Posts Tagged ‘paris’

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

Pengantar :

Dalam rangka melakukan perjalanan pindahan pulang kembali ke kampung halaman dari New Orleans menuju ke Yogyakarta, kami sekeluarga menyempatkan untuk menyinggahi beberapa tempat di Eropa (12 – 19 Juli 2001).

Beberapa catatan kecil selama melakukan perjalanan ini semula ingin saya usahakan untuk dapat menceriterakannya secara langsung. Namun sayangnya saya sering mengalami kesulitan untuk melakukan koneksi ke internet dari hotel. Entah apa sebabnya, yang jelas saya menjadi malas untuk mengkutak-katik di saat (biasanya) sudah kecapekan.

Sekedar ingin berbagi ceritera.-

(1).   Tiba Di Bandara Charles de-Gaulle Paris
(2).   Berhujan-hujan Sore Di Chatelet
(3).   Salah Membaca Peta
(4).   Menyusuri Jalan-jalan Kota Paris
(5).   Menyaksikan Pesta Kembang Api Di Menara Eiffel
(6).   Mendaki Tangga Menara Eiffel
(7).   Salah Masuk Gerbong Kereta Di Stasiun Le Gare Du Nord
(8).   Tiba Di Stasiun Amsterdam Centraal
(9).   Melihat Kincir Angin Dan Sepatu Kayu Di Zaanse Schaan

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(1).   Tiba Di Bandara Charles de-Gaulle Paris

Sekitar tengah hari Jum’at, 13 Juli 2001, kami sekeluarga tiba di bandar udara internasional Charles de-Gaulle, Paris. Perjalanan panjang sekitar 12 jam dari New Orleans setelah transit di Atlanta lalu menuju Paris dengan pesawat Air France dengan rute menyeberangi Samudra Atlantik baru saja kami jalani. Anak-anak terlihat kelelahan, ya maklum sebagai akibat dari perbedaan waktu maju 6 jam sejak kami meninggalkan New Orleans kemarin sorenya.

Ini adalah perjalanan pulang kembali ke kampung halaman yang telah kami tinggalkan sejak lebih dua tahun yll. Dengan kata lain maka perjalanan ini sebenarnya dalam rangka pindahan dari New Orleans ke Yogyakarta. Wong namanya pindahan, maka meskipun sebagian besar barang-barang sudah dikirim via jasa pengiriman, tetap saja masih tersisa banyak barang bawaan yang mesti benar-benar dibawa. Jadinya tak terhindarkan, akhirnya masih ada empat tas besar yang cukup berat yang harus menyertai perjalanan kami. 

Padahal kami merencanakan perjalanan ini akan melewati rute Eropa sambil singgah beberapa hari jalan-jalan di Perancis dan Belanda. Keinginan semula sebenarnya tidak hanya Perancis dan Belanda, melainkan juga beberapa negara Eropa lainnya. Namun sayang, saya dibatasi oleh waktu karena ada beberapa agenda bisnis yang mesti dijalani. Belum lagi keterbatasan waktu untuk mengurus visa.

Ada yang sangat kami sesali. Rencananya selain mampir ke Eropa, kami juga berniat untuk mampir ke Arab Saudi guna menjalankan ibadah umroh. Namun diluar yang saya perhitungkan sebelumnya bahwa tahun ini Arab Saudi menerapkan aturan baru tentang permohonan visa umroh yang ternyata cukup rumit dan memakan waktu.

Tahun lalu pengurusan visa umroh ini bisa diselesaikan 1-2 hari langsung ke konsulat Arab Saudi, sebagaimana juga berlaku bagi pengurusan visa negara-negara lain. Tetapi dengan aturan yang baru ini (kata petugas agen perjalanan yang ditunjuk oleh pemerintah Saudi, dan “sialnya” hanya agen perjalanan itulah menurut aturan yang baru sebagai satu-satunya yang diberi ijin guna pengurusan visa Arab Saudi) perlu waktu 1-2 minggu.

Well, waktu keberangkatan sudah mendesak, itupun sudah saya undur-undur dengan harapan masih cukup waktu untuk mengurus visa, akhirnya tidak selesai juga. Dengan perasaan sangat menyesal akhirnya paspor dan segala macam dokumen permohnan visa saya tarik kembali karena mesti segera berangkat meninggalkan New Orleans. Kata para sesepuh : barangkali memang belum saatnya dipanggil oleh Allah untuk datang ke rumah-Nya.

***

Tiba di bandar udara Charles de-Gaulle, Jum’at tengah hari dalam cuaca kota Paris yang muram akibat langit tertutup awan serta turunnya hujan kecil. Keluar dari bandara kami beristirahat cukup lama di halaman depannya. Tidak mudah untuk memperoleh angkutan menuju hotel yang mampu mengangkut kami berempat plus empat buah tas besar dan berat.

Taksi biasa tentu terlalu kecil. Shuttle bus tidak melewati hotel yang kami tuju, pasti akan merepotkan kalau kemudian harus naik taksi lagi. Akhirnya ketemu dengan sarana angkutan shuttle van, itupun setelah setuju bahwa pembayarannya dalam uang US dollar. Saya memang tidak siap dengan uang Franc yang cukup. Mau menukar uang dulu, ternyata di depan loket tempat penukaran uang yang ada di dekat situ sudah penuh orang yang antri dan bergerak sangat lambat.

Kurang dari 30 menit perjalanan, kami sudah tiba di hotel yang memang sudah kami pesan sejak di USA. Berbenah sejenak di dalam kamar hotel, kami lalu memutuskan untuk keluar jalan-jalan. Atas rekomendasi petugas hotel, untuk sore itu kami naik taksi menuju ke Chatelet. Chatelet adalah salah satu kompleks perbelanjaan di kota Paris.

***

Ketika berada di dalam taksi, serasa baru sadar bahwa saya sedang berada di negeri Perancis. Pasalnya, pak sopir taksi ternyata tidak bisa berbahasa Inggris. Anak laki-laki saya mengistilahkannya sebagai : “this is another country” dan karena itu bahasanya berbeda, yang maksudnya adalah bukan bahasa Inggris sebagaimana yang dia dengar selama lebih dua tahun ini.

Wah, agak repot juga. Dengan bekal pengetahuan bahasa Perancis yang sepotong-sepotong dan selembar peta sebagai peraga, plus “bahasa Tarzan” jika perlu, akhirnya dapat juga terbentuk sebuah komunikasi dengan pak sopir taksi. Sejak itu saya memutuskan bahwa setiap kali keluar dari hotel maka peta dan catatan alamat hotel tidak boleh lepas karena akan sangat membantu. Tidak cukup dengan menghafal, karena salah melafalkan ejaan bahasa Perancis dengan ejaan bahasa Inggris bisa saja menyebabkan miskomunikasi.

Sempat juga saya heran pada diri sendiri. Lebih 15 tahun yll, saat masih di pertengahan kuliah, saya pernah kursus bahasa Perancis di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) di Yogya. Kala itu, kalau saya ditanya kenapa ambil kursus bahasa Perancis dan bukan Inggris, atau kenapa bukan kursus-kursus yang lain, maka terus terang saya sendiri tidak tahu jawabannya.

Ya begitu saja, ingin kursus lalu daftar dan hadir seminggu dua kali. Meskipun di hati kecil saya ada terselip khayalan bahwa suatu saat nanti saya ingin pergi ke Perancis. Kapan dan untuk apa? Saya tidak tahu. Ya, sekedar khayalan masa muda yang (pada masa itu) bisa jadi akan ditertawakan orang kalau saya ceriterakan kepada orang lain.

Namun seperti yang sering saya selipkan dalam catatan-catatan saya yang lain, bahwa saya banyak menyimpan hal-hal yang tak terduga. Hal-hal yang semula sekedar khayalan atau impian kosong, kelak sekian belas atau puluh tahun kemudian ternyata menjadi kenyataan, tanpa sedikitpun pernah saya rencanakan.

