Posts Tagged ‘noval’

Anakku Ikut Invitasi Free Style

28 Oktober 2009

Malam ini anak lanang pamit ke Jakarta. Bersama klubnya ikut invitasi free style (gaya bebas yang bukan renang) di Plaza Senayan (katanya). Le…le… aya-aya wae

(Anakku Noval, 15 th, akhir-akhir ini giat berlatih free syle….. itu semacam ‘akrobat’ memainkan bola basket tapi tidak di lapangan basket. Satu jenis kegiatan yang tidak saya kenal di jaman saya kecil dulu…… Entah bagaimana dia bisa bergabung di klub ‘Kingdom Free Style’ Jogja yang kebanyakan anggotanya para mahasiswa dan sering berlatih demo di pelataran benteng Vredenburg, Jogja. Klub ini sering diminta mengisi acara demo yang bukan unjuk rasa di seputar kawasan Jateng-DIY….. Biasanya sponsornya produk tembakau yang dapat menyebabkan kanker…. hiks…..

Untuk keperluan event invitasi antar kota di Jakarta, rupanya Noval sangat bergairah untuk ikut ambil bagian, sama ngototnya ketika mau ikut mendaki gunung….. Dasar!….. Akhirnya saya mendukung dengan menyediakan sarana transportasinya. Mudah-mudahan kalian sukses, le…..)

Yogyakarta, 27 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

“Manna Janjimu…?”

1 Oktober 2009

Hari masih pagi. Noval, 15 tahun, baru bangun tidur akibat kecapekan karena kemarinnya baru pulang dari mendaki gunung Lawu. Bersama empat orang teman sekolahnya Noval mencapai puncak gunung Lawu pada Sabtu akhir pekan lalu, sehari sebelum hutan Lawu terbakar. Dia tidak mau mengngaku kalau dituduh pendakian silaturrahim lebaran ke Lawu ini pasti odo-odonya (idenya). Ini pendakian ke Lawu yang kedua, pendakian pertamanya satu setengah tahun yll. ditemani bapaknya.

Sejak lebaran H-0 (1 Syawal, teng…!) dia sudah mulai kasak-kusuk sama ibunya. “Kapan ke dealer?”, katanya. Pasalnya, deal waktu awal Ramadhan dengan bapaknya rupanya diingat betul, bahwa kalau bisa khatam tadarus Qur’an dua kali selama Ramadhan disetujui akan dibelikan sepeda motor untuk sekolah (judul resminya begitu, tidak resminya ya untuk dolan….). Dan, dia berhasil memenuhi kesepakatan menyelesaikan dua kali membaca buku bertuliskan huruf Arab yang belum dipahami maknanya itu, kecuali ayat yang pertama.

Lebaran sudah lewat seminggu dan di televisi tersiar arus balik para pemudik sepeda motor yang terlihat ramai-lancar-padat-merayap kembali ke ibukota, tapi belum juga ada tanda-tanda pemenuhan janji bapaknya. Begitu mungkin pikirnya. Padahal sekolah sebentar lagi dimulai, sementara teman-temannya sering pada datang ke rumah membawa sepeda motor. SIM juga telanjur sudah dimiliki meski harus nombok umur karena kurang dua tahun.

Berkali-kali sindirannya terceplos melalui omongannya : “Kapan nih kita ke dealer…”. Berkali-kali pula bapaknya menjawab : “Sabar to, Le…. Toko sepeda motornya masih pada tutup…”, jawab bapaknya asal-asalan karena tidak mau diburu-buru.

