Posts Tagged ‘ngalah’

Naik Air Asia? Pilih Rebutan Atau Ngalah

4 Mei 2008

Terbang menuju Balikpapan dari Jakarta bersamaan arus balik usai lebaran. Tidak banyak pilihan pesawat, kecuali kalau sudah booking jauh hari sebelumnya. Maka dapatlah tiket pesawat Air Asia (dulu AWAIR). Maskapai yang diakui bertarip murah dan cukup nyaman, dengan semboyannya “Now everyone can fly”. Banyak penghargaan internasional telah berhasil diraih. Salah satunya untuk tahun 2007, maskapai ini juga meraih predikat World Airline Awards – Best Low Cost Airline in Asia by SkyTrax. Meski Air Asia sudah cukup lama mengangkasa di Indonesia, tapi siang itu adalah pengalaman pertama bagi saya.

Pada karcis boarding tidak tertulis nomor kursi. Ketika saya tanyakan, jawabannya adalah bahwa berlaku rejim tempat duduk bebas (bukan bebas tempat duduk, nanti dikira lesehan). Saya manggut-manggut saja. Ketika tiba di ruang tunggu dan tampak penumpangnya berjubel, langsung terbayang apa yang akan terjadi ketika nanti panggilan boarding dikumandangkan.

Jam keberangkatan tergolong on-time, telat-telat beberapa menit masih okelah…. Konon, ketepatan waktunya berada pada level 90%-an. Begitu panggilan boarding menggema, spontan semua penumpang berdiri dan mak grudug…. mendekat ke pintu lorong yang menuju ke pesawat. Tapi ada kebijaksanaan tambahan. Bagi yang membeli karcis Xpress Boarding (akan dipanggil namanya) dipersilakan untuk masuk pesawat duluan. Barulah kemudian para penumpang “penggembira” alias peserta antrian umum sisanya berebut menuju pintu lorong.

Fasilitas Xpress Boarding dijual kepada penumpang siapa saja. Untuk penerbangan domestik harganya Rp 25.000,- (dewasa) dan Rp 12.500,- (anak-anak dan usia lanjut). Untuk penerbangan internasional sekitar dua kalinya. Cukup murah. Tapi tampaknya tidak banyak yang memanfaatkan fasilitas ini. Padahal dengan fasilitas ini dijanjikan bisa masuk pesawat duluan yang berarti dapat memilih tempat duduk. Fasilitas ini diberikan gratis hanya kepada mereka yang sudah udzur, usia di atas 65 tahun. Saya bayangkan kalau suatu saat nanti banyak penumpang yang membeli fasilitas Xpress Boarding, akan berebutan juga jadinya.

Serunya justru ketika giliran penumpang “penggembira” dipersilakan mulai masuk pesawat. Seperti mau antri beli karcis kereta api mudik atau nonon sepak bola. Para penumpang berebut untuk duluan, agak dorong-dorongan, meski lebih sopan dan tidak separah antrian pembagian zakat. Tapi tetap saja kudu siap agak himpit-himpitan karena didorong antrian yang di belakangnya.

Tidak itu saja. Selepas lorong terminal rupanya pesawatnya parkir agak jauh. Jadi harus naik bis pengantaran penumpang menuju ke pesawat. Penumpang pun pada memilih untuk berdiri di dekat pintu dan rela bergelantungan agar nanti bisa duluan naik tangga pesawat. Sampai-sampai sopir bis dan petugasnya harus berteriak-teriak agar tempat duduk yang telah tersedia berada di bagian depan dan belakang bis supaya diisi terlebih dahulu.

Ketika bis tiba di dekat pesawat dan pintu otomatis terbuka, para “penggembira” ini berhamburan menuju tangga pesawat. Barulah setelah sampai di dalam pesawat, longak-longok dan tolah-toleh mencari tempat duduk dan memilih kalau masih ada. Kalau kebetulan berada di urutan belakang saat memasuki pesawat, terpaksa harus menerima tempat duduk mana saja yang masih kosong tersisa.

Karena saya baru pertama kali menggunakan jasa maskapai Air Asia, saya membayangkan apa iya setiap hari kejadiannya seperti itu. Padahal setiap hari ada banyak penerbangan Air Asia. Saya tidak tahu persisnya, apakah mengatur nomor tempat duduk ada kaitannya dengan harga tiket yang murah. Saya tidak paham hubungan-hubungan efisiensi ekonomisnya.

Yang saya tahu bahwa untuk naik pesawat Air Asia diperlukan bekal kesiapan tambahan, yaitu siap rebutan untuk masuk ke pesawat lebih dahulu atau siap (me)ngalah yang penting tetap bisa duduk di dalam pesawat.

Kalau ada pepatah Jawa, “wong ngalah gede wekasane” (orang yang mau mengalah akan meraih kebaikan di belakang hari). Mestinya juga ada pepatah “wong rebutan gede rekasane” (orang yang mau berebut memerlukan energi ekstra). Bedanya, kalau yang pertama tanpa modal, dan “imbalan”-nya entah apa dan kapan. Kalau yang kedua bermodal tenaga dulu baru kemudian dapat hasil sesaat, ya milih tempat duduk itu. Tinggal pilih yang mana, mau rebutan atau ngalah…..   

Yogyakarta, 31 Oktober 2007.
Yusuf Iskandar

Iklan