Posts Tagged ‘new york’

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(15).    New York, New York

Hari Kamis pagi, tanggal 6 Juli 2000, matahari sudah agak tinggi sebelum kami meninggalkan hotel untuk mulai mengarungi belantara kota New York. Melihat keluar dari jendela hotel di lantai 9, yang tampak malah dinding-dinding gedung tinggi. Cahaya matahari hanya menyelusup di celah-celahnya. Rupanya kami sedang berada di sebuah sudut kecil  dari belantara kota New York, tepatnya di wilayah Manhattan. Inilah belantara kota yang banyak ditumbuhi oleh gedung-gedung tinggi.

Sekitar jam 9:30 pagi kami keluar dari hotel, mulai dengan berjalan kaki menyusuri jalan 55th Street, lalu masuk ke jalan 7th Avenue menuju ke Times Square. Mengikuti saran dari banyak orang agar lebih leluasa menyusuri kota New York, maka kami memilih untuk tidak menggunakan kendaraan sendiri. Tadi malam setiba di hotel, mobil langsung saya titipkan ke tempat penitipan mobil yang sudah menjadi bagian dari layanan hotel, meskipun perlu membayar biaya parkir tambahan.

Tidak sebagaimana hotel-hotel di tempat lain, di Manhattan hotel hanya merupakan sebuah bangunan yang tumbuh ke atas tanpa menyisakan ruang yang cukup leluasa di sekitarnya, hingga terkesan berhimpit-himpitan dengan bangunan di sekitarnya. Karena itu hotel tidak menyediakan halaman parkir. Selain itu jika saya nekad menyusuri mengendarai kendaraan sendiri juga akan menyulitkan. Selain karena padat dan semrawutnya lalu lintas, juga menemukan tempat parkir adalah bukan hal yang mudah, khususnya di wilayah Manhattan. Belum lagi kekhawatiran akan dijahilin orang.

Mempertimbangkan hal tersebut, maka menitipkan kendaraan selama kami berada di kota New York dirasa akan lebih aman dan nyaman, serta lebih effisien dalam hal penghematan waktu. Mengemudikan kendaraan dengan menyusuri semrawutnya jalan-jalan kota New York tentu perlu energi tersendiri, dan pasti akan lebih menyita waktu serta tidak fleksibel untuk kesana-kemari.

Oleh karena itu berjalan kaki adalah pilihan yang saya anggap paling tepat untuk menikmati kota New York, lengkap dengan arsitektur bangunan kota maupun kehidupan masyarakatnya. Selanjutnya saya akan menggunakan jasa wisata kota (city tour), meskipun untuk itu perlu dianggarkan biaya yang cukup mahal. Kalaupun tidak ingin menggunakan jasa ini, menggunakan taksi juga bukan hal yang sulit. Selain itu, jasa angkutan kereta bawah tanah (subway) juga dapat menjadi pilihan.

***

New York City (selanjutnya saya sebut dengan kota New York saja) terletak di sebuah semenanjung kecil di ujung tenggara dari wilayah negara bagian yang juga bernama New York. Kota New York sendiri sebenarnya terdiri dari lima wilayah kecil atau semacam Kecamatan (yang disebut borough) yang nama-namanya sudah sering kita dengar, yaitu Manhattan, Brooklyn, Queens, the Bronx dan Staten Island.

Manhattan adalah salah satunya yang paling dikenal orang. Jika orang-orang New York (yang disebut New Yorker) menyebut the city, maka yang dimaksudkan adalah wilayah Manhattan, bukan keempat wilayah lainnya. Wilayah Manhattan ini sendiri sebenarnya terpisah dari daratan di sekitarnya oleh adanya tiga sungai, yaitu sungai Hudson yang paling lebar berada di sebelah barat, sungai East di sebelah timur dan sungai Harlem membelah di sisi utara.

Sistem jalan-jalan di New York sebenarnya tidak rumit. Membentang arah utara-selatan adalah jalan-jalan utama mulai First Avenue di sebelah timur hingga Tenth Avenue di sebelah barat, dengan Fifth Avenue membelah di tengah-tengahnya membagi wilayah timur dan barat. Membentang arah timur-barat tegak lurus memotong kesepuluh Avenue tersebut adalah puluhan bahkan ratusan jalan penghubung yang antara lain dinamai jalan 1st, 2nd, 3rd, 4th, 5th Street, dst. mulai dari sebelah selatan hingga entah Street ke berapa ratus di sebelah utara. Umumnya jalan-jalan tersebut merupakan jalur satu arah.

Di tengah-tengah Manhattan ini terdapat sebuah taman kota yang sangat luas yang bernama Central Park. Jika disebut downtown di wilayah Manhattan, maka tidak dengan sendirinya yang dimaksudkan adalah pusat kota, melainkan adalah wilayah bagian selatan Manhattan atau mudahnya dari Central Park ke arah selatan. Sedangkan uptown adalah wilayah dari Central Park ke utara. 

Uniknya, ada sebuah jalan yang sangat terkenal yang membelah diagonal dari sisi tenggara menuju ke barat laut, yaitu jalan Broadway. Menurut sejarahnya jalan Broadway ini merupakan bekas rute perlintasan suku Indian. Tempat di mana jalan Broadway ini memotong Avenue, maka terbentuklah daerah-daerah yang dikenal dengan nama square atau circle.

Sebagai contoh, tempat dimana Broadway memotong Fourth Avenue di sebelah selatan disebut dengan Union Square. Lalu yang memotong Fifth Avenue di sebelah utaranya disebut Madison Square, yang memotong Sixth Avenue disebut Herald Square, yang memotong Seventh Avenue disebut Times Square, dan yang memotong Eight Avenue disebut Columbus Circle. Madison Square dan Times Square adalah yang paling dikenal orang.

***

Berjalan kaki menyusuri kota New York dari Seventh Avenue hingga Times Square, kami langsung berada di tengah-tengah kepadatan lalu lintas kendaraan maupun pejalan kaki. Menyatu dengan para pejalan kaki bergelombol di ujung perempatan jalan, lalu berbondong-bondong menyeberang saat kendaraan berhenti. Demikian seterusnya berpindah dari satu perempatan menuju ke perempatan jalan berikutnya.

Jarak antara tiap-tiap perempatan atau blok tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan itu pula bangunan-bangunan tinggi menjulang ke angkasa dengan dominasi pemandangan pertokoan yang didekorasi secara sangat atraktif, paling tidak dengan tampilan yang berbeda dibandingkan dengan umumnya pertokoan di kota lain.

Taksi-taksi yang berwarna khas kuning (karena itu disebut dengan yellow cab) bertebaran di sepanjang jalan-jalan kota New York. Dari ketinggian puncak gedung Empire State, tampak gerombolan taksi kuning ini layaknya sedang ada arak-arakan kampanye Golkar. Rasanya benar kalau orang mengatakan ada jutaan taksi berseliweran di New York setiap saat. Seperti yang sering tampak dalam film-film layar lebar dengan setting kota New York dan taksi kuningnya. Memudahkan bagi siapa saja yang ingin menggunakan jasanya.