Rupanya kesabaran Noval semakin njegrak ke ujung rambutnya. Jangan-jangan setan Lawu yang ikut ke rumah turut memprovokasinya. Meski mata masih dikucek-kucek habis balas dendam tidur panjang sepulang dari gunung Lawu (untungnya bangun tidur tidak tidur lagi, lalu bangun lagi….), Noval glenik-glenik…, omong-omong pelan dengan ibunya. Kalau urusan pendekatan personal begini, Noval tidak berani langsung menghadap bapaknya. Bukan takut dimarahi, melainkan agaknya bosan mendengar ceramahnya (padahal salah satu syarat untuk menjadi orang tua yang baik adalah harus pintar ceramah di depan anaknya…..). Baru kemudian ibunya yang lapor sama bapaknya. Ini sebenarnya jenis birokrasi keluarga yang enggak mutu…..

Seperti sedang bicara sendiri saat duduk di samping ibunya, Noval ngomong sambil cengengesan : “Bu, kapan kita ke dealer-nya?”. Ibunya menjawab pendek : “Yo sana tanya sama bapak”. Lalu tukas Noval lagi : “Ibu aja yang bilang, ah…!”.

Sesaat kemudian Noval berkata : “Tapi sebenarnya bapak itu punya uang enggak, sih….. Saya jadi enggak enak. Sebenarnya saya ya tidak ingin merepotkan orang tua, tapi gimana ya…..”, katanya kemudian dengan nada pasrah tapi masih dengan nyengenges. Maka luluhlah pertahanan bapaknya….

Sebagai seorang anak, rangkaian kata-katanya kedengaran bijaksana, tapi penuh berbau rayuan. Memelas tapi menohok. Halus dan sopan tapi memojokkan. Tentu saja sebagai orang yang telah mengantongi jam terbang cukup lama sebagai orang tua, omongan itu harus diterjemahkan cukup dengan dua kata saja : “Manna janjimu…?”.

Akhirnya dengan setengah terpaksa (terpaksa kok nanggung, cuma setengah…), segera saya berseru kepada Noval, anak keduaku yang rodo nggregetke (menggemaskan bercampur menjengkelkan) itu : “OK, ayo mandi…mandi…mandi…. Ke dealer kita pagi ini…..!”.

Yogyakarta, 1 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Anakku Ke Gunung Lawu

29 September 2009

Tanggal 25-27 September 2009, sehari sebelum hutan Lawu kebakaran, anakku (Noval, 15 th) bersama empat orang teman sekolahnya mendaki gunung Lawu di perbatasan Jateng-Jatim. Bagi Noval, ini pendakian kedua kali, setelah yang pertama pada Tahun Baru 2008 saya temani karena waktu itu adalah pertama kali Noval mendaki gunung. Sejak itu dia mejadi ketagihan naik gunung. Dan kali ini adalah pengalaman petualangannya yang ke-15 dalam 1,5 tahun terakhir. Gunung atau bukit lainnya yang sudah didaki antara lain : Merapi, Merbabu, Sindoro, Menoreh, Nglanggeran, dll, diantaranya sampai 2-3 kali. Penggalan catatan berikut ini saya posting di Facebook.

——-

Rencana mau silaturrahim ke luar kota batal, karena rupanya anak lanang sudah ngajak teman-temannya mau silaturrahim ke puncak Lawu. “Yo wis, ati2 le…”

(1) Tadi pagi ngantar anak lanang (Noval, 15th) yang memimpin 4 orang temannya ke terminal bis Giwangan, setelah (sebelumnhya) saya briefing dulu di rumah. Mereka naik bis menuju Cemorosewu, sebelum mendaki gunung Lawu. Ini pendakian kedua ke Lawu buat Noval. “Selamat jalan, le…. Jaga kekompakan tim…”.

(2) Sekitar jam 14:30 dia kirim SMS, katanya hampir sampai ke Pos 2. Berarti mereka langsung mendaki (wah… ini di luar rencana semula mau aklimatisasi dulu…). Lalu belum ada kabar lagi…. Mungkin nge-camp di jalan atau langsung ke Pos terakhir, Hargodalem.

