Posts Tagged ‘ojek’

Jika Harus Naik Ojek Membelah Kemacetan Jakarta

28 November 2009

Jam sudah menunjukkan pukul 18:15 waktu Pondok Indah Jakarta. Kendaraan yang akan mengantarkan saya menuju ke stasiun Gambir masih saja berjalan merayap, bahkan nyaris tidak bergerak. Jalan di depan Wisma Pondok Indah nampak demikian padatnya. Saya mulai gelisah. Pada tiket kereta api Argo Lawu yang akan saya tumpangi kembali ke Jogja malam itu jelas menunjukkan waktu keberangkatan jam 20:00 WIB.

Harus ada jalan keluarnya, kata hati saya. Sebab jika tidak, saya pasti akan ketinggalan kereta. Kalau sampai esok paginya saya belum tiba di Jogja, berarti saya tidak bisa sholat Idul Adha di kampung dan yang lebih saya khawatiri adalah kalau sampai saya gagal menjaga amanah dan komitmen untuk membantu Panitia Qurban di kampung saya.

Akhirnya saya putuskan turun dari kendaraan yang malam itu akan mengantar saya ke stasiun yang masih saja mbegegek (berhenti total) tertahan kemacetan parah. Segera saya menyeberang jalan untuk mencari taksi pada lajur jalan yang berlawanan yang tampak lebih lancar. Berdiri di pinggir jalan hingga lebih 15 menit ternyata tidak juga ketemu taksi kosong. Hati saya semakin gelisah disertai perasaan tegang. Tiba-tiba saya ingat kalau petang itu saya belum membatalkan puasa Arafah yang saya jalani. Saya lalu menuju tukang rokok di pinggir jalan membeli sebotol air mineral sekedar untuk membatalkan puasa saya. Sambil saya minta pendapat penjualnya tentang bagaimana cara tercepat menuju stasiun Gambir. Rupanya kalau perasaan sedang gelisah dan pikiran rada panik, kita sering tidak mampu berpikir jernah. Sampai perlu minta pendapat orang lain, siapapun dia termasuk tukang rokok pinggir jalan.

Solusi tukang rokok ternyata sederhana saja : “Kalau tidak ada taksi mending naik ojek, pak”, katanya. Ya, benar juga. Akhirnya usul itu saya setujui. Bapak penjual rokok pun berbaik hati membantu mencarikan ojek. Ketika saya tanya kira-kira berapa ongkosnya, dijawabnya sekitar 35 sampai 40 ribu rupiah. “Tapi ditawar saja, pak”, katanya lagi.

Pak tukang ojek meminta ongkos Rp 50.000,- sampai Gambir, setengah jam sampai katanya. Wah boleh juga, pikir saya. Tapi seperti saran tukang rokok tadi, saya pun menawar. Tawar-menawar berjalan rada alot (sudah tahu keadaan terdesak, masih juga gengsi untuk menerima begitu saja tawaran harga tukang ojek). Akhirnya kami sepakat dengan ongkos Rp 40.000,- Perasaan saya mulai agak lega, walau belum sepenuhnya. Ojek belum jalan tapi pikiran saya sudah membayangkan membonceng ojek malam-malam membelah kemacetan Jakarta.

Sebuah sepeda motor butut Suzuki Tornado yang spedo meternya sudah bolong ditutup plastik yang diplester, kedua kaca spion diganti kecil-kecil, lampu depan remang-remang dan suara mesinnya mbeker-mbeker…, segera meluncur menembus malam, menembus kemacetan Jakarta. Saya tidak ingat lagi jalan mana saja yang kami lalui malam itu, karena pandangan mata saya tajam ke depan mengikuti liak-liuknya sepeda motor yang saya boncengi sambil perasaan full tegang. Ya bagaimana tidak tegang, wong terkadang lampu merah diterobos, berpindah lajur asal wesss…. begitu saja, tidak perduli klakson kendaraan lain yang sedang melaju kencang di lajur yang dipotong.