Meskipun demikian, pemerintah kota New York mengingatkan agar para calon penumpang taksi memperhatikan tulisan tentang hak-hak penumpang terhadap taksi sebagaimana yang selalu terpasang di setiap taksi. Ini adalah kata lain untuk memperingatkan bahwa terkadang ada sopir taksi yang suka nakal terhadap penumpang yang belum biasa bertaksi di New York. Sesuai ketentuan pemerintah kota New York, bahwa setiap penumpang taksi berhak untuk minta diantarkan kemanapun tujuannya di kota New York, tidak tergantung jarak dan lokasi tujuan. Karena itu jangan biarkan sopir taksi yang mendikte penumpang tentang arah dan tujuannya.

Alternatif sarana angkutan lainnya adalah kereta bawah tanah. Di berbagai sudut kota banyak dijumpai tangga menurun yang menuju ke stasiun kereta bawah tanah. Kereta bawah tanah di New York, yang disebut subway merupakan salah satu kereta bawah tanah tertua di dunia setelah yang ada di London, Inggris. Meskipun dahulu jalur kereta bawah tanah New York ini pernah terkenal karena tidak aman, tetapi kini pemerintah setempat meyakinkan bahwa angka kriminalitas di jalur subway ini sangat menurun. Meskipun tentu saja tetap diperlukan kewaspadaan.

Jalur-jalur subway yang panjang totalnya mencapai 237 mil (sekitar 380 km) menjangkau wilayah yang sangat luas dan memang terkesan rumit. Namun tanda-tanda petunjuk di setiap stasiun sebenarnya mudah untuk diikuti. Meskipun demikian, disarankan kepada calon penumpang yang belum terbiasa agar hendaknya terlebih dahulu mempersiapkan rencana perjalanan sebaik-baiknya sebelum membeli karcis. Ini dimaksudkan agar tidak bingung dan tersesat di rute-rute yang simpang siur di bawah tanah yang akhirnya malah memboroskan waktu dan biaya.

Kami sendiri memilih menggunakan jasa wisata kota yang kami anggap lebih mudah, lebih banyak kesempatan melihat pemandangan kota serta lebih aman mengingat kami pergi bersama anak-anak. Pagi ini kami akan segera memulai perjalanan menyusuri belantara hutan beton. Beberapa lokasi pilihan sudah kami rencanakan untuk dikunjungi. Pasti tidak cukup waktu kalau ingin mengunjungi semua tempat dalam waktu hanya dua hari.

***

Tak diragukan lagi, kalau dikatakan bahwa New York adalah salah satu kota paling menawan di dunia. Kota dimana perputaran roda kehidupan tidak pernah berhenti dan selalu tampil atraktif. Kota yang tidak pernah bebas dari kesibukan, dan karena itu mobilitas kota menjadi bagian persoalan tersendiri. Kota yang ternyata juga menjadi tujuan untuk mengadu peruntungan bagi kaum pendatang, termasuk pendatang (haram) dari Indonesia.

Inilah New York. Kota dengan sekitar 7,5 juta penduduknya dan berelevasi sekitar 16 m di atas permukaan air laut. Tempat dimana Frank Sinatra pernah menghayalkan ingin bangun pagi di sebuah kota yang tidak pernah tidur, dalam lagunya : “New York, New York“……………- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(19).    Ditolak Masuk Gedung Sekretariat PBB

Akhirnya kami tiba di jalan First Avenue, di depan sebuah gedung yang di halaman depannya terpasang berjejer puluhan bendera negara anggota PBB. Saking banyaknya bendera hingga mengganggu pandangan depan gedungnya. Kompleks gedung yang dikenal dengan nama United Nation Headquarter ini ternyata dari luar tampak biasa-biasa saja. Tidak segagah keputusan-keputusan sidangnya yang sering nakut-nakutin anggotanya, apalagi anggotanya yang “kelas gurem”. Rasa-rasanya masih tampak lebih megah gedung DPR/MPR kita yang di Senayan itu, yang pernah “boleh” dipanjat ramai-ramai.

Setelah melewati pemeriksaan seperti halnya kalau mau masuk bandara, akhirnya kami tiba di dalam gedung di bagian lobi umum, melalui pintu sisi utara. Masuk gedungnya sendiri tidak perlu membayar, namun disediakan sarana untuk berwisata menjelajahi gedung ini dengan membayar US$7.50 per orang dewasa. Karena tujuan utama saya adalah mau numpang sholat Jum’at, maka saya langsung mencoba mencari tahu di mana letak musholla atau masjidnya.

Dari informasi yang saya punyai dan setelah melihat sendiri situasinya, ternyata musholla atau masjid PBB berada di lantai 17 gedung utama atau Secretariat Building. Padahal untuk masuk ke gedung utama diperlukan ijin khusus. Sebelum saya menemui petugas yang ada di situ, saya sempat memperhatikan orang-orang yang mendaftar untuk memperoleh ijin masuk ke gedung utama. Semuanya berpenampilan rapi dan resmi, pakai jas dan dasi, dengan membawa tas atau segepok dokumen di tangannya. Tidak ada satupun yang berpenampilan sebagai wisatawan.

Akhirnya saya beranikan diri juga untuk bertanya bagaimana caranya kalau saya mau sholat Jum’at di masjid PBB. Eh, lha malah saya ganti ditanya : “Siapa sponsor Sampeyan?”. Wah, ya jelas tidak ada sponsornya. Wong saya lagi melancong, je….. Maka kemudian saya diberitahu oleh petugas itu bahwa untuk memasuki gedung utama diperlukan sponsor atau ada pihak yang mengundang, atau dengan kata lain ada yang menjadi tuan rumah atas kehadiran saya. Lha ya siapa yang mau menuan-rumahi saya, kalau saya datang ke situ dalam rangka melancong dan mampir mau nunut Jum’atan.

Yah, terpaksa saya kehilangan sholat Jum’at siang itu. Saya baru menyadari bahwa ada yang tidak lengkap dari informasi yang saya miliki untuk dapat masuk ke masjidnya PBB di bagian gedung yang disebut International Islamic Community. Ternyata memang tidak dapat begitu saja untuk mampir dan lalu numpang Jum’atan.

Tadinya pikiran saya berlogika bahwa gedung itu kan miliknya negara-negara sedunia, termasuk Indonesia. Karena itu tentunya saya juga berhak menjadi pemiliknya. Apalagi kalau tujuannya untuk ibadah, kan mestinya tidak ada halangan bagi siapapun untuk tidak diperbolehkan beribadah. Ternyata logika saya kelewat ndeso. Bagaimanapun juga setiap perkara itu ada aturan dan tata caranya demi kemaslahatan (kebaikan) semua pihak. Di antaranya ya demi keamanan bersama maka salah satunya aturan sponsor-menyeponsori itu diterapkan bagi siapa saja yang akan masuk ke gedung utama sekretariat PBB.