Hanya ada satu ungkapan yang paling tepat untuk menyebut kejadian-kejadian semacam ini, yaitu bahwa Tuhan akan mencatat setiap niat baik mahluknya dan Tuhan pula akan membantu mewujudkannya dalam kesempatan dan kenyataan yang tak terduga.-

Yusuf Iskandar  

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(3).   Salah Membaca Peta

Kemarin malam, 13 Juli 2001, saya hanya sempat membuat catatan-catatan kecil tentang perjalanan menyinggahi Paris dalam rangka perjalanan pulang ke kampung halaman. Sudah terlalu ngantuk untuk mencoba mengakses internet. Jadi, saya lanjutkan saja membuat catatan-catatan untuk entah kapan akan dapat berbagi ceritera kepada rekan-rekan saya.

Hari Sabtu pagi, 14 Juli 2001, menurut rencana kami akan berjalan-jalan menuju ke pusat kota Paris guna menyaksikan parade militer besar-besaran dalam rangka perayaan Bastille Day. Informasi awal ini saya terima dari pak sopir taksi malam sebelumnya.

Dari harian “Le Parisien” baru saya ketahui dengan lebih lengkap informasi tentang lokasi parade dan apa saja agendanya, termasuk jenis-jenis peralatan perang yang akan diperagakan. Di antaranya disebutkan bahwa parade militer akan diikuti oleh lebih 5.000 pasukan lengkap dengan peralatan dan kendaraan-kendaraan tempur. Di atas langit akan melintas lebih 100 pesawat tempur.

Tenntu saja saya tidak memahami ceritera selengkapnya dari berita koran itu, melainkan dengan mereka-reka berdasarkan beberapa kata kunci berbahasa Perancis yang kebetulan saya pahami artinya. Dari koran itu pula saya ketahui bahwa dalam beberapa hari ini Paris akan bercuaca mendung dengan sedikit peluang matahari akan memancarkan sinarnya.

Parade militer dijadwalkan dimulai jam 10:30 pagi. Akan tetapi rupanya hujan deras mengguyur Paris pagi itu, termasuk di lokasi parade di jalan Avenue des Champs Elysees sepanjang kira-kira 2,5 km yang membentang dari lapangan Place Charles de-Gaulle dimana terdapat tugu atau plengkung Arc de Triomphe hingga ke lapangan Place de la Concorde (anak laki-laki saya suka sekali menyebut nama yang terakhir ini dalam lafal Perancis sambil tertawa, kedengaran lucu katanya).

Di seputaran lapangan Place de la Concorde didirikan panggung kehormatan, dimana antara lain Presiden Perancis Jacques Chirac akan menyambut parade militer dari tribun utama. Masyarakat yang ingin turut menyaksikan parade militer biasanya berjajar di sepanjang jalan protocol Champs Elysees yang cukup lebar untuk ukuran kota Paris.

***

Karena hujan turun cukup deras maka kami mengurungkan niat untuk menuju ke arena parade militer, melainkan cukup dengan menyaksikannya melalui layar televisi di kamar hotel. Acara parade militer pun kelihatannya berlangsung tidak sepenuhnya seperti dijadwalkan semula karena sebagian peragaan mesin-mesin perang dibatalkan dari agenda, terutama atraksi pesawat-pesawat tempur. Ya dapat dipahami jika mengingat cuaca yang memang tidak mendukung untuk itu.

Baru sekitar tengah hari hujan agak mereda. Kami lalu memutuskan untuk segera keluar dari kamar hotel. Dengan taksi, yang lagi-lagi pak sopirnya tidak paham bahasa Inggris, kami berniat menuju ke jalan Champs Elysees. Namun dari penjelasan sopir taksi yang sesekali terselip penggalan-penggalan kata bahasa Inggris, saya menangkap bahwa jalan-jalan yang menuju ke sana ditutup untuk lalulintas umum. Akhirnya saya putuskan untuk beralih menuju ke pusat perbelanjaan Galeries Lafayette.

Galeries Lafayette dan sekitarnya adalah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Paris. Meskipun sebagian toko-tokonya tutup pada hari Sabtu ini, namun masih ada sebagian yang buka seperti biasa. Di situlah kami jalan-jalan sambil melihat-lihat berbagai barang bermerek yang selama ini nama bekennya hanya mungkin dijumpai di pusat perbelanjaan bergengsi di Jakarta.

Semakin siang cuaca berubah menjadi cerah, meskipun langit masih berawan namun tidak lagi hujan. Ini tentu menguntungkan bagi para pejalan kaki, setidak-tidaknya tidak terlalu berkeringat jika ingin jalan-jalan menyusuri kota Paris di saat sedang musim panas.

Menurut rencana, kami benar-benar ingin berjalan kaki menyusuri kota Paris. Dengan berbekal peta kota Paris, dari Galeries Lafayette yang berada di jalan Boulevard Haussmann kami akan menuju ke plengkung Arc de Triomphe di arah barat, melalui jalan Rue du Faubourg Saint Honore dan jalan Avenue des Champs Elysees.

Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menyusuri jalan-jalan kota Paris dengan cukup berbekal selembar peta. Di sepanjang jalan di lokasi-lokasi pemberhentian bis kota dan di jalan turun yang menuju ke stasiun kereta bawah tanah biasanya juga terpasang peta. Bukan pemandangan yang aneh kalau di setiap tempat-tempat itu selalu ada para pejalan kaki yang sedang mencocokkan peta yang dibawanya dengan lokasi dimana dia berada.

Hanya diperlukan kejelian saja untuk terhindar dari salah jalan atau kesasar, kalaupun itu terjadi juga maka tidak terlalu sulit untuk menemukan kembali arah jalan yang dimaksud. Akibat ketidak-jelian juga yang menyebabkan kami salah arah siang itu. Saat menyusuri jalan Boulevard Haussmann yang seharusnya menuju ke arah barat, saya salah membaca peta sehingga terlanjur berjalan cukup jauh ke arah timur.

Kesalahan ini terutama disebabkan oleh tidak-mudahnya saya mengingat nama-nama persimpangan jalan-jalan kecil berejaan Perancis dan kurang menguasai arah mata angin. Akhirnya terpaksa mengambil arah kembali menuju ke arah barat melalui jalan yang sama. Meskipun saya diprotes oleh istri dan anak-anak saya akibat tidak berhasil menjadi pemandu yang baik, tetapi kami jadi berkesempatan melihat banyak wajah kota Paris.-

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(4).   Berjalan Kaki Menyusuri Kota Paris  

Setelah kebablasan lebih satu kilometer ke arah timur, kami lalu berbalik arah menuju barat. Hari Sabtu, 14 Juli 2001, waktu sudah menunjukkan lebih jam 3:00 siang, saat kami kembali berjalan menyusuri jalan Boulevard Poissonniere dan Montmartre yang merupakan sambungan dari jalan Boulevard Haussmann.

Kami lalu berjalan melewati jalan pintas yang menuju ke lapangan Place Vendome melewati simpang tujuh di lapangan Place de l’Opera yang berada tepat di depan gedung opera yang tampak sebagai sebuah bangunan tinggi dan kokoh berarsitektur kuno. Bangunan-bangunan kuno sejenis ini sangat banyak dijumpai di Paris dan umumnya masih berfungsi dan tampak terawat dengan baik.

Ketika berada di tengah-tengah simpang tujuh ini, terasa sekali akan kepadatan lalu lintas kota Paris. Tak beda dengan kepadatan persimpangan jalan di Jakarta. Saya cenderung mengatakan bahwa perlalulintasan di Paris ini agak semrawut jika mengingat Paris sebagai salah satu kota metropolitan di sebuah negara maju. Jauh sekali berbeda dengan sistem perlalulintasan di Amerika yang serba sangat teratur dengan tingkat kedisiplinan tinggi dari para pemakai jalan.

Tak ubahnya berada di jalanan kota besar negara berkembang, itulah kesan yang saya rasakan. Maka tidak heran kalau di buku-buku panduan wisata selalu diingatkan agar sedapat mungkin menghindari mengendarai kendaraan sendiri di Paris jika belum familiar dengan sistem perlalulintasan di kota ini. Selain karena kepadatannya, juga umumnya jalan-jalan di Paris adalah sempit, satu arah, banyak persimpangan dengan penempatan nama jalan yang tidak mudah dikenali dari jauh, lalu lintas yang berjalan cepat, serta sangat terbatasnya tempat parkir.

