Posts Tagged ‘new mexico’

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

5 Februari 2008

Pengantar :

Tanggal 21 – 30 April 2000 yll, saya bersama keluarga melakukan perjalanan liburan dengan travelling ke daerah Colorado dan sekitarnya. Selama sembilan hari, lebih 3.000 mil (sekitar 4.800 km) kami jalani, 8 negara bagian (states) kami lewati : Utah, Nevada, California, Arizona, New Mexico, Colorado, Nebraska dan Wyoming. Catatan perjalanan ini saya maksudkan hanya sekedar untuk berbagi cerita ringan, siapa tahu bisa menjadi selingan yang menghibur.-

(1).     Mengawali Perjalanan Dari Salt Lake City
(2).     Salah Jalan Di Salt Lake City
(3).     Menyusuri Lembah Api
(4).     Semalam Di Las Vegas
(5).     Mampir Makan Nasi Di Ujung Timur California
(6).     Di Pinggir Selatan Grand Canyon
(7).     Melihat Batu Gosong
(8).     Bermalam Di Durango
(9).     Melewati Empat Puncak Bersalju
(10).   Di Breckenridge Kami Berski
(11).   Ketemu Penggemar Nagasasra Di Golden
(12).   Sepanjang Jalan 16 Denver
(13).   Numpang Lewat Di Nebraska
(14).   Marga Satwa Saurus Itu Memang Pernah Ada

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(1).   Mengawali Perjalanan Dari Salt Lake City

Mengawali perjalanan dari kota Salt Lake City (Utah) sebenarnya bukan rencana awal saya. Sejak sebulan sebelumnya saya merencanakan untuk memilih kota Denver (Colorado) untuk mengawali perjalanan travelling dengan kendaraan darat bersama keluarga. Karena tujuan utama liburan kali ini adalah mengajak anak-anak melihat salju dan bermain ski, serta mengunjungi Grand Canyon of Colorado. Sambil lalu kami akan mampir-mampir di berbagai obyek wisata yang dilewati.

Namun setelah mencari-cari dan memilih-milih penerbangan dari New Orleans ke Denver, ternyata harga tiketnya termasuk mahal jika dibandingkan dengan ke kota-kota lain untuk jarak terbang yang relatif sama. Semakin mendekati waktu keberangkatan, harga tiket ke Denver pergi-pulang yang paling murah (meskipun tetap tergolong mahal) semakin habis.

Nampaknya kota Denver termasuk jalur basah bagi dunia penerbangan. Pelacakan tiket ini saya lakukan melalui jasa layanan reservasi on-line melalui internet. Di sana saya bisa mengatur rencana perjalanan lewat kota mana, kapan, pesawat apa, mau harga yang berapa dan duduk di sebelah mana. Setelah itu tinggal klik, tiket akan dikirim dan tagihan masuk ke kartu kredit.

Akhirnya saya mengalihkan pencarian tiket murah dengan melihat ke beberapa kota tujuan di sekitaran Denver, diantaranya Fort Collins dan Colorado Spring (Colorado), Las Vegas (Nevada), Albuquerque dan Santa Fe (New Mexico), Cheyenne (Wyoming) dan Salt Lake City (Utah). Ternyata juga tidak mudah, karena saya menentukan kriteria dalam pencarian tiket ini, yaitu tanggal berangkat dan kembali tidak bisa berubah (karena terkait dengan hari libur sekolah dan cuti kantor), harga tiket harus yang paling murah, dan tempat duduk di pesawat berderet untuk kami sekeluarga berempat (di Amerika adalah biasa memesan tiket pesawat sekalian nomor tempat duduknya).

Setelah dipilih-pilih dan dibanding-bandingkan harganya serta disesuai-sesuaikan dengan rencana perjalanannya, akhirnya saya peroleh tiket penerbangan ke Salt Lake City, menggunakan pesawat Delta Airlines. Tiket murah ini membawa resiko pada jadwal penerbangan yang kurang enak, yaitu tiba di Salt Lake City jam 21:30 malam untuk berangkatnya dan akan tiba kembali di New Orleans jam 1:15 dini hari untuk pulangnya sepuluh hari kemudian. Apa boleh buat, itulah yang terbaik buat liburan yang berbanding lurus dengan isi saku.

