Posts Tagged ‘pemilu amerika’

Pemilu Amerika 2008 : Sebuah Penyelesaian Indah

6 November 2008

obama_us_election_r3Tidak sampai 24 jam sejak pemilu presiden Amerika dimulai pada tanggal 4 Nopember 2008, hasilnya sudah dapat diketahui. Dan, pemenangnya adalah Barack Obama. Hal ini ditandai dengan telah dilewatinya batas minimal suara Dewan Pemilih (electoral vote) yang harus dikumpulkan, yaitu 270 suara (dari total 538 suara).

Hingga saat ini, hasil sementara pengumpulan electoral vote adalah 349 untuk Barack Obama dan 163 untuk John McCain, masih menyisakan 11 dan 15 suara masing-masing dari negara bagian Missouri dan North Carolina yang belum selesai dihitung. Sedangkan hasil pengumpulan sementara kartu suara (popular vote), masing-masing adalah  64,058,827 (52%) untuk Barack Obama dan 56,500,053 (46%) untuk John McCain.

Kemenangan mutlak Obama ini menjadikan pemilu presiden Amerika tahun 2008 ini dapat dikatakan telah berlangsung dengan mulus, cepat dan tuntas, tanpa menyisakan ganjalan-ganjalan atau persengketaan yang tidak perlu. Sangat bertolak belakang dengan kejadian pemilu Amerika tahun 2000 yang telah tercatat sebagai pemilu terburuk dalam sejarah Amerika.

Bukan soal kemenangan partai Demokrat, bukan juga soal kecepatan diperolehnya hasil akhir pemilu, melainkan kekalahan partai Republik yang diterima dan disikapi dengan sangat sportif, elegan dan legowo oleh McCain dan kubunya, itulah yang pantas dicontoh dan diambil hikmahnya. Pengakuan kekalahan McCain dan kemudian berbalik menjadi dukungan atas kemenangan Obama, adalah sebuah penyelesaian akhir pemilihan presiden yang sangat indah untuk disaksikan dan dikenang. Bukan demi McCain dan para republikan atau demi Obama dan para demokrat, melainkan demi United States of Amerika, begitu bunyi kata kuncinya.

Barack Obama, sebuah simbol fenomenal dalam perpolitikan Amerika saat ini, seolah mempertontonkan indahnya ke-bhinneka-tunggal-eka-an Amerika. Dunia seolah turut bersuka cita menyambut kemunculannya. Dunia pun seolah turut larut memilikinya, termasuk Indonesia…… (hiks…hiks...).

Sambil harap-harap cemas menunggu sepak dan terjang presiden Obama….. “Nyuwun sewu, mas Obama. Sampeyan ojo lali kalau pernah empat tahun tinggal dan sekolah di Indonesia, lho. Bahkan menurut ngelmu pernah-pernahan-nya orang Jawa, Sampeyan itu juga orang Indonesia. Tapi, kalau soal ke-bhinneka-tunggal-eka-annya Indonesia dan kebiasaan sedulur-sedulur Sampeyan di Indonesia dalam membuat penyelesaian akhir, tolong jangan dicerita-ceritakan kepada warga Sampeyan yo…..Suwun“.

Yogyakarta, 6 Nopember 2008
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000

2 November 2008

Pengantar :

Hari Selasa tanggal 4 Nopember 2008 ini rakyat Amerika akan melangsungkan pesta demokrasi untuk memilih Presiden Amerika ke-44. Dua kandidat presiden telah siap bertarung memperebutkan suara pilihan segenap warga Amerika, yaitu Barack Obama (Partai Demokrat) dan John McCain (Partai Republik). Di atas kertas, dan juga dari hasil jajak pendapat berbagai lembaga independen sebelum pemilu, menunjukkan bahwa Obama lebih unggul dibanding McCain. Siapa yang akan keluar sebagai pemenang dari pacuan presiden Amerika tahun ini? Kita tunggu saja hasilnya.

Barack Obama

Barack Obama

John McCain

John McCain

Sekedar memberi gambaran tentang pemilu presidan Amerika, berikut ini saya ketengahkan catatan lama saya ketika ada pemilihan presiden Amerika tahun 2000, dimana bertarung antara George Bush (Partai Republik) dan Al Gore (Partai Demokrat). Pemilu presiden Amerika tahun 2000 ternyata menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik, karena inilah pemilu Amerika yang sepanjang sejarah Amerika akan tercatat sebagai pemilu yang paling rumit, paling melelahkan dan menjadi catatan buruk sistem demokrasi dalam perpemiluan Amerika. Bahkan media Amerika menjulukinya sebagai pemilu paling ora karuan.

