Posts Tagged ‘pakem’

Catatan Harian Untuk Merapi (2)

28 Desember 2010

(7). Bantuan Menumpuk Di Posko Tridadi

Siang ini ke Posko Merapi di Tridadi, Sleman, mengedrop bantuan untuk korban bencana Merapi dari Freeport Peduli. Terlihat bertumpuk-tumpuk bantuan bertimbunan. Entah kapan dan bagaimana akan dapat segera disalurkan kepada yang berhak. Semoga semua terbingkai dalam semangat untuk menjalankan amanah, dan tidak harus disertai prasangka…

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——-

(8). Menuju Pos Pengungsian Gulon

Dari Posko Tridadi, Sleman, menuju ke pos pengungsian desa Gulon, kecamatan Salam, kabupaten Magelang. Di pos ini berkumpul lebih 3000 jiwa (sekitar 750 jiwa di antaranya anak-anak, balita, bayi, ibu hamil) yang berasal dari empat desa dari wilayah kecamatan Srumbung. Mereka menghindar dari desanya yang masuk kawasan rawan bencana di sisi baratdaya Merapi. Jumlah pengungsi bertambah setiap saat seiring aktivitas Merapi. Entah sampai kapan mereka ada di sana.

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——-

(9). Pos-pos Yang “Seret” Bantuan

Pos pengungsian desa Gulon ini dipilih setelah sebelumnya di-survey : pos-pos mana yang bantuannya “seret”. Itu biasanya di daerah yang kurang terkenal (baca: jarang disebut media). Bantuan dari luar memang banyak tertuju ke wilayah kecamatan Pakem, karena memang daerah itu yang banyak disebut media. Maka tidak heran kalau pak Lurah Gulon mengeluh permintaan dropping dari “pusat” sangat minim, padahal di sana terlihat menumpuk. Ini yang terkadang menimbulkan prasangka…

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——-

(10). Memasak Martabak Telor

Anak-anak bermain bola, pasir dan berlarian. Orang-orang tua duduk-duduk di bangku menyaksikan. Ada embah-embah bersandar ke dinding sekolah, melamun entah apa. Beberapa orang lainnya ada yang ngobrol, ada yang ML (melamun & leyehan) di ruang-ruang kelas. Sementara ibu-ibu warga desa Gulon lainnya memasak martabak telor yang digoreng di atas cetakan. Bau gorengannya, hmmm… Seorang ibu mempersilakan untuk mencicipi. Tapi, yaa…masak tega… (walau sebenarnya kepingin)

(Sleman, 1 Nopember 2010)

——–

(11). Peduli Merapi

Dengan keterampilannya ber-freestyle bola basket, anak lanang dan teman-temannya menggalang dana peduli Merapi dengan cara demo di mall, tempat keramaian dan  perempatanan jalan (yang terakhir itu saya sarankan untuk distop).

Intinya: siapapun bisa melakukan apapun untuk peduli. So, Anda punya keterampilan? Let’s do something. Tidak harus terampil dengan keterampilan Anda, sedang mereka yang tidak bisa main dan punya gitar pun bisa menggitar di perempatan jalan, dan…dapat uang.

(Yogyakarta, 2 Nopember 2010)

——-

(12). Waspada Abunya

Sementara Awas Merapi, Waspada abunya yang beterbangan… Walau nampaknya udara bersih, tapi beberapa hari ini terasa ada sesuatu di tenggorokan. Ketika pagi meludah atau (maaf) membuang lendir dari tenggorokan, tampak warna kehitaman kotor di ludah atau lendir yang terbuang.

Beruntung tubuh kita ini memiliki sistem penyaringan udara yang bekerja otomatis. Jika tidak, seperti mobilku yang tidak bisa di-start gara-gara bensin macet karena saringannya kotor.

(Yogyakarta, 2 Nopember 2010)

——-

(13). Meningkatkan Ke-Awas-an

AWAS Merapi..! Berarti Merapi harus diawasin… Sejak letusan pertama 26 Oktober yll, semakin hari Merapi semakin bergairah melepas energi erupsinya, membagi abu vulkanik, mengumbar wedhus gembel (awan panas), menggelontor lava menjadi lahar. Letusan hari ini lebih besar. Kawasan rawan bencana pun diprluas. Maka warga di luarnya, seperti Jogja, perlu meningkatkan ke-AWAS-annya. Prinsipnya tetap: anggap bahwa ancaman itu akan benar-benar terjadi, agar tetap waspada…