Setelah reservasi penerbangan OK, selanjutnya saya melacak hotel-hotel yang umumnya menawarkan harga khusus via internet. Untuk itu, tentunya saya harus punya rencana perjalanan yang pasti dan di kota mana saja akan menginap. Memang akhirnya saya berhasil memperoleh hotel-hotel dengan harga yang relatif murah, setelah membanding-bandingkan antara lokasi, harga dan fasilitasnya. Namun rupanya saya kelewat percaya dengan iklan penawaran hotel yang ada di internet.

Belakangan saya baru tahu bahwa sebenarnya saya masih bisa memperoleh harga yang lebih baik (lebih murah). Seharusnya setelah mengecek tarif dan ketersediaan kamar hotel via internet, saya mestinya melakukan pengecekan ulang dengan menghubungi langsung pihak hotel melalui tilpun. Seringkali ada perbedaan harga, bahkan harga bisa berubah-ubah antara pengecekan via tilpun pada saat yang berbeda-beda. Dengan pengecekan ulang, akan bisa diketahui pula apakah pada saat itu (masih) ada penawaran harga yang lebih khusus, yang biasanya tidak muncul di internet. Yang lebih penting lagi, masih ada peluang untuk negosiasi atau bargaining (tawar-menawar).

Rupanya ada kebiasaan yang sama seperti di Indonesia soal tawar-menawar ini. Pertama kali kalau kita tilpun hotel dan menanyakan harga, maka akan dijawab dengan menyebutkan tarif harga standard. Baru setelah kita menawar dan menanyakan tentang harga khusus yang lebih murah, maka seringkali akan diberikan. Kesannya menjadi seolah-olah pihak hotel telah berbaik hati memberikan harga murah. Ya, sama persis dengan traditional marketing ala kampung di desa saya, di Jawa sana. Sebenarnya tidak dinaikkan, tapi juga tidak memberikan harga murah.

Sayangnya, tips dan trik pemesanan hotel gaya Amerika ini baru saya pahami setelah membaca majalah “Reader’s Digest”, ketika saya sudah kembali dari perjalanan liburan. Rugi sih tidak, cuma mestinya bisa lebih untung. Meskipun kejujuran (keluguan) saya kali ini belum membawa keberuntungan, tapi yang pasti saya menikmati imbalan jasa yang layak atas apa yang telah saya bayarkan. – (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(8).   Bermalam Di Durango

Selasa, 25 April 2000, jam 8:30 pagi saya check out dari hotel dan langsung melaju ke arah timur melalui jalan bebas hambatan Interstate-40. Sekitar satu jam perjalanan saya keluar dari Interstate-40 dan membelok ke selatan sejauh 10 km. Di sana ada Meteor Crater, yaitu sebuah lokasi di tengah dataran luas berbatu dan bersemak di mana pernah jatuh batu meteor yang lalu meninggalkan sebentuk kawah.  

Menurut para ahli astrogeologi, diperkirakan sekitar 50.000 tahun yang lalu ada sebuah meteorit yang beratnya ratusan ribu ton jatuh ke dataran itu. Jatuhnya meteorit ini meninggalkan kawah sedalam 213 m. Saat ini kedalaman kawah ini tinggal sekitar 168 m dengan garis tengah hampir 1,6 km dan keliling lingkarannya sekitar 3,8 km. Perubahan ini tentu akibat proses alam.

Di gedung utama, selain disajikan berbagai informasi tentang peristiwa alam berkaitan dengan benda-benda ruang angkasa, alat peraga termasuk simulasi komputer, pemutaran film, museum astrogeologi, dsb. juga bisa dijumpai seonggok contoh batu meteor seberat lebih 660 kg yang setelah penemuannya lalu diberi nama diablo irons

Melihat permukaan kawah yang diperkirakan mirip dengan permukaan yang ada di bulan, NASA pernah mengadakan pelatihan untuk astronot Apollo di tempat ini. Bekas-bekas perlengkapan training itu masih ada hingga kini, termasuk kapsul ruang angkasa Apollo. Berbagai hal berkaitan dengan misi Apollo juga dipamerkan dengan sangat lengkap.

