Posts Tagged ‘oleh-oleh’

Oleh-oleh Nasi Kucing

8 Desember 2009

Pulang dari toko, istriku bawa oleh-oleh untuk makan malam, yaitu beberapa bungkus nasi kucing @ Rp 1000,-. Kata istriku: “Itu juga rebutan…” (sama pembeli lain, bukan sama kucing…!)

Yogyakarta, 6 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Masjid Seribu Tiang Dan Oleh-oleh Pempek

21 Juni 2009

Pagi tadi setelah check out dari hotel Formosa, Jambi, sebelum sarapan di luar singgah dulu di masjid seribu tiang, Al Falah, Jambi. Jumlah tiangnya 323. Puluhan tiang berlapis tembaga buatan Boyolali, dinding ukirannya buatan Jepara.

IMG_2884_r

IMG_2897_rIMG_2902_r

***

Alhamdulillah, dari Jambi numpak singo (naik singa) dan sudah tiba kembali di Jogja. Bawa oleh-oleh kopi Jambi ‘AAA’ dan pempek ‘Selamat’. Pempeknya ini lho…. kok terasa beda dan hoenak sekale… dibanding yang biasa saya beli di Jogja…. Pantesan, langsung babalasss disikat anak-anak….

Yogyakarta, 21 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Salak Pondoh Taman Agrowisata

16 April 2008

Ketika sudah kenyang makan segala macam di sana-sini, di Yogya, ada baiknya membeli salak pondoh, baik untuk dimakan sendiri maupun untuk oleh-oleh. Jenis salak khas dari kabupaten Sleman ini memang cukup terkenal (meskipun di daerah lain juga ada, seperti di kabupaten Karanganyar misalnya). Untuk mudahnya, orang sering menyebutnya sebagai salak pondoh Yogya. Rasa salak pondoh yang dapat dibilang selalu manis, kalaupun asam tetap saja asam-asam manis, menjadi keunggulan tersendiri bagi jenis buah salak ini.

Mumpung, atau jika Anda masih berada di kawasan utara Yogya, sempatkan untuk singgah di Taman Agrowisata, Sleman. Selain berekreasi di kawasan yang rimbun pepohonan dan berhawa segar, di sana Anda dapat memperoleh salak pondoh, langsung atau dekat dengan sumbernya.

Kawasan Taman Agrowisata dapat dicapai dari jalan alternatif atau jalan tembus Magelang – Solo di sisi utara Yogya, yaitu jalan yang sama dimana berada rumah makan “Boyong Kalegan”. Kalau dicapai dari arah Pakem, jalan Kaliurang, maka Taman Agrowisata berada setelah kecamatan Turi, dan jika dari arah Tempel, jalan Yogya – Magelang, maka berada kira-kira 5 km dari Tempel, sebelum kecamatan Turi. Ada petunjuk arah cukup jelas. Ikuti saja jalan kecil beraspal yang masuk menuju utara hingga sampai ke pintu masuk Taman Agrowisata.

Taman Agrowisata yang terletak di desa Bangunkerto, kecamatan Turi, kabupaten Sleman, ini dilengkapi dengan fasilitas rekreasi seperti kolam pemancingan, kolam renang, kolam rekreasi dengan sepeda air, taman bermain, taman bunga dsb. Sayangnya, seperti jamaknya taman rekreasi di tempat lain, fasilitas-fasilitas itu kurang terawat dengan baik.

Taman Agrowisata yang luasnya mencakup kawasan ratusan bahkan ribuan hektar, melibatkan tanah-tanah penduduk setempat ini memang dikhususkan untuk kebun salak pondoh. Oleh karena itu di sana kita bisa memetik sendiri salak pondoh langsung dari pohonnya.