George W. Bush

George W. Bush

Al Gore

Al Gore

Catatan-catatan yang lebih menyerupai reportase itu saya tulis bersambungan dalam 35 bagian saat saya tinggal di New Orleans, dan saya kirim kepada teman-teman di Indonesia mulai tanggal 6 Nopember s/d 14 Desember 2000. Semoga catatan lama ini dapat membantu untuk memahami apa yang terjadi dalam demokrasi sistem pemilu di Amerika.

Yogyakarta, 1 Nopember 2008
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (1)

2 November 2008

New Orleans, 6 Nopember 2000 – 11:00 CST (7 Nopember 2000 – 12:00 WIB)

Hari Selasa besok Amerika punya hajatan Pemilu. Masyarakat Amerika yang mempunyai hak pilih akan menggunakan hak pilihnya melalui mesin-mesin pemungutan suara di berbagai tempat. Di negara bagian (state) Louisiana, tempat-tempat pemungutan suara (TPS) akan mulai dibuka Selasa, 7 Nopember 2000 jam 6:00 pagi (Di Indonesia, Selasa, 7 Nopember 2000, jam 19:00 WIB) hingga ditutup jam 8:00 malam. Namun di beberapa negara bagian lain jam bukanya bervariasi antara jam 6:00 hingga jam 9:00 pagi, demikian halnya jam tutupnya antara jam 6:00 hingga jam 9:00 malam.

Hari Selasa pertama setiap bulan Nopember adalah “Hari Pemilu” di Amerika. Ya Pemilu apa saja : Presiden, anggota Konggres, anggota Senat, Gubernur negara bagian, Kepala Polisi, Kepala-Kepala Departemen, Walikota, Sekwilda, Kepala Kejaksaan, dsb. Tentunya bagi jabatan-jabatan yang pas menjelang berakhir masa jabatannya. Hanya saja tahun ini agak berbeda, sebagaimana setiap empat tahun sekali karena bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan Bill Clinton, yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang baru.

Pada dasarnya besok bukan hari libur nasional, tetapi sekolah-sekolah pada meniadakan kegiatan belajar-mengajar, karena guru-guru dan karyawannya akan meninggalkan sekolah ikut coblosan. Kegiatan perkantoran juga biasanya menghindari agenda-agenda penting di hari itu, karena memberi kesempatan kepada setiap karyawannya yang berhak memilih untuk menuju ke TPS-TPS.

***

Untuk tidak sekedar mengetahui hasilnya saja siapa yang akan jadi pemenang antara pasangan ganda Partai Republik George W. Bush – Dick Cheney melawan pasangan Partai Demokrat Al Gore – Joe Lieberman, ada baiknya kita lihat cara penghitungan suaranya.

Dari jumlah pemilih yang ada di Amerika akan direpresentasikan dengan sejumlah 538 electoral vote (saya tidak tahu apa padanan bahasa Indonesianya yang pas, maka selanjutnya saya sebut saja dengan jatah suara). Ke-538 jatah suara ini tersebar ke seluruh 50 negara bagian yang ada plus ibukota Washington DC. Setiap negara bagian mempunyai jatah suara yang berbeda-beda, tetapi jumlahnya proporsional dengan populasinya dan biasanya juga sama dengan jumlah anggota konggres yang diwakilinya.

Sebagai contoh : negara bagian Montana, Wyoming atau Vermont yang tidak padat penduduknya, hanya mempunyai jatah suara (electoral vote) masing-masing 3 saja. Sebaliknya negara bagian Texas, New York dan California yang padat penduduknya, mempunyai jatah suara (electoral vote) masing-masing 32, 33 dan 54. Sedangkan negara bagian Louisiana dimana saya tinggal, mempunyai jatah suara 9.

Sistem perolehan suara ini umumnya digunakan patokan winner-take-all, artinya siapa kandidat yang menang di sebuah negara bagian (mengantongi jatah suara lebih dari 50%), maka dia berhak memperoleh semua jatah suara dari negara bagian tersebut. Sedangkan yang kalah tidak memperoleh jatah suara. Kecuali negara bagian Nebraska dan Maine yang membagi jatah suaranya berdasarkan distrik perwakilan konggresnya. Lagi-lagi saya tidak tahu pasti kenapa untuk aturan yang bersifat nasional ini, ada juga negara bagian yang ingin mempunyai aturan sendiri. Otonomi dalam berdemokrasi?