Yogyakarta, 25 September 2009

***

(3) Kemarin sore anakku kirim SMS katanya sudah di basecamp, berarti sudah turun dari puncak. Lalu, tadi pagi berangkat pulang dari Cemorosewu. Dan, siang ini alhamdulillah tim pendaki sudah sampai rumah dalam situasi ramai-lancar….

Alhamdulillah juga, nasi se-magic jar… + rendang sewajan yang dibikin ibunya tadi pagi langsung boablasss… diserbu lima pendaki kelaparan. Untung enggak sewajan-wajannya……

Yogyakarta, 27 September 2009
Yusuf Iskandar

Selamat Mendaki, Para Pendaki Kecil

9 Juni 2009

100_3786_MerbabuAwalnya anak saya (Noval, 15 tahun) mengajak mendaki gunung Rinjani (3726 mdpl), di pulau Lombok, dalam rangka mengisi waktu libur sambil menunggu hasil UAN SMP-nya. Tapi sayang, bekalnya belum memadahi. Pesawat Jogja-Mataram pp. plus akomodasi, konsumsi, transport lokal, dll, untuk berdua pasti lumayan banyak jumlah rupiahnya. Pada waktu yang bersamaan ibunya sedang butuh tambahan dana cukup banyak untuk membuka toko. Dengan sangat menyesal, saya menjanjikan untuk menjadwal ulang rencana pendakian ke gunung Rinjani.

Sudah berbulan-bulan ini Noval suka menunggu acara adzan maghrib di depan televisi. Bukan tanda waktu sholatnya yang ditunggu (wong waktu sholat Jakarta), melainkan gambar awal tayangan adzan maghrib di saluran Trans7 adalah pemandangan danau Segara Anak yang membentang indah di tengah perjalanan mendaki Rinjani.

Rupanya diam-diam Noval merencanakan pendakian alternatif. Beberapa temannya termasuk guru sekolahnya dihubungi dan diajak mendaki ke gunung Merbabu (3142 mdpl). Walhasil, tiga orang temannya jadi bergabung, sementara gurunya berhalangan. Lalu dimatangkanlah rencana pendakian ke gunung Merbabu, tanpa saya ketahui.

Tiba-tiba Noval minta ijin besok mau mendaki Merbabu. Waduh….. Lalu bermunculan aneka pertanyaan untuk memastikan kesungguhannya. Ternyata memang rencana sudah matang. Bahkan ketika gurunya berhalangan pun mereka tetap berniat berangkat. Jelas, rencana tidak mungkin dibatalkan, sebab semua sudah disiapkan oleh Noval dan ketiga temannya.

Terkadang terpikir juga, jangan-jangan saya ini tergolong orang tua yang kelewat reseh dan khawatiran. Ya, sementara saya berpikir panjang untuk mengijinkan anak saya mendaki gunung dengan tanpa pendamping orang yang lebih dewasa, sementara itu pula para orang tua dari ketiga temannya Noval sepertinya biasa-biasa saja.

Sebenarnya bukan soal diijinkan atau tidak diijinkan, melainkan saya hanya khawatir kalau anak-anak itu menganggap bahwa mendaki gunung itu sekedar olah raga kuat jalan mendaki sambil membawa beban di punggungnya. Seperti halnya anggapan para kawula muda umumnya yang baru menyukai hobi petualangan di alam liar. Sedang yang sesungguhnya mendaki gunung itu jauh lebih memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tidak sesederhana itu. Berita terakhir tentang pendaki yang tersesat di gunung Argopuro (Jatim) dan Ciremai (Jabar), hanyalah sedikit contoh dari tidak sederhananya kegiatan mendaki gunung itu.

Rupanya tekad dan semangat untuk mendaki sudah telanjur tidak bisa dipadamkan. Akhirnya ijin orang tua pun turun, tinggal kewajiban orang tua memberi bekal ilmu dan pengarahan yang cukup.  Saya tidak ingin mereka sekedar berhasil mencapai puncak, melainkan harus ada yang mereka pelajari dan hikmahi melalui kegiatan yang tidak biasa bagi anak-anak seusianya itu.