Bagi mereka yang tidak sempat memasuki Taman Agrowisata, salak pondoh dapat dibeli di banyak tempat di sentra-sentra penjualan salak pondoh di sepanjang jalur Yogya – Magelang, bahkan di gubuk-gubuk kios pinggir jalan. Tinggal pandai-pandai menawar harga saja. Namun jika sempat pergi ke kawasan Taman Agrowisata, ada keuntungan yang dapat diperoleh. Selain berekreasi, maka ada peluang untuk membeli dengan harga lebih murah. Di sepanjang jalan masuk ke Taman Agrowisata juga banyak dijajakan salak pondoh langsung oleh pemilik kebun di depan rumahnya.

Namun yang utama sebenarnya, di Taman Agrowisata kita bisa memilih salak pondoh yang baru dipetik, yang batangnya masih terlihat kuning kehijauan dan belum kering. Demikian halnya kalau kita kupas kulitnya bagian dalam masih nampak kehijauan dan belum kering.

Salak pondoh ditanam di hampir semua kecamatan di kabupaten Sleman, kecuali Prambanan. Sentra produksinya berada di tiga kecamatan, yaitu Tempel, Pakem dan Turi. Di kecamatan Turi inilah yang paling banyak penduduknya menanam salak pondoh. Produksinya pun dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Kondisi geologi daerah Sleman sebagai daerah hasil pengendapan material erupsi gunung Merapi memang sangat cocok untuk budidaya salak pondoh. Selain faktor cuaca dan suhu sejuk di dataran tinggi, juga adanya unsur sulfur dari material tumpahan aktifitas vulkanis memang sangat mendukung kualitas produksinya.

Dari sekian banyak jenis salak pondoh, yang selama ini dikenal adalah salak pondoh super, salak pondoh kuning (atau coklat) dan salak pondoh hitam. Masing-masing mempunyai ciri-ciri dan rasa yang tipikal.

Ringkasnya, pokoknya salak pondoh itu uenak tenan. Rasa buahnya manis, bahkan tanpa menunggu yang sudah masak pun tetap manis, dan mempunyai kandungan air cukup sehingga tetap terasa segar, tanpa khawatir berasa seret di tenggorokan.

Manisnya salak pondoh memang semanis nilai ekonomis yang dihasilkan petani salak, dibandingkan jika tanah pertaniannya ditanami padi. Tentu, faktor resiko kegagalan tetap harus diperhitungkan. Kejayaan budidaya salak pondoh ini juga ditunjang oleh adanya paguyuban Kelompok Tani, sehingga persaingan usaha yang tidak sehat dapat dihindari. Bahkan para petani dapat saling membantu mengatasi masalah teknis produksi pertanian maupun ekonomis perkembangan dan persaingan pasar.

Kini, produk turunan dari salak pondoh sudah mulai berkembang. Tiba saatnya sentuhan teknologi yang mampu memberi nilai tambah salak pondoh mulai diperhatikan. Jangan heran kalau sekarang Anda jumpai di toko-toko adanya produk turunan salak pondoh seperti dodol salak, emping salak, manisan salak, sirup salak, kue salak, kripik salak, dsb. Untuk produk-produk yang terakhir ini Anda tidak perlu ke Taman Agrowisata.

Jadi, masih ingin yang segar-segar manis langsung dari pohonnya? Monggo, jalan-jalan ke Taman Agrowisata, Sleman.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 26 Juli 2004

Bakpia Glagahsari

16 April 2008

Jika tiba saatnya harus membeli oleh-oleh makanan khas Ngayogyokarto. Jangan lupakan bakpia. Siapa tidak kenal bakpia Yogya. Makanan atau nyamikan yang terbuat dari adonan tepung terigu dan minyak kelapa lalu diisi adonan kacang hijau ini memang memiliki citarasa yang khas. Wis…..setuju enggak setuju, pokoknya uenak.

