menimbang
agar hikmah kehidupan tak berlalu tanpa makna
agar perjalanan selanjutnya lebih bijaksana

Purnama tepat di atas kepala
menjadi saksi atas usainya setengah abad perjalanan yang telah kujalani
juga menjadi saksi atas niat suci untuk memulai tahap perjalanan selanjutnya

Tuhan,
ingin rasanya aku mendaki
menuju ke puncak purnama
agar lebih terang kumemandang
mengamati kesalahan dan kebodohan yang kulakukan
agar lebih arif berintrospeksi
lalu turun lagi kebumi
bersama pancaran sang rembulan

Walau awan tipis menghalangi
namun tetap tak akan menghalangi sempurnanya
jutaan berkas cahaya memancar
cerah menerangi bumi

Tuhan,
terima kasihku atas nikmat yang telah Kau anugerahkan
walau sering aku tak pandai mensyukuri
walau sering aku seperti mengingkari
Namun ijinkan aku melanjutkan sujudku
beri aku kesempatan untuk membalas semua anugerahMu
mengagungkan asmaMu
mensyukuri nikmatMu
menghikmahi karyaMu

Agar aku tidak menjadi bodoh
atau menambah jumlah orang-orang yang sudah bodoh
yang dibodohkan oleh ketidakmauanku belajar dari ciptaanMu…
Agar aku tidak menjadi buta
atau menambah jumlah orang-orang yang sudah buta
yang dibutakan oleh silaunya kepentingan dunia semata…
Agar aku tidak menjadi hina
atau menambah jumlah orang-orang yang sudah hina
yang dihinakan oleh kelalaianku atas kesempurnaan kuasaMu…

Tuhan,
ijinkan aku menyempurnakan setengah abad perjalanan ini
dan sertai aku menyempurnakan sisa perjalanan yang segera akan kumulai
akan selalu kurindu kemesraanMu
akan selalu kudamba pelukan kasihMu
akan selalu kuharap petunjukMu
karena sesungguhnya aku takut bila harus jauh dariMu
aku tidak sanggup bila harus berjalan sendiri tanpaMu
sebab semua kuniatkan semata-mata karena penghambaanku kepadaMu
dan hanya bagiMu..

Hanya dengan menyebut namaMu yang Maha Rahman dan Rahim
Ya Allah…
Telah tiba aku di lintas batas setengah abad perjalananku
bersiap melanjutkan perjalanan ke lintasan berikutnya
Ingin segera kumulai, ingin segera kulanjutkan
sepenuh harap
insya Allah selalu ada dalam ridhoMu

Yogyakarta, 23 September 2010 – jam 00:00 WIB
Yusuf Iskandar

Buronan Mertua

28 Juli 2010

Siang panas terik dalam perjalanan Jogja – Klaten, kecepatan sekitar 70 km/jam, lalulintas cukup ramai. Sebuah truk mengikuti di belakangku dalam jarak cukup dekat. Truk itu kelihatan gelisah (entah kalau sopirnya), sebentar-sebentar bergeser ke kiri ke kanan mau nyalip nggak bisa-bisa. Sekalinya berhasil nyalip melalui sisi kiriku, wusss…..! Tampak pada bagian belakang bawah bak truknya terbaca sebuah tulisan: “Buronan Mertua”. Wooo, pantesan….

Yogyakarta, 23 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Tujuh Purnama Kita Lalui

25 Juni 2010

Sudah tujuh purnama kita lalui
Sejak kehadiranmu kembali dari pengembaraan panjang, nyaris tak kukenali
Langit terang temaram silih berganti
Pasang surut air laut menyisakan genangan membasahi
Angin badai datang dan pergi

Kau bisikkan kata-kata indah
Kau ajari aku tentang ibadah
Kau sertai aku menyusuri hati yang gundah
Kau ingatkan aku ketika salah
Kehadiranmu adalah anugerah
Seolah menjadi jawaban atas permohonan panjangku penuh pasrah