Ketika sampai di kawasan Senayan, kami bertemu dengan kepadatan lalulintas lagi, sepeda motorpun mengendap-endap lalu tiba-tiba menyalip dengan cara menyusup celah sempit di antara dua buah bis yang sedang berjalan tidak terlalu cepat. “Oedan…”, kata saya dalam hati. Tiba di bundaran Hotel Indonesia, sepeda motor kembali beraksi dengan menambah kecepatan untuk mendahului bis kota dari sisi kanan dengan mencuri celah sempit di sudut antara moncong bis dengan separator jalan. Wusss…. berhasil, termasuk berhasil merobohkan dua buah traffic cones yang bentuknya menyerupai corongan warna oranye yang berada di ujung separator jalan sebelah kanan. “Huhhh….”, kata hati saya.

Mau saya tegur, saya khawatir nanti jalannya jadi pelan-pelan padahal saya berkepentingan untuk segera tiba di stasiun Gambir mengejar jadwal kereta Argo Lawu. Adrenain saya meningkat. Entah kenapa saya begitu menikmatinya. Sepeda motor pun kemudian melaju kencang menyusuri Jl. Thamrin ke arah utara menuju kawasan Monas, meski saya tidak sempat lagi memandang tugu itu. Lalu lintas mulai lancar dan tidak lagi merayap. Barangkali seperti itulah rasanya ikut balap road race.

Tiba di Jl. Medan Merdeka Barat, tiba-tiba tukang ojek mengajak bicara. Katanya : “Kita lurus pak”. Saya memang tidak terlalu hafal jalan-jalan di Jakarta. Tapi setahu saya kalau lurus berarti ke arah Kota, sedang stasun Gambir ada di sisi timurnya Monas. Spontan saya berteriak di tengah kebisingan lalu lintas : “Belok kanan, belok kanan….!”. Sepeda motor pun spontan memotong ke kanan tanpa tolah-toleh. “Huhhhh, lagi…..”.

Mulai feeling saya curiga, jangan-jangan tukang ojek ini tidak tahu dimana letak stasiun Gambir. Lalu saya tanya : “Bang, tahu stasiun Gambir kan?”. “Ya, tahu”, jawabnya meyakinkan.

Tiba di ujung Jl. Juanda, sepeda motor terus melaju kencang ke arah timur. Saya kembali curiga, tapi saya tepis keraguan saya. Mungkin dia tahu jalan pintas. Akhirnya, dugaan saya ternyata benar. Tukang ojek salah jalan hingga mutar-mutar kehilangan arah hingga ke kawasan Senen. “Wuahhh, modar aku!”.

“Bang, sebenarnya lu tahu stasiun Gambir enggak sih?”, tanya saya hendak memastikan. Jawabnya : “Tahu pak, tapi jalannya banyak berubah”. Sudahlah, hati saya mulai gemas. Ketika akhirnya tukang ojek itu beberapa kali tanya orang mencari arah yang benar, telinga saya mendengar yang ditanyakan bukan ‘stasiun Gambir’ melainkan ‘terminal kota’. “Aaahhhh…. Guoblog!”, kata saya misuh-misuh…, memaki dalam hati (heran, masih juga saya khawatir menyinggung perasaannya).

Lha kok tiba-tiba berhenti dan bilang : “Bapak turun sini saja lalu menyeberang sana”, maksudnya saya disuruh naik taksi. Wooo, wong edan tenan iki (orang gila beneran ini). Langsung saya bentak : “Jalan terus dan ikuti perintah saya!”. Kalau urusan tersesat kemudian kembali ke jalan yang benar (maksudnya kesasar) rasa-rasanya saya cukup punya pengalaman dan ini menjadi sebagian dari keahlian saya.

Meskipun saya tidak familiar dengan kawasan itu, entah saya sedang berada di sebelah mananya apa saya pun tidak tahu, tapi yang jelas di kawasan Senen. Setidak-tidaknya saya bisa membaca tulisan petunjuk arah yang berupa rambu berwarna dasar hijau dan berwarna tulisan putih. Akhirnya tukang ojek saya komando dari belakang menemukan jalan yang benar. Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya saya sampai ke pintu gerbang keluar stasiun Gambir. Tobat tenan aku!