(Yogyakarta, 3 Nopember 2010)

——-

(14). Jangan Lengah Terhadap Merapi

Kota Yogyakarta berjarak sekitar 30-40 km dari Merapi. Jarak yang secara “teoritis” cukup aman terhadap dampak letusan Merapi. Akan tetapi, ke-WASPADAAN-an, ke-SIAGA-an dan ke-AWAS-an terhadap Merapi tidak boleh lengah. Sebab karakter letusan Merapi tidak terduga, juga dampaknya. Tidak perlu panik, melainkan jangan lengah terhadap kemungkinan situasi yang memburuk dampaknya. God bless you, Jogja… Insya Allah…!

(Yogyakarta, 3 Nopember 2010)

——-

Museum Gunungapi Merapi

23 September 2010

Museum Gunungapi Merapi (MGM), Pakem, Sleman, Jogja. Obyek wisata edukatif yang layak dipertimbangkan untuk dikunjungi. Baru berumur setahun, belum selesai semua, megah, indah, nyaman, informatif, rekreatif, tidak kalah dengan museum di negara maju.

Jika Anda berkunjung, (ada baiknya) sempatkan berdoa sejenak sebelum pulang, agar siapapun yang ngurus museum ini, mereka adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya dan bukan koruptor… “Sumprit.., I luv this museum!”.

(Lokasi : Jl Kaliurang Jogja km-21, setelah Pakem, masuk ke kiri/barat sekitar 2 km, ikuti petunjuk yang ada. Atau, dari Pakem ke kiri/barat mengikuti jalan alternatif menuju Magelang, 3 km kemudian masuk kanan/utara sekitar 6,5 km, ikuti petunjuk yang ada).

Yogyakarta, 19 September 2010
Yusuf Iskandar

Bertanam Buah

27 April 2010

Siang tadi ke Pakem Jogja, beli tanaman buah hasil stek, yang katanya cepat berbuah. Walau kehujanan dan telanjur basah, akhirnya dapat pohon rambutan, mangga, anggur dan kedondong. Mau ditanam di belakang toko, melengkapi sawo dan kelengkeng yang sudah ada.

Maka kalau Anda datang ke toko saya di Madurejo, Jogja, silakan bebas saja memetik buahnya…, kalau sudah berbuah. Kalau ternyata belum, ya belanja saja dulu, sambil nunggu berbuah….

(Seorang teman mengingatkan, rupanya secara kebetulan kesibukan bersih-bersih halaman belakang dan acara tanam-menanam ini bertepatan dengan Hari Bumi, 24 April 2010)

Yogyakarta, 25 April 2010
Yusuf Iskandar

Salak Pondoh Taman Agrowisata

16 April 2008

Ketika sudah kenyang makan segala macam di sana-sini, di Yogya, ada baiknya membeli salak pondoh, baik untuk dimakan sendiri maupun untuk oleh-oleh. Jenis salak khas dari kabupaten Sleman ini memang cukup terkenal (meskipun di daerah lain juga ada, seperti di kabupaten Karanganyar misalnya). Untuk mudahnya, orang sering menyebutnya sebagai salak pondoh Yogya. Rasa salak pondoh yang dapat dibilang selalu manis, kalaupun asam tetap saja asam-asam manis, menjadi keunggulan tersendiri bagi jenis buah salak ini.

Mumpung, atau jika Anda masih berada di kawasan utara Yogya, sempatkan untuk singgah di Taman Agrowisata, Sleman. Selain berekreasi di kawasan yang rimbun pepohonan dan berhawa segar, di sana Anda dapat memperoleh salak pondoh, langsung atau dekat dengan sumbernya.

Kawasan Taman Agrowisata dapat dicapai dari jalan alternatif atau jalan tembus Magelang – Solo di sisi utara Yogya, yaitu jalan yang sama dimana berada rumah makan “Boyong Kalegan”. Kalau dicapai dari arah Pakem, jalan Kaliurang, maka Taman Agrowisata berada setelah kecamatan Turi, dan jika dari arah Tempel, jalan Yogya – Magelang, maka berada kira-kira 5 km dari Tempel, sebelum kecamatan Turi. Ada petunjuk arah cukup jelas. Ikuti saja jalan kecil beraspal yang masuk menuju utara hingga sampai ke pintu masuk Taman Agrowisata.