Kubalas dengan ketulusan hati tanpa pamrih
Sebab aku yakin di sana ada Tuhan yang Maha Kasih
Yang akan membimbingku dari kesalahan, dalam galau hati yang terkadang terasa perih

Sudah tujuh purnama kita lalui
Semesta keindahan telah bersama kita nikmati
Adalah kedalaman rasa yang selayaknya kita syukuri
Tak lalai untuk kita hikmahi
Walau hanya di alam maya kita bermimpi

Tapi nampaknya keindahan itu kian terusik
Karena kita tak mampu menjaganya, bahkan menjadi semakin pelik
Menjadikan jalan panjang itu seperti berbalik
Menjauh dari fitrah penghambaan kepada Sang Maha Pemilik
Tak sebagaimana saat semua bermula

Sudah tujuh purnama kita lalui
Masa-masa indah yang cukup untuk kita arungi
Namun petualangan dan perjalanan itu kemudian seolah semakin hilang kendali
Nyaris mencapai suatu titik yang seumur hidup akan kita sesali

Tapi, Tuhan…….
Betapa Engkau sangat menyayangi kami
Engkau tahu kami menjadi semakin liar tanpa kami menyadari
Lalu Kau paksa kami menghentikan perjalanan ini
Dengan caraMu, Kau paksa kami menoleh kembali ke dalam diri

Kini aku paham
Bukan karena Engkau marah atas kedhoifan dan kealpaan kami
Tapi justru begitu sayangnya Engkau kepada kami
Kini aku tahu itu
Engkau tidak rela kalau kami terperosok ke lembah dimana tak ada jalan kami bisa kembali

Sesungguhnya kami takut berada jauh dariMu, wahai zat yang Maha Suci
Namun jika ada khilaf terjadi di antara kami
Sungguh itu bukan kami sengaja mengingkari
Melainkan semata kebodohan dan kelemahan kami

Segala puji hanya bagiMu, Ya Robb…
Terima kasih, wahai zat yang Maha Rahman dan Rahim
Telah Kau ajari kami tentang pemahaman cinta kasihMu
Namun ampuni kami yang lemah dan hina ini
Yang tak selalu mampu menjaga hikmahMu

Kini perkenankan kami melanjutkan perjalanan panjang ini
Dan perkenankan pula kami memohon agar Engkau senantiasa menyertai

Yogyakarta, 20 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

Pengantar :

Terdorong oleh obsesi untuk melihat sebanyak mungkin belahan lain dari negara Amerika, maka selama dua pekan dari tanggal 1-15 Juli 2000 yang lalu saya dan keluarga melakukan perjalanan liburan lewat darat mengelilingi setengah negara Amerika belahan timur. Perjalanan ini melintasi 33 negara bagian dan ibukota Washington DC, menjalani hampir 5.500 mil (8.800 km), menghabiskan 186 gallon (704 liter) BBM dan rata-rata 12 jam setiap hari berada di jalan.

Seorang teman Amerika saya mengomentari perjalanan ini sebagai “bahkan sopir truk Amerika pun tidak pernah melakukannya”, dan seorang rekan lainnya berkomentar “it’s crazy“. Yang pasti, kami sekeluarga telah melihat Amerika lebih banyak dari yang pernah dilihat oleh umumnya orang Amerika sendiri.