Oleh karena itu tidak heran kalau setiap kandidat saling berusaha agar dapat menang di negara bagian yang jatah suaranya banyak, sehingga dengan hanya menang di California misalnya, akan sama artinya dengan menang di beberapa negara bagian sekaligus yang mempunyai jatah suara sedikit.

Dengan demikian, kandidat yang secara nasional dapat mengumpulkan jatah suara (electoral vote) minimal setengah ditambah satu, atau 270 suara, maka dia berhak menjadi pemenangnya. Angka 270 suara adalah jumlah dari pengumpulan jatah suara dari negara-negara bagian yang berhasil dimenanginya.

Meskipun tak seorangpun melihat kemungkinan akan terjadinya hasil seri (269 vs 269), namun jika hal itu terjadi juga, maka pemenangnya akan dipilih oleh perwakilan Kongres dengan setiap perwakilan Kongres mempunyai satu hak suara. 

Dari hitung-hitungan di atas, maka secara teoritis seorang kandidat yang menang di lebih banyak negara bagian belum tentu menjadi pemenang pemilihan jika ternyata dia hanya menang di negara-negara bagian yang jatah suaranya kecil. Sebaliknya seorang kandidat yang menang di lebih sedikit negara bagian tetapi mempunyai jatah suara yang banyak, bisa jadi akan menjadi pemenangnya.

***

Siapa kira-kira yang bakal menjadi pemenangnya? Dari berbagai jajak pendapat hingga hari terakhir ini menunjukkan bahwa persaingan antara George Bush dan Al Gore semakin ketat, meskipun George Bush masih sedikit lebih unggul dalam popularitas. Jajak pendapat gabungan yang dilakukan oleh harian USA Today-CNN-Gallup menunjukkan dalam beberapa hari terakhir ini popularitas George Bush lebih unggul 47%-45% terhadap Al Gore. Padahal beberapa hari sebelumnya popularitas George Bush unggul 48%-43%.

Dari perkiraan angka yang ada hingga hari ini, menurut USA Today, George Bush diperkirakan unggul di sejumlah 26 negara bagian dengan mengumpulkan 224 jatah suara, sedangkan Al Gore unggul di 12 negara bagian dengan 181 jatah suara. Masih ada 12 negara bagian sisanya dengan jatah suara 133 yang mempunyai peluang sama untuk diungguli George Bush maupun Al Gore.

Apakah kira-kira George Bush yang akan jadi pemenangnya? Sejarah membuktikan, pernah terjadi seorang kandidat yang kalah dalam popularitas ternyata berhasil menang dalam pemilihan presiden.

Jadi? Kita lihat saja bagaimana hasilnya besok. Bagi mereka yang berminat, dapat melihat pergerakan angka-angka hasil pemilu ini dari waktu ke waktu melalui beberapa website, diantaranya dengan mengakses ke http://www.usatoday.com atau http://www.cnn.com. Tapi di Indonesia sedang malam hari, ya…. terpaksa baru besoknya bisa melihat hasilnya…..  Mudah-mudahan saya sempat mem-posting hasil pergerakan suaranya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (2)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 13:30 CST (8 Nopember 2000 – 02:30 WIB)

Sehabis istirahat makan siang ini saya sempatkan membuka-buka internet untuk mengetahui bagaimana perkembangan sementara pemilu Amerika hari ini (saya lakukan ini karena saya tertarik dengan pesta demokrasinya rakyat Amerika).

Dari beberapa sumber yang sempat saya akses, ternyata hasil pengumpulan suara tidak langsung dipublikasikan dari waktu ke waktu. Hasil tercepat kelihatannya secara resmi baru dapat diketahui umum pada Selasa sore nanti sekitar jam 05:00 PM waktu Amerika Tengah (Rabu pagi jam 6:00 WIB). Meskipun beberapa media on-line sudah mengabarkan hasil sementara di beberapa kota di wilayah timur Amerika. Diantaranya, George Bush unggul atas Al Gore di sebuah kota kecil Dixville Notch di wilayah negara bagian New Hampshire. Secara tradisional, kota Dixville Notch ini memang menjadi salah satu kota pertama di wilayah Amerika timur yang mengawali coblosan.