Selasa pagi ini cuaca Jogja sedang rada muram. Sejak pagi teman-teman Noval sudah berdatangan ke rumah dengan masing-masing membawa tas ransel besarnya. Noval minta diantar ke terminal bis Jombor di Jogja utara. Saya pun segera menyiapkan kendaraan. Namun sebelum berangkat, Noval dan ketiga temannya (Alfian, 15 tahun; Irman 14 tahun dan Faisal 14 tahun) saya kumpulkan untuk diberi pengarahan. Sementara komentar ibunya sederhana saja : “Wah, harus siap-siap menerima setumpuk pakaian kotor, nih….”.

***

Hal pertama yang saya pastikan kepada ketiga teman Noval adalah apakah sudah memperoleh ijin dari orang tua masing-masing bahwa mereka akan mendaki Merbabu dengan tanpa guru pendamping. Jawaban mereka kompak : “Sudah”. Setelah itu saya tanyakan rencana perjalanan pendakiannya. Lalu saya ingatkan bekalnya harus cukup termasuk untuk antisipasi keadaan darurat jika harus bermalam lebih lama di gunung. Selanjutnya mulailah saya memberikan kultum (kuliah tujuh menit, lalu molor sampai 15 menit).

Hal-hal pokok yang saya ingin tegaskan adalah bahwa mendaki gunung itu tidak boleh dianggap sebagai kegiatan yang remeh. Tidak boleh sombong, betapapun kuatnya. Harus kompak dan bertenggang rasa dengan kondisi fisik temannya. Jangan memaksakan diri jika di tengah jalan cuaca menjadi buruk, dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Lalu saya suruh mereka sebelum mendaki supaya meminta bantuan penduduk setempat untuk menemani pendakian. Seseorang yang oleh para pendaki sering disebut dengan sebutan salah kaprah “ranger”. Terakhir saya minta supaya mengirim SMS setiap kali ketemu sinyal.

Gunung Merbabu sebenarnya bukan gunung dengan tingkat kesulitan tinggi. Bentang alam topografi dan pepohonannya relatif tidak menyulitkan. Untuk mencapai puncaknya tidak seberat dan seberbahaya puncak Merapi. Namun tetap saja kemungkinan terburuk harus diantisipasi, di antaranya adalah perubahan cuaca seputaran komplek gunung Merbabu-Merapi.

Itulah sebabnya kenapa saya sebagai orang tua menjadi kedengaran begitu reseh? Karena mereka adalah pendaki-pendaki kecil yang masih suka cengengesan, yang saya khawatirkan belum mampu berpikir jernih ketika terjadi keadaan darurat di tempat yang adoh lor adoh kidul (jauh dari mana-mana), sementara kondisi fisiknya sangat terkuras. Noval dan seorang temannya memang sudah dua kali mendaki Merbabu, tapi dua orang temannya yang lain belum pernah. Dan kali ini adalah pendakian pertama mereka dengan tanpa didampingi oleh seorang dewasa. Akhirnya, sebelum berangkat mereka saya suruh melakukan sholat safar, sebagaimana kebiasaan kami setiap kali sebelum bepergian jauh.

“Selamat mendaki, para pendaki kecil……”. Ibu kalian di rumah menunggu dan siap menerima order cucian pakaian kotor tanpa biaya….

Yogyakarta, 9 Juni 2009
Yusuf Iskandar

(Note : Ilustrasi foto di atas diambil dari http://morishige.wordpress.com)

Anakku Mau Mendaki Merbabu

9 Juni 2009

Anakku yang lagi nunggu hasil UAN SMP minta ijin besok mau mendaki gunung Merbabu (ini untuk yang ketiga kalinya) bersama teman-temannya. Sementara saya tahu guru pembinanya yang semula akan mendampingi ternyata tidak bisa. Tapi anakku ngotot pokoknya tetap akan mendaki… Karena saya sedang repot ngurusin toko, maka lewat HP saya pesan : “Tunggu dulu, nanti malam kita diskusikan….”. Sebenarnya saya sedang mengulur waktu untuk berpikir keras agar ada jalan keluar terbaik… Njuk piye yo…?

(Noval, 15 tahun, berniat mengisi waktu liburannya dengan mengajak tiga orang temannya mendaki gunung Merbabu, 3142 mdpl, di Jawa Tengah. Semula akan mengajak guru sekolahnya, tapi belakangan sang guru berhalangan ikut, dan Noval tetap ngotot mau mendaki juga…)

Yogyakarta, 8 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Jadi Penerjun Tidak Boleh Merokok

7 April 2009

Duduk lesehan berdua anak lelaki saya (Noval) di depan televisi menjelang maghrib. Saluran TV One sedang menyiarkan diskusi tentang tragedi jatuhnya pesawat Fokker-27 milik TNI AU di hanggar pangkalan udara Husein Sastranegara kemarin siang. Di sela-sela dialog, ditayangkan rekaman kegiatan prajurit TNI AU, di antaranya ada terjun payung. Anak saya tampak serius memperhatikan adegan terjun payung massal oleh Paskhas TNI AU.

Tiba-tiba Noval bertanya : “Pak…, bapak berani enggak terjun payung?”. Saya diam sesaat mecoba menerka-nerka kemana arah pertanyaan anak saya yang satu ini yang seringkali tak terduga.

“Kalau sekarang ya enggak berani”, jawab saya kemudian.  Rupanya jawaban itu tidak memuaskan Noval. Dengan nada mengejek dia melanjutkan : “Wah, bapak kan hobby petualangan, suka dengan tantangan, masak enggak berani ikut terjun payung…”.

Siwalan!“, kata saya dalam hati. Jelas saya tidak terima diejek anak saya begitu. Lalu saya mencoba menjelaskan dengan sabar : “Ya, seberani-beraninya orang, sebelum melakukan kegiatan apapun, apalagi yang beresiko tinggi, harus melakukan pelatihan terlebih dahulu. Tidak boleh begitu saja ikut ini, ikut itu…”, jawab saya.

Noval masih belum puas dengan jawaban saya. Dia pun melanjutkan : “Seandainya bapak ikut latihan dulu, apa bapak berani melakukan terjun payung?”. Waduh, modar aku…! Mendidih juga darah setengah tua saya.

“Berani saja!”, jawab saya tidak mau kalah. “Tapi di usia bapak sekarang, ya jelas bapak tidak bisa”. Jawaban ini membuat Noval jadi penasaran.

“Memang kenapa?”, tanyanya ingin tahu.
“Pertama, karena kondisi fisik bapak sudah menurun. Berbeda halnya kalau sejak muda kondisi fisiknya memang terlatih untuk kegiatan terjun payung. Kedua, bapak seorang perokok”, jawab saya.

“Ooo, seorang penerjun tidak boleh merokok ya…”, kata Noval seakan-akan memahami (meski saya tahu sebenarnya dia belum paham).
Lha, iyalah“, jawab saya merasa menang.
“Tapi kenapa ya, pak”. Eh, masih ngeyel juga dia.
Asal-asalan saja saya menjawab : “Ya, karena susah….. Begitu meloncat terjun dari pesawat terus menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke langit. Pasti akan merepotkan sekali…”.
“Aaaaaaaah…..”, teriak Noval, bersamaan dengan kumandang adzan magrib dari masjid dekat rumah.