Yo wis (ya sudah)….., akhirnya kami jalan-jalan berkeliling di dalam lobi sayap timur gedung PBB saja. Di salah satu toko cendera mata yang ada di lantai dasar, ada dijual barang-barang kerajinan dari seluruh negara anggota PBB. Saya cari-cari yang dari Indonesia. Rupanya ada wayang golek dari Jabar, kerajinan kayu dari Bali, kerajinan perak dari Yogya, dan entah apa lagi wong penempatannya terpisah-pisah.

Selesai berkeliling di dalam ruangan, kemudian kami menuju keluar gedung. Di halaman terbuka sebelah timur yang siang itu matahari terasa panas menyengat ada beberapa patung menghiasi pelataran. Kami lalu menuju ke arah belakang atau menjauh dari pintu utama. Rupanya sungai Timur (East river) tepat berada di belakang gedung PBB.

Di kompleks PBB yang luas seluruhnya mencapai 7,3 ha ini selain terdapat Secretariat Building, ada bangunan berkubah yang disebut General Assembly Building tempat biasanya sidang umum diselenggarakan. Gedung General Assembly ini mampu menampung 1.400 delegasi, 160 wartawan dan 400 tamu. Pada setiap kursi delegasi dilengkapi dengan earphone untuk mendengarkan terjemahan dari setiap pidato ke dalam enam bahasa resmi yaitu : Inggris, Rusia, Cina, Perancis, Spanyol dan Arab.

Selain kedua bangunan tersebut masih ada bangunan lain yang disebut Conference Building dan Hammarskjold Library. Di bagian utara kompleks PBB ini terdapat sebidang halaman luas berumput. Setelah melewati sebidang halaman yang agak teduh dan rindang dengan pepohonan kecil, kami tiba di bantaran sungai yang sengaja dirancang menjadi sebuah taman di pinggir sungai tepat di belakang gedung PBB.

Jauh di seberang sungai tampak wilayah kecamatan Brooklyn. Di sungainya sendiri berlalu-lalang perahu-perahu dan kapal kecil. Gedung-gedung tinggi juga tampak menjulang di sisi yang sama di tepian sungai. Kalau saja kami ada di sana di saat sore atau senja hari, pasti suasananya lebih mengasyikkan.

Kelihatannya tempat itu memang sengaja dirancang untuk menjadi tempat refreshing bagi para delegasi PBB yang sedang jenuh bersidang dan melototin dokumen-dokumen, sehingga perlu melepas pandangan jauh-jauh. Sekaligus tempat ini menjadi obyek wisata tambahan bagi wisatawan yang berkunjung ke gedung markas besar PBB.   

Sekitar jam 4:30 sore, kami baru meninggalkan pelataran gedung PBB dan lalu menuju ke pintu gerbang utama. Sambil duduk-duduk di pinggir trotoar jalan, kami menunggu bis wisata yang akan membawa kami ke downtown. Terlihat ada dua orang petugas sedang menurunkan bendera-bendera negara anggota PBB yang seharian berkibar di sepanjang pagar halaman depan.

Rupanya bendera-bendera itu setiap pagi dikibarkan dan setiap sore diturunkan. Cara menurunkannya pun biasa-biasa saja serta tidak terlihat ada upacara tertentu. Dari pinggir jalan ini saya dapat melihat bangunan gedung utama sekretariat PBB yang menjulang setinggi 166 m dimana saya tadi tidak diperbolehkan masuk.

Cukup lama kami menunggu bis wisata yang tidak muncul-muncul, hingga sekitar 45 menit barulah kami meninggalkan gedung markas besar PBB yang terletak di pinggir tenggara Manhattan. Dari sini kemudian kami menuju ke jalan 59th Street di wilayah tengah Manhattan. Kami lalu turun di sisi tenggara Central Park atau di penggal jalan Central Park South. Central Park adalah sebuah taman sangat luas di pusat kota New York. Sengaja kami ingin menikmati suasana sore hari di Central Park.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(20).    Makan Hotdog Di Central Park

Masih hari Jum’at sore, 7 Juli 2000, turun dari bis kami berjalan kaki menyeberang menuju ke pintu selatan Central Park. Di sepanjang trotoar sekitar Central Park ini banyak pedagang kaki lima yang menggelar kiosnya. Nampaknya memang para pedagang itu sengaja dibiarkan oleh pemerintah New York sebagai bagian dari industri pariwisata.

Ada para pelukis, penjual foto, pengasong cendera mata, pedagang T-shirt, dan tentu juga yang terkenal khas di New York yaitu penjual hotdog menyebar di trotoar jalan. Sepanjang keberadaan mereka tidak menggangu lalu lintas kendaraan maupun pejalan kaki, rasanya kok tidak menjadi masalah. Di sekitar Central Park ini banyak juga ditawarkan wisata andong atau delman, yaitu sejenis kereta beroda empat yang ditarik seekor kuda. Andong atau delman ini malah terkadang suka berhenti semaunya.

Yang membedakan wisata andong di New York ini misalnya dengan di Yogya, adalah kalau di New York pak kusirnya menghela kuda sambil nerocos berceritera tentang apa saja yang dilihatnya, bahkan yang tidak dilihatnya pun dia akan sanggup menceriterakan kisahnya.

Sedangkan kalau di Yogya pak kusirnya benar-benar mengendarai kuda supaya baik jalannya, sehingga turis yang naik hanya tolah-toleh dengan pikiran masing-masing. Masih untung kalau kebetulan turisnya membawa buku panduan wisata. Kalau tidak, sebenarnya sang turis berhak untuk merasa dirugikan, karena dia telah kehilangan hak informatif atau edukatif dari perjalanan wisatanya. Tapi memang persoalannya tidak sesederhana itu. Di New York pak kusirnya sudah ngomong Inggris sejak lahir, sedang di Yogya ngomong Indonesia saja terkadang masih pathing pecothot (belepotan).

Tiba di pintu selatan Central Park, kami berhenti dulu sambil duduk-duduk istirahat di bangku di trotoar jalan masuk menuju Central Park. Sesekali melihat-lihat kios pedagang kaki lima yang menjual T-shirt. Desain T-shirt yang paling populer bagi para pendatang adalah yang ada tulisannya : “I love (love-nya diwakili dengan gambar hati) NY“.

Tiba-tiba saya ingat, ada pesan promosi yang menyarankan agar jangan lupa kalau ke New York mampir membeli hotdog di pinggiran jalan. Itulah salah satu kekhasan dari suasana kesibukan kota New York.

Ya, membeli hotdog di pinggir jalan lalu memakannya juga di pinggir jalan, jika perlu sambil jalan. Seperti yang sering terlihat di film-film layar lebar. Seakan-akan kurang sah kalau misalnya membelinya di toko, atau membelinya di pinggir jalan tapi makannya di hotel.

Itulah yang sore itu kami coba lakukan. Membeli hotdog untuk kami berempat, setelah terlebih dahulu saya pastikan bahwa hotdog-nya berisi beef (tidak ada salahnya saya tanyakan, eh siapa tahu hotdog-nya benar-benar berisi dog yang kepanasan). Kami lalu memakannya sambil duduk-duduk santai bersandar di bangku panjang, dekat pintu masuk Central Park, sambil menghisap rokok dalam-dalam.

