Posts Tagged ‘penyemir sepatu’

Bocah Penyemir Sepatu Yang Bercita-cita Menjadi Pilot

11 Desember 2009

Sambil menunggu seorang teman yang akan menjemput saya di Terminal F bandara Cengkareng siang kemarin, saya memesan coffee mix di sebuah kantin kecil di dalam bandara. Sengaja saya mencari kantin yang tidak ramai dan tidak berisik agar asap rokok saya tidak menggangu banyak orang dan banyak orang tidak mengganggu kekhusyukan saya bermain-main blackberry (Lha, namanya memang blackberry, kalau saya sebut ponsel berarti saya mengatakan yang tidak sebenarnya).

Tiba-tiba datang seorang bocah penyemir sepatu menawarkan jasanya. Tawaran itu saya tolak. Namun entah kenapa kemudian saya berubah pikiran. Ada dorongan kuat dalam diri saya untuk melakukan improvisasi kecil, sekedar memberi orang lain rejeki yang halal meski saya tidak sedang membutuhkan jasanya. Jadi bukan agar sepatu saya bersih dan mengkilap yang menjadi tujuan saya. Mau setelah disemir tetap kusam pun saya tidak perduli.

Setelah menyelesaikan hasil semirannya, saya tanyakan kepada bocah penyemir itu : ”Sudah makan?”, yang kemudian dijawab bocah itu : ”Belum”. Lalu saya suruh dia duduk di sisi kanan meja di depan saya dan saya pesankan makan kepada mbak pelayan kantin. Rupanya kantin itu tidak menyediakan menu makan. Maka mie instan dalam mangkuk sterofoam pun jadilah sebagai pengganti.

Sambil anak itu melahap mie instan, saya ajak dia mengobrol. Kebiasaan mengeksplorasi sesuatu yang tidak biasa mulai saya lakukan. Ketika saya tanya namanya, dijawabnya : ”Muslim” (ditanya nama malah menjawab agama…., tapi namanya memang Muslim), Tiba-tiba saya ingat pengalaman setahun yll ketika saya mengajak sarapan pagi tiga orang bocah penyemir sepatu yang salah satunya bernama Muslim, di bandara ini juga. Saya tatap tajam-tajam wajah bocah itu hingga saya yakin ini memang Muslim yang dulu.

Ketika saya bilang bahwa setahun yll. kita pernah sarapan bersama, dia masih ingat. Bahkan ketika saya test nama kedua temannya, Muslim pun menjawab benar, yaitu Mamat (dulu saya mendengarnya Amat) dan Yudi. Saya tanya sekali lagi : ”Apa kamu masih ingat saya?”. Muslim pun menjawab : ”Ya”. Gaya bicaranya masih plengah-plengeh…. malu-malu sambil melenggak-lenggokkan kepalanya, khas seorang anak kecil ndeso.

Hanya bedanya, setahun yll. Muslim mengatakan umurnya 9 tahun dan sekolahnya kelas 3 SD, kini dia bilang umurnya 11 tahun dan kelas 5 SD. Ah, perbedaan setahun-dua yang tidak terlalu penting. Dulu Muslim mengatakan orang tuanya pengangguran, sekarang menjadi pemulung. Ini juga tidak terlalu penting, karena bisa saja setahun terakhir ini karir orang tuanya meningkat dari pengangguran menjadi pemulung. Yang penting bagi saya saat itu adalah dia memang benar Muslim yang saya jumpai setahun yll.

Komunikasi kami menjadi lebih cair, enak dan bersuasana lebih akrab, seolah dua sahabat lama yang setahun tidak berjumpa. Sampai-sampai mbak penjaga kantin pun penasaran dan kepingin tahu pembicaraan kami. Saya lirik mbak penjaga kantin berjalan mendekat ke tempat duduk kami sambil pura-pura membelakangi dan merapikan susunan minuman botol yang sebenarnya tidak banyak jumlahnya dan sudah sangat rapi (kalau sekedar mengidentifikasi gesture bahasa tubuh seorang perempuan sepertinya saya punya pengalaman…).

***

Untuk melakukan aksinya menjual jasa semir sepatu di bandara Cengkareng, hampir setiap hari sepulang sekolah Muslim naik angkot dari rumahnya menuju bandara dan akan pulang ke rumahnya lagi saat sore menjelang petang. Dulu dia naik sepeda karena sekolanya masuk siang, tapi kini menggunakan jasa angkot. Ongkos angkotnya sekali jalan Rp 3.000,- Jika rata-rata setiap hari Muslim berhasil mengumpulkan uang jasa menyemir sampai Rp 25.000,-, maka paling tidak Muslim setiap hari berhasil membawa pulang ke rumah uang sekitar Rp 19.000,-. Kalau lagi ramai, Muslim bisa mengumpulkan uang hingga Rp 50.000,- sehari. Begitu katanya.

