Posts Tagged ‘ndeso’

Nginap Di Hotel

18 Maret 2010

Anak lanang yang sedang free style-an di Jakarta dan numpang nginap di rumah famili temannya, cerita bangga via SMS:

“Nanti malam dapat fasilitas nginap di hotel X”.
Bapaknya tidak mau kalah: “Bapak juga sering nginap disitu…”.
Dia ganti Tanya-tanya: “Bintang berapa? Bagus nggak?”.
Dijawab bapaknya: “Bintang 3. Lumayan bagus”.
Kemudian disusuli SMS sama bapaknya: “Ra sah ngetarani ndeso-ne, le…! (Tidak usah menampakkan ndeso-nya, le…!)”. Dan SMS pun berhenti.

Yogyakarta, 17 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Nasi Goreng Ndeso

17 Maret 2010

Usai bercengkerama kok njuk luwe (lapar)… Maka dayagunakan sisa energi yang tadi untuk ngerasanin tetangga, kini untuk bikin nasi goreng ndeso. Ambil cabe besar, cabe rawit, bawang merah, garam, lalu diulek di cobek, tambahkan sedikt gula pasir. Campurkan nasi putih (sebaiknya yang tidak lembek), lalu digoreng. Hasilnya? Wow…, jangan tanya (tanya saja nggak boleh), dan ditutup dengan nyruput kopi hitam… Oedan tenan!

Yogyakarta, 13 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(4).   Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat

Sepanjang perjalanan terbang menyeberangi Samudra Pasifik yang 16 jam itu saya tidak bisa tidur dengan enak. Setiap saat pikiran saya melayang ke rumah saya di Kendal, membayangkan persiapan pemakaman ibu saya yang dijadwalkan hari Senin pagi jam 10:00 WIB. Hampir setiap jam otak saya bermatematika : kira-kira di Kendal sedang jam berapa. Hitungan matematika menjadi mudah lantaran di layar monitor yang ada di pesawat selalu ditayangkan petunjuk waktu saat itu (saat posisi pesawat berada, saat di Dallas dan saat di Tokyo). Sehingga saya tinggal menambahkan beda waktu antara tempat-tempat tersebut dengan WIB.

Di tengah-tengah Samudra Pasifik (lagi-lagi saya lihat posisi pesawat di layar monitor), pada saat yang saya perkirakan di Kendal sudah menunjukkan hari Senin jam 09:00 pagi, saya berniat menilpun bapak saya dari pesawat. Saya hanya ingin memastikan bahwa persiapan pemakaman ibu saya berlangsung lancar dan sudah benar tata caranya sebagai mayat seorang muslim. Meskipun sebenarnya di dalam hati saya sudah yakin akan hal itu, tetapi ada dorongan kuat untuk berbicara langsung dengan bapak dan adik-adik saya di Kendal.

Saya tatap terus gagang tilpun di depan saya. Saya buka berkali-kali majalah di kantong kursi pesawat yang memuat petunjuk cara penggunaan tilpun di pesawat. Lagi-lagi sambil saya bermatematika : kira-kira berapa biayanya. Kartu kredit saya siapkan. Tata cara penggunaan tilpun saya baca berulang-ulang hingga saya yakin hapal di luar kepala (seolah-olah sudah terbiasa menggunakannya).

Saya pahami benar bahwa biaya tilpun dari atas Samudra Pasifik adalah US$ 10.00 per menit. Artinya kalau saya bicara 10 menit, saya akan kena tagihan dari kartu kredit minimal US$ 100.00 plus pajak.

Maka, gagang tilpun segera saya angkat, saya gesekkan kartu kredit, lalu saya ikuti instruksi di layar kecil di gagang tilpun sesuai dengan prosedur yang sudah saya hapal, dan ternyata memang langsung ….. kring, di Kendal sana (saya sedemikian percaya diri, bahwa seandainya penumpang di sebelah saya memperhatikan tingkah saya, pasti dia akan berpikir bahwa saya tidak ndeso. Wong sudah saya hapalkan tata caranya).

Pembicaraan dengan bapak dan adik saya ternyata lebih singkat dari yang saya rencanakan sebelumnya. Bukan mau irit, tapi lebih karena tidak tahu lagi apa yang mau diomongkan banyak-banyak. Yang paling pokok, saya sudah dapat kepastian bahwa jenazah almarhum ibu saya sudah diperlakukan sebagaimana mestinya mayat seorang muslim, dan sesaat lagi siap diberangkatkan ke pemakaman (saat itu sudah menjelang jam 10:00 pagi di Kendal). Mak plong ….., rasanya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(7).   Jika Ingin Tilpun Dari Tilpun Umum Di Bandara Narita

Saat itu Senin malam, 14 Pebruari 2000, sambil menunggu saat boarding, saya mencari tilpun umum untuk melakukan panggilan internasional menghubungi adik-adik di Kendal sana. Privilege untuk menunggu di VIP lounge sebagai penumpang kelas bisnis saya korbankan.