Anak laki-laki saya yang kelas satu SD malah makannya sambil duduk bersila di lantai trotoar diselingi menenggak air mineral. Saya biarkan saja kalau memang itu caranya menikmati sorenya New York. Pendeknya, sore itu kami benar-benar berlaku seperti turis mancanegara bagi kota New York.

Ada beberapa orang lain juga sedang duduk-duduk santai di bangku-bangku yang berdekatan dengan tempat kami duduk. Kelihatannya juga wisatawan yang kecapekan, atau mungkin New Yorker yang ingin santai menghirup udara sore. Diantaranya ada orang-orang tua yang lebih tepat saya sebut kakek-kakek serta ada pula pasangan-pasangan muda.

Enak juga sore-sore makan hotdog hangat di saat perut sedang lapar berat. Ya maklum wong makan siangnya tadi tidak benar-benar makan. Malah anak saya nambah minta dibelikan lagi, hotdog plus sebotol air mineral. 

Memasuki taman Central Park sepintas taman kota ini terkesan sebagai taman yang terbentuk secara alamiah. Di dalam taman dijumpai seperti singkapan batuan yang di sekitarnya ditumbuhi rerumputan dan pepohonan rindang. Juga jalan-jalan yang naik serta turun seperti memang kontur alamnya demikian. Padahal sebenarnya taman ini adalah taman buatan. 

***

Taman Central Park yang terletak di jantung kota New York atau tepatnya di wilayah Manhattan mempunyai luas sekitar 340 hektar. Taman ini benar-benar menjadi paru-paru kota New York. Menjadi tempat yang sangat ideal untuk santai, rekreasi maupun berolah raga di tengah kesibukan dan hiruk-pikuknya kehidupan kota yang tidak pernah tidur ini.

Di areal taman yang sangat luas untuk ukuran taman di tengah kota, Central Park selain memiliki bagian-bagian yang berupa taman yang tertata indah serta ditumbuhi banyak pepohonan rindang, juga terdapat danau, arena bermain, kebun binatang, cagar alam untuk jenis-jenis burung, arena teater terbuka maupun arena konser musik.

Termasuk berbagai sarana olah raga seperti kolam renang, bersepatu roda, berperahu, berkuda, bersepeda, jogging, tenis, baseball, dsb.  Juga ada sarana untuk memancing sebagai hiburan, yang disebut dengan istilah catch-and-release fishing, yaitu memancing tapi bukan untuk menangkap ikannya lalu dimasak, melainkan untuk dilepaskan lagi. Saat musim dingin, danau-danau kecil di taman ini airnya membeku, sehingga cocok buat berolahraga ice-skating.

Taman yang berbentuk empat persegi panjang dan membentang relatif arah utara-selatan ini tepatnya dibatasi oleh jalan 59th Street di sebelah selatan dan jalan 110th Street di sebelah utaranya. Di sisi timur dibatasi oleh Fifth Avenue dan di sisi baratnya Eighth Avenue. Di dalamnya terdapat sarana jalan yang dapat dilalui dengan mobil. Dengan berjalan kaki menyusuri taman ini, jelas hanya akan sanggup mencapai sebagian kecil area saja, selain tentunya memerlukan waktu yang tidak pendek. Seperti halnya yang kami lakukan sore itu, cukup dengan mutar-mutar di bagian paling selatan dari taman ini saja.

Mulanya di tahun 1862 ketika sebuah taman kota dipatok-patok di wilayah bagian utara Manhattan yang waktu itu masih belum berkembang dan masih sepi. Lalu dirancang menjadi sebuah taman kota yang sangat luas oleh dua orang arsitek, Frederick Law Olmstead dan Calvert Vaux. Taman ini memang dirancang untuk menjadi semacam “tempat pelarian” bagi para pengunjung atau warga kota yang jenuh dengan kesibukan dan kesemrawutan kota New York yang tidak jauh berada di sekelilingnya.

Dalam perkembangannya kini, banyak para selebritis yang memilih bertempat tinggal di areal di sekitar Central Park. Tentu dengan pertimbangan karena memandang taman ini akan memberikan kenampakan dan kesegaran berbeda dibandingkan dengan memandang wajah kota New York yang penuh dengan gedung-gedung tinggi. Tersedianya sarana berolah raga juga menyebabkan taman ini banyak didatangi oleh para turis maupun warga kota New York sendiri. Termasuk penyanyi seperti Madonna yang suka jogging di sini.

Memandang Central Park dari puncak gedung pencakar langit, seperti dari gedung Empire State misalnya, memberikan kenampakan kota yang sangat kontras adanya sebuah dataran hijau yang luas di tengah belantara hutan beton yang tumbuh di sekelilingnya yang membentang di seluas daratan Manhattan.

Warga kota New York tentu bangga memiliki Central Park. Seperti halnya “mestinya” warga Jakarta juga akan bangga kalau misalnya taman Medan Merdeka dapat terolah dengan baik menjadi taman kota di tengah kesibukan metropolitan Jakarta. Mekipun luas area Medan Merdeka tidak seberapa dibanding luas Jakarta, tetap saja akan bernilai lebih daripada tidak ada.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(21).    Suatu Malam Di Broadway

Salah satu nama jalan yang sangat terkenal di kota New York atau tepatnya Manhattan adalah jalan Broadway Avenue. Ini adalah jalan berarus lalulintas searah yang memanjang diagonal dari arah barat laut menuju tenggara wilayah Manhattan. Jalan ini menjadi terkenal karena adanya panggung-panggung teater serta menjadi pusat aktifitas seni khususnya seni teater di New York.

Ada sekurang-kurangnya 33 panggung teater bertebaran di sekitar jalan Broadway. Meskipun sebenarnya hanya dua panggung teater saja yang benar-benar berlokasi di jalan Broadway, selebihnya berada di jalan-jalan sekitarnya yang memang berada di seputaran Broadway. Tepatnya gedung-gedung teater ini berada di sekitar Times Square, dan menyebar antara jalan 41st dan 55th Street di sebelah selatan dan utaranya, serta antara Sixth dan Eighth Avenue di sebelah timur dan baratnya.

Demikian populernya tentang pementasan teater di Broadway ini, sehingga untuk lakon-lakon tertentu bisa dilakukan pementasan setiap malam untuk periode yang sangat lama, hingga berbulan-bulan. Untuk menyaksikan pertunjukan teater di Broadway memang perlu jeli untuk mendapatkan harga tiket yang murah karena setiap saat setiap gedung memberikan harga sale dengan potongan harga. Bahkan pemesanan tiket pun dapat dilakukan sejak 3 bulan hingga setahun sebelumnya.

***

Di hari Jum’at malam. 7 Juli 2000 itu, yang adalah malam terakhir kami di New York sebelum esoknya akan melanjutkan perjalanan, kami sempatkan untuk jalan-jalan menyusuri sepenggal jalan Broadway. Broadway yang kami lihat malam itu adalah Broadway yang gemerlap dan sibuk seperti tak kenal waktu.

