Posts Tagged ‘nila’

Membeli Selera Makan Di Moro Lejar

7 April 2008

Nama Moro Lejar rasanya sudah tidak asing di telinga orang Yogya atau mereka yang sering bepergian ke Yogya. Meskipun mungkin belum berkesempatan mengunjunginya, tapi umumnya kenal dengan nama ini. Ini adalah nama sebuah restoran yang berada di luar kota di sisi utara Yogyakarta. Restoran ini dikenal karena lokasinya yang bernuansa alami dan sajian menunya yang khas.

Lokasinya relatif berada di daerah pegunungan, meskipun sebenarnya masih jauh di kaki timur gunung Merapi. Namun setidak-tidaknya pemandangan alam di sekitarnya memberi nuansa alam pegunungan. Cara termudah untuk mencapainya adalah melalui jalan Kaliurang menuju utara ke arah Pakem. Menjelang tiba di pusat kota (kalau boleh disebut kota) Pakem, ada persimpangan jalan yang membelok ke kanan menuju ke timur yang merupakan jalan alternatif menuju kota Solo. Sekitar 3-4 km menyusuri jalan ini maka akan ketemu dengan restoran Moro Lejar.

Kalau misalnya dari Pakem salah jalan dan lalu mengambil persimpangan yang membelok ke kiri yang merupakan jalan alternatif menuju Magelang, maka di sana juga ada dua restoran sejenis. Tapi entah kenapa Moro Lejar lebih punya nama. Mungkin karena restoran ini yang pertama kali berdiri dan sukses, sehingga ditiru orang.

***

Sajian menu khas yang disediakan antara lain menu ikan air tawar, sayur asam, lalapan lengkap dengan sambal terasi, serta aneka minuman. Ada pilihan ikan segar gurami, emas, nila atau bawal, lalu tinggal minta mau digoreng atau dibakar, dibumbui asam pedas atau asam manis, dengan ukuran sajian kecil hingga super besar.

Salah satu jenis minuman yang khas adalah bir “plethok”, bir yang tidak mengandung alkohol. Minuman ini sebenarnya adalah sejenis minuman penghangat seperti halnya wedang jahe, sekoteng atau bajigur. Bir “plethok” terbuat dari sari jahe, gula, bijih bunga selasih dan sejenis akar-akaran yang membuatnya berwarna merah (saya lupa namanya dan beberapa pelayannya ternyata tidak mampu menyebut nama akar-akaran ini ketika saya tanya).

Setiap hari restoran ini buka hingga jam 21:00 malam sehingga cukup leluasa bagi mereka yang datang dari luar kota. Jumlah pengunjungnya pun tergolong luar biasa banyaknya, apalagi kalau musim liburan. Di sana terdapat puluhan gubug (saung) yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar yang sengaja dibuat di lereng permukaan tanah yang konturnya berteras-teras. Umumnya pengunjung makan sambil duduk lesehan seperti gudeg Malioboro, meskipun tersedia juga sarana meja-kursi.

Harganya relatif tidak terlalu mahal. Sekedar gambaran, kami sekeluarga berempat pada hari Jum’at, 17 Agustus 2001, yll. (kami tidak ikut upacara bendera), hanya menghabiskan sekitar Rp 70.000,- sudah pada “kemlakaren” (perut terasa penuh terisi seperti tidak ada lagi ruang yang tersisa).

Kalau melihat banyaknya pengunjung hampir setiap hari, tentu akan ada pertanyaan : Apakah memang masakannya enak? Kalau saya rasa-rasakan sebenarnya kok ya biasa-biasa saja. Menu dan rasanya tidak jauh berbeda dengan menu sejenis di restoran atau warung makan lainnya. Tapi kenapa Moro Lejar banyak dikunjungi orang?

***

Moro Lejar secara fisik berani tampil beda sebagai sebuah restoran. Suasana makan lesehan di gubug yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar, di kaki kawasan pegunungan yang tentunya berhawa menyegarkan, dengan menu ikan segar, ternyata dapat membangkitkan selera makan. Apalagi kalau memang sedang lapar. Dan, itulah yang ditawarkan oleh Moro Lejar.

Moro Lejar berhasil memberi nilai tambah atas menu makanan khas yang sebenarnya biasa-biasa saja, menjadi pilihan makanan yang banyak diminati dan dibeli pengunjung atau calon pengunjungnya.

Oleh karena itu, kalau kelak saya akan kembali ke sana, itu karena saya akan datang dengan kesadaran bukan untuk membelanjakan uang guna membeli makanan yang masakannya luar biasa, melainkan saya akan membeli selera makan yang akan disajikan oleh Moro Lejar dengan sangat baik dan memuaskan.

Jadi, saya memang siap dan rela untuk membeli nilai tambah guna melampiaskan keinginan untuk dapat menikmati makan di Moro Lejar.

New Orleans, 20 Agustus 2001
Yusuf Iskandar