Yogyakarta, 7 April 2009
Yusuf Iskandar

Anak Saya Mulai ”Gila” Mendaki Gunung

26 Desember 2008

img_0658_gunung1

Sepuluh minggu terakhir ini saya perhatikan anak saya (Noval, 14 tahun, kelas 3 SMP) sudah mendaki empat gunung. Mula-mula gunung Welirang (3.159 meter di atas permukaan laut) di Jawa Timur, lalu gunung Merbabu (3.142 mdpl), puncak perbukitan Menoreh (1.019 mdpl), dan terakhir gunung Sundoro (3.150 mdpl) di Jawa Tengah. Belum termasuk kegiatan outdoor lainnya seperti rapeling (turun dengan tali) yang biasanya dilakukan di jembatan Babarsari, Condong Catur, Sleman. Terakhir, hiking dari gua Ceremai hingga menyusuri pantai Parangtritis.

Setiap ada tanggal merah di kalender, dia mulai kasak-kusuk untuk mencari teman agar bisa mengadakan kegiatan mendaki gunung. Nyaris saban hari yang terlintas di pikirannya adalah soal daki-mendaki dan kegiatan adventure lainnya.

Ibunya yang belakangan jadi manyun kalau anak laki-lakinya ini sudah mulai merengek-rengek minta uang untuk membeli perlengkapan outdoor. Sekali waktu saya minta dia membuat daftar inventaris, perlengkapan apa saja yang sudah dimiliki atau dibelinya, dan berapa total nilai rupiahnya. Rupanya dia sudah siap, lalu disodorkannya sebuah daftar panjang yang antara lain tertulis : tenda, sleeping bag, nesting (alat masak), tas punggung dan cover bag-nya, matras, sarung tangan, sepatu, sabuk, sentolop (senter jarak jauh), aneka piranti untuk mengikatkan tali ke tubuh saat naik atau turun, seperti carabiner, figure of 8, tali prusik, webbing. Masih ada lagi kompas, pisau komando dan termasuk kantong HP. Daftar itupun masih ditambah dengan perlengkapan lain yang direncanakan mau dibelinya juga (sambil menunggu pusar ibunya bolong… katanya biar dikasih uang).

Ketika ibunya menggerutu : “Lha uang yang sudah keluar kok banyak sekali?”.

Jawabnya ringan saja : “Makanya ibu jualan perlengkapan outdoor saja, nanti untungnya untuk saya…., untuk beli alat-alat lainnya…..”.

Mendengar dialog spontan ini, yang terlintas di pikiran saya justru sisi peluang bisnisnya… Barangkali benar juga, buka toko outdoor bisa jadi adalah peluang bisnis yang berprospek bagus di kawasan Yogyakarta dimana banyak orang-orang muda yang hobi adventure alias kegiatan di alam terbuka. Soal kegiatan outdoor, masyarakat Yogya memang tergolong termanjakan oleh fasilitas alam. Dekat gunung, sungai, pantai, gua, bukit terjal, dsb.

Sebagai orang tua, memperhatikan anak yang gejala-gejalanya mulai “gila” dengan aktifitas mendaki gunung ini, tentu saja lama-lama membuat khawatir. Bukan soal kegiatannya yang bertubi-tubi, melainkan khawatir kalau jadi lupa atau abai dengan tugas sekolahnya, sebab sebentar lagi ujian akhir SMP. Sementara orang tuanya tahu, bahwa Noval bukanlah tergolong anak yang mudah dalam belajar, alias perlu didorong-dorong, dikejar-kejar, disemangati dan terkadang agak dipelototi, itu pun masih ngos-ngosan untuk dapat nilai di atas 7. Agaknya, IQ-nya memang tidak dirancang untuk menghafal atau mengerjakan matematika.

***

Sejak beberapa waktu yang lalu, Noval membujuk-bujuk bapaknya agar mau menemani mendaki gunung Semeru (3.676 mdpl) di Jawa Timur atau Rinjani (3.726 mdpl) di pulau Lombok, pada penghujung tahun 2008 ini. Sebenarnya ingin juga saya memenuhinya, karena perjalanan pendakian ke kedua gunung itu memang sangat menarik. Selain medannya cukup menantang, pemandangan alamnya begitu indah. Terakhir saya mendaki Semeru tahun 1983 dan Rinjani tahun 1989.