Taman Agrowisata yang terletak di desa Bangunkerto, kecamatan Turi, kabupaten Sleman, ini dilengkapi dengan fasilitas rekreasi seperti kolam pemancingan, kolam renang, kolam rekreasi dengan sepeda air, taman bermain, taman bunga dsb. Sayangnya, seperti jamaknya taman rekreasi di tempat lain, fasilitas-fasilitas itu kurang terawat dengan baik.

Taman Agrowisata yang luasnya mencakup kawasan ratusan bahkan ribuan hektar, melibatkan tanah-tanah penduduk setempat ini memang dikhususkan untuk kebun salak pondoh. Oleh karena itu di sana kita bisa memetik sendiri salak pondoh langsung dari pohonnya.

Bagi mereka yang tidak sempat memasuki Taman Agrowisata, salak pondoh dapat dibeli di banyak tempat di sentra-sentra penjualan salak pondoh di sepanjang jalur Yogya – Magelang, bahkan di gubuk-gubuk kios pinggir jalan. Tinggal pandai-pandai menawar harga saja. Namun jika sempat pergi ke kawasan Taman Agrowisata, ada keuntungan yang dapat diperoleh. Selain berekreasi, maka ada peluang untuk membeli dengan harga lebih murah. Di sepanjang jalan masuk ke Taman Agrowisata juga banyak dijajakan salak pondoh langsung oleh pemilik kebun di depan rumahnya.

Namun yang utama sebenarnya, di Taman Agrowisata kita bisa memilih salak pondoh yang baru dipetik, yang batangnya masih terlihat kuning kehijauan dan belum kering. Demikian halnya kalau kita kupas kulitnya bagian dalam masih nampak kehijauan dan belum kering.

Salak pondoh ditanam di hampir semua kecamatan di kabupaten Sleman, kecuali Prambanan. Sentra produksinya berada di tiga kecamatan, yaitu Tempel, Pakem dan Turi. Di kecamatan Turi inilah yang paling banyak penduduknya menanam salak pondoh. Produksinya pun dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Kondisi geologi daerah Sleman sebagai daerah hasil pengendapan material erupsi gunung Merapi memang sangat cocok untuk budidaya salak pondoh. Selain faktor cuaca dan suhu sejuk di dataran tinggi, juga adanya unsur sulfur dari material tumpahan aktifitas vulkanis memang sangat mendukung kualitas produksinya.

Dari sekian banyak jenis salak pondoh, yang selama ini dikenal adalah salak pondoh super, salak pondoh kuning (atau coklat) dan salak pondoh hitam. Masing-masing mempunyai ciri-ciri dan rasa yang tipikal.

Ringkasnya, pokoknya salak pondoh itu uenak tenan. Rasa buahnya manis, bahkan tanpa menunggu yang sudah masak pun tetap manis, dan mempunyai kandungan air cukup sehingga tetap terasa segar, tanpa khawatir berasa seret di tenggorokan.

Manisnya salak pondoh memang semanis nilai ekonomis yang dihasilkan petani salak, dibandingkan jika tanah pertaniannya ditanami padi. Tentu, faktor resiko kegagalan tetap harus diperhitungkan. Kejayaan budidaya salak pondoh ini juga ditunjang oleh adanya paguyuban Kelompok Tani, sehingga persaingan usaha yang tidak sehat dapat dihindari. Bahkan para petani dapat saling membantu mengatasi masalah teknis produksi pertanian maupun ekonomis perkembangan dan persaingan pasar.

Kini, produk turunan dari salak pondoh sudah mulai berkembang. Tiba saatnya sentuhan teknologi yang mampu memberi nilai tambah salak pondoh mulai diperhatikan. Jangan heran kalau sekarang Anda jumpai di toko-toko adanya produk turunan salak pondoh seperti dodol salak, emping salak, manisan salak, sirup salak, kue salak, kripik salak, dsb. Untuk produk-produk yang terakhir ini Anda tidak perlu ke Taman Agrowisata.

Jadi, masih ingin yang segar-segar manis langsung dari pohonnya? Monggo, jalan-jalan ke Taman Agrowisata, Sleman.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 26 Juli 2004

Membeli Selera Makan Di Moro Lejar

7 April 2008

Nama Moro Lejar rasanya sudah tidak asing di telinga orang Yogya atau mereka yang sering bepergian ke Yogya. Meskipun mungkin belum berkesempatan mengunjunginya, tapi umumnya kenal dengan nama ini. Ini adalah nama sebuah restoran yang berada di luar kota di sisi utara Yogyakarta. Restoran ini dikenal karena lokasinya yang bernuansa alami dan sajian menunya yang khas.