***

Dari Meteor Crater saya melanjutkan perjalanan menuju timur. Satu jam kemudian, saya keluar lagi dari Interstate-40 menuju ke arah Petrified Forest National Park. Ini adalah hutan taman nasional yang tidak satupun dijumpai ada pepohonan di situ. Ya, karena yang dimaksud dengan hutan di situ adalah hutan batu atau lebih tepatnya bekas hutan yang pepohonannya sudah membatu (petrified).

Tahun 1962 daerah ini dinyatakan sebagai daerah yang dilindungi, karena di kawasan yang membentang sepanjang lebih 75 km ini terdapat reruntuhan pepohonan yang sudah membatu yang beraneka warna dan gurun pasir yang disebut Painted Desert, serta lukisan batu peninggalan suku-suku Indian. Antara pepohonan batu dan gurun pada dasarnya adalah berasal dari proses yang sama, yang menurut studi paleontologi keduanya terbentuk pada jaman Triassic sekitar 225 juta tahun yang lalu.

Menyusuri rute petrified forest ini sepintas nampak seperti banyak berserakan batang-batang pohon. Baru setelah didekati akan tampak jelas bahwa sebenarnya itu adalah batang-batang pohon yang telah membatu yang mengandung mineral yang beraneka warna (tergantung dari warna mineral yang membentuknya).

Jangan coba-coba ngantongin sepotong batu dari sini. Jika tertangkap, minimal kena denda US$ 300. Itu sebabnya secuil batu petrified yang dijual di toko cendera mata bisa berharga US$ 25 hingga ratusan dollar tergantung dari warna mineral yang dikandungnya. Indah dan artistik memang, tentu bagi mereka yang sedikit paham tentang latar belakang ilmu geologi.

***

Dari dua tempat yang saya kunjungi itu, lagi-lagi saya merasakan bahwa bukan sekedar kawah dan batu yang saya lihat, melainkan banyak sekali informasi baru dan ilmu pengetahuan yang saya peroleh. Sarana yang disediakan memungkinkan bagi siapa saja (termasuk anak-anak) untuk menjadi dipermudah memahami berbagai peristiwa geologis yang sayapun dulu untuk memahaminya susah setengah mati.

Rasanya tidak sayang menyisihkan waktu dan uang untuk “membeli” obyek kunjungan yang sudah diberi nilai tambah ini. Padahal di Indonesia saya juga pernah menjumpai kawah dan saya juga pernah menjumpai tanaman membatu yang saya baru tahu kalau istilahnya petrified. Tapi ya seperti saya kemukakan sebelumnya, setelah mengunjungi dan melihat, ya sudah itu saja.

***

Sekitar jam 1:30 siang, saya sudah berada kembali di Interstate-40 dan melanjutkan perjalanan menuju ke perbatasan negara bagian New Mexico. Menurut rencana semula, saya akan terus menuju ke kota Albuquerque dan kemudian bermalam di kota Santa Fe (ibukota New Mexico).

Tapi tadi malam ketika membuka-buka peta perjalanan, saya berubah pikiran. Jika langsung menuju Santa Fe melalui Interstate-40 untuk kemudian esoknya melanjutkan melalui Interstate-25 menuju ke Denver (ibukota Colorado), maka pemandangan di sepanjang perjalanan akan sangat monoton dan membosankan meskipun saya bisa melaju dengan kecepatan 80 mil/jam (sekitar 130 km/jam).  

Akhirnya lalu kami putuskan setiba di kota Gallup (New Mexico) akan membelok ke utara menuju arah Denver tetapi melalui rute tengah yang bergunung-gunung dan akan melalui beberapa kota kecil, dengan akibat saya hanya bisa melaju dengan kecepatan maksimum 55-65 mil/jam (sekitar 90-100km/jam). Perjalanan melalui kota-kota kecil ini kata seorang teman di Colorado, Mas Bob Adibrata, lebih bersuasana Amerika ketimbang lewat jalan mulus bebas hambatan yang hanya akan menjumpai mobil dan tuck-truck raksasa saja.

