Posts Tagged ‘pengungsi’

Catatan Harian Untuk Merapi (7)

28 Desember 2010

(58). Bintang Kecil

Dini hari ini langit Jogja begitu cerah. Gemintang menyebar seluas antariksa…..

Bintang kecil di langit yg tinggi
amat banyak menghias angkasa
aku ingin terbang dan menari
jauh tinggi ke tempat kau berada…..

(Nyanyian masa kanak-kanak itu kini semakin terlupakan. Coba saja tanyakan anak-anak kita. Tapi hamparan indah itu dua minggu ini sering tertutup abu vulkanik Merapi….)

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(59). Tutul-tutul Abu-abu Abu Merapi

Memasuki minggu ke-3 AWAS Merapi… Baru pagi ini saya tidak perlu memandikan mobil yang kuparkir di karpot. Sebelumnya tiap pagi mobil harus diguyang (dimandikan), digosok dan dilap, karena warna aslinya yang hitam selalu berubah menjadi tutul-tutul abu-abu abu Merapi.

Pertanda bahwa kemarin dan tadi malam tidak ada abu yang berkeliaran. Tapi prihatin dengan saudara-saudara yang tinggal di baratnya Merapi (Muntilan, Magelang, dkk), karena angin kuat berhembus ke arah barat…

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(60). Tentang Sendal Jepit

Sendal jepit untuk pengungsi. Apa pentingnya? Ketika pengungsian harus pindah-pindah dalam suasana buru-buru bin panik karena perubahan radius KRB (Kawasan Rawan Bencana), sendal adalah piranti yang sering keteteran dibawa. Hilang, tertinggal, terbawa sebelah, selen (ketukar sebelah), dsb. Kini di pengungsian, mau jalan keluar kagok, ke kamar mandi atau wudhu bergantian. Padahal jumlah mereka ada ratusan, eh ribuan. “Oh sendal jepit, betapa aku butuh kamu…”

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(61). Di Batas “Zona Merah”

Menjelang tengah hari di batas “zona merah” Jl. Kaliurang, Jogja (radius 20 km dari Merapi). Jalan baru distop di Km-14, padahal mestinya di sekitar Km-11. Toko-toko banyak tutup, tapi ada juga yang buka. Rumah-rumah dikosongkan, tapi ada juga yang masih berpenghuni. Suasana lengang, tapi lalu lintas tetap ramai, sehingga pak polisi perlu menghalo-halo (dengan megaphone) dan menghalau-halau (dengan tongkat), intinya dilarang masuk. Entah sampai kapan…

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(62). Tentang Pakaian Dalam

Di posko-posko pengungsian umumnya bantuan berupa pakaian melimpah ruah. Tapi di beberapa lokasi masih ada yang butuh handuk, selimut dan pakaian dalam. Sehelai handuk bisa dipakai rame-rame, selembar selimut bisa berbagi, tapi pakaian dalam? Bayangkan kalau tidak ganti sekian hari. Sedang umumnya mereka kabur dari rumah bukan seperti orang mau pergi haji, melainkan seperti dikejar kirik (anak anjing). Maka jangan diketawain kalau ada yang malu-malu butuh cede wal-beha

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(63). “Pulang Kampung Nih…”

Berita di televisi seringkali lebih heboh, dramatis dan menakutkan daripada aslinya. Dapat dipahami, kalau ada 100 momen, 99 momen “baik-baik saja” dan satu momen “dramatis”, maka sang reporter akan memilih yang satu momen itu untuk ditayangkan. Cilakaknya, penonton di rumah lalu menyimpulkan bahwa 100 momen itu “dramatis” semua.

Maka para orang tua nun jauh di sana lalu menyuruh anaknya yang kost di Jogja untuk segera “pulang kampung nih…” (dengan dialek mas Obama).

(Yogyakarta, 11 Nopember 2010)

——-

(64). Hidup Dijalani Sebagai Ibadah

Selamat datang di kota kami
Yogyakarta aman dan tentram…

(Mars Yogyakarta)

Kalau ada gunung meletus? Ya berlindung atau lari menghindar. Kalau ada banjir? Ya mengungsi. Kalau ada gempa? Ya menyelamatkan diri. Saya akan melakukan hal yang sama andai tinggal di Jakarta, Sabang atau Merauke.

Tapi kalau saya tinggal di lereng Merapi sedang saya tahu itu masuk KRB, maka saya salah kalau berdiam diri. Sesederhana itu hidup ini saya jalani sebagai ibadah…

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(65). Pengungsi Mulai Bosan

Pengungsi di GOR Maguwoharjo, Sleman, mulai pada bosan. Lalu ada yang pindah, minta pulang, dsb. Tapi ada yang kreatif. Di UII, diajari membuat kerajinan kalung (tapi kan tidak semua suka). Di UPN, diadakan senam masal (apa ya mau tiap hari senam). Di UMY, dibangun dapur mandiri (bisa masak sesuai selera). Walau kebanyakan mereka petani, apa ya mau bercocok tanam di halaman? Intinya: Perlu waspada terhadap “kreatifitas jenis lain”…

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(66). Numpang Laporan

Sebagai Laporan: Saya telah menerima transfer bantuan untuk pengungsi Merapi sejumlah Rp 4,5 juta. Sudah saya distribusikan berupa nasi bungkus, beras, sendal, handuk dan selimut, ke beberapa lokasi pengungsian di Kalasan dan Prambanan, Sleman. Masih tersisa dana Rp 38 ribu yang rencananya akan saya salurkan menyusul (Terima kasih untuk mas Ari Muriyanto, mas Budi Yuwono, pak Didiek Subagyo, mbak Anita Nitisastro).

