Posts Tagged ‘pendaki’

Musim Angin Kencang

18 Januari 2010

Angin kencang melanda Jogja malam ini. BMKG juga sudah kirim ‘warning’ badai akan terjadi di wilayah Indonesia bagian tenggara. Jadi ingat beberapa pendaki yang pernah menghubungi saya akan menuju puncak Rinjani pada pertengahan Januari. Semoga mereka aware akan hal ini, dan Tuhan bersama mereka…

Yogyakarta, 17 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Menggapai Matahari Baru 2010 Di Puncak Rinjani

7 Januari 2010

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan Sekalian Alam, bahwa akhirnya saya dan sahabat kecilku (Noval, 15 th) berhasil mencapai puncak gunung Rinjani (3726 mdpl) di Lombok, NTB, menggapai matahari baru pada pagi hari tanggal 1 Januari 2010.

Rencana awal kami memang akan melakukan duet pendakian ke puncak Rinjani, namun akhirnya pada hari terakhir sebelum berangkat menuju titik awal pendakian di Sembalun, Lombok Timur, bertambah dengan bergabungnya tiga pendaki dari Jakarta, yaitu : Insan (28 th), Angga Triangga (26 th) dan Ari Permana (19 th), yang masing-masing tiba di Mataram dalam waktu terpisah. Maka jadilah kami sebuah tim 5 pendaki yang masing-masing baru saling ketemu dan kenal.

Pendakian menuju puncak Rinjani sungguh merupakan perjalanan panjang yang sangat melelahkan dan menguras energi, bahkan sahabat kecilku sempat merasa putus asa ketika harus melalui penggal terakhir menuju puncak. Menempuh lintasan panjang dari Plawangan Sembalun mulai jam 3 pagi, menuju puncak adalah tahap paling berat. Melalui gigir gunung yang berlereng curam, di atas tanah kerikil dan batu vulkanik yang selalu merosot ketika diinjak membuat langkah semakin terasa berat. Angin gunung yang menerpa sangat kuat berlawanan arah juga menghambat gerak maju langkah kami. Udara yang sangat dingin dan oksigen yang menipis semakin menghambat pergerakan kami, sehingga untuk berbicara pun terasa berat. Bekal air yang kami bawa pun nyaris habis sebelum mencapai puncak.

Akhirnya, sekitar jam 6 pagi Noval lebih dahulu mencapai puncak lalu tidak lama kemudian disusul Angga. Saya baru berhasil mencapai puncak sekitar jam 7 pagi, lalu disusul Insan dan Ari. Cuaca pagi itu benar-benar sedang kurang bersahabat. Mestinya kami sudah menyadari hal itu, bahwa pendakian di bulan-bulan sekitar Desember dan Januari memang beresiko terhadap datangnya cuaca buruk yang tak terduga. Matahari baru 2010 tidak secara jelas dapat kami saksikan, sebab kabut dan awan datang dan pergi menyelimuti kawasan puncak Rinjani. Kami tidak mampu bertahan terlalu lama berada di puncak akibat hawa dingin yang begitu menusuk tulang dan terpaan angin yang sangat kuat. Bahkan Noval harus bersembunyi di balik batu demi menunggu saya yang tertinggal dan menyusulnya ke puncak.

Target awal untuk mengumandangkan adzan Subuh di puncak tidak berhasil kami penuhi, melainkan sholat subuh harus kami tunaikan sebelum mencapai puncak mengingat semakin habisnya waktu menjelang matahari terbit. Ini adalah pengulangan seperti yang pernah kami alami 18 tahun yll. ketika itu saya berduet dengan sahabat saya Riyadi Bakri juga terlambat mencapai puncak Rinjani pada tahun 1991.

“Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) adalah kata pertama yang saya ucapkan ketika akhirnya saya berhasil mencapai puncak bersama Noval yang kembali saya bawa naik setelah bersembunyi menunggu saya. Saya bersyukur telah berhasil mengantarkan Noval, anakku dan sahabat pendaki kecilku, ke puncak Rinjani sesuai dengan janji saya sebelumnya kepadanya.

Subhanallah (maha suci Allah), hanya semangat dan kemauan keras saja yang dapat membawaku ke sana. Semangat dan kemauan keras yang sama yang ingin saya tanamkan kepada Noval bahwa seberapa tinggi pun cita-cita yang dia miliki, tidak ada alasan untuk gagal sepanjang terus tertanam semangat dan kemauan keras untuk mencapainya. Berhenti, menyusun strategi, mengevaluasi, menghimpun kekuatan, adalah bagian dari tahapan untuk mencapai tujuan. Tapi tidak menyerah di tengah jalan. Noval bercerita bahwa sebelum mencapai puncak dia sempat merasa putus asa, “kok enggak sampai-sampai dan rasanya semakin berat, padahal puncak sudah kelihatan…”, Namun kemudian dia bisa melawan rasa putus asanya dengan semangat pantang menyerahnya.