Lokasinya relatif berada di daerah pegunungan, meskipun sebenarnya masih jauh di kaki timur gunung Merapi. Namun setidak-tidaknya pemandangan alam di sekitarnya memberi nuansa alam pegunungan. Cara termudah untuk mencapainya adalah melalui jalan Kaliurang menuju utara ke arah Pakem. Menjelang tiba di pusat kota (kalau boleh disebut kota) Pakem, ada persimpangan jalan yang membelok ke kanan menuju ke timur yang merupakan jalan alternatif menuju kota Solo. Sekitar 3-4 km menyusuri jalan ini maka akan ketemu dengan restoran Moro Lejar.

Kalau misalnya dari Pakem salah jalan dan lalu mengambil persimpangan yang membelok ke kiri yang merupakan jalan alternatif menuju Magelang, maka di sana juga ada dua restoran sejenis. Tapi entah kenapa Moro Lejar lebih punya nama. Mungkin karena restoran ini yang pertama kali berdiri dan sukses, sehingga ditiru orang.

***

Sajian menu khas yang disediakan antara lain menu ikan air tawar, sayur asam, lalapan lengkap dengan sambal terasi, serta aneka minuman. Ada pilihan ikan segar gurami, emas, nila atau bawal, lalu tinggal minta mau digoreng atau dibakar, dibumbui asam pedas atau asam manis, dengan ukuran sajian kecil hingga super besar.

Salah satu jenis minuman yang khas adalah bir “plethok”, bir yang tidak mengandung alkohol. Minuman ini sebenarnya adalah sejenis minuman penghangat seperti halnya wedang jahe, sekoteng atau bajigur. Bir “plethok” terbuat dari sari jahe, gula, bijih bunga selasih dan sejenis akar-akaran yang membuatnya berwarna merah (saya lupa namanya dan beberapa pelayannya ternyata tidak mampu menyebut nama akar-akaran ini ketika saya tanya).

Setiap hari restoran ini buka hingga jam 21:00 malam sehingga cukup leluasa bagi mereka yang datang dari luar kota. Jumlah pengunjungnya pun tergolong luar biasa banyaknya, apalagi kalau musim liburan. Di sana terdapat puluhan gubug (saung) yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar yang sengaja dibuat di lereng permukaan tanah yang konturnya berteras-teras. Umumnya pengunjung makan sambil duduk lesehan seperti gudeg Malioboro, meskipun tersedia juga sarana meja-kursi.

Harganya relatif tidak terlalu mahal. Sekedar gambaran, kami sekeluarga berempat pada hari Jum’at, 17 Agustus 2001, yll. (kami tidak ikut upacara bendera), hanya menghabiskan sekitar Rp 70.000,- sudah pada “kemlakaren” (perut terasa penuh terisi seperti tidak ada lagi ruang yang tersisa).

Kalau melihat banyaknya pengunjung hampir setiap hari, tentu akan ada pertanyaan : Apakah memang masakannya enak? Kalau saya rasa-rasakan sebenarnya kok ya biasa-biasa saja. Menu dan rasanya tidak jauh berbeda dengan menu sejenis di restoran atau warung makan lainnya. Tapi kenapa Moro Lejar banyak dikunjungi orang?

***

Moro Lejar secara fisik berani tampil beda sebagai sebuah restoran. Suasana makan lesehan di gubug yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar, di kaki kawasan pegunungan yang tentunya berhawa menyegarkan, dengan menu ikan segar, ternyata dapat membangkitkan selera makan. Apalagi kalau memang sedang lapar. Dan, itulah yang ditawarkan oleh Moro Lejar.

Moro Lejar berhasil memberi nilai tambah atas menu makanan khas yang sebenarnya biasa-biasa saja, menjadi pilihan makanan yang banyak diminati dan dibeli pengunjung atau calon pengunjungnya.

Oleh karena itu, kalau kelak saya akan kembali ke sana, itu karena saya akan datang dengan kesadaran bukan untuk membelanjakan uang guna membeli makanan yang masakannya luar biasa, melainkan saya akan membeli selera makan yang akan disajikan oleh Moro Lejar dengan sangat baik dan memuaskan.

Jadi, saya memang siap dan rela untuk membeli nilai tambah guna melampiaskan keinginan untuk dapat menikmati makan di Moro Lejar.

New Orleans, 20 Agustus 2001
Yusuf Iskandar