Oleh karena itu bisa dipahami kalau di Paris banyak dijumpai mobil-mobil berukuran kecil. Seukuran sedan compact atau yang lebih kecil seperti mobilnya Mr. Bean. Banyak juga dijumpai mobil Renault yang berukuran kecil dan pendek, atau mobil-mobil setipe dengan itu. Berbeda dengan di Amerika yang umumnya orang lebih menyukai mobil-mobil berukuran besar.

***

Setelah berjalan agak ke selatan dari Place de l’Opera, kemudian kami tiba di lapangan Place Vendome. Ini adalah sebuah pelataran luas yang di tengahnya terdapat sebuah tugu tinggi yang di atasnya terpasang patung Napoleon. Pelataran ini dikelilingi oleh dua buah bangunanan kuno bertingkat bergaya Romawi, yang masing-masing berbentuk setengah lingkaran yang dipenuhi oleh sangat banyak pintu dan jendela besar di sepanjang mukanya. Bangunan kuno ini terbelah menjadi dua oleh jalan yang melintas di tengahnya. Beberapa patung berukuran lebih kecil tersebar di seluas pelataran. Burung-burung pun leluasa hinggap di mana-mana.

Keluar dari dari lapangan Place Vendome kami belok ke arah barat masuk menyusuri jalan Rue du Faubourg St. Honore. Kemudian kami tiba di sebuah gereja tua yang di depannya tampak berdiri tiang-tiang besar dan tinggi khas bangunan kuno bergaya Romawi. Ini adalah gereja Madelaine yang memang masih berfungsi sebagai tempat peribadatan. Kawasan ini disebut dengan Place de la Madeleine.

Kami sempatkan untuk beristirahat sejenak di teras gereja ini dan sempat pula masuk ke dalamnya. Memandang ke arah selatan dari teras gereja yang letaknya cukup tinggi ini tampak membentang lurus jalan Rue Royale dengan latar belakang Place de la Concorde di kejauhan.

Dari gereja Madeleine, perjalanan dilanjutkan masih dengan berjalan kaki menyusuri jalan Rue du Faubourg St. Honore ke arah barat. Jalan ini sebenarnya hanya sebuah jalan kecil satu arah dengan sisi kanan dan kirinya termakan sebagai tempat parkir berdesak-desakan. Namun jalan ini terkenal di kalangan para wisatawan karena di sepanjang jalan ini banyak dijumpai pertokoan tempat dimana produk-produk bermerek beken membuka bisnisnya.

Sebut saja mulai dari Pierre Cardin, Gucci, Lancome, Saint-Laurent, Courreges, Laroche, Christian Dior, Hermes, Dupont, Burton, dsb. Bagi mereka yang fanatik dengan produk merek-merek tertentu, maka di jalan inilah tempat yang paling tepat untuk membelanjakan uangnya dan membeli mereknya.

Bahkan jika hanya ingin sekedar untuk melihat-lihat tanpa berniat membeli, maka di sini jugalah tempat yang pas buat melampiaskan kekaguman. Kagum karena harga yang luar biasa, menurut ukuran kebanyakan dari kita. Agak berbeda dengan di Galeries Lafayette dimana produk-produk merek terkenal itu berada di satu lokasi pertokoan, sedangkan di jalan ini masing-masing menyebar di lokasi berbeda-beda di tokonya masing-masing.

***

Sebelum tiba di ujung jalan Rue du Faubourg St. Honore, kami berbelok ke selatan masuk ke jalan raya Avenue des Champs Elysees. Keramaian yang luar biasa ada di penggal barat jalan ini hingga ke plengkung tugu Arc de Triomphe Etoile. Agaknya ini memang salah satu tempat tujuan wisata.