Selama ini orang banyak mengenal nama bakpia Pathuk, karena memang penjual dan produsen bakpia banyak bertebaran di sepanjang jalan Pathuk (sekarang bernama Jl. KS. Tubun), yang berada di kawasan kecamatan Ngampilan, Yogyakarta. Jika musim liburan tiba, maka dapat dipastikan jalan sepanjang kurang dari satu kilometer, dua lajur dua arah ini akan padat dan sumpek penuh dengan kendaraan para pembeli bakpia. Tidak sulit bagi pendatang dari luar Yogya untuk menemukan lokasi ini. Siapapun orang Yogya pasti tahu kalau ditanya dimana letaknya.

Tidak mengherankan kalau di kawasan Pathuk ini ada lebih 100 pedagang dan produsen bakpia. Ada yang sudah bermerek dan ada yang masih industri kecil-kecilan. Di antara yang sudah punya nama, selama ini dikenal ada bakpia Pathuk 25, 35, 38, 55, 67, 75, 99, dan entah nomor berapa lagi. Angka-angka itu umumnya menunjukkan angka nomor alamat rumah.

Entah bagaimana asal-muasalnya sehingga mereka tanpa kesepakatan menggunakan nomor alamat rumah sebagai merek dagangnya. Barangkali karena di jaman dulu mengambil praktisnya, sehingga begitu saja mengambil nomor rumah sebagai label produknya. Saking banyaknya nomor bakpia, sehingga calon pembeli sering malah bingung mau beli yang nomor berapa. Akhirnya ya pokoknya beli bakpia, berapapun nomornya, yang penting bukan pia-pia yang lain, lunpia, nopia, apalagi sepia….. 

Popularitas bakpia memang luar biasa. Dapat dipastikan setiap harinya ada belasan bahkan puluhan ribu bakpia bergelindingan di Yogya, apalagi di musim liburan. Harganya rata-rata berkisar Rp 10.000,- untuk setiap dos isi 20 butir, ada yang lebih mahal dan ada yang lebih murah. Cukup murah (dibanding kalau bikin sendiri, itupun belum tentu jadi bakpia, bisa-bisa malah jadi onde-onde…..).

Meskipun tampaknya usaha bakpia ini maju pesat, namun jangan dikira tanpa masalah non-teknis. Persaingan tidak sehat, bahkan saling manjatuhkan, diam-diam tumbuh di kalangan sesama pedagang atau produsen bakpia. Sangat disayangkan memang. Berbeda dengan para petani salak pondoh yang berhasil berhimpun dalam Kelompok Tani, di kalangan para pedagang atau produsen bakpia ini belum memiliki paguyuban yang mampu melindungi kepentingan bersama.

Semakin runyamnya persaingan ini, berdampak kepada semakin runyamnya jasa calo bakpia di seputaran Pathuk. Tidak saja mengganggu calon pembeli, terlebih meresahkan para pedagang bakpia karena akan mengurangi keuntungan pedagang. Bahkan seringkali permintaan imbalan oleh para calo kepada pedagang bakpia ini dilakukan setengah memaksa.

Oleh karena itu jangan kaget kalau Anda pergi membeli bakpia ke Pathuk, begitu turun dari mobil atau memarkir kendaraan, Anda akan dikerubuti para calo yang menawarkan jasanya mengantar ke pedagang bakpia tertentu.

Atau, jika Anda malas membeli langsung ke jalan Pathuk, bisa juga membelinya di sejumlah pusat jajan dan oleh-oleh yang menyebar di jalan Mataram, yaitu jalan yang paralel di sebelah timur jalan Malioboro. Di sini pun bisa dijumpai bakpia Pathuk dengan berbagai nomornya dan juga masih baru, bukan produk kemarin.

***

Nama bakpia yang sekarang identik dengan Yogya, sebenarnya bukan makanan produk asli Ngayogyokarto. Konon dulu-dulunya berasal dari Cina, yang nama aslinya Tou Luk Pia yang berarti pia atau kue kacang hijau. Entah lidah siapa yang pertama kali “kepeleset” menyebutnya menjadi bakpia. Pada tahun 1948, keluarga Goei Gee Oe (ini pasti pendatang dari Cina) mencoba-coba membuat bakpia sebagai industri rumahan. Lalu dijajakan eceran, dari rumah ke rumah, dalam wadah besek (wadah kotak berupa anyaman dari bambu), tanpa label.