Namun saya mencoba memahamkan Noval untuk menunda rencana itu, pasalnya akhir tahun adalah bukan waktu yang tepat untuk menikmati pemandangan gunung. Cuaca lebih sering mendung, hujan atau setidaknya banyak kabut. Telanjur jauh-jauh pergi dari Yogya dengan pengorbanan waktu, tenaga dan biaya, kalau kemudian tidak bisa melihat apa-apa di sepanjang perjalanan pendakian, rasanya rugi sekali. Sedangkan menikmati cantiknya pemandangan alam adalah salah satu hal yang sebaiknya jangan dilewatkan ketika mendaki gunung. Mudah-mudahan saya masih punya kesempatan untuk menemaninya, entah kapan.

Akhirnya Noval dapat menerima alasan saya. Tapi….. (lha ini yang bikin deg-degan), harus ada gantinya. Kata Noval, pokoknya tahun baru mau muncak (menggapai puncak gunung), seperti tahun baru setahun yang lalu ke puncak gunung Lawu (3.265 mdpl). Rupanya kemudian diam-diam dia sudah punya rencana untuk mendaki gunung Merbabu, untuk yang ketiga kalinya.

Ibunya hanya bisa nggrundel….. : “Naik gunung kok terus-terusan ki ngopo to, Le?” (Le, adalah panggilan ndeso untuk anak laki-laki).

Noval hanya nyengenges sambil berkata : “Saya mau ngalahin bapak….”.

Weleh, blaik, ki….. Daripada…daripada…., saya terpaksa ngalah lagi (selain ya karena memang kepingin juga….), kami berdua kemudian merencanakan untuk mendaki gunung Merapi (2.968 mdpl), melalui jalur Selo, Boyolali.

Saya sendiri pernah mendaki Merapi pada tahun 1985, lebih duapuluh tahun yang lalu. Kali ini saya ingin menemani Noval, bukan karena takut dikalahin seperti tekatnya, melainkan ngiras-ngirus ingin saya manfaatkan untuk menanamkan pelajaran filosofi hidup tentang kemampuan untuk survive dalam menghadapi rintangan atau tantangan. Saya pikir, ini adalah salah satu bekal penting bagi seorang entrepreneur.

Insya Allah pada tanggal 31 Desember 2008 nanti kalau tidak ada aral melintang, kami berdua, Noval dan bapaknya, akan mendaki dan menggapai fajar baru tahun 2009 di puncak Merapi. Itulah sebabnya hari Kamis kemarin (25 Desember 2008), saya bersama kedua anak saya jalan-jalan rekreasi sambil melakukan survey ke daerah Selo yang pada sore kemarin berkabut cukup tebal.

Ingin Bergabung Ke Puncak Merapi?

Jalur melalui Selo adalah lintasan pendakian termudah (tapi ya tetap saja bakal melelahkan), jarak tempuh menuju puncak Merapi hanya sekitar 4-5 jam. Rencananya kami berangkat dari Yogya hari Rabu, 31 Desember 2008 siang dan akan memulai pendakian dari Selo pada tengah malam saat pergantian tahun. Mudah-mudahan ketika fajar baru tahun baru 2009 menyingsing, kami sudah berada di puncak Merapi. Hari itu juga langsung turun dan kembali ke Yogya.

Jika ada rekan-rekan yang ingin bergabung dalam pendakian ke Merapi ini, silakan hubungi saya. Bisa berkumpul di Yogya atau langsung ketemu di Selo. Kalau tidak ada yang ikut, ya sudah…. Biar kami berdua saja yang menikmati capeknya……..

Yogyakarta, 26 Desember 2008
Yusuf Iskandar
(HP. 08122787618)

img_0638_puncak_sundoro

img_0591_puncak_sundoro2

img_0490_batu1

img_0786_r