Di kedua sisi utara dan selatan jalan ini sangat ramai pengunjung, baik oleh mereka yang berbelanja, nonton bioskop, atau para pejalan kaki lainnya. Juga mereka yang menikmati makan dan minum di café-café di emperan jalan yang memang banyak menebar di sepanjang jalan ini atau mereka yang sekedar jalan-jalan dan melihat-lihat seperti halnya rombongan keluarga kami. Namun kami sempat mampir di warung makan Quick, yaitu sejenis warung makan cepat saji seperti Mc Donald’s atau Subway di Amerika.  

Akhirnya kami tiba di tugu plengkung Arc de Triomphe Etoile. Ini adalah sebuah bangunan tugu tepat di pusat pertigabelasan jalan, karena paling tidak ada 13 jalan yang berujung di jalan yang melingkari tugu ini. Tugu plengkung ini mirip-mirip plengkung Washington di New York atau plengkung Gading di Yogya. Bedanya adalah tugu ini berukuran lebih besar, tinggi dan tampak kokoh dan artistik, serta ada sarana untuk naik menuju ke bagian atasnya. Plengkung ini sering dimunculkan di kalender dan kartu pos, dan menjadi salah satu simbol kebanggaan kota Paris setelah menara Eiffel. 

Di dekat pertigabelasan jalan ini pun kami sempatkan untuk kembali berhenti beristirahat sejenak. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 20:30, namun matahari masih menampakkan berkas sinarnya di ujung barat menerobos di sela bangunan plengkung Arc de Triomphe Etoile. Kalau saya lihat-lihat di peta, sejak siang tadi kami sudah berjalan kaki menyusuri kota Paris sejauh lebih dari 6 km. Dan acara jalan kaki masih akan dilanjutkan.-

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(7).   Salah Masuk Gerbong Kereta Di Stasiun Le Gare Du Nord

Hari Senin, 16 Juli 2001, adalah hari yang kami jadwalkan untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Amsterdam dengan menggunakan kereta api. Namun kami belum melakukan pemesanan tiket kereta, padahal dari buku-buku wisata selalu disarankan untuk melakukan pemesanan tiket jauh hari sebelumnya. Setelah cari-cari informasi, maka kemudian saya menilpun bagian reservasi kereta api yang untungnya menyediakan sambungan khusus untuk komunikasi berbahasa Inggris.

Jauh dari yang saya bayangkan, ternyata pemesanan tiket kereta dapat dilakukan dengan sangat mudah dan praktis. Cukup dengan menyebutkan kartu kredit sebagai jaminan, lalu saya diberi nomor kode pemesanan. Tinggal nanti menyelesaikan pembayaran saat tiba di loket stasiun dengan menunjukkan kode pemesanan yang telah diberikan via tilpun. Harga tiketnya pun relatif cukup murah. Untuk gerbong kelas dua harganya 503 Fr (sekitar US$ 72) untuk dewasa dan 126 Fr (sekitar US$ 18) untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

Setelah selesai dengan pemesanan tiket kereta untuk perjalanan nanti sore, kami memanfaatkan waktu pagi hari dengan jalan-jalan ke Galeries Lafayette karena ibunya anak-anak berniat hendak berbelanja sesuatu. Mempertimbangkan masih cukup waktu, kami pun meluncur menggunakan taksi.

***

Saat kami meninggalkan hotel di Paris siang harinya dan hendak menuju ke stasiun Le Gare du Nord, sebenarnya kami sempat agak bingung bagaimana harus naik kereta api dengan membawa barang-barang bawaan yang cukup banyak dan berat. Bayangan saya adalah repotnya naik kereta Yogya – Jakarta dengan membawa banyak barang bawaan.

Rupanya kekhawatiran saya terpupus begitu kami turun dari taksi dan semuanya berlangsung begitu mudah. Setidak-tidaknya kami dapat menanganinya sendiri dengan tanpa bantuan porter stasiun. Cukup dengan menyewa kereta dorong (trolly) dua buah dengan harga sewa 12 Fr (sekitar US$ 1,50) sebuahnya, lalu bersama-sama istri dan anak-anak bergotong-royong mendorong barang bawaan masuk menuju ke dalam stasiun.