Semakin tahun semakin banyak peminatnya, hingga sekitar tahun 1980 mulai muncul produsen-produsen baru yang membuat bakpia. Mulai muncul kemasan baru dalam dos atau kertas karton, dan mulai menggunakan label merek dagang berbeda. Anehnya, merek dagang yang digunakan pun mudah saja dengan mengambil nomor rumah para pembuatnya.

Demikian pesatnya perkembangan industri per-bakpia-an di Yogya, hingga pada awal tahun 1990-an bakpia mengalami booming dan sampai sekarang pun nampaknya masih menjadi komoditi unggulan oleh-oleh makanan khas Yogya.

Namun sudah sepuluh tahunan ini saya sendiri tidak pernah lagi membeli bakpia Pathuk, berapapun nomornya. Sejak sekitar tahun 1993, saya menemukan produsen bakpia lain yang setelah saya rasa-rasakan taste-nya jauh lebih enak dibanding bakpia Pathuk. Saya menemukannya di sebuah warung yang merangkap jualan bakpia di jalan Glagahsari, kecamatan Umbulharjo. Bedanya dibandingkan bakpia Pathuk, bakpia Glagahsari ini lebih renyah, lebih mumpur dan lebih kemripik (embuh, apa bahasa Indonesianya). Pokoknya beda dan lebih uenak…… Penilaian ini disetujui oleh beberapa kawan warga Yogya yang pernah mencobanya.

Waktu itu warung ini hanya menjual bakpia kecil-kecilan, bikin sendiri, dijual sendiri, kalau enggak laku juga dimakan sendiri barangkali. Wadahnya pun seadanya. Namun kini rupanya semakin berkembang, dan sudah punya judul sendiri, yaitu bakpia “Kurnia Sari”. Tepatnya, warung ini berada di Jl. Galagahsari No. 112. Jalan Glagahsari adalah jalan yang membentang utara – selatan yang menghubungkan antara Jl. Kusumanegara dengan terminal bis Umbulharjo. Kalau dari arah Jl. Kusumanegara, warung bakpia ini berada di sisi kanan jalan, sebelum kantor Kecamatan Umbulharjo yang berada di sisi kiri jalan.

Seiring dengan tuntutan selera lidah masyarakat, maka bakpia “Kurnia Sari” pun memproduksi bakpia tidak hanya yang biasanya berisi kacang hijau, melainkan ada juga isi kumbu hitam, coklat dan keju. Siapa tahu kelak akan ada bakpia rasa strawberry atau vanilla……

Jika ingin membeli bakpia untuk keperluan beberapa hari atau dibawa keluar kota, maka bakpia Glagahsari bisa jadi pilihan yang sesuai. Asal jangan dibungkus rapat ketika masih dalam keadaan panas, melainkan diangin-anginkan dulu. Setelah sampai di tempat tujuan, simpanlah di lemari es. Bakpia ini akan tahan hingga lebih seminggu tanpa ada perubahan rasa. Sudah seringkali saya coba untuk dibawa ke Papua, dan hingga lebih seminggu masih terasa enak, apalagi kalau malam-malam saya nggayemi sambil nulis cerita soal makan. Lebih nikmat lagi, kalau ada microwave, dihangatkan dulu barang 10-15 detik. Hmmm……

Nah, jika ingin mencoba bakpia dengan rasa sebagai ukurannya, bukan label Pathuk-nya? Monggo….., bakpia Glagahsari bisa dicoba sebagai pilihan. Dijamin tanpa diganggu calo dan tanpa kesulitan parkir, karena masih belum padat pembeli.

Yusuf Iskandar,
Tembagapura, 27 Juli 2004