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(67). Mengarahkan Bantuan Ke Muntilan

Kebanyakan posko pengungsian yang menyebar di wilayah kota Jogja dan kabupaten Sleman kebutuhannya sudah tercukupi bahkan berlebih (pemerataannya yang belum). Maka saya berencana mengarahkan bantuan ke kawasan lain yang masih minim bantuan, seperti kota Muntilan, kabupaten Magelang.

Muntilan yang sempat lumpuh dan nyaris seperti kota mati ternyata banyak “menyimpan” pengungsi. Ke sanalah saya berencana menyalurkan bantuan titipan dari teman-teman Facebook.

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

(68). Kali Code Banjir Malam Ini

Jogja malam ini sekitar jam 21:00 – 21:30 WIB… Kali Code banjir cukup besar, membawa material lahar dingin. Di beberapa lokasi muka air sudah melebihi tinggi talut, meluber. Beberapa jembatan ditutup sebagai langkah pengamanan. Berharap tidak berlangsung lama dan tetap terkendali.

(Yogyakarta, 12 November 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (13)

28 Desember 2010

(110). Mereka Makan Keladi Dan Ketela

Ketika saya cerita bahwa masyarakat di dusun-dusun terpencil yang terkena dampak letusan Merapi bertahan hidup dengan makan seadanya, seperti keladi dan ketela, maka itu benar adanya. Bukan cerita yang saya dramatisir…

Hanya umbi-umbian di dalam tanah yang bertahan terhadap serangan abu vulkanik panas. Tanaman lain di permukaan rusak, termasuk kelapa, sayuran, rumput, apalagi pisang. Ironisnya, kalau minta bantuan ke posko besar akan ditolak karena mereka bukan pengungsi…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(111). Mereka Adalah Relawan Mandiri

Posko mandiri (itu istilah mereka), adalah posko yang dikelola oleh pribadi-pribadi yang dengan semangat relawan mengelola masyarakat korban Merapi yang ada di rumah-rumah penduduk, bukan di lokasi/barak yang sengaja disiapkan untuk pengungsi.

Dengan upayanya sendiri relawan mandiri ini mencari bantuan ke pelbagai pihak. Bahkan antar mereka sering saling berbagi bantuan jika di lokasinya ada kelebihan. Memang, mereka kebanyakan ada di dusun-dusun terpencil, pelosok dan tersembunyi.

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(112). Bantuan Dari Para Sahabat

Hari ini saya menerima transfer sejumlah dana dari para sahabat di Jakarta dan Surabaya. Rencananya akan langsung saya alokasikan ke posko mandiri di dusun Soronalan dan Babadan, kecamatan Sawangan yang memang butuh bahan makanan mendesak.

Tapi sayang, sore ini cuaca berawan gelap, hujan deras berkepanjangan, sedang lokasi yang mau dituju agak naik ke kaki gunung. Terpaksa ditunda. Insya Allah…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(113). Siapa Yang Lebih Nekat

Seorang relawan mandiri di lereng baratdaya Merapi sore tadi mengirm pesan singkat via SMS, katanya: “Jumlah jiwa ada 250. Ekonomi lumpuh”. Posko itu ada di dusun Semen, kecamatan Dukun, Magelang. Info dari dusun tetangganya mengabarkan kalau masyarakat dusun Semen mencari-cari bantuan logistik.

Kutanya lokasinya di radius berapa dari puncak Merapi?
Jawabnya: “Sekitar 4 km pak!”.

Haduh…, lha yang nekat itu yang dibantu atau yang membantu?

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(114). Hanya Sebuah Potret Kecil

Dusun Babadan, Soronalan, Bandung dan Semen, di wilayah kabupatn Magelang, hanyalah sebagian kecil potret ketakberdayaan masyarakat yang dibuat tak berkutik setelah diplekotho abu dan pasir vulkanik panas dari Merapi. Padahal masih ada buanyak dusun-dusun terpencil yang warganya tidak mengungsi tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyambung hidupnya.

Mereka nyaris tak tersentuh bantuan. Semoga ada orang lain yang bergerilya membantu mereka yang buanyak itu…

(Note: diplekotho adalah ekspresi dalam dialog orang Jogja yang berarti ditakberdayakan)

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (16)

28 Desember 2010

(133). Kepala Dusun Itu Seorang Wanita

Ada yang istimewa dengan dusun Ngaglik. Saat bertemu pak Parman yang sedang cari bantuan ke dusun tetangga, beliau ditemani istrinya yang cantik berkerudung warna cerah. Relawan “ndeso” itu membawa istrinya untuk urusan yang lebih perlu kegesitan seorang pria.

