Posts Tagged ‘nyoto’

Soto Surabaya “Cak Saheri” Jogja

7 Januari 2011

Nunggu service motor, nyoto dulu… Soto Surabaya “Cak Saheri”, Jl. Pramuka, Jogja, dicampur uritan (telur ayam yang belum jadi) ditaburi koya (bubuk krupuk) khas Suroboyo… “Urip iku mung sak dermo nunut nyoto” (hidup ini cuma numpang nyruput soto…)…

Yogyakarta, 29 December 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Tawaran ‘Boss’ Di Hari Pertama Puasa

14 Agustus 2010

Mengantar ‘boss’ saya belanja kantong plastik, seperti biasanya saya menunggu saja di mobil. Tapi puji Tuhan wal-hamdulillah, hari ini ‘boss’ saya baiiik… sekale, sambil keluar mobil dengan senyum manisnya berpesan: “Ya sana kalau mau nyoto dulu. Itu warungnya buka kok“.

Mak glek… urat saluran air liurku. “Awas ya……!”, kataku cuma berani dalam hati.

(Note : Yang saya maksud ‘boss’ adalah ibunya anak-anak. Dan hari ini adalah hari pertama puasa Ramadhan 1431H)

Yogyakarta, 12 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Soto Ayam Cak Saheri

5 Agustus 2010

Lebih 10 tahun yll. Cak Saheri (angsli Madura) mulai jual soto dan sate di Jl Kaliurang, Jogja. Kini anak-istrinya meneruskan usahanya menyebar di Jogja. Salah satunya, soto yang kuah kuningnya ku-sruput pagi ini di Jalan Pramuka (bukan di tengah jalan, tentu saja…), dengan label Soto Ayam Surabaya. Nunggu service motor, sambil nyoto.. “Ini bumbunya beda sekali dengan soto umumnya”, aku menantu perempuan Cak Saheri. Dan memang nyuss-nya beda…

Yogyakarta, 29 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Suatu Siang Di Jogja

9 Maret 2010

Siang panas terik di Jogja, lapar berat, capek, mampir warung soto ‘komboran’ di bawah pohon pinggir jalan + es jeruk, cukup Rp 5000,-. Keluar dari warung ada tukang asinan (perlu diketahui, di Jogja jarang ada yang jual asinan), makan lagi sambil duduk di pinggir jalan, cukup Rp 6000,-. Ngasih tukang parkir uang lebih dengan pesan: “Habis ini nyoto pak”. Tukang parkir pun matur nuwun berkepanjangan.. Ugh, hidup itu kan sekedar nunut nyoto

Yogyakarta, 8 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Mumpung Banyak Air

18 Februari 2010

Melihat saya pagi-pagi mau pergi pakai mobil, anak lanang tanya: “Mau kemana pak?”.
Kujawab: “Ke Jakarta”.
“Kok pakai mobil?”, tanyanya.
“Insya Allah sore pulang”, jawabku.
Lalu ia pun berkomentar: “Ah, ke Jakarta kok cuma nunut minum…”.
Enggak mau kalah, aku pun menjawab: “Bukan, cuma mau nunut nyoto sama buang hajat, mumpung di sana banyak air…”.

Yogyakarta, 17 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Mampir Warung Soto Daging “Marzuki”

27 Desember 2009

Persiapan Hari ke-7 (H-4): Tadinya saya akan ‘off’ nyepeda karena ada agenda belajar buku Arab tiap Minggu pagi di ponpes sebelah rumah. Ndilalah Kyainya tidur.., ya kebetulan. langsung ganti kostum & ngayuh sepeda. Belum lama jalan, ketemu warung soto daging, ya terpaksa nyoto dulu… Pesannya adalah: ‘Tetap makan enak agar tetap bisa olahraga bin sehat, lalu perhatikan apa yang terjadi…’

(Warung soto daging “Marzuki” di Jl. Menukan, Jogja)

Yogyakarta, 27 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Mampir Nyoto

23 Desember 2009

Cek fisik hari-3 (H-8): Masih sepedaan keliling kecamatan, pagi ini jarak tempuh ditambah 2 kalinya. Sebelum pulang, mampir nyoto di warung pinggir jalan di ujung gang. Seperti filosofinya: ‘Urip iku mung sak dermo nunut nyoto’ (hidup itu cuma sekedar numpang nyoto)…

Yogyakarta, 23 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Berimprovisasi Di Warung Soto Pak Marto Jogja

21 November 2009

Dalam perjalanan mengantar istri ke tokonya, tiba-tiba beliau mengajak berhenti mampir ke Warung Soto Pak Marto di Jl. Janti Jogja. “Lapar”, katanya singkat. “Sama”, jawab saya juga singkat. Sebelumnya memang sudah beberapa kali kami mampir ke warung soto ini. Lokasinya di jalan utama masuk Jogja dari sisi tenggara, tepatnya di seberang agak ke barat dari balai Jogja Expo Center (JEC), memang cukup strategis. Mudah dicari dan dihampiri.

Siang itu suasana warung agak ramai karena ada rombongan bis besar yang juga berhenti makan siang. Meski bernama warung, tapi tampilannya sebenarnya cukup megah. Barangkali sebutan warung dimaksudkan untuk mengenang masa-masa almarhum Pak Marto merintis usahanya sebagai tukang soto lebih 25 tahun yll. di lokasi itu. Ketika itu penggal ke barat jalan Janti masih menjadi kawasan jin buang anak (hasil hubungan gelap barangkali…) alias ndeso, sepi dan masih berupa jalan desa.