Pementasan teater hanyalah bagian kecil saja dari kesibukan Broadway, selebihnya adalah pertokoan, arena entertainment, termasuk pedagang kaki lima, di tengah ribuan pengunjung pejalan kaki yang entah memang berniat belanja atau sekedar berekreasi. Dan kami adalah empat orang dari ribuan pejalan kaki yang berseliweran di Broadway malam itu. 

Saya sempat berhenti sebentar di depan gedung teater yang malam itu mementaskan lakon “Miss Saigon”. Pementasan tentang lakon ini bahkan sudah saya ketahui sejak setahun yang lalu. Saya memang sangat berkeinginan untuk menyaksikan pementasan ini. Ketertarikan saya selain karena saya tertarik dengan setting dan alur cerita lakon ini, juga karena menyaksikan teater di Broadway pernah menjadi impian saya sewaktu masih sekolah dulu.

Di jaman sekolah dulu, baik sewaktu tinggal di Yogya maupun di Bandung, sewaktu sedang asyik-asyiknya menggandrungi seni teater, saya pernah berkhayal alangkah bangganya kalau pada suatu saat nanti saya sempat menikmati pementasan seni teater di Broadway, di kota New York. Sedikitpun tidak pernah terlintas di pikiran bahwa kesempatan itu akan datang sekian belas tahun kemudian. Bukan hanya saya, teman-teman saya yang juga pecinta seni teater juga punya khayalan yang sama.

“Kesempatan itu ada di depan mata saya, malam ini”, kata saya dalam hati. Sesaat saya pandangi poster-poster pertunjukan yang terpasang di teras depan gedung Broadway Theater. Anak saya sempat sewot : “ngapain sih ngeliatin gambar-gambar begitu”. Agaknya ada tukang karcis, atau barangkali calo penjual karcis, yang memperhatikan saya. Lalu dia menawari tiket dengan harga sale untuk saya malam itu. Dan terpaksa saya jawab dengan sopan : “No, thank you“.

Ternyata memang tidak setiap keinginan atau bahkan obsesi sekalipun, harus diwujudkan ketika kesempatannya telah tiba. Ya, seperti malam itu. Keinginan sudah menggebu-gebu, kesempatan sudah di ambang pintu, rasanya uang di saku juga masih lebih dari cukup. Tapi toh akhirnya semua bangunan ego saya harus saya rubuhkan.

Lha, bagaimana dengan anak-anak dan istri saya? Karena sudah pasti mereka tidak akan dapat menikmati apa yang akan mereka lihat di panggung teater sebagaimana saya menikmati pementasannya. Selalu saja muncul pertimbangan lain ketika kita akan berniat mewujudkan sebuah keinginan. Sangat berbeda kejadiannya dengan ketika pertama kali keinginan itu muncul, sekian tahun yang lalu. 

***

Jalan-jalan menyusuri Broadway malam itu segera saya lanjutkan bersama anak-anak dengan keluar-masuk toko, menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi yang lain. Membeli sekedar cendera mata agar suatu saat nanti mereka dapat berceritera kepada para tetangga di kampung bahwa kami pernah ke New York.

Di satu sudut jalan kami berhenti lagi. Ada seorang berkulit hitam dengan seperangkat alat musik drum sedang bermain solo. Demikian enerjiknya orang itu sehingga mengundang perhatian para pejalan kaki, setidak-tidaknya untuk berhenti menyaksikan ketrampilan solo-drummer dengan hentakan-hentakan musiknya dan pukulan-pukulan ritmisnya yang membuat beberapa orang bergoyang-goyang sendiri. Lalu diakhiri dengan tepuk tangan penonton memberi apresiasi.

Ujung-ujungnya, seorang teman dari pemain drum tersebut menawarkan CD yang berisi rekaman-rekaman musiknya. Ah, ada-ada saja kreatifitas orang untuk menjajakan dagangannya. Tapi setidak-tidaknya mereka sedang bekerja keras untuk mengais rejeki yang halal. 

Kemudian kami masuk ke sebuah toko elektronok, satu dari sekian banyak toko elektronik yang tersebar di wilayah seputar Broadway. Bagi sementara orang, wilayah Broadway ini menjadi semacam sorga bagi peminat barang-barang elektronik. Selain karena banyaknya macam dan model yang ditawarkan, juga adanya peluang untuk memperoleh harga yang agak miring bagi mereka yang paham harga-harga barang elektronik dan tentunya lincah dalam urusan tawar-menawar. Termasuk di antaranya berbagai jenis perangkat tata suara, komputer, kamera, games, dsb.

Sekali kita menanyakan tentang suatu barang, maka akan dengan lihai para penjual itu merayu dan mempromosikannya, tentu dengan maksud agar kita terpengaruh membeli barangnya. Untungnya, semua itu mereka lakukan dengan tetap menghargai posisi kita sebagai konsumen, tidak dengan cara yang kasar. Setidak-tidaknya, demikian yang sempat saya alami.

Menyusuri jalan Broadway di New York di saat malam hari, kami merasakan suasana yang cukup aman. Ini dikarenakan hampir di setiap sudut-sudut kota dan pertokoan banyak kami jumpai para petugas keamanan. Terlihat kesan seperti di film-film layar lebar dimana para anggota NYPD (New York Police Department) yang banyak dijumpai di mana-mana, sepertinya siap setiap saat memburu penjahat. Agaknya ini memang menjadi bagian dari layanan pemerintah daerah New York untuk menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi ribuan wisatawan yang setiap menit bertebaran di seputar kota New York.

Lama-lama rupanya anak-anak kecapekan berjalan kaki keluar-masuk toko. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk kembali saja ke hotel. Sebelum sampai di hotel, kebetulan melewati restoran Cina. Maka seperti biasa, menu yang “mengandung” nasi putih pun tidak kami lewatkan. Hanya saja malam itu kami tidak makan di restoran, melainkan pesan for to go atau minta dibungkus untuk dibawa ke hotel saja.

Anak-anak sudah benar-benar ingin beristirahat. Berbeda dengan bapaknya, setiba di hotel lalu minta ijin untuk kembali turun ke Broadway sendirian. Mengulangi lagi menyusuri Broadway dan jalan-jalan di sekitarnya, karena tiba-tiba ingat persediaan rokok Marlboro-nya habis. 

Suatu malam di Broadway, akan menjadi catatan kenangan tersendiri. Di sana sebuah impian pernah dikorbankan untuk tidak jadi menyaksikan pementasan teater Broadway. Sekalipun sudah di depan mata untuk dapat mewujudkannya, namun toh terpaksa harus dilupakan demi kepentingan lain yang lebih masuk akal dan tidak egois.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(22).    Apel Besar Itu Bernama New York

Kalau ada sebuah kota di Amerika yang namanya hampir selalu melekat setiap kali orang awam di luar Amerika berbicara tentang wilayah Amerika, maka kota itu adalah New York. Bukannya ibukota Washington DC, atau kota-kota lainnya. Di seputar kota ini banyak terpampang nama-nama yang sepertinya sudah sering kita dengar. Bisa jadi karena pengaruh dari film-film Amerika yang berlatar belakang kota New York, dari majalah, buku atau media masa lainnya.