Hanya karena saya bukan sopir truk dan tidak gila, maka saya bisa berbagi cerita melalui catatan perjalanan ini. Barangkali bisa untuk dikenang bagi yang pernah berada di daerah yang kebetulan saya lalui, atau untuk diniati bagi yang berencana mengunjungi negeri ini, atau untuk sekedar selingan saja.-    

(1).      Mengotak-atik Rute Perjalanan
(2).      Akhirnya Jadi Berangkat Juga
(3).      Mencapai Atlanta Di Hari Pertama
(4).      Jalan Merayap Di Cherokee
(5).      Pejalan Kaki Yang Dimanjakan Di Gatlinburg
(6).      Kelok Twin Falls Yang Memabukkan
(7).      Jalur Lintas Angkasa Di Pegunungan Blue Ridge
(8).      Antri Memasuki Gedung Putih
(9).      Mengunjungi Musium Smithsonian
(10).    Menikmati Ikan Bakar, Lalapan Dan Sayur Asam
(11).    “Selamat Ulang Tahun, Amerika”
(12).    Naik Kereta Bawah Tanah Menjelang Tengah Malam
(13).    Memandang Monumen Washington Dari Gedung Capitol
(14).    Hampir Malam Di New York
(15).    New York, New York
(16).    Menyeberang Ke Patung Liberty
(17).    Senja Di Brooklyn
(18).    Di Puncak Gedung Pencakar Langit
(19).    Ditolak Masuk Gedung Sekretariat PBB
(20).    Makan Hotdog Di Central Park
(21).    Suatu Malam Di Broadway
(22).    Apel Besar Itu Bernama New York
(23).    Jalan-jalan Sore Di Alun-alun Harvard
(24).    Menginap Di Motel Kelas Kambing Di Lebanon
(25).    Mencicipi Sirup Maple Di Vermont
(26).    Hujan Di Sepanjang Pegunungan Adirondack
(27).    Mengenang Tragedi Love Canal
(28).    Love Canal Dan Mimipi Buruk Amerika
(29).    Menyaksikan Air Terjun Niagara Dari Pulau Kambing
(30).    “Mainan Air” Itu Adalah Sebuah Maha Karya
(31).    Menuju Ke Dasar Air Terjun Di Malam Hari
(32).    Ketika Kemalaman Tiba Di Chicago
(33).    Di Madison, Saya Belajar Tentang Arti Kebersihan
(34).    Menyusuri Ladang Jagung Iowa
(35).    Bermalam Di Oskaloosa
(36).    Tengah Hari Musim Panas Di Columbia
(37).    Sejenak Di Tepi Danau Ozark
(38).    Rumah Kecil Di Padang Prairie
(39).    Impian Yang Hilang Di Kota Minyak Tulsa
(40).    Mampir Ke Musium “Cowboy” Di Oklahoma City
(41).    Perjalanan Terpanjang Pada Hari Terakhir
(42).    Di Bawah Purnama, Kami Kembali Ke New Orleans

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

Pengantar :

Selama lima hari dari tanggal 24 hingga 28 April 2001, saya berkesempatan mengunjungi kota Juneau, Alaska. Perjalanan ini adalah dalam rangka melakukan kunjungan ke tambang perak bawah tanah Greens Creek yang dijadwalkan pada tanggal 25-26 April 2001. Tambang Greens Creek yang terletak di Pulau Admiralty merupakan sebuah tambang bawah tanah skala kecil yang beroperasi dengan metode penambangan “Cut and Fill” secara sangat effisien.

Kesempatan untuk mengunjungi tambang Greens Creek di Alaska ini tentu saja juga saya manfaatkan untuk menjelajahi lebih jauh ke wilayah di sekitarnya yang memungkinkan untuk dijangkau, terutama di seputaran kota Juneau. Berbagai pengalaman selama perjalanan singkat ini saya usahakan untuk dapat saya ceritakan secara mendekati real time dan mengirimkannya kepada rekan-rekan saya dalam milis Upnvy dan Upntby (alumni UPN “Veteran” Yogyakarta) melalui media internet. Mudah-mudahan dapat menjadi tambahan informasi yang bermanfaat.

(1).   Tiba Di Juneau Ketemu Sopir Philipino
(2).   Terlambat Bangun Malah Disewakan Pesawat Khusus
(3).   Waktu Sholat Yang Membingungkan
(4).   Jalan-jalan Keliling Kota Dan Dijamu Teman Baru
(5).   Hari Terakhir Di Juneau