Begitu berhenti, tukang ojek yang semula saya pikir orang Jakarte (pakai huruf akhir ‘e’) dan saya panggil ‘Abang’, ternyata kemudian bilang begini : “Dalane ora ceto, ora koyo nek awan pak (jalannya tidak jelas tidak seperti kalau siang pak)”, katanya dalam bahasa Jawa. Spontan saya jawab : “Lha wis ngerti aku nek awan serngengene cedak ngobong sirahmu (lha sudah tahu saya kalau siang mataharinya dekat membakar kepalamu)”, kata saya sambil rada jengkel.

Segera uang Rp 50.000,- saya sodorkan sambil saya pesan : “Turahane pek-en nggo tuku bensin (sisanya kamu ambil buat beli bensin)”, lalu saya tinggal pergi bergegas menuju ke dalam stasiun. Hitung-hitung saya sudah diberi bonus diajak wisata malam keliling Jakarta…..

Yogyakarta, 27 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu

5 April 2009

Dalam perjalanan pulang dari Tembagapura, Papua, saya menyempatkan untuk menginap semalam di Timika. Saya menginap di Base Camp yang merupakan salah satu fasilitas dan berada di dalam kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia. Tentu saja gratis. Base Camp ini lokasinya dekat dengan bandara Mozes Kilangin yang berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Timika, ibukota kabupaten Mimika.

Tujuan saya menginap semalam di Timika adalah ingin mampir ke warung seafood “Surabaya” sekedar melepas kangen menikmati karakah (kepiting) Timika. Terakhir kali saya mampir ke sana sekiar lima tahun yang lalu. Karena Base Camp ini lokasinya berada di dalam kawasan pertambangan, maka tidak terjangkau oleh angkutan umum yang oleh masyarakat setempat disebut taksi. Sedang kendaraan milik perusahaan tidak diijinkan keluar dari kawasan pertambangan, kecuali yang sudah dilengkapi dengan plat nomor polisi, berkepala “DS” jika terdaftar di kabupaten Mimika.

Kalau mau sewa mobil plat hitam alias taksi gelap yang memang sudah lazim digunakan, ongkosnya sekitar Rp 40.000,- per jam. Menimbang saya hanya seorang diri, akhirnya memilih naik ojek saja. Di Timika ada ribuan ojek berseliweran setiap saat. Moda angkutan ini menjadi alternatif paling praktis, mudah dan murah tapi tidak meriah (lha wong sendirian…), plus agak deg-degan karena biasanya tukang ojeknya suka ngebut. Kalau tidak suka mbonceng ojek, sepeda motornya disewa juga boleh. Per jam ongkos sewanya Rp 20.000,- dan malah bisa ngebut sendiri…. Saking banyaknya ojek di Timika, sampai-sampai tidak mudah membedakan mana pengendara sepeda motor biasa dan mana tukang ojek.

***

Kota Timika yang ketika siangnya begitu panas, malam itu agak kepyur (bahasa Jawa untuk turun titik-titik air dari langit, lebih rintik dibanding rintik hujan). Berbalut selembar jaket, segera saya nyingklak mbonceng tukang ojek dan mengomandonya untuk menuju ke warung seafood “Surabaya”. Ongkos ojek dari Base Camp, sama juga kalau dari bandara, menuju kota Timika adalah Rp 7.000,- sekali jalan. Angka nominal yang sebenarnya nanggung, tapi ya begitulah…. Semua pihak sudah saling paham bahwa ongkos normalnya memang segitu.

Sampai di tujuan, segera saya keluarkan tiga lembar uang kertas dan saya bayarkan ke tukang ojek. Semula uang itu diterima begitu saja oleh tukang ojeknya dan segera hendak berlalu tancap gas. Tapi tiba-tiba tukang ojek itu agak ragu, lalu dilihatnya kembali uang pemberian saya tadi di bawah temaram lampu jalan yang tidak terlalu terang. Agaknya dia kurang yakin dengan penglihatannya. Sebab jika membayar uang pas dengan tiga lembar uang kertas, biasanya terdiri dari selembar berwarna kecoklatan dan dua lembar berwarna kebiruan, sehingga totalnya Rp 7.000,-. Tapi ini ketiganya kok warna coklat semua, jangan-jangan uangnya bercampur daun kering. Setelah yakin yang diterimanya tiga lembar uang lima-ribuan, segera pak tukang ojek itu tancap gas tanpa sempat berterima kasih. Mungkin khawatir keburu penumpangnya menyadari “kekeliruan” jumlah pembayarannya.

