Posts Tagged ‘pecel lele’

Ketika Anak Lanang “Berbisnis”

25 Oktober 2010

Anak lanang datang ke toko, ikut makan pecel lele. Tapi pulangnya mbungkus untuk dikasihkan kakaknya. Rupanya dia sedang “berbisnis”. Tadi kakaknya nitip uang 10 ribu minta dibelikan makan. Menu pecel lele pun diberikan, tapi uang yang 10 ribu masuk saku.

Anak lanang bukan tidak jujur, hanya tidak mengatakan yang sebenarnya. Memang tidak ada yang dirugikan. Ketika kukirim SMS bahwa kakaknya tanya uang yang 10 ribu, jawabnya: “Kekekekek…”.

Yogyakarta, 21 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Pesta Pecel Lele

25 Oktober 2010

Pagi-pagi mancing lele di kolam belakang toko. Itu yang tadi dilakukan seorang pegawai toko Madurejo, Jogja. Maka siang ini semua pegawai pesta pora makan siang dengan pecel lele sepuasnya. Pemiliknya juga…(kalau ini wajib). Lalapan mentimun, tomat dan daun kemangi yang dipetik di pinggiran sawah yang daunnya lebar-lebar.

Order kerja spesial untuk besok, besoknya dan besoknya besok, masih sama: Lanjutkan pestanya, habiskan lelenya…!

Yogyakarta, 21 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Kolam Lele ‘Taman Sari’ Madurejo

24 Mei 2010

Kolam di belakang toko saya lama tak terurus. Kini sudah dirapikan. Kalau difoto keindahan lanskapnya mirip Taman Sari (padahal Taman Sari nggak mirip sama sekali dengan kolam ini… Maka sebaiknya lihat di fotonya saja).

Saya belikan 500 ekor bibit lele ukuran jari @Rp100,-/ekor, sekedar tanda bahwa kolam itu ada penghuninya. Enam minggu lagi siap untuk pesta pecel lele. Sak mblengere… (sampai kenyang). Silakan bawa bumbu sendiri dan nangkap lele sendiri…

(Tentu saja, kolam yang ada di belakang toko saya ini bukan ‘Taman Sari’ dalam arti sebenarnya, melainkan sekedar sebuah kolam ikan lele dimana saya sebagai pemiliknya bangga menyebutkannya bak sebuah Taman Sari… — Toko saya itu, “Madurejo Swalayan” berlokasi di Jl. Prambanan – Piyungan Km. 5, Sleman, Yogyakarta)

Madurejo – Sleman, 18 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Pecel Lele “Sabar Menanti”

16 April 2008

Maaf, bukannya mau ngiming-imingi, tapi makan itu memang enak dan perlu. Kali ini info pilihan makan untuk kondisi ingin cepat, enak dan murah. Suatu ketika Anda sedang dalam perjalanan menuju Yogya dari arah timur, perut keroncongan, bingung dan malas untuk blusukan mencari-cari restoran yang enak. Maka rumah makan “Sabar Menanti” bisa menjadi jujugan yang tidak akan mengecewakan. Lokasinya di pinggir jalan raya dan mudah dicapai.

Kalau dari arah timur mau masuk Yogya, lokasinya kira-kira 500 meter sebelum pertigaan bandara Adisutjipto, sebelah kiri atau selatan jalan sebelum tikungan. Kalau dari arah Yogya, ya kebalikannya to……, kira-kira 500 meter setelah pertigaan bandara Adisutjipto, setelah tikungan, di sisi kanan jalan. Ada puluhan bahkan ratusan rumah makan di sepanjang jalan Yogya – Solo, dan Sabar Menanti layak dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan.

Di antara kelebihannya adalah pelayananan yang cepat, karena self-service. Tidak sesuai dengan namanya, di rumah makan ini Anda tidak perlu menanti berlama-lama untuk makan. Pasalnya, diterapkan sistem prasmanan….. Jadi ingat seperti jaman kost di Bandung belasan tahun yang lalu : masuk, ambil piring, ambil nasi-lauk-sayur, dihitung kasir, bayar, makan, pulang. Kalau perlu tanpa ngomong sepatah kata pun.

Kelebihan yang kedua, tersedia segala macam masakan. Ibaratnya, kepingin menu apa saja ada. Tinggal ambil sedikit atau sebanyak yang dimaui, lalu ditunjukkan kepada petugas kasir, maka kasir akan menghitung harganya. Untuk menu-menu tertentu perlu pesan dulu, biasanya tidak harus menunggu lama. Ketersediaan menunya lebih komplit dibanding rumah makan padang.

Kelebihan ketiga, lha ini yang penting……, ada menu istimewa yang jangan dilewatkan, yaitu pecel lele plus lalapan sambal terasi dan oseng-oseng cabai hijau. Sueeedap sekale. Jangan lupa pesan juga es dawet ndeso. Mak nyesss….. Seprana-seprene makan di restoran, jarang-jarang saya sampai keringatan, hingga terasa gatal di kulit kepala.

Soal harga? Kategori wajar, bahkan cenderung murah untuk “performance” yang seperti pernah saya alami.

Tahun 1985, rumah makan ini sebenarnya hanya berupa gubuk reot di sisi utara jalan. Jadi ampiran para buruh, pegawai dan sopir-sopir. Eh, lha kok sekarang sudah berdiri magrong-magrong tepat di seberang jalan dari gubuknya yang lama, yang kini masih terlihat sosoknya. Ketika siang itu saya mampir untuk makan siang menjelang sore, di sana masih terlihat banyak kendaraan berplat nomor luar Yogya. Rupanya rombongan keluarga yang baru melakukan perjalanan liburan. Itulah, menilik lokasinya memang cocok menjadi salah satu pilihan untuk tempat singgah makan yang cepat, enak dan murah. Suasana makannya bukan seperti makan lesehan bersuasana pedesaan, melainkan suasana restoran.

Entah pemicu kesuksesan macam apa yang dialami oleh pemilik resto “Sabar Menanti” ini. Namun kalau menilik perjalanan rentang waktu yang dilaluinya, pasti karena keuletan dan kesabaran saja yang jadi kuncinya.

Jadi, kalau lagi jalan-jalan menuju Yogya dan ingin segera cari makan yang cepat, enak dan murah? Monggo……., “Sabar Menanti” bisa jadi pilihan. (Jangan lupa ya? Pecel lele dan oseng-oseng lombok hijaunya hueenak tenan…..).

Wis, ah….

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 23 Juli 2004.