Melihat huruf-huruf NYPD orang akan cepat memahaminya sebagai New York Police Department. Telinga kita rasanya juga tidak asing mendengar kata-kata seperti The Bronx, Brooklyn, Manhattan, Harlem, China Town, Broadway, Times Square, dsb. yang merupakan nama-nama tempat di seputaran New York City. Juga nama-nama seperti New York Stock Exchange dan Wall Street yang berada di himpitan gedung-gedung tinggi di Lower Manhattan atau sisi selatan daratan Manhattan.

Banyak nama-nama lain yang sudah sering saya dengar sewaktu di Indonesia dan ternyata ada di New York, seperti misalnya Reuter, CNN, MTV, MGM, Trump Tower, Chrysler Building, Sixth Avenue, Hard Rock Café, Planet Holywood, dsb. Times Square yang menjadi pusat keramaian saat menyambut milenium baru pada malam tahun baru 2000 tahun lalu ada di salah satu sudut jalan Broadway yang sebenarnya tidak terlalu lebar.

Di sudut yang lain ada Madison Square Garden yang merupakan gelanggang tertutup untuk berbagai kegiatan olah raga dan seni. Masih banyak lagi saya jumpai nama-nama yang rasanya sudah akrab di telinga bertebaran di kota ini. 

Salah satu nama yang dahulu pernah menimbulkan rasa ingin tahu saya adalah Madison Square Garden. Ketika saya masih duduk di bangku SMP sekitar tahun 1974, saya sering membaca majalah “Aktuil” terbitan Bandung. Majalah ini adalah majalah musik pertama di Indonesia yang cukup digemari anak-anak muda penggemar musik masa itu. Harga per eksemplarnya sekitar Rp 225.-

Saya masih ingat majalah ini pula yang pertama kali mempopulerkan gambar seterika, memberi bonus poster, gambar tempel, slogan-slogan, dsb. Gambar seterika yang pertama kali dikeluarkan waktu itu berupa tulisan “I’m Young and I’m Proud“. Hingga kalau ada anak muda masa itu yang mengenakan kaos oblong dengan tulisan tersebut di bagian dada atau punggungnya, serasa benar-benar proud dan ora ono tunggale (exclusive).

Melalui majalah “Aktuil” ini saya sering membaca ulasan pementasan musik yang digelar di Madison Square Garden, dari group-group nusik dunia seperti Deep Purple, Led Zeppelin, Suzi Quarto, Emerson Lake and Palmer, dsb. yang diantaranya pernah juga manggung di Jakarta. Terbayang akan betapa bangganya kalau waktu itu sempat menjadi salah satu dari sekian ribu penonton pagelaran musik di Madison Square Garden. Saya membayangkan Madison Square Garden ini seperti Istora Senayan Jakarta, sebuah gelanggang megah yang dikelilingi arena terbuka sangat luas di luarnya.

Kini, setelah lebih 25 tahun kemudian, saya melihat bahwa ternyata stadion ini berada terjepit di sela-sela gedung tinggi yang terletak di antara jalan Seventh dan Eighth Avenue. Karena lokasinya yang berada di sela-sela belantara bangunan tinggi, mungkin saya tidak akan pernah tahu stadion ini kalau saja tidak diberitahu oleh seorang pemandu wisata bahwa itulah Madison Square Garden.

Kalau kini ada New Yorker yang menawarkan untuk mengunjungi The Garden, maka jangan dibayangkan kita akan menuju ke sebuah taman yang penuh ditumbuhi bunga-bunga, kecuali jika memang sedang digelar pameran bunga di Madison Square Garden. Stadion yang berkapasitas sekitar 20.000 tempat duduk itu, kini menjadi pangkalan bagi klub bola basket New York Knicks dan klub hockey New York Rangers. Sedangkan pementasan musiknya kini lebih sering digelar di arena terbuka Central Park.

Selain pemandangan khas gedung-gedung tinggi, di wilayah Manhattan ini banyak dijumpai bangunan-bangunan kuno berkonstruksi besi baja. Bangunan-bangunan bertingkat yang bentuknya seperti apartemen yang tersekat-sekat dan tiap-tiap apartemennya mempunyai teras yang dipagar besi dan dilengkapi dengan tangga besi yang dapat diplorotkan (diturunkan) sebagai jalan keluar darurat

Kita sering melihat pemandangan ini di film-film televisi maupun layar putih. Biasanya tampak digambarkan sebagai daerah kumuh, daerah yang banyak dihuni orang berkulit hitam, atau adegan pak polisi yang sedang kejar-kejaran dengan penjahat. Rasanya hanya di film “Pretty Woman” saja kalau ada wanita cantik dan pria kaya yang memainkan lakon romantis di tangga besi bangunan kuno semacam ini.

***

Itulah sisi lain dari kota New York. Sebuah kota yang hingga kini menjadi salah satu kota tujuan bagi para pendatang dari seluruh dunia yang ingin mewujudkan impiannya meraih sukses. Jutaan pendatang (halal maupun haram) menyatu dalam sebuah komunitas kota yang heterogen, menjadikan kota New York menjadi sangat padat untuk ukuran sebuah kota di Amerika. Namun toh New York tetap menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Terbukti setiap tahunnya New York dikunjungi oleh lebih 23 juta orang wisatawan dari seluruh dunia. 

Roda kehidupan yang nyaris tak pernah berhenti menjadikan New York bak sebuah buah apel raksasa yang tidak habis-habisnya dibagi-bagi dan dijadikan rebutan. Para New Yorker bangga menyebutnya sebagai the Big Apple. Setiap orang berebut untuk dapat menikmati sepotong saja dari buah apel besar itu. Sudah pasti akhirnya ada yang memperoleh irisan besar dan ada pula yang hanya kebagian secuil kecil.

Dengan UMR (Upah Minimum regional) yang ditetapkan Departemen Tenaga Kerja wilayah negara bagian New York sebesar US$5.15 per jam (kurang lebih senilai dengan sekali makan siang di wartegnya Amerika, atau satu setengah pak rokok Marlboro, atau 12 liter BBM) cukup menjadi iming-iming bagi calon pendatang. Terutama para calon pendatang dari negara-negara berkembang untuk menjadi bagian dari penduduk kota yang terdiri dari berbagai ras suku bangsa dari seluruh dunia, lalu turut memutar roda ekonomi, baik dengan cara yang halal maupun yang menghalalkan segala cara.

Besarnya upah minimum US$5.15 per jam (apalagi kalau meng-kurs-kannya dari pelosok desa di Jawa), memang jumlah yang cukup besar untuk ukuran pekerja serabutan di sektor non-formal. Iming-iming ini setidak-tidaknya terbukti telah membuat istri seorang teman yang tinggal di sebuah dusun di Jawa sana rela meninggalkan keluarganya demi mengais sepotong kecil dari buah apel besar. Dan, apel besar itu bernama New York.