Malamnya saya kembali menggunakan jasa ojek menuju Base Camp. Cukup dengan berdiri di pinggir jalan saja. Sebab saya pun sebenarnya juga ragu mau nyetop ojek, jangan-jangan bukan tukang ojek yang saya panggil. Akhirnya salah satu dari tukang ojek yang berseliweran memberi kode dengan membunyikan klakson yang maksudnya : “Naik ojek, pak?”. Saya cukup membalasnya dengan melambaikan tangan di pinggir jalan yang agak terang.

Sesampai di Base Camp segera saya sodorkan selembar uang sepuluh-ribuan. Tukang ojek itu pun dengan gesit mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celananya untuk mengambil tiga lembar uang seribuan sebagai uang kembalian. Kali ini saya hanya berkata pendek : “Kembaliannya untuk bapak saja…”. Kalimat pendek itu rupanya mengawali percakapan saya dengan tukang ojek yang rupanya perantau dari Lamongan, Jatim, dan baru 3 bulan ngojek di Timika, selama beberapa menit di depan gerbang Base Camp. Sampai seorang petugas Satpam Base Camp menghampiri saya karena dikira saya yang adalah seorang tamunya sedang ada masalah dengan tukang ojek. Apresiasi saya berikan untuk sikap tanggap seorang Satpam.

***

Apa yang saya lakukan dengan membayar lebih dari yang semestinya kepada seseorang? Tidak lebih karena sekedar saya ingin melakukan sedikit improvisasi dalam bertransaksi bisnis. Sebagai pembeli jasa ojek, saya ingin memberi sedikit “surprise” yang menyenangkan kepada partner bisnis saya yang adalah penjual jasa ojek. Improvisasi yang berjalan begitu saja, tanpa skenario, tanpa rekayasa. Besar-kecilnya atau banyak-sedikitnya, bukan itu soalnya. Terpuji-tidaknya atau berpahala-tidaknya, juga bukan itu substansinya.

Sekali waktu ketika di Jogja saya membayar parkir di Jl. Solo. Saat membayar ongkos parkirnya saya sodorkan uang Rp 3.000,- dari semestinya hanya Rp 1.500,-, sambil saya pesan kepada tukang parkirnya : “Tolong yang seribu lima ratus untuk ongkos parkir mobil di sebelah kanan saya ya, pak…”. “Nggih, pak…”, jawab tukang parkir. Saya tidak tahu siapa pengemudi mobil yang parkir di sebelah kanan saya. Saya juga tidak tahu apakah tukang parkir itu benar-benar menjalankan pesan saya. Tapi saya hanya sekedar ingin berimprovisasi dalam bertransaksi. Apakah itu baik atau buruk, bukan itu yang ada di pikiran saya.

Beberapa tahun yang lalu saat melewati jalan tol di Semarang yang ongkosnya hanya Rp 500,- sekali lewat, saya sodorkan selembar uang seribuan disertai pesan kepada penjual tiket tol : “Sisanya untuk mobil di belakang saya ya…”.

Ya, sekali waktu improvisasi itu perlu. Bukan untuk sok-sokan, bukan juga untuk wah-wahan, melainkan agar irama hidup ini tidak membosankan. Perlu ada “surprise-surprise” kecil mengisi di antaranya. Toh, belum tentu hal itu terjadi sebulan sekali. Setahun sekali pun terkadang tidak sempat terpikir. Termasuk juga dalam berbisnis, improvisasi itu (terkadang) perlu. Kalau boleh kejadian itu disebut dalam rangka melaksanakan “bisnis memberi”, entah sebagai penjual atau pembeli. Semoga saja Alam Jagat Raya ini akan mencatatnya sebagai tabungan di rekening liar (yang digaransi tidak akan terendus KPK) yang suatu saat nanti akan cair dengan sendirinya pada waktu dan tempat yang pasti tepat.

Yogyakarta, 5 April 2009
Yusuf Iskandar

Menyusuri Jalur Misteri Di Gunung Kelud

16 Mei 2008

Ada sepenggal jalan, panjangnya tidak sampai 100 m, berada di jalur utama menuju obyek wisata gunung Kelud. Tepatnya di desa Sugihwaras, kecamatan Ngancar, kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penggal jalan ini oleh masyarakat setempat dikenal sebagai jalur misteri. Pasalnya, jalan itu terlihat naik tapi semua kendaraan yang berhenti di atasnya mendadak bisa bergerak sendiri ke arah naiknya jalan.

Sejak gunung Kelud menunjukkan aktifitas vulkanologis tahun lalu, obyek wisata di kaki gunung Kelud ditutup untuk umum. Kini kabarnya sudah mulai dibuka kembali untuk umum. Saya sempat berkunjung menyusuri jalan wisata itu ketika obyek wisata gunung Kelud masih dinyatakan tertutup untuk wisatawan. Pantesan ketika saya memasuki kawasan itu kok jalannya sepi, pintu gerbangnya tidak ada yang jaga sehingga saya bisa masuk gratis. Tidak ada rambu peringatan yang menyatakan ditutup, sehingga saya pikir siapa saja boleh ke sana. Sebenarnya memang boleh, hanya saja pengunjung tidak bisa mendekat ke danau di kaki gunung karena pagar jalan masuknya digembok.

Ketika memasuki kawasan wisata siang itu tiba-tiba turun hujan, padahal ketika masih di Kediri cuaca panas terik. Jalanan yang sempit dan berkelok-kelok itu tampak sedang diperbaiki di sana-sini. Lebar jalan yang aslinya pas-pasan juga sedang dilebarkan di beberapa lokasi, terutama di tikungan-tikungan tajam. Lalu lintas sepi sekali. Para pedagang dan warung-warungnya juga pada tutup. Tukang ojek banyak yang duduk-duduk saja dan ada pula yang nyambi mencari kayu bakar. Padahal biasanya setiap hari libur para pedagang dan tukang ojek itu panen raya.

Kendaraan saya kemudikan perlahan menyusuri dan mendaki jalan yang menuju kaki gunung Kelud yang lokasinya berada sekitar 35 km dari kota Kediri. Karena saya punya tujuan lain untuk melihat jalur misteri di gunung Kelud, maka saya tidak perduli apakah obyek wisatanya buka atau tutup. Setelah bertanya kepada seseorang di Pos Pengamatan Gunung Kelud, akhirnya saya diberi ancar-ancar dimana lokasi penggal jalan misteri itu berada. Kalau lagi musim liburan sebenarnya tidak sulit menemukan lokasi itu, karena di situlah penggal jalan yang biasanya paling ramai dan padat dikunjungi orang, begitu kata tukang ojek. Berhubung hari itu lagi sepi, gerimis dan berkabut, maka saya mesti mencarinya sendiri.

Meski saya sudah menemukan lokasi jalan misteri, perjalanan masih saya teruskan karena ingin tahu dimana ujung dari jalan itu, sambil menikmati pemandangan alam kaki gunung Kelud yang puncak gunungnya memiliki ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut. Tetapi ya tetap saja tidak ada yang dapat dipandang, wong cuaca muram berkabut dan gerimis tidak kunjung mereda. Sampai akhirnya saya diteriaki oleh seorang tukang ojek yang lagi nongkrong di warung kopi yang memberitahukan agar sebaiknya tidak di teruskan karena tiga kilometer lagi jalan ditutup dan di sana tidak ada tempat untuk berputar.

Akhirnya saya dan anak saya malah ikut nongkrong di satu-satunya warung kopi yang buka di sana siang itu. Di bawah cuaca agak dingin, berkabut dan gerimis rintik-rintik, saya jadi ikut nimbrung ngobrol-ngobrol dengan seorang ibu pemilik warung dan empat orang tukang ojek yang lagi istirahat menjelang pulang. Segelas kopi panas dan beberapa potong singkong rebus yang saya makan di warung itu sungguh nikmat benar.

Seorang tukang ojek bernama pak Sukiran malah menawarkan diri memandu saya menuju ke lokasi penggal jalur misteri, saat saya pulang menuruni gunung sambil Pak Sukiran juga hendak sekalian pulang. Kebetulan, setidak-tidaknya saya ada teman cerita-cerita.

***

Penggal jalan yang dikenal sebagai jalur misteri itu merupakan penggal jalan paling lebar dibanding lainnya. Rupanya pihak pengelola taman wisata gunung Kelud sudah mengantisipasi karena di situlah biasanya para wisatawan bergerombol ingin membuktikan sendiri adanya jalan “naik tapi turun” (atau, jalan turun tapi terlihat naik?). Di atas permukaan aspal jalan juga ada dibuat garis bercat putih sebagai tanda batas dimana “misteri” itu bekerja.

Pak Sukiran sangat antusias memperlihatkan buktinya. Sepeda motornya dihentikan di tengah jalan, lalu mesinnya dimatikan. Perlahan-lahan sepeda motor itu bergerak “naik” dengan sendirinya dan semakin cepat. Saya pun mencobanya. Kijang hitam saya hentikan tepat di tengah jalan (mumpung lagi sepi), mesin saya matikan, persneling posisi netral. Kijang lalu merangkak perlahan dan semakin cepat ke arah “naik”. Belum puas, kijang pun kembali dalam posisi berbalik arah dan ternyata juga bisa berjalan mundur dan “naik” dengan sendirinya. Masih juga belum puas, sebotol air mineral ditidurkan di atas aspal jalan dan ternyata menggelinding “naik”, dan akhirnya malah hilang masuk semak-semak dan tidak jadi diminum. Ah, sial….!

Lho, kok bisa? Penjelasan ilmiah tentang misteri ini pernah disampaikan oleh Prof. Yohanes Surya, dedengkot Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Bahwa kejadian sebenarnya bukanlah misteri jalan “naik tapi turun” yang kesannya menjadi misterius, melainkan adanya ilusi mata. Diduga fenomena ilusi mata ini juga yang terjadi di Korea dan Arab Saudi yang konon juga terjadi misteri yang mirip-mirip. Dengan kata lain, hanyalah fenomena tipuan pandangan mata. Penggal jalan itu sendiri sebenarnya memang menurun, tapi kemiringannya kecil sekali. Ketika dilihat dari posisi jalan yang kemiringannya tinggi, maka penggal jalan menurun itu terlihat seperti naik. Dan seperti itulah yang terjadi. 

Saking penasarannya saya dan anak saya mencoba berdiri dan melihat penggal jalan itu dari berbagai posisi dan sudut pandang yang berbeda-beda (dasar kurang kerjaan…..). Memang dari satu posisi tertentu mata kita melihat bahwa jalan itu sedikit naik, tapi dari posisi lain terlihat juga bahwa jalan itu memang agak menurun. Penjelasan dan pembuktian inilah yang saya anggap sebagai paling masuk akal untuk menjelaskan misteri jalan “naik tapi turun” itu.

Namun pak Sukiran “tidak terima”. Beliau menceriterakan bahwa dulu pernah ada orang yang membuktikan menggunakan selang diisi air dan katanya hasilnya menunjukkan bahwa jalan itu memang naik. Ya, sudah. Keyakinan seperti yang dimiliki oleh pak Sukiran, juga teman-temannya dan masyarakat lainnya, agaknya memang tetap perlu “dipelihara”. Agar misteri tetap ada di sana dan kawasan kaki gunung Kelud tetap menarik untuk dikunjungi selain untuk alasan menikmati pemandangan alamnya yang indah.

Sayangnya, keyakinan itu menjadi kebablasan ketika tahun lalu ada sebuah truk masuk jurang di daerah itu lalu dihubung-hubungkan dengan adanya jalur misteri dan legenda gunung Kelud. Padahal ya memang sopirnya yang sembrono mengemudikan kendaraan besar di jalur sempit, naik-turun dan berkelok-kelok menyusuri lereng gunung Kelud.

Yogyakarta, 16 Mei 2008
Yusuf Iskandar