Di dalam stasiun, sementara istri dan anak-anak menunggui barang bawaan, saya mencari loket karcis (billet). Di loket saya tinggal menunjukkan catatan tentang nomor kode reservasi kereta Thalys yang menuju ke Amsterdam yang tiketnya sudah saya pesan pagi harinya via tilpun dari hotel.

Sekitar 15 menit sebelum jam keberangkatan kereta, di papan petunjuk jadwal kereta yang terpampang besar dan sangat jelas (perlu agak teliti saja mengingat di sana terpampang banyak jadwal kereta api) baru diinformasikan tentang kereta atau sepur nomor berapa yang menuju ke Amsterdam. Barulah kami dan para penumpang lainnya berbondong-bondong menuju ke peron dari nomor sepur (spoor) yang dimaksud.

Rupanya saya kurang teliti melihat nomor gerbong kereta yang tertulis di karcis. Dengan meyakinkan saya bawa segenap rombongan beserta barang-barang bawaan masuk menuju ke gerbong nomor 17. Usai menyusun barang-barang di tempat bagasi yang ada di ujung gerbong, kami lalu menuju ke kursi tempat duduk. Pekerjaan ini sungguh bikin berkeringat mengingat cukup beratnya tas-tas kami. Setelah tolah-toleh, akhirnya ketemu nomor tempat duduk kami. Tapi kok hanya ada dua nomor kursi, padahal kami pesan empat nomor.

Setelah sekian menit kami kebingungan mencari nomor kursi yang “hilang”, barulah saya ingat untuk memeriksa kembali tiket yang saya beli. Wow…, ternyata kami masuk di gerbong yang salah. Seharusnya kami masuk ke gerbong nomor 15. Terlanjur  sudah menaikkan barang-barang yang cukup berat. Sementara di luar sudah terdengar halo-halo bahwa kereta segera akan diberangkatkan yang berarti pintu-pintu otomatis gerbong kereta segera akan ditutup.

Dalam ketergesa-gesaan, saya instruksikan segenap rombongan untuk segera keluar dari gerbong nomor 17 dan bersama-sama lari menuju ke gerbong nomor 15. Sementara biarkan dulu empat buah tas yang cukup berat tetap berada di gerbong 17. Agak ngos-ngosan sambil sedikit cengengesan, akhirnya kami duduk di kursi yang benar sesuai bunyi karcisnya. Soal bagasi, biarlah saya percayakan kepada kereta api.

***

Tepat (dan benar-benar tepat) pukul 16:55 sore, pintu-pintu otomatis gerbong kereta api listrik Thalys meninggalkan stasiun Gare du Nord, Paris, meluncur ke arah utara menuju ke Amsterdam. Menurut jadwal, kereta ini akan tiba di Amsterdam pada pukul 21:07 malam, atau hanya sekitar 4 jam perjalanan. Saya sebut malam karena menyesuaikan dengan sebutan untuk waktu yang sama di Indonesia. Meskipun sebenarnya masih awal dari sore kalau mengingat lokasi Amsterdam yang lebih ke utara dari kota Paris. Jika di Paris matahari baru tenggelam di atas jam 10 malam, maka di Amsterdam pasti lebih malam lagi matahari baru akan terbenam.

Sekitar satu setengah jam meninggalkan Paris, kereta berhenti di stasiun Brussel Zeud, berarti kami sudah meninggalkan negara Perancis dan masuk ke Belgia. Saat kereta berhenti di stasiun Brussel Zeud, saya menyempatkan keluar dari kereta dan menuju ke gerbong nomor 17 untuk memeriksa bagasi saya. Ternyata masih aman di sana.

Setengah jam kemudian kereta berhenti lagi di Antwerpen – Berchem yang merupakan stasiun perlintasan bagi penumpang yang akan berpindah jurusan selain ke Amsterdam. Untuk kedua kalinya ketika kereta berhenti di stasiun Antwerpen – Berchem, saya sekali lagi mengintip bagasi saya, dan memang masih terlihat aman di sana. Akhirnya saya putuskan untuk tidak lagi perlu menengok-nengok. Mudah-mudahan aman sampai kami tiba di stasiun Centraal Amsterdam, doa saya.-

Yusuf Iskandar