Sayang saya tidak berhasil menghubungi istri teman saya itu selagi saya berada di New York, sehingga tidak banyak ceritera yang dapat saya dengar. Ceritera yang pasti akan lebih menarik ketimbang pementasan teater di Broadway. Menarik kalau itu menjadi sebuah kisah sukses, dan mengharukan kalau itu menjadi kisah kegagalan. Paling tidak, akan menjadi cermin yang lebih realistis tentang impian hidup seorang anak manusia. Impian seperti apa sih yang didambakan oleh seorang wanita (baca : ibu muda) yang datang jauh-jauh ke New York dari sebuah desa di pelosok Jawa, hingga rela meninggalkan anak dan suaminya?.

Itulah New York, yang diresmikan berdirinya pada tanggal 27 April 1686. Kini kota metropolitan ini dihuni oleh lebih dari 7 juta jiwa penduduk dengan tingkat kepadatan lebih dari 9.000 jiwa per km2. Kalau saja pada tahun 1664 bangsa Inggris melalui Duke of York tidak berhasil merebut koloni yang saat itu hanya dihuni oleh 800 penduduk dari tangan Belanda, beberapa hari kemarin ini saya tentu sedang tidak berada di kota New York, melainkan kota New Amstredam.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(30).    “Mainan Air” Itu Adalah Sebuah Maha Karya

Menurut catatan sejarah, komunitas pertama yang tinggal di kawasan air terjun Niagara ini adalah nenek moyang suku Indian Seneca, yaitu pada sekitar 2.000 tahun yang lampau. Hingga pada abad lebih moderen, datang seorang pendeta Perancis yang pertama kali melihat air terjun ini pada tahun 1678, yaitu Father Louis Hennepin. Demi melihat pemandangan alam yang luar biasa ini pendeta Hennepin lalu berlutut dan berdoa.

Beberapa tahun kemudian bangsa Perancis membangun beberapa benteng di muara sungai Niagara, di antaranya yang kini dikenal dengan Old Fort Niagara di wilayah Youngstown. Tahun-tahun berikutnya merupakan tahun-tahun bergejolak bagi wilayah Niagara. Banyak peperangan terjadi antara penduduk asli suku Indian dengan pendatang bangsa Perancis dan Inggris. Termasuk perang paling berdarah yang dikenal dengan “Battle of Lundy’s Lane” pada 25 Juli 1814.

Akhirnya sampailah pada era baru masa kedamaian wilayah Niagara. Sejak tahun 1892, Niagara Falls berubah menjadi sebuah kota yang tepat berdiri di garis batas internasional yang memisahkan antara wilayah New York di Amerika dan Ontario di Canada. Antara kedua bagian kota itu dihubungkan oleh sebuah jembatan yang bernama Rainbow Bridge melintasi sungai Niagara.

Sejak akhir abad 19 itu pula kota Niagara mulai banyak dikunjungi para turis. Kini kota Niagara, di kedua belahan yang menjadi bagian Amerika maupun Canada, setiap tahunnya dikunjungi lebih dari 12 juta wisatawan. Jamaknya sebuah tempat yang mempunyai catatan sejarah panjang dan unik, maka Niagara pun memiliki ceritera dari mulut ke mulut yang membawa pada kepercayaan bahwa : “kisah cinta pasangan yang berbulan madu di Niagara akan lestari sebagaimana air terjunnya”.

Oleh karena itu tidak mengherankan kalau kemudian ada pasangan pengantin baru dari kawasan New York utara ini yang memilih lokasi bulan madunya di Niagara. Termasuk teman saya yang saya kunjungi saat mampir ke kota Baldwinsville, sebelum kami tiba di kota Niagara Falls. Bisa jadi tempat ini dipilih untuk berbulan madu bukan karena kepercayaan kuno itu, melainkan pemandangan air terjun Niagara sendiri memang menjanjikan pesona alam yang indah dan romantis. Apalagi di ujung Pulau Luna dimana air terjun yang diberi nama Bridal Veil (kerudung pengantin) Falls tepat berada di tepiannya.

Adanya ceritera turun-temurun yang bisa menjadi bumbu penyedap ceritera yang masih berkembang di masyarakat itu memang sempat memancing pertanyaan iseng dalam hati saya : “Tenane?” (dialek Yogya : Ah, yang benar?). Bagaimana kalau air terjunnya berhenti, apa ya kira-kira pasangan-pasangan yang dulu berbulan madu di Niagara lalu akan pada cerai?

Sayangnya tidak ada orang yang iseng seperti saya kini, ketika pada tanggal 30 Maret 1848 sungai Niagara tersumbat bongkahan es di bagian hulunya selama beberapa jam, mengakibatkan sungai Niagara asat (tidak ada airnya) dan air terjun Niagara benar-benar berhenti. Orang-orang pun turun beramai-ramai berjalan ke dasar sungai menikmati pengalaman yang mungkin tidak akan pernah terulang kembali.

Setiap orang tentu mafhum bahwa memang tidak satupun teori yang dapat membuktikan benar-tidaknya kepercayaan kuno semacam itu. Seperti halnya juga tidak ada yang dapat membuktikan kepercayaan yang berkembang di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta. Ceritera kebalikan dari kepercayaan yang ada di Niagara, yaitu kalau ada sejoli yang memadu kasih dengan mengunjungi candi Prambanan maka hubungan mereka tidak akan langgeng.

Kalau saya ditanya kenapa? Maka daripada saya menjawab : “Embuh” (entah), saya akan mengatakan bahwa mungkin Bandung Bondowoso cemburu melihat pasangan yang sedang memadu kasih di Prambanan, karena kisah kasih tak sampai yang dialaminya dulu. Masih untung kalau tidak ter-abrakadabra lalu berubah menjadi candi baru di sebelahnya candi Prambanan dan candi Sewu.

Saat musim dingin tiba dan temperatur udara dingin belangsung cukup lama, bongkahan-bongkahan es memang dapat terbentuk di sungainya yang kemudian membentuk semacam jembatan es. Dulu-dulunya para wisatawan diperbolehkan turun untuk berjalan-jalan di jembatan es yang terbentuk di tengah sungai saat air sungai Niagara membeku.

Hingga suatu ketika, jembatan es yang sedang dilalui wisatawan tiba-tiba pecah dan tiga orang turis terperosok ke dalam sungai di bawahnya yang temperatur airnya sangat dingin, lalu hilang entah kemana. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1912 dan sejak saat itu tidak diperbolehkan lagi para wisatawan turun menyeberang ke jembatan es di sungai Niagara.

***

Air terjun Niagara adalah sebuah maha karya dari Sang Pencipta Alam. Bagaimana caranya Tuhan membuat “mainan air” semacam ini? Adakah “dongengan” yang masuk akal yang dapat menjelaskan peristiwa alam seperti air terjun Niagara ini?