Uang itu dikumpulkannya untuk biaya sekolah, karena menurut pengakuanya dia ingin melanjutkan sekolah ke SMP. Sebuah niat dan cita-cita jangka pendek yang sangat sederhana namun sungguh bersahaja. Ketika saya tanya apa kegiatannya kalau di rumah selain belajar? Jawabnya adalah mengaji.

”Mengajinya sudah sampai mana?”, tanya saya. ”Masih juz ’Amma”, jawabnya. ”Surat Idhazul…”, katanya lagi (yang maksudnya adalah Q.S. Zalzalah). Mendengar jawabannya itu saya menyimpulkan bahwa bocah ini pasti bersungguh-sungguh dengan mengajinya, bukan sekedar ikut-ikutan teman di kampungnya.

Pertanyaan saya masih berlanjut : ”Kamu sholat enggak?”. Jawabnya : ”Kadang-kadang”. Ketika saya desak kenapa? Jawabnya : ”Saya enggak hafal bacaannya”. Mendengar jawaban itu, naluri ’tukang kompor’ saya terusik. Lalu saya bilang : ”Lho, sholat itu tidak perlu hafalan-hafalan. Kalau kamu sholat, ikuti saja jungkar-jungkir seperti orang lain di masjid itu, terserah kamu mau baca apa bahkan enggak usah baca apa-apa, kecuali niatmu beribadah kepada Tuhan”. Muslim melongo…. Lalu saya lanjutkan : ”Setelah sholat kamu sempatkan berdoa apa saja yang kamu inginkan”.

Tentu saja nasehat saya itu saya sampaikan kepada Muslim yang memang tingkat logika berpikir dan pemahaman spiritualnya baru pada level seperti itu. Terhadap orang lain yang logika berpikirnya tentang nilai-nilai agama lebih tinggi, tentu pendekatannya berbeda. Dan perbedaan ini tidak berbanding lurus dengan usia melainkan pengalaman spiritual masing-masing.

Akhirnya saya tanya : ”Kamu punya cita-cita?”. Jawabnya : ”Punya”. ”Apa cita-citamu?”, tanya saya kemudian. ”Saya pingin jadi pilot”. Wow….dalam hati saya bertasbih kepada Allah. Sebab dalam keyakinan saya, berani bermimpi itu adalah setengah dari pencapaiannya menuju cita-citanya.

Bagi seorang ’tukang kompor’ seperti saya ini, atau bolehlah disebut provokator (asal jangan motivator, takut diundang seminar…..), pada dasarnya tidak ada cita-cita yang tidak bisa dicapai. Kalau kemudian banyak orang yang gagal mencapai cita-citanya, itu karena sejak cita-cita itu ditancapkan di ubun-ubunnya ternyata perilakunya sehari-hari sama sekali tidak mencerminkan sebagai seseorang seperti yang dicita-citakannya. Alias, sak karepe dhewe….. semaunya sendiri, tercapai ya syukur, enggak yo wis….. Tidak disertai dengan ikhtiar keras untuk mencapainya.

Akhirnya saya katakan kepada Muslim : ”Muslim, insya Allah saya akan berdoa agar kamu bisa menjadi pilot. Syaratnya hanya ada dua dan gampang, yaitu rajin belajar dan berdoa setiap habis sholat. Nanti Tuhan akan menunjukkan jalannya”. Seperti biasa, Muslim hanya nyengenges dengan mimik anak-anak banget. Provokasi saya masih berlanjut : ”Saya kepingin suatu saat nanti saya naik pesawat dari Cengkareng dan kamu yang jadi pilotnya. Kamu mau enggak?”. Sekali lagi Muslim hanya bereaksi cengengesan. ”Kamu mau enggak?”, ulang saya. Akhirnya dia menjawab malu-malu : ”Mau”.

Mengakhiri perjumpaan saya dengan Muslim, saya pegang pundak kirinya lalu saya katakan : ”Salam ke orang tuamu. Dan jangan lupa belajar dan berdoa dengan sungguh-sungguh setiap habis sholat mulai hari ini!” (maksud saya sebenarnya, untuk bisa berdoa kan berarti dia harus sholat dulu…..), sambil saya selipkan sejumlah uang lebih.

***

Ketika malam harinya saya tiba kembali ke rumah di Jogja, saya buka-buka laptop saya dan saya baca kembali catatan saya setahun yang lalu ketika pernah sarapan bersama Muslim dan teman-temannya di Cengkareng. Lho……, pandangan saya terpana seperti tidak percaya. Peristiwa setahun yang lalu itu rupanya terjadi pada tanggal 10 Desember 2008, dan pertemuan kembali dengan Muslim kemarin terjadi tanggal 10 Desember 2009. Jadi, kemarin adalah ulang tahun pertama sejak pertemua saya dengan Muslim bocah penyemir sepatu anak seorang pemulung yang sekarang bercita-cita besar menjadi seorang pilot.