Akhirnya, kepada segenap teman dan sahabat yang senantiasa mendukung, memberi semangat, bahkan memonitor situasi Rinjani, serta turut mendoakan perjalanan pedakian kami ke puncak Rinjani, yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu, baik disampaikan melalui media Facebook, SMS, email, blog, dsb, dengan segala kerendahan hati kami menghaturkan beribu terima kasih atas segenap ketulusan dan kebaikannya yang tak ternilai bagi pendorong semangat kami.

Sepanjang perjalanan kami terus berusaha meng-update status kami di Facebook, namun ternyata tidak semua lokasi dapat dijangkau sinyal tilpun seluler. Demikian halnya kami mohon maaf tidak dapat secara langsung menampilkan foto mengingat kami harus menghemat penggunaan battery Blackberry yang kami gunakan  (bahkan kami sudah menyiapkan sebuah battery cadangan) untuk meng-update status di Facebook. Insya Allah, dokumentasi foto-foto akan kami upload di Facebook secara bertahap, demikian pula akan kami usahakan menuliskan catatan perjalanan pendakian ini.

Terima kasih secara khusus saya sampakan kepada mas Insan, mas Angga dan mas Ari, yang telah membuktikan berhasil menjadi teman seperjalanan yang luar biasa dalam pendakian ke puncak Rinjani menyongsong matahari baru tahun 2010, meski sebenarnya kami baru saling bertemu dan mengenal sesaat sebelum memulai pendakian.

Semoga Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati kita semua, dan bahwa keagungan dan kebesaran-Nya tak kan pernah dapat kita ingkari.

Yogyakarta, 4 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Perjalanan Kembali Ke Jogja

7 Januari 2010

Dari Mataram ke Jogja naik singo, transit di Jakarta 3 jam, njelehi tenan

(Singo : Lion Air)

Setelah sukses berkolaborasi mencapai puncak Rinjani tgl 1-Jan-2010, akhirnya ke-5 pendaki yang baru bertemu tanggal 29 Desember 2009 di Mataram, hari ini masing-masing (Insan, Angga, Ari, Noval dan saya) kembali ke kampungnya dengan jadwalnya masing-masing. “Terima kasih sahabat-sahabat baruku, kalian telah membuktikan sebagai teman sependakian yang luar biasa..”

Alhamdulilllah, jam 12:45 masuk rumah. Bongkar-bongkar backpacks, pisahkan antara pakaian yang kotor dengan yang…….kotor biyangeth! Ibunya sahabat pendaki kecilku siap menerima laundry borongan wal-gratisan plus disediakan konsumsinya… Thanks for ibunya Noval, ketulusanmu tak kan pernah terlupakan oleh Noval (tapi malah oleh Bapaknya…hiks)

Mataram – Yogyakarta, 4 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Para Pendaki Kecil Yang Ruarrr Biasa

10 Juni 2009

IMG_2624_rJanjinya anak-anak akan selalu meng-update bapaknya via SMS… Lha ini sampai malam kok tidak ada kabarnya, padahal mestinya sudah turun gunung dan pasti ada sinyal. Jangan-jangan harus nge-camp di gunung semalam lagi? Ujuk-ujuk masuk SMS : “Lg dlm p’jlanan plg”. Kontan saya tilpun mereka. Suara kecil di seberang sana : “Sudahlah…., bapak tenang aja….”. Dalam hati saya, antara bilang ‘kurang ajar’ & ‘alhamdulillah’ jadi satu… Rupanya kita para ortu ini suka under estimate terhadap anak-anaknya..

(Malam ini menjelang pukul 20:00 WIB, anak-anak itu sampai di rumah dari pendakiannya ke gunung Merbabu sejak berangkat dari Jogja kemarin, sambil cengengesan…. Selamat… selamat…., para pendaki kecil…. Kalian memang ruarrr biasa…)

Yogyakarta, 10 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Noval Berulang Tahun Di Puncak Welirang

14 Oktober 2008
Gunung Welirang (3159 mdpl)

Gunung Welirang (3159 mdpl)

Lebaran H-3 yll, Noval, 14 tahun, kelas 3 SMP, minta ijin kepada bapaknya mau ke Gunung Welirang dan Arjuna di Jatim bersama gurunya. Perjalanan pendakian ini (katanya) dalam rangka survey pendahuluan sebelum dia dan rombongan sekolahnya mendaki berjamaah usai Lebaran.

Sayang, bapaknya tidak mengijinkan. Bukan masalah mendakinya, melainkan karena beberapa alasan “rada gaib”. Pertama, bahwa hari-hari di penghujung bulan Ramadhan, terutama malam harinya adalah “the golden nights” yang teramat sayang untuk dilewatkan kecuali untuk alasan yang sangat mendesak. Dan, mendaki gunung adalah tidak termasuk alasan yang mendesak itu.