Tergolong muda menurut umur geologi, bentang alam air terjun Niagara terbentuk pada akhir jaman es. Ketika timbunan lembaran-lembaran es raksasa mencair pada 50.000 tahun yang lalu, daratan benua yang sebelumnya tertutup dan terbebani es lalu bermunculan dari bawahnya, mengalami pengangkatan dan membentuk lereng-lereng dan gigir-gigir pegunungan yang curam dan terjal yang disebut dengan “Niagara Escarpment”.

Mencairnya es lalu membentuk danau yang sangat luas yang kini dikenal dengan nama danau Erie serta dataran rendah yang berada di sekitarnya. Danau Erie yang sangat luas ini semakin lama semakin penuh airnya hingga pada sekitar 12.000 tahun yang lalu akhirnya meluap dan mengalirlah limpahan airnya melalui celah daratan yang kini disebut sungai Niagara. Aliran air sungai inilah yang kemudian membentuk air terjun Niagara.

Air terjun Niagara pada mulanya terbentuk di lokasi sekitar 11 km di arah hilir dari lokasinya yang sekarang, kira-kira di wilayah yang sekarang bernama Lewiston, dekat ke muara sungai di danau Ontario. Sebagai akibat dari proses erosi pada bidang luncuran air terjun yang terus berlangsung bahkan hingga saat ini, maka lokasi air terjun Niagara kini kira-kira berada di pertengahan antara danau Erie dan danau Ontario. 

Secara geologis dapat dipahami bahwa proses erosi tersebut masih akan terus berlanjur. Karena itu secara geologis pula dapat diperkirakan bahwa sekian ribu tahun yang akan datang kemungkinan air terjun Niagara akan semakin menjauh dari muara sungai Niagara di danau Ontario di sebelah utara dan semakin berpindah ke selatan mendekat ke danau Erie. Apakah memang demikian yang akan terjadi? Hanya mereka yang menekuni bidang geologi, khususnya untuk kajian wilayah Niagara Falls, yang akan mampu memberi gambaran lebih rinci.  

Dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya mencoba memahami bagaimana fenomena alam ini terjadi. Namun dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki pula, saya mencoba menggunakan mata hati dan kesadaran saya bahwa “mainan air” yang bernama Niagara ini membuktikan akan betapa luar biasanya maha karya dari Sang Pencipta Dunia.

Tidak lain untuk sekedar memberikan bukti bahwa Dialah satu-satunya pihak yang berhak menyimpan Sertifikat Hak Milik atas dunia dan seisinya ini, dan oleh karena itu juga berhak sewaktu-waktu memporak-porandakannya. “Masa bodoh” dengan apakah penghuni yang ada di dalamnya sudah siap atau belum. Satu bukti kecil saja dari firman-Nya bahwa Dia adalah Tuhan Semesta Alam (robbil-‘aalamiin).- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Tentang Konser Musik Woodstock

2 Februari 2008

(1).  Tentang Konser Musik Woodstock (Bagian 1)

Kota Woodstock yang saya lewati dalam perjalanan keliling setengah Amerika berada di negara bagian Vermont, sedangkan kota Woodstock yang berkaitan dengan festival musik (yang disebut Mas Mimbar) itu berada di negara bagian New York. Ya ….., masih dekat-dekat Manhattan, sekitar 160 km di utaranya.

Saya sebut berkaitan dengan festival musik, karena sebenarnya konser musik “Woodstock” yang pertama kali diadakan pada bulan Agustus 1969 bertempat di kota kecil Bethel, di sebelah barat daya kota Woodstock, New York. Sedangkan nama “Woodstock” terlanjur diabadikan karena memang di kota itulah rencana mula-mula konser “Woodstock69” akan diselenggarakan, sebelum kemudian dipindah ke Bethel.

Inilah konser musik rock terbesar, terheboh dan terkisruh yang pernah diselenggarakan, sehingga kemudian mengilhami Pemda negara bagian New York untuk mengeluarkan beberapa peraturan menghindari hal serupa terulang kembali. Padahal pesta musik ini menyandang motto “three days in peace and music“.

Sekitar 500.000 penonton membanjiri kota kecil Bethel. Kemacetan terjadi dimana-mana di jalan yang menyambung ke Bethel. Ratusan polisi terpaksa kerja lembur. Tindak pencurian, pengrusakan, pemerkosaan, dan beraneka ria kejahatan terjadi, termasuk korban yang meninggal dunia di lokasi konser yang berlangsung tiga hari tiga malam non-stop.

Di “Woodstock69” inilah pemusik-pemusik terkenal turut ambil bagian, seperti : Janis Joplin, Jimi Hendrix, Bob Dylan, Roger Daltrey, Jerry Garcia, dsb. Sedangkan kota Woodstock sendiri (yang namanya diabadikan sebagai judul konser musik) kini menjadi kota terbesar keempat di Amerika dalam urusan studio rekaman, setelah New York, Los Angeles dan Nashville. 

Konser musik berikutnya, “Woodstock94”, digelar bulan Agustus 1994 di kota kecil Saugerties, dalam rangka memperingati 25 tahun “Woodstock69” yang melegenda. Kali ini lokasinya memang berdekatan dengan kota Woodstock.

Kemudian digelar lagi “Woodstock99” pada bulan Juli 1999 di kota Rome, dalam rangka merayakan 30 tahun “Woodstock69”. Kebetulan kota ini sempat saya lewati ketika turun dari pegunungan Adirondack dalam perjalanan keliling setengah Amerika. Lokasinya agak menjauh ke utara dari kota Woodstock.

“Woodstock94” dan “Woodstock99” berlangsung lebih tertib. Ratusan ribu pengunjung membanjiri arena pesta musik yang juga digelar selama tiga hari. Kali ini pihak Pemda setempat sudah lebih siap, termasuk bagaimana menjaring sebanyak-banyaknya dollar para pengunjung yang datang dari penjuru Amerika.

Yang kemudian terlintas di pikiran saya bukan pesta musiknya, melainkan tempat penyelenggaraannya yang kiranya dapat menjadi cermin bagi kita. Bahwa hajat-hajat besar (maksud saya, acara-acara berskala besar) semacam ini tidak harus diselenggarkan di Jakarta atau Bandung atau Surabaya. Melainkan dapat juga digelar di Cikopo atau Alas Roban atau Pacitan. Agar, rupiahnya para orang kota itu juga ngepyur (tertabur) ke pelosok-pelosok desa melalui penginapan, rumah makan, angkutan atau oleh-oleh (termasuk kendil, cepuk, slepi dan sejenisnya).

Pertanyaan bernada “curiga” dan “waswas” yang kemudian muncul di Jakarta adalah : Apakah masyarakat dan daerah setempat sudah siap?

Kapakno-kapak (biar bagaimanapun juga) kalau tidak pernah direncanakan dan dipersiapkan dengan baik (wong kita ini tidak kekurangan orang-orang pinter) dan lalu dicoba diterapkan, ya daerah tidak akan pernah siap mengurus apa yang menjadi urusannya …….-

New Orleans, 3 Januari 2001.
Yusuf Iskandar