Kejadiannya memang kebetulan belaka, tapi hakekat kejadian itu saya yakini pasti bukan kebetulan, pasti ada yang mengaturnya. Apa rahasia dibalik kejadian ’kebetulan’ yang saya alami itu?. Sayang sekali, meski sudah saya tinggal tidur semalam hingga ada yang membangunkan saya di pagi subuh, saya belum menemukan jawabnya kecuali bahwa tanggal 10 Desember adalah Hari Hak Asasi Manusia Sedunia.

Yogyakarta, 11 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Catatan :
Lihat catatan lama saya : ”Sarapan Pagi Bersama Yudi, Muslim dan Amat

Sarapan Pagi Bersama Yudi, Muslim dan Amat

12 Desember 2008

Tiba di bandara Cengkareng masih agak pagi. Paling enak ya ngopi dulu. Tidak banyak pilihan tempat ngopi di seputar terminal kedatangan. Seperti sering saya lakukan, akhirnya mampir ke warung ayam goreng Kentucky (KFC). Bukan untuk beli ayamnya, tapi sekedar minum kopinya. Entah apa kopi bubuknya, tapi jelas bukan paling enak, melainkan sekedar pokoknya ngopi…. dan ngudut…..

Baru beberapa saat duduk ngobrol sambil nyruput kopi, datang beberapa anak anggota laskar penyemir sepatu menawarkan diri untuk menyemir sepatu saya dan teman-teman saya. Dengan halus saya tolak karena memang saya tidak terbiasa menyemirkan sepatu di tempat umum, meski sebenarnya di rumah juga jarang saya menyemirnya. Paling-paling saya seka dengan lap saja.

Anak-anak itu ngotot menawarkan jasanya. Malah mengolok-olok kalau sepatu hitam saya kotor. Weleh…, lha sepatu saya belum dua bulan umurnya masak dibilang kotor. Itu juga bukan sepatu bermerek hasil membeli di toko, melainkan ndandakke…., pesan khusus di tukang sepatu pinggir jalan di Jogja. 

Terpancing juga saya untuk melongokkan kepala ke bawah memeriksa sepatu saya. Jelas masih tampak bersih meski tidak mengkilap. Tapi anak itu setengah merengek terus meminta untuk menyemirnya. Akhirnya luluh juga pertahanan saya. Sesaat kemudian sepatu saya sudah bertukar dengan sandal jepit. Anak itu lalu ndeprok (duduk di lantai) di pojok kedai KFC menyemir sepatu saya. Sepatu teman saya juga ikut disemir oleh anak lainnya. Saya perhatikan kedua anak itu begitu asyik menyemir sepatu sambil saling ngobrol di antara mereka. Rupanya ada seorang temannya yang ikut nimbrung.  

***

Tidak perlu waktu lama bagi anak-anak itu untuk nyemir sepatu. Segera mereka menyerahkan sepatu yang sudah selesai disemirnya. Entah kenapa saya tidak lagi tertarik melihat hasil semirannya, melainkan saya pegang pundak salah seorang yang paling kecil diantara mereka yang berdiri tepat di sebelah kiri saya, dan saya tanya : “Sudah sarapan?”. Mereka hanya kleceman (tersenyum malu) saja. Saya ulangi pertanyaan saya, dan seorang yang lebih besar menjawab malu-malu : “Belum”.

Lalu saya suruh mereka bertiga mengikuti salah seorang teman yang saya minta menemani mereka ke kasir untuk pesan sarapan pagi. Sambil menyimpan semir di sakunya, mereka pun segera beriringan menuju kasir KFC untuk pesan makanan. Tidak lama kemudian mereka kembali dengan membawa nampan berwarna coklat berisi nasi, ayam goreng dan softdrink. Saya suruh mereka duduk di sebuah meja kosong tidak jauh dari tempat saya duduk. Kali ini tidak lagi saya melihat wajah malu-malu mereka, melainkan dengan lahap mereka menghabiskan sarapannya.

Saya penasaran, apakah mereka ini tidak sekolah kok pagi-pagi sudah kluyuran di bandara. Segera saya berpindah duduk dan bergabung dengan ketiga anak itu menempati sebuah kursi yang kosong diantara empat kursi yang tersedia.

Diantara mereka bertiga, ternyata Muslim (9 tahun) masih duduk di kelas 3 SD dan Amat (12 tahun) saat ini kelas 6 di sebuah sekolah di dekat rumahnya di Tangerang. Sedangkan Yudi sudah berhenti sekolah sejak lulus SD tahun lalu.