Hingga menit terakhir sebelum hari pemilu, ada perkembangan menarik dari popularitas kedua kandidat utama presiden. Menurut jajak pendapat yang dilansir Reuters/MSNBC, popularitas Gore berhasil mengungguli Bush dengan 48% – 46%, sisanya diraih oleh Partai Hijau 5%, Partai Libertarian dan Partai Reformasi masing-masing 0,5%. Sedangkan jajak pendapat yang dilakukan USA Today/CNN/Gallup masih memproyeksikan Bush unggul atas Gore dengan 48% – 46%, dan sisanya dipegang oleh beberapa partai tambahan selain Republik dan Demokrat.

Berapapun pergerakan prosentase popularitas kedua kandidat utama ini, yang tampak jelas adalah bahwa hingga menit-menit terakhir ini belum ada yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi pemenang. Dalam sejarah pemilu di Amerika, sejak sekitar 40 tahun terakhir baru kali inilah berbagai jajak pendapat menunjukkan perbandingan prosentase yang sangat ketat. Berbeda halnya dengan beberapa pemilu sebelumnya, dimana dari berbagai jajak pendapat biasanya sudah tampak perbedaan prosentase yang signifikan sehingga sudah dapat diprediksi siapa yang bakal menang. Karena itu pemilihan presiden kali ini menjadi menarik untuk diperhatikan, termasuk bagi warga masyarakat Amerika sendiri.

Barangkali mirip-mirip dengan apa yang terjadi dalam sejarah pemilu di Indonesia. Orang cenderung untuk tidak terlalu antusias memperhatikan pemilu-pemilu dijaman Orde Baru, lha wong sudah pasti Golkar akan menang mutlak. Berbeda halnya dengan pemilu terakhir tahun 1999 yll, orang penasaran ingin tahu apa yang bakal terjadi, karena tidak ada lagi mayoritas tunggal melainkan adanya perimbangan popularitas partai-partai besarnya.

***

Apa komitmen politik yang dibawa Bush dan Gore untuk menarik simpati rakyat Amerika agar memilih mereka? Bush mengatakan : “I’m a uniter, not a devider” (Saya adalah pemersatu, bukan pemecah-belah). Gore mengatakan : “I will move country forward” (Saya akan membawa negeri ini melangkah ke depan).

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah : Apakah lalu masyarakat Amerika tertarik untuk memilih satu di antara kandidat yang ada, atau dengan kata lain apakah semua warga negara Amerika yang berhak memilih akan menggunakan hak pilihnya? Ini salah satu pertanyaan yang menarik, karena selama ini kita di Indonesia seringkali menjadikan tingkat kepedulian atau kesadaran berdemokrasi di negara maju sebagai acuan. Setiap kali kita bicara tentang pendidikan politik atau demokrasi, seringkali menggunakan negara maju sebagai acuannya, di antaranya ya Amerika ini.

Dalam sejarah pemilu di Indonesia, rata-rata di atas 90% warga masyarakat yang berhak memilih akan datang ke TPS-TPS untuk memberikan hak suaranya, baik untuk memilih maupun untuk tidak memilih alias golput. Di Amerika, bisa mencapai angka 70% adalah prestasi politik yang suuuangat bagus. Dua pemilu terakhir, tahun 1992 dan 1996, hanya sekitar 55% dan 49% saja warga yang mempunyai hak suara menyalurkan suaranya untuk memilih. Tahun 1996 adalah prosentase terburuk sejak tahun 1924.

Maka muncullah analogi berpikir coro bodon (cara bodoh) di otak saya : kalau begitu siapa sebenarnya yang tingkat pendidikan atau kesadaran berpolitik atau berdemokrasinya lebih tinggi? Siapa yang “lebih sadar” dan siapa yang “lebih tidak sadar” (atau semaput) dalam berdemokrasi?

Memang tidak sesederhana itu analoginya. Sebagai hasil pembangunan demokrasi dalam kehidupan masyarakat Amerika yang semakin mapan, maka masyarakat Amerika menjadi cuek dengan pemilu. Siapapun presidennya ya tidak ada bedanya, akan begitu-begitu juga dampaknya bagi “nasib” mereka. Demikian barangkali salah satu alasan yang dimiliki oleh separuh dari masyarakat Amerika yang berhak memilih tapi tidak menggunakan hak pilihnya.

Kok, kedengarannya sama seperti sikap skeptisnya para golput yang pernah ada di Indonesia. Jadi, pola kehidupan politik dan demokrasi di negara maju dan negara berkembang apakah berarti ya sami mawon (sama saja)?. Alasan di atas memang baru satu dari seribu yang mungkin ada. Saya tidak tahu 999 alasan lainnya yang bisa jadi akan menggugurkan kesimpulan di atas.

Yusuf Iskandar