Seputaran tahun 1983 Pak Marto memulai bisnis sotonya. Semakin hari sotonya semakin dikenal dan menjadi jujukan para penyoto (penggemar soto) dari kawasan sekitarnya. Namun sayang, Pak Marto tidak sempat lama menikmati sukses dari hasil kerja kerasnya. Tahun 1995 Pak Marto berpulang, lalu disusul Bu Marto sekitar dua tahun kemudian. Kini bisnis sotonya masih terus berkibar dan dilanjutkan oleh generasi kedua dan ketiganya. Seperti warung soto yang di Jl. Janti itu kini dikelola oleh salah seorang cucunya. Sementara Warung Soto Pak Marto pun semakin merambah membuka cabangnya di berbagai kota.

Rasa sotonya sebenarnya biasa saja. Kalau kategori rasa itu boleh diskala jadi tiga: pertama enak, kedua enak banget, dan ketiga hoenak tenan….., maka soto Pak Marto termasuk enak. Jenis sotonya adalah soto daging sapi, cuma dagingnya kurang full, masih setengah-setengah…… Saya dapat memakluminya kalau alasannya karena harga jualnya yang semangkuk Rp 7.000,-disesuaikan dengan harga beli daging sapi di pasar.

Seperti umumnya warung makan di Jogja, maka selalu ada asesori kecap manis disediakan. Rupanya di warung ini tidak memilih kecap terkenal yang katanya dibuat dari kedelai hitam, melainkan kecap lokal cap Ayam yang kecapnya kental dan lebih terasa manis gulanya ketimbang kedelainya. Meski demikian, kalau lagi berada di sisi tenggara Jogja, warung soto Pak Marto ini bisa jadi pilihan untuk petualangan kuliner soto-menyoto. Nama besar Pak Marto seolah menjadi jaminan para penggemar soto.

***

Di warung itu kami mengambil tempat duduk yang dekat jalan masuk, karena kebetulan tempat itu yang kosong. Sambil menikmati hangatnya sruputan kuah soto yang bening menyegarkan, lalu datang seorang pengamen memainkan alat musiknya yang sangat sederhana. “Icik-icik” namanya. Sejenis alat musik seadanya terbuat dari kayu yang dilengkapi entah apa, sehingga kalau digoyang-goyang berbunyi “icik-icik”…. Pengamen itu adalah seorang bapak tua yang jalannya sudah agak membungkuk berbaju warna hijau pupus lusuh. Jelas bukan memainkan lagu. Tanpa intro, tanpa reffrain dan bukan juga lupa syairnya, melainkan sekedar irama musik monoton yang baru bisa berhenti setelah disodori uang.

Satu menit, dua menit…. Musik itu masih berbunyi. Sementara tidak seorangpun pelayan warung yang perduli, saking sibuknya mondar-mandir melayani pengunjung warung yang lagi ramai. Padahal yang diharapkan oleh pengamen itu barangkali hanya sekedar uang cepek-nopek. Kalau sesekali ada yang memberi koin gopek, sudah sangat berterima kasih.

Tiga menit, empat menit….. Belum juga ada orang warung yang memperdulikannya. Mulailah pikiran kreatif saya yang sedang kelebihan energi positif menangkap peluang. Ya, peluang untuk sedikit berimprovisasi spontan mengambil alih kepedulian terhadap bapak tua pengamen “icik-icik” itu. Lalu saya hampiri pengamen tua itu sambil saya sodorkan selembar ribuan. Benar juga, musik langsung berhenti dan pengamen tua itu ngeloyor pergi sambil berterima kasih. Mission accomplished. Saya pun duduk kembali, melanjutkan nyruput soto, tanpa sepatah kata pun pembicaraan tentang pengamen tua melainkan melanjutkan ngobrol dengan istri yang tadi terputus sebentar.

Usai nyoto, becanda sebentar dengan cucunya Pak Marto, lalu beranjak meninggalkan tempat parkir. Entah datang energi positif dari mana, tahu-tahu terpikir untuk melakukan improvisasi tahap kedua. Membuka kaca mobil sebelah kanan (kalau sebelah kiri terlalu jauh…..), lalu menyodorkan uang parkir dalam satuan agak besar. Ketika tukang parkir separuh baya itu hendak mengambil kembaliannya, segera saya berbisik : “Tulung turahane diwenehke anake njenengan….(tolong sisanya diberikan kepada anak Bapak)”.

Segera tancap gas, tanpa sepatah kata pun pembicaraan tentang tukang parkir itu melainkan ngobrol lain dengan istri. And another mission accomplished. Begitu saja. Lalu perjalanan pun dilanjutkan menuju toko di Madurejo, kecamatan Prambanan, Jogja.

Just a simple improvisation in my life. Saya sedang membicarakan nominal uang yang relatif tidak seberapa dibanding harga soto yang barusan saya santap dan rokok yang saya hisap. Tapi dipastikan manfaatnya sangat besar bagi orang-orang yang sedang membutuhkan. Saya sendiri heran, kenapa sangat jarang saya melakukan hal-hal kecil seperti ini. Tepatnya, jarang terpikir untuk lebih sering melakukannya. Padahal jumlah uang yang saya libatkan dalam improvisasi kecil semacam itu sama sekali tidak akan mengganggu roda ekonomi dan kehidupan saya maupun keluarga saya. Tapi berat rasanya untuk sering-sering melakukannya. Butuh dorongan kuat untuk merangsang bangkitnya energi positif yang nilai manfaatnya luar biasa, tanpa saya sadari wujudnya.

Yogyakarta, 22 Nopember 2009
Yusuf Iskandar