Maka siang itu, perjalanan dilanjutkan melalui kota-kota kecil di New Mexico yang pada umumnya mempunyai pemandangan alam yang kering mirip Arizona dengan di sana-sini dataran luas bebatuan dengan bukit-bukit menonjol berprofil “aneh” akibat proses erosi. Tonjolan-tonjolan bukit batupasir yang membentuk profil “aneh” ini cukup menarik dan banyak menghiasi sepanjang perjalanan di bagian utara negara bagian New Mexico. Menjelang sore saya sudah melintasi perbatasan dengan negara bagian Colorado. Tujuan saya adalah menuju kota Durango yang berada di sisi barat daya Colorado, sebelum naik ke punggungan barat pegunungan Rocky Mountain.

Sebenarnya sebelum sampai ke Durango saya ingin mampir ke Taman Nasional Mesa Verde, namun sayang waktunya sudah tidak mencukupi karena saya perkirakan perlu waktu sekitar 2 jam untuk mengunjungi tempat itu sedangkan hari sudah sore. Khawatir terlalu malam tiba di Durango, maka perjalanan saya lanjutkan saja, hingga sekitar jam 6:00 sore saya memasuki kota Durango. Tidak terlalu sulit untuk mendadak mencari hotel murah di kota kecil ini. 

Bagi saya Durango adalah sebuah kota kecil yang asri. Berada di ketinggian sekitar 1.981 m di atas permukaan air laut dan berpenduduk kurang dari 12.500 jiwa. Tidak terlalu padat untuk ukuran sebuah kota kecil di Amerika.

Udara sore itu cukup dingin dan menyegarkan setelah 4 hari perjalanan dalam cuaca yang panas. Di jalan utama Durango masih bisa dijumpai bangunan-bangunan lama yang sekarang dipakai untuk pertokoan, bekas masa kejayaan industri pertambangan ketika di Amerika sedang mengalami booming emas dan perak, di akhir abad 19. Di kota Durango inilah kami bermalam.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(10).   Taman Nasional Gila

Hari Minggu, 13 Agustus 2000, sekitar jam 10:00 pagi saya melaju ke arah timur melalui jalan bebas hambatan Interstate 60. Hari itu saya merencanakan perjalanan agak jauh, menuju sisi timur dataran Arizona yang berbatasan dengan negara bagian New Mexico. Setiba di ujung jalan bebas hambatan, saya sempatkan untuk mengisi BBM dan membeli beberapa botol air mineral untuk bekal perjalanan. Sekitar 30 menit kemudian, di mil ke 54 (sekitar 86 km), saya tiba di kota Superior. Kota ini dulunya adalah sebuah kota tambang perak dan kini berkembang cukup ramai dan kelihatannya tidak “sempat” menjadi kota hantu.

Melaju ke timur lagi sejauh sekitar 27 km, saya tiba di kota kecil Miami (ini bukan kota Miami yang terkenal di pantai timur Florida). Sekitar 10 km kemudian saya tiba di kota Globe. Jalur antara kota Superior dan Globe merupakan jalur yang enak dilalui, selain jalannya yang mulus dengan lalu lintas tidak terlalu padat, tapi juga berpemandangan indah. Itu karena rute ini membelah Devil’s Canyon yang dinding-dindingnya menampakkan dengan jelas strata batuannya dan mempunyai punggungan bukit yang berbentuk runcing-runcing serta di beberapa tempat berbentuk seperti menara, dengan warna khas kemerah-merahan.

Kehidupan sebagai kota tambang mewarnai kedua kota Miami maupun Globe. Komunitas tambang di Globe terjadi pertama kali sekitar tahun 1860-an, saat booming produksi perak, lalu berikutnya kota ini juga berjaya dengan hasil tembaga. Hingga kini masih ada operasi tambang tembaga di kawasan Miami – Globe.

Salah satu perusahaan raksasa pertambangan Amerika, Phelps Dodge Corporation, kini masih mengoperasikan tambang dan pabrik peleburannya di kawasan Globe – Miami. Saat melewati kota Miami ini tampak di sebelah utara jalan berdiri pabrik peleburan (smelter) dan pemurnian (refinery) tembaga serta produk-produk sampingannya seperti emas, perak, selenium dan tembaga sulfida.