Ketika kemarin pak Parman saya panggil pak Kadus (Kepala Dusun), pak Parman berkata: “Yang Kepala Dusun sebenarnya istri saya pak”. Aha.., dan bu Parman adalah satu-satunya Kadus wanita di kawasan itu.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(134). Disuguh Singkong Rebus

Saat ngobrol-ngobrol tentang makan, saya disuguh bu Parman dengan teh panas dan singkong rebus. “Ya ini yang kami makan pak”, kata pak Parman ramah. Barangkali mereka memang sudah “terlatih” dengan keterbatasan hidup seperti saat ini, tapi tidak dengan ‘rasa’ kita.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan singkong, yang berkarbohidrat tinggi. Hanya saja, mereka makan singkong karena tidak punya pilihan. Sedang kita di tempat lain, makan singkong karena punya banyak pilihan untuk dimakan…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(135). Jum’atan Di Soronalan

Untuk sholat Jum’at, kemarin saya harus turun ke dusun Soronalan sekitar 1 km di bawah Ngaglik. Sengaja saya minta dibonceng sepeda motor. Kebiasaan masyarakat saat jalan menurun, matikan mesin dan motor pun njumbul-njumbul melewati jalan berbatu.

Masjid “Al-Huda” itu terisi sekitar 30 jamaah. Seseorang membisiki saya: “Kami perlu genset untuk masjid pak”.

Bersyukur, petang harinya saya bisa kirim SMS: “Genset sudah di Muntilan, tolong diambil” (Trims untuk HMM Papua).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(136). Serah Terima Bantuan Di Gubug makan “Mang Engking”

Pulang dari Ngaglik kemarin sore, ditunggu teman-teman di Gubug Makan “Mang Engking”, Jl. Soragan/Jl. Godean Jogja (pionir restoran spesial menu udang galah. Halah, udangnya ittuuu…).

Ada acara serah terima bantuan dari keluarga besar PT Freeport Indonesia melalui program “Freeport Peduli” untuk korban Merapi yang dipercayakan penyalurannya kepada Paguyuban mantan karyawan yang ada di Jogja. Wah, bakal kluyuran maneh ki… (siap-siap kluyuran lageee...).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(137). Pilpen Conggambul

Tengah hari, hujan lebat merata seantero Jogja. Nyopiri “boss” ke toko sambil nyetel RRI Jogja. Acaranya, “Pilpen-conggambul-tupon-tugu”. Woppo kuwi…? “Pilihan pendengar, keroncong, langgam, stambul”; dengan kata kunci: “satu pohon satu lagu”.

Elok tenan..! Masyarakat lereng Merapi akan menyukainya. Biar gunungnya lebih sejuk, seperti pantun seorang pendengarnya: Tuku terong simpen ning lemari es, lagu keroncong pancen mak nyesss…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(138). Status Awas Ex Pengungsi

Radius kawasan bahaya Merapi diturunkan sehingga sebagian pengungsi pun pulang ke rumah masing-masing. Selama di posko-posko pengungsian, hidupnya terjamin. Setelah pulang? Bantuan yang menumpuk itu ya ditinggal di posko-posko (entah siapa yang ngurus dan mau dikemanakan). Tinggal pengungsi dheleg-dheleg di kampungnya. Siapa yang perduli?

Pertanian hancur, ekonomi mandek, tidak ada penghasilan. Dan, ada ribuan ex pengungsi yang statusnya AWAS…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(139). Week-End Ke Jogja Mengirim Bantuan

Minggu lalu seorang sahabat week-end ke Jogja pingin menyalurkan bantuan. Bahkan bantuan diantar di tengah malam ke sebuah lokasi di Sawangan, Magelang. Sayang saya tidak bisa menemaninya. Ternyata sekarang mengirim lagi bantuan untuk perlengkapan sekolah. Bahkan bertanya lokasi mana lagi yang mendesak dibantu.

Uuuh.., senang sekali mendengar semangatnya, lebih senang lagi saya sempat memfasilitasi. Semoga Tuhan melimpahkan berkah untuk semuanya.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(140). “Datanglah Ke Jogja”

Pekan-pekan ini, logistik adalah kebutuhan mendesak bagi sebagian besar korban Merapi, terutama mereka yang baru kembali dari pengungsian dan non-pengungsi tapi terkena dampak langsung. Hari ini saya identifikasi ada empat lokasi terpisah yang layak untuk dibantu dan akan menjadi sasaran saya berikutnya.

Ingin saya ajak kepada siapa saja: “Datanglah ke Jogja, lalu kunjungi korban Merapi…”.

Sebuah perjalanan indah dan inspiratif akan Anda kenang sepanjang hayat…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-