Saya jumpai beberapa kotak tilpun umum, semuanya sudah diantri oleh calon penilpun. Satu per satu kotak tilpun saya dekati dari samping, di antara antrian orang. Saya baca aturan pakainya dengan teliti, yang ditulis dalam bahasa Jepang dan Inggris. Rupanya ada bermacam-macam perusahaan jasa tilpun, tidak dimonopoli oleh PT Telkom-nya Jepang saja. Ada diantaranya yang dapat dioperasikan menggunakan kartu kredit, tapi hanya Amex yang diterima.

Untuk alasan kemudahan, saya coba antri di belakang kotak tilpun yang menerima Amex. Tiba giliran saya, langsung kartu Amex saya gesekkan, dan saya ikuti instruksi selanjutnya. Tidak mau nyambung, dan tidak ada pesan apa-apa. Saya ulangi lagi, juga gagal. Setelah ketiga kalinya gagal, langsung saya batalkan. Saya merasa tidak enak sama orang lain yang antri di belakang saya.

Saya pindah ke pesawat di kotak sebelah, tapi sebelumnya saya baca aturan mainnya dulu, ternyata harus menggunakan kartu tilpun. Di dekat situ memang ada mesin penjual kartu tilpun, tapi membelinya harus menggunakan uang Jepang. Padahal di sekitar lobby keberangkatan tidak saya jumpai ada tempat penukaran uang.

Terpaksa cari akal, masuk toko souvenir dan cari barang-barang yang layak dibeli setidak-tidaknya tidak akan mubazir, dan yang penting bisa dibayar dengan dollar. Dapatlah piring hias yang ada gambarnya pemandangan kaki Gunung Fuji. Saat membayar, sambil tanya sama kasirnya berapa harga kartu tilpun termurah. Dijawab 1000 yen (saat itu 1 dollar sekitar 105 yen), maka lalu saya bayar souvenir sekalian tukar dollar dengan 1000 yen. Satu langkah untuk tilpun terselesaikan.

Langkah berikutnya adalah membeli kartu tilpun kepada mesin. Benar juga, begitu saya selipkan uang 1000 yen ke dalam mesin, langsung keluar selembar kartu tilpun. Lalu saya kembali menuju kotak tilpun yang tadi, dan antri lagi. Tiba giliran, lalu pencet ini-itu. Lho kok tidak sambung-sambung, dihalo-halo sama mesin penjawab katanya kode aksesnya salah. Perasaan saya sudah benar.

Saya coba tolah-toleh cari bantuan. Saya pilih seorang gadis Jepang yang sedang menunggu giliran di pesawat tilpun sebelah, lalu saya tanya. Cuma dijawab dengan senyum manis. Saya ulangi bertanya lagi, malah senyumnya makin dimanis-maniskan. Lho? Rupanya tidak paham bahasa Inggris. Lalu saya tanya orang yang antri di belakang saya, dijawab bahwa dia juga baru pertama kali akan memakai tilpun. Wah…! Terpaksa amit mundur dulu, memberi kesempatan kepada yang antri di belakang saya.

Belum menyerah saya. Saya coba lagi membaca dengan lebih teliti tata cara melakukan international call. Eh, ketahuan bodohnya. Rupanya mesin penjawab tadi benar, saya telah menggunakan kode akses untuk tilpun interlokal dalam negeri.

Kali ini saya gagal untuk berlaku tidak ndeso sebagaimana yang saya peragakan di pesawat sebelumnya. Maklum, saking banyaknya tulisan tentang “juklak” (petunjuk pelaksanaan) menilpun, yang mana untuk setiap perusahaan tilpun yang kotaknya ada di situ tidak sama aturan mainnya.

Terpaksa kembali ke antrian lagi, dan kali ini berhasil hingga titik pulsa terakhir. Ngomong dengan adik saya jadinya harus cepat-cepat, wong kartunya yang termurah. Pasti jatah pulsanya sedikit, pikir saya. Entah berapa banyak pulsanya, saya lupa memperhatikan. Yang jelas, belum lima menit ….., pembicaraan saya akhiri dan nampaknya memang pas pulsanya habis.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar