Posts Tagged ‘pasar paing’

Sate Kambing Warung â€˜Baskom’

10 Juli 2010

Sore-sore pulang dari toko, lha kok ‘boss’ saya ngajak nyate. Ya jelas, mau..mau..mau..! Mampirlah di warung ‘Baskom’ (bakso komplit) depan pasar Paing, Jl. Jogja-Wonosari km 9. Makan siang yang terlambat dengan menu 1 porsi sate kambing + 1 porsi tongseng kepala kambing, whaaa.… Lha ternyata ini malam Jum’at to

Habis makan saya tolah-toleh, rupanya semua sudah masuk tembolok, termasuk punya ‘boss’ yang tidak habis dilahap…

(Tentang rasanya, sebenarnya standar saja, sebanding dengan harganya)

Yogyakarta, 8 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Kambing Muda “Pujaing”

16 April 2008

Eh, lha ternyata masih ada pilihan tempat makan lainnya, kali ini di sisi tenggara Yogyakarta, bagi Anda yang bosan dengan suasana restoran. Jika Anda sedang dalam perjalanan dari Yogya menuju Piyungan atau Wonosari, atau sebaliknya sedang menuju Yogya dari arah Wonosari, maka ada pilihan tempat makan pinggir jalan yag dapat dipertimbangkan.

Namanya “Pujaing”, kependekan dari Pusat Jajan Pasar Paing, karena letaknya persis di depan pasar Paing, Tegalsari, Jalan Wonosari Km 8,5. Kalau dari arah Yogya letaknya di sisi kanan jalan, sekitar 1,5 km sebelum Taman Rekreasi Kid’s Fun.

Bagi yang belum pernah tahu Kid’s Fun, ini adalah taman bermain untuk anak-anak. Konon pemiliknya adalah mantan KSAD, HS. Subagyo (entah benar, entah tidak). Saya tidak ingin cerita lebih jauh tentang Kid’s Fun karena memang tidak ada yang istimewa tentang tempat bermain ini. Tempat ini sebenarnya pernah menjadi pilihan para orang tua di Yogya untuk menggiring anak-anaknya berekreasi dengan aneka sarana hiburan dan bermain. Namun belakangan agak turun pamornya. Maklum untuk ukuran Yogya, untuk bermain di tempat ini diperlukan biaya yang tergolong mahal bagi masyarakat umum Yogya.

Kembali ke “Pujaing” tadi, ngomongin soal makan terasa lebih nyem-nyem…… Meskipun disebut oleh pemiliknya sebagai pusat jajan, jangan dibayangkan seperti yang ada di kota-kota besar. “Pujaing” ini hanya sekedar warung di pinggir jalan yang ukurannya agak lebar, yang di sana tersedia beberapa pilihan makanan yang digelar bersama-sama di satu warung. Jadi suasananya ya suasana makan di warung pinggir jalan. Sederhana saja.

Yang khas, jenis makanan yang disediakan punya nama yang luar biasa, maksudnya di luar kebiasaan. Misalnya ada baskom (yang ini jelas bukan sejenis wadah yang terbuat dari alumunium), tapi entah rumusan tata bahasa dari mana hingga baskom ini ternyata singkatan dari bakso kumis. Tapi dijamin kalau Anda pesan bakso ini tidak akan dicampur dengan kumis penjualnya. Barangkali sekedar julukan bagi penjualnya, Pak Kumis.

Ada lagi, mie pitik. Ya, benar-benar disebut pitik (bahasa Jawa yang artinya ayam). Lalu ada soto babat, es teler, sate atau tongseng kempol kambing muda. Lagi-lagi, dipilih sebutan kempol (bahasa Jawa yang artinya paha). Dengan menyebut kempol memang terkesan lebih mantap ketimbang menyebut paha.

Bagi mereka yang suka mengembik alias penggemar daging kambing muda, barangkali mampir ke “Pujaing” tidak ada salahnya dicoba. Ihwal kambing muda ini memang susah dibuktikan, mudah-mudahan benar. Lha, wong umur seseorang di KTP yang ada fotonya saja mudah dimanipulasi, apalagi kambing yang tidak pernah punya KTP dan tidak terlihat prejengan-nya (profil wajahnya).

Jika sudah memilih jenis makanannya, maka tinggal pesan atau jika ingin lebih puas dapat juga langsung mendatangi counter (baca : gerobak) masing-masing.

Soal rasa, menurut lidah saya bisa ber-rating “enak” saja. Namun kalau memperhatikan cukup banyaknya pengunjung yang mampir ke warung “Pujaing” ini, nampaknya bagi lidah orang lain bisa tergolong “enak banget”. Jika penilaian ini benar, memang pas sekali dengan motto yang disandang warung ini, yang berbunyi : “Dijamin uenak tenan” (saya tulis sesuai tulisan aslinya).

Selebihnya, terserah Anda. Paling tidak, “Pujaing” ini dapat menjadi pilihan makan siang yang tidak mengecewakan. Nyatanya anak saya sampai menghabiskan dua baskom, maksudnya dua mangkok baksonya.

Siapa tahu Anda kesasar ke jalan Wonosari……… Monggo, kalau mau mampir di warung “Pujaing” sambil mengingat-ingat jalan pulang.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 24 Juli 2004.