Posts Tagged ‘penumpang’

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(5).   Penumpang Kepagian

bandara2Akhirnya saya harus meninggalkan Tanjung Redeb. Tidak seperti ketika berangkatnya perlu 20 jam melewati jalan darat dari Balikpapan. Saat kembali ke Balikpapan saya sudah pesan tempat untuk menggunakan moda angkutan udara dari Tanjung Redeb.

Menurut jam penerbangan yang terulis di tiket, pesawat Trigana Air jurusan Tanjung Redeb – Balikpapan akan tinggal landas jam 6:45 pagi Waktu Indonesia Tengah. Jam 5:30 pagi saya sudah meninggalkan hotel dan berjalan kaki ke persimpangan jalan untuk mencari taksi yang akan mengantarkan saya ke bandara. Yang disebut taksi di Tanjung Redeb (juga di banyak kota umumnya di luar Jawa) adalah angkutan kota.

Tidak terlalu lama saya berdiri sendiri di pagi hari yang sepi di perempatan jalan terdekat (di pinggirnya tentu saja), hingga kemudian sebuah taksi berlalu dan menawarkan diri untuk ditumpangi. Saya lalu naik dan bergabung dengan beberapa penumpang yang sudah lebih dulu ada di dalamnya. Para penumpang itu rupanya semua menuju ke pasar. Maka selepas pasar, tinggal saya satu-satunya penumpang yang tinggal.

Mengetahui tujuan saya adalah bandara Kalimarau, pak sopir taksi yang ternyata berasal dari Jember itu menawari saya agar taksinya dicarter saja sehingga langsung menuju bandara dan tidak menarik penumpang di jalan. Ongkosnya seperti biasanya Rp 40.000,- katanya. Khawatir terlambat tiba di bandara, saya lalu menyetujuinya.

Di perjalanan pak sopir bertanya : “Ke bandara kok pagi sekali, pak?”. Saya tidak langsung menjawab, melainkan feeling saya mengendus sepertinya ada sesuatu yang tidak biasa. Tapi apa?

Baru kemudian saya menjawab : “Iya, pesawatnya jam 6:45”. Pak sopir hanya bergumam pendek : “Oo…, biasanya kok agak siang”. Saat itu hari memang masih tampak pagi sekali dan masih gelap seperti malam. Mulailah detector pada indra perasaan saya pertajam. Jangan-jangan saya kepagian. Jangan-jangan saya salah melihat tulisan jam di tiket. Jangan-jangan pak sopir benar bahwa biasanya memang penerbangan agak siang. Atau, jangan-jangan jam di handphone saya (saya tidak biasa pakai arloji) masih jamnya WIB. Berbagai jangan-jangan lalu berkecamuk di dalam otak saya. Ah, sebodo teuing, yang penting segera tiba di bandara.

Jarak dari kota Tanjung Redeb ke bandara Kalimarau memang hanya sekitar 7 km, melewati jalan yang menuju ke arah Teluk Bayur, lalu belok ke kiri sekitar satu kilometer. Maka tidak terlalu lama akhirnya saya dan taksi sewaan tiba di bandara Kalimarau.

Lha, rak tenan……! Kekhawatiran saya menjadi kenyataan. Bandara masih sepi mamring….. Rasanya seperti sedang berdiri di depan gerbang rumah suwung dalam film horror. Hari masih pagi umun-umun, ketika saya dan taksi sewaan tiba persis di depan pintu gerbang bandara. Moncong taksi berhenti pada jarak dua meteran dari pintu gerbang bandara yang masih tutup.

Njuk piye iki …(harus bagaimana ini…?). Saya tolah-toleh tidak ada manusia satu pun di seputaran bandara. Untuk meyakinkan, saya tanya pak sopir taksinya, apa benar ini bandaranya. Pak sopir pun menjawab dengan meyakinkan bahwa memang itu bandaranya. Lalu pak sopir taksi saya minta agar menunggu dulu sesaat, sementara saya mencoba melihat-lihat kembali tiket saya di bawah penerangan remang-remang lampu kabin taksi. Pertama, saya pastikan lagi bahwa jam yang tertulis di tiket benar. Kedua, baru saya cari nomor tilpun agen Trigana Air yan tertulis di sana.

Agen Trigana Air Tanjung Redeb saya tilpun tidak ada yang mengangkat. Menilpun agen Balikpapan juga tidak ada yang mengangkat. Lalu agen Yogayakarta tempat saya membeli tiket dan agen Jakarta apalagi, mungkin petugasnya masih pada ngrungkel, menarik selimut. Tujuan saya menilpun sebenarnya hanya ingin memastikan bahwa apakah penerbangan Tanjung Redeb – Balikpapan hari itu ada, atau ditunda, atau malah dibatalkan. Agar saya tahu apa yang harus saya lakukan di pagi yang masih rada gelap dan sepi, sendiri ditemani sopir taksi (sendiri tapi ditemani….).

Setelah lima belas menitan saya tidak berhasil memperoleh informasi apapun. Akhirnya saya persilakan pak sopir taksi untuk meninggalkan saya sendiri (kali ini baru benar-benar sendiri tiada yang menemani…). Kasihan pak sopir taksi yang sebenarnya harus mengejar setoran. Pak sopir pun saya bayar Rp 50.000,- termasuk tip untuk menemani saya yang lagi bingung di depan gerbang bandara. Jadi, ada ongkos menemani orang bingung Rp 10.000,-

Namun sebelum pak sopir pergi, dia membantu saya membuka pintu pagar bandara. Rupanya pintu gerbangnya mudah dibuka, hanya diikat rantai saja tanpa gembok. Saya lalu jalan melenggang menuju teras bandara. Saya geleng-geleng kepala, bandara kok kotor dan seperti tidak terurus dengan baik.

Setelah tengok sana, tengok sini, longok sana dan longok sini, akhirnya saya lihat ada pos penjagaan yang ketika saya intip ternyata petugasnya sedang tidur ditonton oleh pesawat televisinya yang sedang menyiarkan siaran sepak bola. Pura-pura tidak tahu kalau penjaganya sedang tidur, saya ketok pintunya agak keras. Lalu saya tanyakan kepada petugas jaga yang kaget saya bangunkan, jam berapa jadwal pesawat ke Balikpapan. Dijawabnya, biasanya jam 8-an.

Lhadhalah….., berarti saya kepagian tiba di bandara, kecepatan hampir 2 jam. Saya segera menyimpulkan bahwa agen penjual tiket di Yogya pasti salah menuliskan jamnya. Bodohnya saya, kenapa tidak saya cek dulu sebelumnya……

***

Kejadian ini tidak seharusnya saya alami, kalau saja saya mau menyempatkan sebelumnya untuk melakukan rekonfirmasi kepada agen Trigana Air tentang tiket keberangkatan saya ke Balikpapan hari itu. Gara-gara kelewat yakin, karena sebelumnya tidak pernah terjadi kesalahan semacam ini. Ada baiknya, kita melakukan rekonfirmasi tiket pesawat setiap kali sebelum melakukan perjalanan udara. Meski sebelumnya tidak pernah terjadi kesalahan penulisan tiket, tapi menjadi menjengkelkan kalau sekalinya terjadi justru kita yang mengalami.

Siwalan…! Hari itu saya telah melakukan kebodohan yang semestinya bisa dihindari. Pihak penjual tiket di Yogya memang salah telah menuliskan jam penerbangan 2 jam lebih cepat. Tapi ketika kesalahan itu telanjur terjadi dan berakibat menimbulkan ketidaknyamanan diri kita, njuk lalu mau marah sama siapa….?

Klimaks kejengkelan terjadi di saat orang-orang masih pada tidur, di tempat yang jauh jaraknya. Kalau pun bisa marah lewat tilpun, ya menghabis-habiskan pulsa saja alias sia-sia (heran juga saya, marah kok masih bisa mikir untung-rugi). Paling-paling ya marah atas kebodohan diri sendiri. Sambil duduk bersandar di bangku tunggu di depan pintu masuk bandara, sambil kaki dijulurkan ke lantai yang kotor, sambil menulis SMS untuk dikirim ke penjual tiket langganan saya di Yogya.

Isinya maki-maki? Tidak. Terlalu sayang rasanya kalau hari indah saya harus saya awali dengan marah. Kira-kira saya bilang begini : “Hari ini saya kepagian tiba di bandara Tanjng Redeb, malah saya yang membuka gerbang bandaranya. Jam yang tertulis di tiket ternyata kecepatan 2 jam. Mudah-mudahan sekarang sudah punya jadwal yang baru”. Ponsel saya tutup, lalu memejamkan mata sambil dheleg-dheleg…… mengiringi matahari yang semakin terang menyinari bumi…..

(Untungnya kejadian itu menimpa orang yang sudah terbiasa mengalami banyak hal yang tidak mengenakkan dan yang lebih penting….. bisa menikmatinya. Sebab bisa menjadi bahan cerita, meski cerita tentang kebodohan, agar dapat dihikmahi oleh orang lain. Huh! Enak sekali jadi orang lain…..).

Orang pertama yang kemudian tiba di bandara setelah saya adalah pengelola kantin yang berada di sisi sebelah kanan bandara. Segera saya susul ke kantin. Seorang ibu yang sedang menyiapkan perlengkapan kantin sebelum buka, saya mintai tolong untuk mendahulukan menjerang air agar segera bisa disiapkan segelas kopi panas. Ibu itu mau juga. Barangkali saya pembeli pertama yang dianggapnya sebagai penglaris. 

Sekitar jam 8:15 ketika bandara mulai agak ramai, saya tinggalkan kantin dan masuk ke bandara seperti penumpang lainnya. Ada sepenggal kebanggaan, ketika melewati semua proses pemeriksaan di depan petugas security, lalu mengurus chek-in, lalu membayar pajak, lalu membeli asuransi, lalu menyapu pandang kepada segenap penumpang yang sudah lebih dahulu duduk di ruang tunggu, dan terakhir ketemu orang di toilet (sudah kebelet sejak tadi…..)  Kebanggaan? Kalau saja mereka tahu, bahwa hari itu sayalah yang membuka pintu gerbang bandara…..

Yogyakarta, 20 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Iklan