Muslim yang terlihat paling kecil dan sumeh, setiap hari sekitar jam 5 mulai mengayuh sepedanya menuju bandara berbekal semir dan kain lap. Perlu waktu sekitar sejam untuk menuju bandara dari rumahnya. Sedangkan Amat terkadang harus naik ojek mbayar Rp 10.000,- sekali jalan. Karena masih sekolah dan masuknya siang, maka sekitar jam 11 biasanya mereka sudah pulang untuk segera berangkat ke sekolah. Kalau lagi bernasib baik, mereka bisa mengumpulkan uang lebih dari Rp 50.000,- untuk setengah hari bekerja sebagai penyemir sepatu di bandara.

Mereka bertiga hanyalah sebagian dari puluhan anak-anak laskar penyemir sepatu di bandara yang keberadaannya sering menjadi dilema bagi orang lain. Tapi pasti tidak bagi mereka. Jangankan mereka perduli dengan dilema tentang manajemen bandara, memahami keberadaannya saja tidak. Bagi mereka, asal bisa mengais sedikit rejeki yang betebaran di bandara hari itu untuk dibawa pulang, kiranya sudah cukup.

Ketika saya tanya : “Uangnya buat apa?”. Mereka menjawab untuk ditabung. Saya tersenyum menyambut jawabannya. Itulah jawaban yang memang saya harapkan.

Ketika saya tanya lagi : “Setelah terkumpul lalu untuk apa?”.

Si kecil Muslim menjawab untuk beli baju. Waduh, jawabannya agak membuat saya kecewa. Tapi segera saya coba berpikir positif. Jangan-jangan, baju pun masih menjadi kebutuhan dasar sandang yang belum terpenuhi bagi keluarganya Muslim yang orang tuanya pengangguran. Ya, beli baju bisa jadi konsumif, tapi itu bagi mereka yang kebutuhan dasar sandangnya sudah terpenuhi.  

Lain lagi jawaban si Amat : “Untuk beli play station“, katanya.

Wah…., saya agak mengernyitkan dahi. Kok jadi lebih konsumtif, pikir saya. Saya penasaran, dalam hati saya merasa kecewa dengan jawaban itu. Lalu saya desak lagi : “Kenapa beli play station?”.

Kini jawabannya justru membuat saya agak terperangah : “Untuk di-rental-kan, dan kakak saya yang ngurusnya..”.

Saya jadi terdiam sesaat. Dalam hati saya berkata, mletik (cemerlang) juga pikiran anak ini. Itu berati sudah tumbuh semangat wirausaha dalam diri si Amat yang mengaku orang tuanya bekerja mengumpulkan plastik akua (kata lain untuk pemulung). Semangat yang memang kelak akan sangat diperlukan oleh anak-anak yang tumbuh di lingkungan marginal seperti mereka.

Saya tidak sedang mempersoalkan aspek positif atau negatif dari bisnis persewaan play station, melainkan saya ingin memberi apresiasi pada jiwa kewirausahaan yang tumbuh dalam diri anak ini. Jiwa kewirausahaan yang dapat tumbuh dimana saja dan kapan saja, tanpa perlu hitung-hitungan yang rumit. Sedang mereka yang sudah berpendidikan tinggi pun tidak mudah untuk membangkitkan semangat entrepreneurship pada diri mereka.

Sebelum mereka beranjak pamit untuk melanjutkan pekerjaannya pagi itu, sempat saya tanyakan : “Sampai kapan kalian mau nyemir?”. Dan, mereka bertiga pun hanya nyengir.…. Saya tahu ini pertanyaan bodoh dan penuh basa-basi. Tapi saya tanyakan juga, karena sesungguhnya seringkali saya memperoleh jawaban tak terduga yang inspiratif dari anak-anak yang semangatnya juga tak terduga ini.

Anak-anak itu pun segera berlalu setelah menerima sekedar uang semir (tapi halal) dan mengucapkan terima kasih, untuk melanjutkan menjual jasa penyemirannya kepada pemilik sepatu lainnya. Pekerjaan yang tanpa lelah terus dijalaninya sejak 2-3 tahun yang lalu.

***

Pagi itu, saya hanya ingin sekedar berbagi kebahagiaan kecil dengan anak-anak penyemir sepatu bandara Cengkareng. Setidak-tidaknya bagi Yudi, Muslim dan Amat. Meski saya juga tahu, belum tentu mereka bisa menikmati secuil kebahagiaan yang saya niatkan untuk berbagi. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Tapi ada banyak pelajaran telah saya temukan.

Yogyakarta, 11 Desember 2008
Yusuf Iskandar