Meskipun Phelps Dodge dalam upayanya untuk meningkatkan effisiensi perusahaannya telah mengurangi kegiatan tambang tembaganya di Miami, namun tahun 1999 Phelps Dodge Mining Company mengakuisisi Cyprus Amax Minerals Company untuk menguasai 100% kepemilikan pabrik pemurnian tembaga di Miami. Korporasi ini menghasilkan sekitar 36% dari produksi tembaga di Amerika.

  

***

Selepas dari kota Globe, saya melanjutkan perjalanan lebih ke timur melalui jalan Highway 70 menuju kota Stafford hingga sampai di pertigaan dengan Highway 191. Ketika tiba di pertigaan inilah saya baru tersadar dan teringat bahwa sebenarnya saya baru saja melakukan “napak tilas” perjalanan saya tahun 1996 ketika berkunjung ke tambang tembaga Morenci. Karena empat tahun yang lalu saya hanya sebagai penumpang, maka tidak terlalu memperhatikan rutenya. Tapi kini saya ingat, bahwa saya pernah berada di tempat ini.

Pada bulan Maret 1996, dari pertigaan ini saya bersama tiga orang rekan kerja membelok ke Highway 191 menuju ke arah utara. Sekitar 55 km kemudian akan mencapai kota Morenci. Morenci adalah juga kota tambang karena di sini ada sebuah tambang tua tembaga yang dioperasikan oleh Phelps Dodge Mining Company. Tambang ini sudah beroperasi sejak tahun 1937 hingga sekarang.

Ketika korporasi yang mula-mula didirikan bersama oleh Anson Greene Phleps dan William Earl Dodge ini memutuskan untuk membuka tambang terbuka di Morenci, sebenarnya Amerika sedang dilanda depresi ekonomi yang luar biasa, yang dikenal dengan Great Depression. Tidak lama kemudian pecah Perang Dunia II, dan lalu tiba-tiba tembaga menjadi komoditi yang sangat dibutuhkan. Maka produksi tembaga pun menjadi strategis bagi pertahanan bangsa. Ya, karena untuk mensuplai bahan persenjataan perang.

Kini, tambang Morenci rata-rata setiap hari menghasilkan 800.000 ton batuan dan 135.000 ton di antaranya berupa bijih yang dikirim ke pabrik pengolahan (mill). Selain dari operasi tambang terbukanya, Morenci juga memiliki dua unit SX/EW (solution extraction/electrowinning), serta sebuah konsentrator. Karena itu tambang ini menyumbang sekitar 25% dari seluruh produksi tembaga yang dihasilkan oleh Phelps Dodge.

Barangkali dilandasi oleh kebanggaan atas sejarah panjang masa kejayaan tambang ini, maka kini tambang Morenci memberikan layanan masyarakat berupa wisata tambang (mine tour) ke sebuah tambang yang masih beroperasi, dengan tanpa dipungut biaya apapun. Sebuah kontribusi yang bisa tak ternilai harganya bagi masyarakat awam yang tidak pernah tahu tentang bagaimana sebuah tambang beroperasi. Kelak, pengetahuan dan pengalaman semacam ini pasti akan mampu memberikan pemahaman dan wawasan baru yang tak terduga bagi mereka yang memang tidak bergelut di dunia tambang. 

***

Kali ini saya tidak berbelok ke Morenci, melainkan terus melaju ke timur menuju perbatasan negara bagian New Mexico, melalui jalur panjang yang tampak gersang, sepi serta membosankan. Menjelang kota Lordsburg, saya berbelok ke utara menuju kota tambang lainnya, Silver City. Kota ini juga pernah merasakan kejayaannya ketika booming perak di akhir abad 19.

Dari kota ini saya terus menuju utara melalui State Road (SR) 15. Rute sepanjang 67 km yang sempit, mendaki dan berkelok-kelok serta berada di lereng gunung yang menyusuri hutan pinus, saya tempuh dengan sesekali mencuri kecepatan. Khawatir akan kesorean, saya menunda untuk berhenti menikmati pemandangan alam dari punggungan bukit yang saya lalui. Akhirnya dalam 1,5 jam saya tiba di lokasi Taman Monumen Nasional Gila (baca : Hila).

Tiba di ruang pusat pengunjung (visitor center) sebenarnya masih jam 4:30 sore dan cuaca juga masih cerah, tapi entah kenapa kok sudah tutup. Saya lalu langsung menuju ke lokasi taman Gila ini. Untungnya di sana belum tutup dan saya masih bisa menjumpai dua orang wanita petugas Taman Nasional. Dengan menunjukkan kartu National Parks Pass saya, maka dengan tanpa perlu membayar US$3 saya bisa langsung memasuki lokasi taman. Ini adalah Taman Monumen Nasional yang mirip-mirip dengan Taman Monumen Nasional Tonto tempat ditemukannya sisa-sisa bangunan peninggalan kuno suku Indian Salado.

Yang menarik perhatian saya mengunjungi Taman Gila ini adalah karena lokasnya berada di perbukitan yang profilnya membentuk seperti bongkahan batuan raksasa yang dinding-dinding batuannya nyaris tegak. Di dinding-dinding tegak itu ada beberapa gua bekas tempat tinggal suku Indian Mogollon pada abad ke 13. Untuk mencapai lokasi itu, harus berjalan mendaki dan memutar sejauh kira-kira 1 km.

Setiba saya di lokasi reruntuhan bangunan kuno, saya sudah disambut oleh seorang petugas wanita yang setia setiap saat menunjukkan, menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Bahkan akhirnya sayapun ditemani turun dari bukit menuju ke pintu keluar taman. Ya, karena rupanya saya adalah pengunjung terakhir sore itu.

Ada 7 gua di dinding perbukitan yang menghadap ke lembah yang curam dan pada 5 gua di antaranya dijumpai sisa peninggalan bangunan kuno. Dinding-dinding rumahnya dibangun dengan konstruksi batu-batu yang diambil dari daerah itu juga, dengan menggunakan lempung karbonat sebagai semennya. Batang-batang kayu yang dijumpai juga masih asli. Diindikasikan ada sekitar 10 hingga 15 keluarga suku Indian Mogollon pernah menempati bangunan-bangunan yang ada di situ dan ruangan-ruangan yang ada digunakan hanya untuk satu generasi. Mereka adalah masyarakat nomaden dan hidup sebagai petani dan pemburu.

Sebelum memasuki kawasan taman ini, seorang petugas menjelaskan tentang rute yang harus saya lalui serta me-wanti-wanti (berpesan) agar saya tidak mengganggu flora dan fauna yang saya jumpai. Termasuk kalau ketemu ular dilarang membunuhnya dan demikian halnya binatang-binatang sejenis burung dan tupai yang dilindungi. Dalam hati saya bertanya : Apa sih artinya seekor ular atau tupai di tempat itu, dibandingkan dengan ratusan ular atau bajing yang saya percaya masih banyak berkeliaran di sekitarnya.

Rupanya memang ada “pesan standard” yang harus disampaikan kepada setiap pengunjung Taman Nasional Gila. Bukan pesannya yang saya perhatikan, melainkan di baliknya ada tercermin rasa kepedulian yang lebih terhadap lingkungan di situ. Lha wong kalau saya pikir-pikir, apa sih kerugian si ibu petugas itu kalau umpamanya dia tidak usah repot-repot menasehati saya dan lalu saya membunuh ular misalnya. Rasanya juga tidak ada ruginya. Gajinya pun tidak akan dikurangi kalau misalnya dia hanya berdiri menjual karcis melayani pengunjung.

Tapi ternyata, si ibu itu tetap memilih untuk repot. Tapi begitulah, barangkali tradisi berpikir saya (atau orang lain yang juga tidak suka repot) masih belum nyandak (menjangkau) tradisi mereka dalam memberi apresiasi terhadap ekosistem dimana manusia hanyalah satu bagian kecil saja di dalamnya.

Saat senja saya baru meninggalkan Taman Nasional Gila ini, dan tiba ke kota Tempe saat tengah malam. Perjalanan panjang di musim panas baru saja saya akhiri. –

New Orleans, 4 September 2000
Yusuf Iskandar