Kedua, mendaki gunung di bulan Ramadhan adalah pekerjaan yang cenderung ngoyoworo….., membuang waktu. Peluang untuk gagal puasa lebih besar ketimbang berhasilnya. Lebih dari itu, maslahat (kebaikan) yang bakal diraih dari mendaki gunung di bulan puasa tidak sebanding dengan “nilai gaib” yang dapat dikumpulkan dari ibadah puasa dengan tanpa daki-mendaki.

Akibatnya, Noval mecucu …., cemberut karena kecewa tidak memperoleh ijin bapaknya. Padahal keinginannya begitu menggebu-gebu. Telanjur dia “berkorban” tekun berpuasa, rajin sholat tarawih, menghatamkan tadarus Qur’an sebelum Ramadhan berakhir. Telanjur dia rela tidak dibelikan asesori lebaran yang serba baru melainkan diganti dengan perlengkapan baru untuk mendaki gunung. Tas punggung, baju kaos, matras, lampu darurat, adalah sebagian diantaranya. Namun toh akhirnya bisa menerima juga, setelah Noval berhasil di-rih-rih bapaknya…. ditenangkan dan dijelaskan kenapa-kenapanya.

Tiba hari Lebaran H+5, Noval yang telah ditunjuk untuk membantu gurunya menjadi pendamping bagi tim teman sekolahnya dalam Ekspedisi Welirang – Arjuna 2008, akhirnya diijinkan bapaknya berangkat. Aura wajahnya kembali sumringah….

Pagi hari menjelang pamit berangkat, bapaknya menyempatkan untuk memberi kuliah sekadarnya tentang mendaki gunung. Bagaimanapun juga, briefing semacam ini perlu, dalam rangka memberi wanti-wanti oleh orang tua kepada anaknya. Sekurang-kurangnya sekadar berbagi pengalaman. Kalaupun toh orang tuanya tidak punya pengalaman mendaki gunung, setidak-tidaknya orang tua pasti punya pengalaman hidup. Wong jam hidupnya lebih banyak.

Di mata bapaknya Noval, mendaki gunung adalah kegiatan yang resikonya tergolong tinggi. Karena ketidak-tahuan, kebanyakan anak-anak muda atau pendaki pemula sering menyepelekan hal ini. Bapaknya pun dulu juga berpikir begitu. Dikiranya mendaki gunung hanya soal kuat-kuatan jalan kaki. Padahal banyak aspek perlu diketahui. Yang utama tentu aspek keselamatan.

Belum lagi tentang penanganan perbekalan yang nanti akan digembol di punggungnya. Bagaimana kalau hujan, kalau udara teramat dingin, kalau terpisah dari kelompoknya, kalau tersesat, kalau kemalaman di tengah hutan, kalau kehilangan arah, dsb. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat jarang sempat dipikirkan oleh anak-anak muda atau para pendaki pemula. Tahunya asal kuat jalan sambil menggendong ransel saja.

Meski pengarahan singkat sudah diberikan kepada Noval. Tak urung, bapaknya memonitor perjalanan Noval via ponsel, sejak naik bis dari Jogja menuju Surabaya sampai kembali ke Jogja. Sampai mana? Lagi ngapain? Sedang menuju kemana? ….. Namanya juga orang tua, dan salah satu syarat menjabat sebagai orang tua adalah berani cerewet, meski ini jelas tidak disukai anaknya.

Akhirnya, berhasil juga Noval mencapai puncak gunung Welirang, 3159 mdpl. Hal yang paling membuatnya bangga adalah ketika puncak gunung Welirang dicapainya tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 14, tanggal 8 Oktober 2008. Namun ada sedikit nada kekecewaan, ketika Noval dan timnya batal melanjutkan untuk muncak (istilah kesukaan Noval untuk menyebut menuju ke puncak) gunung Arjuna, 3339 mdpl. Rupanya setelah muncak ke Welirang, cuaca berubah drastis dari yang semula cerah menjadi hujan lebat. Maka rencana muncak ke gunung Arjuna dibatalkan agar jadwal kembali ke Jogja tidak berubah.

***

Pagi masih agak remang di Jogja, angka digital jam menunjukan menjelang jam 5 pagi, sebuah SMS masuk ke HP saya. Bunyinya : “Pak, bukain pin2”. Maka legalah saya. Noval, anak kedua saya, sudah pulang dengan wajah penuh kemenangan. Lalu saat siang hari sambil bersiap-siap tidur balas dendam, Noval berkata : “Tahun baru nanti ke Rinjani, ya pak?”. Mak glek……. air liurku.

Yogyakarta, 13 Oktober 2008
Yusuf Iskandar